Dari Para Pendekar

Workshop #SahabatJKN yang diselenggaran Pusat Komunikasi Publik Kementrian Kesehatan kali ini dengan sengaja mengundang Netizen atau Blogger, menurut saya ini langkah brillian karena sudah ada Kementerian yang mulai melirik Netizen/Blogger sebagai target Sosialisasi program. Bertempat di Hotel Harris Jakarta Selatan, Workshop #SahabatJKN berlangsung selama 2 hari, tanggal 13-14 Agustus 2014, ada  dua sesi penting yang […]

image
Sate Maranggi dengan bumbu oncom dan ketan bakar.

Saya sering makan sate, tapi baru kali ini ketemu dengan kuliner sate yang ‘anti mainstream’. Umumnya sate dibuat dari daging ayam atau kambing dengan bumbu kacang atau kecap. Sate Maranggi Cianjur ini beda sendiri, karena dibuat dari daging sapi dan sambal oncom plus ketan bakar.

Sebelumnya saya pernah makan sate Maranggi yang di jalan Cikopo-Purwakarta. (Baca di sini: Sate Maranggi). Daging satenya memang daging sapi, tetapi bumbunya tetap bumbu kacang dan kecap. Mirip dengan sate-sate yang lain.

Ketika ke Cianjur saya diajak makan sate Maranggi yang berbeda. Lokasinya di jalan sawojajar (kalau tidak salah ingat). Warungnya kecil dan biasa-biasa saja, tetapi pembelinya ramai. Saya menunggu lebih dari setengah jam baru mendapatkan bagian.

image

Awalnya saya berfikir kalau satenya mirip dengan sate yang saya makan di Cikopo. Rupanya saya keliru. Menu satenya sedikit berbeda. Awalnya saya sedikit curiga; kok di bakaran satemya ada ketan yang di bakar. Kata temen saya kalau cara makan yang khas di sini makannya dengan ketan bakar. Saya jadi semakin penasaran dan tidak sabar menunggu pesanan sate saya datang.

Saya lebih heran lagi ketika melihat sambalnya kok tidak seperti biasanya. Dari kenampakan visual mirip sambal sambal yang biasa buat makan. Saya tanyak ke teman saya; “sambalnya apa itu?”
“Sambal oncom.”
“Sambal oncom?”
“Di sini memang makannya dengan sambal oncom.”
“Ooo……hhmmmm.”
Saya semakin penasaran.

image

Akhirnya pesanan saya datang juga. Tidak sabar saya pingin mengigitnya. Porsi satenya kecil2 dan dalam satu tusuk hanya ada sekitar 3 potong daging saja. Pertama saya cobain satenya dulu. Rasa dagingnya beda. Menurut saya lebih mirip rasa dendeng sapi dan sedikit manis. Kata penjualnya memang sate ini direndam dulu dengan bumbu semalaman sebelum di bakar.

Lalu saya coba colek satenya ke sambal oncom.
Hhmmmm……
Enak. Citarasanya beda. Lain dengan sate2 yang pernah saya makan sebelumnya. Sambal oncomnya tidak terlalu pedas. Di menunya juga tidak disediakan potongan tomat dan bawang merah mentah.

Lalu saya coba ketan bakarnya. Ketan bakar dicolekkan ke sambal oncom baru dimasukkan ke mulut.
Nyam…nyam…nyam….
Ternyata enak.
Saya ulangi sekali lagi. Tapi kali ini saya makan juga satenya.
Semua makanan; ketan, sambal oncom, dan sate sapi; saya kunyah bareng2 di mulut. Lumer jadi satu. Citarasanya pun melebur. Rasa legit ketan bakar, sambal oncom, dan daging sapi bakar berbumbu, menyatu membentuk citarasa nikmat. Saya nimakti setiap gigitan sate Maranggi.

Kalau Anda kebetulan sedang lewat Cianjur. Saya sarankan mencoba sate Maranggi ini.

Salam ngeces…..!!!!!
image


Panjat Pinang alias Menek Jambe, sejenis lomba tujuh belasan paling khas nomor dua setelah lomba makan krupuk. Sebuah konsep lomba yang cukup nracak, karena harusnya, Dipinang dulu, baru boleh dipanjat, bukan sebaliknya.

Sudah dua tahun ini, Kampung saya mengadakan lomba Panjat Pinang untuk memeriahkan perayaan acara HUT Kemerdekaan Indonesia. Katanya lomba ini menyedot cukup banyak animo warga, sehingga panitia HUT Kemerdekaan Dusun saya ketagihan untuk menyelenggarakannya kembali tahun ini.

Sebenarnya agak kurang tepat juga sih kalau dibilang Panjat Pinang, karena tiang pancang yang digunakan bukan dari batang pohon pinang, melainkan bambu petung, jadi lomba ini sejatinya lebih tepat kalau disebut sebagai Panjat Petung. Tapi yah, mau bagaimana lagi, Pinang memang sudah kadung nge-brand sebagai ajang panjat-panjatan di Agustusan, mungkin sama ngebrand-nya seperti Aqua untuk air mineral atau Sanyo untuk mesin penyedot air. Jadi untuk kedepannya, saya akan tetap menggunakan istilah Panjat Pinang ya.

Lomba Panjat pinang ini agaknya mendapat porsi perhatian yang lebih di kampung saya, hal ini terlihat dari aturan baku yang mewajibkan masing-masing RT untuk mengirimkan delegasinya untuk mengikuti lomba panjat pinang ini. Satu RT minimal enam orang.



Sayang, untuk RT kami, jumlah enam orang ini adalah jumlah mati yang sangat susah untuk dipenuhi. Disaat RT lain mengirimkan 8-10 orang, RT kami justru kesulitan mencari pemain, karena setelah didata, hanya ada 5 pemuda yang bersedia untuk mewakili RT kami menjadi peserta.

Dengan pertimbangan yang sedemikian rumit, akhirnya panitia memberikan keringanan untuk tim dari RT kami untuk ngebon satu pemain asing alias pemain luar. Maka, Kuncung, tetangga saya beda RW pun akhirnya dinasionalisasi dan didaulat untuk menjadi salah satu peserta mewakili RT kami.

Bukan hal yang mudah untuk meyakinkan kuncung agar mau menjadi bagian dari Tim Panjat Pinang RT kami, Kuncung butuh ditipu terlebih dahulu dengan iming-iming hadiah beberapa ekor cempe (anak kambing) sebagai hadiah utama lomba Panjat Pinang, padahal aslinya, untuk hewan ternak, panitia hanya menyediakan beberapa ekor ayam pedaging sebagai hadiah.

Tim dari RT kami sempat menjadi bahan nyinyiran, maklum saja, sebab dari enam peserta yang mewakili, lima diantaranya punya tato, Tato si Kuncung bahkan hampir penuh di sekujur tubuh.

"Wah, RT residivis, RT Nusakambangan!", kata salah seorang warga yang kemudian disambut dengan gelak tawa warga lainnya. Saya agak kesal dengan cibiran itu, tapi saya pun mau tak mau memang harus mengamininya, karena saat seluruh anggota tim dari RT kami berbaris, sungguh tak ubahnya seperti narapidana yang sedang menunggu panggilan aparat.



Singkat kata, perlombaan pun dimulai. Masing-masing perwakilan regu mengambil nomor undian dan mulai mencoba menaklukkan si batang petung yang sudah dilumuri dengan oli.

Satu per satu regu bergantian mencoba untuk membentuk tangga manusia agar bisa mencapai ujung tiang petung. Namun satu per satu pula regu yang mencoba bertumbangan. Agaknya memang tak mudah untuk bisa mencapai pucuk petung dalam durasi waktu yang ditentukan. Batang yang keras dan licin itu benar-benar tak mudah untuk ditaklukan. Sungguhpun dengan aksi yang begitu hardcore dan spartan.

Hampir satu jam, tak jua ada regu yang berhasil mencapai ujung petung. Para penonton terus saja bersorak tiap kali ada regu yang gagal. Sorakan penonton akan semakin menggila saat ada pemain yang celananya terkoyak sampai nampak bongkahan pantat hitamnya.

Tim RT kami boleh dibilang adalah salah satu tim dengan performa terbaik. Kuncung tampil amat gemilang, ia beraksi bak tupai kelaparan. Sayang, beberapa personel lain agaknya tak bisa mengimbangi kegemilangan Kuncung, hingga sampai beberapa kali percobaan, ujung petung belum jua bisa dicapai.


Panitia akhirnya memberi kelonggaran durasi, yang tadinya hanya satu setangah menit per angkatan, sekarang ditambah menjadi dua menit per angkatan.

Penambahan waktu ini rupanya memberi pengaruh yang cukup besar. Dengan waktu dua menit, ada beberapa regu yang hampir mencapai puncak petung, satu regu bahkan sudah sempat menyentuh cabang bambu yang digunakan sebagai penggantung hadiah.

Akhirnya, setelah berlangsung persaingan yang cukup ketat dan spartan, RT 2 pun keluar menjadi juara setelah menjadi regu pertama yang mampu memanjat sampai ujung petung dan meraih bendera merah putih yang dipasang di puncak tiang pancang.

Seremoni kemenangan begitu meriah, personel yang sudah berada di puncak tiang disuruh untuk menyalakan kembang api yang sudah ditaruh di atas. Sejurus kemudian, adegan lempar tangkap hadiah pun tak terhindarkan. Mulai dari Kaos, Tas, Panci, uang, hingga voucher makan.

Tim RT kami hanya bisa memandang lesu penuh kecemburuan. Rasanya begitu pahit melihat tim lain berbahagia mengumpulkan hadiah.

Tak mau rasa cemburu semakin membesar, segenap personel tim kami langsung pulang dengan langkah gontai.

"Mangkanya jangan kirim kontingen yang bertato, hari Kemerdekaan sering kurang ramah dengan pria bertato!", ejek kawan saya dari RT yang ndilalah menyabet gelar juara disertai dengan tawa ejekan yang begitu kecut. Saya pun hanya bisa melenguh pelan dengan sedikit senyum formalitas.

Ah, tak apa, setidaknya dari lomba panjat pinang ini saya belajar satu hal, kenapa dulu Indonesia bisa merdeka?, mungkin salah satu sebabnya karena Bung Karno dan Bung Hatta tak pernah punya Tato.

Mungkin lho ya, mungkin...

Negaraku, selamat berulang tahun. Monggo ditiup lilinnya, ndak usah sungkan, anggap saja rumah sendiri

Hobi Baru Yang Gak Baru

-

KOKOH ON THE BLOG

on 2014-8-17 11:21am GMT
Dua hari yang lalu, gue jalan ke toko buku Jendela, yang terletak di JL. Tentara Pelajar, Bayeman, Kota Magelang. Gue pengen nyari buku Jomblo Tapi Hafal Pancasila-nya Agus Mulyadi. Karena gak dapet apa yang gue cari akhirnya, gue beli bukunya Wahyu Aditya, Kreatif Sampai Mati! Gue juga sempet nanya ke mbak-mbak penjaga toko tersebut dan katanya gak ada. Bukunya keren abis! Akhir-akhir

Pitulsan Srb1Kemerdekaan Republik Indonesia adalah milik bersama segenap bangsa Indonesia. Tidak hanya Presiden, para Menteri, Gubernur, Bupati, Walikota, anggota Dewan, bahkan juru parkir, pedagang kali lima, petani, nelayan, serta semua wong cilik adalah pemilik kemerdekaan negeri ini. Kemerdekaan tidak hanya menjadi milik mereka yang mengikuti upacara bendera.

Lazimnya, upacara bendera sebagai peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan memang terbatas dilaksanakan di instansi formal, seperti kantor-kantor dan sekolahan. Dengan demikian warga masyarakat yang berprofesi di luar institusi formal dan sudah tidak lagi menjadi siswa-siswi sekolah pasti tidak pernah lagi berkesempatan mengikuti upacara bendera Hari Kemerdekaan RI tersebut.

Tetapi nanti dulu sedulur! Lazimnya upara bendera memang hanya diikuti para pegawai formal, seperti PNS, Polisi, Tentara, ataupun pegawai perusahaan nasional terkemuka, juga para siswa. Akan tetapi hal tersebut sepertinya tidak mutlak berlaku di Kecamatan Srumbung, wilayah Tepi Merapi tempat tinggal kami. Meskipun tidak masuk ke dalam barisan formal, warga masyarakat biasa juga turut hikmat mengikuti upacara HUT Kemerdekaan RI di lapangan Kecamatan Srumbung.

Pitulasan SrbBagi warga masyarakat Srumbung, secara tradisi lokal HUT Kemerdekaan RI merupakan sebuah puncak perayaan bersama yang lazim disebut perayaan Agustusan atau Pitulasan. Menyambut 17 Agustus setiap tahunnya, masyarakat sudah terbiasa bekerja bakti secara gotong-royong untuk menghias pedusunan masing-masing. Gapura sebagai gerbang desa dihias atau diperbarui kembali. Pagar-pagar halaman rumah dicat lagi. Umbukl-umbul dan serba-serbi hiasan bernuansa merah putih di pasang hampir di sepanjang jalanan. Dan semakin mendekati hari-H, setiap rumah mengibarkan bendera merah putih di halaman mukanya.

Tidak terhenti pada persiapan fisik desa, warga juga terbiasa menyelenggarakan aneka ragam perlombaan, baik untuk anak-anak, remaja, hingga para orang tua dan manula dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan. Ada lomba permainan balap karung, menangkap balon, membawa kelereng, memecah balon, makan kerupuk, balap bakiak, lari memindah bendera, memasukkan pensil ke dalam botol, dan lainnya. Ada juga lomba olah raga, semisal jalan sehat, sepeda gembira, bola voli, sepak bola, badminton, tenis meja, catur, termasuk tarik tambang. Sebagai puncaknya berlombaan digelar lomba panjat pinang dengan berbagai hadiah yang sangat menarik.

Masih ada lagi gerakan masyarakat dalam menyongsong datangnya hari bersejarah bagi bangsa Indonesia ini, yaitu acara tasyakuran atau tirakatan. Khusus acara ini biasanya diselenggarakan pada malam hari menjelang Hari-H Peringatan Proklamasi. Khusus warga masyarakat kaum pria yang terdiri bapak-bapak, para remaja dan pemuda biasanya berkumpul bersama di rumah kepala dukuh ataupun bahkan di tanah lapang untuk begadang sambil merenungkan kembali sekaligus napak tilas kisah-kisah kepahlawanan dalam rangka mewariskan dan menanamkan nilai kejuangan dari generasi tua kepada para penerusnya. Dalam kesempatan tersebut, para sesepuh yang dulu pernah ikut angkat senjata berjuang merebut dan menegakkan kemerdekaan bercerita tentang lika-liku perjuangan mereka.

Memasuki Hari-H peringatan Kemerdekaan RI, warga masyarakat berbondong-bondong menuju lapangan kecamatan. Lelaku-perempuan, tua-muda, bapak-bapak, ibu-ibu, kakek-nenek, pakde-mbokde, semua bergegas melangkah menuju satu tujuan. Di masa lalu pada saat kendaraan masih terbatas, warga tersebut berjalan kaki sejauh 3-4 km menuju pusat kecamatan, maka tidak mengherankan jika kemudian di pinggiran jalan utama menuju kecamatan muncul para pedagang dadakan yang menjajakan aneka minuman dan makanan kecil, serta berbagai gorengan maupun aneka rupa makanan tradisional.

Semenjak di pagi hari, lapangan utama kecamatan sebagai tempat puncak peringatan 17 Agustusan sudah dibandjiri ribuan warga masyarakat. Di samping kesibukan persiapan untuk melaksanakan upcara, sekeliling lapangan juga dipenuhi dengan pedagang yang menjajakan makanan, minuman, hasil kerajinan, hasil bumi, dan sudah tentu beragam permainan anak-anak dari yang sederhana, tradisional hingga yang yang mahal dan canggih. Tepian lapangan kecamatan seolah tersulap menjadi pasar dadakan yang meriah.

Pelaksanaan upacara bendera melibatkan sekolah-sekolah SD, MI, SMP, serta MTs di seluruh pelosok Kecamatan Srumbung. Khusus untuk siswa SD, setiap sekolah biasanya mengirimkan regu utama yang terdiri atas siswa kelas V dan VI untuk bergabung mengikuti upcara. Selain komponan anak sekolah, ada juga kelompok pramuka, polsek, koramil, PMR, pamong, hansip dan unsur karang taruna.

Rangkaian upacara Peringatan Kemederkaan biasanya dipimpin langsung oleh Camat Srumbung yang menjadi inspektur upacara. Puncak upara yang paling heroik adalah pada saat detik-detiak akan dibacakannya naskah proklamasi, biasanya tepat pukul 10.00 pagi. Pada detik tersebut, sirine di menara kantor kecamatan yang fungsi utamanya untuk peringatan bencana gunung Merapi berbunyi meraung-raung. Bersamaan dengan itu, para siswa yang memegang kentongan juga memperdengarkan bunyi titir dari kentongan yang dipukul. Sungguh sebuah suasana yang sangat syahdu nan mengharu biru.

Setelah rangkaian upacara bendera selesai, masyarakat tidak langsung begitu saja bubar. Berbagai kelompok kesenian dari penjuru Kecamatan Srumbung menampilkan aksi pertunjukannya. Ada janthilan, campur, kobra siswa, reog, dan sudah pasti lutungan alias panjat pinang tradisional. Dulu tontonan favorit yang paling saya senangi adalah penampilan kesenian campur dari dusun Cabean Wetan atau Mandungan.

Pitulsan Srb2Bersamaan dengan pelaksanaan pentas seni, di sudut lain (biasanya di kantor PDK atau SD Srumbung) digelar bazar murah dengan menampilkan stand dari berbagai sekolah dan organisasi kewanitaan, remaja dan petani. Dagangan yang biasa menjadi rebutan pada bazar tersebut adalah berbagai perlatan rumah tangga, mulai dari sapu lidi, irus, sapu ijuk, centong, ataupun bakul. Ada juga dagangan berbagai peralatan permainan tradisional semisal angkrek, egrang batok, otok-otok, plembungan, barongan, buto-butonan, gangsingan, bulus-bulusan, atau kitiran. Di samping itu, stan makanan berupa olahan daun talas yang disebut buntil, biasanya menjadi menu yang paling laris manis.

Untuk menu makanan khas Agustusan di Kecamatan Srumbung sudah pasti kupat tahu di warungnya Mbah Harjo, tepat di depan Puskesmas Srumbung. Racikan bumbu kacang, kecap, merica dan cabe dipadu irisan kupat, tahu goreng setengah matang, kubis serta tauge menhadirkan sensasi hidangan yang menjadikan ribuan warga sabar mengantri bagaikan ular naga yang panjang sekali. Kelezatan kupat tahu terasa lengkap dan klop ditambah dengan seger pedesnya wedang jahe yang melegakan kerongkongan warga yang kehausan di tengah terik matahari.

Akan selalu kehabisan kata-kata untuk sekedar melukiskan keindahan suasana peringatan Perayaan Agustusan di kampung halaman saya tersebut. Sekian tahun berlalu, saya sudah tidak berkesempatan lagi menikmati langsung kemeriahan sebuah perayaan kebangsaan di wilayah Tepi Merapi tersebut. Namun demikian, beberapa sedulur sempat berbagi foto-foto yang menggambarkan masih meriahnya Perayaan Agustusan di Srumbung. Meski dari jauh, namun jujur, saya turut menikmatinya seolah-olah saya berada langsung di lokasi kemeriahan yang ada.

Dirgahayu Kemerdekaan RI ke-69. Merdesa!

Ngisor Blimbing, 17 Agustus 2014

Pitulsan Srb1Kemerdekaan Republik Indonesia adalah milik bersama segenap bangsa Indonesia. Tidak hanya Presiden, para Menteri, Gubernur, Bupati, Walikota, anggota Dewan, bahkan juru parkir, pedagang kali lima, petani, nelayan, serta semua wong cilik adalah pemilik kemerdekaan negeri ini. Kemerdekaan tidak hanya menjadi milik mereka yang mengikuti upacara bendera.

Lazimnya, upacara bendera sebagai peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan memang terbatas dilaksanakan di instansi formal, seperti kantor-kantor dan sekolahan. Dengan demikian warga masyarakat yang berprofesi di luar institusi formal dan sudah tidak lagi menjadi siswa-siswi sekolah pasti tidak pernah lagi berkesempatan mengikuti upacara bendera Hari Kemerdekaan RI tersebut.

Tetapi nanti dulu sedulur! Lazimnya upara bendera memang hanya diikuti para pegawai formal, seperti PNS, Polisi, Tentara, ataupun pegawai perusahaan nasional terkemuka, juga para siswa. Akan tetapi hal tersebut sepertinya tidak mutlak berlaku di Kecamatan Srumbung, wilayah Tepi Merapi tempat tinggal kami. Meskipun tidak masuk ke dalam barisan formal, warga masyarakat biasa juga turut hikmat mengikuti upacara HUT Kemerdekaan RI di lapangan Kecamatan Srumbung.

Pitulasan SrbBagi warga masyarakat Srumbung, secara tradisi lokal HUT Kemerdekaan RI merupakan sebuah puncak perayaan bersama yang lazim disebut perayaan Agustusan atau Pitulasan. Menyambut 17 Agustus setiap tahunnya, masyarakat sudah terbiasa bekerja bakti secara gotong-royong untuk menghias pedusunan masing-masing. Gapura sebagai gerbang desa dihias atau diperbarui kembali. Pagar-pagar halaman rumah dicat lagi. Umbukl-umbul dan serba-serbi hiasan bernuansa merah putih di pasang hampir di sepanjang jalanan. Dan semakin mendekati hari-H, setiap rumah mengibarkan bendera merah putih di halaman mukanya.

Tidak terhenti pada persiapan fisik desa, warga juga terbiasa menyelenggarakan aneka ragam perlombaan, baik untuk anak-anak, remaja, hingga para orang tua dan manula dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan. Ada lomba permainan balap karung, menangkap balon, membawa kelereng, memecah balon, makan kerupuk, balap bakiak, lari memindah bendera, memasukkan pensil ke dalam botol, dan lainnya. Ada juga lomba olah raga, semisal jalan sehat, sepeda gembira, bola voli, sepak bola, badminton, tenis meja, catur, termasuk tarik tambang. Sebagai puncaknya berlombaan digelar lomba panjat pinang dengan berbagai hadiah yang sangat menarik.

Masih ada lagi gerakan masyarakat dalam menyongsong datangnya hari bersejarah bagi bangsa Indonesia ini, yaitu acara tasyakuran atau tirakatan. Khusus acara ini biasanya diselenggarakan pada malam hari menjelang Hari-H Peringatan Proklamasi. Khusus warga masyarakat kaum pria yang terdiri bapak-bapak, para remaja dan pemuda biasanya berkumpul bersama di rumah kepala dukuh ataupun bahkan di tanah lapang untuk begadang sambil merenungkan kembali sekaligus napak tilas kisah-kisah kepahlawanan dalam rangka mewariskan dan menanamkan nilai kejuangan dari generasi tua kepada para penerusnya. Dalam kesempatan tersebut, para sesepuh yang dulu pernah ikut angkat senjata berjuang merebut dan menegakkan kemerdekaan bercerita tentang lika-liku perjuangan mereka.

Memasuki Hari-H peringatan Kemerdekaan RI, warga masyarakat berbondong-bondong menuju lapangan kecamatan. Lelaku-perempuan, tua-muda, bapak-bapak, ibu-ibu, kakek-nenek, pakde-mbokde, semua bergegas melangkah menuju satu tujuan. Di masa lalu pada saat kendaraan masih terbatas, warga tersebut berjalan kaki sejauh 3-4 km menuju pusat kecamatan, maka tidak mengherankan jika kemudian di pinggiran jalan utama menuju kecamatan muncul para pedagang dadakan yang menjajakan aneka minuman dan makanan kecil, serta berbagai gorengan maupun aneka rupa makanan tradisional.

Semenjak di pagi hari, lapangan utama kecamatan sebagai tempat puncak peringatan 17 Agustusan sudah dibandjiri ribuan warga masyarakat. Di samping kesibukan persiapan untuk melaksanakan upcara, sekeliling lapangan juga dipenuhi dengan pedagang yang menjajakan makanan, minuman, hasil kerajinan, hasil bumi, dan sudah tentu beragam permainan anak-anak dari yang sederhana, tradisional hingga yang yang mahal dan canggih. Tepian lapangan kecamatan seolah tersulap menjadi pasar dadakan yang meriah.

Pelaksanaan upacara bendera melibatkan sekolah-sekolah SD, MI, SMP, serta MTs di seluruh pelosok Kecamatan Srumbung. Khusus untuk siswa SD, setiap sekolah biasanya mengirimkan regu utama yang terdiri atas siswa kelas V dan VI untuk bergabung mengikuti upcara. Selain komponan anak sekolah, ada juga kelompok pramuka, polsek, koramil, PMR, pamong, hansip dan unsur karang taruna.

Rangkaian upacara Peringatan Kemederkaan biasanya dipimpin langsung oleh Camat Srumbung yang menjadi inspektur upacara. Puncak upara yang paling heroik adalah pada saat detik-detiak akan dibacakannya naskah proklamasi, biasanya tepat pukul 10.00 pagi. Pada detik tersebut, sirine di menara kantor kecamatan yang fungsi utamanya untuk peringatan bencana gunung Merapi berbunyi meraung-raung. Bersamaan dengan itu, para siswa yang memegang kentongan juga memperdengarkan bunyi titir dari kentongan yang dipukul. Sungguh sebuah suasana yang sangat syahdu nan mengharu biru.

Setelah rangkaian upacara bendera selesai, masyarakat tidak langsung begitu saja bubar. Berbagai kelompok kesenian dari penjuru Kecamatan Srumbung menampilkan aksi pertunjukannya. Ada janthilan, campur, kobra siswa, reog, dan sudah pasti lutungan alias panjat pinang tradisional. Dulu tontonan favorit yang paling saya senangi adalah penampilan kesenian campur dari dusun Cabean Wetan atau Mandungan.

Pitulsan Srb2Bersamaan dengan pelaksanaan pentas seni, di sudut lain (biasanya di kantor PDK atau SD Srumbung) digelar bazar murah dengan menampilkan stand dari berbagai sekolah dan organisasi kewanitaan, remaja dan petani. Dagangan yang biasa menjadi rebutan pada bazar tersebut adalah berbagai perlatan rumah tangga, mulai dari sapu lidi, irus, sapu ijuk, centong, ataupun bakul. Ada juga dagangan berbagai peralatan permainan tradisional semisal angkrek, egrang batok, otok-otok, plembungan, barongan, buto-butonan, gangsingan, bulus-bulusan, atau kitiran. Di samping itu, stan makanan berupa olahan daun talas yang disebut buntil, biasanya menjadi menu yang paling laris manis.

Untuk menu makanan khas Agustusan di Kecamatan Srumbung sudah pasti kupat tahu di warungnya Mbah Harjo, tepat di depan Puskesmas Srumbung. Racikan bumbu kacang,  kecap, merica dan cabe dipadu irisan kupat, tahu goreng setengah matang, kubis serta tauge menhadirkan sensasi hidangan yang menjadikan ribuan warga sabar mengantri bagaikan ular naga yang panjang sekali. Kelezatan kupat tahu terasa lengkap dan klop ditambah dengan seger pedesnya wedang jahe yang melegakan kerongkongan warga yang kehausan di tengah terik matahari.

Akan selalu kehabisan kata-kata untuk sekedar melukiskan keindahan suasana peringatan Perayaan Agustusan di kampung halaman saya tersebut. Sekian tahun berlalu, saya sudah tidak berkesempatan lagi menikmati langsung kemeriahan sebuah perayaan kebangsaan di wilayah Tepi Merapi tersebut. Namun demikian, beberapa sedulur sempat berbagi foto-foto yang menggambarkan masih meriahnya Perayaan Agustusan di Srumbung. Meski dari jauh, namun jujur, saya turut menikmatinya seolah-olah saya berada langsung di lokasi kemeriahan yang ada.

Dirgahayu Kemerdekaan RI ke-69. Merdesa!

Ngisor Blimbing, 17 Agustus 2014


Filed under: Jagad Magelangan Tagged: agustusan, HUT Kemerdekaan, Merapi, perayaan pitulasan, proklamasi, Srumbung

image

Toni kini mendapat pekerjaan yang lebih baik setelah mendapatkan musibah.

Seringkali kita berburuk sangka kepada Allah, Tuhan Seluruh Alam. Ketika diberi musibah, kita merasa menjadi orang yang paling malang di dunia. Padahal belum tentu musibah itu membawa keburukan. Percayalah selalu ada hikmah di balik semua ketetapan Allah, termasuk takdir yang kita anggap sebagai musibah.

Ini adalah kisah nyata dari temanku, dan ceritanya ini aku juga ketahui sendiri. Namun, untuk menjaga perasaan orang2, cerita ini sedikit saya samarkan.

Ini adalah cerita tentang sekuriti yang bekerja di sebuah perusahaan. Sebut saja namanya Tony. Tony sudah mengabdi selama delapan tahun sebagai karyawan tidak tetap. Gajinya kecil, meski dalam menjalankan tugas nyawa adalah taruhannya. Sekuriti bertanggung jawab terhadap keamanan seluruh kantor. Ini tidak mudah. Banyak orang jahat yang mengintai dan jika terjadi sesuatu sekuriti harus menanggungnya.

Kondisi kantor sedang tidak baik. Beberapa kali dia minta diangkat sebagai pegawai tetap, namun tidak pernah dikabulkan oleh manajemen. Dia tetap bertahan dengan segala kekurangannya hingga bertahun-tahun.

Terjadi perubahan struktural  manjemen di kantor tempat Tony bekerja. Beberapa fasilitas fisik direnovasi. Banyak proyek2 perbaikan di kantor. Ini tentu saja menambah beban pekerjaan sekuriti. Sayangnya perubahan ini tidak membawa perubahan berarti bagi dirinya. Justru sebaliknya.

Suatu malam Tony mendapat giliran jaga malam. Malam itu Tony dan temannya bekerja seperti biasa. Kontrol dan patroli keliling kantor seperti malam-malam yang lain. Tidak ada kejadian atau sesuatu yang janggal di malam itu. Semua berjalan baik-baik saja.

Namun, esoknya ketika Tony sudah ganti giliran kerja. Karyawan yang lain sudah mulai bekerja. Orang2 proyek juga sudah mulai bekerja. Terjadi keributan di kantor. Pemborong yang mau bekerja melaporkan kehilangan kayu. Kurang lebih ada 1m3 kayu yang raib dari tempatnya. Ributlah suasana kantor hari itu.

Hari-hari berikutnya menjadi hari buruk bagi Toni. Dia menjadi salah satu ‘tersangka’ dalam kasus kehilangan kayu itu. Meski tidak pernah ketemu siapa sebenarmya yang telah mencuri kayu2 itu dan kayu2nya pun tidak pernah ditemukan. Kasus itu menjadi catatan buruk bagi Toni.

Toni tidak lagi bisa bekerja dengan tenang. Manajemen kantor menaruh curiga padanya. Tentu saja dia tidak lagi menikmati pekerjaannya seperti malam2 sebelumnya. Hari2 terasa semakin buruk bagi Toni.

Toni sedih, kecewa, dan marah. Tentu saja dan bisa dimaklumi. Harapannya untuk diangkat sebagai karyawan kantor semakin kabur dan lenyap. Dia putus asa untuk bisa ‘hidup’ lebih baik. Kondisi ini berlangasung beberapa bulan. Toni kerja dengan hampa.

Suatu hari dia mendapat telepon dari saudaranya yang bekerja di sebuah kebun buah2an eropa (strawbery, blueberry, blackberry, dan Rossberry). Perusahaan ini adalah perusahaan PMA. Semua produknya diimpor ke eropa. Saudaranya itu mengabarkan kalau perusahaan iti sedang mencari karyawan baru untuk manajer teknis di rumah kaca. Toni menyeletuk:
“Saya saja atuh, kumaha bisa teu?”

Singkat cerita akhirnya Toni melamar kerja dan diterima. Kini dia mendapat pekerjaan yang lebih baik dari pekerjaan sebelumnya. Lebih baik dari sisi gaji maupun lingkungan. Dia bisa bekerja dengan senang dan gembira.

Justru kini Tony bersyukur karena mendapatkan musibah pencurian itu. Karena peristiwa itu, Allah memberi jalan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

***
Ketika bertemu dengannya hampir2 saya tidak mengenalinya lagi. Kulitnya lebih hitam dan memakai kacamata sport. Jenggotnya dipelihara. Meski jadi lebih kelam, dia tampak ceria. Saya diajak berkeliling ke rumah kaca tempat penanaman rossberry dan buah berry-berryan yang lain. Tanaman buah2an itu ditanam dengan teknologi tinggi. Tanaman yang asalnya dari daerah dingin bisa tumbuh di Indonesia yanh daerah tropis. Bahkan bisa berbuah sepanjang tahun. Luar biasa.

image

image

####


Hari Sabtu (16/08/2014) warga kampung Tidar Krajan, kelurahan Tidar utara, kecamatan Magelang selatan mengadakan malam tirakatan dan pentas seni dalam rangka memperingati Hari ulang tahun Republik Indonesia yang ke-69.

Seperti pada umumnya kampung-kampung lain di Magelang, setiap tahunnya warga Kampung Tidar Krajan tak ketinggalan mengadakan malam tirakatan dalam rangka HUT RI, sebagai wujud terima kasih terhadap para pahlawan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Acara tirakatan di mulai jam 19:00 WIB, di rumah bapak Suyanto Hs. Salah satu tokoh masyatakat kamping Tidar Krajan. Selain di hadiri oleh warga Kampung Tidar Krajan, acara tirakatan juga di hadiri oleh para pelaku usaha yang ada di kampung Tidar Krajan. Saya sendiri hadir di acara tirakatan tersebut atas undangan panitia, karena tempat saya bekerja masih termasuk wilayah kampung Tidar Krajan.

Tirakatan di kampung Tidar Krajan ini berlangsung sangat meriah. Fashion show balita, penyerahan hadiah lomba tujuh belasan, pentas seni antar rt, beberapa acara yang cukup memeriahkan acara tirakatan tadi malem, selain acara inti renungan kemerdekaan yang di sampaikan oleh para tokoh masyarakat kampung Tidar Krajan.

Dalam renungannya para sesepuh masyarakat kampung Tidar Krajan mengajak segenap masyarakat untuk mensyukuri kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-69 ini untuk tetap berjuang sebagai mana halnya dulu para pahlawan berjuang dan mempertahankan kemerdekaan. Tentu berjuangnya berbeda, tidak lagi berjuang mengangkat senjata mengusir penjajah. Tapi berjuang mengisi kemerdekaan dengan menjadi warga negara yang baik dan ikut aktif mensukseskan program pembangunan. Berjuang memajukan keluarga, masyarakat sekitar dan bangsa negara.

Acara tirakatan berakhir jam 23:00 di tutup dengan doa bersama. Setelah itu acara di lanjutkan dengan hiburan kesenian tradisional kuda lumping Sawung Budoyo.  Sawung Budoyo sendiri merupakan salah satu kesenian tradisional kuda lumping yang ada di kampung Tidar Krajan.

Acara tirakatan menyambut HUT RI ke-69 di Magelang cukup semarak, hampir setiap rt dan kampung mengadakan malam tirakatan. Saya sebagai warga Magelang turut bangga melihat antusias warga menyambut HUT RI. Semoga semangat mereka tidak hanya di hari-hari menjelang peringatan kemerdekaan saja. Tapi juga berlanjut setiap hari, semangat mengisi kemerdekaan dengan menjadi warga negara yang baik dan aktif mensukseskan program pembangunan dari pemerintah.

Dirgahayu Republik Indonensia yang ke-69. Merdekaaa.....

Dirgahayu HUT RI Ke-69! Rupanya bangsa ini sudah sekian dasawarsa mengenyam nikmat kemerdekaannya. Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, bangsa Indonesia mampu lepas dari belenggu penjajahan selama lebih dari tiga setengah abad. Api revolusi dan keinginan luhur para pejuang negeri ini telah membuahkan satu jembatan emas bagi cita-cita luhur untuk menggapai kesejahteraan secara adil dan merata. Namun apakah di hari ini segenap komponen bangsa, terkhusus wong cilik yang hidup di akar rumput, telah benar-benar mengenyam manisnya buah kemerdekaan?

Lihatlah sekeliling kita! Tengoklah setiap sudut dan penjuru Nusantara! Jelajahilah dusun dan desanya! Apakah benar rakyat telah merdeka? Merdeka dari kemiskinan, merdeka dari kebodohan, dari kelaparan, dari ketidakadilan, dari kesewenang-wenangan penguasa. Tanyakanlah pertanyaan maha penting ini ke dalam lubuk hati dan dasar nurani terdalam kita!

Sang Kiai Mbeling bersabda, “Negeri ini telah cukup lama merdeka hingga lupa bagaimana mengerjakan kemerdekaan itu. Sekian lama pandangan kita senantiasa kabur atas nilai kehidupan, hingga kita kemudian tidak memiliki pegangan nilai yang hakiki dalam menjalani hidup.”

Manusia Indonesia yang sudah merdeka ternyata kemudian hanya terjebak kepada pramagtisme hidup. Hidup sedemikian tereduksi hanya sekedar menggapai kejayaan material tanpa mempedulikan unggah-ungguh tata pergaulan manusia. Kekayaan adalah segala-galanya cita-cita luhur dan telah dituhankan oleh banyak kalangan diantara kita. Para penguasa negara tidak lagi berorientasi bagaimana mewujudkan kesejahteraan dan keadilan yang serata-ratanya bagi segenap rakyat yang dipimpinnya, melainkan bagaimana kekuasaan digenggamnya erat-erat untuk pemenuhan ambisi pribadi dan memperkaya diri sendiri. Maka sesungguhnya, dalam arti yang sejati, negeri ini terjajah oleh bangsanya sendiri.

Merdeka adalah lepasnya sebuah bangsa dari belenggu ketertindasan penjajahan bangsa lain. Merdeka diambil dari kata “mardikers”, sebutan bagi suatu kelompok pejuang yang menuntut kemerdekaan(persamaan derajat) di Eropa pada abad 18. Dalam hal ini makna kemerdekaan lebih sebagai suatu kebebasan berpolitik untuk menentukan nasibnya sendiri. Sebuah bangsa yang merdeka adalah sebuah bangsa yang mampu berdikari, berdiri di kaki sendiri, untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan negara dalam memakmurkan segenap komponen anak bangsa.

Namun apakah sebuah bangsa yang dibentuk dengan sistem yang secara sistematis memperkaya segolongan dan kelompok tertentu, sementara di sisi lain secara sistematis pula memiskinkan dan memarjinalkan kelompok anak bangsa yang lain, bisa disebut sebagai bangsa yang merdeka? Ataukah hal ini bisa disebut sebagai penjajahan sekelompok anak bangsa terhadap kelompok anak bangsa yang lain? Ataukah ini memang penjajahan gaya baru, sebuah penindasan modern melalui suatu sistem yang seolah-olah terlegitimasi namun sesungguhnya terjadi pengingkaran nilai demokrasi?

 

Kalangan para pejuang kemanusiaan  di awal dan pertengahan abad 20 terbelah menjadi dua aliran besar. Aliran pertama menempuh jalur struktural dengan melenyapkan pemerintahan penjajah dan menggantikannya menjadi suatu negeri yang berkedaulatan secara politik. Puncak perjuangan kelompok ini adalah tercapainya kemerdekaan. Kemerdekaan adalah jembatan emas sekaligus pintu gerbang untuk mensejahterakan rakyat secara lebih adil dan merata. Termasuk dalam kelompok ini adalah Soekarno, Hatta, Nehru, Kemal Atatur, Che Guavara, Josef Bros Titto, hingga Fidel Castro.

Adapun kelompok kedua lebih fokus kepada gerakan kultural atau budaya. Perjuangan utama adalah mengangkat harkat dan martabat menusia untuk mendudukkan hak asasi secara sederajat diantara sesama manusia. Puncak cita-cita perjuangan kemanusiaan dirumuskan sebagai “merdesa”. Merdesa mengandung makna yang lebih luas daripada merdeka. Merdesa berarti kemerdekaan yang membebaskan, kemerdekaan yang mensejahterahkan, kemerdekaan yang mencerdaskan, memakmurkan, meratakan keadilan dan segala hal yang menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan.

Merdesa diambil dari makna desa secara sosiologis antropologis, dimana masyarakat desa dalam banyak sisi, ternyata lebih mempertahankan nilai dan sikap kemanusiaan. Tepo sliro, gotong royong, kebersamaan, keguyuban, welas asih, dan seribu satu kebajikan yang lain. Gerakan merdesa lebih luas dan mendalam cakupan perjuangannya, tidak hanya khusus dalam bidang sosial budaya, namun sesungguhnya mencakup politik, ideologi, ekonomi, dan lain sebagainya. Bahkan kerasulan dan kenabian yang turun di muka bumi bertujuan untuk mencerahkan manusia sesuai kodrat dan hak asasi yang telah diberikan oleh Tuhan, manusia yang berperikemanusiaan.

Pelopor gerakan merdesa di abad 19 dan 20-an diantaranya Mahatma Gandhi, Ahmad Dahlan, hingga Hasyim Asyhari. Bahkan di era saat ini tokoh seperti Gus Dur, Romo Mangun, Rendra, Buya Syafii, Emha, Gus Mus, Paus, Bunda Theressa dan lainnya menggebrak penyadaran manusia akan hakikat menusia di ranah gerakan sosial budaya. Bagaimanapun Nusantara secara “politik” memang telah menikmati kemerdekaannya, namun dalam arti kedaulatan manusia atas hak asasinya, kita sama sekali belum “merdesa”.

Nusantara adalah negeri seribu satu impian yang dianugerahi limpahan curahan surgawi. Bagaimana bumi, air, udara dan segala sumber daya alam yang terkandung di dalamnya sangat berlimpah ruah dan sangat berpotensi untuk menjadikan bumi Nusantara sebagai bangsa besar pengusung kemajuan peradaban manusia sebagaimana nenek moyang kita di masa peradaban bangsa Atlantis dan Lemurian mencapai masa keemasannya. Nusantara adalah sang perkasa rajawali sakti, garuda raksasa yang sanggup menjelajahi dimensi ruang dan waktu, memiliki pandangan visi dan misi yang tajam menembus segala jaman.

Namun sayang seribu sayang, bangsa ini baru mencapai sebagian “kemerdekaannya”! Hal ini yang kemudian “mengempritkan” sang rajawali sakti. Bagaimana sebuah bangsa yang besar hanya bersikap laksana burung emprit di percaturan pergaulan antar bangsa di dunia? Kita terlalu menunduk dan dibodohi oleh banyak bangsa lain di belahan bumi atas nama kepentingan sekelompok elit tertentu. Kita menjadi bangsa yang seolah loyo karena digerogoti pengkhianatan anak bangsanya sendiri. Maka mulai detik ini bersikaplah dengan sepenuh kepercayaan diri untuk lebih mandiri dan berdaulat. Moga kita akan “merdesa” di masa yang tidak terlalu lama lagi! Merdesa bangsaku, jayalah negeriku!

Ndalem Peniten, 16 Agustus 2010

Share this:


Filed under: Jagad Budaya Tagged: agustusan, HUT Kemerdekaan RI, merdeka, merdesa

Merdekaaa…

-

Mastop Story

on 2014-8-16 12:00am GMT

Tak terasa kita sudah merasakan kemerdekaan selama 69 tahun. Berbagai perubahan telah dilakukan. Dan semua proses itu tidak lain agar kita menjadi bangsa yang lebih dewasa.

Namun sepertinya 69 tahun belumlah cukup membuat kita dewasa. Kita masih dipenuhi keserakahan,kesemrawutan dan kekanak-kanakan. Kita belumlah lepas dari bangsa lain.

Dan kali ini kita yang masih diberi kesempatan menemui hari kemerdekaan, marilah merenung. Kapan kita akan benar-benar dewasa?


By: Sahrudin – @SahrudinSaja LOCATED a few dozen meters east of Tidar Hill, Gotong-Royong is one of several biggest “pasar(s)” (traditional markets) in Magelang Municipality and Regency. Like other traditional […]

Menurut kabar di media massa, lalu-lintas mudik tahun ini yang paling parah dibandikan tahun-tahun sebelumnya. Ketika berangkat saya mesti menempuh perjalanan hingga 30 jam, dua kali lipat lebih daripada hari-hari biasa. (Baca di : Cataran Mudik Bagian Pertama).

Minggu, 27 Juli 2014
Dini hari
Saya capek luar biasa. Begitu sampai kami langsung sahur. Setelah sholat subuh saya langsung tidur. Badan capek luar biasa. Praktis saya dua hari tidak tidur.

Minggu malam
Saya panggil tukang pijet langganan saya untuk datang ke rumah. Habis sholat isya’ dia baru datang. Namanya Gatot, tetangga kampung sebelah. Dia seumuran dengan adikku. Dulu neneknya yang jadi tukang pijat. Namanya Mbah Gito. Keahlian memijat ini menurun dari neneknya.

Gatot kalau mijitin lama, bisa satu jam lebih. Bahkan kadang-kadang saya tertidur waktu dipijit. Pijitannya sakit, tapi nyaman setelahnya.

Senin, 28 Juli 2014
Kami sholat Ied di Masjid Agung Magelang. Jamaah kali ini sangat ramai, lebih ramai dari tahun lalu. Jamaahnya sampai meluber ke alun-alun. Kami kebagian sholat di alun2.

Selesai sholat, seperti biasa kami silaturahim. Pertama, tentunya sungkem ke Emak. Lalu dengan keluarga sendiri.

Di kampungku punya tradisi salam-salaman dengan orang sekampung. Orang2 berdiri di pinggir jalan utama. Kemudian dari ujung kampung tempel sari berjalan memutar dan berujung di masjid As Sofyan. Selesai silaturahim dengan orang sekampung lalu kami pergi ke rumah Simbah dan beberapa famili di desa.

Sore baru pulang ke rumah dan langsung ‘tepar’ lagi. Pinginnya malam ini langsung berangkat ke Eyang Pati alias Nano. Tapi badan sepertinya belum mau diajak pergi. Insya Allah besok baru berangkat.

Selasa, 29 Juli 2014
Selasa pagi kami sudah siap2 berangkat ke Pati. Rencananya kamk mau berangkat lewat Jogja sambil pingin silaturahim ke beberapa sahabat dan kerabat.

Kami pingin mampir ke rumah P Muslikhin dan Bu Ria, terus klo bisa ke Bu Siti sekalian. Sudah lama kami juga tidak mampir ke P Hartono, Bapak kos saya dulu. Lanjut klo sempat juga mampir ke Kang Cessi. Dari status di FB sepertinya beliau sedang balik ke kampung Macanan. Tidak lupa juga mampir ke Piyungan, ke tempat saudara jauh kami.

Tapi ternyata semua berjalan di luar rencana. Konon kabarnya jalan2 Jogja-Solo macet. Jalan di jogja memang biasanya macet kalau lebaran. Akhirnya kami merubah rencana dan langsung belok via Selo-Boyolali. Jalur ini sering kami lewati. Jalur yang melewati tengah2 dua gunung; Gunung Merapi dan gunung Merbabu. Jalannya memang berkelak-kelok, tapi pemandangannya asik.

Sampai di Boyolali, ambil kanan menuju Solo. Kira2 15 km sebelum pertigaan Kartosuro Waze


Dua puluh satu tahun merupakan rentang waktu yang lumayan panjang. Waktu itulah yang telah saya dan teman-teman seangkatan lewati selepas tuntas menyelesaikan bangku SMP. Sebuah SMP sederhana di ujung Jalan Pemuda Muntilan yang tepat bersebelahan dengan Toko Tape Ketan. Sampeyan tahu SMP 1 Muntilan? Di sanalah dulu saya sempat nyantrik selama tiga tahun.

SMP 1 MuntilanSekolah saya itu konon merupakan sekolah tingkat SMP tertua di Kabupaten Magelang. Bayangkan saja sedulur, sekolah kami berdiri sejak 1945. Hanya beberapa saat setelah Proklamasi Kemerdekaan RI dilakukan oleh Bung Karno – Bung Hatta. Oleh karena itu tidak berlebihan jika di masa lalu SMP 1 Muntilan lebih populer sebagai SMP Perintis. Sebagai sekolah tertua, sejarah memang kemudian mencatatkan sekolah kami menjadi sekolah terdepan dalam prestasi pembelajaran, bahkan hingga saat ini. Maka tidak berlebihan jika sekolah tersebut hingga kini masih menjadi sekolah favorit di wilayah Kabupaten Magelang.

Tiga tahun bergumul di bangkus SMP tentu saja menyisakan banyak kenangan haru biru ala anak putih biru. Mulai kisah klasik tentang sesama teman sekolah, para guru, dan segala sesuatu suasana, peristiwa, ataupun kejadian-kejadian unik masih terpatri kuat di ingatan saya. Soal teman-teman sekelas, paling tidak saya masih ingat dengan nama-nama maupun alamat rumah mereka. Sebut saja nama-nama seperti Marjiono, Kuntaryadi, Haryana, Handoyo, Erwin, Johan, Gunawan, Mahbub, Heru, Muhtar, Sarip, Rolid, Irwan, Doni, Triyono, Makruf, Isnaeni, Ibnu, Ratno, Agung, juga Beni Himawan. Untuk nama-nama siswa putri tentu saya masih ingat dengan nama-nama Etika, Erni, Sita, Ida, Siti, Yuni, Purwati, Almum, Nanik, Winarsih, Indria, Riyanti, Maya, Nila, bahkan tentu saja nama Islamiyah. Mungkin masih ada yang kelewat, tetapi pada intinya nama-nama sebagian besar diantara teman sekelas hingga kini masih teringat.

Bergaul sekian lama dengan teman-teman seperjuangan dalam menuntut ilmu tentu saja menorehkan seribu satu kisah. Ada kisah tentang keluguan para bocah ndeso yang baru mengenal kota. Ada cerita tentang mbolos pelajaran, cerita tentang nggarapi guru, cerita tentang hukuman guru BP, kisah tentang saling contek pada saat ulangan, juga guru yang ngambek tidak mau masuk kelas kami. Semua kisah itu menjadi catatan sejarah yang tidak akan pernah terhapus dari rekam jejak setiap tahapan kehidupan kami masing-masing.

Dalam kesempatan lebaran tahun ini, bebera rekaman abadi tersbeut sempat terputar kembali seolah baru terjadi hari-hari kemarinnya. Ceritanya begini sedulur!

KunMenjelang seminggu lebaran bergulir, saya sengaja menyambangi Kuntaryadi yang kini tinggal di Bakalan, dekat Terminal Bus Muntilan. Rencana semula, saya ingin juga bersilaturahmi ke rumah Marjiono dan Haryana di Tersan Gede.  Namun pada kesempatan justru, mereka sedang plesiran angon bocah di Gembiro Loka. Akhirnya saya siang selepas Dzuhur mendarat di rumah Kun yang sudah didiaminya hampir dua tahun ini. Sebelumnya, Kun yang masih bujang kerja di Semarang dan hanya sesekali pulang ke rumah orang tuanya (seringkali bahkan hanya pada saat lebaran saja). Fakta kisah perjodohannya justru ia yang bekerja di Semarang mendapatkan istri asli Semarang yang bekerja di Muntilan. Akhirnya wira-wirilah Kun setiap akhir pekan Semarang – Muntilan.

Nah, semenjak kunjungan saya ke tempat Kun di Bakalan tahun lalu, saya langsung mengingatkannya kepada nama-nama teman SMP yang asli anak Bakalan. Ada nama-nama seperti Sarip, Ibnu, dan Kristi. Pada kesempatan saya mengingatkan kembali nama-nama tersebut, Kun langsung tergugah untuk menyambangi rumah Sarip. Konon ia pernah selintas bertemu wajah Sarip di toko bangunan Pak Kuri yang ada di ujung gang rumahnya.Dari pemilik toko, ia sempat diberikan ancer-ancer tempat tinggal Sarip.

Akhirnya selepas Ashar, kami berdua memasuki sebuah gang yang mengarah ke rumah Sarip. Ketika sempat bertanya-tanya kepada seorang remaja tentang nama Sarip, justru remaja tersebut balik bertanya, “Sarip BRI nggih Mas?”

Sarip BRI, ah tentu saja kami kurang tahu. Tetapi yang kami ingat kawan kami tersebut memiliki nama lengkap Sarip Lukmawan. Akhirnya kami berdua diantar ke sebuah rumah mesteran setengah jadi yang di depan terasnya terdapat sebuah sumur timba kecil. Setelah seorang perempuan muda keluar dari balik pintu, kami bertanya apakah benar rumah tersebut tempat tinggal Sarip. Si Mbake justru membenarkannya. Jadilah kemudian kami berdebar menunggu apakah Sarip yang akan keluar menemui kami adalah Sarip yang benar-benar Sarip kawan kami.

Sejurus kemudian mbedunduk nongol sesosok wajah. Muka bulat agak lonjong dengan perawakan tinggi ramping, dan belahan rambut sisir tengah. Tak salah memang, dialah Sarip teman kami. Dengan serta-merta ia tentu saja langsung dapat mengenali Kun yang notabene kini menjadi tetangga seberang jalan. Nah ketika sengaja dia saya pancing untuk mengingat saya, diapun tanpa terlalu lama berpikir langsung bisa menyebutkan nama saya. Kamipun berjabat erat setelah dua puluh satu tahun sama sekali tidak pernah bertemu. Sungguh pada saat itu saya merasakan sebuah kenikmatan terjalinnya tali silaturahmi yang menentramkan hati kami masing-masing.

SMP 1 MuntilanCerita punya cerita, ternyata selepas kelulusan SMP sempat nyangkut sekolah di STM Muhammadiyah Blabak. Setahun di sana ia justru ndaftar sekolah ulang di STM Cawang. Lulus dari sana ia sempat bekerja pada sebuah perusahaan elektronika. Namun malang tak dapat ditolak, bersamaan dengan goro-goro krismon, perusahaannya gulung tikar hingga iapun kehilangan pekerjaan. Sempat ngalor-ngidul mencoba berbagai usaha, kini Sarip menjadi penjaga malam di BRI Unit Blondo. Jadilah ia manusia malam, sang penganut ilmu kelelawar sakti dari cerita Babad Tanah Leluhur.

Hanyut ngobrol ngalor-ngidul tentang perjalanan hidup kami masing-masing dan tentu saja tentang nostalgia masa sekolah dulu menjadikan kami sedikit melupakan waktu. Sejenak setelah menikmati hidangan nasi goreng gurih-pedas buatan istri Sarip, saya dan Kun ngglandhang Sarip untuk turut menemani ke sebuah butik pakaian di samping toko Pak Kuri. Kono di sanalah tempat tinggal kawan kami yang lain, Kristi atau dipanggil juga Yulis.

Tak seberapa lama beranjak dari rumah Sarip, kami segera ketok pintu pada sebuah toko pakaian di pinggir jalan utama kampung Bakalan. Ibarat kisah kepancal sepur, Ibuke dan saudara Kristi yang menjumpai kami justru menceritakan bahwa anaknya baru balik kembali ke Jakarta tengah hari beberapa saat sebelumnya. Meski kami sedikit kecewa tidak menjumpai teman lama, tetapi setidaknya kami bisa berkenalan dengan keluarga teman kami dan yang pasti kini kami sudah tahu pasti dimana tempat tinggalnya. Mudah-mudah pada kesempatan lain kami bisa dipertemukan.

Selepas dari Bakalan, Sarip menantang untuk sowan ke Bu Yayuk, guru bahasa Inggris kami. Guru kami tersebut menurut Sarip kini tinggal di perumahan Taman Agung yang hanya beberaka jengkal dari Kampung Bakalan. Hanya perlu bertanya sekali kepada tetangga Bu Yayuk, akhirnya senja itu kami dipertemukan kembali dengan salah seorang guru yang cukup favorit bagi siswa-siswinya.

Bu Yayuk   Erwin

Bu Guru yang satu ini nampak tidak banyak berubah. Dari raut muka, postur tubuh, bahkan gerak-gerik serta ucapannya masih serupa dengan dua puluh satu tahun yang lalu. Hanya saja ia kini sudah menjadi seorang hajah yang tentu saja menambah kelembutan tata bahasa dan perilakunya. Satu per satu kami ditebak-tebak buah manggis oleh Ibu Guru kami. Beruntung setelah dengan beberapa pancingan cerita, Ibu dapat juga menganali saya. Untuk Kun dan Sarip, akhirnya Ibu menyerah dan meminta keduanya ngaku nama masing-masing.

Tepat bedug Maghrib kami bertiga mohon diri setelah sebelumnya sempat meminta berfoto mengabadikan silaturahmi kami. Selepas Maghrib, anjangsana dilanjutkan ke belakang SD Gunungpring 4. Di sanalah kami menjumpai Erwin, sang mantan ketua kelas kami. Dengan Erwin kamipun ngobrol menuntaskan rasa kangen setelah sekian lama. Tanpa terasa hari kian larut dan kamipun saling berpisah untuk menjalani rutinitas masing-masing kembali. Duh Gusti, moga paseduluran kami tetap senantiasa terjaga sepanjang masa.

Lor Kedhaton, 14 Agustus 2014


Filed under: Jagad Magelangan Tagged: magelang, Muntilan, reuni smp, SMP 1 Muntilan, sosial budaya, tape ketan

Rabu, 13 Agustus 2014 siswa kelas 6 SDN Salaman 1 melakukan kunjungan ke area olah keterampilan “Rick-rock” di Borobudur. Belajar membatik diantaranya, yang selama ini hanya teori yang didapat dari kelas kini bisa mepraktekkan langsung dengan bimbingan ahlinya. Hal lain yang juga dipraktekkan adalah membuat gerabah dari tanah liat dan merakit pensil. Pengalaman langsung seperti inilah yang selayaknya diterima siswa sebagai pembelajar yang kedepan mampu menumbuhkan kreatifitasnya dalam menapaki kehidupan nyata. Selamat untuk semua siswa.




 Proses pembuatan gerabah
 Hasil setengah jadi


 Para guru juga mencoba



 Proses membatik



Kenang-kenangan dari penyelenggara
Salah satu sekolah tua yang masih tegak berdiri yaitu SDN Salaman 01 yang berada di Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang. Tidak menutup kemungkinan sekolah tersebut merupakan sekolah tertua di Kabupaten Magelang
Tadi malam, kawan saya mampir ke rumah dan bercerita tentang rencananya membuka usaha fotocopy, ia meminta tolong saya untuk mencarikan daftar harga mesin fotocopy yang bagus dan murah. Saya pun langsung browsing dan berusaha mencari data daftar harga yang diinginkan.

Sebenarnya ada banyak sekali produk Mesin fotocopy yang beredar di pasaran, namun, dari sekian banyak produk, yang paling populer adalah produk besutan Canon dan Xerox.

Berikut ini adalah Daftar Harga Mesin Fotocopy Canon dan Xerox

Canon IR 1024
Harga Pasaran:
Rp. 12.000.000,-
Canon IR 2420L
Harga Pasaran:
Rp. 17.600.000,-
Canon IR 2520
Harga Pasaran:
Rp. 19.800.000,-
Canon IR 2525
Harga Pasaran:
Rp. 31.500.000,-
Canon IR 2530
Harga Pasaran:
Rp. 44.500.000,-
Canon IR 2535
Harga Pasaran:
Rp. 55.500.000,-
Xerox DC
S1810 LCPS

Harga Pasaran:
Rp. 18.000.000,-
Xerox DC
S2010 LCPS

Harga Pasaran:
Rp. 20.000.000,-
Xerox DC
S2220 LCPS

Harga Pasaran:
Rp. 21.500.000,-
Xerox DC
S2220 CPS

Harga Pasaran:
Rp. 24.500.000 ,-
Xerox DC
S2420 LCPS

Harga Pasaran:
Rp. 23.600.000,-
Xerox DC
S2420 CPS

Harga Pasaran:
Rp. 26.500.000 ,-
By: Sahrudin – @SahrudinSaja DO you still remember the Indonesian Military or TNI‘s high ranking military officer known for his remark “aman dan terkendali” (literally, secure and controlled) in his […]
Boleh percaya boleh tidak, saya tak mempunyai kuku jempol kaki sebelah kiri. Kuku jempol saya berhenti tumbuh sejak saya kecil.



Dulu, saya pernah tersandung potongan dahan kayu tajam, saking kerasnya sandungan saya waktu itu, kuku jempol kaki saya sampai njeplak separoh. Saya menangis sejadi-jadinya. Bukan soal cengeng, tapi percayalah, seorang SBY pun kalau berada dalam posisi saya di usia yang sama, pasti beliau akan menangis sejadi-jadinya juga seperti saya, bahkan mungkin lebih keras.

Emak saya kaget, dan agak cemas, begitu melihat banyak sekali darah yang keluar dari sela kuku jempol kaki saya. Emak saya kemudian membasuh kaki saya dengan air hangat, rasa perih di sela kuku jempol terasa semakin pilu.

Setelah kering, sakit di bagian kulit bawah kuku saya hilang, namun rasa sakit itu akan muncul lagi tiap kali ujung kuku saya yang njeplak setengah itu mengenai sesuatu. Saya perlu waktu ekstra untuk memakai kaus kaki.

Emak saya kemudian punya gagasan gila untuk menghilangkan rasa sakit tersebut, gagasan yang terlalu spartan, sangat Barbar: "Copot saja kukumu seluruhnya, daripada cuma njeplak setengah seperti itu!". Mungkin ibu saya terlalu perfeksionis, beliau agaknya tak pernah rela melihat sesuatu yang setengah-setengah.

"Tapi nanti sakit mak!", kata saya setengah pasrah

"yo sakit tapi kan cuma sekali, setelah itu ndak lagi, daripada kukumu sakit terus tiap kali kena sesuatu, mending mana? lagipula, nanti kalau sudah dicabut seluruhnya, toh nanti bakalan tumbuh lagi!"

"Bener, mak, bakal tumbuh lagi?"

"Iya, nanti tumbuh lagi!", jawab emak penuh kepastian.

Saya akhirnya menuruti ide barbar emak, kuku jempol yang terlanjur njeplak itu dicopot seluruhnya oleh emak, sakitnya begitu luar biasa, tapi begitu dicopot dibersihkan lukanya. Sakitnya pun hilang. Lega rasanya, setidaknya kini, saya bisa memakai kaus kaki dengan cepat.

Waktu pun berlalu, saya dengan setia menunggu kuku jempol saya tumbuh, saya terus menunggu dan menunggu, menunggu sampai kuku jempol saya tumbuh, seperti yang emak katakan. Dan nyatanya, sampai sekarang, kuku itu belum juga tumbuh. Sungguh, ini PHP terlama yang pernah saya dapatkan.



Tidak adanya kuku di jempol kaki saya itu kemudian sering menjadi bahan ejekan kawan-kawan saya. Maklum lah, namanya juga anak kecil, belum tahu apa itu simpati.

"walah gus, kukumu diamputasi ya?", ledek salah satu kawan saya sambil terkekeh.

Saking seringnya saya diledek karena ketiadaan kuku jempol ini, saya sampai kebal dengan setiap ledekan yang meluncur.

Saya pernah menyalahkan emak saya atas tidak tumbuhnya kuku jempol saya ini, dan tahu apa jawaban ibu saya waktu itu?

"Justru bagus tho gus, kamu ndak perlu motong kuku, dan juga, besok kalau kamu hilang, bakalan mudah carinya, soalnya punya ciri-ciri fisik yang lain daripada yang lain!".

Agaknya memang saya harus merelakan kuku jempol saya. Anggap saja karya seni. Mutilasi tingkat mikro.

Kemarin sore, kawan sekaligus tetangga dekat saya, Sastro, berkunjung ke rumah. Sastro ini kawan saya sejak kecil. Dia dulu adalah salah satu kawan yang getol meledek saya karena kuku jempol kaki saya.

Dia cerita tentang musibah yang dialaminya di tempat kerja. Kakinya kejatuhan loker besi. Dan tahu apa yang terjadi dengan kakinya? Darah di jempol kakinya menggumpal dan membuatnya terpaksa mencongkel kukunya.

Saya pun prihatin, namun sedikit geli juga, soalnya sekarang, saya punya kesempatan untuk meledek dia perihal kuku jempolnya.

"Tro, Copotnya kukumu itu adalah bukti, bahwa pembalasan, cepat atau lambat, pasti akan datang, sungguhpun perlu menunggu, belasan tahun lamanya!", kata saya sambil tertawa kecil meledek jempol si Sastro yang kini sudah plontos tak berkuku. "Ingat lho tro, jempol kaki seperti itu, biasanya kukunya tak mau tumbuh lagi, dia kapok karena telah disia-siakan!", lanjut saya.

"Ndiasmu!", kata si sastro kecut.

Saya pun tertawa keras bahagia, bagai senopati, yang pulang dari medan perang, dan membawa kemenangan. Oh, ternyata keadilan masih tegak di bumi ini. Hehehe

Manusia mana mungkin dipisahkan dengan alam, apalagi anak-anak. Alam adalah ruang bagi anak untuk bermain. Belakangan, terutama di lingkungan perkotaan, alam sebagai ruang bermain untuk anak justru semakin terbatas bahkan hilang sama sekali. Anak-anak jaman sekarang semakin jauh dan terasingkan dari alam. Maka dengan semboyan back to nature, anak-anak kota kini banyak meminati aneka permainan berbasis alam yang dikemas dalam kegiatan out bond.

Out bond? Dari istilahnya yang menggunakan bahasa linggis (maksudnya sih English), terkesan out bond menjadi sangat modern dan mengkota. Padahal kalau kita lihat aktivitas-aktivitas anak-anak yang dikatakan sebagai out bond ya tidak jauh dari ngguyang kebo, mandi lumpur, mbajak sawah, main eggrang, gondal-gandul tali, juga penekan wit. Lho kok? Kalau contoh-contoh itu semua kan aktivitas yang sangat akrab bagi bocah dusun? Lha memang! Berarti memang out bond itu proses kembalinya manusia kota ke desa, dengan segala sifat alamiahnya. Secara luas, ya back to nature tadi!

Bagi wong ndeso, perilaku anak-anak kota yang out bond itu justru diarani ndeso. Hal yang menjadi kebiasaan sehari-hari mereka justru menjadi sebuah kekaguman, keluarbiasaan yang kayaknya sesuatu banget dech! Jika demikian bukankah sebuah nilai komparasi antara kota-desa dalam sudut pandang ini justru sudah terbalik? Kota yang identik dengan kemajuan, kemewahan, juga keunggulan, justru kini mengekor kepada desa.

Di sisi lain, masyarakat desa justru harus semakin bersyukur bahwa ukuran kemajuan dan keunggulan yang sejati sesungguhnya adalah apa yang telah mereka miliki selama ini. Hidup rukun, saling welas asih, kesederhaan, kebersamaan, guyub, gotong royong, justru menjadi semakin bernilai di tengah globalisasi jaman yang semakin menyeret manusia menjadi semakin tidak manusiawi. Keseluruhan sifat dan sikap hidup masyarakat desa itu sebenarnya merupakan refleksi timbal balik interaksi mereka yang intens dengan alam di sekitarnya. Dan manusia kota kini mau membayar berapapun untuk memiliki rasa dan perasaan sebagaimana orang desa yang senantiasai dekat dengan alam tersebut. Dunia memang sekedar cakramanggilan, roda kehidupan yang terus berputar.

Bercermin dari kenyataan tersebut di atas, alangkah sangat ruginya masyarakat desa yang hingga kini belum tersadar dan mengkiblatkan diri kepada semua hal yang berbau kota. Bukankah banyak diantara orang tua masa kini di lingkungan perdesaan yang justru merasa minder dengan “kedesaaan” yang mereke miliki. Dolanan tradisional dianggap kuno. Berjalan kaki atau ngepit onthel dianggap ketinggalan jaman. Anak-anak kampungpun jika tidak paham dengan play station, games hp atau ipad, tidak tahu facebook dianggap ndesit. Padahal jika kita resapi secara mendalam, semuanya itu hanya sekedar sawang-sinawang yang bersifat sangat relatif.

Bagi saya pribadi, sebagai orang tua, saya akan senantiasa memberikan kesempatan yang seluas-luasnya dan sebebas-bebasnya bagi anak-anak yang ingin bergelut atau bergumul sedekat-dekatnya dengan alam. Ingin ciblon di kali, ingin mandi lumpur bersama kebo, ingin nguber banyu blumbang, ingin main layangan, ingin blusukan di semak belukar, ingin nyuluh manuk, ingin turut ngluku-garu di sawah, juga angon sapi ndak masalah. Justru saya akan teramat sangat bangga jika anak-anak mau menyelami dan menghayati kehidupan bersama alam karena dari sanalah budi pekerti luhur, karakter serta kepribadian yang kuat dapat tumbuh sengan subur.

Maka demi memberikan kesempatan yang semerdeka-merdekanya kepada buah hati dan seorang keponakan, di sela-sela kunjungan keliling untuk bersilaturahmi ke beberapa simbah dan pakdhe pada lebaran kemarin, saya sempat angon bocah menikmati kesejukan air Kali Blongkeng yang berhulu di gunung Merapi. Aliran air yang jernih tanpa sampah, batu-batuan endapan erupsi yang halus dan licin, ditambah semilir angin sore yang sepoi-sepoi menjadikan kegembiraan kami semakin memuncak. Kami ambyur ke badan air dengan sebebas-bebasnya. Basah-basahanpun meninggalkan keasyikan tersendiri yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Intinya, Kali Blongkeng telah menenggelamkan kami dalam luapan kebahagiaan batin yang tiada tara.

Ulah si Ponang yang berpose ala petapa sakti yang tengah kungkum banyu mengharuskan saya untuk selalu ngguya-guyu tanpa henti. Demikian si Tia yang tekun menyusuri bebatuan sambil mencari lumut-lumut hijau untuk bahan masak-masakan benar-benar membuat hati trenyuh. Mereka nampak asyik dengan aktivitasnya masing-masing. Sesekali suasana gemericik aliran air diselang-selingi kecipak batuan kerikil yang saling dilempar oleh kedua bocah tersebut. Cengar-cengir, kadang mrengut, tetapi yang lebih sering terjadi adalah derai tawa riang yang lepas. Ah, betapa saya sungguh sangat bahagia menyaksikan detik-detik kegembiraan hari itu.

Ternyata untuk merasakan sebuah kebahagiaan tidak perlu harus jauh-jauh apalagi berbiaya mahal. Di lingkungan sekitar tempat tinggal kita, kita dapat kok menemukan sebuah suasana maupun wahana untuk menghadirkan sebuah kebahagiaan. Semua dihamparkan Tuhan sebagai anugerah alam terindah bagi segenap manusia. Maka nikmat apalagi yang masih kita ingkarkan dari-Nya?

Lor Kedhaton, 12 Agustus 2014


Filed under: Jagad Kenyung Tagged: dolanan bocah, Kali Blongkeng, magelang, Merapi, Muntilan, outbond

image

Istirahat di tanjakan Ciengkek Ciomas

Bersepeda adalah salah satu. Olah-raga favoriteku untuk membakar tumpukan lemak di perut. Biasanya saya bersepeda sendiri atau bersama anak-anak menyusuri kampung-kampung (cross country) di seputaran tempat tinggal kami. Ada satu jalur sepeda yang memiliki tanjakan tajam dan menantang. Tanjakan Ciengkek namanya.

Tanjakan ini juga tanjakan favorite bagi para goweser yang menyukai tanjakan dan cross country. Kemiringannya mungkin sampai 40-45o. Artinya tajam banget tanjakannya. Di beberapa tempat orang mesti mengenjot sepeda sambil berdiri agar roda depan tidak terangkat ke atas. Jaraknya dari bawah sampai ke puncak sekitar 500 – 800 m. Ada beberapa kelokan di tanjakan ini.

Ketika melalui jalur ini saya sering ketemu dengan goweser-goweser lain. Pernah ketemu dengan satu atau dua orang. Pernah ketemu dengan rombongan delapan orang. Bahkan pernah ketemu dengan rombongan 40 sepeda. Banyak goweser ingin menaklukkan tanjakan ini.

image

Pete dan rute tanjakan Ciengkem

Peta dan rute tanjakan Ciengkek

Rute yang biasa saya lalui adalah dari rumah menuju jalan pintu ledeng Ciburial. Terus ke atas menuju mata air Ciburial. Jalannya lurus dan tanjakannya landai. Aspalnya kelas tiga tapi kondisinya bagus. Sebelum pintu mata air belok ke kanan menyusiri tembok Ciburial. Sampai kampung belakang Ciburial ada jalan belok ke kanan dan menurun yang menuju kolam renang Zam-zam Tirta. Turun terus sampai ketemu pertigaan.

Di pertigaan belok kiri. Aspalnya jelek dan rusak, karena jalur truk pasir dan batu dari tambang pasir kali Ciapus. Lokasi penambangan batu dan pasir ini tidak jauh dari tanjakan Ciengkek. Saya sering mampir ke penambangan pasir itu.

image

Penambang pasir di sungai Ciapus

Penambang pasir di sungai Ciapus

image

Istirahat di dekat tambang pasir ciapus

Setelah kira2 300 m dari belokan akan sampai ke kaki tanjakan Ciengkek. Tepatnya setelah melewati jembatan kali Ciapus. Saya mulai siap2 menurunkan gigi jika sudah melewati jalan ini. Tanjakan pertama tidak begitu tinggi.

Lewat belokan pertama mulai agak tajam tanjakannya. Tiga atau empat puluh meter nanjak napas mulai ngos-ngosan. Gigi depan pindah ke nomor 1 dan belakang nomor 2. Jika sudah tidak tahan gigi belakang turunin lagi ke-1. Napas saya biasanya habis di tengah2 tanjakan ini. Saya terkapar di pos ronda pingir jalan untuk mengatur napas. Selang minum langsung nancep di mulut. Beberapa teguk air membasahi kerongkonganku.

Istirahat sampai napas teratur lagi dan denyut jantung menurun. Sepeda ditegakkan lagi dan mulai gowes lagi. Posisi gigi tetap di 1-1 atau pindah ke 1-2. Pas di belokan yang tanjakannya curam gowes sambil berdiri. Gowesnya pelan2 saja seperti orang berjalan. Napas diatur. Hirup lewar hidung keluarkan lewat mulut. Hirup dua kayuh, keluarkan dua kayuh. Keringat membasahi kaos. Terus kayuh sampai napas putus.

Ronde kedua paling bisa ngowes sejauh 30-40meteran. KO lagi. Kali ini terkapar di pingir jalan. Atur napas dan denyut jantung lagi. Di posisi ini tanjakan curam sekali. Biasanya sepeda saya tuntun dulu sekitar 10 m sampai agak landai. Setelah itu baru digowes lagi.

image

Hos...hos...dituntun saja ah....

Hos…hos…hos..dituntut saja ah…

Tenaga sudah mulai melemah, keringat bercucuran, napas satu-satu. Gowes kali ini masih sama dengan gaya orang jalan. Terus maju pantang mundur. Baru berhenti kalau napas putus-putus lagi.

Di ‘KO’-‘KO’ berikutnya biasanya perlu waktu cukup lama untuk mengatur napas. Rekor terbaik saya ketika menaklukkan Ciengkek adalah berhenti empat kali. Biasanya empat kali. Yang paling parah enam kali.

Andrenalin keluar ketika dipuncak-puncak capek. Ada perasaan luar biasa ketika sudah melewati puncak tanjakan. Meakipun napas tersengal-sengal, perut mulai mual, dan kepala berkunang-kunang.

image

Melewati puncak jalan terus. Kini jalannya landai sampai pertigaan. Hanya nanjak sedikit. Setelah itu belok ke kiri dan jalan menurun. Menurun terus sampai ketemu kali Ciapus. Saya biasanya berhenti di sini. Saya suka memperhatikan anak2 yang mandi di kali ini. Banyak bapak2 yang mencuci sepeda motornya di kali ini. Ibu2 juga banyak yang ngrumpi sambil mencuci baju.

Setelah puas di kali Ciapus saya melanjutkan bersepeda kembali ke arah Ciburial. Saya lewat di sisi lain mata air Ciburial. Jalan ini akan tembus lagi ke jalan pintu ledeng.

Saya susuri jalan pintu ledeng menuju rumah. Di rumah merebahkan badan.

Uuuhhh….capeknya….

image

Tambang pasir sungai Ciapus

image

Tambang pasir dan batu di sungai ciapus

image

Sungai Ciapus

image

Sungai Ciapus


Sop buntut sudah terkenal sebagai kuliner favorite di Indonesia. Daerah-daerah di Indonesia punya kuliner sop buntutnya masing-masing. Tak terkecuali di kota Bogor. Ada banyak warung sop buntuk, dua yang terkenal adalah Sop Buntut Ma’Emun dan sop buntutnya Mbak Par.

Ada beberapa warung sop buntut yang pernah saya coba. Saya pernah makan sop buntut yang di dekat air mancur jl. A Yani. Kuah sop buntutnya berwarna kuning dan kental. Minyaknya banyak. Orang yang ‘anti’ kolesterol pasti tidak suka memakannya. Rasanya pun biasa-biasa saja. Saya tidak merekomendasikannya. Pernah juga makan sop buntut di Ciomas dekat perumahan Bukit Asri. Rasanya lumayan lah, cuma belum istimewa rasanya. Pernah juga makan sop buntut di daerah SurKen. Rasanya masih biasa-biasa saja.

Nah, sop buntut yang cukup istimewa rasanya yang pernah saya coba adalah sop buntutnya Ma’Emun dan Mbak Par.

Sop Buntut Ma’Emun

Kuliner Sop Buntut Ma' Emun Bogor.

Kuliner Sop Buntut Ma’ Emun Bogor.

Warung sop buntut Ma’Emun cukup terkenal di kota Bogor. Ada beberapa cabang warung sob buntut ini. Misalnya di Jl. A Yani di depan markas Zeni. Ada juga yang di Jl. Salak di GOR INIRO, ada juga di beberapa tempat. Konon sop buntut ini sudah lama berdiri dan sudah beberapa generasi.

Yang istimewa dari sop buntut ini adalah dagingnya yang masih berwarna merah dan sangat empuk. Ukuran porsinya besar dan banyak lemaknya. Meskipun lemaknya tidak sekental dan kebanyak di warung yang di dekat air mancur.

Rasanya enak dan mantap. Bumbunya pas. Tidak terlalu ‘njomplang’ rasanya. Soalnya, saya pernah makan sop buntut yang rasa rempah-rempahnya terasa banget. Jadi lebih mirip makan jamu daripada makan sop.

Dari sisi tempat, rasanya warung yang di depan GOR INIRO yang paling nyaman dibandingkan di tempat lain. Karena kalau di tempat ini terbuka dan tidak pengab. Sayangnya kadang-kadang ada lalatnya.

Dari sisi harga, memang agak mahal dibandignkan dengan warung Mbak Par, tapi relatif sama dengan warung yang di air mancur.

Kuliner sop buntut Ma' Emun Bogor

Kuliner sop
buntut Ma’ Emun Bogor

Kuliner Sop Buntut Ma' Emun Bogor

Kuliner Sop Buntut Ma’ Emun Bogor

Sop Buntut Mbak Par

Makan sop buntut Mbak Par bareng sastrawan yang berbaju Polisi :)

Makan sop buntut Mbak Par bareng sastrawan yang berbaju Polisi :)

Warung makan Mbak Par posisinya tepat berada di belakang Mall Internusa dulu. Sekarang Mallnya sudah ditutup dan bekas terbakar. Warung Mbak Par tidak membuka cabang, jadi hanya ada satu saja di situ. Jadi posisinya ada di jl. Malabar. Jalan Malabar ini agak sempit. Kalau siang banyak mobil dan motor yang parkir di bahu jalan. Agak susah mencari tempat parkir apabila mau makan di tempat ini siang hari, apalagi pas jam makan siang.

Warung Mbak Par menyediakan beberapa masakan, namun yang paling terkenal adalah sop buntut dan soto. Style/gaya sop buntut Mbak Par berbeda jauh dengan sop buntut Ma’ Emun. Sop buntut Mbak Par bening.Tidak banyak kaldu dan lemaknya. Rasanya pun lebih ‘ringan’. Maksudnya bumbu-bumbunya tidak kental sekali.

Meski bening, citarasa sop buntut Mbak Par sangat enak. Seger……..

Cuma porsinya lebih sedikit daripada sop buntut Ma’ Emun. Kalau yang isi perutnya banyak, perlu nambah porsinya.

Dari sisi harga, menurut saya sop buntut Mbak Par murah. Lebih mudah dari beberapa sop buntut yang pernah saya makan lainnya.

Dari sisi tempat memang agak kurang nyaman. Pertama, warung Mbak Par adalah warung tenda. Jadi tidak terlalu luas. Kalau pas jam makan, warungnya sangat ramai. Susah dapat tempat duduk. Kalau mau ke warung Mbak Par mamang hanya untuk makan saja. Tidak bisa untuk santai-santai atau ngobrol-ngobrol.

***
Sop buntut Ma’Emun dan Mbak Par sama-sama enak. Saya suka semuanya. Namun, saya lebih suka sop buntutnya Mbak Par. lebih sering saya makan sop buntut di sini.

Ada beberapa warung sop buntut di kota Bogor yang belum pernah saya coba, misalnya yang di Sukasari dekat asinan gedung dalam dan beberapa tempat lain. Kalau ada waktu dan ngajak makan gratis saya pasti mau……(weee……..klo gratis semua orang juga mau…..)

Selamat ngeces…..


Ah, bagi saya hidup di perantauan bisa jadi hanyalah sekedar terhanyut di dalam aliran misterinya kehidupan. Wis dadi pepesthening Gusti. Semua sekedar menjalani sebuah cerita kehidupan. Jauh dari kampung halaman mengharuskan saya untuk mudik dalam momen-momen tertentu. Termasuk tentu saja dalam momentum lebaran setiap tahunnya.

Mendapati kenyataan sulitnya mendapatkan tiket mudik, terutama dengan kendaraan sepur, memaksa saya harus membuat strategi jitu untuk bisa tetap mudik tahun ini. Tentu saja bersama istri dan dua cindil abang buah hati kami. Demi mengantisipasi keruwetan macetnya jalur mudik pada hari-hari menjelang Idul Fitri, maka kedua cindil abang tersebut kami ‘paketkan’ mudik awal pada pertengahan Ramadhan. Untunglah para simbah dan biyung emban cukup trengginas menerima titipan para cucu-cucunya.

Beriringan dengan tragedi amblesnya Jembatan Comal Pemalang, kami justru diperjalankan kembali menuju ibukota. Akibat efek domino tragedi Comal menyebabkan truk-truk besar dan container yang biasa merajai jalur Pantura, terpaksa merayap di jalur-jalur sempit, naik turun nan menikung di wilayah jalur tengah dan selatan Jawa. Efek kemacetanpun menjadi semakin terdistribusi merata di seantero Pulau Jawa. Bus andalan kami yang biasa melintas Panturapun, malam itu terpaksa menempuh jalur tengah via Wonosobo, Purwokerto, Banjar, Ciamis, Garut, hingga Bandung melalui Tol Cipularang untuk menuju Jakarta.

Hanya beberapa hari menikmati masa akhir Ramadhan di ibukota, ritual mudik langsung memanggil kami untuk kembali ke timur, ke bumi Jawa. H-3 lebaran, masih dengan kendaraan bus, kami kembali bergulat dengan kemacetan Pantura. Dengan nekad, bus yang kami tumpangi tetap lurus-lurus dan lugu-lugu saja menempuh jalur Cikampek dan Pantura Jabar-Jateng. Untunge, perbaikan sementara Jembatan Comal usai sehingga salah satu jalurnya sudah bisa dilalui kendaraan meski secara terbatas. Berangkat dari Jakarta jam 17.00, akhirnya kami mendarat selamat di Magelang tercinta pada pukul 12.00 pada hari berikutnya. Lumayan 19 jam perjalanan menjadi rekor perjalanan mudik terlama kami.

H-2 lebaran merupakan momentum kempal manunggalnya Balatidar alias sedulur-sedulur blogger Magelangan dalam suasana buka bersama yang cukup sumringah. Masih sama seperti setahun sebelumnya, acara bukber dihelat di Rumah Makan Ayam Bakar Bu Tatik berseberangan dengan Artos Magelang. Meskipun tidak segenap jajaran Balatidar hadir, namun sekitar sepuluh sedulur telah merapat untuk saling menuntaskan rasa kangen. Ada Kang Ikhsan, GusMul, Ivan, Nahdhi, Yudha, Nikitomi, Kokoh, Andri dll. Obrolan ngalor-ngidul kas cakrukannya Balatidar berkisar dari maneges kabar dan kesibukan masing-masing, hingga ungkapan keprihatinan kendho-nya semangat ngeblog diantara teman-teman. Ayam goreng khas citarasa manis dan sajian es teh menuntaskan lapar dahaga kami pada saat dung Maghrib tepat berkumandang. Bagaimanapun momentum bukber seolah menjadi pelekat dan perekat paseduluran Balatidar yang sekian lama jarang gethukan ria di bawah rindangnya ringin tengah.

H-1 lebaran, tentu saja mundhi dhawuh Kanjeng Rama dan segenap kerabat, keluarga kecil kami merapat ke Tepi Merapi. Semenjak beberapa hari sebelumnya, Mbah Kakung sudah wanti-wanti menugaskan saya untuk mèmèt alias memanen ikan di kolam pekarangan belakang rumah. Keceriaan kekecehan  yang disertai derai tawa riang para bocah menghadirkan suasana kegembiraan yang membuncah kala itu. Para cucu Mbah Kakung dengan semangat gugur gunung, siang hingga sore itu saling bahu-membahu menangkap ikan mujahir, bawal, dan lele yang tekun dipelihara sekitar setahunan.

Masih H-1 lebaran, bedug Magrib menggema. Betapa lega segala dahaga. Momentum buka bersama di penghujung Ramadhan tahun ini kami tuntaskan dengan berkumpul bersama di Ndalem Mbah Kakung. Ada kami dari Tangerang, sedulur-sedulur dari Depok, Cilacap, juga Magelang kumpul manunggal menyambut Hari Fitri diiringi gema lantunan takbir yang berkumandang memenuhi seantero jagad raya.

Hari H lebaran, kesibukan pagi-pagi berkisar persiapan sholat Ied di halaman masjid kampung kami. Lelaki-perempuan, tua-muda, nenek-kakek, para bocah dan para remaja berbondong-bondong memenuhi tanah lapang tersebut. Rangkaian sholat Ied dan khutbah yang khitmad diakhiri dengan kemesraan saling bersalaman diantara sesama jamaah yang melingkar mengular. Selepas itu pesta para bocah, remaja dan pemuda mulai digelar. Ada among-among sego megono, pesta mercon hingga menerbangkan balon udara.

Saling memaafkan adalah nafas Idul Fitri. Silaturahmi diantara keluarga inti dan tetangga menjadi agenda utama di hari-hari masa lebaran. Para anak sungkem kepada bapak-ibunya. Para cucu ngabekti kepada para simbah, simbah buyut, pakde-bude, maupun paklik-buliknya. Tidak terbatas kepada saudara sedarah, silaturahmipun menjalar kepada segenap rekan handai taulan, teman sejawat, teman studi, teman main, bahkan siapapun yang dijumpai saling bersapa “sugeng riyadi“. Hal ini terus berlangsung kira-kira hingga H+5.

H+6 lebaran, suasana keceriaan dan kemeriahan lebaran sedikit berawan tatkala adik ipar harus menjalani proses kelahiran dengan operasi. Secara medis, perkembangan si jabang bayi sebenarnya terpantau normal dan sehat wal afiat. Namun, memang ndidalah sudah kersaning Gusti Allah, hingga hari-hari perkiraan kelahiran justru tak nampak tanda-tanda kelahiran. Hal ini bahkan terlewat hingga seminggu lebih. Pada pemeriksaan akhir, dokter menyimpulkan air ketuban sudah mulai keruh bahkan detak jantung si janin terekam datar lemah. Menghindari kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan, diputuskanlah jalan operasi untuk proses kelahiran keponakan kami tersebut. Tepat pukul 11.00 siang kabahagiaan kami kembali berderai dengan hadirnya sosok jabang bayi baru bagi keluarga besar kami. Sungguh Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang.

Dua hari berikutnya, H+7&8 keluarga kecil kami sengaja plesiran ke Jogja. Sebagaimana cita-cita yang sudah dicanangkan, kami telah mengagendakan untuk bersambang ke Candi Prambanan – Ratu Boko, Taman Pelangi Monjali, dan Makam Imogiri. Wira-wiri sepedaan motor benar-benar mengantarkan kami sowan ke situs-situs wisata yang bernilai sejarah tersebut. Dua hari di Jogja, tentu saja terasa sangat kurang bagi kami.

Hari-hari berikutnya kami tuntaskan untuk menikmati Magelang tercinta. Alun-alun, Artos, Kebonpolo, Badakan, bahkan jalur bekas rel Payaman Secang sempat kami sambangi. Bakso krikil, sop snerek, kupat tahu, bubur terik juga bubur ketan kinco menjadi menu makan kami sehari-hari. Sungguh luar biasa dan senantiasa menimbulkan rasa kangen yang seolah tiada pernah akan tertuntaskan.

Akhirnya, setelah dua minggu menikmati liburan lebaran di kampung halaman, dengan sangat berat hati semua kebahagiaan sejati tersebut harus segera berakhir. Siklus kehidupan mengantarkan kami untuk kembali ke tanah perantauan diiringi deru roda kereta yang membawa kami menjauhi kampung halaman tercinta. Moga lebaran tahun depan diperkenankan mereguk kembali nikmatnya ritual mudik ke kampung halaman. Magelang, I love you full!

Lor Kedhaton, 11 Agustus 2014


Filed under: Jagad Budaya Tagged: idul fitri, lebaran, tragedi idul fitri

Idul Fitri-1


Filed under: Jagad Budaya Tagged: idul fitri, lebaran, mudik, syawal

Pernah ke Kantor Pos?

-

Hamasah!

on 2014-8-10 8:25am GMT
http://www.pospay.biz/images/cover/POS2.jpg


Pernah ke Kantor Pos?

Bah, pertanyaan di atas cukup menggelikan. Pertanyaan nggak mutu. Tapi, pantas untuk ditujukan kepada saya-anak SMA era sekarang. Ha ha ha. Seingat saya (ya nggak ingat-ingat banget) pernah ke kantor pos Magelang saat dulu sekali, saya masih belia balita dan sekarang saya sudah 17 tahun. Potret yang saya ingat cuma kantor pos bercat oranye wortel, sedangkan hal lain mengenai sistematika (halah) pengiriman surat atau barang, saya nggak ngerti blas.

Keenggakngertian ini berakhir ketika saya berkenalan sama seseorang bapak, guru teater saya di SMA sekitar dua tahun yang lalu. Bapak guru tersebut adalah Pak Triman Laksana. Beliau aktif menulis sastra Jawa dan Indonesia. Pak Triman memberi tahu cara mengirim naskah puisi jawa (geguritan) ke koran Kedaulatan Rakyat dengan cara:

1.       Bakar (hehe bakar emang terjemahan dari “burning”) data Ms.Word yang berisi geguritan ke dalam CD.
2.       Bungkus pake amplop. (saya kirim pertama kali pake kertas HVS yang sedemikian rupa berbentuk amplop habis liat tutorial di internet)
3.       Kirim ke alamat KR.

Nah, saya iseng tahun lalu coba-coba aja kirim naskah via pos. Untuk pertama kalinya, saya diajarin cara ambil nomor urut sama bapak-bapak petugas pos yang bukain pintu “welcome”. Saya pencet tombol dan muncul deh kertas bernomor sekian. Saya duduk sambil nunggu antrian. Saya nonton kotak berlayar urutan nomor dan bersuara “antrian nomor sekian silakan ke loket sekian” memanggil pengantri. Wah, saya ndeso banget ha ha ha. Ruangannya dingin ber-AC dan bisa nonton tivi hehe. 

Sampailah nomor antrian dipanggil sama mesin kotak itu. Nah, langsung deh transaksi sama mas atau mbak di loket. Saya pernah dinasehatin sama mas-masnya, kalo ngirim CD pake tempatnya dong. 

Kemudian, lain hari...saya dipanggil ke ruang TU sekolah. Ta ra ra..saya dapet wesel pos dari KR alhamdulilah. Selembar kerta, dan saya harus ngapain? Oh saya ke pos lagi buat “mencairkan” uang tersebut. Saya antri lagi deh, tapi saya nggak ngerti saya harus bawa apa aja? Saya lirik pengantri pos lain yang bawa selembar kertas wesel. Ada mbak-mbak berseragam SMA bawa fotokopi kartu pelajar. Waduh? Untung antrian saya masih panjang. Saya langsung keluar ruangan dan alhamdulilah ada fotokopian di kantor pos. Lalu saya kasih kertas wesel tersebut ke mbak posnya plus fotokopian kartu pelajarnya, saya tanda tangan tanda terima dan dapet uang buat ngangkot hehe..

Nah, jadilah kini saya ngerti gimana cara ngirim dan mencairkan wesel di kantor pos. Ya lebih cepet e-mail lah ya jaman sekarang, tapi ternyata banyak persyaratan kayak ngirim lamaran, naskah lomba, dan sebagainya yang masih minta buat kirim dokumen via pos lho..(lirik-lirik pengantri soalnya hahaha).

Salam, 8 Agustus sore yang cerah 3.24 PM

Mia.
One of the hardest lessons for us all was accepting gifts and hospitality, sometimes from very poor people, and realised we had no way to repay them – ever. By: […]

Jika juru bicara kepresidenan Julian Aldrin Pasha dikutip Okezone (Rabu, 6/8/2014) mengatakan, “Saya tidak mau komentar” terkait kabar kabur yang konon nyata “Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) meresmikan Kantor Transisi Jokowi-JK pada Senin (4/8/2014), yang terletak di Jalan Situbondo Nomor 10, Menteng, Jakarta Pusat.

Pak SBY (panggilan akrab Presiden Susilo Bambang Yudhoyono) pada 7 Agustus lalu justru memberikan pandangan dengan penjelasan yang cukup runtut dalam video yang diunggah ke YouTube di kanal Presiden SBY.

Seperti apa pandangan Pak SBY terhadap rumah transisi yang telah di resmikan Jokowi-JK ?, berikut videonya :

Mendadak JILBoobs

-

Mas Ivan™

on 2014-8-09 6:28pm GMT

Ada ilustrasi menarik dilangsir beritagar yang pantas tersuguh ke masyarakat. Bukan tanpa alasan, hal ini mengingatkan kita sebuah fenomena JILboops akhir-akhir ini, dimana pakaian yang konon islami ternyata berbeda jauh dengan apa yang disyariatkan oleh Alloh Subahanahu wa Ta’ala melalui rasulNya (Muhammad Sholallohu’alaihi wasallam) dan jelas ini nampak di hadapan kita.

Jilboops Bukan Jilbab

Jilbab berbeda dengan JILBoobs. Jilbab adalah busana muslim terusan panjang menutupi seluruh badan kecuali tangan dan kaki serta wajah, yang biasa dikenakan oleh para wanita muslim dengan kriteria tertentu. Sedangkan JILboobs adalah sebutan bagi mereka yang berjilbab sebatas fashion islami, dimana lekukan tubuh menonjol, dan bagian yang harusnya ditutupi justru dibiarkan begitu saja disebabkan alasan seni, keindahan tubuh sipemakai dan berbagai alasan lainnya.

Hazm rahimahullah mengatakan ; “Jilbab menurut bahasa Arab yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pakaian yang menutupi seluruh badan, bukan hanya sebagiannya.” Sedangkan Ibnu Katsir mengatakan, “Jilbab adalah semacam selendang yang dikenakan di atas khimar yang sekarang ini sama fungsinya seperti izar (kain penutup).” [Syaikh Al Bani dalam Jilbab Muslimah].

Dan tanggal 7 Agustus 2014 lalu Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan tegas mengeluarkan fatwa haram terkait pemakaian busana bagi muslimah yang masih memperlihatkan lekuk tubuh atau biasa disapa JILboobs. Fatwa MUI-pun menuai reaksi negatif seperti dilaporkan BBC Indonesia.

KPAI melihat fenomena ini sebagai proses adaptasi, dimana Komisioner bidang pendidikan Susanto saat dihubungi Detikcom via telepon, Jumat (8/8/2014) mengatakan, “Dari aspek keislaman, seharusnya semangatnya dihargai. Maksudnya semangat menjalankan ajaran keislaman”.

Memang JILboobs seakan tampak indah pun sebenarnya jadikan Islam tampil dalam bentuk yang nista, tampil dalam wajah yang penuh luka. Tak hanya bagi sipemakai dimana mereka bakal dipandang remeh lawan jenisnya. JILBoobs lambat laun akan menggerus mental generasi muda, dimana harusnya mereka kenakan jilbab sesuai dengan syariat yang ada.

Terlepas dari fenomena mendadak JILboobs, mari kembalikan semua kepada khitohnya dimana para wanita akan tampil lebih anggun, indah dan semakin dihargai yang berbalas pahala di surga Alloh Ta’ala. Fatwa JILboobs haram sebaiknya kita sepakat saja. Wahai para wanita JILboobs masuk keranah mubah (boleh) jika dikenakan pada tempatnya, untuk kalangan sendiri guna manjakan suami (khusus bagi yang telah bersuami).

Pecinta Ketinggian

-

Mas Ivan™

on 2014-8-09 5:10pm GMT

Sebut saja semua ini adalah ujian, ujian bagi para pecinta ketinggian.  Karena jika Anda dapat melihat foto-foto ini dan menonton video yang ada sontak rasa was-was bakal mengintimidasi kecuali tatkala kecemasan mati dan tak tersuguh sama sekali. Saran saya, bawa segera ke psikiatri lantaran ada sedikit boleh juga banyak sebuah gangguan saraf juga psikologi.

© Image by. Google About Mustang Wanted

Apa ?, Anda sebut mereka gila…, ya…mereka memang gila dan suka dibilang gila karena aksi yang dilakoninya memang buat para penikmat dan penggila ketinggian.

Ini adalah fakta, dan tidak lebih ekstrem daripada eksploitasi pendakian gratis Alex Honnold berikut ini yang terlihat sangat ekstrim oleh siapa pun tanpa peralatan keamanan standar. Tapi entah bagaimana tampaknya lebih ekstrim karena justru hal seperti inilah yang menggoda para pemburu selfie gila di ketinggian.

Lihat lebih lengkap aksi pecinta ketinggian di Mustang Wanted dan rasakan sensasinya.

Ini sepenggal kisah kami di bulan Ramadhan lalu. Sebagai orang tua belum pernah saya mengalami panic yang luar biasa. Anakku yang nomor dua, Abim, hilang.

Sebelum masuk bulan Ramadhan saya memboyong seluruh keluarga kembali ke Bogor dari rumah Eyang Pati. Anak-anak masih libur sekolah, jadi mereka bisa istirahat di rumah. Rumah masih berantakan, buku-buku belum semua tertata di rak. Baju-baju masih menumpuk di sofa. Tas dan kardus masih berantakan di ruang depan dan ruang tengah.

Puasa hari pertama kami awali dengan sahur seadanya. Tidak banyak persiapan bahan makanan yang ada di kulkas. Tidak masalah. Kami semua bahagia, karena bisa mengawali puasa bersama seluruh keluarga. Alhamdulillah.

Ibim bilang, “Bi, mbok beli kura. Masak puasa tidak ada kurma. Aku pingin kurma”.
“Ya….kita beli kurma”, jawabku singkat.
“Kapan mau beli kurmanya?”, tanyanya lagi.

Hari ketiga puasa baru saya punya kesempatan untuk membeli buah kurma.

Selesai sholat tarawih kami siap-siap untuk membeli kurma. Saya ganti baju, pakai kaos oblong dan celana training. Saya ambil dompet dan kunci motor. Saya berencana membeli kurma di daerah Empang. Tidak terlalu jauh dari rumah, cuma sekitar 2-3 km. Meskipun dekat saya tetap pakai helm, tapi kami tidak pakai jaket.

Daerah Empang merupakan daerah yang banyak orang keturunan Arab tinggal. Jadi di sini banyak yang menjual kurma, minyak wangi, dan kebutuhan-kebutuhan Ramadhan lainnya. Sampai di pertigaan Empang sudah banyak toko yang tutup. Saya baru menemukan penjual kurma yang masih buka setelah dekat dengan jembatan rel kereta sebelum Mall BTM. Ada warung yang menjual minyak wangi dan di depannya ada beberapa rak berisi kurma. Saya berhenti di warung itu.

Ada beberapa macam kurma yang dijual. Ada yang harganya mahal sampai Rp. 70rb/kg, Rp. 50rb/kg, Rp. 45rb/kg, dan Rp. 35rb/kg. Kami semua kurma-kurma itu. Akhirnya saya membeli ½ kg kurma yang harganya Rp. 45rb dan ½ kg yang harganya Rp. 50rb. Pejualnya memasukkan ke dalam kantong plastic putih dan memberikannya pada Abim.

Saya naik ke motor dan memasukkan kunci ke lubang kontak. Abim menaruh kantung plastic ke kait di motor, kemudian naik ke belakang. Saya segera menghidupkan motor dan menjalankan motor. Saya jalan pelan-pelan. Sampai di samping BTM saya ajak ngobrol Abim.

“Kamu ingat tidak, Bim, dulu pernah ke BTM?”, tanya saya.
“Kita dulu kadang-kadang kan ke sini”, lanjut saya lagi.

Saya terus ngomong sampai ke depan BTM. Tapi Abim tidak menjawab sama sekali.

“Bim…Bim…..”, saya mulai agak curiga.
Tiba-tiba ada orang naik motor mengejar saya.
“Pak….pak!!!! Anaknya tertinggal”, katanya sambil menunjuk ke arah belakang.

Terus saya menengok ke belakang. Betapa kagetnya saya, ternyata Abim tidak ada di boncengan motor.

Saya langsung kaget dan panic. Saya langsung berhenti. Saya tengok kebelakang dan memangil-manggil Abim. Saya pikir Abim tertinggal di toko kurma. Seingat saya dia sudah naik ke motor.

Saya segera putar balik dan kembali ke toko itu lagi. Sampai di toko saya tanya:
“A’, lihat anak saya tadi tidak?”
“Lho…kan tadi sudah naik ke motor, Bapak!”, jawabnya.
“Tidak ada….”
“Waduh…”, saya raba saku saya. Celaka. Ternyata saya juga tidak membawa HP.

Saya tinggalkan nomor HP saya ke warung kurma itu. Kalau sewaktu-waktu Abim balik ke warung, saya minta pejualnya untuk menelpon saya.
Saya mulai lebih panic. Apakah Abim terjatuh pada saat naik motor tadi. Saya balik lagi ke arah BTM, tapi kali ini dengan pelan-pelan, sambil tengok kiri-kanan. Saya baru berlajan kira-kira 200-300m, ketika menyadari kalau Abim tidak ada.

“Abim….Abim……!!!!”, teriak saya.
Jalan-jalan sudah mulai sepi dan tidak macet seperti kalau siang hari. Mall BTM mulai sepi dan sebentar lagi tutup. Saya berhenti di depan mall BTM, motor saya parkir dan saya turun. Saya berjalan ke bawah sambil memanggil-manggil Abim.

Sampai di samping Mall BTM saya tanya ke sopir angkot yang sedang ‘ngetem’ di depan pintu keluar Mall.
“Pak, apa tadi lihat anak kecil lari-lari atau jatuh di sini?” tanya saya.
“Oh….anak kecil itu.  Tadi naik mobil putih. Jalan ke arah sana”, jawabnya singkat.
“Bener, Pak? Bapak lihat sendiri?” tanya saya untuk meyakinkan.
Saya tambah panic dan jadi berfikiran macam-macam.
“Mobil putih seperti apa, Pak?”
“Mobil putih kecil. Masih baru”, jawabnya menjelaskan.
Saya segera balik ke motor saya. Tiba-tiba ada dua anak muda mengejar saya.
“Pak….Pak….”
“Anak Bapak tadi ikut orang naik mobil Jazz putih”, jelasnya.
“Tadi saya sudah suruh balik ke toko kurma. Katanya rumahnya di Ciomas. Lalu ada ibu-ibu yang mau mengantarnya. Katanya rumahnya juga di Ciomas”, jelas anak muda itu.
“Mobilnya jazz warna putih. Masih baru. Nomor polisinya F GBOY….ya….F GBOY….F 6801 ….”, jelasnya lagi.
Kali ini saya semakin panic. Tapi saya punya petunjuk untuk menemukan Abim.
“Terima kasih, A’”, sahut saya.

Saya segera kembali ke motor dan segera menyusuri jalan ke Ciomas via Jl. Djuanda dan terus ke Merdeka. Saya jalan pelan-pelan dan mengawasi setiap plat nomor yang saya lewati. Saya mencari mobil jazz putih atau mobil-mobil kecil yang warnanya putih.
Saya lewat jalan Merdeka, tetapi tidak saya temui mobil jazz putih. Saya terus ke Gunung Batu, Pasir Kuda, dan turun ke Pintu Ledeng. Saya tetap tidak menemukan mobil Jazz putih itu. Saya menghibur diri dan berharap orang itu benar-benar mengantarkan Abim ke rumah.

Saya sampai ke rumah. Masuk rumah dengan tergesa-gesa.
“Mi….Mi…..,”  teriak saya.
“Abim sudah sampai rumah tidak?”, tanya saya.
Ummi yang sedang menelpon menjawab,
“Lho….tadi kan sama Abi beli kurma”
“Abim ketinggalan di Empang. Terus di bawa orang naik mobil Jazz. Katanya mau diantar ke rumah”.
“Hah….Bagaimana, Bi? Abim belum sampai rumah”
Dia mulai panic juga.
Mas Royan yang sedang main game segera keluar juga.
“Mas Royan, abil helm. Ikut Abi cari adikmu. Adikmu di bawa orang”
Royan segera ambil helm dan pakai jaket. Kami segera meluncur balik lagi ke Empang.
“Mas Royan cari mobil putih kecil. Lihat plat nomornya”, perintah saya.

Kami susuri lagi jalan yang kami lalui tadi. Sampai di Empang kami tetap tidak melihat mobil jazz putih.
Saya balik lagi ke toko kurma tadi. Penjualnya bilang kalau tidak ada anak yang balik. Kami semakin panic.
Saya susuri lagi jalan Djuanda-Merdeka-Gunung Batu. Tetap tidak ketemu. Saya ke arah sebaliknya menuju Empang lagi. Nihil.

Saya susuri Empang-Pancasan-Pasir Kuda-Ciomas dan sampai ke rumah.
“Mi… Abim sudah pulang belum?”
“Belum, Bi”

Kami semua semakin panic dan mulai berfikir yang tidak-tidak. Sudah satu jam sejak saya berangkat beli kurma dengan Abim tadi selepas tarawih.
Ummi menyuruh lapor ke polisi. Saya telepon polisi Bogor kenalan saya. Dia menyarankan untuk melapor ke polsek terdekat, di jl Pahlawan; Polsek Bogor Selatan.

Saya jalan kembali dengan Royan ke arah Empang. Tetap dengan mata waspada mencari mobil jazz putih.
Saya menuju ke jl Pahlawan ke Polsek Bogor Selatan. Saya masuk ke dalam dan menemui polisi jaga.

“Assamu’alaikum, Pak Polisi” salam saya.
“Walaikum salam. Silahkan duduk, Pak. Ada yang bisa kami bantu”, sapa petugas polisi jaga. Ada dua polisi yang sedang jaga di pos depan itu.
“Saya mau lapor, Pak. Anak saya hilang”.
“Hilang di mana, Pak?”
“Di mall BTM”.
“Sudah lapor ke satpam BTM. Sebaiknya lapor ke sekuriti BTM dulu”
“Bukan di mallnya, Pak. Tapi di depan mall, Pak.”
“Baik. Coba tenang sedikit, Pak. Jelaskan bagaimana kejadiannya.”
Saya jelaskan kronologi hilangnya Abim. Detail.
“Namanya siapa, Pak?”, tanya Pak Polisi sambil mengambil cuku catatan.
“Ibrahim, Muhammad Ibrahim. Tapi panggilannya Abim”.
“Umur, tempat dan tanggal lahir?”
“Pakai baju apa tadi?”
Semua saya jawab dan saya jelaskan dengan detail.

Kemudian Pak Polisi mengambil radio. Kemudian dia mengimformasikan ke seluruh polsek di kota Bogor kalau ada anak yang hilang. Dia minta agar disebarkan informasi ini dan jika ada polisi jalan atau patroli yang melihat mobil Jazz putih.

Kemudian saya telepon rumah.
“Mi..saya sudah di kantor polisi. Abim sudah datang belum?”
“Udah, Bi….Abim sudah di rumah. Tadi diantar orang.”
“Bener…?”
“Iya…Abim sudah di rumah”

Saya jadi tenang. Kemudian saya informasikan ke pak Polisi kalau anaknya sudah di rumah dan diantar oleh orang yang pakai mobil jazz putih itu. Pak Polisi membatalkan laporan tadi via radio. Saya ucapkan terima kasih ke Pak Polisi. Dan, saya juga minta maaf karena sudah merepotkan mereka. Pak Polisi bisa memahaminya. Kata mereka memang biasa terjadi kejadian anak hilang seperti itu.
Saya dan Royan segera pulang ke rumah. Sampai di rumah, Abim sudah di rumah.

Saya segera peluk Abim. Alhamdulillah.
Saya minta Abim menceritakan bagaimana kejadiannya.
Abim menceritakan kalau setelah membeli kurma dia meletakkan kantong plastic ke cantolan di motor. Lalu naik ke belakang. Tapi sesaat kemudian di turun lagi.
“Lho…kenapa kamu turun lagi…???”
“Aku pikir Abi mau membelok. Jadi aku turun lagi.”
“Trus….”
“Trus ….Abi jalan…..aku pangil-pangil Abi tidak dengar”.
“Trus aku lari mengejar Abi, tapi Abi jalanya makin kenceng”.
Lalu Abim menjelaskan kalau ada ibu-ibu yang turun dari mobil Jazz. Dia bertanya dan mengajak Abim ikut mobilnya. Si Ibu itu mau mengantarkan ke Ciomas. Di dalam mobil juga ada anak kecil. Abim di ajak ke restoran besar, katanya. Baru setelah itu diantar pulang ke Ciomas.
****
Tragedi buah kurma ini menjadi pelajaran bagi kami, khususnya Abim. Dia harus lebih berhati-hati. Dia harus menghafal alamat rumah, nomor telepon rumah, nomor telepon Abi dan Ummi. Kalau tertinggal, sebaiknya dia kembali ke tempat semula. Tunggu saja di situ. Jangan ikut orang yang tidak dikenal. Untungnya orang yang mengajak Abim adalah orang baik. Bagaiamana kalau orang jahat.
Tragedi buah kurma. Tragedi yang akan selalu kami ingat dan menjadi pelajran berharga bagi kami semua.


Ada banyak sekali jenis panggilan untuk pasangan suami istri, ada Bapak-Ibu, ada Ayah-Bunda, Papa-Mama, Abi-Umi, Mas-Dek, dan panggilan lazim sebagainya.

Bapak dan Ibu saya agaknya termasuk salah satu pasangan suami istri yang mempunyai panggilan satu sama lain dengan panggilan yang tak lazim.

Panggilan untuk bapak dan Ibu saya satu sama lain adalah 'Jo' (pelafalan huruf o nya dibaca penuh, dibaca seperti menyebut Ronaldo, bukan seperti menyebut Widodo).

Ibu saya memanggil bapak saya dengan pangilan Jo, begitu pula sebaliknya. Usut punya usut, Jo berasal dari kata Bojo, yang artinya istri/suami. Panggilan Jo ini kata bapak sudah dipraktekkan sejak hari pernikahan.

Kadang saya merasa geli juga dengan panggilan ini, Jo (dengan pelafalan o penuh) terdengar sangat barat, sangat identik dengan nama bule, Joe. Tentu semua tahu, banyak tokoh luar yang punya nama dengan awalan Joe ini: Joe Hart, Joe Satriani, Joe Cole, dsb.

Bagi orang lain, panggilan Jo ini mungkin terasa sangat aneh, namun bagi saya dan juga tetangga yang sudah sering mendengar percakapan bapak dan ibu saya, panggilan Jo ini terdengar biasa saja.

"Jo, masak opo dino iki?", begitu kata bapak kalau sedang menanyakan apa masakan hari ini kepada ibu saya.

Sebenarnya tak ada masalah bagi saya dengan panggilan Jo untuk bapak dan ibu saya ini, namun yang bikin saya mangkel adalah banyaknya kawan-kawan saya yang sering menanyakan perihal asal-usul panggilan Jo ini. Yang sering bertanya biasanya kawan-kawan yang memang jarang main ke rumah saya, sehingga merasa aneh dan tak biasa begitu mendengar percakapan antara bapak dan ibu saya. Kalau kawan-kawan Geng Koplo sih, sudah banyak yang tahu sejarahnya. Bahkan beberapa malah sering memanggil bapak saya dengan panggilan Jo juga.

Saking seringnya saya ditanya perihal asal-usul nama panggilan ini, saya sampai males dan kadang menjawab sekenanya.

Pernah suatu ketika kawan saya bertanya tentang asal-usul panggilan Jo ini kepada saya. Dan saya jawab saja dengan jawaban ngawur, saya katakan bahwa Jo adalah nama bapak dan ibu saya.

"Memangnya siapa nama bapak dan ibumu gus?", tanya kawan saya penuh penasaran.

"Jonathan dan Josephine!", jawab saya cuek.

Waktu jomblo, pengen punya pacar. Udah dikasih pacar, masih aja ngerasa kurang. Ya Allah, pacarku kok kurang ajar sih. Masak dibikin kangen mulu tiap hari. Kan capek nahan kangen muluuu.” Well, jelas bukan itu yang Bos maksud. Yang mau Bos bahas tu saat kamu mulai membanding-bandingkan kamu dengan pacar temenmu. Sedihnya lagi kalo kamu bandinginnya […]

The post Pacarku Ga Kaya Pacarnya; Cara Mudah Agar Lebih Mesra appeared first on Vampir Magelang | @BosVampir.

Doa dan wirid pagi-sore sudah menjadi rutinitas. Karena sudah rutinitas menjadi seperti ‘hampar’ rasanya dan seperti kehilangan maknanya. Wirid-wirid itu hanya meluncur cepat dari mulut tanpa masuk ke hati. Rutinitas yang tidak ‘berbekas’ di hari itu. Beberapa hari ini di awal bulan syawal ini saya coba mengevaluasi ‘rutinitas’ itu.

Ketika SMA dulu saya membeli sebuah buku tafsir Al Fatihah karangan Bey Arifin. Buku itu saya baca habis, karena saya ingin paham surat yang wajib dibaca ketika sholat itu. Di salah satu bagian buku itu ada bahasan tengan ayat ke-4. Salah satunya tentang meminta perlindungan dari Allah SWT. Di buku itu disebutkan sebuah hadist yang mengajarkan salah satu doa yang apabila di baca di pagi hari, maka Allah akan member perlindungan dari semua bala dan marabahaya dari pagi hingga sore hari. Demikian pula apabila dibaca ketika sore hari akan diberi perlindungan dari sore hingga pagi hari berikutnya. Saya praktekkan doa itu. Ini adalah wirid pagi-sore.

Ini doa-nya:

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Bismillahilladzi La Yadhurru Ma’asmihi Syai’un fil Ardhi wa Laa fis Sama’i wa Huwas Sami’ul ‘Alim.”

Artinya: “Dengan nama Allah Yang bersama NamaNya sesuatu apa pun tidak akan celaka baik di bumi dan di langit. Dialah Maha Medengar lagi maha Mengetahui.”

Saya membacanya dengan penuh kesungguhan setiap pagi dan sore. Dan saya selalu merasa tenang beraktivitas di hari itu, karena yakin Allah akan melindungi saya.

Saya mengalami beberapa kejadian yang bisa merengut nyawa saya, Alhamdulillah saya tetap sehat dan hasih menghirup udara segar sampai sekarang. Dulu motor saya adalah RX King, motornya anak muda jaman dulu. Orang sering bilang motornya copet; soalnya sering dipakai pencopet/penjahat karena larinya yang cepat. Maklum masih ‘darah muda’, saya mengendarai motor dengan kecepatan ‘setan’. Kalau sudah begitu saya merasa seperti Michael Doohan yang sedang ngebut di track balap. Beberapa kali saya mau nabrak atau ditabrak kendaraan lain. Alhamdulillah selamat. Mungkin karena wirid pagi-sore itu.

Ketika kuliah saya mulai aktif di pengajian dan sering mendegarkan kajian-kajian dari ustad-ustad di kampus atau di masjid Fatimahtuzzahra. Referensi wirid pagi-sore pun bertambah. Lebih panjang dan lebih banyak. Saya mencoba menghafalnya satu per satu dan mengamalkanya setiap hari. Sampai akhirnya menjadi sebuah ‘rutinitas’.

Bulan Ramadhan dan Syawal ini, saya mencoba untuk mengevaluasi ‘rutinitas’ itu agar wirid-wirid itu kembali memberikan makna dan ‘ruh’ ketika saya melewati hari-hari ini. Pagi hari seletelah sholat subuh dan ‘acara rutin pagi’ lainnya. Saya melafalkan wirid-wirid itu lagi. Namun, kali ini saya buat beda dengan biasanya. Saya coba resapi arti dan makna wirid-wirid itu. Akibatnya tidak semua wirid sempat saya baca semua. Misalnya; ketika wirid tentang syukur. Saya mencoba mengingat-ingat tentang semua nikmat yang sudah saya peroleh hari kemarin. Ketika saya membaca doa perlindungan, saya bener-bener memohon agar Allah melindungi saya hari itu. Ketika saya membaca doa agar giat bekerja, saya berharap agar hari-hari saya menjadi produktif.

Sebelum keluar rumah saya membaca doa tawaqah keluar rumah. Saya memohon agar diberi karunia dan barokah dalam menjalani kehidupan saya hari ini. Sampai di kantor saya sempatkan sholat duha. Kadang-kadang sholat duhanya di rumah. Setelah sholat saya berdoa dan menyampaikan hajat-hajat saya hari ini.

Efeknya ternyata luar biasa. Saya memulai pagi dengan bahagia. Bekerja dengan riang. Bertemu dengan orang-orang yang baik dan penuh semangat. Sepertinya semua orang yang saya temui selalu cerah-cerian. Akibatnya semangat saya juga menjadi bergelora.
Ketika pulang, satu hal yang sangat membuat saya bahagia adalah sambutan dari anak-anak. Ketika sampai rumah saya bunyikan klakson motor saya. Anak-anak segera keluar membukakan pintu. Kadang-kadang Mas Royan yang nomor satu, atau Mas Abim yang nomor dua. Mereka menyambut dengan wajah penuh keceriaan. Dedek Yusuf menyambut saya dengan sapaan mesranya:
“Hai…Abi……!!!!”

Wajahnya berseri-seri, matanya berbinar-binar. Lalu saya gendong sambil masuk ke dalam rumah.

Hari yang menyenangkan.

Alhamdulillah ya….Rabb…..


Tak terasa momen lebaran tahun ini telah lewat dari hadapan saya. Ya, beberapa saat yang lalu saya masih di kampung halaman bertemu dengan bapak-ibu, mbah kakung, paklik-bulik, adik sepupu, ponakan, dan sedulur-sedulur lain. Tak lain tak bukan, momen lebaran adalah satu-satunya momen berkumpulnya saudara-saudara saya yang di perantauan di satu tempat, kampung halaman. Kampung halaman […]

Lanjut lagi tentang ‘teman baru‘ saya. Salah satu yang sangat berkesan bagi saya adalah cerita Beliau tentang hakekat ‘pertolongan Allah’.

Sebagai seorang muslim, kita harus percaya pada ‘pertolongan Allah’. Sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat (QS.1:214). Kalimat ini mudah diucapkan, tetapi tidak mudah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kadang-kadang kita khilaf dan seakan tidak percaya bahwa Allah pasti akan memberi pertolongan pada hambanya yang memohon pertolongan. Beliau memberikan sebuah cerita nyata tetang bagaimana kekuatan iman dan kekuatan keyakinan pada ‘pertolongan Allah’.

Kisah ini tentang temannya yang sedang membutuhkan banyak uang. Temannya itu membutuhkan uang segera untuk membayarkan uang kuliah untuk anaknya esok hari. Jumlah yang dibutuhkan cukup besar, sedangkan tabungannya tidak mencukupi. Dia sudah berusaha berbagai cara untuk mendapatkan uang tersebut. Namun, sampai hari terakhir dia belum juga mendapatkannya. Salah satu cara untuk mendapatkan uang adalah dengan meminjam ke ‘rentenir’ (saya sebut saja begitu).

Namun, dia sadar kalau bunga itu riba. Dan rentenir itu memberikan bunga yang cukup besar, 10%. Karena dia ingat dosa, dia mengurungkan niatnya untuk meminjam dari rentenir. Dia mencoba lagi mencari pinjaman dari orang lain lagi. Sudah banyak orang yang dia datangi atau telepon, tetapi belum ada yang bisa memberinya pinjaman.

Dia terus berusaha dan berdoa. Berdoa dengan penuh kesungguhan agar Allah memberinya pertolongan. Sampai sore hari uang yang dibutuhkan belum juga datang. Padahal esok hari adalah hari terakhir batas untuk membayar uang kuliah itu. Dia hampir saja putus asa.

Selepas magrib dia sudah benar-benar putus asa dan kembali menelpon ‘rentenir’, kalau dia jadi untuk meminjam uang. Dia berikan nomor rekeningnya dan menunggu kiriman uangnnya.

Dalam hatinya dia gundah, karena dia tahu kalau itu tidak benar dan berdosa. Dia terus bimbang dan berdoa agar diberi jalan keluar yang baik dari Allah. Selepas sholat isya’ dia masih berdoa. Kemudian dia tersadar dan tidak ingin mendapatkan dosa riba, karena riba adalah salah satu dosa besar. Dia telepon lagi ke temannya itu, kalau dia batal meminjam.
“Loe sudah dapat duit'”, tanya temennya.
Dia tidak menjawab. Dia hanya tidak ingin meminjam dengan riba.

Setelah menelpon itu dia merasa lebih tenang. Padahal tidak ada uang sama sekali di sakunya untuk membayarkan uang kuliah anaknya. Dia belum tahu akan dapat dari mana uang itu. Tapi dia merasa tenang, dan dia berserah diri pada Allah.

Pukul sembilan malam datanglah pertolongan Allah itu. Entah dari mana, akhirnya dia mendapatkan pinjaman uang dari temannya yang jauh. Pinjaman lunak tanpa bunga, tanpa agunan. Boleh dikembalikan ketika dia sudah punya uangnya.

Alhamdulillah…..Subhanallah….

Kadang-kadang pertolongan Allah itu begitu dekat. Kadang-kadang kita tidak sabar untuk ‘mencarinya’ dan ‘menantinya’.

Percayalah. Setiap masalah ada solusinya. Setiap kesulitan ada jalan keluarnya. Tetap berusaha dengan sungguh-sungguh. Tetap kerja keras. Tetap berdoa sepenuh hati. Dan serahkan semua urusan pada Allah. Tunggulah, pertolongan itu akan datang pada saat yang tepat.

Wallahu a’lam.


isroi:

Hidup ini adalah pilihan. Uang bukan segala-galanya. Keluarga lebih utama dari itu semua.

Originally posted on Max Schireson's blog:

Earlier this summer, Matt Lauer asked Mary Barra, the CEO of GM, whether she could balance the demands of being a mom and being a CEO. The Atlantic asked similar questions of PepsiCo’s female CEO Indra Nooyi. As a male CEO, I have been asked what kind of car I drive and what type of music I like, but never how I balance the demands of being both a dad and a CEO.

While the press haven’t asked me, it is a question that I often ask myself. Here is my situation:

* I have 3 wonderful kids at home, aged 14, 12 and 9, and I love spending time with them: skiing, cooking, playing backgammon, swimming, watching movies or Warriors or Giants games, talking, whatever.
* I am on pace to fly 300,000 miles this year, all the normal CEO travel plus commuting between Palo Alto and New York…

View original 504 more words


Teman Baru

-

Berbagi Tak Pernah Rugi

on 2014-8-07 1:28am GMT

Hidup ini kadang-kadang tidak terduga dan selalu ada kejutan-kejutan. Kemarin pagi saya mendapatkan kejutan itu. Pagi-pagi ketika saya baru saja sampai ke kantor, tiba-tiba telepon saya berdering. Telepon yang tidak biasa saya gunakan untuk menelpon. Ketika saya lihat, nomornya tidak terdaftar dalam daftar kontak saya. Artinya telepon dari ‘orang yang tidak dikenal’.
Biasanya saya abaikan telepon-telepon semacam ini. Karena biasanya kalau tidak dari asuransi, kartu kredit, atau malah ‘telepon mama minta pulsa’. Saking jengkelnya saya dengan telepon semacam ini, sampai saya buat tip singkat untuk memblokir telepon spam (Klik di sini). Namun, pagi ini tidak. Saya terima telepon itu.

“Assalamu’alaikum…”, sapa saya.
Tidak ada suara yang terdengar. Hanya samar-samar seperti ada suara orang berjalan dan gemericik air.
Saya ulangi sekali lagi “Assalamu’alaikum….”.
Sesaat tidak ada balasan apa-apa. Hampir saja saya tutup telepon itu.
Tapi kemudian ada suara menyahutnya:
“Wa’alaikum salam….dengan Bapak Isroi?”, tanya orang di seberang.
“Ya betul saya sendiri…”, jawab saya.
Kemdian dia memperkenalkan diri, menyampaikan dari mana dia mendapatkan nomor ini, dan seterusnya.

Bapak ini ingin diskusi tentang kompos sampah. Karena tempat tinggalnya tidak jauh dari kantor saya, saya minta dia datang ke kantor saya saja, mumpung masih pagi dan belum banyak pekerjaaan yang saya kerjakan.
Setengah jam kemudian beliau datang ke ruangan saya. Kami berjabat tangan erat seperti kawan lama yang sudah lama tidak bertemu. Bapak ini orangnya separuh baya, usianya sekitar 50-an tahun. Berjenggot, hem, dan bercelana jean. Kami ngobrol basa-basi sebentar sambil mencari tempat untuk mengobrol.

Sayangnya kami tidak bisa ngobrol terlalu lama, beberapa saat kemudian saya dapat panggilan dari ‘Bos’. Diskusi terputus.

Sore hari sebelum pulang kerja dia menelpon lagi.
“Kita lanjutkan lagi ngobrol kita, Pak? Saya sedang di jalan menuju Pajajaran.”
“Baik, Pak. Silahkan kontak lagi kalau sudah sampai”.
Kira-kira 20 menit beliau sms:
“Saya di masjid kantor, Pak”.
Sudah selepas asar. Saya menuju ke masjid. Dan beliau sedang sholat asar.

Kami ngobrol lagi di emperan masjid. Ngobrol macam-macam, mulai dari kompos, pupuk organik, sampai tentang prinsip-prinsip hidup dalam Islam.

Nah ini yang menarik bagi saya. Saya sudah sering mendengarkan ceramah dari ustad-ustad dan belajar dari buku-buku. Apa-apa yang beliau sampaikan sudah sering saya dengar atau saya baca. Namun, yang satu ini agak lain.
Beliau seorang pengusaha/interpreneur. Mulai kembali belajar tentang Islam ketika umur 39 tahun. Sekitar 10 tahun yang lalu setelah malang-melintang di dunia usaha. Sejak itu beliau belajar Islam dan kemudian mempraktekannya dalam kehidupan dia sehari-hari.
Yang menari bagi saya dari yang beliau sampaikan adalah tentang:
— ‘keimanan sepenuhnya dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah’
– selalu berdoa kepada Allah dan selalu meminta pertolonganNya atas apa pun.
– percaya bahwa Allah pasti akan menolong, meskipun mungkin kita sudah sangat putus asa, sudah lelah berdoa, sudah capek berusaha. Pertolongan Allah pasti akan datang.
– percaya dengan semua keputusan Allah dan takdirNya, meskipun mungkin menurut kita atau orang lain itu buruk. Apa yang diberikan Allah pasti kebaikan untuk hambanya.

Saya juga mendapatkan petuah-petuah tentang bisnis dan usaha.
Ketika magrib saya membatalkan puasa saya, sholat magrib, dan kemudian beliau mentraktir saya makan. Alhamdulillah.

Hari ini saya mendapatkan pelajaran yang berharga; tentang keimanan, tengan tawaqal, tentang istiqomah, dan tentang hidup.

Salah satu yang disarankan oleh ‘teman baru’ saya adalah meminta saya untuk membaca beberapa ayat di surat Al Ahqof, setelah dia tahu saya baru saja berulang tahun. Ini salah satu ayatnya:
Surah Al-Ahqaf, Verse 12:

وَمِن قَبْلِهِ كِتَابُ مُوسَىٰ إِمَامًا وَرَحْمَةً وَهَٰذَا كِتَابٌ مُّصَدِّقٌ لِّسَانًا عَرَبِيًّا لِّيُنذِرَ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَبُشْرَىٰ لِلْمُحْسِنِينَ

Dan sebelum Al Quran itu telah ada kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat. Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang membenarkannya dalam bahasa Arab untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang zalim dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.
(Indonesian)

via iQuran


Aku Kembali..

-

KOKOH ON THE BLOG

on 2014-8-06 6:20pm GMT
Sebelumnya gue mau ngucapin minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir batin ya. Sorry kalau selama ini ada kata-kata gue yang kurang berkenan. Akhirnya gue nulis lagi setelah hampir sebulan gue ngebiarin blog ini gak keurus. Gue jarang banget buka blog ini, giliran buka, bingung mau nulis apa. Endingnya gue cuma main-maininin template blog ini, gue utak-atik sedemikian rupa dan hasilnya masih
Translated by: Sahrudin – @SahrudinSaja PRESIDENT Susilo Bambang Yudhoyono and First Lady Ani Bambang Yudhoyono attend the observance of National Children’s Day (Hari Anak Nasional) 2014 at the Sasana Kriya […]

2 Tanda Perhatian Cewe yang Bikin Cowo Sebel dan Solusinya Saat PDKT, biasanya cowo yang ngejar-ngejar cewe. Pas udah jadian, kebalikannya. Cowo cenderung cuek, sedangkan si cewe berlebihan perhatiannya. Seolah takut cowonya lari padahal dianya ga kemana-mana kecuali sibuk nge-game. Nah, perhatian dari cewe ini kalo ga diberikan dengan cara yang pas, malah jadi nyebelin […]

The post 2 Tanda Perhatian Cewe yang Bikin Sebel Cowo (dan Solusinya) appeared first on Vampir Magelang | @BosVampir.

Semakin Chrome Saja

-

Mas Ivan™

on 2014-8-06 2:55am GMT

Terjajah peramban asing membuat saya tak begitu respect dengan peramban lokal sebagaimana Lightning Web Browser, MoMo web Browser, Alien force Broweser, hingga Tiger Broweser dan Kucing Hitam Broweser.  Bukan tak cinta produk dalam negeri yang nota bene produk anak-anak bangsa, . Lebih-lebih lantaran suguhan kemudahan, layanan serta fasilitas yang diberikannya dimana semua ini belum mampu dipenuhi oleh peramban lokal sebagaimana saya sebutkan diatas.

Satu diantara beberapa yang hari ini semakin menjadi candu tersebut Chrome yang tiada lain merupkan hasil olah kreasi google, yang hari demi hari selalu melakukan perbaikan, menaburkan inovasi-inovasi terbaiknya agar tak tergusur pesaingya seperti Mozilla, Opera, dan juga Bing pun masing-masing punya pangsa pasar pengguna yang berbeda-beda.

Pewajahan Screen Shoot Toko Web Google Chrome

_______

Seperti banyak orang tahu, layaknya tubuh peramban merupakan organ vital yang tidak boleh kita sepelekan keberadaannya. Sebuah aplikasi yang punya kegunaan melakukan pencarian atau menampilkan situs-situs di internet melalui komputer bertenaga Internet. Perampan menjadi ujung tombak suatupekerjaan sebab fungsinya mutlak dan tidak bisa dialihkan kecuali dengan aplikasi serupa yang kualitasnya berbeda, sebagaimana besutan anak-anak Indonesia (maaf).

Peramban dikatakan baik jika ia mampu terjemahkan keinginan penggunanya dan tampilkan aplikasi-aplikasi web baik atas bangunan berbahasa HTML, PHP, .Net, Java atau javascript.

Tak sekedar mewadahi fungsi utamanya sebagai peramban aneka situs, hadirnya inovasi baru dalam dunia peramban masa kini sekarang mampu dipadukan hingga penggunanya mampu disinergika dengan pernak-pernik sosial media seperti facebook, twitter, google+ dan juga YouTube, serta beragam aplikasi lainnya tersebut Game, Google Drive hingga plugin-plugin terbaru yang terintegrasi yang disediakn Gratis dan bisa diunduh saat ini juga.

Chrome jelas bukan peramban biasa. Selain Multi Bahasa, Google Chrome memungkinkan penggunanya menggunakan situs web apapun tanpa memandang bahasa. Dan alat penterjemah Chrome yang terpasang secara built in dan diupdate terus, telah mampu memanjakan para penggunaanya diseluruh dunia tanpa kecuali.

Tersaji satu paket itu kelebihan Google Chrome yang tidak disediakan peramban lainnya yang mana fitur transaltor harus di unduh secara terpisah berupa add-on atau plugins. Google Chrome secara otomatis akan mendeteksi jika website tersebut tidak disajikan dalam bahasa pilihanku dan menampilkan bar opsi yang menanyakan apakah aku ingin menerjemahkannya atau ingin seperti aslinya dengan bahasa bawaan.

Dan masih banyak lagi, dan masih banyak lagi, dan masih banyak lagi kenapa kini dari hari demi hari semakin Chrome saja diri ini. Setidaknya, salah tiga alasan lain kenapa Chrome adalah lantaran stabilitasnya, tampilan antara muka yang interaktif, juga kecepatannya yang tidak boleh kita sepelekan dimana setara dengan rival sepantarannya Mozilla Firefox, pun Google Chrome mampu berikan keunggulan lainnya seperti Toko Web gratis serta berbayar, yang hal ini luar biasa dan patut kita berikan apllause kecuali Anda masih meragukannya :D

_______

Bocoran saja yang menjadi fakta, Google Chrome dan Mozilla merupakan perpaduan apik peramban saat ini yang pelayanannya cukup istimewa dan layak kita coba.

Kenalan Dengan Dropbox

-

Mas Ivan™

on 2014-8-05 11:57pm GMT

Banyak orang (mungkin) telah akrab dengan Dropbox dimana aplikasi besutan google ini tersuguh gratis bagi pengguna Chrome di seluruh dunia. Tergoda akan fungsinya sebagai tempat untuk semua foto, dokumen, video, dan file Gratis, pagi ini (Rabu, 06/08/2014) saya-pun tergoda untuk mengunduhnya langsung lantaran Dropbox punya tagline ; “Satu tempat untuk semua file, di mana pun Anda berada.”

Berlogo kardus terbuka, dalam turnya saat kita medaftar koala imut-pun nongol menemani daftar isi terkait : Apakah Dropbox itu, di mana pun kemudahan berbagi, selalu aman dan kejutan buat Anda.

Drob Box

 

Apakah Dropbox itu ?

Dropbox adalah tempat untuk semua foto, dokumen, video, dan file Anda. Apa pun yang Anda tambahkan ke Dropbox otomatis akan muncul di semua komputer, ponsel dan bahkan situs web Dropbox Anda – sehingga file Anda dapat diakses dari mana pun.

Dropbox sangat mempermudah berbagi dengan orang lain, baik sebagai pelajar atau profesional, orangtua atau kakek/nenek. Sekalipun laptop Anda tertumpah kopi latte tanpa sengaja, tidak perlu risau! Anda akan tenang karena tahu file Anda aman di Dropbox dan tidak akan pernah hilang.

Dropbox 2Dimanapun, Dropbox bekerja keras memastikan semua file Anda sama di mana pun Anda berada. Buat dokumen dari komputer di sekolah atau di tempat kerja, edit dengan ponsel saat Anda dalam perjalanan pulang, lalu sempurnakan dengan tablet di ruang tamu Anda.

Dengan aplikasi yang tersedia untuk semua komputer, ponsel, dan tablet, Anda dapat memamerkan video, otomatis mengunggah foto, atau membuka dokumen dari mana pun.

Drob Box 3

Karena itulah, Dropbox membuat penggunanya semakin mudah dalam berbagi file baik foto, video ataupun file-file lainnya. Kita juga dapat mengirimkan tautan ke file, foto, dan folder tertentu di Dropbox Anda kepada siapa pun. Ini menjadikan Dropbox sempurna untuk proyek tim, berbagi foto pesta dengan teman-teman, atau merekam debut album band Anda (jika punya).

Dan tentunya kita tak perlu merasa khawatir akan keamanan file jika seaktu-waktu piranti komputer rusak atau mengalami kendala. InsyaAlloh selalu aman, ini satu dari sekia manfaat utamanya. Sekalipun komputer rusak berat atau ponsel terendam air, file kita bakal terkaga apik di Dropbox dan bisa dipulihkan kembali dalam sekejap.

Yah anggap saja Dropbox bak mesin waktu yang memungkinkan kita membatalkan kesalahan dan bahkan membatalkan penghapusan file yang tanpa sengaja terbuang.

Drob Box 4Lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia mengandalkan Dropbox untuk membantu mereka mendesain bangunan, menggubah musik, menjalankan bisnis, dan bahkan mengorganisasi bantuan bencana. Apakah kita seorang wiraswasta atau guru, fotografer atau ahli astronomi, artis atau aktivis, Dropbox menyederhanakan hidup kita atas ragam aktivitasnya.

Jadi mengapa harus tunggu lain waktu jika saat ini saja bisa mencoba GRATIS. Saya telah mencobanya, dan jutaan orang juga. Lihat cara menarik lainnya orang menggunakan Dropbox dari negeri tetangga hingga Indonesia. Gak perlu mikir, mulai sekarang !

Agus Mulyadi

Foto di atas adalah foto diri yang pernah saya pajang di salah satu postingan di blog ini. Foto di atas memperlihatkan saya sedang bermain komputer (wis ngerti gus, rumangsamu aku picek po?).

Gara-gara foto saya di atas, banyak pembaca blog saya yang bertanya tentang dimana tempat saya biasa bermain komputer, pasalnya dalam foto di atas, ndilalah yang jadi background-nya adalah usuk (kerangka) genteng.

Tempat pengambilan foto di atas adalah di kamar saya. Letak posisi kamar saya memang berada persis di bawah genteng.

Jadi begini ceritanya.

Rumah saya terbilang sebagai rumah yang kecil, sempit. Kamarnya hanya ada dua, sedangkan satu rumah dihuni oleh 5 orang: Saya, Bapak dan ibu saya, serta kedua adik perempuan saya.

Kedua adik saya tidur di salah satu kamar, sedangkan kamar yang satunya dipakai bergantian, kalau bapak dan ibu saya tidur di kamar, maka saya tidur di ruang tengah, sedangkan kalau saya tidur di kamar, maka bapak dan ibu saya lah yang tidur di ruang tengah. Kondisi yang kurang ramah dengan stabilitas keluarga Sakinah.

Melihat kondisi yang sebegitu tidak kondusif, Maka, sebagai seorang kepala keluarga yang baik dan kreatif, bapak saya akhirnya berinisiatif untuk membuatkan kamar/ruangan tersendiri untuk saya.

Karena rumah saya sudah terlalu sempit, maka satu-satunya ruang kosong yang mungkin bisa digunakan sebagai kamar saya adalah loteng. Mungkin terinspirasi oleh film kartun Nickelodeon "Hey Arnold".

Akhirnya, dengan segala perencanaan yang ada, serta dengan blueprint sederhana, bapak saya mulai mengerjakan proyek pembangunan kamar di loteng rumah. Ndilalah bapak memang sudah lama ingin membuat ruangan di Loteng, agar bisa sekalian buat ruangan untuk Gudang. Jadi Nantinya, kamar saya bakal bersebelahan sama gudang.

Kira-kira, begini penampakan rencana pemetaan ruangan di rumah saya



Total biaya yang dibutuhkan untuk membuat proyek Kamar Loteng ini sekitar 600 ribu rupiah (saya dan bapak saya patungan setengah-setengah), dengan rincian 400 ribu untuk membeli kayu glugu, 150 ribu untuk membeli kayu papan, sedangkan 50 ribunya untuk biaya lain-lain.

Mula-mula, tembok rumah dilubangi, agar bisa dimasuki glugu (kayu pohon kelapa) sebagai penyangga utama. Bapak saya menggunakan empat gelondong glugu sebagai penyangga. Kemudian di atas glugu tersebut dipasangi kayu papan.

Proses pembuatan kamar loteng ini rupanya tak semudah yang dikira, banyak terjadi kesalahan, maklum, untuk urusan tata bangunan, bapak saya belum terlalu mahir, karir bapak saya dalam dunia perbangunan masih sekedar pada level laden (asisten tukang), belum sampai pada level tukang.

Setidaknya butuh waktu dua hari untuk menyelesaikan proses pemasangan glugu dan kayu papan.

Loteng
Hasil awal kamar Loteng saya. Masih cukup polos tanpa alas

Setelah kayu-kayu papan terpasang sempurna, proses selanjutnya adalah memasang instalasi listrik untuk kamar saya. Mulai dari membuat terminal sampai pemasangan lampu, semuanya dikerjakan oleh bapak sendirian, main single.

Jangan salah, walaupun bapak saya dulu ndak lulus SMP dan sewaktu jadi anak sekolah bandelnya setengah modar, tapi kalau urusan instalasi listrik, rasa-rasanya bapak saya ndak kalah sama yang lulusan SMA sekalipun.


Biar Kidal yang penting Handal, Pokoke aku bocahmu Pak.

Setelah urusan instalasi listrik selesai, Bapak pun menyerahkan kendali kamar sepenuhnya kepada saya. Terserah kamarnya mau diapakan, mau dihias bagaimana, mau diberi alas apa, mau diatur sedemikian rupa, pokoknya terserah saya.

"Saksakmu, aku ora urus!", begitu kata bapak.

Maka, langkah pertama yang saya lakukan pasca serah terima kependudukan adalah mengatur tata letak kamar ini. Saya atur senyaman dan se-efisien mungkin agar seluruh bagian ruangan bisa dimanfaatkan dengan maksimal.

Loteng
Setelah terkena sentuhan penataan ala kadarnya

Langkah selanjutnya adalah membuat hiasan untuk kamar baru saya ini. Dan hiasan yang saya pilih adalah hiasan letter sign, biar kamarnya jadi spesial sekaligus untuk memperjelas, siapa pemilik kamar spesial ini. Dan inilah letter sign yang saya buat dari gabus styrofoam sebagai penghias kamar saya.


Biar berasa Hollywood, walaupun cuma pakai Styrofoam.

Penataan sudah, hiasan sudah, maka langkah selanjutnya adalah memilih barang-barang yang diperlukan sebagai pendukung kamar ini.

Dengan bajet dana yang tak terlalu besar, pada akhirnya saya memilih untuk membeli lemari, dispenser, dan juga kipas angin. Lemari saya gunakan untuk menaruh pakaian serta buku-buku saya. Kipas angin untuk sedikit mendinginkan badan kalau saya ndilalah ada dines di siang hari yang terik. Sedangkan dispenser saya gunakan untuk menyeduh kopi.


Ndilalah, air di Galon sedang habis, jadi terpaksa pakai Plan B

Rasanya cukup menyenangkan punya kamar di sendiri di loteng. Pertama, kamar kita kesannya eksklusif dan unik, soalnya jarang ada yang punya. Kedua, kita bisa nyetel musik dengan volume cukup besar, tak perlu takut, karena dari bawah, suaranya tak terlalu kencang. Ketiga, walau rumah kita kecil, tapi kita tetap bisa mempraktekkan dialog khas orang kaya di Sinetron-sinetron: "Kamar gue di atas, lo langsung masuk aja!". Dan yang keempat, sampeyan bisa punya sedikit kebebasan kalau bawa pacar main ke kamar sampeyan (untuk yang ini, saya sendiri belum pernah mempraktekannya).

Namun begitu, tetap saja ada kekurangan dari kamar Loteng ini. Pertama, Kalau siang terik, panasnya ndak ketulungan, dan kalau malam, dinginnya begitu menusuk tulang. Dan yang kedua, sampeyan harus mengeluarkan tenaga yang cukup banyak untuk naik-turun tangga kalau ada urusan dengan negara bawah.

Tangga Loteng
Nek ibarat judul lagu, ini judulnya "Stairway to Heaven"

Tapi apapun itu, saya tetap merasa bahagia, bisa punya kamar loteng sederhana ini. yah, walaupun kecil, namun disinilah karya-karya saya lahir.

Kawan-kawan saya paling senang nongkrong di kamar loteng saya ini, karena selain tempatnya agak tersembunyi, fasilitas di kamar saya pun tergolong lengkap, yah, minimal untuk standar pemuda desa.

Di Kamar saya, wifi gratis, koneksi internet full, karena memang saya langganan speedy. Kopi selalu saya sediakan, yah, walaupun hanya sekedar kopi sachet. tersedia juga cukup banyak buku bacaan yang siap untuk dilahap. Sedangkan untuk penggemar permainan, sudah tersedia karambol yang siap untuk dimainkan. Cukup lengkap bukan?. Makanya, kalau ada pembaca yang ndilalah orang Magelang, jangan sungkan untuk mampir dan sowan ke rumah saya. Insya Alloh saya bisa bertindak sebagai tuan rumah yang baik kok.


Mampir dulu, ngenet dulu, ngopi dulu, udud dulu

Oh ya, Sebagai pamungkas, berikut ini saya tampilkan beberapa penampakan kamar saya. Monggo dinikmati.


kalau kamarnya belum berantakan, katanya belum jantan


Untuk saat ini masih karambol, besok kalau sudah kaya tak beliin meja Bilyard


Gudang di seberang kamar


Boleh lho mas kalau mampir, gratis kok, asal sampeyan bawa karcisnya


Urusan kopi dan beverages lainnya, Insha Alloh saya bisa memenuhi


Kalau hanya untuk buku dan baju, saya rasa ndak perlu pintu, yora?


Cah lanang, kudu sregep moco, Touch the Boobs, read more books


Nikmat mana lagi yang engkau dustakan?

Jadi, kapan sampeyan mau mampir ke kamar saya, cepetan lho ya, mumpung saya belum kawin. Soalnya nanti kalau saya sudah kawin, dijamin bakalan susah bokingnya.
blockir nomor spam penipuan Android

Menambahkan nomor yang akan diblokir secara manual di HP Android

Yang namanya SAMPAH selalu menyebalkan, tidak terkecuali PANGGILAN SAMPAH dan PESAN SAMPAH. Anda mungkin pernah mendapatkan sms (sort message service) yang isinya promosi, minta pulsa, penipuan, undian, judi, bahkan pesan ‘esek-esek’. Pangilan sampah yang umum adalah telepon dari KARTU KREDIT atau ASURANSI. Untungnya smartphone Android memiliki fasilitas untuk memblokir panggilan atau pesan dari nomor-nomor tertentu.


Tips Android yang lain klik di sini

Ada banyak cara untuk memblokir panggilan atau pesan dari nomor tertentu. Cara yang saya sampaikan berikut ini mungkin saja berbeda untuk tipe smartphone android yang berbeda.

MEMBLOKIR PANGGILAN DAN PANGGILAN SECARA MANUAL

pengaturan panggilan Android

Menu pengaturan panggilan HP Androoid

1. Buka menu Panggilan.
2. Klik Menu > Pengaturan Panggilan > Penolakan Panggilan.
3. Klik Daftar tolak otomatis > Membuat.
4. Masukkan nomor telepon yang akan diblokir.

Nomor yang ada di dalam daftar tersebut tidak akan bisa mengirimkan pesan atau panggilan ke smartphone Android Anda.

MEMBLOKIR PANGGILAN DARI LOG PANGGILAN

Memblockir nomor dari log panggilan

Memblockir nomor dari log panggilan

1. Misalnya Anda mendapatkan panggilan dari nomor yang tidak Anda inginkan. Nomor itu akan tersimpan pada daftar log panggilan telepon. Buka log panggilan ini.
2. Sentuh dan tahan nomor tersebut selama beberapa detik hingga muncul menu pilihan.
3. Pilih Tambah ke daftar tolak.

MEMBLOKIR PESAN

Jika sebelumnya pesan sampah (spam) hanya ada di email, sekarang sms pun banyak spamnya. Jika anda ingin terbebas dari pesan sampah ini, lakukan langkah-langkah singkat ini. Untuk pesan penipuan, Anda bisa juga melaporkannya ke provider HP Anda. Klik di sini untuk cara melaporkan penipuan.

Menambahkan nomor yang mengirimkan pesan sampah/spam di HP Android.

Menambahkan nomor yang mengirimkan pesan sampah/spam di HP Android.

1. Buka pesan dari nomor yang ingin Anda blokir.
2. Tekan tombol Menu > Tambahkan ke nomor spam. Nomor tersebut akan tersimpan ke dalam daftar tolak.

MENGGUNAKAN APLIKASI DARI GOOGLE PLAY

Di Google Play tersedia beberapa aplikasi untuk memblokir nomor-nomor tertentu. Jika langkah-langkah di atas tidak mempan, Anda bisa mengunduh aplikasi ini untuk memblokir nomor-nomor tersebut. Berikut beberapa aplikasi untuk memblokir panggilan: Calls Blacklist, Mr. Number.

Selamat mencoba. Semoga Anda terbebas dari panggilan atau pesan-pesan sampah.


Sebagaimana JILboobs yang katanya saat ini lagi laris manis  & populer dikalangan remaja dibarengi problematika yang berkembang dengannya, sungguh JILboobs atau sapaan akrab dari wanita pengguna Jilbab ala kadarnya sesungguhnya diperbolehkan asalkan untuk kalangan sendiri, wabil khusus untuk dikenakan sang istri dirumah-rumah mereka untuk memanjakan suaminya, dengan sebuah catatan ; meniatkan diri untuk menghibur mereka setelah seharian penuh beraktivitas agar hubungan makin harmonis,  semakin penuh rohmah, yang berujung sakinah dan mawaddah.

Selebihnya, hal ini masuk keranah lingerie yang pemakaiannya saat orang lain (bukan mahrom) tak bisa melihat, juga tatkala anak-anak tidak disekitar pemakainya tak ada. Hukumnya ; boleh untuk manjakan suami guna membahagiakannya & haram untuk ditunjukkan kepada orang lain sebagaimana menampakkan aurat kepada non mahram kita.

Nah, seperti apa JILboobs dan pemakaiannya yang konon “wah” dan memikat mata ? oopss… jangan disini, Anda bisa lihat sendiri disini atau disana asal siap dengan konsekuensinya (18+) atau sudah menikah.

Saatnya Wanita Memilih Sesuai Dengan Hatinya Antara Jilbab Vs JILboops

_______

Seputar JILboops

Awal mula ramai linimasa memperbincangkan JILboobs bermula dari akun facebook dengan nama serujurus yang menurut tanggal pendaftarannya 25/01/2014 atau sekitar akhir bulan januari 2014 lalu.

Gayung bersambut, seorang mahasiswi Universitas Hasanuddin yang mendengarnya pada tanggal (30/3/2014) pun penasaran hingga ia mencarinya di Google, dimana JILboobs merupakan istilah yang digunakan untuk menjuluki wanita berjilbab tetapi berpakaian ketat. Ada Sekitar 26.600 hasil dalam 0.30 detik di Google.

Ya, sungguh sebuah penistaan terhadap muslimah yang sebenarnya pun secara kasat mata “seakan” terlihat menarik dengan pesona yang memukau mata penikmatnya.

Dalam investigasi selanjutnya, kata “JILboobs” mulai terdokumentasikan melalui sebuah blog dengan isi kumpulan foto candid dari sosok para wanita “JILboobers” sejak tahun 2009. Entah apa ada penyengajaan istilah JILboobs dengan JIL dimana banyak orang tahu organisasi ini intens menyebarkan pemahaman bengkok seputar hjab syar’i yang telah Alloh Ta’ala terangkan dalam Al-Qur’an :

“..dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka…” (QS. An Nur: 31)

Dan sebuah keniscayaan, “JILboobs” seakan menjadi tren busana muslim masa kini, pun sebenarnya pakaian seperti ini jauh dari kata Syari apalagi Islami dan anggun bagi para penggunanya. Menjadi demonologi Islam (penyetanan Islam-red) barang tentu mengingat madhorotnya jauh lebih besar daripada harapan sesungguhnya (jika memang ada) “untuk mendekatkan diri kepadaNya”.

Fenomena JILboobs sungguh menjadikan Islam tampil dalam bentuk yang nista, tampil dalam wajah yang penuh luka. Betapa tidak, muslimah sebagai pemakainya nyata melabelkan diri  bak wanita yang tidak punya norma, kurang akal dan mengedepankan hawa nafsunya.

Sungguh, mereka rela menjadi bahan tertawaan dan konsumsi linimasa, sekaligus sumber malapetaka bagi dirinya juga keluarga. Kenapa ?, karena tak jarang adanya tindak pemerkosaan, pelecehan seksual dan hal serupa, diakibatkan oleh penampilan yang disuguhkannya, diikuti pewajahan centil dan gerak tubuh meliuk yang terang menggoda mereka para penikmat syahwat sesaat, yang tak pernah takut akan dosa serta siksa nerakaNya. Naudzubillah hi mindzalik. :(

Rupanya PR bagi kita semua untuk menaburkan benih pengajaran sedari kecil bermula dari keluarga. Tak cukup kita titipkan kesekolah-sekolah, pondokan-pondokan atau tempat ngaji  ustadz papan atas yang banyak dikenal media. Dakwah adalah tugas kita semua yang tidak boleh berhenti seiring selesainya masa pendidikan kita. Perlu digiatkan kembali agar saat ini juga muslimah menyadari betul hakikat akan jilbab yang sebenarnya, dimana jilbab syari adalah busana yang menutup aurat, bukan membungkus aurat seketat-ketatnya.

Lantas siapa yang salah dengan JILboobs saat ini ?

Berbaik sangka dengan semua ini, bukan saatnya menyalahkan siapa yang salah dengan munculnya fenomena JILboops berpadu ragam pernak-pernik dan bahayanya. JILboops adalah pengingat bagi kita akan kebesaran syariatNya. JILboops merupakan tamparan bagi kita agar selalu mawas diri bahwa ajaran Islam tak lekang zaman dan pas di setiap masa. Dan JILboops merupakan anugerah tersendiri bagi mereka, anugerah bagi para istri yang selalu ingin melayani suaminya optimal, menyuguhkan pewajahan elok rupawan untuk membahagiakannya. Dan memanjakan suami mereka setelah seharian penuh beraktifitas mengais rejeki untuk keluarga, karena ini adalah tugasnya.
_______

JILboops bagi wanita [boleh] asal tahu tempatnya. Kenakanlah, dan manjakan suami Anda saat ini juga ! Segeralah berikan layanan terbaik nan istimewa untuknya, agar bidadari surga palingkan diri dari karena engkaulah ratunya. Dirumah-rumah Anda, di kamar-kamar Anda. Trust me, its work !

Malam ini sedikit bebenah Tittle di Twitter dan juga Blog agar sedikit punya brand pun orang tak begitu banyak yang memperhatikan apa fungsi juga kelebihannya. Terlepas dari hal tersebut, saya akan memberikan resepnya dimana sedikit kode ini bakal makin manfaat jika kita tau dan bisa mempraktekkannya saat ini juga.

Nah, apa saja kode yang kita butuhkan untuk membuat simbol seperti Copyright ©, TradeMark ® atau
Degree yang berarti Derajat °, perhatikan berikut ini :

Copyright ©
Copyright menandakan hak cipta dari suatu website. Seperti ©Infoiki – All rights reserved. Kodenya : ©

TM atau TradeMark ®
TM adalah simbol dari suatu merek dagang. Seperti Infoiki®. Berarti, produk dagangnya adalah Infoiki. Kodenya : ®

Registered Trademark ™
Registered Trademark atau bisa juga disebut dengan ™. TM, merupakan simbol untuk mengenali merek dagang yang sudah terdaftar. Kodenya : ™

Em-Dash —
Simbol yang satu ini mirip dengan tanda kurang/minus. Kodenya : —

Double Right Pointing »
Simbol ini menandakan sebuah sub dari suatu menu untuk rician yang arahnya ke kanan. Kodenya : »

Double Left Pointing «
Kebalikan dari simbol diatas. Kodenya : «

Degree / Derajat °
Berikut Kodenya : °

Simbol per ½ dan ¼
Kode untuk 1/2 yaiutu : ½
Kode untuk 1/4 yaitu : ¼

Inverted Exclamation mark (IEM) ¡
IEM, merupakan sebuah tanda seru yang terbalik dan kodenya adalah : ¡

Yups, sekian resep dari Mas Ivan™ yang di racik dari berbagai sumber tanpa menyebut satu persatu alamat atau inisial penulisnya. Tanpa mengurangi rasa hormat, semoga dapat bermanfaat untuk menambah keilmuan kita dan segeralah mencoba !

Warga di daerah lereng Gunung Merbabu, Gejayan, Banyusidi, Pakis, Kabupaten Magelang mempunyai tradisi unik untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri. Jika warga payaman memiliki tradisi Lebaran Ketupat dan Festival Balon maka warga dikawasan ini setiap tahunnya mengadakan tradisi Sungkem Tomplak. Tradisi Sungkem Tomplak digelar warga setempat pada hari kelima Lebaran setiap tahunnya untuk mengirim doa […]

Lebih lengkap artikel tentang "Sungkem Tomplak: Tradisi Unik Dari Lereng Merbabu Magelang" dapat dibaca di Magelang Online - Informasi lengkap kota Magelang dan sekitarnya.

Hari pertama kerja setelah cuti panjang lebaran di lingkungan Pemkab Magelang diawali dengan apel pagi dan halal bihalal. Acara diisi dengan salam-salaman dengan Bupati, Wakil Bupati, pejabat serta karyawan dan karyawati yang bertempat di halaman kantor Pemerintah Kabupaten Magelang, Senin (04/8/2014) Erie Sadewo selaku Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) menjelaskan, hasil rekap absensi kedatangan yang […]

Lebih lengkap artikel tentang "Hari Pertama Kerja 84 PNS Kabupaten Magelang Belum Masuk" dapat dibaca di Magelang Online - Informasi lengkap kota Magelang dan sekitarnya.

Arus mudik di Magelang tahun ini selalu memiliki cerita tersendiri setiap tahunnya. Seperti tahun ini setidak selama musim mudik 2014 di Magelang, 5 nyawa melayang dan 35 orang menderita luka ringan karena kecelakaan lalu lintas di jalan raya selama arus mudik-balik. Lima nyawa melayang diakibatkan oleh 17 kasus kecelakaan di wilayah hukum Polres Magelang. Dari […]

Lebih lengkap artikel tentang "Arus Mudik di Magelang Telan 5 Korban Jiwa" dapat dibaca di Magelang Online - Informasi lengkap kota Magelang dan sekitarnya.

MAGELANG – Setidak lebih dari 150 balon udara tradisional dengan berbagai ukuran dan warna diterbangkan sebagai acara dimulainya Syawalan (Lebaran Ketupat) di Dusun Kauman, Desa Payaman, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang senin (4/8/2014). Acara ini memang setiap tahun diadakan sepekan setelah hari raya idul Fitri. Acara pelepasan balon ini diadakan tepat didepan masjid Agung Kauman dan […]

Lebih lengkap artikel tentang "Festival Balon Warna-Warni Meriahkan Lebaran Ketupat di Magelang" dapat dibaca di Magelang Online - Informasi lengkap kota Magelang dan sekitarnya.

kupat

Kupat, menu spesial di hari yang fitir

Mudik merupakan agenda tahunan yang selalu kami tunggu. Perjuangan melawan macet terbayarkan setelah sampai ke rumah dan ‘sungkem’ dengan Emak tercinta. Rasa penat seakan sirna setelah makan masakan-masakan Emak.

Di keluargaku Emak memang terkenal jago masak. Masakannya sebenarnya biasa-biasa saja, tetapi banyak yang suka dengan masakan Emak. Ada beberapa masakan Emak yang sudah ‘langka’, karena jarang dimasak oleh orang lain dan Emak biasanya hanya memasaknya di hari-hari lebaran atau hari khusus lainnya.
Saya ingin melestarikan masakan Emak ini. Berikut ini beberapa masakan Emak yang sudah ‘langka’ itu.

SRUNDENG DAGING SAPI

srundeng daging sapi, kuliner lebaran

Srundeng Daging Sapi buatan Emak

Srundeng daging sapi adalah kuliner daging sapi yang dimasak dengan kelapa dan gula. Memasaknya sangat lama. Pertama, daging dimasak hingga empuk. Proses ini perlu waktu beberapa jam. Memasaknya dengan menggunakan tungku arang. Setelah itu baru dimasukkan parutan kelapa dan bumbu-bumbu lainnya. Di masak terus sampai matang dan sampai warna parutan kelapa jadi merah coklat. Masakan ini awet lama sampai beberapa hari meski pun tidak dipanaskan. Karena proses memasaknya yang lama dan melelahkan, SRUNDENG DAGING SAPI hanya dibuat di waktu-waktu special saja.

Srundeng daging sapi bisa dimakan dengan makanan apa saja. Kami biasa memakannya dengan kupat. Rasanya manis gurih. Pokokknya membuat air liur selalu menetes.

kuliner lebaran di kampung

Kuliner andalan di waktu lebaran buatan Emak

TERIK DAGING SAPI

Masakan ini sudah lama sekali tidak dimasak oleh Emak. Sampai saya lupa kapan terakhir Emak membuatnya. Bahan utamanya tetap daging sapi, tetapi dengan bumbu terik. Prosesnya hampir sama seperti membuat srundeng. Pertama daging sapi di masak hingga lunak. Kemudian diberi bumbu terik. Masaknya juga lama. Cita rasa Terik Daging Sapi sangat gurih. Apalagi kalau sudah dipanaskan berkali-kali. Nikmat sekali.

Terik Daging Sapi tidak seawet srundeng. Jadi mesti dipanaskan setiap hari. Namun, semakin lama dipanaskan akan semakin merasuk bumbunya.

Terik daging sapi enak dimakan dengan menggunakan kupat atau nasi.

KERING KACANG, TEMPE, DAN TERI

Masakan kering mungkin tidak terlalu langka. Banyak yang bisa membuatnya, bahkan beberapa dibungkus plastic dan dijual. Namun, kering buatan emak special. Rasanya beda dan awet lama. Kering buatan emak bisa tahan sampai satu bulan.

Proses membuatnya juga cukup lama, karena itu Emak jarang memasak kering. Pertama kacang, tempe, dan teri digoreng masing-masing sampai matang. Kemudian dicampur lagi dengan tambaahan bumbu bawang, gula jawa, cabe, dan lain-lain.

Dulu, ketika masih kuliah, Emak sering membuatkan kering untuk bekal ke kampus. Sayang, begitu sampai di kostan, kering langsung di serbu habis oleh teman-temanku.

SAMBEL KACANG

membuat sambel kacang

Membuat sambel kacang dengan lumpang batu

Sambel kacang mudah didapat di toko atau di warung-warung. Tapi tidak ada sambel kacang yang seenak buatan Emak. Sambel kacang buatan emak sangat terasa bumbunya. Dan satu lagi, sangat awet meskipun tidak menambahkan bahan pengawet apa pun. Sambel kacang buatan Emak bisa tahan sebulan lebih tanpa perlu disimpan di dalam kulkas.
Sambel kacang enak dimakan dengan apa saja. Bisa ditambahkan pecel, sayuran, lapapan, telur, dll. Pokoknya mantap deh.

SAMBEL GORENG KRECEK

Ini masakan yang umum ditemui ketika lebaran atau hajatan. Emak biasa memasak sambel goring krecek yang ditambah tahu. Rasanya mantap sekali.

SOP KOBIS dan WORTEL

Masakan sop biasa yang mengoyang lidah. Masakan ini yang selalu disajikan Emak untuk menyambut sanak family yang datang. Gampang membuatnya. Sanak saudaraku sangat menyukainya. Meskipun masakan sederhana tetapi rasanya menyegarkan. Apalagi ditambah dengan tempe goring dan sambel trasi. Dijamin mak nyosss……

Aku ingin minta Emak untuk mengajariku memasak masakan ini. Aku ingin membuatnya sendiri untuk anak-anakku. Agar mereka kelak juga merasakan bagaimana nikmatnya resep masakan keluarga. Agar mereka selalu kangen untuk pulang ke rumah.

***

Tradisi kuliner keluargaku agak berbeda dengan masyarakat umum. Emak tidak pernah atau sangat jarang memasak opor. Padahal menurut orang opor adalah menu wajib lebarang.


Rute mudik dengan Google MapsPlan routes going home and the back and forth that we’ve been through this in 2014. [/ caption]


Introduction

Indonesian people have a unique culture when Idhul Fitr, namely: ‘MUDIK’ it is mean ‘going home’ or back hometown. People who migrate and work in big cities, such as Jakarta, Bandung, Surabaya, and Semarang, will go back to their respective hometown. Initially, this was only done by the Javanese peoples, but then also carried by almost all workers in big cities throughout Indonesia. ‘Homecoming’ is a national celebration of the Indonesian people. All government officers; police, military, road workers, are busy preparing for this big event. Train tickets, plane, and bus are sold out. People are also uses a motor to do homecoming. Tens of thousands motorcycles are cornucopia to the road. It is also thousand of private cars.
Despite all been prepared, there is always a problem with the infrastructure for ‘homecoming’ or ‘mudik’. This year is worse than previous years. In Pantura (road at north site of java island), bridges of Comal sinkhole and could not pass by a big vehicle. This damage causes severe traffic jam in Pantura. Vehicle shifted into the middle traffic lane and the south traffic lane. Worse yet, in Tasik-Ciamis is also a bridge that collapsed. Severe traffic jam occurs in this traffic lane. Addional problem in the traffic lane of Banjar-Purwokerto that there was another landslide. A complete homecoming problems at this year.
The following notes is a note of my journey during homecoming to my hometown; Magelang and Pati at Central Java.


Friday, July 25th

Last day work. My quota of day leave is out, so I must stay logged in until Friday, the last day before leave together. Some of my friends have taken the day off today and the day before they were going home. They avoid traffic jam on the road, because, according to government estimates of peak congestion homecoming is this Friday. I have no choice, there is a traffic jam or not, I must going home, which is important to get home and ‘sungkem’ with Mother in the village.

Initially we were somewhat undecided to homecoming or not, since the beginning of fasting we have moved to Bogor. My savings money was already running out, we depleted reserve funds. Rizq (Money) that I had hoped would come did not came. But, ‘sungkem’ to the parents at the feast of Eid is a sacred tradition for us. Moreover a time to met with relatives only once a year, we want to not miss it. Whatever the challenges and obstacles we must be going home.

17:30
The last few days I always watched the news about’ going home’ on television, radio, and Twitter. The Pantura traffic lane are got badly traffic jam because damage of Comal bridge. Buses and large vehicles diverted to the middle lane and the south lane. I have made the plans for ‘going home’using Google Maps. The choice is through the middle or southern lane. Although the road is relatively narrow and winding, but may not as badly traffic jam as north traffic lane. But which route we will go through, we still waiting for news on the radio and the internet.

I waited Nendyo, my friend who has just start working in Parung Kuda, Bogor. Nendyo will go with us towards Purworejo. After sunset he came. Our plan is departed after our evening prayer. All suitcases are already entered into the car. Provisions already purchased. HP already fully charged. Power bank is full. We are ready to go.

20:15

Over 20 pm we went. Royan sat in front, he is my navigator. Ummi and Joseph sat in the middle. Abim and Nendyo sat behind.

We monitored Radio Elshinta. I turn on Waze and external GPS and a route that we have prepared. I already bought mobile phone holder for car to put my phone in order to more easily see the Waze .

Initially we wanted to go through Puncak Bogor, but we cancel and pick through Cikampek toll after hearing the report from Radio Elshinta that Cikampek Toll were the traffic still smoothly. I check on Waze, it is still OK.

Entry to Jagorawi Toll, the traffic began to crowded. Perhaps many travelers who also departed after Isha ‘, just like us. I watched on Waze shown Cikunir toll also began stuttering. But, the waze color line was still yellow. There was no other choice. The fastest way was through the Cikunir toll.

It was true. Entry to toll Cikunir, cars seen snaking. The car speed was only 30km / h. Waze reported a minor accidents on the front. It was why the traffic began jammed.

21:30

We enter into the expressway Cikampek. The road is began to crowded. Solid edging. We continue to monitor the radio Elshinta and Twitter. Intersection Jomin was reported total standstill. Another alternative pathway is through Kalimalang filigree and proceeds to enter Pantura. But the coast began badly jammed. The only choice was via the middle lane or south lane. Strip was reportedly smooth and just stalled at the toll booth Cileunyi. Nagrek was reported still smoothly.

22:30

Out of Cikampek toll and toll Cileunyi entry. The traffic began to crowded but it was smoothly for me. We were slightly delayed in Sadang, but after that glorious smoothly. I drove at speeds above 80 km / h until Bandung.

23:45

We came to near Bandung and towards the end of the toll. The road began to hiccup, tend to jam. Oh..my God…no….!!!!

24:15

We were trapped in the severe expressway exit. Cars crept slowly. All full paths.

Saturday, July 26 th

1:30

The toll gate was in the front. Near. Oh…GOD ….. !!!!

1:45

Pay the toll. Apart from the toll booth is not decrease congestion. Severe.

3:30

Turning the new road and entered the path towards Tasikmalaya. Since it was near the dawn of time, we agreed to look for a place to eat a meal. We ate the meal in a restaurant Padang.

Finished eating I check radio and Waze. Nagrek start jammed. It is true, the congestion in front.

Waze gives alternative the road more smoothly. We follow and it is smooth and gets stuck again after Tasikmalaya near the intersection of Garut.

Tasik badly jammed and the flow diverted to the Main Page. We follow the course. There is no better alternative. Worse!!! My cell phone battery running low.

5:00

We stopped at the small mosque dawn prayer roadside. The traffic getting worse. The weather started to not friendly. Drizzle.

7:00

Come to Singaprana district. Congestion is getting worse. Legs started cramping. Jammed were really badly in the market of singaprana. My phone died, could not find an alternative path via Waze. Perceiving. Sleepy start attacking.

Near the intersection of the market we follow the path. It turned out very badly jammed roads. I follow the bus three quarters. In the market we have to turn around.

I was getting angry and tired. Concentration also began to fade. Conditions worsened by rain. In my red light turn right. Pelan2 road,, just the speed of 20km / h. Suddenly a motorcycle cutting my way. I stepped on the brakes suddenly, but too late. My car had kissed the motorbike. The bike swerved, but it is not worse. In fact, he runs off to the left.

Without my knowing it turns out there is another motorcycle that kiss the back of my car. Oh God…not again. Want to angry but I was fasting.
Further trips to Ciamis. Solid edging. We had to stop several times for small shitting.

Accomplished and tired. But I wanted to get home. The journey must be continued.

11:45

We stopped prayer in the great mosque of Ciamis. The Grand mosque of Ciamis. Here I rested for a while.

13:00

Proceed to Banjar. The road is pretty smooth. Out of town Bajar start stalled again. Whether there is anything in front. One hour we were stuck in the jam and just walk three feet by three feet.

A few moments later we see a lot of car with B letter which runs opposite direction. It turns out there was a way that landslides. It was the cause of this congestion.
I had come to turn around and take an alternative path via Cilacap. The road was narrow and potholed. Convoy of cars drove by slowly.

17:30

We just got excl. Sidareja Cilacap. We break the fast in the car and look for the mosque for afternoon prayer. After that we look for a place to eat.

We plan on going through the old Deandles road. Because the main route of south line already reported jammed. The Deandles road was an alternative way street southbound lanes. The road is straight and fairly smooth, though a bit cramped.

21:15

We arrived at the intersection to Gombong and Ayah coast. We got confused going via Gombong or Ayah beach. I’ve never been a father via the coastal route. The possibility of the southbound lanes jammed, so we chose the beach via the father.

Not only our own who choose this path. There are at least five other cars in the convoy this narrow path.

The Deandles road onwas not flat, but the sharp winding and uphill. The road was through the deep forest. Quite challenging, especially at night, drizzle, and consciousness began to diminish.

22:45

Thank God, the path of death had passed and returned to the straight path average. Nendyo was down in Kutoarjo. We continue to Purworedjo-Magelang.

Actually I’ve been getting tired and sleepy. However, a distance of 60 km to stay home late again. Bear. I kept going while holding accomplish and sleepy.

Sunday, July 27 th

1:30

Alhandulillah, finally get home as well. I park my car and stretch out. Barang2 cleared by anak2.
I immediately eating a meal for fasting.

After the morning prayers I continue to sleep. I have asked Gatot, a person who give massage; to relax the muscles of the body.
Bismika Allahumma wa Ahya amut.

It was almost 30 hours driving in this journey. It was new driving record. A longest I’ve ever experienced. But, The tiredness was paid by meeting with my mother. As the heat thirsty in the desert and drink iced tea. Fresh.


Taqobalallohu minna waminkum, siyama wasiyamakum.  Selamat Idul Fitri 1435 H. Mohon maaf lahir dan batin. Mohon doanya semoga SDN Salaman 1 ke depan semakin meningkat dalam melayani masyarakat khususnya dalam dunia pendidikan. Semoga saudara-saudaraku dimanapun berada selalu mendapat petunjuk dan bimbingan dari Allah dalam mengarungi kehidupan sehingga hidup kita menjadi hidup yang bermanfaat baik untuk diri sendiri maupun orang lain.


Hari pertama masuk setelah libur lebaran yang bertepatan tanggal 4 Agustus 2014 dimanfaatkan warga SDN Salaman 1 untuk berhalal bil halal, saling memaafkan, saling bersalaman di halaman SDN Salaman 1.  Acara yang dihadiri pengurus komite sekolah tersebut berlangsung begitu hikmat walaupun dilaksanakan secara sederhana.

 Dewan guru bersama komite sekolah

 Komite sekolah (Bapak Moel Yoewono dan Bapak Kukuh)

 Kepala Sekolah dalam sambutannya


 Siswa-siswi SDN Salaman 1

 Para siswa Hikmat mengikuti acara

 Ketua Komite Sekolah dalam sambutannya


 Kultum oleh Ibu Endang (Guru Agama Islam)


 Sambutan dari siswa







Proses Halal bil halal
Salah satu sekolah tua yang masih tegak berdiri yaitu SDN Salaman 01 yang berada di Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang. Tidak menutup kemungkinan sekolah tersebut merupakan sekolah tertua di Kabupaten Magelang
Rute mudik dengan Google Maps

Rencana rute mudik dan rute mudik yang kami lalui di tahun 2014 ini.

Jum’at, Tgl 25 Juli

Hari terakhir masuk kerja. Cutiku habis, jadi aku tetap masuk sampai hari jumat, hari terakhir sebelum cuti bersama. Teman-temanku sudah banyak yang ambil cuti hari ini dan mudik sehari sebelumnya. Mereka menghindari macet di jalan, perkiraan pemerintah puncak kemacetan mudik adalah hari jumat ini.Aku tidak punya pilihan, macet tidak macet yang penting bisa sampai rumah dan ‘sungkem’ dengan Emak di kampung.

Awalnya kami agak ragu2 untuk mudik, karena baru awal puasa lalu kami ‘boyongan’ ke Bogor. Uang tabunganku sudah kesedot, cadangan dana kami menipis. Rizqi yang kuharapkan akan datang ternyata tidak kunjung ada. Tapi, sungkem ke orang tua di hari raya lebaran adalah tradisi sakral bagi kami. Apalagi momen2 bertemu dengan sanak famili yang hanya setahun sekali, tidak mungkin kami lewatkan. Apa pun tantangan dan kendalanya kami harus mudik.

17.30

Beberapa hari ini saya selalu pantau berita mudik di televisi, radio, dan Twitter. Jalur pantura macet parah karena amblesnya jembatan kali Comal. Bis dan kendaraan besar dialihkan ke jalur tengah dan selatan.  Saya pun membuat rute rencana mudik. Pilihannya adalah via jalur tengah. Meski jalannya relatif sempit, berkelok-kelok, tapi kemungkinan tidak semacet jalur pantura dan selatan. Tapi, rute mana yang akan kami lalui tetap menunggu berita di radio/internet.

Saya menunggu Nendyo, temanku yg baru saja jadi peneliti dan kerja di Parung Kuda. Selepas magrib dia datang.  Rencananya selepas isya kami baru berangkat. Semua koper sudah masuk ke mobil. Bekal sudah dibeli. HP sudah dicharge penuh. Power bank sudah penuh. Siap berangkat.

20:15

Pukul 20 lebih kami berangkat. Royan duduk di depan jadi navigatorku. Ummi dan Yusuf di tengah. Abim dan Nendyo di belakang.

Radio Elshinta kami pantau. GPS saya hidupkan dan Waze kami siapkan. Saya sudah membeli holder HP untuk menaruh HP saya agar lebih mudah melihat Waze.

Awalnya kami mau lewat puncak, namun kami batalkan dan memilih via tol cikampek setelah mendengar Elshinta memantau Cikampek ramai lancar. Saya cek di Waze juga masih lancar2 saja.

Masuk tol Jagorawi radio menyampaikan kalau tol cikampek mulai tersendat. Mungkin banyak berangkat juga selepas isya’, sama seperti kami. Saya pantau di Waze tol cikunir juga mulai tersendat. warnanya masih kuning. Tidak ada pilihan lain. Jalan tercepat ya lewat tol cikunir.

Benar. Masuk tol cikunir mobil2 terlihat mengular. Kecepatan cuma 30km/jam. Waze melaporkan ada kecelakaan ringan di depan. Ampun deh….pantesan tambah macet.

21:30

Kami masuk ke tol cikampek. Jalan masih pelan2. Padat merayap. Kami pantau terus radio Elshinta dan Twitter. Simpang Jomin macet total. Jalur alternatif via Kalimalang terus Kerawang dan masuk jalur Pantura. Tapi pantura mulai macet juga. Pilihannya via jalur tengah atau selatan via Bandung. Jalur itu dilaporkan lancar dan hanya tersendat di pintu tol cileunyi. Nagrek masih ramaj lancar.

22:30

Keluar dari tol cikampek dan masuk tol cileunyi. Lalu lintas ramai lancar. Sedikit terhambat di Sadang, tetapi setelah itu lancar jaya. Saya meluncur dengan kecepatan di atas 80 km/jam.

23:45

Sudah dekat Bandung dan menuju ujung Tol. Jalan mulai tersendat, cenderung macet.

24:15

Macet parah di pintu keluar tol. Mobil merayap lambat. semua jalur penuh.

Sabtu, tgl 26 Juli

01:30

Gerbang tol baru terlihat. Ampun…..

01:45

Bayar tol. Lepas dari pintu tol kemacetan tidak berkurang. Parah.

03:30

Jalan mutar dan baru masuk jalur ke arah Tasik. Karena sudah dekat waktu sahur, kami sepakat untuk mencari tempat makan sahur. Kami makan sahur di rumah makan Padang.

Selesai makan saya cek Waze dan radio.Nagrek mulai macet. Memang benar, kemacetan di depan.

Waze memberi allternatif rute jalan yang lebih lancar. Kami ikuti dan ternyata memang lancar dan kena macet lagi setelah dekat persimpangan Tasik Garut.

Tasik macet parah dan arus dialihkan ke Garut. Kami ikuti saja. Tidak ada alternatif yang lebih baik. Parahnya batterai HPku mulai menipis.

05:00

Kami berhenti sholat subuh di mushola kecil pinggir jalan. Jalan macet, madat merayap. Cuaca mulai tidak bersahabat. Gerimis.

07:00

Masuk Singaprana. Kemacetan semakin parah. Kaki mulai kram. Macet benar parah di pasar singaprana. HPku mati, tidak bisa cari jalur alternatif via Waze. Pasrah. Ngantuk mulai menyerang.

Di dekat persimpangan pasar kami ikuti petunjuk jalan. Ternyata jalan macet sangat parah.  Saya ikuti bis 3/4. Di pasar kami harus balik. Ampuh deh.

Kesel, mangkel, capek, jadi satu. Konsentrasiku juga mulai memudar. Kondisi diperparah dengan hujan. Di lampu merah saya belok kanan. Jalan pelan2,,kecepatan cuma 20km/jam. Tiba2 ada motor pos yang memotong jalan saya. Saya injak rem mendadak, tapi terlambat. Mobilku sempat mencium patat motor itu. Motornya oleng, tapi tidak apa2. Malah dia kabur ke kiri.

Tanpa saya sadari ternyata ada motor lain yang mencium mobil saya dari belakang. Ampun….komplit deh. Mau marah lagi puasa.
Perjalanan lanjut ke Ciamis. Padat merayap. Kami sempat berhenti beberapa kali untuk buang hajat kecil.

Capai dan lelah. Tapi saya ingin cepat sampai rumah. Perjalanan lanjut.

11:45

Kami berhenti sholat di masjid besar Ciamis. Masjid yang bagus. Di sini saya beristirahat sebentar sekedar untuk merenggakan urat kaki yang mulai kram.

13:00

Melanjutkan perjalanan ke Banjar. Jalan lumayan lancar. Keluar kota Bajar mulai macet lagi. Entah ada apa di depan. Satu jam lebih kami terjebak di kemacetan dan hanya berjalan semeter demi semeter.

Beberapa saat kemudian kami lihat banyak mobil plat B yang berjalan berlawan arah. Ternyata ada jalan yang longsor. Itu penyebab kemacetan ini.
Saya pun ikut berbalik dan ambil jalur alternatif via cilacap. Jalannya sempit dan berlubang-lubang. Konvoi mobil melaju dengan pelan.

17:30

Kami baru sampai kec. Sidareja Cilacap. Kami membatalkan puasa di mobil dan mencari masjid untuk sholat magrib. selepas magrib baru mencari tempat makan.

Kami berencana mau lewat jalan Deandles lama. Karena jalur utama selatan sudah dilaporkan macet. Jalan Deandles adalah jalan alternatif jalur selatan. Jalan ini lurus dan cukup halus, meskipun agak sempit.

21:15

Kami sampai di persimpangan Gombong dan pantai Ayah. Kami sempat binggung mau via Gombong atau Pantai Ayah. Saya belum pernah via jalur pantai ayah. Kemungkinan jalur selatan macet, jadi kami memilih via pantai ayah.

Tidak hanya kami sendiri yang memilih jalur ini. Paling tidak ada lima mobil lain yang konvoi di jalur sempit ini.

Jalan Deandles di tempat ini tidak rata, tapi berkelok-kelok tajam dan menanjak. Jalannya lewat hutan. Cukup menantang, apalagi malam, gerimis, dan kesadaran mulai berkurang.

22:45

Alhamdulillah, jalur maut sudah  terlewati dan kembali ke jalan yang lurus rata. Nendyo turun di Kutoarjo. Kami terus melanjutkan ke Purworejo-Magelang.

Sebenarnya saya sudah mulai capek dan mengantuk. Namun, jarak sampai rumah tinggal 60km-an lagi. Nanggung. Saya terus melaju sambil menahan capai dan ngantuk.

Minggu, tgl 27 Juli

01:30

Alhandulillah, Akhirnya sampai rumah juga. Mobil saya parkir dan saya meluruskan badan. Barang2 dibereskan oleh anak2.
Saya segera makan sahur. Puasa masih sehari lagi.

Selepas sholat subuh saya melanjutkan tidur.  Saya sudah minta tukang pijet langganan; Gatot, untuk melemaskan otot-otot badan.
Bismika Allahumma ahya wa amut.

Total kira 30 jam saya diperjalanan mudik. Rekor nyopir paling lama yang pernah saya alami. Rasa capek terbarkan begitu menyalami Emak. Seperti haus kepanasan di padang pasir dan minum es teh. Segarnya.

***
Ternyata nasipku tidak separah nasip beberapa teman-temanku. Kakak iparku menempuh perjalanan sampai dua hari dan sempat menginap di Pekalongan. Teman yang lain ada yang sampai 42 jam, 39 jam.


Gunung Andong, sebuah gunung kecil diantara gunung-gunug besar disekitar kawasan Kabupaten Magelang. Gunung ini terlihat mungil mengingat disekitarnya berjajar gunung-gunung besar seperti Merapi dan Merbabu. Namun ketinggiannya yang hanya 1780mdpl tidak mengurangi daya tariknya bagi para pendaki gunung. Tantangan seperti dataran vertikal setinggi 400mdpl membuat gunung ini memiliki tantangan tersendiri. Banyak pendaki menyebut gunung ini […]

Lebih lengkap artikel tentang "Wisata Pendakian Punuk Unta, Gunung Andong" dapat dibaca di Magelang Online - Informasi lengkap kota Magelang dan sekitarnya.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 2014!! Dengan artikel ini juga Team Magelang Online mengucapkan Minal Aidzin Walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin. Mumpung masih musim lebaran pasti tidak akan jauh dengan acara silaturahmi, berkunjung ke rumah kerabat atau saudara, menikmati panganan lebaran khas dari daerah masing-masing. Kali ini yang Magelang Online bahas adalah beberapa kue […]

Lebih lengkap artikel tentang "5 Jajanan Lebaran Khas Magelang Yang “Ngangeni”" dapat dibaca di Magelang Online - Informasi lengkap kota Magelang dan sekitarnya.

Bisnis OnlineBISNIS ini tergolong baru lantaran kemunculannya tergolong anyar sejak sosial media mewabah dan menjangkiti penduduk dunia disetiap belahan bumi. Sebut saja bisnis online atau kerap disapa online shop. Tak hanya sebagai usaha sampingan, jika digeluti serius ternyata usaha ini mampu menjadi bisnis utama keluarga yang menjanjikan, dengan omset ratusan, jutaan, bahkan ratusan juta rupiah dalam waktu sehari semalam.

Membutuhkan skill (keterampilan) tertentu memang. Dan inilah inti dari bisnis online dimana skill umum sesuai jenis usahanya, sedangkan skill khusus menyesuaikan apakah ingin dijadikan sebagai usaha utama, usaha sampingan atau sekedar sebagai usaha rumahan.

Hanya saja, keterbatasan waktu, tenaga dan dana hendaknya tidak menyurutkan langkah kita dalam meningkatkan taraf kehidupan yang lebih baik, karena kemajuan teknologi dapat membantu meminimalkan keterbatasan tersebut.

Dan inilah yang harus digarap betul, sebab 3 Pilar Kesejahteran Keluarga dari Bisnis Online senafas dengan apa yang saya utarakan diatas seperti :

Pertama, bisnis online untuk usaha utama, alias menjadi tumpuan keluarga. Karena itu, bisnis online kita harus meningkat daya saingnya sejalan dengan pertumbuhan bisnis online pesaing kita.

Kedua, bisnis online untuk usaha sampingan ; maksudnya untuk menambah penghasilan di luar pekerjaan utama, misal sebagai karyawan.

Dan ketiga, bisnis online untuk usaha rumahan ; sepenuhya untuk melayani pelanggan. Mungkin ada beberapa yang bingung, kenapa ada istilah usaha rumahan ? Karena memang “rumah” bisa menjadi ikon bisnis, ciri dan daya tarik, karena dalam bisnis online, tidak selamanya pelanggan adalah manusia, namun sistem online yang mengelola secara otomatis.

Sumber Referensi : Pengusaha Muslim.com

_______

ZionisBIASANYA melakukan kebohongan publik secara masif, kali ini angkatan darat Israel pada Rabu (30/07/2014) mengatakan tiga tentaranya tewas dalam pertempuran di Jalur Gaza.

“Tiga tentara meninggal hari ini di Jalur Gaza,” kata seorang juru bicara kepada AFP, Kamis (31/7) dilangsir Islam Pos.

Insiden itu terjadi ketika pasukan Tentara Zionis Israel sedang berupaya menutup terowongan buatan Hamas yang menghubungkan antara Gaza dan Israel. Dalam upaya tersebut pasukan Hamas melakukan perlawanan yang menyebabkan 3 tentara Zionis Israel tewas.

Tak hanya itu, serangan Hamas juga menyebabkan 15 tentara Zionis cedera. Mereka yang cedera lantaran tertimpa bahan material terowongan. Di bawah Brigade Izzudin Al Qassam-lah serangan itu dilakukan, ucap pejabat militer Israel.

Hamas melakukan serangan dengan memasang bahan peledak di dalam terowongan. Saat peledak berhasil di ledakkan, material terowongan-pun runtuh hingga menimbulkan korban jiwa bagi pasukan Israel.

“Mereka terjebak dalam terowongan yang sudah dipasang bahan peledak oleh Hamas,” ucapnya.

_______

Tak kalah kejam dengan Zionis Israel di Gaza Palestina, MILISI Syiah Irak Rabu (31/7/2014) mengeksekusi mati 15 orang Sunni di negara itu, kemudian menggantung mereka di tiang listrik di alun-alun di Baquba, kota timur laut Baghdad. Na’udzubillah hi mindzalik.

MilisiDilangsir Islam Pos, “Para korban yang diculik selama seminggu terakhir, ditembak di bagian kepala dan dada mereka dan kemudian mengikatnya dengan kabel telepon.”

Seorang petugas polisi di tempat kejadian mengatakan dia yakin tindakan itu dirancang untuk mencegah orang-orang Sunni dari mendukung Islamic State atau dulunya ISIS.

“Pasukan milisi melarang kru medis untuk menurunkan mayat mereka dari tiang listrik,” katanya kepada Reuters. Penggantungan dalam jangka waktu yang lama ini untuk mencegah populasi Sunni mendukung Islamic State.

_______

Bagi Anda yang hendak mudik atau sedang persiapan untuk kembali ketempat kerja setelah berpulang kekampung halaman, saran dari Konsultan Neurologis, dr. Manfaluthy untuk berkendara empat jam kemudian beristirahat sebaiknya diperhatikan benar. Untuk pengendara mobil atau sepeda motor diharapkan berhati-hati dengan risiko neuropati atau gangguan kerusakan syaraf.

Mudik

© Image : Motulz.com

Tahukah Anda jika lalu lintas saat ini yang terbilang padat denga pekatnya asap yang menyesakkan dada membuat beberapa bagian tubuh seperti telapak kaki, lengan dan jari-jari tangan merasakan ngilu, nyeri dan kesemutan ?

Karena itulah dr. Manfaluthy menyarankan agar “Pemudik sebaiknya maksimal sekali empat jam beristirahat dulu di pos-pos yang sudah disiapkan agar tidak berisiko neuropati,” dilangsir Dream.co.id.

Penyakit Neuropati atau gangguan kerusakan syaraf dapat menyerang saraf motorik, sensorik dan otonom.

“Aktifitas tangan dan kaki saat melakukan perjalanan mudik jika dipaksakan terus menerus akan rentan terkena penyakit ini, perbanyak konsumsi sayur dan buah,” ujarnya.

Tambahan vitamin Neutropik juga dianjurkan menurut Dr. Manfaluthy. Vitamin neutropik terdiri dari vitamin B1, B6, dan vitamin B12.

Selain sayur, buah dan vitamin, asupan cairan juga diperlukan agar tubuh tidak mengalami dehidrasi berat.

“Mudik saat puasa tidak apa, asal asupan cairan konsumsi vitamin, sayur, buah tercukupi dan istirahat juga perlu diperhatikan. Jika sakit ditunda dulu untuk mudik,” kata Luthy.

_______

 

Semakin gencarnya Zionis Israel membombardir Kota Gaza, Palestina hingga hari ini (Kamis, 31 Juli 2014), semakin gencar pula perlawanan kaum muslimin diseluruh penjuru dunia tak terkecuali Indonesia, hingga bermunculan aksi boikot-memboikot ragam produk besutan Israel pun melalui panjang tangannya sebagaimana Unilever, Mac Donald, CarreFour, Cocacola, dsb.

Lantas, bagaimana sebenarnya hukum boikot tanpa ada perintah atau anjuran dari pemerintah, sedangkan kita saat ini berada di negeri yang punya pemimpin yang sah ? Apakah dibolehkan?

Boikot IsraelSyaikh Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan anggota Al Lajnah Ad Daimah dan ulama besar di Kerajaan Saudi Arabia ditanya :

“Jika kami mengetahui bahwa pemerintah tidak melakukan pemboikotan terhadap produk-produk dari Denmark. Namun pemerintah tidak melarang kami melakukan pemboikotan secara individu. Apakah boleh bagi kami untuk memboikot produk mereka karena dengan melakukan pemboikotan seperti ini akan berdampak bahaya bagi mereka dan sekaligus akan menolong Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sudah dihina oleh mereka ?”

Syaikh Sholeh Al Fauzan menjawab, “Masalah ini butuh perincian.

Jika pemerintah yang langsung memerintah untuk melakukan pemboikotan dari produk suatu negara, maka wajib bagi semua rakyat untuk melakukan pemboikotan. Karena hal itu akan membawa maslahat bagi mereka dan membawa dampak pada musuh. Itu pun wujud taat pada waliyul amri (pemerintah).

Adapun jika pemerintah tidak memerintah untuk melakukan pemboikotan, maka setiap orang punya pilihan. Kalau ia mau memboikot sendiri, itu pilihannya. Kalau tidak pun, itu pilihannya. Dalam hal ini -intinya- ada pilihan. (*)

Inilah fatwa beliau dalam Muhadhoroh Ushul Talaqqil ‘Ilmi wa Dhowabithuhu yang disampaikan oleh Syaikh Sholeh Al Fauzan pada hari Kamis, 11 Muharram 1427 H. (Fatwa Syaikh Sholeh Al Fauzan)

Di sini kita tahu bahwasanya yang lebih manfaat adalah jika pemerintah yang bersuara menyerukan pemboikotan. Kalau dilakukan secara individu, pengaruhnya tidak begitu besar. Namun bagi yang mau boikot, lakukanlah semampunya tanpa mesti memaksa yang lain melakukannya, apalagi menyerukan pada orang awam yang tidak mengerti. Lebih-lebih beberapa produk dihalalkan oleh pemerintah. Pemerintah pun membebaskan pemasarannya di negeri kita.

Semoga bermanfaat.

_______

Sumber Referensi : Ust. Muhammad Abduh Tuasikal / Rumaysho.com

 

Puasa Syawal Mulai Kapan ?

-

NGAOScom

on 2014-7-31 3:57am GMT

PuasaRamadhan telah berlalu dimana keistimewaannya masih senantiasa kita rasakan hingga saat lebaran tiba sebagaimana bulan syawal saat ini. Pun demikian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Menurut ulama Syafi’iyah, puasa enam hari di bulan Syawal disunnahkan berdasarkan hadits di atas. Disunnahkan melakukannya secara berturut-turut di awal Ramadhan. Jika tidak berturut-turut atau tidak dilakukan di awal Ramadhan, maka itu boleh. Seperti itu sudah dinamakan melakukan puasa Syawal sesuai yang dianjurkan dalam hadits. Sunnah ini tidak diperselisihkan di antara ulama Syafi’iyah, begitu pula hal ini menjadi pendapat Imam Ahmad dan Daud.” (Al Majmu’, 6: 276)

Dari penjelasan di atas menunjukkan bahwa puasa Syawal boleh dilakukan sejak awal Syawal. Boleh juga diakhirkan. Akan tetapi apabila kita masih ragu “mulai kapankah puasa syawal itu ?”

Imam Nawawi rahimahullah berkata, ”Para ulama madzhab Syafi’i mengatakan bahwa paling afdhol (utama) melakukan puasa syawal secara berturut-turut sehari setelah shalat ’Idul Fithri. Namun jika tidak berurutan atau diakhirkan hingga akhir Syawal maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa syawal setelah sebelumnya melakukan puasa Ramadhan. Karena seperti itu pun disebut menjalankan puasa enam hari Syawal setelah Ramadhan.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 51)

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan, “Kebanyakan ulama tidak memakruhkan puasa pada tanggal 2 Syawal yaitu sehari setelah Idul Fitri.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 385).

Syaikh Muhammad bin Rosyid Al Ghofiliy berkata, “Yang lebih utama adalah memulai puasa Syawal sehari setelah Idul Fithri. Ini demi kesempurnaan dan menggapai keutamaan. Hal ini supaya mendapatkan keutamaan puasa segera mungkin sebagaimana disebutkan dalam dalil sebelumnya. Namun, sah-sah saja puasa Syawal tidak dilakukan di awal-awal bulan Syawal karena menimbang mashalat yang lebih besar. Allah Ta’ala pun berfirman,

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al Baqarah: 286).” (Ahkam Maa Ba’da Ash Shiyam, hal. 167).

Semoga Allah memudahkan kita menjalankan ibadah puasa enam hari di bulan Syawal sehingga bisa meraih keutamaan puasa setahun.

_______

Referensi : Ust. Muhammad Abduh Tuasikal / Rumaysho.com

 

Baru-baru ini HTC disebut-sebut sedang siapkan HTC One versi Windows Phone dimana banyak dinanti-nati para penikmatnya yang gila akan pernak-pernik seputar teknologi. Sebuah nama untuk handsetnya disiapkan dengan memilah-milah mana nama yang pas dan pantas. Sebuah perkiraan sekitar bulan November inovasi baru HTC akan dilempar kepasaran dan siap untuk dinikmati.

HTC OneTak perlu menahului apa kiranya nama yang bakalan disematkan untuk produk terbarunya. namun apa boleh buat, sejumlah situs dan blog teknologi mulai banyak yang memprediksi nama jagoan HTC yang berbasis Windows Phone 8 ini layaknya ahli nujum yang dahulu laris dipakai para pejabat kerajaan dimasanya.

Sebuah perkiraan nama diusung menyebut HTC One W8 kiranya akan dipilih oleh HTC. Dimana embel-embel W8 merupakan penanda bahwa handset tersebut berbasis Windows Phone 8 sejurus dengan kemampuannya.

Dilangsir detikINET bersumber Ubergizmo, Selasa (29/7/2014), nama ini pun dinilai sederhana dan langsung mengacu pada handset yang dimaksud. Namun sumber lain ada yang berpendapat, nama ini tidak mudah untuk diucapkan.

HTC sendiri tentu saja belum memberikan komentar apapun soal penamaan handset ini. Perusahaan asal Taiwan ini juga belum mengkonfirmasi kebenaran bocoran spesifikasi yang sudah beredar sejak lama.

HTC One versi Windows Phone disebut-sebut akan dibekali Snapdragon 600 quad core, dan layar 4,7 inch berteknologi Super LCD 3 dengan resolusi full HD (1920×1080 pixel).

Secara keseluruhan, spesifikasinya hampir serupa dengan versi Android. Mulai dari dua kamera dengan teknologi depth-sensing hingga speaker BoomSound. HTC One untuk Windows juga diperkirakan akan mendukung voice over LTE.

ooOOoo

Ada pengaruh yang signifikan terhadap kenaikan penunggang kereta api setelah sosial media mewabah, yang berpuncak tesedianya layanan Update dari PT.KAI seputar info reservasi tiket, layanan penumpang dan ragam info terkini lainnya.

Selfie #MudikNaikKeretaKini kala Lebaran tiba kereta api-pun jadi salah satu pilihan strategis pemudik terutama mereka yang berasal dari Pulau Jawa. Entah mulai kapan orang mulai mudik menggunakan kereta api ? Selain dipilih lantaran cepat dan murahnya yang berbonus minimnya polusi, kereta api kini juga sediakan layanan online untuk pesan tiket dan pantau hilir mudik angkutannya.

Awesometrics melakukan pemantauan terhadap kata kunci “Kereta Api”, serta “KAI” yang juga memuat “mudik”. Hasilnya, sebaran mention cukup merata, baik di media sosial (1.820 percakapan), maupun di media massa (1.839 pembicaraan). Puncak percakapan, di media massa terjadi pada Senin (21/7), dimana ada 494 mention. Adapun di media sosial, puncak percakapan baru terjadi pada Kamis (24/7), dengan torehan 538 mention.

Dari sana terpantau, berita-berita di media massa cenderung berisi informasi jumlah pemudik, keramaian penumpang, hingga layanan yang diberikan PT.KAI. Adapun di media sosial, percakapan memuat pernyataan terkait informasi kereta selama musim mudik, dan komentar para penumpang saat menggunakan kereta api.

Dilangsir beritagar, kicauan yang menyita perhatian masih berkisar pada sejumlah akun media massa yang berbagi tautan berita (gambar 2). Kicauan menarik lain datang dari akun @KAI121 (dipercaya milik PT. KAI) yang mengajak pelanggannya berbagi pengalaman dan cerita selama perjalanan mudik lewat tagar #MudikNaikKereta. Tagar itu meraih sekitar 651 kicauan, beberapa di antaranya memuat foto-foto selfie para pengguna kereta api.

_______

Pukis KentangBentuknya yang khas membuat orang mengenalnya lantaran panganan ini akrab kita jumpai di pasar-pasar, mini market, hingga warung-warung rumahan. Sebut saja pukis, kue setengah lingkaran yang cenderung oval ini punya tekstur empuk kombinasi dua warna (coklat dan kuning), dimana secara umum dibuat dengan bahan dasar tepung terigu bergarnis meises boleh juga keju.

Di langsungenak resep pukis dirombak ulang oleh Sugi Hartati yang bereksperimen dengan bahan dasar kentang. Bagaimana rasa dan pewajahannya, berikut tips yang disuguhkannya tanpa ada icip-icip untuk pembaca seperti Anda ataupun saya. Tak apalah, silahkan dicoba :)

Bahan utama :

  • 2 telur
  • 8 sendok makan gula pasir
  • 1½ kentang kukus
  • 250 gr tepung terigu
  • 400 ml santan kental
  • 1 sendok teh fernipan
  • 75 gr mentega
  • ½ sendok teh garam

Pelengkap :

  • Coklat meises

Cara membuat :

  1. Kocok telur dengan gula pasir hingga tercampur rata, sisihkan.
  2. Kukus kentang, haluskan, campur dengan telur kocok.
  3. Masukkan tepung terigu sedikit demi sedikit, bergantian dengan santan kental.
  4. Masukkan fernipan, aduk rata. Kemudian campur dengan mentega cair dan garam, aduk rata.
  5. Diamkan selama 30 menit.
  6. Panaskan cetakan, olesi dengan minyak, kemudian tuang adonan sebanyak ¾ cetakan, tutup.
  7. Setelah setengah matang, taburi coklat meises di atasnya, lalu tutup kembali.
    Setelah matang, angkat. Sajikan selagi hangat.

ooOOoo

Wanita ini kini bernama Alyssa. Sejak Mei, ia telah mengganti namanya dimana sebelumnya Therly Mainit dan kini telah mengikuti kelas bahasa Arab, Alquran dan studi Islam di Lembaga Pusat Muslim di Abu Dhabi.

Mualaf wanitaAlyssa merupakan mualaf asal Filipina yang sudah menjadi muslim sejak Agustus tahun lalu. Ini merupakan Ramadhan pertamanya, dan ia ingin menghabiskannya di Abu Dhabi.

Alyssa seorang sekretaris dari Cotabato City, juga ingin memperdalam ilmu agamnya. Dia ingin belajar bagaimana salat yang benar, membaca Alquran dan tahu lebih banyak tentang Islam.

“Saya ingat bertemu dengannya awal tahun ini,” kata guru Mainit, Nasser Raciles, di Pusat Muslim Abu Dhabi dikutip Dream.co.id dari laman The National, Senin 21 Juli 2014.

“Alyssa hanya belajar tentang Islam di sini tapi aku bisa melihat bahwa dia berdedikasi dan bersemangat untuk belajar lebih banyak.”

Ada sekitar 3.000 mualaf dari 48 kewarganegaraan yang belajar di lembaga tersebut. Dari mereka, 80 persen berasal dari Filipina. Alyssa mengatakan dia merasa lebih tercerahkan setelah berbulan-bulan menghadiri kuliah Islam di lembaga tersebut. Selain belajar agama, Alyssa ingin menghabiskan Ramadan pertamanya di Abu Dhabi. “Suami saya, seorang Muslim, tidak memaksa saya untuk memeluk Islam,” imbuhnya.

“Selama bertahun-tahun saya telah mencari kedamaian batin dan saya menemukannya dalam Islam. Iman saya telah membawa saya lebih dekat dengan Allah,” katanya. Orangtuanya dan tujuh saudara kandung Alyssa telah menerima keputusannya masuk Islam. “Mereka mengetahuinya lewat Facebook saat saya memakai hijab,” katanya.

ooOOoo

Saling memaafkan,berbagi kebahagiaan adalah pemandangan nyata saat idhul fitri.Setiap orang telah mengikrarkan segala kesalahannya.Dan setiap orang akan memberi maaf.Semua itu adalah keindahan.Sebuah pemandangan yang luar biasa.

Kedamaian hadir ditengah-tengah kita.Alangkah luar biasanya jika ini terjadi setiap saat.Selamat hari raya Idhul Fitri.Mohon maaf lahir dan batin.


aku mengenalmu saat kelas tiga rok merah
sekitar sembilan tahun yang lalu
puisi pertama yang kuhapal

aku mengenalmu lewat buah penamu
Aku, Chairil

"...berlari, berlari, berlari
hingga hilang pedih perih
dan aku lebih tak peduli
aku mau hidup seribu tahun lagi."

aku merapal, menyesapmu, menghirupmu
termangu,
Aku benar-benar melesak pada darahku.
mungkin benar, ku mau tak seorang kan merayu.

selamat hari puisi!

26 Juli, 2014.

Catatan:
26 Juli didepak jadi hari puisi nasional dan dirayakan tepat hari kelahiran Binatang Jalang, Chairil Anwar.
Ya, aku tak bisa melupakanmu, Chairil. Anakmu, Aku, kali pertama tanda yang mengajakku untuk masuk ke duniamu, puisi. Aku tak henti bertanya kala itu. Pertanyaanku mengalir dari rok merahku kelas tiga SD,
"Apa itu binatang jalang, Bu?"
"Kenapa mesti meradang, menerjang, Bu?"
"Apa Mia bisa hidup seribu tahun lagi?"
"Merayu itu apa, Bu?"
Waktu yang mengajarkanku kejalangan dan menjawab segala yang kutanyakan. Hmm..

aku

kalau sampai waktuku
'ku mau tak seorang, 'kan merayu
tidak juga kau

tak perlu sedu sedan itu

aku ini binatang jalang
dari kumpulannya terbuang

biar peluru menembus kulitku
aku tetap meradang menerjang

luka dan bisa kubawa berlari
berlari
hingga hilang pedih peri

dan aku akan lebih tidak perduli
aku mau hidup seribu tahun lagi.

mari berlari.

Nurings.


Salah satu parameter euforia bulan ramadhan yang paling kentara adalah iklan-iklan televisi yang mendadak jadi lebih Islami. Mendadak jadi lebih alim dengan aneka konsep khas bulan suci. Tapi itu wajar lah. Namanya juga strategi pasar, perlu adaptasi musim dan suasana.

Saya mengamati, selama bulan ramadhan, banyak iklan-iklan produk di televisi yang berusaha memasukan unsur ramadhan ke dalam materi iklannya. Hal ini bisa kita lihat dengan jelas melalui tagline iklan yang ditampilkan.

Misalnya, iklan salah satu produk pasta gigi. Selama Ramadhan, iklan produk ini kerap menggunakan tagline berbasis bulan puasa: "Menjaga kesegaran mulut selama berpuasa".

Ada juga iklan minuman isotonik yang kerap menggunakan tagline: "Menjaga cairan tubuh selama menjalankan ibadah puasa".

Atau, iklan obat suplemen dengan tagline andalannya: "Tetap kuat beraktivitas di bulan suci".

Beberapa iklan di atas saya anggap cukup berhasil karena memang materi iklan dan produknya ndilalah cukup kontekstual dengan bulan Ramadhan.

Namun tak selamanya iklan produk di televisi materinya kontekstual dengan nuansa Ramadhan, beberapa malah sering terlihat maksa untuk memasukan nuansa ramadhan ke dalam materi iklannya.

Iklan salah satu produk tablet, misalnya, tagline yang digunakan adalah "Serunya berkah ramadhan, makin besar dengan layar besar". Ini jelas wagu, memang apa hubungannya berkah ramadhan dengan ukuran layar gadget?, sungguh pemaksaan tema yang terlalu masif dan terstruktur #eh.

Untunglah selama ini saya belum pernah melihat ada iklan kondom berkonsep ramadhan. Kalau sampai ada, mungkin tagline yang digunakan adalah "Tetap melindungi di bulan penuh berkah".

Musim mudik kembali datang!! kali ini di tahun 2014 sepertinya musim mudik akan semakin ramai mengingat banyaknya pemudik yang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi. Kebanyakan dari pemudik pasti adalah pemudik yang sudah terbiasa dengan kondisi jalan dan waktu perjalanan yang relatif panjang serta melelahkan. Sebagian besar pemudik pasti juga sudah hafal dengan arah jalan yang […]

Lebih lengkap artikel tentang "Peta Mudik 2014 Jawa Bali Lengkap (Google Map-PDF-JPG)" dapat dibaca di Magelang Online - Informasi lengkap kota Magelang dan sekitarnya.

Lebaran 2014 sudah diambang pintu, saatnya merayakan hari raya Idul Fitri setelah sebulan lamanya berpuasa menahan segala lapar dan nafsu, saatnya saling memaafkan atas segala dosa. Dan yang pasti harus ada setiap tahunnya termasuk tahun 2014 ada musim mudik. Mudik atau pulang kampung bukan suatu beban berat bagi yang kebetulan kampung halamannya bisa ditempuh dalam […]

Lebih lengkap artikel tentang "Catat! 10 Tips Penting Mudik 2014" dapat dibaca di Magelang Online - Informasi lengkap kota Magelang dan sekitarnya.

Saya selalu suka dengan film bernuansa Cowboy (Bukan Coboy seperti penulisan Coboy Junior). Bagi saya, Film Cowboy selalu nampak menarik. Tentu bukan melulu tentang kuda, namun juga tentang bar dengan pintu dorongnya yang teramat khas, tentang adu tembak dengan pistol antara dua jagoan, tentang jumawanya seorang sherif, tentang putaran tali lasso, dan tentang banyak hal yang berhubungan dengan Cowboy. Kesukaan saya pada Cowboy ini pula yang membuat saya sedikit banyak menyukai lagu-lagu country.

Berkali-kali menyaksikan film Cowboy, ada satu hal yang hingga kini selalu menjadi pertanyaan sulit bagi saya. Yaitu tentang benda berbentuk roda bergerigi yang kerap terpasang di belakang sepatu cowboy (semacam taji di sepatu cowboy). Sungguh Saya tak tahu benda ini namanya apa, dan fungsinya untuk apa.

Spurs sepatu Cowboy

Hal ini mungkin nampak sepele, namun sukses membuat saya penasaran dalam jangka waktu yang cukup lama. Mau saya cari di google tapi ndak tahu keyword apa yang harus saya masukkan.

Setelah menonton film Rango beberapa waktu yang lalu, tekad saya untuk mengetahui nama dan fungsi benda ini pun semakin besar dan seakan tak terbendung. Akhirnya saya cari di Yahoo answer, dan alhamdulillah, walau dengan bahasa linggis yang belepotan, akhirnya saya mendapat jawaban.

Usut punya usut, ternyata benda ini namanya Spurs. Fungsinya seperti yang sudah saya terka sebelumnya, yaitu untuk menepak bagian tepi pantat kuda saat kuda mulai berlari pelan, tepakan Spurs ini akan membuat kuda takut dan kembali berlari kencang.

Konon, Bentuk Spurs sengaja dibuat bergerigi agar si Cowboy tak perlu menepak terlalu keras (kadang malah cukup dengan menempelkan permukaan Spurs ke pantat si kuda), sehingga si Kuda tak terlalu merasakan sakit.

Spurs sepatu Cowboy

Penggunaan Spurs ini sekarang sudah mulai ditinggalkan, karena menurut banyak praktisi berkuda, penggunaan spurs bisa digantikan dengan pengoptimalan tali kekang kuda.

Bahkan untuk kuda yang sudah sangat terlatih dan dekat dengan penunggangnya, untuk memacunya berlari lebih kencang cukup dengan menggunakan isyarat sentuhan tangan dari sang penunggang. Tanpa harus menarik tali kekang dengan kencang ataupun menepak pantat kuda dengan cambuk ataupun spurs.

Penggunaan spurs ini setahu saya hanya populer di ranah Amerika, sedangkan di Asia, spurs jarang digunakan. Apalagi di Indonesia.

Buktinya, sampai sekarang, saya belum pernah lihat Pak Prabowo mengendarai kuda pakai Spurs. Iya kan? Dan rasanya, sampai kapanpun, Pak Prabowo tak akan pernah memakai spurs, karena saya yakin, Pak Prabowo tak perlu menggunakan spurs untuk menakut-nakuti kudanya agar mau berlari lebih kencang. Ayolah, Kuda manapun pasti sudah cukup takut dengan pak Prabowo. Jadi, Kalaupun beliau menggunakan spurs, mungkin fungsinya bukan untuk memacu kudanya, melainkan untuk mengiris pizza. (hehehe, becanda lho pak, becanda).

A good rider doesn't need reins, a good rider doesn't need spurs, a good rider doesn't need a saddle. A good rider, doesn't even need a horse.

Saat ini tamanan Gamal mudah ditemui di daerah-daerah di Indonesia. Namanya pun bermacam-macam dari satu daerah ke daerah lain. Namun, apakah Anda tahu asal-usul tanaman Gamal ini.

Nama pohon gamal

Nama latinnya adalah Gliricidia sepium. Nama daerahnya macam-macam. Kalau di desa saya dulu, Bapak saya menyebutnya Lirisida. Bapak sering mencari daun lirisida untuk pakan kambing-kambing kami. Di Jakarta ada yang menyebutnya pohon hujan (maksudnya mudah ditanam). Di Jabar ada yang menyebutnya cep – biyer (sebera tumbuh setelah ditanam). Di Yogyakarta pernah dinamakan Johar Tulung Agung, namun kemudian diganti namanya oleh Sri Sultan menjadi Johar Gembiro Loka. Di Solo dinamankan wit sepiun. Di Tulung Agung dinamakan Johar Cino. Di Pasuruan dinamakan Johar Bogor. Di Malang selatan ada yang menyebutnya Kelorwono (kelor hutan). Namun ada yang daerah yang memberi nama agak aneh, yaitu di daerah Banyumas yang menyebutnya wit selire dewe. Di Madura disebut Haji Rasidia atau Lirik Sidia. Sedang di Bali selatan disebut pohon Ampera.

Nama lokal nasional yang sering dikenal adalah Gamal. Yang memberi nama adalah bapak R. Soetarjo Martoatmodjo. Gamal adalah nama cucunya Pak Soetarjo, dan diberi nama seperti nama presiden mesir kala itu Galam Abdul Nasser. Gamal atau Kemal atau Jamal artinya halus. Harapan Pak Soetarjo pohon gamal ini kelak akan mashyur seperti presiden Gamal. Dan sudah terbukti sekarang.

Menurut tafsiran pak Soetarjo, tanaman gamal adalah unta yang sanggup menundukkan sahara Indonesia, yaitu padang alang-alang. Tanaman ini dikenal sebagai tanaman pembunuh alang-alang. Menteri pertanian Indonesia saat itu Bapak Frans Seda bahkan mengartikan galam sebagai Ganyang Mati Alang-alang.

Riwayat pohon gamal di Indonesia

Konon tanaman ini mula-mula dikenal di daerah Amerika Tengah dan Brazil. Di daerah itu tanaman gamal dipakai untuk pohon pelindung tanaman kakao dan dikenal dengan nama ‘madre cacao’.

Tanaman ini dibawa oleh para penjajah Eropa ke daerah India dan Srilangka (sailan). Negera ini dikenal sebagai negera penghasil teh dan tanaman gamal dipakai sebagi tanaman pelindung teh. Oleh orang Srilangka tanaman ini juga dipakai sebagai pagar dan pakan ternak.

Berita tentang tanaman gamal yang baik untuk tanaman pelindung perkebunan sampai ke VOC di Indonesia. Perusahaan perkebuna di Medan tertarik untuk mendatangkan tanaman itu dari Srilangka sebagai tanaman pelindung teh. Sekitar tahun 1900-an tanaman gamal mulai ditanam di Indonesia. Tanaman ini masih asing dan belum banyak dikenal di daerah-daerah lain.

Tahun 1958 tanaman gamal ini ‘ditemukan’ oleh Bapak R. Soetarjo Martoatmodjo. Sejak saat itu Pak Soetarjo gencar memperkenalkan tanaman ini ke seluruh Indonesia.

Tanaman gamal berasal dari daerah tropis, karena itu mudah tumbuh di daerah Indonesia yang beriklim tropis. Tanaman gamal bisa tumbuh di daerah sekitar pantai hingga dataran tinggi 1400 dpl.

Cara menanam tanaman gamal

Tanaman gamal sangat mudah tumbuh. Cara menanammnya pun sangat mudah. Orang kampung biasa menanam gamal dengan cara di-stek. Batang tanaman gamal dipotong dan langsung ditancapkan ke tanah. Dengan cara ini tanaman gamal akan segera membentuk akar baru dan tumbuh menjadi tanaman baru.

Cara lain adalah dengan menggunakan bijinya. Biji-biji yang terpental dari tanaman induknya akan segera tumbuh menjadi tanaman-tanaman baru. Satu kilogram biji gamal kurang lebih ada 3000 biji. Jumlah ini cukup untuk nenanami satu hektar lahan.

Kegunaan Tanaman Gamal

Tanaman gamal memiliki banyak kegunaan, antara lain:
1. Sebagai pelindung tanaman perkebunan: teh, kakao, kopi.
2. Sebagai tanaman pagar
3. Daunnya digunakan sebagai pakan ternak, karena mengandung protein tinggi.
4. Tanaman penghijauan, karena mudah sekali tumbuh di tanah-tanah tandus.
5. Membasmi alang-alang. Alang-alang sangat sulit dibasmi. Salah satu caranya adalah dengan cara menanam galam. Ketika tanaman gamal sudah tumbuh. Ladang alang-alang dibakar. Alang-alang akan segera mati. Namun, gamal tidak mati setelah dibakar meskipun batangnya habis terbakar. Dari sisa batang yang ada di dalam tanah akan muncul tunas-tunas baru secara cepat. Karena gamal tumbuh lebih dulu, alang-alang akan terhambat pertumbuhannya.
6. Kayunya sebagai kayu bakar.
7. Menyuburkan tanah. Tanaman gamal adalah termasuk leguminosa. Tanaman legum dikenal memiliki bintil akar yang bisa menambat N dari udara. Penanaman galam bisa meningkatkan kandungan N di dalam tanah.

Disadur dari buku: Gamal Pohon Serba Guna, karangan: R Soetarjo Martoatmodjo, Ismail Hamid BA, Drs. Soemartono. Penerbit Balai Pustaka. 1973.


Sudah sejak lama issue layanan menyebalkan oleh Rumah Sakit menjadi buah bibir masyarakat kelas bawah, sehingga keluar ungkapan ” Orang Miskin dilarang Sakit” karena saking menyebalkannya layanan yang diberikan, apalagi bila mengetahui bahwa Pasien tersebut adalah pasien Miskin yang biaya pengobatannya dibayar oleh Pemerintah, apakah itu Jamkesda, Kartu Jakarta Sehat maupun JKN BPJS. Namun, saya […]

Mendaki Gunung Merbabu!

-

Hamasah!

on 2014-7-24 11:48pm GMT


Mendaki Gunung Merbabu!

2 minggu sebelum 26 Oktober 2013...
Saya nggak nyangka. Saya bisa. Mendaki Gunung oh men, Gunung Merbabu! Ketinggian 3150 dpl.
Oke, langsung saja..
Ceritanya saya jadi jurnalis sekolah di sekolah (lah iya kan masih sekolah). Namanya SIBEMA, RedakSI BErita sMAnsa). Nah, anggota SIBEMA 27 ini cowoknya cuma tiga. Emang sih, mayoritas cewek-cewek tapi alhamdulilah kami kuat kok J
Udah jadi rutinitas ekstrakurikuler GLACIAL (Gladiool Pecinta Alam) yang ngadain manjat eh daki gunung awal tahun. Judul acaranya yaitu, PEPAT (Pendakian Perdana Awal Tahun) tanggal 26-27 Oktober 2013. Untuk liputan di luar sekolah, kami nggak langsung tunjuk karena tanggung jawab sama orang tua juga. Dari sekian anggota, akhirnya yang dibolehin plus diridhoin plus didoain sama orang tua untuk berangkat ngeliput acara PEPAT ini adalah...saya dan Bagas Kurniawan (Bagas).
1.       Prepare for first climbing!
Ini adalah pendakian pertama saya, ketar-ketir dikit sih. Persiapan fisik, mental, dan material yang kudu, kudu sekali kudu mateng.
a.       Untuk persiapan fisik, kami mesti latian jogging, sit up, jalan kaki, yang ringan-ringan aja. Tujuannya biar nggak kram gitu.
b.      Terus mental, nah ini dia. Saya browsing-browsing tentang Gunung Merbabu, ketinggiannya, waspadaannya, baca-baca blog milik pendaki-pendaki, biar ngerti sih. Satu hal, kami mesti hati-hati di alam liar. Mental sok jago dan sok sombong dibuang jauh-jauh deh ya, hehe.
c.       Material, wih this is the one. Dari mulai perlengkapan daki, mmm..
1.       Tenda dan Alas Tidur
Tenda dan alas tidur bisa nyewa di toko adventure J kalo udah nyewa, latihan cara mendirikan dan melipat tenda. Semangat hehe.. kalo saya mah enggak repot, GLACIAL baik buanget mbikinin tenda untuk peserta PEPAT lho =D
2.       Carrier/tas ransel/asal jangan handbag aja, lol.
Saya nggak punya carrier yang khusus buat daki gunung gitu, terus gimana? Dapet referensi, katanya bisa nyewa di toko khusus adventure and climbing gitu deh. Kalo di Magelang, waktu itu saya sama Bagas dateng ke Progo Adventure (kalo nggak salah namanya). Nah, pas sampe situ, tokonya tutup. Saya telpon deh ke contact person yang tertera di banner, dan well, carriernya abis disewa sama pengunjung lain. Iya sih, nggak kaget aja karena tanggal itu emang tanggal sumpah pemuda (setiap 28 Oktober nasional) yang kece badai untuk dirayain di gunung, lol.
Terus? Saya pinjem temen saya, namanya Kirana. Bukan carrier sih, tapi tas ransel. Kata senior saya, nggak harus pake carrier kok kalo emang muat. Soalnya ntar keberaten, lagian cuma semalem aja kok, itu kata senior saya.
Bagas pinjem senior saya yang carriernya lebih gede daripada tas yang saya pakai.
3.       Sleeping bag/kantong tidur
Buat apa bawa kantong tidur? Kayak kepompong hehe. Ya buat tidur lah lol. sleeping bag bisa disewa juga kok di toko-toko penyewaan adventure gitu. Kalo mau beli juga boleh, harga sleeping bag sekitar 200ribu-an (tergantung merk sama second apa enggaknya hehe). Kalo saya pinjem Kirana (lagi), Bagas punya sendiri.
4.       Sandal Gunung/Sepatu Gunung
Daki gunung jangan pake sendal jepit ya, hehe. Jalannya kan licin tuh. Usahakan alasnya nggak licin, alias kasar. Silakan mau sendal gunung atau sepatu gunung. Kalo saya pilih sendal gunung, soalnya bisa dipake buat main (alasan aneh). Selain itu, sendal gunung bikin kukunya bebas. Saya nggak punya sendal gunung jadinya beli. Kalo Bagas, partner saya itu udah punya sendal gunung. Oh iya, kalo saya dari awal pake kaus kaki. Selain biar nggak dingin, juga menghindari benda-benda tajam kayak duri, cabang tajam, dsb.
5.       Kanebo/Tutup Kepala
Selera aja sih mau bawa ini apa enggak. Karena saya pakai kerudung, ya saya sudah cukup hangat hehe.
6.       Slayer
Saya bawa slayer warna merah. Gunanya untuk menghangatkan leher atau menutup hidung. Hidung dilindungi dari abu, pasir, atau bau belerang.
7.       Mantol/Jas Hujan
Antisipasi bawa jas hujan sebelum hujan, jangan payung hehe. Saya sangu mantol becak, hmm harganya 3ribu-an.
8.       Senter dan Korek Api
Saya bawa senter soalnya bermalam di gunung. Hiii mosok meh gelap-gelapan? Lol. Korek api berguna untuk bikin api (?)
9.       Perlengkapan Masak
Berfungsi banget buat masak (-_-). Saya pernah googling, ada kok seperangkat alat masak yang khusus buat daki gunung. Kalo untuk PEPAT ini, dari panitia nyedian kompor bikinan sendiri wes to, pokoke keren. Karena dibagi per kelompok, ada pembagian bawa spiritus, dsb. Banyak deh alat masak dan kompor di google hehe.
10.   Baju Hangat
Boleh jaket, kaos panjang, dsb. Disimpen di tas. Selama naik gunung, nggak pake jaket. Cukup kaos aja.
11.   Air dan Makanan
Sebab kami butuh energi, kami konsumsi makanan yang berkalori tinggi. Disaranin dari GLACIAL tuh kami bawa gula kacang (basa jawa:ampyang), cokelat, Soyjoy, Fitbar (peace saya nggak iklan ini hanya rekomendasi hehe) gitu deh. Untuk makan malam, bawa pop mie sama energen (kalo saya).
AIR. Perlu bawa air. Selama kami daki, kami ndak bisa bohong kalo kami haus (?). Saya bawa kangen water (googling aja apa itu kangen water? Hehe) sama aqua 2L.
12.   Obat-obatan!
Sori pake tanda seru! Hehe..soalnya ini penting buwanget nget nget. Buat yang punya obat pribadi, dibawa jangan lupa. Kami harus menjaga diri kami sendiri. Kata Lutfia, anggota GLACIAL, kalo kami pake minyak kayu putih malah bikin tambah adem. Saya bawa minyak kayu putih (disuruh ibu), decolgen, sama salonpas. Salonpas berguna untuk menghangatkan hidung, leher, dan bagian tubuh lainnya (tuh iklan lagi lol).
13.   Tisu Basah
Tisu basah berguna untuk ekskresi dan defekasi, mandi juga boleh hahaha. Nggak semua tempat di gunung ada mata air. Dan, sayang banget kami pake air mineral. Bener-bener hemat air lol.
14.   Kamera dan Handphone
Dokumentasi bahwa kami pernah ada. Hehehe
15.   Polybag/Kantong Kresek
Hayo! Kami dilarang untuk membuang sampah sembarangan! Hehehe
16.   Perlengkapan Ibadah
Khusus untuk Muslim, jangan lupa wajib 5 waktu ya..
2.       Lets Pack!
Ternyata ada cara untuk mengepak dan memanage barang bawaan biar kagak rempong kami nggendongnya.
-Baju
Baju hangat, maupun baju lain yang mau dibawa harus bener-bener kering. Kenapa kering? Karena kalo kami ambil jaket yang baru saja dijemur lalu dibawa naik gunung=sama aja kami nggendong air=berat. Pastikan kering ya hehe. Lantas, baju jangan dilipat ibarat koper, no no no. Kami nggak pake koper, kami pake carrier. Terus gimana? Baju digulung, serapet pet pet mungkin. Habis itu dimasukkan ke dalam tas kresek biar tetep kering.
-Plastik
Nggak hanya baju, barang-barang kayak senter kok saya plastikin ya? Eh hape juga ding. Oh korek api juga! Korek api HARUS kering agar bisa menyala hehe.
Packing carrier=
1.       Taruh barang-barang yang ringan di bawah, sedangkan yang berat di atas. Apa tujuannya? Biar nggak berat.
a.       Kalo saya, yang paling bawah adalah sleeping bag.
b.      Terus baju hangat yang udah digulung plus dikresekin.
c.       Atur space carriertersebut, hemat dihemati-hematin. Ada space kosong dikit bisa diisi dengan pop mie, cokelat, dll.
d.      Paling atas adalah air. Air terbukti punya berat (pelajaran IPA zaman SD lol).
2.       Barang Penting
Barang penting di sini yang saya maksud adalah senter, mantol, korek api, dan fitbar. Buat perjalanan..air juga. Jadi gini (eh sok banget ini lol), biasanya carrier ada tempat minum to, nah diisi aja pake air minum. Terus biasanya ada resleting depan, diisi mantol, senter, sama makanan kecil energi, choki-choki gitu boleh (iklan lagi).
3.       Seimbang
Yang dimaksud seimbang adalah tas ataupun carrier tuh kalo digendong pas kanan dan kiri bahu, nggak berat sebelah. Gimana caranya? Ya diseimbangin. Cara gampangnya tuh kata Yulia, yang saay itu bantuin saya packing, asal carrier bisa berdiri tegak di lantai, artinya dia udah seimbang hehehe.
Dan saat mendaki, saya bener-bener membuktikan bahwa packing itu nggak penting, tapi sangat penting banget sekali!

-LET’S GO! CLIMBING MERBABU!
Well, duh saya deg-degan pake banget. Hari Sabtu, 26 Oktober 2013, saya harus berangkat bertugas (cie).
Seragam saya (halah)=celana training, kaos panjang, kaus kaki hitam, sendal gunung, jilbab cokelat sama udah siap slayer merah di leher.
Jam 14.00 WIB kami berangkat naik truk menuju desa Wekas. FYI, pendakian ke Gunung Merbabu ada beberapa jalur. Kini yang akan kami lewati adalah jalur pendakian Wekas, daerah Ngablak, Kabupaten Magelang. Baca-baca di google, jalur Wekas adalah jalur terpendek dibandingkan dengan jalur pendakian lain.
Jam 15.30 WIB kami berkumpul di basecamp. Di situ kami diabsen, kumpul per kelompok, pembagian alas tidur sama sleeping bag. Lalu kami sholat Ashar di masjid dekat dengan basecamp. Habis itu kami streching atau pemanasan gitu. Terus siap-siap daki gunung yang gede ini.. subhanallah..paringana kuat ya Allah.. kami juga nempelin salonpas di hidung. Suhu rendah bikin hidung dingin. Ya untuk menghangatkan hidung..
Jam 15.45 WIB kami mulai mendaki. Bismillahirahamanirahim..keluar dari desa Wekas, kami mulai masuk ke area hutan. Ranting, daun, tanah, hmmm..back to nature. Hati-hati jalan setapak yang kudu satu-satu jalannya. Kalo capek, minta berhenti satu kelompok. Saling berbagi air dan makanan. Saling menyemangati. Duh, di sini terasa banget kekeluargaannya. Felia, PJ kelompok saya, dia sabar banget nungguin saya istirahat. Nggak kerasa saya jadi deretan terakhir, huhu. Nggakpapa..deh..
Jam 18.00 WIB sekitar jam ini, terdengar suara adzan dari bawah, ya dari desa Wekas. Subhanallah..binatang-binatang noktural mulai cuit-cuit. Terasa adem, kekes..dan..gelap. Ambil senter! Tuh kan, senter emang taruh di tas depan aja! Hehe.. dan beberapa menit kemudian, gerimis!
Wow! Gerimis di gunung saat petang hari mulai gelap. Cepet-cepet ambil mantol! Tuh kan, packing emang penting. Mantol taruh di tas pinggir ajahehe..
Semakin malam..jalannya naik terus. Dikit banget landainya. Ketemu landai, langsung henti sebentar. Saya sempat tukeran tas. Tas saya digendong sama Mbak Eky, alumni GLACIAL yang baik banget bantuin saya. Duh...saya emang bzzz.. kalo nggak kuat emang gitu, tukeran tas sama yang lain.  Semakin ke atas tuh muncul pipa air, hati-hati deh, jangan sampe nginjak. Kalo pecah gimana? Distribusi air ke penduduk jadi terbengkalai gara-gara kami. Emang kudu hati-hati.
Jam 20.00 WIB alhamdulilah.. kami sampai di tanah yang lapang, kayak lapangan. Banyak pendaki yang ndiriin tenda di situ. Oalah..hebat banget ya gunung ini? Istimewa..ada tempat landai kayak lapangan. Dan di situ ada bak mata air! Subhanallah.. kami langsung bikin api, isi perut, sama ibadah juga..
Jam 21.00 WIB kami masuk dome/tenda yang udah disiapin sm GLACIAL. Langsung pake jaket!! Masuk sleeping bag dan bergelung.hehe.. dan whats next? Hujan. Hujan lumayan deras bikin tenda lembab akrena air merembes ke mana-mana. Duingin, dingiiiin bangeeet. Perjuangan melawan dingin bisa dengan tidur berpelukan hehe..

27 Oktober 2013..
Jam 04.30 WIB kami bangun dari penggulungan sleeping bag. Ibadah subuh atau makan. Yeah, habis ini kami akan muncak. Jadi sebenernya lapangan atau tanah landai tempat kami bermalam tuh masih jauh dari puncak. Ke puncak butuh energi dan kami makan mi atau minum susu dulu. Pagi ini masih gerimis halus dan kami masih pake mantol. Bapak Tatak, pembina GLACIAL mengintruksi untuk nunggu dulu sampe jam 06.00 WIB, memastikan kemungkinan bisa muncak apa enggak.
Oh ya, tips buat yang mau buang hajat, pergi ke belukar atau rumput. Jangan lupa bawa teman, karena di alam liar biasanya pada nggak fokus. Terus pake tisu basah deh. Dan jangan buang sembarangan tisunya! Hehehe..
Jam 06.00 WIB alhamdulilah udah memungkinkan untuk muncak. Kami lepasin mantol kami. Udara dingin banget, kami boleh jalan pake jaket dan kanebo. Kalo pas berangkat kemarin, kami nggak boleh pake jaket, soalnya keringatnya bikin baju basah. Kalo pagi ini, nggakpapa deh..
Oke, muncak pun dimulai. Trek yang kami lewati lumayan licin. Trek pertama tuh lewat jalan tanah yang banyak batu-batunya. Satu-satu kami jalan beriringan dan saling bantu. Hmm..habis itu kami lewat jalan yang mana kami bisa lihat pemandangan keren subhanallah..
Mendekati gerbang angin, saya lihat beberapa tenda yang didirikan oleh pendaki lain. Kakak-kakak ini bermalam di tanah landai tapi sempit, kira-kira cuma muat 2-3 dome aja.
Akhirnya kami sampe di gerbang angin. Entah kenapa dikasih nama ini? Ada puncak yang di situ tertanam tower, tower sinyal apa ya? Saya kira ini adalah puncak, lol. No no, di gerbang angin ini kami bisa nikmatin pemandangan lebih dan lebih dahsyat! Di sinilah kami berhenti sebentar. Bau belerang mulai menyeruak.
Then kami ready to go lagi. Hati-hati banget ini karena kanan dan kiri jurang. Always focus deh.. oh ya, ternyata ada helipad (tempat helikopter mendarat) lho di sini.
Lagi-lagi kami manjat tebing. Batu-batu cadas. Ini emang sepaket deh antara jalan kaki sama manjat tebing. Ekstra hati-hati. Nggak jarang kami juga ketemu pendaki lain. Saat papasan, kami saling menyapa dan menyemangati! What a great.. Bahkan kami saling mengulurkan tangan lho walaupun nggak kenal. Saat kami mau naik, kakak-kakak ini lagi mau turun. Nah, kami gantian deh ^^ sabar..
Jembatan setan...
Orang bilang ini adalah jembatan setan. Kenapa? Nggak tahu. Yang jelas, treknya tuh subhanallah. Harus fokus dan berdoa. Saya dicoach sama panitia, kaki kanan dulu, kaki kiri, soalnya jalan horizontal tapi pegangan tebing.
Habis nyebrang jembatan setan, kami manjat tanah (susah nulisnya). Semangat aja..pegang akar-akar tanaman.. Allah memang Maha Penyayang..
Well, alhamdulilah kami sampai di PUNCAK MERBABU!
 Jam 09.45 WIB FYI, Merbabu punya banyak puncak. Kini kami sampai di puncak tertinggi, namanya puncak Kenteng Songo (Kenteng, basa jawa Songo: Sembilan). Ada semacam batu atau apa ya, yang katanya jumlahnya sembilan gitu. Nah di sini ternyata ada kelompok pendaki lain yang lagi menikmati, yaudah deh..kami jalan kaki ke puncak Triangulasi.
Jarak antara puncak Kenteng Songo sampe Triangulasi lumayan deket, ya anggep aja begitu. Naik, turun, naik lagi. Ya begitulah.. puncak Triangulasi lebih rendah dari Kenteng Songo. Puncak Triangulasi ini pojoknya puncak di Merbabu. Dari titik ini, kami bisa nonton Gunung Merapi, saudaranya Merbabu.
Nah, di puncak Triangulasi inilah kami mengadakan upacara bendera. Sedikit haru banget saya, pertama kali, saya nggak nyangka bisa. Padahal tubuh saya ini lemah. Allah menguatkan saya, lewat orang-orang hebat yang nyemangatin saya. Huhu..hiks.. habis itu kami tanda tangan di layang-layang. Layang-layang ini semacam harapan kami.
Di puncak, beberapa peserta laki-laki ada yang sholat. Udah sangu sarung. Masya Allah..
Di puncak kami nggak boleh lama-lama. Timing. Lol. well kami turun ke camp.. Saat kami turun, ada pendaki lain yang mau muncak. Hmm..
Alhamdulilah sampe di camp. Kami segera berkemas carrier, dome, alas dan sampah. Hayo sampahnya dibawa turun! Hehehe.. botol-botol bekas minum jangan dibuang, bisa direfill pake mata air. Saya minum dari kran air dan..seger. Padahal itu air nggak mateng hahaha. Daripada dehidrasi :p Sebelum turun, kami isi perut dulu lah.
Jam 12.00 WIB Absen kelompok dan siap berangkat. Pas perjalanan turun gunung, saya diajarin sama anak-anak GLACIAL: lari! Hahaha..run away tapi hati-hati, sekali lagi licin. Bapak Tatak juga ngajakin saya lari. Biar apa? biar nggak berat bebannya. Kalo dipikir-pikir, bener juga sih.
Tips turun gunung: lari, minimal jalan cepat. Lol.
Sekitar jam 15.00 WIB kami sampai di basecamp. Kami sholat di mesjid. Terus makan sepiring nasi sama minum teh anget. Alhamdulilah kami sehat dan bisa tertawa bersama-sama. Saya kayak mau nangis liat saya sendiri. Lol.
Usai makan, kami naik ke truk lagi dan pulang ke sekolah. Eh udah dulu ya, Bapak udah njemput saya tuh pake motor :D lain kali kita jalan kaki lagi ya?

PS: Saya belajar banyak banget dari pendakian ini, pendakian pertama seumur hidup.
1.       Saya nggak boleh mengeluh dan menyerah. Orang-orang di sekitar saya nggak butuh keluhan saya.
2.       Saya harus setia dan saling tolong menolong. Siapa lagi yang mau bantu saya ketika saya terhimpit sesuatu? Maka, tanamlah kebaikan hingga nantinya kita petik buah kebaikan kita sendiri. Jangan ego ya, Mia..tunggu aja temenmu. Saat saya minta istirahat, teman-teman setia nunggu saya.
3.       Fokus dan berdoa. Kunci dari segalanya adalah Allah. Mendekatlah dengan Allah, Maha BESAR Allah menciptkan bumi dan seisinya. Jangan remehin sesuatu karena itu semua adalah ciptaan Allah.
4.       Sudahlah move on..OOT banget hahaha. Hari pendakian ini adalah hari keberangkatanmu ke Jakarta. Yah, kamu bukan siapa-siapaku sih. Setidaknya may I say thanks to you yang sudah advice dan sms, “Semangat ya dek..” hmm..tidak apa-apa. Aku dan kamu bukan apa-apa dan itu tak jadi soal. Setahun yang lalu kamu ikut pendakian ini dan tahun ini aku mendaki trek yang pernah kamu lalui. Setidaknya, kita (halah) pernah saling menyemangati. ^^

 Ya sudahlah lah. Sukses untuk kita semua, saya jalani apa yang ada di trek hidup saya, kamu juga berjuang apa yang harus kauperjuangkan. Saling mendoakan.
Mari kita berjuang bersama-sama!

Saya bahagia bisa berjuang bersamamu untuk hal yang pantas untuk diperjuang, kamu, siapapun siapa kamu. Karena saya bukan siapa-siapa.

Aparat Kepolisian Polres Kota Magelang setidak meringkus 2 pengedar bahan peledak untuk petasan. Dua tersangka yang berinisial YE (23) warga Sinduadi, Sleman dan HN (30) warga Kasihan Bantul di ringkus ketika hendak menjual “Obat Mercon” seberat 56 kilogram ke wilayah Magelang. Kedua pelaku tertangkap basah ketika melakukan transaksi di Jalan Ahmad Yani Kota Magelang dengan […]

Lebih lengkap artikel tentang "Polres Magelang Amankan Puluhan Kilogram “Obat Mercon”" dapat dibaca di Magelang Online - Informasi lengkap kota Magelang dan sekitarnya.

Prepegan Pasar Muntilan

-

Pendekartidar

on 2014-7-24 6:09am GMT

Roda waktu memang tidak bisa ditahan untuk terus bergulir. Ramadhan tahun ini segera akan berlalu. Ujung dari bulan suci tersebut adalah Idhul Fitri, kembalinya manusia kepada kefitrian dan kesucian dirinya. Manusia-manusia baru terlahirkan kembali setelah menjalani berbagai ibadah penyucian diri selama sebulan penuh. Ramadhan dengan segala hiruk-pikuk rangkaian ritual ibadahnya, ada puasa itu sendiri, tarawih, tadarus, takjilan, dan lain sebagainya usai sudah. Masa “sudah” inilah yang menjadikannya disebut sebagai lebaran. Idhul Fitri adalah Hari Lebaran.

Pasar MuntilanLebaran adalah hari kegembiraan bersama. Tidak tua tidak muda, tidak laki tidak perempuan, termasuk anak-anak sudah pasti menyambut lebaran dengan luapan kebahagiaan dan kegembiraan. Bagi kebanyakan orang, terutama bagi anak-anak, lebaran juga sering identik dengan baju baru, celana baru, sepatu baru, sarung baru. Semua hal baru hadir bersamaan datangnya lebaran. Sudah tentu hal yang paling penting adalah hadirnya hati yang baru, yang lebih taat, yang lebih taqwa, yang lebih bijaksana, dan segala hal yang lebih baik. Dan memang usai Ramadhan dan datangnya Syawal harus menjadi penanda terjadinya peningkatan kualitas hidup, secara jiwa dan ruhani, setelah tergapainya predikat taqwa sebagaimana tujuan ibadah puasa Ramadhan.

Nah kembali kepada yang serba baru tadi, baju baru, celana baru, kerudung baru, sarung baru, peci baru, sandal baru, kain baru dan lain sebagainya. Untuk memenuhi serba-serbi kebutuhan baru tadi juga segala hal untuk kebutuhan Idhul Fitri, masyarakat di kampung saya di Tepi Merapi, sengaja mipik untuk berbelanja segala macam kebutuhan lebaran di pasar terdekat.

Khusus di Pasar Muntilan, yang merupakan pasar tradisional di wilayah Kabupaten Magelang, pada hari-hari menjelang lebaran senantiasa dipenuhi warga dari berbagai penjuru kampung. Dari wilayah Dukun, Srumbung, Sawangan, Ngluwar, Mungkid, bahkan Tempel dan Sleman, masyarakat memadati berbagai toko, ruko dan lorong-lorong di sudut pasar. Saking banyaknya pengunjung yang mencari barang kebutuhannya, lorong-lorong pasar menjadi lautan manusia. Mereka berdiri dan berjalan berdesak-desakan. Bahkan untuk sekedar menggerakkan tubuhpun hanya tersisa ruang yang sangat sempit sehingga tak jarang satu sama lain pengunjung saling berhimpitan badan.

Suasana pasar yang pada hari-hari biasa relatif sepi dan tenang, pada hari-hari tersebut menjadi riuh rendah. Suara manusia yang saling bertegur sapa, saling tawar-menawar, pedagang yang menjajakan dagangannya menjadikan pasar seolah kembali “berkumandang“. Hari-hari demikian sering kami istilah sebagai Hari Prepegan.

Prepegan berasal dari kata mrepeg. Mrepeg dalam bahasa Jawa merupakan kata sifat yang menyatakan suatu keadaan. Mrepeg bisa diartikan mendesak, kritis, juga tergesa. Mungkin dikarenakan menjelang lebaran, pikiran masing-masing orang yang datang ke pasar dipenuhi dengan angan dan rencana-rencana untuk mendapatkan barang kebutuhan yang diinginkannya guna menyambut hari kemenangan. Dalam kondisi demikian, dalam diri orang tersebut semacam ada dorongan beban yang ingin segera dituntaskannya. Itulah kondisi sumpeg bin mrepeg yang harus segera dituntaskan. Di sisi lain, secara harfiah, pada Hari Prepegan manusia memang berjubel memenuhi pasar. Suasana pasar bertambah ramai, padat dan mungkin juga sumpeg berdesak-desakan.

Di luar hari-hari biasa, Pasar Muntilan memiliki hari Kliwon sebagai hari pasarannya. Jika hari pasaran merupakan puncak keramaian pengunjung pada setiap sepasar dina (lima harian), maka prepegan justru merupakan puncak keramaian pasar yang berskala tahunan. Hal ini tentu saja tidak dapat dipisahkan dengan akan datangnya Hari Raya Idhul Fitri, yang merupakan hari agung bagi pemeluk agama Islam wabil khusus bagi ummat Islam di Pulau Jawa.

Suasana prepegan pasar yang hiruk-pikuk dengan ribuan pengunjung juga menimbulkan sisi kerawanan. Di tengah lautan manusia yang saling berdesak-desakan tidak jarang hadir tangan-tangan jahil bin kriminil yang memanfaatan keadaan. Maka tidak mengherankan pada saat prepegan tersebut sering terjadi tindakan kriminal, dari pencopetan, pencurian, penjambretan, bahkan gendam atau hipnotis. Di sinilah setiap pengunjung pasar harus benar-benar waspada dan berhati-hati dengan segala barang berharga dan uang yang dimilikinya. Salah-salah jika pengunjung teledor atau terlena sehingga kehilangan kewaspadaan, bukannya terpenuhi kebutuhan lebarannya tetapi justru kehilangan barang miliknya entah kecopeten atau kecurian.

Lepas dari itu semua, suasana prepegan pasar yang hanya hadir pada hari-hari menjelang Hari Lebaran memang sangat khas dan unik di masing-masing daerah. Hal inilah yang menjadikan banyak orang, terlebih para perantau di luar daerah, yang justru merindukan keramaian dan hiruk-pikuk suasa prepegan. Sampeyan pernah juga merasakannya?

Lor Kedhaton, 24 Juli 2014

Jalan penghubung antara Magelang dan Purworejo tidak seperti biasanya. Jalur yang biasanya lebih sering dilewati truk muatan sedang dan selalu terlihat lengang akhir-akhir ini semakin ramai. Kepadatan kendaraan semakin meningkat dijalur ini dengan terlihatnya antrian kendaraaan besar yang sebelumnya sangat jarang terlihat di jalur ini. Kemacetan puncaknya terjadi di tanjakan Kalijambe Kecamatan Bener yang berbatasan […]

Lebih lengkap artikel tentang "Jembatan Comal Amblas, Jalur Tengkorak Semakin Rawan Kecelakaan" dapat dibaca di Magelang Online - Informasi lengkap kota Magelang dan sekitarnya.

Roda waktu memang tidak bisa ditahan untuk terus bergulir. Ramadhan tahun ini segera akan berlalu. Ujung dari bulan suci tersebut adalah Idhul Fitri, kembalinya manusia kepada kefitrian dan kesucian dirinya. Manusia-manusia baru terlahirkan kembali setelah menjalani berbagai ibadah penyucian diri selama sebulan penuh. Ramadhan dengan segala hiruk-pikuk rangkaian ritual ibadahnya, ada puasa itu sendiri, tarawih, tadarus, takjilan, dan lain sebagainya usai sudah. Masa “sudah” inilah yang menjadikannya disebut sebagai lebaran. Idhul Fitri adalah Hari Lebaran.

Pasar MuntilanLebaran adalah hari kegembiraan bersama. Tidak tua tidak muda, tidak laki tidak perempuan, termasuk anak-anak sudah pasti menyambut lebaran dengan luapan kebahagiaan dan kegembiraan. Bagi kebanyakan orang, terutama bagi anak-anak, lebaran juga sering  identik dengan baju baru, celana baru, sepatu baru, sarung baru. Semua hal baru hadir bersamaan datangnya lebaran. Sudah tentu hal yang paling penting adalah hadirnya hati yang baru, yang lebih taat, yang lebih taqwa, yang lebih bijaksana, dan segala hal yang lebih baik. Dan memang usai Ramadhan dan datangnya Syawal harus menjadi penanda terjadinya peningkatan kualitas hidup, secara  jiwa dan ruhani, setelah tergapainya predikat taqwa sebagaimana tujuan ibadah puasa Ramadhan.

Nah kembali kepada yang serba baru tadi, baju baru, celana baru, kerudung baru, sarung baru, peci baru, sandal baru, kain baru dan lain sebagainya. Untuk memenuhi serba-serbi kebutuhan baru tadi juga segala hal untuk kebutuhan Idhul Fitri, masyarakat di kampung saya di Tepi Merapi, sengaja mipik untuk berbelanja segala macam kebutuhan lebaran di pasar terdekat.

Khusus di Pasar Muntilan, yang merupakan pasar tradisional di wilayah Kabupaten Magelang, pada hari-hari menjelang lebaran senantiasa dipenuhi warga dari berbagai penjuru kampung. Dari wilayah Dukun, Srumbung, Sawangan, Ngluwar, Mungkid, bahkan Tempel dan Sleman, masyarakat memadati berbagai toko, ruko dan lorong-lorong di sudut pasar. Saking banyaknya pengunjung yang mencari barang kebutuhannya, lorong-lorong pasar menjadi lautan manusia. Mereka berdiri dan berjalan berdesak-desakan. Bahkan untuk sekedar menggerakkan tubuhpun hanya tersisa ruang yang sangat sempit sehingga tak jarang satu sama lain pengunjung saling berhimpitan badan.

Suasana pasar yang pada hari-hari biasa relatif sepi dan tenang, pada hari-hari tersebut menjadi riuh rendah. Suara manusia yang saling bertegur sapa, saling tawar-menawar, pedagang yang menjajakan dagangannya menjadikan pasar seolah kembali “berkumandang“. Hari-hari demikian sering kami istilah sebagai Hari Prepegan.

Prepegan berasal dari kata mrepeg. Mrepeg dalam bahasa Jawa merupakan kata sifat yang menyatakan suatu keadaan. Mrepeg bisa diartikan mendesak, kritis, juga tergesa. Mungkin dikarenakan menjelang lebaran, pikiran masing-masing orang yang datang ke pasar dipenuhi dengan angan dan rencana-rencana untuk mendapatkan barang kebutuhan yang diinginkannya guna menyambut hari kemenangan. Dalam kondisi demikian, dalam diri orang tersebut semacam ada dorongan beban yang ingin segera dituntaskannya. Itulah kondisi sumpeg bin mrepeg yang harus segera dituntaskan. Di sisi lain, secara harfiah, pada Hari Prepegan manusia memang berjubel memenuhi pasar. Suasana pasar bertambah ramai, padat dan mungkin juga sumpeg berdesak-desakan.

Di luar hari-hari biasa, Pasar Muntilan memiliki hari Kliwon sebagai hari pasarannya. Jika hari pasaran merupakan puncak keramaian pengunjung pada setiap sepasar dina (lima harian), maka prepegan justru merupakan puncak keramaian pasar yang berskala tahunan. Hal ini tentu saja tidak dapat dipisahkan dengan akan datangnya Hari Raya Idhul Fitri, yang merupakan hari agung bagi pemeluk agama Islam wabil khusus bagi ummat Islam di Pulau Jawa.

Suasana prepegan pasar yang hiruk-pikuk dengan ribuan pengunjung juga menimbulkan sisi kerawanan. Di tengah lautan manusia yang saling berdesak-desakan tidak jarang hadir tangan-tangan jahil bin kriminil yang memanfaatan keadaan. Maka tidak mengherankan pada saat prepegan tersebut sering terjadi tindakan kriminal, dari pencopetan, pencurian, penjambretan, bahkan gendam atau hipnotis. Di sinilah setiap pengunjung pasar harus benar-benar waspada dan berhati-hati dengan segala barang berharga dan uang yang dimilikinya. Salah-salah jika pengunjung teledor atau terlena sehingga kehilangan kewaspadaan, bukannya terpenuhi kebutuhan lebarannya tetapi justru kehilangan barang miliknya entah kecopeten atau kecurian.

Lepas dari itu semua, suasana prepegan pasar yang hanya hadir pada hari-hari menjelang Hari Lebaran memang sangat khas dan unik di masing-masing daerah. Hal inilah yang menjadikan banyak orang, terlebih para perantau di luar daerah, yang justru merindukan keramaian dan hiruk-pikuk suasa prepegan. Sampeyan pernah juga merasakannya?

Lor Kedhaton, 24 Juli 2014


Filed under: Jagad Budaya Tagged: idul fitri, lebaran, magelang, Muntilan, pasar malam, prepegan

Mudik lebaran menjadi saat yang paling ditunggu2 bagi kebanyakan perantau. Tidak hanya yang berasal dari Magelang, pemudik dari Jabodetabek yang berasal dari wilayah Magelang, Jogja hingga Solo setiap tahunnya melakukan perjalanan ratusan kilometer untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri di kampung halaman. Bagi para pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi, kemacetan di jalan raya pasti sudah […]

Lebih lengkap artikel tentang "Mudik Lewat Kota Magelang? Hindari Titik Rawan Macet Ini" dapat dibaca di Magelang Online - Informasi lengkap kota Magelang dan sekitarnya.

Kembali

-

Hamasah!

on 2014-7-24 4:25am GMT
Berita pulang.
Mestikah kita kembangkan seulas senyuman?
Ataukah memeras tangis di ujung Ramadhan?

Basa-(BASI)

-

Penjara Mahasiswa

on 2014-7-24 12:56am GMT
Di awal bikin blog aku pengen banget banyak yang mengunjungi. gak peduli mau baca atau nggak, bodo amat yang penting ada yang mau klik link blog ku. tapi setelah beberapa bulan ini jadi jarang nulis, ternyata yang mau balik baca juga gak ada. jadi mungkin orang yang dulu buka blog ku cuma sekedar lewat tanpa membaca dan suka sama tulisanku.



Dulu aku tiap hari nyebar link di group facebook biar orang2 pada klik link, dulu aku tembus 1000 view, sujud sukur aku. tapi buat apa kalo yang baca tulisanku mungkin cuma puluhan orang. dari yang dulu seneng banget banyak yang buka blog jadi malah kaya makan hati cuma orang2 yang mau dikunjungi balik blog nya.

Dulu aku juga pengen banget dapet penghasilan dari blog. mungkin cuma sekedar pengen seperti temanku yang sudah dapet recehan dolar dari blog. sampai sekarang udah setengah tahun lebih belum pernah dapet dolar dari blog ku.

ya aku ngambil hal positif aja. kalo mau ditekuni 100% harus fokus. jangan males2an buat kalian yang mau dapet recehan dolar dari blog. mungkin aku orang yang udah nyerah (iya.. mungkin)

sekarang aku dah gak mau terlalu ngotot buat nyebar link blog ku. aku lebih suka nulis apa yang aku suka. sukur2 ada yang mau baca. buat apa saling mengunjungi blog orang kalo cuma sekedar dibuka doang tanpa dilihat tulisannya. cuma Basa-(BASI). tapi aku juga suka blog walking cari tulisan yang bisa sejenak melupakan penatnya hidup.

ya termiakasih yang udah baca tulisanku yang ini. mungkin gak bagus, tapi aku nulis dengan kejujuran. makasih

Wassalam \o/

Setelah melalui berbagai proses perhitungan akhirnya kita mendapatkan Presiden baru.Kelak beliau akan memimpin negeri ini lima tahun kedepan.Dialah Joko Widodo/Jokowi.Jokowi  dan Jusuf Kalla berhasil mengalahkan Prabowo Hata.

Gak perlu panjang lebar, selamat buat pak Jokowi dan pak Jusuf Kala.Semoga ditangan beliau-beliau Indonesia bisa menjadi negara yang lebih baik lagi.Amin…


Satgas Khusus dibentuk oleh Kepolisian Resor Magelang guna mengamankan lokasi wisata Candi Borobudur selama libur lebaran 2014. Kapolres Magelang, AKBP Murbani Budi Pitono menjelaskan,”Satgas khusus ini dibentuk untuk penanganan masalah keamanan selama libur lebaran. Seperti kita ketahui kawasan Candi Borobudur selama libur lebaran pengunjungnya akan membludak sehingga rawan terjadinya aksi kriminalitas hingga kemacetan” Dalam Apel […]

Lebih lengkap artikel tentang "Selama Lebaran Keamanan Candi Borobudur Ditingkatkan" dapat dibaca di Magelang Online - Informasi lengkap kota Magelang dan sekitarnya.

Bupati Magelang, Zaenal Arifin melakukan kunjungan ke salah satu pasar tradisional terbesar di Kecamatan Muntilan. Dalam kunjungannya Bupati Magelang sekaligus memastikan persediaan dan perubahaan harga sembako menjelang datangnya lebaran 2014. Bupati Magelang mengatakan dalam kegiatan kali ini beliau ingin mengetahui langsung apakah persediaan sembako masih mencukupi permintaan yang ada serta seberapa besar kenaikan harga yang […]

Lebih lengkap artikel tentang "Bupati Magelang: Kenaikan Harga Sembako Masih Wajar" dapat dibaca di Magelang Online - Informasi lengkap kota Magelang dan sekitarnya.

Google Maps Android

Rencana rute mudik dengan Google Maps

Smarphone Android bisa membantu Anda untuk menghindari kemacetan selama mudik lebaran ini. Ada beberapa aplikasi GPS yang bisa digunakan, yaitu: Waze dan Google Maps.
Kedua aplikasi ini bisa digunakan sebagai pemandu jalan ketika mudik. Kedua aplikasi memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing (baca di sini: Google Maps dan Waze). Salah satu keunggulan Waze adalah seperti aplikasi SocMed, namun lebih focus pada GPS. Waze bisa melaporkan kondisi terkini di jalan dan pengguna bisa saling berhubungan dan berkomunikasi satu sama lain.
Berikut ini sedikit tip mudik dengan menggakan aplikasi GPS di smarphone Android.

A. Buat perencanaan route untuk mudik

Sebaiknya Anda pantau berita di televisi, radio, atau di Twitter. Untuk Twitter saya sering memantau kicauan dari @radioelshinta atau @infomudikllaj atau @lewatmana. Kemudian buat rencana rute perjalanan Anda. Untuk membuat rute ini bisa menggunakan Google Maps via PC. Tandai jalan-jalan yang berpotensi macet dan temukan jalur alternative terdekat. Sebaiknya Anda melakukan ‘review’ jalur-jalur alternative ini dan buat scenario jika Anda terjebak kemacetan di daerah itu.

Akan lebih baik lagi jika Anda bisa mendapatkan peta mudik yang biasanya dibagikan oleh petugas di jalan. Peta ini akan sangat membantu ketika Anda mengalami kemacetan dan bisa memilih jalur alternatif terdekat.

B. Siapakan Kendaraan Anda

Siapkan kendaraan Anda sebelum melakukan perjalanan. Cek ke bengkel langganan Anda. Pastikan bahwa kendaraan Anda siap untuk di bawa mudik.

C. Siapkan HP Android Anda

Persiapakan HP Android Anda sebelum mudik.

1.Pakai HP Holder untuk mobil. Holder ini sebagai tempat meletakkan HP. Holder bisa dipasang di kaca depan mobil sehingga memudahkan pengemudi untuk melihat peta di layar smartphone Android.
2.Charge HP Anda sebelum berangkat. Siapakan juga power bank dan jangan lupa juga di-charge penuh.
3.Isi pulsa HP Anda dan juga pulsa internet. Aplikasi GPS Waze memerlukan koneksi internet.
4. Jangan lupa juga kabel charger untuk mobil. Jika suatu saat HP anda low bat bisa dicharge dengan colokan di mobil.

D. Pada Saat di perjalanan

1. Sebelum berangkat coba tanyakana kondisi jalan via Twitter ke akun twitter @radioelshinta atau @lewatmana tentang kondisi jalan yang akan dilalui. Jika masih lancar kira-kira dalam beberapa jam ke depan Anda bisa melalui jalur itu. Tetapi jika macet, cari alternatif yang paling lancar. Meskipun kemungkinan semua jalur macet.

2. Melalui Waze Anda juga bisa menanyakan kondisi jalur ke pengguna Waze yang sedang melaui jalur itu. Caranya, coba cek jalur yang akan Anda lalui. Jika ada pengguna Waze akan terlihat di layar. Sentuk icon pengguna itu dan lalukan chatting. Jika pengguna itu sedang tidak mengemudi, mungkin dia akan memberitahu kondisi jalan saat ini.

3.Sebaiknya anda meminta bantuan salah satu penumpang/keluarga sebagai navigator. Dia yang bertugas mengawasi peta di Waze dan memantau kondisi jalannya.

4. Jika Anda terjebak macet, minta tolong navigator Anda untuk mencari jalur alternatif di Waze.

5. Pelajari jalur alternatif ini dan jika tidak macet, pindah rute ke jalur alternatif ini.

6. Selama dalam perjalanan sebaiknya dengarkan siaran radio Elshinta atau stasion radio lain yang menyiarkan kondisi lalu lintar di jalur mudik.

Selamat mudik. Mohon Maaf Lahir dan Batin.




Anak Baik

tiap habis subuh,
ayah mengajakku kemari
menimba angin asin
sarapan pasir dan laut

kami berenam bersama bayangan
kami selalu begini
diam mematung mencuri ombak
melarungkan doa

ayah bilang, ibuku ada di sana
bergelung dengan buih-buih samudra
jauh, di ujung sana
hmmm...aku dan adikku juga ingin
bergelung, rindu kami pada pelukan
ibu

ayah bilang, meski ibu jauh,
kami-aku dan adikku-mesti jadi
anak yang baik
berjuang mewujudkan cita-cita
untuk tanah yang lebih baik

ya, kami berjanji.


Pangandaran, Friday, ‎July ‎18, ‎2014,
‏‎6:48:31 PM

Selamat hari anak nasional 2014!
=)
Semoga apa yang kita cita-citakan bisa tercapai,
untuk Indonesia emas. Aamiin

Eling Sembahyang

-

Sang Nananging Jagad

on 2014-7-22 6:57am GMT

Pangripta Lagu: Ki Anom Suroto

Ki Anom SurotoWis wancine tansah dielengke

Wis wancine podo nindakake

Adzan wus kumandang wayahe sembahyang

Netepi wajib dawuhe pangeran

Sholat dadi cagaking agomo

Limang wektu kudu tansah dijogo

Kanti istiqomah lan sing tumakninah

Luwih sampurno yen berjamaah

 

Subuh Luhur lan Ashar

Sholat sayekti ngadohke tindak mungkar

Magrib lan Isyak jangkepe

Prayogane ditambah sholat sunate

 

Jo sembrono iku prentah agomo

Elingono ning ndonyo mung sedelo

Sabar lan tawakal pasrah sing kuwoso

Yen  kepingin  mbesuk munggah swargo


Filed under: Jagad Jawa Tagged: Ki Anom Suroto, tembang jawa, wayang kulit

Firefox trick

-

Petualangan pejalan kaki

on 2014-7-22 5:46am GMT
About:config mixed Disable

Tak ada yang sia-sia dalam hidup ini lantaran terkandung maksud syarat makna untuk kita renungi. Pagi ini tatakala shalat shubuh telah purna dan sang Imam pun membagikan untaian kata berbumbu doa. Sejumput kisah pun kukantongi dimana hal ini patut untuk kita renungkan dan ambil pelajaran.

Layaknya seorang penyelam mutiara yang punya tugas dari majikan untuk mengumpulkan mutiara-mutiara dari kerang di dasar laut, bersamanya pelengkap selam beroksigen penuh di pakaianya agar tugasnya berjalan lancar sebagaimana arahan sang majikan.

Saat penyelam mulai turun dan berada di dasar lautan, dipungutnya kerang mutiara yang terhidang dimana lambat laun keindahan bawah laut justru memalingkannya, hingga sipenyelam terlupa akan tugasnya untuk mengumpulkan kerang sebanyak-banyaknya.

Setelah beberapa waktu iapun tersadar dimana oksigen yang dimilikinya akan habis padahal tugasnya belum tuntas dan ia harus segera naik kepermukaan.

Disini kita dapat analogikan bahwa majikan ibarat Alloh Subhanahu wa Ta’ala, penyelam adalah kita sebagai manusia, tabung oksigen adalah jatah umur (usia) kita, dan mutiara adalah pahala atas ibadah yang kita lakukan selama di dunia dengan penggambaran lautan sebagaimana yang saya utarakan.

Dan pada masanya penyelam harus naik ke daratan lantaran oksigen habis, hal ini kita ibaratkan penggambaran akhirat dan hari pengisaban, dimana Alloh akan meminta pertanggung jawaban atas polah tingkah manusia.

Belajar dari gambaran penyelam kerang mutiara diatas, pantas kita ambil faedah nyata bahwa hidup tak boleh berakhir sia-sia pun keindahan dunia kerap kali menggoda, yang sebenarnya menipu dan tak berguna.

_______

Sederhana memang belajar hidup dari penyelam kerang mutiara. Namun sebuah tanya terbesit, “apakah penyelam aslinya tau bahwa pekerjaannya itu punya analogi apik terhadap kehidupan manusia saat ini ?”.

lionghokbio   KlentengKobong

Untung tak dapat diraih, malangpung tak dapat ditolak. Itulah sebuah perumpaan yang menggambarkan betapa sebuah kehendak takdir senantiasa di luar jangkauan kekuasaan manusia untuk menolak atau menghindarinya. Ungkapan kepasrahan tersebut seringkali diakitkan dengan datangnya sebuah musibah atau cobaan kehidupan. Sebagaimana telah dilansir di beberapa media, Klenteng Liong Hok Bio yang menjadi salah satu ikon sejarah komunitas Tionghoa di Kota Magelang mengalami kebakaran. Hal ini tentu saja mengundang keprihatinan banyak pihak, termasuk para pemerhati pelestarian bangunan bersejarah.

Klenteng paling bersejarah di Kota Magelang ini konon dibangun pada beberapa dasa warsa setelah selesainya Perang Diponegoro (kurang lebih 1864).  Adalah seorang Tionghoa bernama Be Koen Wie atau Be Tjok Lok dari Solo yang diangkat sebagai pejabat berpangkat luitenant untuk mengurisi pajak perdagangan candu dan kegiatan rumah gadai. Atas posisi dan kedudukannya Be Koen Wie menjadi salah satu hartawan yang kaya raya di Magelang. Dalam perkembangan selanjutnya ia mewakafkan sebagian tanah di sisi utara tempat tinggalnya untuk dibangun sebagai sebuah tempat peribadahan masyarakat China. Dalam perkembangan selanjutnya, posisi klenteng berada tepat di sisi tenggara sudut Alun-alun Kota Magelang sebagaimana saat ini dapat kita saksikan bersama.

Pada Selasa malam, 15 Juli 2014, di Klenteng Liong Hok Bio tengah berlangsung sembahyang peringatan Hari Makco Kwan In. Sembahyang tersebut ditujukan untuk memperoleh keberkahan Dewi Kwan In. Usai rangkaian ibadah tuntas dilaksanakan, para jamaah umumnya sudah pulang ke rumah masing-masing sekitar pukul 23.00. Sebagaimana kewajibannya selaku juru kunci klenteng, Pak Edi segera membereskan segala perlengkapan peribadahan. Lilin-lilin besar dan kecil dimatikannya. Demikian halnya dengan beberapa lampu penerang di ruang utama.

Setelah dirasa semua hal telah dibereskan, Pak Edi segera membersihkan diri serta segera melangkah ke ruang peristirahatannya yang terletaki di sisi kiri dalam bangunan klenteng. Waktu itu seingat dia sudah melewati puncak malam. Belum seberapa ia berbaring di tempat tidur dan belum sempat memejamkan mata, tiba-tiba berdering telepon di kamar istirahatnya. Begitu telepon diangkat, terdengar suara Pak Gito penjaga klenteng di sisi depan. Ia menyampaikan kabar bahwa dari ruang utama klenteng keluar asap putih tebal. Ia beranggapan telah terjadi kebakaran di ruang ibadah.

Bergegas Pak Edi menuju ruang ibadah utama. Dengan bergegas ia segera membuka pintu hubung samping ke ruang utama. Begitu pintu terbuka, asap putih mengepul pekat menyembur keluar dan segera menyesakkan nafasnya. Melihat kondisi demikian, Pak Edi secara naluri ingin segera lari keluar untuk meminta bantuan pertolongan. Namun di saat ia bergegas, ia sempat tersandung sesuatu dan terjatuh di lorong. Dengan terseok-seok, akhirnya Pak Edi berhasil keluar dari kepulan asap yang pekat.

Di saat hampir bersaan, sangat kebetulan sebuah mobil patroli polis tengah melintas di ujung Jalan Pemuda. Beberapa orang segera menyegatnya. Beberapa polisi yang bertugas selanjutnya langsung menghubungi pihak pemadam kebakaran. Tak seberapa lama, beberapa unit mobil pemadan kebakaran tiba di lokasi. Namun sungguh sayang, kepulan asap putih sudah terlanjur berganti dengan bara api yang membakar ruang utama di sisi depan. Demikianlah kira-kira kronologi tragedi terbakarnya Klenteng Liong Hok Bio di sisi tenggara Alun-alun Kota Magelang pada Rabu dinihari, 16 Juli 2014 yang lalu.

Pada saat Mas Bagus dari Komunitas Kota Tua Magelang menanyakan kepada Pak Edi, apakah ada firasat atau sesuatu pertanda yang dirasakan pada saat-saat akan terjadi musibah kebakaran tersebut, Pak Edi mengungkapkan, “Dari para pengurus tidak merasakan adanya firasat demikian. Namun justru dari para jamaah mengungkapkan ada sedikit kejanggalan pada saat berlangsungnya sembahyang Makco Kwan In. Ketika dimintai keberkahan, Sang Dewi tidak mengiyakan hingga permohonan ke tujuh. Padahal kebiasaan-kebiasaan yang selalu terjadi Dewi Kwan In tidak pernah menolak permohonan keberkahan hingga pada permintaan ke dua atau ke tiga saja.”

Bagaimanapun dan apapun penyebab tragedi terbakarnya Klenteng Liong Bok Hio, semua lapisan masyarakat Magelang tentu turut berprihatin. Penyeledikan dari pihak yang berwenang semoga segera bisa mengungkap sebab-sebab pemicu terjadinya kebakaran secara obyektif. Dan hal yang paling penting, semoga puing-puing ruang ibadah utama segera dapat dibersihkan untuk kemudian dibangun kembali ruang ibadah yang baru sehingga proses peribadahan bagi saudara-saudara kita tidak mengalami gangguan secara berlarut-larut.

Lor Kedhaton, 21 Juli 2014


Filed under: Jagad Magelangan Tagged: Alun-alun Magelang, Klenteng Liong Bok Hio, Kong Hu Chu, kota magelang, magelang

Ramadhan pantas dirindukan

-

Mastop Story

on 2014-7-21 12:31am GMT

Banyak hal yang terjadi di bulan ramadhan.Tak hanya menahan lapar dan dahaga saja.Masih banyak kegiatan lain yang telah membudaya.Dan yang paling menarik mungkin adalah mudik.Yang mungkin tak pernah saya rasakan hehe….

Walau tak pernah merasakan mudik namun saya merasa ramadhan adalah bulan yang istimewa.Yang pantas kita tunggu dan kita rindukan.Ramadhan itu selayaknya malam pertama bagi pengantin baru.Begitu banyak sensasi yang diberikan.

Kita akan merasakan kebersamaan yang luar biasa.Kaya atau miskin akan merasakan yang namanya lapar,haus,lemas dan sebagainya.Suatu kesetaraan,kenikmatan.Dan pada saatnya nanti kita akan merasakan kemenangan.

Ramadhan adalah salah satu nikmat yang diberikan Tuhan untuk kita.Selamat menjalankan ibadah puasa.


Apa enaknya berjudi???

-

Mastop Story

on 2014-7-19 5:06pm GMT

Saya benar-benar bingung dengan yang satu ini.Kira-kira apa ya enaknya judi itu??

Kalau mudah mencari uang saya rasa gak begitu juga.Namun kenapa banyak orang yang menyukainya?

Manusia memang selalu aneh….hmmmmm….


Windows Phone 8.1 atau juga disebut Windows Phone Cyan merupakan update dari sistem operasi Windows Phone 8.0 (Windows Phone Black). Sekiranya Microsoft memberi nama setiap update untuk Windows Phone sesuai abjad dan penamaannya merupakan warna. Sebutlah dimulai dari Windows Phone Amber, Black, dan yang sekarang Cyan. Di Indonesia sudah ada produk dari Microsoft Mobile (sebelumnya […]
Halo, selamat siang mas mbak semuanya. Semoga sampeyan semua senantiasa dalam lindungan Yang Maha Kuasa.



Jadi begini, Dalam rangka syukuran atas terbitnya buku pertama saya, "Jomblo Tapi Hafal pancasila", saya berniat menggelar giveaway (kontes) kecil-kecilan. Yah, namanya juga kecil-kecilan, jadi hadiahnya juga kecilan-kecilan.

LALU APA SAJA HADIAHNYA?

Pemenang 1
Mendapatkan satu buah buku "Jomblo Tapi Hafal Pancasila" dan satu buah buku "Ayah Edi punya Cerita"

Pemenang 2
Mendapatkan satu buah buku "Jomblo Tapi Hafal Pancasila" dan Buku "Sebelas Patriot"

Pemenang 3
Mendapatkan satu buah buku "Jomblo Tapi Hafal Pancasila"

BAGAIMANA ATURAN MAINNYA?
  1. Silahkan buat review tentang blog ini (agusmulyadi.web.id). Sampeyan bisa mereview blog ini secara keseluruhan, ataupun hanya salah satu artikel di blog ini. Buat review semenarik mungkin, tata bahasa bebas, asal jangan lebay. Ndak perlu panjang-panjang (wong hadiahnya juga cuma buku), nanti saya jadi ndak enak sama sampeyan.
  2. Tulis review sampeyan di blog (blognya bebas, boleh wordpress, blogspot, tumblr, dsb)
  3. Kalau sudah, silahkan share link artikel review sampeyan ke twitter dengan hashtag #AgusMulyadiNjalukRabi, silahkan mensen ke akun twitter saya @AgusMagelangan. Boleh juga Share di facebook sampeyan.
  4. Kirimkan data diri sampeyan ke email [email protected], Subjeknya: "Giveaway Jomblo Tapi Hafal pancasila", sedangkan isi emailnya berisi Nama lengkap, link artikel, akun twitter, dan nomor hape.
  5. Periode Giveaway ini akan berakhir sampai tanggal 8 Agustus 2014.
  6. Pengumuman pemenang akan saya umumkan tanggal 10 Agustus 2014 ba'da Maghrib, Via Twitter dan akan diupdate di blog ini.
Gimana? Gampang tho? monggo barangkali ada yang berminat...

Jurangjero Tepi Merapi

-

Pendekartidar

on 2014-7-17 7:15am GMT

Jurangjero2Pada akhir tahun 80-an terdapat proyek besar di beberapa kali yang berhulu di puncak Merapi, termasuk daerah Jurangjero yang merupakan hulu Kali Putih dan Kali Blongkeng. Proyek tersebut bertujuan untuk membangun infrastruktur yang berguna meminimalisir risiko dampak aktivitas Merapi, baik erupsi atau letusannya, maupun efek sekunder berupa kemungkinan terjadinya banjir lahar dingin. Melalui proyek tersebut dibangunlah cekdam (aslinya mungkin check dump) di beberapa titik aliran sungai yang dilengkapi dengan pembangunan tanggul-tanggul di tepian sungai-sungai tersebut. Struktur cekdam konon diadopsi dari ahli sipil dari Negeri Jepang yang dikenal sebagai teknik sabo.

Proyek besar tersebut banyak menyerap tenaga kerja lokal. Banyak sekali penduduk di selingkaran Tepi Merapi yang bekerja di proyek sebagai tukang pecah batu, pengaduk semen, tukang batu, sopir bighoe, sopir traktor, sopir dump truck, operator molen, atau para mandor pengawas dan lain sebagainya. Proyek nasional di bawah Kementerian Pekerjaan Umum tersebut memang dirancang sebagai proyek padat karya yang bisa menampung dan mengikut-sertakan warga sekitar untuk menjadi tenaga kerjanya. Saking banyaknya warga di sekitar dusun kami yang terlibat dalam proyek tersebut, setiap pagi dan petang hari, beberapa truk jemputan hilir-mudik menjemput atau mengantar para pekerja. Saking banyaknya pula pekerja proyek yang berasal dari luar daerah, di seputarannya pertigaan Gejukan pernah didirikan barak tingkat semi permanen yang dipergunakan untuk menginap para pekerja tersebut. Desas-desus anak SD kala itu, justru bangunan triplek bertingkat tersebut kelak akan dikembangkan menjadi penginapan atau hotel. Akh……ternyata analisis pikiran anak-anak masa itu sama sekali tidak valid.

Melihat kesibukan para pekerja proyek yang sedang bahu-membahu melaksanakan tugas mereka masing-masing merupakan keasyikan tersendiri. Pada liburan hari Minggu, anak-anak sekolah dasar seringkali banyak yang dolan ke Jurangjero sekedar menonton aksi bighoe, traktor, bulldozer, ataupun dumptruck. Bagi kami, para bocah ndeso, peralatan-peralatan proyek tersebut tentu saja dianggap sangat canggih bin modern. Dengan demikian, kami sudah pasti senantiasa berdecak kagum saat menyaksikan aksi para sopir bighoe yang lincah mengendalikan peralatannya untuk mengeruk pasir ataupun memindahkan batu besar.

Jurangjero3Sekitar tahun 1993, mega proyek pembangunan check dump dan tanggul di sepanjang bantaran sungai-sungai di Jurangjero rampung. Peresmian proyek bahkan kala itu dilakukan secara langsung oleh Presiden Soeharto, didampingi Menteri Pekerjaan Umum Radinal Moehtar. Acara peresmian diselenggarakan di Desa Kemiren yang terletak di pinggiran Kali Bebeng – Krasak. Bersamaan dengan acara peresmian, digelar pula simulasi penanggulangan bencana letusan Merapi. Banyak para warga, hansip, bahkan anak-anak sekolah dan pramuka yang dilibatkan dalam latihan tersebut. Sebagai bukti peresmian, Presiden Soeharto membubuhkan tanda tangan pada sebuah batu prasasti. Batu prasasti inilah yang kemudian ditempatkan di Jurangjero. (pada saat ini batu prasasti tersebut masih ada, tetapi prasastinya yang dilengkapi dengan tanda tangan Pak Harto sudah hilang)

Pasca selesainya mega proyek Merapi, ada sedikit perubahan dalam pola aliran lahar dingin dari puncak Merapi. Sebelum dibangunnya check dump dan tanggul di hulu sungai-sungai, banjir lahar dingin berupa pasir dan batu seringkali tidak tertahankan di bagian hulu. Dengan demikian aliran tersebut terus menuju ke bagian hilir yang menyebabkan terjadinya banjir di Kali Putih, Krasak, Blongkeng, Senowo dan beberapa sungai yang lainnya. Minimnya infrastruktur jembatan di berbagai sungai tersebut mengakibatkan akses perhubungan dan transportasi terputus pada saat keadaan banjir. Setelah proyek selesai, lahar dingin yang turun tertahan di check dump bagian hulu, sehingga banjir di sisi hilir tidak terjadi lagi. Hal ini tentu saja berdampak positif terhadap aktivitas masyarakat, seperti anak-anak sekolah yang tidak perlu lagi terganggu karena menunggu untuk sekedar menyebarang sungai apabila Kali Putih sedang banjir.

Di samping banjir kiriman dari hulu tertahan di bagian atas, material pasir dan batu juga tidak lagi turun hingga bagian hilir. Jika sebelum proyek selesai, penambangan pasir dan batu banyak dilakukan di sisi hilir sungai, maka penambangan semakin bergerak ke atas. Lambat laun penambangan menjadi terkonsentrasi di sungai pada kawasan hutan Merapi.

Jurangjero4Pada tahun 1994, Gunung Merapi kembali mengalami proses erupsi. Kejadian pada waktu itu juga diwarnai dengan turunnya wedhus gembel alias awan panas yang sempat sampai di kawasan Dusun Turgo di dekat Kaliurang. Kebetulan pada saat kejadian tersebut, terdapat acara hajatan pengantin di salah satu rumah warga Turgo. Akibatnya, terjangan wedhus gembel membawa beberapa korban jiwa penduduk, bahkan pasangan pengantin yang seharusnya menjalani masa bulan madu yang membahagiakan juga turut meninggal pada hari yang tidak bersamaan.

Erupsi 1994 menyisakan material pasir dan batu yang menumpuk di kepundan puncak Merapi. Tumpukan tersebut perlahan longsong ke bawah bersamaan terjadinya hujan di puncak gunung. Akibatnya check dump yang telah dibangun di hulu menjadi penuh dengan material hasil erupsi. Maka penambangan pasir dan batu bergeser ke sisi hulu. Tidak hanya terhenti pada penambangan tradisional yang dilakukan secara manual dengan mengandalkan linggis dan slenggrong, penambangan dengan alat berat mulai merambah sisi hulu. Bahkan pada tahun-tahun tersebut muncul PT Goro yang menambang di Merapi dengan berbagai perlengkapan alat modern, seperti bighoe, traktor, dan dump truck.

Kami tidak tahu persis apakah perusahaan tersebut murni perusahaan swasta atau badan usaha milik daerah, namun terdengar santer bahwa PT tersebut berkaitan dengan salah satu putra Cendana. Semenjak saat itulah, pelan namun pasti, para penambang pasir tradisional menjadi semakin terpinggirkan nasibnya. Untuk melindungi nasib para penambang pasir tradisional maka dibentuklah APPI, Asosiasi Perusahaan Penambang Merapi, yang diketuai Kyai Abdul Rozak dari Tegalrandu. Dengan adanya APPI, para penambang tradisional tetap diizinkan menambang pasir di kawasan sungai-sungai di Jurangjero di samping PT Goro yang menggunakan peralatan modern tadi.

Pergeseran pemerintahan dari orde baru menuju orde reformasi yang menimbulkan gejolak di berbagai daerah juga berdampak dengan operasional penambangan pasir Merapi di Jurangjero. Konon sempat terjadi gesekan bahkan benturan fisik antara massa penambang tradisional dan para pekerja PT Goro. Bahkan bentrokan tersebut sempat membawa korban jiwa yang hingga saat ini tidak bisa diungkap siapa dalang di balik peristiwa tragis tersebut. Diakui atau tidak, keberadaan penambangan dengan peralatan berat memang langsung maupun tidak langsung telah berdampak semakin terdesaknya nasib para penambang tradisional.

Ngisor Blimbing, 22 Juni 2014

Njajal WP4 Android

-

Mas Ivan™

on 2014-7-16 6:49pm GMT

Setelah sekian waktu kerap bertegur sapa dan membina hubungan yang lebih serius dengan Android, dini hari ini (selasa, 17 Juli 2014) saya pun mengambil keputusan untuk membina hubungan yang lebih intim bermaharkan apikasi WordPress For Android yang terinstal.

image

Nah, apa sih sebetulnya keistimewaan aplikasi ini hingga mau menjadikannya mahar ?

Selain permudah mobile blogging, WP4 Android juga mampu menjadi salah satu alternatif apik dalam memacu semangat pengunanya dalam mewadahi kreatifitas (terutama menulis), mempromosikannya kepada publik, juga turut mengkompilasi aneka gagasan yang pernah tertuang (melalui tulisan/gambar), dan menjadikannya ringkas hingga bisa dibuka dimanapun juga. Asal ada akses internet pastinya.

Lagian…siapa yang nggak mau intens update postingan, apalagi bisa sambil tiduran sebagaimana yang sedang kulakukan saat ini. Beneran deh… bakalan ketagihan kalo udah mencobanya. Dan jangan salah, dengan segenap ketebatasan yang di milikinya, kelebihan aplikasi ini justru mampu berikan ragam keistimewaan untuk terus dan terus mengenalnya semakin dalam.

Bagaimana, apa sampeyan juga udah memanfaatkannya untuk ragam keperluan, wabil khusus sebagai media bloging ? Ya, saya sarankan saat ini juga sampeyan segera mengunduhnya dan mencobanya sebagaimana saya. Sebagai awalan minimal aplikasi ini ada deh di layar depan. Syukur-syukur kalo bisa dan sempat mengoptimalkannya juga.

OK. sampai disini dulu dari saya yang ceritanya lagi masuk edisi “Njajal WP4 Android”. Sekilas saya merasa puas dan bangga atas terproduksinya aplikasi ini. Selebihnya…saya merasa makin berbunga-bunga, lantaran saya berasa dipermudah dalam megupdate blog dan bercengkrama dengan sosial media melalui gadget yang saya punya.

Bagaimana, ingin mencobanya juga ? Semoga saja demikian :D