Dari Para Pendekar

Lumayan lama nih gak nulis di blog. Gak kerasa, tau-tau udah lebih dari lima taun punya blog. Ratusan tulisan sudah tergenerate. Setelah kutelusuri baik-baik, ternyata ada lumayan banyak perubahan pola tulisan dari awal buat blog sampai hari ini.

Awal-awal ngeblog, Bahasa yang gue buat sepertinya gaya-gaya anak muda gahol. Begitu selanjutnya ada sedikit perubahan menjadi Bahasa yang sedikit agak formal, dan beberapa waktu belakangan ini gue nulisnya mostly ya formal-formal. Secara kebahasaan emang sih gue ngerasa jadi bisa bahasa yang lebih formal macam bikin laporan penelitian, bikin prosedur operasional standar (SOP), bikin jurnal ilmiah, tutorial, dan semacamnya yang office banget lah pokoknya.

Apesnya, seiring waktu ternyata produktifitas untuk menghasilkan sebuah tulisan menurun. Dulu gue kuat bikin satu tulisan sehari pas medio 2010. Tapi makin kekinian, Bahasa gue makin formal, makin banyak rule yang gue buat untuk tulisan yang gue anggep “pantes” dipublish di blog. Yes, imbasnya makin dikit tulisan yang lolos uji kepantesan dan jadi posting, sisanya paling pol kesimpen di draft, ada yang lebih apes masuk recycle bin, masuk trash, dan terhapus begitu saja.

Ternyata setelah gue pikir lagi, kebanyakan rule yang gue buat, makin dikit tulisan yang diproduksi. Iyes, rule itu bagus ketika gue mau nulis yang tujuannya biar dibaca orang. Nah untuk konteks kekinian, kupikir gue gak lagi perlu perhatiin itu rule, emang ini blog gue ada yang mau baca? Boro-boro baca, tau aja kagak.

Eh btw, gue nulis ini gegara gue pengen nulis ala anak muda lagi. Yo meski sakjane udah gak muda lagi sih. nyadar.

Tragedi Sandal Jepit

-

Sang Nananging Jagad

on 2014-10-30 1:41am GMT

Sandal1   Sandal2

Lagi-lagi ingin cerita soal sandal jepit. Masih senada dengan cerita yang pernah saya sampaikan di sini, kali inipun cerita sandal jepit ini bertemakan sebuah tragedi pilu yang hampir membuat malu. Jika cerita sandal jepit sebelumnya berkenaan dengan “hilangnya sandal”, maka kisah kali ini berkaitan dengan sandal bedhat, alias putusnya tali sandal atau srampat. Nampaknya bulan Oktober dua tahun berturut-turut ini saya mengalami pengulangan tragedi sandal jepit. Apakah hal ini hanya sebuah kebetulan semata, ataukah ada sesuatu makna yang terpendam? Yang jelas saya percaya bahwa hal ini sudah menjadi garis dan kehendak Sing Gawe Urip.

Jika tahun lalu, hilangnya sandal jepit telah mengharuskan saya membeli sepasang sandal baru di toko Almama, sesungguhnya tragedi tahun ini menimpa sandal yang tahun lalu telah saya beli tersebut. Hampir mirip dengan tragedi sandal jepit tahun lalu, selepas menunaikan sholat Maghrib di masjid yang sama, si Ponang sudah mengagendakan bapaknya untuk membelikan pecel lele kegemarannya. Namanya juga orang tua yang sayang anak, tentu saja permintaan itu tak enak untuk ditolak.

Sandal3Nah, pada saat akan menyeberangkan sepeda di pertigaan yang ramai dengan kesemrawutan kendaraan, tiba-tiba sandal jepit yang saya pakai terlepas. Dengan menahan rasa terkejut, saya langsung mengamati dan meneliti apa yang terjadi. Ternyata memang benar, srampat sandal bata yang saya japit dengan jempol kaki terputus. Haduhh, rasanya benar-benar seperti tertimpa kesialan yang luar biasa beratnya. Namun saya masih sempat mencoba tenang, bukankah saya naik sepeda? Kepala harus tetap dingin. Nalar harus tetap jernih. Bukankah dengan mengendarai sepeda, kaki yang tidak beralas kaki tidak akan kentara dan mencolok pandangan orang. Lagi pula saat itu kan hari sudah gelap. Ah, cuek sedikitlah!

Bagaimanapun masih ada agenda ke warung pecel lele yang tidak mungkin dibatalkan. Saya hanya sedikit geli bin keki saja jika ada satu-dua pasang mata yang memperhatikan kaki kanan yang saya seret-seret setengah berjingkat. Ndilalahnya, si Ponang pake merengek minta pecel lele di warung yang lebih jauh dari biasanya lagi. Ya, mau gimana lagi. Tugas seorang bapak harus tetap ditunaikan dengan tuntas.

Seteleh mengayuh sepeda beberapa saat, tibalah kami di warung pecel lele tepian jalan raya yang ditunjuk si Ponang. Untungnya, parkiran di muka warung tenda tersebut masih lapang dan sedikit remang. Hanya sorotan redup nan temaran dari dalam warung samar-samar  menerangi tempat itu. Sejenak menyetandarkan sepeda, saya diam sejenak. Secepat kilat berpikir, saya seolah menjelama menjadi Mac Gyver yang tidak pernah kehabisan akan dalam situasi yang genting sekalipun.

Sejurus kemudian, kepala saya tengokkan ke kanan dan kiri. Si Ponang sampai terheran-heran melihat tingkah laku bapaknya yang nganeh-anehi. Dan, pucuk dicinta ulampun tiba! Tiba-tiba saja pandangan saja tertuju kepada sebuah benda berwarna merah. Benda yang berupa gelangan terbuat dari bahan plastik lentur itupun saya pungut. Tak berselang lama, benda dewa penolong tersebut saya pasangkan pada tali srampat yang tersisa. Kebetulan juga saya segera menemukan sebuah paku bekas meski sudah berkarat. Dengan sedikit kreasi, paku segera saya kombinasikan dengan gelangan plastik tadi sehingga akhirnya sandal yang sudah bedhat tersebut dapat kembali kepada fungsinya untuk mengalasi kaki.

Sandal5Si Ponang geleng-geleng kepala. Awalnya mungkin ia berpikir bapaknya tengah kesurupan memedi sehingga bertingkah aneh. Namun setelah melihat hasil akhirnya, ia justru langsung mengacungkan jempol kanannya sambil bersorak hore. Ia seraya memuji “kreativitas” bapaknya dalam menghadapi kondisi darurat sandal bedhat.

Ada beberapa poin pembelajaran hikmah penting dari peristiwa sandal bedhat tersebut. Dalam kondisi sulit, terjepit dan darurat, seringkali kaki pikiran menjadi kalut, emosi, ditambah rasa panik. Dunia serasa gelap, seolah kiamat benar-benar telah datang. Alangkah baiknya dalam situasi demikian kita menarik nafas dalam-dalam. Kenali keadaan, lihat situasi sekeliling, tetap tenang! Siapa tahu juga ada hal-hal, entah benda, orang lain, atau apapun yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi masalah yang membelit. Sambil melakukan hal tersebut, galilah ide kreatif bin liar di balik kepala kita dengan cepat. Percayalah bahwa di dalam setiap kesulitan yang kita hadapi, Tuhan telah menyertakan pula pemecahan masalahnya walaupun hanya bersifat sementara. Famayya’mal misqoladzarotin khoiroh zarroh, wa mayya’mal misqoladzarotin syarroh zarroh.

Lor Kedhaton, 30 Oktober 2014


Filed under: Jagad Ngisor Blimbing Tagged: Alam Sutera, sandal jepit, si Kenyung, si Ponang
Mendaki Bukit Pronojiwo di Kabupaten Sleman, Yogyakarta
Salah satu tempat wisata yang menarik di Taman Nasional Gunung Merapi, Kaliurang, Pakem, Sleman selain air terjun Tlogo Muncar, Bukit Plawangan Turgo adalah Bukit Pronojiwo. Bukit Pronojiwo lebih banyak di kunjungi wisatawan di bandingkan dengan Bukit Plawangan Turgo karena letaknya yang tidak terlalu jauh dari pintu masuk obyek wisata Taman Nasional Gunung Merapi, hanya sekiar 800 meter untuk sampai ke puncak Bukit Pronojiwo. Selain itu jalan setapak ke puncak Bukit Pronojiwo juga sudah lumayan bagus, di beberapa bagian yang susah di lewati sudah di buat anak tangga yang terbuat permanen.
Mendaki Bukit Pronojiwo di Kabupaten Sleman, Yogyakarta

Saya dan teman saya  yang tidak terbiasa dengan jalan jauh dan jalannya yang menanjak cukup membuat nafas ngos-ngosan saat menaiki Bukit Pronojiwo. Sepanjang perjalanan ke Puncak Pronojiwo kami banyak menyaksikan berbagai pepohonan liar yang mungkin usianya sudah ratusan tahun, beberapa di antaranya hanya tinggal batang pohonnya saja karena terkena dampak erupsi Merapi beberapa waktu yang lalu. Masih banyak juga kera dan burung yang berkeliaran di sepanjang perjalanan. Sejuknya udara sepanjang perjalanan walau sudah siang hari dan rimbun pepohonan sedikit mengobati rasa capek dan lelah kami saat mendaki ke puncak Bukit Pronojiwo.

Sesampainya di puncak Bukit Pronojiwo kita bisa menyaksikan begitu menakjubkannya Gunung Merapi dari dekat dan Kota Jogja dari ketinggian. Di hari libur kita bisa menyaksikan Gunung Merapi melalui Teropong yang di sewakan ke pengunjung. Untuk masuk ke Kawasan wisata Taman Nasional Gunung Merapi di Pakem, Sleman, yang di dalamnya termasuk obyek wisata Bukit Pronojiwo, kita hanya membayar karcis masuk sebesar Rp. 5.500,- saja.

Sebenarnya rencananya kami akan mengunjungi juga Bukit Plawangan Turgo juga, tapi berhubung waktunya mepet dan sudah siang. Maka kami hanya mengunjungi Bukit Pronojiwo dan Air terjun Tlogo Muncar saja yang letaknya tidak terlalu jauh dari pintu masuk kawasan wisata taman Gunung Merapi, Tapi sayang sekali pas kami berkunjung ke sana beberapa waktu yang lalu, air terjun Tlogo Muncar tidak ada air terjunnya sama sekali karena kemarau panjang. Sayang sekali memang karena Air Terjun Tlogo Muncar adalah tempat yang banyak di kunjungi wisatawan saat berkunjung ke Taman Wisata Gunung Merapi dan Kawasan Kaliurang.
Mengunjungi Air Terjun Tlogo Muncar di Kabupaten Sleman, Yogyakarta
Di dekat pintu masuk kawasan wisata Taman Gunung Merapi juga di sediakan berbagai mainan seperti ayunan buat anak-anak. Jadi jangan khawatir untuk mengajak anak-anak anda liburan kesini. Sambil kita istirahat, duduk-duduk,  anak kita bisa main ayunan, gelantungan dll. Di tempat ini juga banyak kera yang berkeliaran, mendekati pengunjung untuk meminta makanan. Tidak usah takut dengan kera-kera tersebut, karena mereka tidak akan mengganggu kita selama mereka tidak di ganggu.

Relawan TIK2Era globalisasi identik dengan era informasi. Informasi menjadi sumber daya yang sangat penting dalam menentukan arah roda jaman. Ibarat buah simalakama, sumber daya informasi memiliki dua sisi kontradiktif yang senantiasa hadir secara bersamaan. Ada sisi positif yang bisa berguna untuk menumbuhkan, mengembangkan, ataupun meningkatkan harkat dan martabat peradaban manusia. Ada juga sisi gelap, sisi negatif yang justru dapat mendorong manusia tercebur ke dalam jurang kehinaan dan penderitaan.

Dalam konteks internet sebagai salah satu aplikasi kemajuan teknologi informasi, memang banyak tersedia situs yang berisi konten mengenai ilmu pengetahuan, informasi peluang usaha, pariwisata, kuliner, kekayaan seni dan budaya serta lainnya yang memberikan kemanfaatan positif dalam kehidupan kita sehari-hari.

Di sisi yang lain, internet juga ditebari dengan konten-konten yang justru menebarkan informasi bohong, palsu, memecah-belah persatuan dan kerukunan manusia, hingga muatan-muatan berupa gambar, tulisan, maupun video yang dipenuhi unsur pornografi dan pornoaksi. Konten-konten hitam inilah yang harus semaksimal mungkin kita hindari karena dapat mendorong manusia melakukan hal-hal yang menjurus kepada tindakan asusila, berdosa, dan melanggar aturan hukum.

Relawan TIK3 Relawan TIK4

Mempertimbangkan hadirnya dua sisi mata pedang informasi yang baik dan buruk, yang berguna dan mubadzir, yang menguntungkan dan merugikan, maka manusia dihadap kepada dua pilihan yang terkadang tidak mudah untuk memilihnya. Dengan demikian sikap kritis dan cerdas dalam memahami, memaknai, menggunakan, serta memanfaatkan teknologi informasi untuk tujuan yang berguna perlu terus ditingkatkan.

Secara formal, Kementerian Komunikasi dan Informatika memanggul tugas untuk membangun infrastruktur dan sekaligus melaksanakan edukasi publik terhadap pemanfaatan teknologi informasi untuk turut mendukung pembangunan serta kemajuan bangsa kita. Namun demikian, keadaan negeri Indonesia yang luas dengan berbagai kesenjangan-kesenjangan sebagai akibat belum meratanya proses pembangunan, juga dengan segala keterbatasan sumber daya yang dimiliki, kementerian ini perlu bersinergi dan dukungan berbagai pihak lain yang terkait. Dengan latar belakang inipulalah, Kementerian Komunikasi dan Informatika sejak beberapa tahun yang lalu gencar mendorong tumbuhnya para Relawan TIK sebagai ujuk tombak dalam edukasi publik untuk pemanfaatan teknologi informasi.

Berkenaan dengan hal tersebut di atas, bersamaan dengan pelaksanaan Jagongan Media Rakyat yang digelar pada 23-26 Oktober 2014 di Yogyakarta, sekaligus dilaksanakan pengukuhan Relawan TIK Provinsi DIY, Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, Sleman, Kulon Progo, Gunung Kidul, sekaligus Relawan TIK Kabupaten Magelang dan Temanggung.

Relawan TIK1

Selain melaksanakan program-program rutin berkenaan dengan pemberdayaan teknologi informasi, relawan yang baru dilantik juga mendapat tantangan untuk mempersiapkan pelaksanaan Festival Relawan TIK 2015 di Jawa Tengah atau DIY. Sampeyan-sampeyan tertantang untuk turut berjuang memajukan bangsa melalui advokasi penggunaan teknologi informasi? Monggo silakan bergabung dengan barisan Relawan TIK di wilayah masing-masing.

Lor Kedhaton, 28 Oktober 2014

Males menang

-

Mastop Story

on 2014-10-29 12:00am GMT

Sepak bola di Indonesia memang penuh dengan cerita. Dan cerita terakhir begitu menarik. Tak kalah dengan liga Inggris. Penuh dengan sensasi.
divisi utama

Namun jika diliga Inggris heboh mencari kemenangan, lain dengan di Indonesi. Dua kesebelasan di divisi utama ngotot pengen kalah. PSS Sleman dan PSIS Semarang. Mereka bertanding di babak 8 besar divisi utama.

Karena ngotot tak ada yang mau memenangkan pertandingan, maka kedua tim memasukan bola ke gawang mereka sendiri. Dan hasik akhirnya adalah 3:2 untuk kemenangan sleman. Kejadian ini membuat kedua tim di diskualifikasi dari turnamen.

Kejadian ini menambah suram sejarah sepak bola Indonesia. Masih seretnya prestasi timnas masih ditambah dengan masalah-masalah kompetisi. Sungguh memilukan.


Sudah cukup lama cerita ini mengendap di kepalaku. Cerita tentang kisah hidupnya Om Tino. Ini adalah lanjuta kisah yang saya tulis sebelumnya: Berbagi Pengalaman dengan Om Tino.

*****
Om Tino menceritakan bagaimana dia akhirnya menunaikan ibadah haji. Beberapa tahun sebelumnya istrinya sudah lebih dulu pergi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Om Tino tidak mau ikut. Ketika itu sama sekali tidak terbesit dalam pikirannya untuk pergi ke tanah suci. Ada banyak alasan yang dia utarakan untuk memenuhi ajakan istrinya itu. Intinya adalah Om Tino belum merasa terpanggil untuk pergi haji.

Entah dari mana awalnya, Om Tino lama kelamaan jadi ingin pergi haji. Om Tino sudah mulai sholat dan rajin ke masjid. Keinginan untuk pergi haji semakin kuat. Dia mengajak saudaranya untuk ikut serta dan Om Tino yang akan membayar semua biayanya. Padahal waktu itu Om Tino sedang jadi penggangguran dan dia tidak memiliki uang cukup. Saldo rekening bank menipis.

Om Tino membayar uang muka untuk saudaranya terlebih dahulu hingga mendapat nomor haji. Dia sendiri belum ada kepastian. Waktu terus berjalan dan dia masih belum bisa membayar setoran haji.

Sedikiy demi sedikit akhirnya Om Tino bisa membayar setoran haji untuk mendapatkan nomor haji. Om Tino diberi waktu beberapa minggu untuk melunasi biaya haji agar bisa dapat nomor kepastian untuk berangkat haji.

Keinginan untuk naik haji sudah menggebu-gebu, tapi uangnya tidak ada. Segala cara sudah dicoba, tetap saja uangnya tidak cukup. Dalam keputusasaannya Om Tino mencoba menghubungi kawan-kawan lamanya untuk pinjam uang. Ini langkah terakhir dia untuk mendapatkan uang. Beberapa teman bersedia meminjmkan uang, tapi ada syarat bunganya. Dia bisa memahami hal ini. Bagi pengusaha ‘tidak ada makan siang gratis’, mesti ada keuntungannya. Om Tino yang sudah mulai belajar Islam tahu jika ‘bunga’ itu riba dan merupakan dosa besar. Om Tino tidak ingin berangkat haji dengan uang haram. Dia urungkan untuk meminjam uang.

Waktu terus berjalan tidak peduli. Batas waktu pembayaran tinggal sehari lagi. Om Tino semakin gundah, saudaranya sudah dapat nomor kloter sedangkan dia tidak. Kalau Om Tino tidak mendapatkan uang pelunasan haji, dia tidak bisa berangkat haji.

Dalam kondisi gelisah, Om Tino inggat jika dia pernah meminjamkan uang pada seseorang sebanyak kurang lebih Rp. 30jt. Uang itu lebih dari cukup untuk ongkos pergi ke Baitullah. Om Tino datangi temennya yang meminjam uang. Om Tino utarakan jika dia sedang membutuhkan uang untuk melunasi biaya haji. Temannya berjanji besok siang akan melunasinya. Wajah Om Tino bersinar kegirangan. Impiannya naik haji akan segera terwujud. Esok hari adalah hari terakhir pelunasan.

Keesok harinya Om Tino menunggu dengan tidak sabar. Waktu pelayanan bank hanya sampai jam 14.30 WIB. Jika temannya tidak melunasi sebelum jam itu, dia terancam batal naik haji.

Untuk memudahkan pembayaran, Om Tino menunggu di loket bank. Bank yang biasanya ramai, berangsur-angsur sepi. Om Tino menuju ke loket, dia hafal dengan tellernya karena dia cukup sering ke bank untuk setor biaya haji. Om Tino bilang bahwa dia akan melunasinya hari ini. Hanya saja dia menunggu uang yang akan dibawa oleh temannya. Teller itu pun menuruti dan masih menunggu di loket meskipun hanya Om Tino yang duduk di kursi tunggu.

Om Tino mulai gelisah. Temannya terjebak macet. Jarum jam terus berdetak tanpa bisa dia hentikan. Jam 14.30 lewat, mestinya teller sudah tutup. Mbak penjaga teller juga sudah mulai tidak sabar. Sesekali dia melirik ke Om Tino. Om Tino semakin gelisah. Dia hanya berdoa terus agar bisa naik haji. Om Tino mulai pasrah.

Om Tino sudah bersiap-siap untuk pulang. Tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara pintu yang dibuka dengan kasar. Temannya datang. Alhamdulillah. Kata tahmid terucap dari bibirnya. Antara sedih dan senang bercampur menjadi satu. Kalau tidak malu air matanya sudah tumpah semua. Dari kejauhan teller berdiri dan menyaksikan keharuan ini.

Kantor bank sudah sepi sekali. Di ruangan besar itu seperti hanya dia dan tellernya saja. Om Tino segera meminta uang itu.  Dengan tergesa-gesa Om Tino menuju teller. Matanya berkaca-kaca. Ketika dia menyerahkan uang itu, Om Tino melihat jika kedua mata teller itu juga berkaca-kaca. Andaikan teller itu laki-laki mungkin sudah dipeluk erar oleh Om Tino.

Alhamdulillah. Akhirnya Om Tino bisa melunasi ongkos naik haji dan mendapat nomor kloter. Kebahagiaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Singkat cerita Om Tino berangkat menunaikan ibadah haji dengan lancar dan selamat kembali ke Indonesia.

Kini Om Tino semakin rajin sholat di masjid. Tapi, Om Tino juga kembali bekerja sebagai konsultan sebuah kafe kopi di pulau dewata.


Kemarin, tanggal 27 Oktober 2014 adalah Hari Blogger Nasional. Seperti yang udah kita ketahui, bahwa hari blogger nasional kali pertama dicanangkan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika (MENKOMINFO) Bapak Muhammad Nuh, secara spontan di Pesta Blogger 2007 silam. Saat gue tahu kalau kemarin hari blogger nasional, gue merasa seneng banget (seneng nggak jelas). Seperti teman-teman blogger lainnya

Bogor sudah dinobatkan sebagai kota termacet di Indonesia. Ada banyak cerita ketika menyusuri jalanan kota Bogor sambil menikmati kemacetannya. Salah satunya yang parah adalah kemacetan di pertigaan Gunung Batu.

Posisi pertigaan Gunung Batu memang unik, dari arah bawah adalah jalan menanjak tajam, dari arah barat laut adalah pasar gunung batu, dari arah selatan Pasir Kuda. Nah di tengah pertigaan ini ada taman batas berbentuk segitiga. Tidak ada traffic light di pertigaan ini. Pasir Kuda salah satu rawan macet. Pasar Gunung Batu juga rawan macet. Arah Merdeka yang relatif aman dari macet.

Pertigaan ini sangat rawan macet karena merupakan jalur tiga angkot, angkot No. 2 dan 3, angkot no. 5, 5A, dan angkot No. 14. Angkot No. 5, 5A dan 14 sering ngetem di tengah pertigaan ini. Tahu sendiri kan sopir angkot? Kalau berhenti sembarangan dan menutupi jalan mobil lain.

Ini awal mula kemacetan total di pertigaan Gunung Batu. Angkot No. 5 dan 14 mulai ngetem di pertigaan. Posisinya maju pelan2 dan menutupi jalur arah pasir kuda. Angkot yang belakang dari arah pasar Gunung Batu terus merangsek ke depan dan menutupi jalan dari arah bawah. Akibatnya mobil dari bawah berhenti. Efek domino. Mobil dari arah pasir kuda ikut tertahan. Posisi mobil jadi terkunci, maju tidak bisa mundur tidak bisa.

Ketika posisi sudah macet seperti ini, semua mobil akan berhenti dan semakin mengular. Mobil praktis tidak bergerak. Motor tidak bisa jalan. Sepeda diam saja. Bahkan orang pun susah dapat celah untuk berjalan. Terutama yang dari arah bawah. Bener-bener matot alias macet total.

Kondisi ini bisa terjadi sampai berjam-jam. Andaikan Anda mau lewat pertigaan Gn Batu dan kemacetan sudah sampai di dekat jembatan bawah sebaiknya Anda putar balik. Cari jalur alternatif. Jika Anda terjebak di tengah kemacetan bisa berhenti sangat lama.

Kemacetan bisa sangat panjang sekali. Kemacetan dari arah bawah bisa sampai ke jembatan, dari arah gunung batu bisa sampai Loji, dari arah pasir kuda bisa macet sampai Pasir Kuda-Bojong Menteng-Ciomas.

Parah sekali, kan?


Relawan TIK2Era globalisasi identik dengan era informasi. Informasi menjadi sumber daya yang sangat penting dalam menentukan arah roda jaman. Ibarat buah simalakama, sumber daya informasi memiliki dua sisi kontradiktif yang senantiasa hadir secara bersamaan. Ada sisi positif yang bisa berguna untuk menumbuhkan, mengembangkan, ataupun meningkatkan harkat dan martabat peradaban manusia. Ada juga sisi gelap, sisi negatif yang justru dapat mendorong manusia tercebur ke dalam jurang kehinaan dan penderitaan.

Dalam konteks internet sebagai salah satu aplikasi kemajuan teknologi informasi, memang banyak tersedia situs yang berisi konten mengenai ilmu pengetahuan, informasi peluang usaha, pariwisata, kuliner, kekayaan seni dan budaya serta lainnya yang memberikan kemanfaatan positif dalam kehidupan kita sehari-hari.

Di sisi yang lain, internet juga ditebari dengan konten-konten yang justru menebarkan informasi bohong, palsu, memecah-belah persatuan dan kerukunan manusia, hingga muatan-muatan berupa gambar, tulisan, maupun video yang dipenuhi unsur pornografi dan pornoaksi. Konten-konten hitam inilah yang harus semaksimal mungkin kita hindari karena dapat mendorong manusia melakukan hal-hal yang menjurus kepada tindakan asusila, berdosa, dan melanggar aturan hukum.

Relawan TIK3    Relawan TIK4

Mempertimbangkan hadirnya dua sisi mata pedang informasi yang baik dan buruk, yang berguna dan mubadzir, yang menguntungkan dan merugikan, maka manusia dihadap kepada dua pilihan yang terkadang tidak mudah untuk memilihnya. Dengan demikian sikap kritis dan cerdas dalam memahami, memaknai, menggunakan, serta memanfaatkan teknologi informasi untuk tujuan yang berguna perlu terus ditingkatkan.

Secara formal, Kementerian Komunikasi dan Informatika memanggul tugas untuk membangun infrastruktur dan sekaligus melaksanakan edukasi publik terhadap pemanfaatan teknologi informasi untuk turut mendukung pembangunan serta kemajuan bangsa kita. Namun demikian, keadaan negeri Indonesia yang luas dengan berbagai kesenjangan-kesenjangan sebagai akibat belum meratanya proses pembangunan, juga dengan segala keterbatasan sumber daya yang dimiliki, kementerian ini perlu bersinergi dan dukungan berbagai pihak lain yang terkait. Dengan latar belakang inipulalah, Kementerian Komunikasi dan Informatika sejak beberapa tahun yang lalu gencar mendorong tumbuhnya para Relawan TIK sebagai ujuk tombak dalam edukasi publik untuk pemanfaatan teknologi informasi.

Berkenaan dengan hal tersebut di atas, bersamaan dengan pelaksanaan Jagongan Media Rakyat yang digelar pada 23-26 Oktober 2014 di Yogyakarta, sekaligus dilaksanakan pengukuhan Relawan TIK Provinsi DIY, Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, Sleman, Kulon Progo, Gunung Kidul, sekaligus Relawan TIK Kabupaten Magelang dan Temanggung.

Relawan TIK1

Selain melaksanakan program-program rutin berkenaan dengan pemberdayaan teknologi informasi, relawan yang baru dilantik juga mendapat tantangan untuk mempersiapkan pelaksanaan Festival Relawan TIK 2015 di Jawa Tengah atau DIY. Sampeyan-sampeyan tertantang untuk turut berjuang memajukan bangsa melalui advokasi penggunaan teknologi informasi? Monggo silakan bergabung dengan barisan Relawan TIK di wilayah masing-masing.

Lor Kedhaton, 28 Oktober 2014


Filed under: Jagad Blogger Tagged: JMR 2014, Relawan TIK, Relawan TIK Jogja, Relawan TIK Magelang

Mesin Milling atau juga disebu frais vertikal adalah jenis mesin perkakas yang digunakan untuk membuat benda kerja dengan bentuk awal balok.Disebut frais vertikal karena arah arbor sejajar dengan sumbu y atau tegak.Sistem kerja mesin ini adalah alat potong dipasang pada arbor yang diputar dengan motor, dan pemakanan benda kerja dengan cara dipasang dimeja kerja dan digerakan dengan 3 sumbu gerakan x,y,z.Mesin Milling(Frais) ditemukan oleh Eli Whitney sekitar tahun 1818.

milling
Mesin miling mampu melakukan berbagai jenis pekerjaan.Beberapa pekerjaan yang bisa dilakukan oleh mesin milling yaitu:
Membuat bidang rataMungkin ini kemampuan utamanya.Yaitu meratakan benda kerja yang konturnya tidak beraturan.Dan pencekaman benda kerjanya sendiri dapat dilakukan dengan ragum ataupun dengan clammping.
membuat lubangSeperti yang diawal tadi,mesin milling biasanya dilengkapi denga mesin drilling.Jadi mesin ini juga mampu untuk membuat lubang.Bahkan mampu juga untuk membesarkan lubang.
membuat alurMesin milling juga biasa digunakan untuk membuat alur.Berbagai macam alur yang dapat dikerjakan.Seperti alur i,alur T,alur ekor burung dan masih banyak lagi yang lainya.

Selain pekerjaan-pekerjaan diatas tentunya masih banyak jenis pekerjaan yang bisa diselesaikan dengan mesin milling.Dan mesin ini benar-benar membutuhkan kreatifitas yang tinggi.Berbagai macam pekerjaan bisa dikerjakan dengan syarat kita harus kreatif.

Mungkin ini dulu,lain kali akan saya tuliskan alat-alat bantu atau hal-hal yang diperlukan dalam pekerjaan mesin milling.


Sumpah pemuda

-

Mastop Story

on 2014-10-28 12:00am GMT

sumpah pemuda

28 oktober, hari yang begitu bersejarah untuk Indonesia. Sebuah hari pengakuan untuk Indonesia. Hari sumpah pemuda.

Jika pada masa itu (1928), sumpah pemuda dimaksudkan untuk memperjuangkan kemerdekaan. Dan sekarang saatnya bagi kita generasi penerus untuk mempertahankanya. Kita tak perlu lagi mengangkat senjata untuk melawan kompeni. Kita tak perlu lagi setiap detik merasa ketakutan.

Yang kita perlukan sekarang adalah berpeluh keringat. Bekerja keras. Berfikir dan berfikir. Tujuanya hanya satu, menjaga sumpah pendahulu kita. Sekarang kita harus membuat Indonesia semakin maju. Selamat hari sumpah pemuda. Maju terus pemuda Indonesia


Setelah Gonjang-ganjing selama 6 hari, Akhinya presiden Joko Widodo mengumumkan Jajaran menteri sebagai pembantunya untuk bekerja periode 2014-2019. Berikut saya uraikan Anggota Kabinet Kerja 2014-2019 beserta Biodata Singkatnya : Menteri Sekretaris Negara : Praktikno ( Rektor Universitas Gadjah Mada ), Pendidikan terakhir Jurusan Political Science Flinder University Australia (1997) Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala […]
Hari ini 21 Oktober 2014, perwakilan dari SDN Salaman 1 berjuang dan berpartisipasi mengikuti lomba MAPSI (Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Seni Islami) XVI tahun 2014. Lomba yang dipusatkan di Gedung KPRI Dwija ini hampir mengikutsertakan seluruh SD di Kecamatan Salaman,

Mata lomba yang diikutsertakan antara lain ; PAI BTQ shalat (Pa Pi), Adzan, Tilawah (Pa Pi) Khitabah (Pa Pi), Maca Pat Islam (Pa Pi), Khat Kaligrafi (Pa Pi), Cerita Islami (Pa Pi), Rebana, LCC, Murotal (Pa Pi). Dalam hal ini SDN Salaman 1 mampu mengirimkan hampir semua cabang lomba. Karena suatu hal, sekolah belum dapat mengirim Macapat Islami dan Khat Pa.
Hasil yang diperoleh peserta SDN Salaman 1 diantaranya, Salma Khansa  mendapatkan juara 1 Pi Khitanah, Pery Budi juara 3 Cerita Islami, Shafira P. M. Juara 2 Cerita Islami, Rebana Juara 2, LCC juara 2 atas nama Fadheel Muhammad dan Brilliana Aura S. Serta Wahyu Nurlita mendapat juara 2 Murotal Pi.
Selamat untuk semua! ayo maju terus!



















Salah satu sekolah tua yang masih tegak berdiri yaitu SDN Salaman 01 yang berada di Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang. Tidak menutup kemungkinan sekolah tersebut merupakan sekolah tertua di Kabupaten Magelang

Apa social media platform yang sering kamu pakai? Path? Twitter? Facebook?  Tumblr? Apa sih manfaat memakai social media bagi kamu selain sebagai media untuk tetap bisa berinteraksi dengan teman-teman kamu yang jauh jaraknya? Lalu, apakah kamu pernah saling unfriend bahkan sampai ribut dengan teman kamu karena sesuatu hal di social media seperti dalam video di bawah ini?

Udah nonton videonya? Jadi kamu masih mau berteman dengan saya kan meskipun saya aneh (di social media)? Aslinya sih saya keren kok, nggak aneh. Ngok.

Video ini saya buat bersama team SOS Project  untuk Indomie. Sekilas proses syutingnya bisa ditonton di video di bawah ini.

Foto-foto behind the scenes

BTS 6 Alasan Konyol Unfriend di Social Media IMG_0362 IMG_0367 IMG_0373 IMG_0384 IMG_0414 IMG_0417 IMG_0422 IMG_0402

Oh ya, hari ini tanggal 27 Oktober adalah Hari Blogger Nasional. Dan weblog alias blog adalah salah satu bentuk Social Media lho.

Post by Anggun ‘Goenrock’ Adi Prasetya.

SELAMAT HARI BLOGGER NASIONAL!

 

 

 

The post 6 Alasan Konyol Unfriend di Social Media – Selamat hari Blogger Nasional! appeared first on GoenRock's VLog®.

Legenda Gua Pindul

-

Sang Nananging Jagad

on 2014-10-26 2:18pm GMT

Membicarakan perkembangan obyek pariwisata yang berkembang pesat di Gunung Kidul tentu tidak bisa dilepaskan dari Goa Pindul. Goa Pindul merupakan sebuah obyek wisata baru andalan Kabupaten Gunung Kidul yang berada di Dusun Gelaran, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, kurang lebih 10 Km arah timur laut Wonosari.

Gua PindulFoto unduh dari http://www.goapindul.files.wordpress.com

Goa Pindul mulai dikembangkan sebagai obyek wisata jelajah gua (cave tubing) pada pertengahan tahun 2011 yang lalu. Berawal dari gagasan beberapa pemuda setempat yang melihat potensi mata air di dalam gua bawah tanah yang sangat menarik untuk dijelajahi, mereka kemudian menyampaikan proposal pengembangan wisata Gua Pindul ke tingkat kelurahan, kecamatan, hingga kabupaten. Sangat kebetulan jika kemudian gagasan tersebut mendapatkan gayung sambut. Sebelumnya air dari mata air di dalam Gua Pindul hanya dimanfaatkan untuk irigasi pertanian dan perikanan setempat.

Melalui bantuan dana pembangunan dari berbagai pihak, mulailah dibangun infrastruktur penunjang obyek wisata. Akses jalan diaspal mulus, jalan setapak menuju pintu masuk gua dan di ujung pintu keluar gua juga dibenahi. Sarana dan prasarana pendukungpun tak lupa dibenahi, seperti tempat parkir kendaraan pengunjung, fasilitas wc dan kamar mandi, mushola, bahkan warung makan serta toko-toko cinderamata. Demikian halnya dengan perlengkapan yang dipergunakan khusus untuk wisata gua dan jelajah sungai, semisal ban karet, pelampung, kendaraan pengantar dilengkapi.

Tidak hanya terhenti pada pembangunan infrastruktur dan perlengkapan pendukung, pembinaan sadar wisata dan pengembangan usaha pendukung kepariwisataan juga disosialisasikan dengan gencar. Desa Bejiharjo kemudian menyandang predikat sebagai desa wisata yang dikelola secara mandiri melalui beberapa kelompok sadar wisata (pokdarwis). Hingga saat ini bahkan telah terbentuk sembilan pokdarwis yang mengelola secara bersama keberadaan wisata Gua Pindul.

Sebagaimana umumnya suatu tempat di kalangan masyarakat Jawa yang masih mempertahankan sejarah dan tradisi desanya, Desa Bejiharjo dengan Gua Pindul-nya juga menyimpan banyak legenda penuh misteri yang eksotik untuk disimak. Sebagaimana kisah yang disampaikan Mbah Bejo (bukan nama sebenarnya), konon katanya nama Gua Pindul berasal dari sebuah peristiwa yang terjadi tatkala bayi putera Panembahan Senopati akan dimandikan pada sebuah sendang di dalam gua. Untung tak dapat diraih dan malangpun tak dapat ditolak, pada saat sang pengasuh tengah memandikan bayi, pipi bayi tersebut terbentur dinding gua hingga menimbulkan sebuah benjolan (benjolan dalam bahasa Jawa disebut jendul). Seketika keluarlah ikrar Panembahan Senopati yang mengatakan, “Suk tembe mburi tumekan rejane jaman, guwo iki sun tengeri guwo Pindul (pipine njendul)”.

Bayi yang pipinya terbentur, tentu saja menangis kencang. Air mata berlinang dari kedua kelopak mata bayi suci yang belum mengenal dosa tersebut. Derasnya air mata sang bayi laksana mata air yang menghadirkan butiran-butiran air. Kejadian tersebut berlangsung tepat di pintu keluar gua. Maka semenjak saat tersebut, pintu keluar Gua Pindul disebut sebagai Banyumoto. Titik inilah yang selanjutnya dibendung agar air di dalam Gua Pindul senantiasa menggenang. Di samping itu, aliran air yang dihasilkan pada bendungan Banyumoto juga dialirkan ke arah aliran Kali Oyo yang dipergunakan untuk irigasi pertanian, perikanan, dan jelajah susur Kali Oya yang juga mendukung keberadaan wisata Gua Pindul.

Ketika telah keluar dari dalam gua, bayi Panembahan Senopati selanjutnya dibaringkan pada sebuah tikar, bahkan karena ketidakadaan pakaian, maka tikar pandan tersebut kemudian dipergunakan untuk menggedhong sang bayi. Tikar dalam bahasa Jawa disebut gelaran. Maka semenjak itu dusun tempat kejadian peristiwa tersebut dinamai Dusun Gelaran.

Di samping daya tarik dongeng legendanya, Gua Pindul juga menyimpan banyak pesona. Mata air di dalam Gua Pindul merupakan mata air abadi yang tidak pernah mengering meski pada musim kemarau yang sangat panjang seperti pada saat ini. Selanjutnya menjelajahi Gua Pindul dengan menggunakan ban karet sebagai kendaraan apung sambil berentengan dengan pengunjung yang lain membentuk sebuah rantai donat raksasa berbalut rasa kebersamaan yang sangat mengesankan.

Sebagai sebuah gua alam, Gua Pindul tentu saja menawarkan sajian struktur batuan kars yang sangat khas. Di berbagai sudut sisi gua banyak terdapat stalaktit dan stalakmit yang masih aktif dan terus tumbuh. Dari bentuk fisiknya yang sangat khas, beberapa stalaktit dan stalakmit di Gua Pindul selanjutnya menyandang beberapa nama seperti batu perkasa, watu gong, kuncup melati, dan lainnya. Pada beberapa sudut langit-langit Gua Pindul terdapat sarang beberapa hewan khas gua, diantaranya burung walet, sriti, dan kelelawar atau kalong. Dari gelap-terangnya area penjelajahan Gua Pindul dapat dibedakan menjadi zona terang, remang dan gelap abadi.

Selepas berpuas menjelajahi Gua Pindul, oleh tuan rumah, pengunjung akan disuguhi dengan hidangan makan siang secara prasmana. Menu-menu masakan khas tanah kapur Gunung Kidul akan menemani dan melepas rasa lapar setelah sebelumnya berkelana di Gua Pindul maupun Kali Oyo. Di meja hidang pengunjung akan terobati rasa kengennya masakan khas padusunan seperti nasi beras merah, sayur tempe krecek, sayur daun pepaya, urap, ikan wader, hingga krupuk gendar yang super renyah nan gurih. Menikmati sajian sambil lesehan dengan teman dan kerabat, sambil beramah tamah ataupun bercanda riang tentu merupakan sebuah momentum puncak rasa bahagia yang akan senantiasa terkenang.

Sudah sampai Jogja? Alangkah sayang jika tidak sekaligus mampir di wisata alam Gua Pindul! Dijamin akan ketagihan untuk kembali. Nggak percaya? Monggo dicoba dan buktikan sendiri!

Ngisor Blimbing, 26 Oktober 2014


Filed under: Jagad Wisata Tagged: desa wisata, Gua Pindul, Gunung Kidul, wisata air, wisata alam, wisata gua

image

Cari keringat, berdua saja sama Si Abim. Jalanan naik uphill, lewat sawah2, kampung2, tanjakan, dan sungai. Jaraknya tdk begitu jauh, 1 jam saja.


Standarisasi Endmill

-

Mastop Story

on 2014-10-26 12:00am GMT

Kemarin saya mendapatkan presentasi tentang alat potong.Alat potong untuk mesin perkakas tentunya.Dari pahat bubut hingga pisau frais/endmill dll.Termasuk kode-kode yang terdapat dalam mata insert.
endmill
Namun sayang dalam presentasi tersebuy saya tidak mendapatkan apa yang saya inginkan.Yang saya inginkan adalah standarisasi untuk endmill carbide.Dan ternyata tak ada standar baku untuk endmill.Saya kurang tau apa sebabnya.

Kode-kode baku yang terdapat pada insert ternyata tak terdapat pada endmill.Sangat disayangkan sekali.Endmill adalah alat yang sangat rawan rusak.Jika kita salah menggunakan maka bisa saja endmill itu langsung hancur.Padahal harga alat tersebut selangit.Mungkin dengan pengalaman dan kehati-hatian kita akan membuat umur endmill lebih panjang.


Menunggu pembuktian Van Gaal

-

Mastop Story

on 2014-10-26 12:00am GMT

united match day

Beberapa jam lagi kita akan menyaksikan sebuah pembuktian. Pembuktian seorang manager baru Manchester United. Dalam pertandingan nanti United akan menjamu Chelsea.
van gaal
Saya menyebutnya pembuktian karena hasil pertandingan nanti akan menunjukan kelas United. Sudah tepatkah yang dilakukan Van Gaal dengan belanja yang begitu besar? Atau malah sebaliknya.


image


Artikel lain tentang tanaman obat: Tanaman Obat
Deman atau suhu badan yang naik tinggi adalah penyakit yang umum pada anak-anak, terutama yang masih balita. Anak-anak bisa menderita deman lebih dari sebulan sekali. Orang jawa punya cara tradisional untuk menurunkan panas atau demam pada anak-anak, yaitu dengan dikompres daun dadap srep ( Erythine lithosperma) dan dibaluri dengan parutan bawang merah.

Jaman dulu orang kampung tidak mengenal parasetamol atau obat penurun panas. Apalagi orang miskin seperti keluarga saya. Boro-boro beli obat, buat makan saja susah. Untungnya orang jawa dulu punya kearifan lokal untuk menurunkan demam atau suhu badan yang tinggi. Yaitu dengan menggunakan daun dadap srep (Erythine lithosperma).

Sebelum dikompress anak dibaluri dulu dengan parutan bawang merah. Caranya, pertama ambil beberapa butir bawang merah. Kupas kulit keringnya kemudian diparut. Letakkan parutan bawang merah di mangkok. Tuangkan sedikit minyak kayu putih (Cacuput oil). Balurkan parutan bawang merah ini ke seluruh tubuh anak yang sedang demam.

Mbok Dhe saya, Mbok Dhe Karto, yang jadi dukun bayi biasanya mengerik anak yang demam dengan potongan bawang merah. Kalau ada anak yang sakit dan dibawa ke tempatnya Mbok Dhe Karto anak itu dikerokki dulu dengan bawang merah baru kemudian dipijit. Bawang merah memberi rasa hangat. Anak yang sedang demam biasanya merasa kedinginan, jika diberi bawang merah dia akan merasa hangat.

Daun dadap srep (Erythine lithosperma) biasanya ditemui di kebun atau di lereng-lereng hutan. Daunnya berbentuk hati dan lebar. Cara menggunakannya pun cukup mudah. Daun dadap di gulung tipis2 sampai lemas. Daun yang sudah lemas ini diletakkan di dahi anak yang sedang demam. Jika daun dadap kering, segera ganti dengan daun yang baru. Biasanya suhu badan anak perlahan-lahan akan menurun.

Paduan bawang merah dan kompres daun dadap srep bisa menjadi penolong ketika anak terkena demam. Jika demam/panas tidak turun lebih dari sehari baru kemudian di bawa ke dokter.


Artikel lain tentang tanaman obat: Tanaman Obat

image

image

image

image

image

image


Bentuk fisik suatu bangunan memang mudah sekali berubah. Entah itu karena selera dan keinginan maupun karena kebutuhan. Wajah SDN Salaman 1 juga mengalami perubahan di akhir tahun ini.
Kemunkinan perubahan akan selalu ada ditahun tahun mendatang. Berikut ini wajah fisik SDN Salaman satu terbaru (Oktober 2014)

Penampilan SDN Salaman 1 terbaru (Oktober 2014)

Masuk ke lokasi SDN Salaman 1

Pintu gerbang

Pemandangan sebelah kiri dari pintu kerbang

Pemandangan lurus dari pintu gerbang

Pemandangan sebelah kanan dari pintu gerbang

Sebelah kanan pintu gerbang, tempat parkir sepeda motor





Kantin sekolah



 Lorong, latar belakang mushola dari samping

 

Mushola dari depan yang sudah 95% selesai

Tempat laborat / penyimpanan peraga pembelajaran



Ruang UKS
 
 Ruang perpustakaan


Ruangan perpustakaan

Penghargaan perpustakaan
Salah satu sekolah tua yang masih tegak berdiri yaitu SDN Salaman 01 yang berada di Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang. Tidak menutup kemungkinan sekolah tersebut merupakan sekolah tertua di Kabupaten Magelang

Susahnya teratur ngeblog

-

Mastop Story

on 2014-10-24 12:42am GMT

Tak semudah yang dibayangkan. Mencorat-coret diblog dengan teratur dan berkualitas itu sangatlah sulit. Tak mesti setiap hari mendapatkan ide. Kadang ada ide namun susah menerjemahkanya. Susah membentuknya menjadi sebuah esay yang menarik.

menulis

Dan ini hanya tulisan blog. Hanya membutuhkan beberapa kalimat saja. Lalu bagaimana dengan menulis sebuah buku. Itu akan membutuhkan kekreatifan yang luar biasa.


Selamat tahun baru hijriah

-

Mastop Story

on 2014-10-24 12:00am GMT

tahun baru hijriah

Tepat 1436 tahun yang lalu dimulailah perjuangan umat Islam. Perjuangan untuk mendapatkan kemerdekaan beragama. Dan perjuangan itu dimulai dengan hijrahnya Nabi Muhammad saw dari Mekah ke Madinah. Perjuangan yang sungguh berat.

Dan bagi kita sekarang sudah seharusnya juga ikut berjuang. Berjuang mempertahankan apa yang telah diajarkan Nabi. Menjaga dan melaksanakan seluruh ajaranya.

Dan ditahun yang baru ini adalah saat yang tepat untuk merenung. Merenungkan segala kesalahan yang telah lalu. Tidak mengulangi dan memperbaiki di tahun depan.

Selamat tahun baru hijriah 1436. Semoga ditahun yang akan datang ditambah keimanan kita. Sehingga kita benar-benar menjadi orang yang bertakwa.


Dulu saya sempat membahas komputer tua bernama Jambrong di postingan The Amazing of Jambrong. Postingan (ga penting) itu memang saya dedikasikan untuk benda yang setia menemani saya semenjak kuliah sampai sekarang. Disitu terlihat jelas bahwa Jambrong hanya seonggok bujang lapuk sakit-sakitan yang membutuhkan pasangan hidup. Memang jodoh sudah ada yang mengatur, kini Jambrong tak lagi sendirian.

Jambrongwati, begitulah nama istri Jambrong. Ia adalah laptop ‘tua’ warisan kakak saya (entah kenapa sebagian besar barang-barang kesayangan saya usianya tua), meski tua dan berat namun performanya masih oke, tak kalah dengan laptop ranum keluaran terbaru. Ibarat body Dian Piesesha, performanya Raisa(kiamalia) *ga nyambung blas*. Sama halnya seperti barang kesayangan lainnya, dia pun punya sejarah hidup yang cukup panjang.

Dulu sebelum jatuh ke tangan saya, Jambrongwati sempat mengalami operasi besar. Keadaannya saat itu memang terlalu tragis untuk diungkap. Keyboardnya tak lengkap sehingga harus pakai pulpen untuk memencet huruf yang hilang, lemotnya Naudzubillah, tubuhnya penuh goresan (sampai sekarang sih), dalamnya berantakan banget, virus merajalela, terakhir lcdnya kena imbas karena sering didudukin ponakan (untung ngga dapat gelar almarhumah), ah pokoknya njelei banget. Mau tidak mau tukang servis ketiban durian runtuh gegara hal itu.

acer aspire 4372z 300x201 Seonggok Istri Untuk Jambrong

penampakan jambrongwati dari atas

Tak lama setelah kondisinya pulih dan perkasa lagi, saya sempat mendapat hak asuh sementara atas jambrongwati dengan motif saya membutuhkan dia untuk bimbingan dan sidang tugas akhir. Nggak mungkin kan saya harus menggotong Jambrong dan kawan-kawannya ke kampus? Atas asas kekeluargaan dan rasa iba, kakak saya pun rela meminjamkan Jambrongwati demi kelancaran tugas akhir adik tercinta. Sayang, namanya saja hak asuh sementara, beres tugas akhir Jambrongwati kembali ditarik dan berpindah tangan ke adik iparnya kakak saya.

Setelah berpindah-pindah tangan, akhirnya bulan Mei 2014 kemarin, saya berhasil mendapat hak untuk memiliki Jambrongwati tanpa harus sidang adopsi di pengadilan negeri. Ah, betapa bahagianya saya bisa memberikan istri untuk Jambrong yang semakin renta. Kini tak semua tugas dilimpahkan pada Jambrong, mereka bisa bekerjasama sesuai kebutuhan. Demi mendukung penampilannya, Jambrongwati kini tampil cantik berbungkus pakaian kebesaran bermotif batik (kebesaran arti sebenarnya). Indonesia banget, kan? (padahal sih cuma buat nutupin goresan di sekujur tubuhnya).

acer notebook 300x240 Seonggok Istri Untuk Jambrong

jambrongwati

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, beberapa hari lalu secara mengejutkan Jambrongwati kembali menunjukkan gejala tak sehat, saya ngga bisa buka aplikasi secara normal, semua harus lewat administrator, itupun ngga semuanya bisa. Setelah saya cek, ternyata sistem imunnya diserang oleh segerombolan virus liar yang mengancam nyawanya. Bukan virus HIV, HPV, apalagi virus cinta. Mungkin karena terlalu banyak flashdisk bervirus menancap ditubuhnya atau pasukan virus menyusup lewat dunia maya atau karena antivirus yang tak pernah saya update. Tak ingin mengambil resiko lebih, saya memutuskan membawa Jambrongwati ke dokter. Kebetulan dokternya masih teman kampus dan bengkel servisnya tidak begitu jauh dari rumah.

Panas terik tak menyurutkan niat saya mengantar Jambrongwati ke dokter. Kepepet aja sih sebenernya, Jambrongwati mau saya ajak berkelana, daripada sakit ditempat orang mending diimunisasi duluan, karena mencegah lebih baik daripada mengobati, kan?. Jambrongwati pun diinstal ulang agar lebih fresh dan jreng lagi. Tak perlu dicekokin minuman berenergi roso-roso atau biskuit macan, ia sudah kembali garang. Rrrrrr.

Kini ditengah suasana ‘dahsyatnya pengantin baru’ yang lagi lucu-lucunya, semoga Jambrongwati tetap sehat dan nggak sakit-sakitan sehingga bisa mendukung Jambrong untuk tugas yang ringan-ringan (soalnya batrenya ngedrop). Begitu juga dengan Jambrong, meski sudah empot-empotan semoga dia tidak meninggalkan Jambrongwati dengan status cerai mati. Jangan banyak jajan lagi ya, nak! Kurang baik apalagi majikanmu ini sudah mencarikanmu jodoh? *elus-elus jambrong dan jambrongwati*

passphoto dengan kamera HP

Passphoto Ibrahim.


Passphoto yang berukuran 3×4 atau 2×3 banyak kita perlukan untuk mengurus berbagai dokumen, mulai dari KTP, ijazah, SIM, surat pengantar, asuransi, BPJS, dan urusan ‘tetek bengek’ lainnya. Jaman dulu kita perlu pergi ke studio foto untuk mendapatkan passphoto itu. Tapi kini dengan kamera yamg ada di HP pun kita bisa membuat passphoto sendiri.

Kualitas dan resolusi kamera ponsel/ smartphone sudah lebih dari cukup untuk membuat passphoto yang berukuran kecil. Kamera ponsel ini bisa kita manfaatkan foto setengah badan. Bagian yang perlu diperhatikan adalah pencahayaan dan background/latar belakang. Pertama-tama kita perlu mencari latar belakang yang bersih. Saya biasanya memakai tembok yang bersih. Warna tembok sebaiknya terang, bisa warna putih, krem, biru muda atau warna lainnya. Kalau tembok Anda tidak ada yang bersih, boleh juga pakai tembok tetangga.

Berikutnya adalah pencahayaan. Perhatikan pencahayaan yang ada. Lokasi memotret sebaiknya cukup cahaya dan cahayanya lunak (soft). Maksudnya cahayanya tidak kontras. Cahaya merata ke semua bagian. Jika perlu bisa memakai reflektor dari kertas putih/lembaran styrefoam untuk menyeimbangkan pencahayaan.

Yang tidak kalah penting adalah orang yang difoto. Sebaiknya orangnya sudah mandi dan bersih. Pakai pakaian resmi, kalau perlu pakai jas dan dasi meski cuma atasannya saja. Rambut disisir rapi pakai minyak rambut. Jangan lupa pakai minyak wangi agar fotografernya tidak pingsan gara-gara bau badan.

Nah setelah itu posisikan orang yang akan difoto di depan tembok. Jangan menempel ke tembok, tapi agak maju sedikit kira2 setengah meter. Ketila memotret kamera tegak lurus sejajar dengan kepala/mata. Jangan terlalu ke atas atau ke bawah. Atur jaraknya agar setengah badan bisa masuk ke dalam frame kamera. Atur kamera dengan mode portrait/close up. Setelah fokus baru pencet tombol kamera. Review foto yang barusan di ambil. Jika kurang bagus ulangi terus sampai dapat foto yang paling bagus. Kadang-kadang saya memotret sampai 20 kali jepretan. Foto2 yang jelek tinggal dihapus saja.

Langkah berikutnya yang tidak kalah penting adalah mengedit foto. Foto yang baru diambil biasanya masih sangat mentah. Anda bisa menggunakan applikasi pengolah foto apa saja. Perbaiki kualitas foto dengan mengatur pencahayaan, white balance, kontras, dan jika perlu di-cropping.  Foto yang sudah jadi tinggal dibawa ke kios cuci cetak.

Sudah jadi. Mudah sekali, kan?
Salam jepret.

passphoto Yusuf

Muhammad Yusuf Abdurrahman

passphoto arroyan dengan kamera hp

passphoto Arroyan


manutd

Entah sudah sampai dimana acara sepak bola akbar, Liga Champione Eropa. Musim ini saya tak begitu mengikuti kabar beritanya. Alasanya, tak ada tim pujaan disana.

Musim ini liga champione memang tak lengkap tanpa United. Orang jawa bilang bagai sayur kurang garam. Kurang gimana gitu…

Dimusim-musim sebelumnya United menjadi warna tersendiri. Walau tak sering menjuarainya, namun kengototanya menjadikan persaingan semakin sengit.

Untuk musim ini pendukung united (termasuk saya) harus gigit jari. Menyaksikan liga champione tanpa warna merah. Dan entahlah untuk musim depan. Semoga gak sama :D


Jumat sore, 10 Oktober 2014. Saya menerima pesan dari seseorang bernama Rina, ia mengaku sebagai tim kreatif acara Ini Talkshow Net tv. Katanya, ia ingin mengundang saya sebagai salah satu narasumber di acara Ini Talkshow.

Pesan Rina Ini Talkshow

Usut punya usut, Redaksi Ini Talkshow rupanya ingin mengangkat fenomena edit foto yang dulu pernah melambungkan nama saya. Saya diminta untuk bercerita tentang ihwal edit foto tersebut, dan juga sedikit tentang keseharian serta tentang buku yang sudah saya tulis. (Belakangan, pembahasan soal buku tidak jadi diangkat karena suatu alasan).

Perasaan saya jadi ndak karuan, antara senang dan takut. Senang karena ini adalah kesempatan bagus bagi saya untuk lebih mengenalkan buku saya ke khalayak, takut karena karena saya mudah gugup kalau harus berbicara di depan banyak banyak orang, apalagi disorot kamera.

Namun setelah mempertimbangkan segala sesuatunya, akhirnya saya memutuskan untuk menerima undangan dari mbak Rina.

Sehari sebelum keberangkatan ke Jakarta, mbak Rina mengirimkan tiket pesawat PP Jakarta – Yogyakarta – Jakarta untuk keberangkatan tanggal 15 oktober.

Saya berangkat cukup pagi, karena dari rumah ke terminal Jombor Jogja dan dari Terminal ke Bandara sering tidak terkira waktu tempuhnya. Beruntung saya sampai di bandara tepat waktu (eh, mepet sih), saya sampai loket empat menit sebelum counter check in ditutup.

Penerbangan sempat delay cukup lama. Saya baru sampai jam setengah dua belas, terlambat 45 menit dari jam yang sudah dijadwalkan.

Sampai di Bandara Halim Perdanakusumah, saya kemudian dijemput oleh driver-nya Net tv, kalau ndak salah namanya mas Deden. Saya langsung diantar ke studio.

Sesampainya di Studio, saya langsung dipertemukan dengan Mbak Rina, Tim Kreatif yang menghubungi saya.

Tadinya saya sempat khawatir akan keterlambatan saya, karena kalau menurut jadwal, saya harus sudah on cam jam 12 siang, padahal saat itu sudah lebih dari jam 12. Ndilalah, jadwal syuting ternyata mundur satu jam.

Saya kemudian dipersilahkan menunggu di ruang tunggu.

Di ruangan berukuran sekitar 4x3 meter ini, sudah ada satu narasumber yang duduk manis menunggu, namanya Tika. Seorang gadis berparas amat cantik dengan senyum yang manis menawan (kalau bukan karena ingat anak istri di rumah, mungkin sudah rontok iman saya, hehehe).

“Mbak Tika, kenalkan, ini mas Agus, yang nanti jadi narasumber juga sama mbak Tika!”, begitu kata mbak Rina mengenalkan saya kepada si gadis bernama Tika tersebut.

Sayapun bersalaman dengan Tika, saling mengenalkan diri masing-masing dengan perkenalan yang lumayan standar. Saya dan Tika kemudian ditinggal di ruang tunggu oleh Mbak Rina.

Saya agak gugup, berada satu ruangan dengan mbak-mbak yang cantiknya setengah modar. Untunglah Tika ini orangnya pangerten dan cukup responsif. Tanpa banyak ba bi bu, ia menyapa dan mengajak saya ngobrol.

“Mas Agus sekarang sibuk apa mas?” katanya dengan diiringi senyum yang aduhai manisnya.

“Saya ndak sibuk apa-apa mbak, kalau mbak sendiri gimana, sibuk apa?” jawab saya sambil membalas tanya.

“Sama mas, saya juga ndak sibuk apa-apa!”

“Wah, berarti kita sama-sama ndak ada kesibukan ya!, hehehe!” (Ini saya ndak sedang berusaha mbribik lho ya)

Kami berdua hanya mengobrol sebentar, karena sesudah itu, kami sibuk dengan gadget masing-masing. Maklum, sebagai pemuda desa, saya nihil stok bahan pembicaraan, apalagi untuk lawan bicara yang cantiknya alamak seperti Tika ini.

Belakangan baru saya tahu, bahwa Tika yang ngobrol sama saya ini ternyata Tika Bravani, aktris muda yang namanya melambung lewat film ‘Alangkah lucunya negeri ini’ dan ‘Soekarno: Indonesia Merdeka’. Sumpah, saya tadinya ndak tahu kalau dia itu Tika Bravani, maklum saja, soalnya saya tahu Tika Bravani justru dari sinetron yang dibintanginya, yakni Bidadari-bidadari Surga, dimana ia berperan sebagai Laisa, Gadis desa yang punya kulit gelap. Sedangkan Tika yang ada di hadapan saya ini kulitnya putih pualam bak tembok rumah pas agustusan. Makanya saya agak kurang ngeh.

Tika Bravani

Tak berselang lama, Tika disuruh ke ruang make up. Tinggallah saya sendirian di ruang tunggu. Kira-kira sepeminuman kopi, masuklah Mbak Yurike Prastika ke ruang tunggu. Saya takjub. Bagaimana tidak, Yurike Prastika adalah salah satu artis idola saya, dan saya duduk hanya berjarak dua meter dari tempatnya ia duduk. Saking takjubnya saya, sampai saya hanya bisa menyunggingkan senyum ke arahnya yang ia balas dengan senyum pula.

Belum habis ketakjuban saya, ketakjuban lain pun muncul. Kali ini Maya Septha yang masuk ke ruang tunggu. Sumpah, Maya Septha ini cantik dan putih setengah mati. Ia juga ramah, baru duduk beberapa detik, ia langsung menghampiri saya dan menyapa saya.

“Ini mas Agus yang suka ngedit foto itu ya?”, tanya dia dengan senyum yang jelas tak akan bisa saya lupakan.

“Iya mbak!”, saya menjawab dengan singkat dan dengan diiringi dengan senyum pula, namun jelas senyum saya tak akan semanis senyum mbak Maya tentunya.

Baru sebentar saya berbincang dengan Mbak Maya Septha, saya dipanggil sama kru Net untuk persiapan make up.

Saya masuk ke ruang make up. Di dalamnya berjejer tiga kursi. Satu kursi di pojok sudah terisi oleh Mbak Rini Wulandari alias Rini idol (yang nantinya juga akan menjadi salah satu narasumber), sedangkan dua kursi lainnya kosong. Saya kemudian duduk di kursi tengah, sengaja agar bisa mencuri pandang mbak Rini Idol.

Saya sebenarnya sangat malas untuk dimake-up segala. Namun bagaimana lagi, ini sudah jadi prosedur. Lagipula, semua narasumber juga dimake-up kok. Tak apalah, sekali-kali mengikuti arus. #tsaaaah

“Wah, Mas rambutnya sudah dikasih minyak ya?”, kata si penata make up yang mengurus saya.

“iya je mbak, niatnya sih biar rambutnya kelihatan rapi,” begitu jawab saya.

“Ya sudah, kalau gitu kita keringkan rambutnya aja dulu pakai hairdryer, trus kita kasih gel ya mas!”,

“nggih mbak, saya manut saja!”

Wajah dan rambut saya kemudian dipermak sedemikian rupa. Disemprot sama cairan yang saya ndak tahu apa itu namanya, ditabur bedak, diunyeng-unyeng rambutnya. Pokoknya sangat protokoler.

Hampir 15 menit saya dimake-up.

Perubahan pasca make-up nampak sangat jelas, memang sih wajah saya tetap minor, namun setidaknya jadi kelihatan lebih segar dan bergairah.

Setelah dimake-up, saya kemudian disuruh masuk ke ruang wardrobe untuk memilih busana. Saya disuruh mengganti kaos melepas sandal saya, rupanya saya harus memakai kemeja dan sepatu. Oalah, jebul kostum doreng tentara khas malvinas yang saya pakai ini dinilai kurang layak masuk TV, Pun Sandal jepit baru yang saya beli beberapa waktu yang lalu rupanya dianggap kurang pantas untuk disorot kamera.

Jadilah saya tampil dengan kemeja berwarna ungu muda, celana panjang non jeans, dan dengan sepatu sneaker yang ukurannya longgar sama kaki saya. Praktis, saya berubah, menjelma menjadi pemuda kekinian, sangat tidak saya. Tapi tak apa, setahun sekali kok.

Oh ya, kira-kira begini tampilan saya dengan kemeja ungu muda yang begitu menggoda itu.

Agus Mulyadi Ini Talkshow Net

“Mas Agus nanti masuk di segmen ke dua, masih sekitar satu jam lagi, mas nunggu saja di dalam studio, sambil lihat proses syuting, sekalian membiasakan diri dengan suasana studio, biar nggak gugup!”, kata mbak Rina.

Di studio, sudah ada banyak kru dan pemain. Saya berjalan pelan ke arah kursi narasumber. Melewati deretan kursi host, saya lihat sudah duduk Sule dan Andre. Saya hanya melempar senyum, dan baik Sule maupun Andre juga hanya membalas senyuman saya.

Baik Andre maupun Sule kemungkinan belum tahu kalau saya nanti yang bakal jadi salah satu narasumber di acara mereka. Maklum, karena sebelum take, saya sama sekali tidak dipertemukan dengan Sule maupun Andre. Saya juga tidak diberi tahu perihal skenario talkshow Mungkin agar tercipta obrolan yang spontan dan menarik.



Saya menunggu di studio sekitar satu jam, satu jam yang terasa sangat lama. Saya sangat gugup, bahkan sampai berkali-kali bolak-balik ke toilet untuk buang air kencing saking gugupnya. Mbak Rina berkali-kali mencoba menenangkan saya.

“Rileks aja mas Agus, nanti juga biasa kok, pokoknya kalau ditanya, jawab aja dengan santai, nggak usah terlalu serius,” kata mbak Rina, saya hanya mengangguk pelan.

Akhirnya, setelah sekitar satu jam kurang sedikit, saya diberi aba-aba untuk persiapan take.

“Dan disini, sudah hadir salah satu praktisi edit foto yang sempat membuat editan foto bersama artis, inilah dia Agusss Mulyadiiii!”, Suara Andre Taulany terdengar kencang.

Saya langsung masuk ke arena studio Ini Talkshow diiringi dengan alunan musik dari band pengiring. Andre langsung berdiri dan menghampiri saya dan bersalaman dengan saya, begitupun Sule.

Saya langsung duduk di sebelah Rini Idol dan Tika Bravani yang sudah lebih dulu masuk.

Agus Mulyadi Ini talkshow

Agus Mulyadi Ini talkshow

Selepas itu, Sule dan Andre langsung bergantian bertanya seputar edit foto, keseharian saya, dan lain sebagainya.

Agus Mulyadi Ini talkshow

Selain berbincang-bincang banyak hal seputar edit foto, saya juga diminta untuk membacakan kuis, menirukan gerak host, bahkan menyanyi lagu Stinky untuk merayu Rini Idol. (Mohon maaf, untuk yang bagian ini, silahkan sampeyan lihat sendiri nanti di Net atau di youtube).

Agus Mulyadi Rini Idol

Proses syuting berlangsung dalam suasana yang sangat menyenangkan, aman, tenteram, dan sentosa. Apalagi pas adegan Maya Septha membuatkan saya minum, duh, berasa jadi seorang suami. Naluri kelaki-lakian saya bangkit, terlebih saat ia menyunggingkan senyum semribitnya, brrrrrr, berasa pengin menafkahi. Hehehe.

Syuting baru berakhir sekitar satu jam.

Setelah syuting usai, saya langsung berkemas, karena saya harus langsung bertolak pulang sore itu juga. Sebelum pulang, saya sempatkan diri berfoto bersama Sule dan Andre, yah, sekadar kenang-kenangan.

Agus Mulyadi Sule Andre

Jam lima sore, Saya diantar sama supir Net ke bandara Halim Perdanakusuma untuk bertolak ke Jogja malam harinya dan pulang ke Magelang, untuk kembali menjadi manusia.

Begitulah sodara, begitulah.

Update.. Ini link Youtube tayangan ini Talkshownya









Blue Lagoon Tirta Budi Yogyakarta
Sudah hampir sebulan ini harus wira-wiri Magelang-Sleman, Karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskan untuk tinggal di Sleman, seperti 1,5 tahun yang lalu. saya tinggal di Sleman tepatnya daerah Condong catur, Depok. Untuk tempat kerjaan yang sekarang juga tidak terlalu jauh dari tempat kerja dulu di Sleman, Sekarang kesehariannya saya tinggal di Dusun Jetis, Desa Widodomartani, Kecamatan Ngemplak.

Kecamatan Ngemplak walaupun tempatnya cukup terpencil tapi banyak menyimpan obyek wisata alami yang belum banyak di ketahui khalayak umum. Salah satu wisata alam yang baru saja di kembangkan adalah obyek wisata pemandian Tirta Budi atau yang lebih terkenal dengan sebutan Blue Lagoon Tirta Budi. Blue Lagoon Tirta Budi ini terletak di Dusun Dalem, Desa Widodomartani, Kecamatan Ngemplak.
Blue Lagoon Tirta Budi Yogyakarta
Di Blue Lagoon Tirta Budi ini selain kita bisa menikmati keindahan air yang berwarna biru langit yang memantulkan cahaya matahari di pagi hari, juga masih ada tempat pemandian lainnya yang leaknya tidak jauh dari Blue Lagoon, yaitu Sendang Lanang dan Sendang Putri.  Di Sendang Lanang dan Sendang Putri banyak masyarakat sekitar yang percaya kalau kita mandi di sana bisa menghilangkan capek, stress, pegal-pegal, menyembuhkan penyakit reumatik, gatal-gatal. Selain itu di Sendang Putri kita juga bisa menikmati terapi ikan. Tapi tidak semua orang bisa masuk ke Sendang Putri karena sendang ini hanya di khususkan bagi para pengunjung wanita, begitu juga dengan Sendang Lanang hanya di peruntuka bagi para pengunjung pria saja.

Kawasan obyek wisata Blue Lagoon masih alami, belum mengalami banyak bangunan di sana-sini. Untuk bisa masuk ke kawasan Blue Lagoon ini tidak di pungut biaya sepeserpun, hanya retribusi parkir bagi mereka yang membawa kendaraan saja. Karena letaknya yang agak di pelosok, bagi yang belum mengenal daerah Kecamatan Ngempak agak sulit untuk menuju ke Obyek wisata Blue Lagoon ini. Dari jalan Kaliurang KM 13 Mbesi, ambil arah ke timur lurus melewati jalan Mbesi-Jangkang sampai pertigaan yang ada Bank BPD DIY, Alfamart Ngemplak, Kantor Pos, Masjid Almu'awanah Jangkang. Ambil arah ke kanan, kurang lebih 300 meter ada tulisan jalan masuk ke obyek wisata Blue Lagoon.
Blue Lagoon Tirta Budi Yogyakarta
Obyek Wisata Blue Lagoon buka setiap hari dari jam 06:00 sampai 18:00, Bagi yang suka foto-foto selfie alangkah baiknya datang di pagi hari, selain karena belum terlalu banyak pengunjung selain itu pemandangannya masih alami sekali. Bagi anda yang akan berlibur ke Jogja, jangan lupa Obyek Wisata Blue Lagoon Yogyakarta ini menjadi salah satu tujuannya.

image

Angkot kota Bogor (Sumber:
New Bogor Geulis)

Bogor located in south of Jakarta. Bogor is satellite city of Jakarta together with other cities around Jakarta that called Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang and Bekasi). Most people work in Jakarta are living in Jabodetabek. Because they just living in Jakarta during the day and then back to Bodetabek after work, they called ‘day citizen’ in Jakarta and ‘night citizen’ in Bogor.

Bogor is very busy city. Bogor population is 987.448 peoples (2012) and 8.838 peoples per km2. For transportation, citizen of Bogor use bicycles, motorcycle or car, but mostly use motorcycles. And, for public transportation there are ‘angkot’ and small bus.

image

Angkot. Sumber: Ngabeb.blogspot.

Angkot or angkutan kota is small car with green paint. The route of angkot almost go to every places in Bogor. So, there are several routes with number code. For example: angkot number 2 is Sukasari to Bubulak terminal,  angkot Number 3 is Baranangsiang Terminal to Bubulak Terminal, and so on. Some codes added by small letter for alternate route in the same direction. For example: 2A and 5A. The angkot are mostly available 24 hours per day.

There are three terminal for angkot, i.e.: Baranangsiang, Bubulak, and Laladon. But, Laladon Terminal belong to Kabupaten Bogor and located just one kilometer from Bubulak.

Officially angkot population in Bogor city are 3.412 cars (Data from: http://megapolitan.kompas.com/read/2014/05/07/1524472/Bima.Arya.Ingin.Hapus.Citra.Bogor.sebagai.Kota.Sejuta.Angkot ). But, in reality the angkot population could be higher than these official data, because one angkot licence may be used by several cars. There are also a lot of angkot come from Kabupaten Bogor that almost 4.000 cars. It is a lot. So, Bogor also famous as the one million angkot city.

Even angkot serve the citizen to go to anywhere around Bogor, but sometimes it is not the easier way. Why? Because, for example, if I want to go to downtown I have to use two different angkot. First, I go by angkot no.5 and then continued by angkot no. 3 or no. 2, whereas the distance is no more than eight km. The worse is it need one hour, sometimes more than one hours. Crazy….

Angkot also give other problem. Angkot often stopped in discriminate. Specially when there are no policeman in the road. The angkot will prevent another car or vehicles to pass away. It could be a starting for traffic jam. There are a lot traffic jam location around Bogor. In my route, these are in front of Bogor Palace, Bogor Train Station, Merdeka Street, Gunung Batu intersection, Pasirkuda intersection,  Pintu Ledeng intersection and Ciomas/Panggugah. Sometimes the  traffic jam is very worse at Gunung Batu intersection. It could happen for several hours without any car can move even for one meters.

Government recently release most crowded cities in Indonesia. And the winner is Bogor. Bogor is the most crowded and most traffict jam city in Indonesia. See: http://m.detik.com/finance/read/2014/10/21/161434/2725620/4/2/ini-kota-termacet-di-ri-bogor-nomor-1-dan-bekasi-nomor-6. Average speed in Bogor is 15 km/h. V/C ratio is 0.86. It is mean that the road capacity will full with vehicles.

I personally prefer to use motorcycles than angkot, car or bicycle to go to my office. Distance of my home to my office are 6.8 km. Not so far. But, I use car or angkot it takes almost one hours. If I use motorcycle it just take 15 minutes. I have tried to use bicycle, but it is not good alternative. I will very sweaty and wet. I will also inhale a lot of dirty smoke.

I am dreaming that someday Bogor will be like Göteborg, Sweden or Melbourne, Aussie. The city road are almost free with car or angkot. The park will be beautiful and clean. The air will be fresh.

I hope …. someday it will be come true.


Rondo Semoyo kipahit

Rondo Semoyo (Tithonia diversifolia), tanaman gulma yang memiliki banyak manfaat. (Sumber: Wikipedia)

Tanaman ini banyak tumbuh di belakang rumah saya di Magelang, di sepanjang Kali Bening. Bapak saya menyebutnya Rondo Noleh atau Rondo Semoyo. Tanaman ini tumbuh cepat, subur, dan sulit dikendalikan. Kalau diperhatikan dengan seksama daun-daun tanaman ini mulus dan tidak ada ulat atau serangga yang memakannya. Kata Bapak, daun Rondo Semoyo ini bagus untuk obat gatal-gatal atau kudis. Caranya menggunakannya sederhana saja, daun direbus sebentar dengan air panas kemudian digunakan untuk mandi. Daunnya dipakai untuk mengosok bagian kulit yang gatal atau kena kudis dan eksim. Bisanya kudis dan eksim akan cepat mengering dan kemudian sembuh.

Rondo Semoyo kipahit

Rondo Semoyo (Tithonia diversifolia), tanaman gulma yang memiliki banyak manfaat.

Tanaman ini ternyata cukup banyak tumbuh di tempat-tempat lain dan dengan nama daerah yang lain juga. Waktu saya ke NTT, orang NTT menyebutnya tanaman bunga kuning. Kalau di Sunda disebut dengan kipahit. Tanaman ini memiliki banyak manfaat, salah satunya digunakan untuk pestisida nabati. Menurut saya memang benar, tanaman ini sangat tahan serangan hama dan penyakit. Tanamannya tidak dimakan serangga atau ulat. Daunnya mulus tidak ada lubang-lubang. Setahu saya juga tidak ada penyakit yang menyerang Rondo Semoyo ini.

Mungkin kemampuan ini dikarenakan tanaman ini memiliki kandungan senyawa yang tidak disukai penyakit atau beracun bagi hama serangga, sehingga tidak ada hama dan penyakit yang bisa menyerangnya. Senyawa ini bisa diekstrak dan dimanfaatkan sebagai bahan untuk pestisida nabati. Saya memiliki resep pemanfaatan daun Rondo Semoyo untuk pestisida nabati. Lihat linknya di sini: Resep Pestisida Nabati.

Khasiat kipahit atau nama ilmiahnya Tithonia diversifolia ternyata tidak hanya sebagai pestisida nabati. Tanaman ini juga bisa digunakan untuk mengatasi penyakit kencing manis atau diabetes. Karena itu tanaman ini juga dikenal sebagai tanaman insulin. Tanaman ini bisa mengendalikan kandungan gula darah selayaknya insulin. Menurut beberapa berita di internet ekstrak tanaman ini memang bisa dipakai untuk mengatasi gula darah. Bahkan ada beberapa testimoninya.

Berikut ini resep pemanfaatan daun Rondo Semoyo untuk mengatasi kencing manis:
1. 10 lembar daun Rondo Semoyo
2. Rebus dengan 4 gelas air hingga tinggal satu gelas.
3. Minum 1 gelas x 3 kali sehari. Jadi sisa airnya diminum pagi hari, siang hari, dan sore hari.

Untuk pengobatan diminum 3 kali sehari. Jika sudah mulai membaik dapat diturunkan sekali atau dua kali sehari.



Markopolo (jongkok di tengah, kaos hitam)

Sore itu, Saya, Markopolo, dan Duwek asyik bercengkerama sambil mabuk (saya ndak ikut mabuknya lho ya) di buk perempatan jalan dekat rumah saya. Yah, hitung-hitung menghabiskan sore hari sambil menunggu kawan-kawan lain pulang kerja.

Sambil ngobrol, Sesekali, Markopolo dan Duwek bergantian minum ciu dari botol aqua ukuran sedang yang sudah dihilangkan labelnya. Maklum, karena hanya dua orang, mabuknya pun tidak dibandari (dituang di gelas sloki dan diputar sesuai giliran minum), melainkan ditenggak langsung dari botolnya secara bergantian.

Entah bagaimana ceritanya, obrolan kami tiba-tiba menyasar tentang Aini, gadis tetangga desa yang baru saja pasang behel di giginya.

“Untu wis apik-apik, kok seh dikawat, warnane biru sisan, malah koyo pager kantor PLN!”, celoteh Markopolo.

“Haiyo, jan koyo kurang gawean, ha nek kowe gus, minat ra pasang kawat untuk koyo mono? Mbok menowo mrongosmu kelong sithik-sithik”, tanya Duwek pada saya.

“Ah, ra minat aku, wis teko ngene wae, rasah dikawat-kawat barang, teko narimo ing pandum wae tho, rasah aneh-aneh, mrongos yo mrongos”, jawab saya agak bangga dengan kemrongosan saya.

Sesaat, saya jadi takabur, saya merasa menjadi orang yang paling bersyukur di dunia.

“Bener gus, ra usah aneh-aneh pasang kawat untu, untumu ki kan wis dadi ciri khas, rasah diubah-ubah. Yo mbok menowo suk kowe mati nang ndalan lak polisine njuk gampang le ngidentifikasi, ra perlu main otopsi, cukup ndelok cocotmu!” kata Markopolo sengak.

“Ndiasmu mlocot kuwi su!” umpat saya. Dan kami bertiga pun tertawa terbahak-bahak.

“Sek, tak nang warung dilit!”, kata saya seraya bangkit dari duduk dan melangkah ke warung mas Andri yang lokasinya hanya beberapa langkah dari tempat kami ngobrol.

“Gus, Signature loro gus!”, kata Marcopolo sambil memicingkan sebelah matanya dengan sangat genit, Signature merujuk pada salah satu varian rokok milik Gudang Garam: Gudang Garam Signature.

“Ha duite endi?”, tanya saya.

“Hayo melu kowe tho, ngono kok yo seh takon lho, ha nek aku nduwe duit ra bakal aku nembung ro kowe!”

“Asu, wegah, duitku meh entek, nek ra nduwe duit yo wis, rasah ngudud!”

“Lha dhewe ki nek omong-omongan ngene trus ra ono rokok’e ki jan njuk koyo wong padu je!”

“hahaha”, saya tertawa kecil, saya sudah hafal, ini siasat basa-basi Marcopolo kalau minta dibelikan rokok, basa-basi yang teramat garing kerontang, namun sering sukses membuat saya luluh. Saya pun melangkah ke warung dan membelikan dua batang rokok signature sesuai pesanan Marcopolo.

“Nyoh!”, kata saya sambil melemparkan dua batang rokok pesanan Markopolo. “Le mbayar sesuk yo ra popo!”, kata saya menggoda Markopolo. Yang digoda hanya nyengir nglegani.

Markopolo pun langsung meraih satu batang rokoknya dan langsung menyalakannya.

Belum habis seperempat batang, tiba-tiba muncul mas Trimbil dengan mengendarai motor Astrea Grand kesayangannya. Mas Trimbil adalah seorang Dept Collector yang ngontrak di dekat rumah Markopolo.

Mas Trimbil berhenti di dekat tempat Saya, Markopolo, dan Duwek ngobrol

“Rokok ko?”, kata Mas Trimbil menawari Markopolo rokok.

“Wah, rasah mas, matursuwun, ki wis nduwe rokok kok!”, kata Markopolo sambil menujukkan rokoknya yang masih belum habis, mencoba menolak dengan halus pemberian rokok dari Mas Trimbil.

“Halah, iki, teko jupuk wae, turahan kok!”, kata mas trimbil memaksa sambil mengulungkan sebungkus rokok Dji Sam Soe kepada Markopolo. “Jupuk kabeh wae!”, tambahnya.

Markopolo rikuh, dan dengan agak sungkan, tapi mau bagaimana lagi, ia pun kemudian mengambil sebungkus rokok yang ditawarkan oleh Mas Trimbil. Saya tahu, dalam hati, sebenarnya Markopolo girang bukan main karena diberi rokok oleh Mas trimbil ini. Hanya mungkin, Markopolo masih punya gengsi yang agak mumpuni.

“Matursuwun lho mas, matursuwun!”

“Yo,” kata mas Trimbil singkat sambil berlalu.

Begitu dilihatnya mas Trimbil sudah cukup jauh dan dirasa cukup aman, Markopolo langsung memeriksa bungkusan rokok yang ada di tangannya, dilihatnya dengan seksama. “Wah, jan lumayan tenan, isine seh akeh, mung gek kelong papat!”.

“Oalah, jan rejekine wong mabuk ki ono wae, Gusti Alloh ki cen apikan, wong mabukan we seh dikei rejeki rokok, isine meh sak bungkus sisan!” Kata Markopolo.

Saya tercekat dengan kalimat Markopolo, kali ini saya merasa menjadi orang yang paling tidak bersyukur di dunia.

JKJKLazimnya sebagai ummat beragama, setiap langkah kerja senantiasa diawali dengan doa. Dalam tuntunan Islam, bahkan setiap kerja dapat diniatkan sebagai amal ibadah. Pada titik inilah bisa jadi doa menjadi benang merah penghubung dimensi kehidupan duniawi dan ukhrawi, antara dimensi horisontal dan vertikal, sebuah pijakan transedental antara manusia dengan Tuhannya.  Jika setiap kerja senantiasa dilaksanakan pada pijakan transendetal diharapkan tidak ada penyalahgunaan kerja yang dapat menimbulkan kerugian atau ketidakmanfaatan bagi manusia, bagi alam, dan tentunya untuk Tuhan. Kerja adalah sebuah karya untuk memperbesar kemanfaataan sebagaimana tuntunan Tuhan. Alangkah indahnya dunia. Anda sepakat? Nah, bagaimana jika justru sebuah kerja dimulai dengan pesta?

Secara formal, mungkin pesta sebelum bekerja tidak menjadi masalah. Tetapi mungkin dari segi aspek moral, etika, budaya, atau agama sebagaimana telah terpapar dalam uraian sebelumnya, apakah hal tersebut sudah tepat? Dalam khasanah tradisi keseharian, baik di lingkungan keluarga, kerja, ataupun kelompok masyarakat yang lebih luas, setidaknya kita mengenal syukuran atau tasyakuran, di samping ada pula “selametan“. Apakah ada relevansinya dengan pesta?

Istilah pesta, mungkin lebih identik dengan suka ria, bergembira ria, bahkan bersenang-senang, hura-hura hingga lupa aturan, lupa daratan, lupa diri dlsb. Intinya pesta ya identik dengan ekspresi kebebasan yang sebebas-bebasnya, tanpa kendali, tanpa batasan. Pesta jenis ini merupakan pesta yang sama sekali tidak produktif dan membawa kepada tindak kemudharatan atau kemaksiatan. Contoh nyatanya ya apa yang kita dengar sebagai pesta sabu-sabu, pesta arak, pesta sex, ataupun pesta kumpul kebo. Bukankah yang nampak hanyalah pemuasan nafsu yang akan menuntun manusia kepada kesesatan serta kerusakan moral?

Dalam konteks lain ada juga pesta padi, pesta buku, pesta kebun, pesta ulang tahun, pesta pernikahan, ada juga pesta rakyat. Untuk model pesta yang ke dua ini, konteksnya lebih tepat sebuah ungkapan rasa syukur terhadap karunia nikmat Tuhan. Dalam pesta juga dijalin hubungan harmonis terhadap sesama makhluk Tuhan. Dari suatu benih atau niat kebaikan, harapannya kemudian ditanam, dirawat, ditumbuhkembangkan lebih meluas menjadi nilai kebaikan yang akan benar-benar bermanfaat bagi semua.

Kembali kepada konteks syukuran atau tasyakuran, jenis pesta dengan spirit kebaikan sebagaimana contoh ke dua merupakan hal yang sepatutnya kita tumbuh kembangkan bersama dengan pemaknaan sebuah pesta merupakan wujud rasa syukur untuk memohon ridlo agar kenikmatan yang telah diberikan bisa lebih bermakna di masa depan. Syukuran merupakan ungkan rasa terima kasih kepada Tuhan setelah kita melakukan, menjalani, atau melampaui sebuah peristiwa, juga kerja, dengan selamat atas bimbingan-Nya, jauh dari halangan dan rintangan. Kenikmatan baru akan menjadi sejatinya kenikmatan jika kenikmatan tersebut dipergunakan sebenar dan sebesar-besarnya untuk mendukung jalan ketaatan kepada Tuhan.

Jadi setelah bekerja baru pesta? Demikianlah semestinya menurut saya. Bukankah berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian? Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian? Bekerja keras terlebih dulu, baru kemudian memetik hasil atas jerih upaya tersebut? Lalu bagaimana saat pemimpin baru dilantik, justru malah rakyat berpesta dalam pesta rakyat?

Pertama, dalam konteks pribadi seorang pemimpin baru, saat pelantikan adalah titik awal ia mengemban amanah rakyat. Di sinilah beban berat seorang pemimpin sejatinya baru dimulai. Pada momentum seperti ini, nenek moyang kita justru mengajarkan lelaku selametan. Dalam sebuah prosesi selametan, bukan ucapan atau ungkapan selamat bahwa seseorang telah berhasil menduduki jabatan pimpinan. Lha wong kerja baru akan mulai kok sudah bicara berhasil! Dalam sebuah selametan yang dikedepankan justru pemanjatan doa agar si pemimpin dilapangkan jalan ke depan, dihindarkan dari segala macam bentuk halangan, diberikan petunjuk mulia, diberikan kesabaran luas, dan segala macam harapan kebaikan agar amanah yang telah diberikan oleh rakyat bisa diemban dengan sebaik-baiknya. Selamat sampai tujuan dalam memangku jabatan.

Kedua, dalam khasanah sejarah kepemimpinan ummat Islam, titik pelantikan jabatan oleh Sahabat Abu Bakar as Siddiq justru dilihat sebagai sebuah musibah. Ia justru mengucapkan kalimat “inna lillahi wa inna ilaihi roji’un“, segalanya berasal dari-Nya dan segalanya akan kembali juga kepada-Nya. Kalimat yang sering diidentikkan dengan peristiwa kematian ini menunjukkan bahwa sebuah amanah jabatan kepemimpinan merupakan sebuah cobaan yang tidak ringan. Jabatan, pangkat dan kedudukan lebih dilihat sebagai musibah dibandingkan sebagai anugerah. Apakah masih ada pemimpin yang memiliki prinsip yang sama?

Ketiga, jika syukuran dikaitkan dengan keberhasilan seseorang dalam mengemban sebuah tugas, amanah, jabatan atau kursi kepemimpinan, maka yang layak menggelar tasyakuran mestinya adalah pihak yang telah paripurna memegang tampuk kepemimpinan. Apakah ia berhasil atau tidak menjalankan amanah rakyat selama memangku jabatan, tentu rakyat sudah sangat cerdas untuk memberikan penilaiannya.

Lalu bagaimana dengan pesta? Pesta rakyat? Setidaknya kita masih bisa berbaik sangka bahwa semoga pesta yang ada memang perwujudan atau bentuk rasa syukur atas anugerah seorang pemimpin yang memberikan harapan hari depan yang lebih baik. Namun demikian, batas-batas pesta agar tidak menjurus kepada tindakan berlebihan, berboros ria, pesta pora hura-hura yang menjadi pegangan bersama. Bagaimanapun sebuah harapan masih memerlukan proses pengujian ruang dan waktu yang tidak instan, jangka panjang, bahkan mungkin antar generasi.

Karena istilah pesta rakyat sudah sedemikian salah kaprah yang menjadi kabur batasannya dengan tradisi tasyakuran maupun selametan, paling tidak marilah kita arahkan pesta tersebut untuk lebih mendekati makna yang semestinya. Selamat bertugas dan bekerja “sangat keras” untuk kepemimpinan nasional kita yang baru. Semoga Indonesia benar-benar menuju era baru yang lebih baik dari masa lalu. Semoga tuhan merahmati cita-cita kita bersama. Kerja kita masing sangat panjang.

Lor Kedhaton, 20 Oktober 2014

 


Filed under: Jagad Bubrah Tagged: Jokowi, Jokowidodo, Presiden Baru
Maksud hati ingin segera pulang setelah membeli beberapa kebutuhan bangunan, eh ternyata kendaraan tidak bisa di starter. Kecurigaan pertama pada aki yang baru saja di ganti. Setelah beberapa kali coba saya yakin kalau Aki bukan penyebab dari masalah tersebut. Kemudian dicoba dengan di dorong, ternyata tetep saja tidak mampu untuk menghidupkan mesinnya. Akhirnya telpon saja Honda Experience dan

Mango Season

-

Berbagi Tak Pernah Rugi

on 2014-10-19 5:48pm GMT

image

This month is mango season in Indonesia. It is between October until December. Mango is delicious fruit: sweet, little sour and fresh. There are several different kind of mango, such as: mana lagi, gedong, arum manis, gadung, golek and kopyor. If you come to Indonesia in this month, you should to try mango. You will not disappointed. Guaranteed.

My father of law has more than three mango trees in Pati (a small town on Central Java). We always happy and never get tired to eat mango. We likes mango ‘arum manis’. ‘Arum manis’ mean fragrant and sweet. It smell is fragrant and strong. And the color of the pulp is yellow or orange. The taste is sweet without any sour even in young fruit. Arum manis mango is big, relatively bigger than other mango.

Gadung mango is smaller and round like a ball than Arum Manis. Gedong mango is not as sweet as Arum manis and little bit sour specially when young. But, we also likes this mango. Sometimes we eat young mango, we  eat with ‘sambel lotis’ or chilli caramel sauce. Most japanese people like ‘lotis’. ‘Lotis’ is combination taste of sour, spicy, and sweet. You should to try also.

Kopyor mango is name given by my father in law. We eat this mango with different way than usual. We hit the mango fruit with hand until crush. Than, we make a small hole on the end/tip. We eat from this hole.

image

There are a lot of mangos sell in the local market. Mango is very cheap no more US$ 1 until 1.5 per kilo. There are also some mango seller in road verges. But, in supermarket the price is higher.


Kadang dalam kesendirian, saya merasakan kemirisan yang teramat dalam. Betapa tidak, di usia saya yang sudah menginjak 22 tahun ini, saya belum juga diberikan momongan, eh, pendamping maksudnya. Pokoknya ngenes. Dua adik perempuan saya sudah kenal yang namanya pacaran, adik pertama saya malah sudah gonta-ganti pacar. Sedangkan saya? Persis seperti absensi kelas satu SD, NIHIL.

Kawan-kawan seangkatan saya rata-rata sudah pada punya pacar, beberapa ada yang sudah berumah-tangga, dan bahkan segelintir diantaranya malah sudah punya anak, untung saja ndak ada satupun teman seangkatan saya yang sudah punya cucu.

Nah, atas dasar itulah beberapa tetangga dan kerabat sering meledek saya, "Kapan kamu mau kawin?", dan biasanya saya jawab dengan enteng, "Saya masih mencoba mencari wanita terbaik, karena selama ini, wanita-wanita yang mendekati saya hanya mengincar tubuh saya semata" #Hassuk.

"Saya ini kan kerjanya belum mapan, belum punya kapabilitas untuk berumah tangga, lha wong masang regulator tabung gas saja saya masih belum cakap kok. Ibarat buah, saya ini masih belum gemading ataupun matang, saya ini masih mentah,"

"Lho, tapi kan buah mentah bisa dimatengkan lebih cepat, pakai karbit misalnya, Hayo!, jadi kapan kamu mau nikah gus!", sanggah kerabat saya.

Ah, pokoknya kalau sudah urusan nikah, saya pasti kalah omong. Selalu kena skak mat dan kehabisan kata-kata untuk menyanggah. Padahal kalau sudah ngomongin hal lain, mulut saya ini sudah bagaikan magazine yang pelurunya berebutan untuk keluar.

Dikiranya saya ini ndak pengin nikah apa? Saya ini sebenarnya juga sudah pengin nikah, Imron saya sudah bergejolak sejak lama. Tapi hanya belum ada saja calon yang bersedia cocok. Jadi mau gimana lagi, ya harus sabar. Sabar sampai Alloh mempertemukan jodoh saya kepada saya. Toh saya sudah berusaha, mulai dari stalking sampai ngegombal. Berdoa juga ndak ketinggalan. Padahal dalam hal kriteria wanita idaman, saya ndak menuntut kriteria yang tinggi-tinggi kok, Cantik ndak papa, yang penting kaya dan sholekhah.

Dan juga sebagai laki-laki, saya ini baik hati, pinter, rajin nabung, bukan tapol, punya blackberry lagi (walau bekas dan ndak pernah saya paketin). Hayo, kurang apa lagi coba? kan ya cuman kurang cakep aja tho?

Nah, untuk para wanita lajang yang kebetulan baca blog ini, saya kasih tahu satu hal. Kalau anda nikah sama pria cakep, putih, tinggi, kaya, lagi baik hati, yakinlah, setiap ditinggal suami, maka anda akan senantiasa was-was, takut suami anda dicolek perempuan lain. Tapi kalau anda nikahnya sama pria yang mukanya minoritas (saya contohnya), maka anda akan tetap tenang dan istiqomah di rumah saat ditinggal suami. Boro-boro dicolek perempuan lain, setan mau ndulit juga sungkan.

Nah, jadi, untuk para perempuan, sudahkah anda minum yakult hari ini?

Artikel ini juga Diulas di Yahoo, Silahkan Dibaca Disini

WiFi Huawei 5372s Bolt 4G merupakan modem buatan Huawei berteknologi 4G yang telah bundling dengan Bolt 4G. Video ini menunjukkan cara memasang ulang (setelah dibongkar) WiFi Mini Portable Router Huawei 5372s Bolt 4G. WiFi Mini Router unlocked, sebagai contoh dalam video diisi dengan kartu Indosat (HSDPA).

Note: Video ini tidak menunjukkan cara unlock WiFi Router Bolt 4G Huawei 5372s.

Malam ini adalah malam terakhir pak SBY menjadi pemimpin negeri ini.Karena esok presiden yang baru akan dilantik.Beliau adalah pak Joko Widodo alias Jokowi.

SBY kini akan menjadi kenangan kita. Segala kebijakan yang telah beliau keluarkan akan menjadi kenang-kenangan untuk kita. Seperti apapun kebijakanya kita tetap akan mengenangnya. Dan ucapan terima kasih rasanya pantas untuk kita ucapkan.

Dan kedepan kita akan menyongsong hari-hari baru bersama pemimpin baru. Jokowi adalah harapan baru kita. Dan semoga beliau benar-benar sesuai untuk negeri kita ini.


Joget Reggae
Joget Reggae (Source: kainhitampresent.blogspot.com)

Obrolan di Warung mas Andri siang itu terasa sangat asyik. Kami membahas tentang rencana untuk menyaksikan konser Reggae esok hari. Saya bersama Gembus, Paijo, Marcopolo, Komplong, dan kawan-kawan lain memang berencanan untuk menghabiskan malam minggu dengan menyaksikan konser reggae yang dihelat di salah satu gedung pertemuan tak jauh dari kampung kami. Konser yang diselenggarakan oleh salah satu produsen minuman suplemen ini menghadirkan satu band reggae terkenal dan belasan band reggae lokal.

Kami memang sering berkumpul di Warung mas Andri, oleh banyak orang disebut begitu, karena memang si empunya warung namanya Andri.

Di warung ini, bukan hanya anak-anak muda yang sering nongkrong, namun juga ada orang-orang tua berusia di atas kepala tiga bahkan kepala empat. Ada Pak Naryo, supir pro yang sudah malang melintang di dunia persupiran. Ada Mas Yus, pendaki gunung yang masih sangat setrong kendati umurnya sudah hampir kepala empat, ada Pak Tete, kretekus gaek yang sangat doyan ngopi, dan masih banyak lagi golongan tua yang juga sering nongkrong di warung Andri. Di warung inilah anak-anak muda dan bapak-bapak bisa ngobrol santai lepas dengan bahasa yang super ngoko. Warung ini menjadi semacam rendezvous bagi “golongan Wikana” dan “golongan Ahmad Soebardjo” di ranah per-gentho-an.

“Aku ndak ikut ke konser ah!!”, kata Sastro tiba-tiba. Hal ini tentu mengejutkan, karena Sastro dikenal sebagai kawan yang paling enggan menolak untuk ikut dalam event konser, bahkan ia kerap menjadi kompor kalau-kalau ada kawan yang ndak bisa ikut ke konser.

“Lha kenapa ndak ikut tro? wong yang lain saja pada ikut kok!”, tanya Marcopolo

“Ndak berani gelut kalau nanti rusuh po?”, Paijo menimpali

Wah, ra cengli tenan, memangnya ada apa tro?” tanya Gembus.

“Sebenarnya pengin sih mbus, tapi kalau reggae, aku ndak bisa njogetnya!”, jawab Sastro.

Demi mendengar jawaban super polos dari Sastro, kawan-kawan langsung meledak tawanya. Bahkan pak Naryo yang ndilalah ada di situ pun ikut tertawa terbahak-bahak. “Oalah tro.. tro... kemana-mana naik vespa, tapi njoget reggae saja ndak bisa, kilokke wae vespamu!!” seloroh Pak Naryo.

“Njoget Reggae itu susah pak, kaya orang lari-lari, tapi posisinya ndak maju-maju, kelihatannya simpel, tapi rumit, saya sudah pernah coba njoget reggae di depan kaca, tapi kok kelihatannya saya ndak luwes je pak”, kata Sastro masih tetap dengan kepolosannya.

Jawaban itupun kemudian kembali kembali gelak tawa seisi warung, bahkan lebih gempita dari tawa sebelumnya.

Ketidakbisaan Sastro untuk njoget reggae itu kemudian menjadi bahan guyonan dan cercaan. Sastro jadi bulan-bulanan, Sastro pun hanya bisa nyengir menahan malu dengan bibir yang terasa sangat kurang sedap untuk dipandang.

Sejujurnya, Sastro adalah penjoget yang handal. Njoget dangdut, mosing hardcore, ajojing disko, tari jatilan dan kubro siswo, bahkan sampai goyang poco-poco pun mungkin bisa ia jabani, tapi kalau njoget reggae, Sastro angkat tangan.

Yo wis, besok kamu ndak usah ikut joget, cukup berdiri sambil gerakkan badan saja!”, kata Paijo mencoba untuk membujuk sastro agar tetap ikut.

Akhirnya, Setelah diyakinkan dan dibujuk dengan aneka rupa bujukan, Sastro pun luluh dan bersedia untuk ikut. Dengan catatan, ia tak mau ikut maju ke depan panggung, hanya melihat saja dari belakang.

“Besok kumpul disini, jam tujuh, kita berangkat bareng pakai motor masing-masing, yang punya baju reggae, silahkan dipakai!!”, Kata Marcopolo memberi pengumuman yang sejurus kemudian langsung disepakati oleh kawan-kawan.

Besoknya, jam setengah tujuh, alias setengah jam sebelum jam keberangkatan, Sastro sudah sampai di warung Mas Andri, dandanannya sangat Reggae, bajunya klombor khas baju barong bali warna rasta, celana pendek, dan tak lupa ia memakai topi rajut merah kuning hijau. Wajahnya kumal (menurut Sastro, semakin kumal semakin reggae).

Warung mas Andri ternyata masih sepi, hanya ada Pak Naryo yang sedang asyik menyeruput kopi sambil sms-an.

“Pak, anak-anak mana? kok kosong melompong begini, katanya mau lihat konser reggae!”

“Di rumahnya Gembus, sedang pada latihan!”, jawab Pak Naryo singkat

“Lho, latihan apa pak?”

Ha yo latihan njoget reggae tho, rumangsamu cuma kamu thok yang ndak bisa joget reggae?, yang lain juga sama!”

Woooooo, telek!!!”

Sejurus kemudian, Sastro pun langsung meluncur ke rumah Gembus. Di wajahnya, terpancar jelas nafsu membunuh yang begitu besar.

Air dan Api

-

Sang Nananging Jagad

on 2014-10-18 2:11pm GMT

Panas! Dimana-mana serasa panas. Tidak siang, tidak malam, sepanjang hari kok rasanya kemrangsang. Kita serasa dimasukkan ke dalam oven. Tidak hanya sekedar keringat bercucuran, segala sendi dan tulang menjadi sedemikian tidak nyamannya. Apa iya dunia memang sudah berubah menjadi neraka? Bukankah yang serba panas, yang serba api itu konon hanya ada di neraka.

Kemarau tahun ini memang sudah sedemikian panjangnya. Bulan ber-ber, mulai September, Oktober, November, dan Desember konon dulunya sangat identik dengan tingginya curah hujan. Ber-ber, menandakan masa puncak mengalirnya sumber-sumber air. Sepanjang hari, sepanjang minggu dan selama beberapa bulan di penghujung tahun biasa diwarnai dengan hujan, hujan dan hujan. Tetapi lain dulu, lain kini. Hitungan ber-ber seolah sudah meleset jauh, Jangankan hujan, lha sekedar mendung saja seringkali hanya menghampiri sesaat seolah sengaja memberi harapan palsu. Manusia seolah sedang di-php. Benar nggak sih?

Akibat dari masa musim panas yang sudah sangat berkepanjangan tentu saja tidak hanya sekedar rasa haus di kerongkongan kita. Memang kita dalam beraktivitas sehari-sehari dalam kondisi suhu udara yang tinggi, lebih-lebih jika dilakukan di luar ruangan, seringkali menjadikan ngap-ngapan, cepat berkeringat, cepat haus, dan pastinya menjadi cepat lelah pula. Bayangkan saja jika suhu tengah hari bisa mencapai 38-40 derajat! Kondisi yang sudah pasti sudah di luar batas kenormalan yang wajar. Walhasil, aktivitas tentu saja menjadi tidak optimal dibandingkan pada kondisi normal.

Tidak hanya manusia yang terganggu dengan kemarau yang panjang ini, alampun mengalami dampak yang juga tidak kalah parahnya. Musim panas tentu saja menjadikan persediaan air berkurang sangat drastis. Sumber-sumber mata air mengecil. Sumur-sumur dan sungai-sungai juga mengering. Danau, rawa, bahkan laut juga surut airnya. Hal ini tentu saja menjadikan tata keseimbangan alam terganggu.

Maka dapat dibayangkan jika kemudian dimana-mana terjadi krisis air. Tanaman, pepohonan dan segala macam tumbuhan menjadi kekurangan air, layu, kering dan akhirnya mati. Padi-padi tidak dapat tumbuh dengan sempurna, dan banyak yang puso dan gagal panen. Demikian halnya dengan tanama sayuran maupun buah-buahan.  Akibatnya panenan menurun. Berawal dari krisis air, permasalahan merembet kepada krisis pangan.

Masalah terhenti di situ? Tentu saja tidak! Kondisi reremputan, tanaman semak, hamparan ilalang, hingga pepohonan yang mengering sangat rentan terdapat percikan api, sekecil apapun percikan tersebut. Faktor alamiah, kecerobohan, hingga tindakan sengaja manusia dalam keadaan demikian telah banyak menimbulkan bencana kebakaran. Bukankah banyak lahan, ladang ataupun hutan-hutan yang terbakar di berbagai penjuru tanah air. Bahkan akibat asap yang terbentuk dari berbagai kebakaran tersebut telah menimbulkan gangguan terhadap berbagai aktvitas manusia. Nafas sesak, mata pedih, hingga kabut asap telah melumpuhkan kegiatan manusia di beberapa daerah. Sekolah libur, para pekerja dirumahkan sementara, bahkan berbagai jalur penerbangan juga terganggu. Asap, bahkan sudah “terekspor” hingga ke beberapa negara tetangga.

Air dan api memang sama-sama dibutuhkan oleh manusia. Tetapi porsi kebutuhan manusia terhadap air dan api berada pada takaran tertentu. Air dan api yang sangat kurang akan menimbulkan masalah atau krisis. Namun sebaliknya, jika air dan api berlimpah ruah melebihi kebutuhan manusia juga tetap akan menjadi bencana. Apapun menjadi baik bagi manusia jika hadir  dalam ruang dan waktu yang tepat dengan porsi yang pas pula, barulah sesuatu itu akan memberikan manfaat dan menjadi sahabat yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Bukankah demikian?

Ngisor Blimbing, 18 Oktober 2014


Filed under: Jagad Alam Tagged: air, api, kabut asap, kemarau panjang

Aku sadar, pertanyaan yang kutanyakan lewat pesan chat di facebook itu memang pertanyaan yang ora mbois, ya maklumlah, namanya juga pertanyaan pemancing, sekedar pelicin agar aku bisa say hello. Dan beruntungnya diriku, karena rupanya dirimu punya segudang rasa rikuh, sehingga dirimu masih mau menjawab pertanyaan-pertanyaan ora mbois-ku itu. Yah, walaupun jawabanmu sangat-sangat normatif, terkesan begitu nglegani.

Tolong dimaklumi, habis mau bagaimana lagi, bagiku, itu adalah satu-satunya cara yang mungkin bisa aku lakukan untuk terus intens berkomunikasi dengan dirimu.

Aku masih terus teguh dengan pepatah jawa 'witing tresno jalaran seko kulino', walau agaknya sampai kini, hanya aku yang tresno, sedangkan dirimu masih sebatas kulino. Tapi tak apa, memang sudah jadi tugasku untuk mengkonversi kulino-mu itu menjadi tresno. 

Jujur, rasanya sangat bahagia saat di kolom chat facebook tertulis namamu dengan lingkaran kecil berwarna hijau disampingnya. Saat itulah fikiranku menerawang, mencoba mencari pertanyaan yang sebisa mungkin agak mbois dan memungkinkan untuk aku tanyakan kepada dirimu.

Kadang aku merasa seperti panitia cerdas cermat yang berfikir keras hanya untuk menyiapkan pertanyaan bagi para peserta, bedanya, dirimu tak perlu jadi wanita cerdas untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanku itu. Dirimu cukup jadi wanita rikuhan. Itu saja.

Aku tak berani pasang target tinggi, asal dirimu jawab pertanyaanku dengan jawaban yang cukup panjang saja ─setidaknya dua kali enter, aku sudah sangat berbahagia. Apalagi kalau dirimu sudi membalas tanya, duuuh, itu benar-benar kenikmatan yang hakiki.

Duhai dirimu yang duduk 507 kilometer dari tempatku mengetikkan pertanyaan, tolong jangan bosan untuk terus menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Jaga terus sikap rikuh-mu, aku masih perlu itu, entah sampai berapa lama lagi.

Ah, andai dirimu tahu, di antara pertanyaan-pertanyaanku yang teramat ora mbois, terselip rasa cinta yang begitu tulus dan kinyis-kinyis.
Tempuyung

Tempuyung

Tanaman ini sering saya lihat dan saya pikir hanya tanaman semak biasa. Sampai suatu hari ada pensiunan kantor yang bilang kalau tanaman ini tanaman obat.
“Ah masak….?”
“Iya.”
“Untuk obat apa, Pak?”
“Untuk obat batu ginjal. Daunnya yang dipakai untuk obat.”

Tanaman itu bentuknya perdu. Tingginya tidak seberapa, kira-kira sepinggang saya. Daunnya memanjang dan melonjong. Bunganya kuning. Bentuknya mengingatkanku pada bunga dendelion.

Saya tidak tahu nama tanaman ini sampai beberapa bulan kemudian. Beberapa minggu yang lalu saya membeli buku tentang tanaman obat terbitan LIPI Kebun Raya Bogor. Tanaman itu masuk dalam salah satu koleksi tanaman obat. Namanya Tempuyung (Sanchusbarvensis L.). Waktu kecil dulu seingat saya juga pernah dengar nama ini.

Tempuyung memang tanaman yang biasa digunakan untuk obat. Daun tempuyung bisa digunakan untuk peluruh batu ginjal dan memperlancar air seni. Sedangkan daun dan batangnya bisa digunakan untuk penyakit bisul.


Gus Mul jagongan bareng Sule! Tenanan? Darimana tahunya? Dari sebuah foto yang dipajang Gus Mul di fanpagenya. Anda percaya? Sayapun seketika langsung geleng-geleng kepala, alias nggumun. Lha bagaimana tidak nggumun, saya semakin kagum dengan hasil editan sotosopnya Gus Mul. Tampang ndesonya yang lugu sangat nature di hadapan Sule menyamping. Sebuah gambar yang teramat sempurna untuk sebuah hasil editan dengan software apapun.

Bagi Anda yang belum sempat mengenal atau berkenalan dengan Gus Mul, mungkin tidak ada salahnya Anda menelusurnya di sini.

Kembali ke gambar Gus Mul berbincang riang dengan Sule, saya justru menjadi super penasaran. Pasalnya meski Gus Mul dulu menjadi tenar dan menggemparkan dunia maya berkat reka-reka editan foto-fotonya maupun foto pesanan yang seringkali disandingkan dengan tokoh maupun selebriti, tetapi setahu saya ia sudah insaf bahkan semenjak dua-tiga bulan ia baru memulai karya-karyanya. Lha kok ini tiba-tiba saja, tanpa ada badai dan topan, tanda guguran lava wedhus gembel Gunung Merapi, ia nampang di salah satu acara yang sedang naik daun di salah satu stasiun tivi yang tergolong masih baru. Apakah tangannya kembali umat sehingga utak-atik sotosop kembali?

Rasa penasaran itu demikian memuncak hingga saya kehabisan bahan pikir. Dalam sebuah kesempatan komunikasi jarak jauh dengan Gus Mul pada malem Jum’at Pahing kemarin, saya lontarkan pertanyaan yang sebenarnya juga penuh dengan keraguan, Gus, sotosop ro Sule kuwi tenanan? Nada saya ketika bertanya sebenarnya tidak tega.

Gus Mul di seberang mengirim jawaban, “Hahaha… ora mas, kuwi asli… wingi aku bar seko Jakarta, syuting Ini Talkshow NET. tv”

Ha? Saya langsung tercengang! Terkejut bin surprise bukan kepalang ajar. Jadi dia memang sudah benar-benar insaf dari dolanan sotosopnya. Bagaimanapun pikiran saya tidak bisa lepas dari sebuah prasangka burut bahwa ia main sotosop lagi. Jujur, saya jadi sedikit merasa bersalah telah sejenak ragu dengan pertobatan Gus Mul soal sotosop. Namun demikian, saya segera meluncurkan pertanyaan susulan, “Ngobrol opo wae terusan?

Yo ngobrol tentang isu lama mas…. edit foto ro buku….”, jawab Gus Mul to the point. Lha lak tenan, sayapun sedikit menduga Sule dan krunya mengendus kenakalan Gus Mul di waktu lalu. Sayapun semakin salut kepada putra Pak Trimo dari kampung Seneng yang mulai menemukan perjodohan-perjodohan nasib yang lebih baik meskipun ia belum benar-benar menemukan jalan yang semakin terang ke arah kenya bidadari jodohnya di pelaminan kelak.

Terbersit sebuah pertanyaan yang lain, bagaimana Gus Mul bisa nge-link ke Sule dan IniTalkShow-nya itu. Saya awalnya menduga ia dihubungkan oleh seseorang yang kemungkinan besar masih berhubungan dengan tim kreatif buku Jomblo Hapal Pancasila-nya. Tetapi justru, menurut pengakuan yang bersangkutan ia tiba-tiba saja dikontak oleh salah seorang tim kreatifnya Sule. Ia pun merasa heran dan masih tak habis pikir bagaimana ia seolah-olah mendapatkan jugrugan gunung Tidar. Tidak ada angin, tidak ada hujan, ia benar-benar tidak sedang bermimpi.

Akhirnya, sebagai sesama wong Magelang dan selaku sedulur yang ketemu tua, saya tentu saja turut mendoakan agar gerbang kesuksesan masuk tivi ini bisa terus berlanjut dengan tangga-tangga kesuksesan selanjutnya dan wal hasil Gus Mul bisa menanggalkan status jomblonya suatu masa kelak nanti. Ditunggu hari tayangnya nggih. Monggo dados!

Ngisor Blimbing, 17 Oktober 2014

Foto dipinjam dari FB-ne Gus Mul.


Filed under: Jagad Tokoh Tagged: Gus Mul, IniTalkShow, Jomblo Hapal Pancasila, Sule
Bertepatan dengan lomba blog yang diselenggarakan oleh PLN dan Blogdetik maka saya ingin curhat terkait pelayanan PLN, baiklah tanpa berpanjang lebar saya akan langsung bercerita. Kira-kira sebulan yang lalu, saya dan bapak mendatangi PLN UPJ Warung Kondang Cianjur untuk mengajukan pemasangan baru listrik 450VA untuk rumah orang tua yang baru dibangun ditanah kami, saat datang […]

Super Gadget

-

Berbagi Tak Pernah Rugi

on 2014-10-16 6:57am GMT

Ding-dong……!!!!

Suara bel dipencet seseorang. Hari ini hari sabtu, saya sedang santai di rumah dan tidak sedang menunggu tamu. Aneh. Siapa yang memencet bel , tanya saya dalam hati.

Ding-dong….!!!!
Bel dipencet lagi.
Dengan sedikit malas saya menuju ruang depan. Saya intip dari balik gorden jendela. Seseorang sedang menunggu di depan pintu pagar, pakai motor dan seragam biru. Saya menuju pintu dan segera menemuinya tanpa membuka pintu pagar.

“Ada apa, Mas?”
“Saya dari TIKIL, Titipan Kilat, Ada paket untuk Bapak.”
Anak muda itu menyerahkan kotak kecil yang dibungkus plastik. Lalu dia meminta saya menandatangani kolom penerima.

Kiriman dari siapa ya? Saya sedikit penasaran. Di halaman depan memang tertulis kepadanya untuk saya. Di balik bungkusnya hanya tertulis kode angka dan huruf. Entah dari siapa.

Paket itu hanya seukuran kotak mungkus rokok, tapi lebih tebal sedikit. Lalu saya buka kertas pembungkusnya. Di dalamnya ada kemasan kotak berwarna biru tua metalik. Di bagian depan kotak itu ada logo buah mangga yang sedang di makan ulat. Logo perusahaan gadget paling top saat ini.

Saya coba ingat-ingat apa yang pernah saya lakukan beberapa waktu yang lalu. Saya pakai kartu Telkomsel dan Telkomsel sedang gencar-gencarnya menyebar undian berhadiah. Mungkin saya pernah ikut lotre atau ikut quiz berhadiah itu. Seingat saya tidak. Lalu kenapa saya mendapatkan paket ini? Atau mungkin paketnya salah kirim? Banyak pertanyaan muncul di kepala. Entahlah.

Nama dan alamat penerimanya benar saya. Jadi mungkin memang benar paket ini untuk saya. Apa salahnya dapat rejeki nomplok.

Saya buka pelindung plastiknya dengan ujung kuku. Desain kotak ini unik. Beda dengan kotak kemasan produk lain. Seperti tidak ada jepitan atau lem penguncinya. Perlu waktu cukup lama bagi saya untuk menemukan pembukanya. Ternyata untuk membuka kotak ini ada tombol kecil di sisi kanan kotak. Tombolnya hampir-hampir tidak dikenali, semua rata seperti bukan tombol. Saya baru meyadarinya setelah terlihat ada seperti celah berbentuk kotak.

Saya pencet tombol itu. Whoola…. tiba-tiba bagian atas dan sisi kotak terbuka sedikit. Lalu ketika saya tarik, semua sisi kotak terbuka seperti bunga yang sedang merekah. Menajubkan. Desain kotak yang unik.

Keheranan saya tidak berhenti di situ. Di bagian tengah kotak ada tabung kecil berwarna putih. Panjangnya sekitar 5 cm dan diameternya kurang dari 5 mm. Tabung itu diletakkan di tempat plastik berwarna merah metalik. Tidak ada barang lain. Di bawah kotak itu ada buku-buku kecil. Buku panduan; instruction manual. Tidak ada barang lain: tidak ada baterai, tidak ada kabel, tidak ada cassing. Hanya tabung kecil itu saja.

Saya belum yakin ini sebuah gadget.

Saya buka buku manual itu. Saya cari buku yang berbahasa Indonesia, sayangnya tidak ada. Bahasa lain yang agak saya mengerti adalah bahasa Inggris. Saya baca manual ini saja.

Buku manual itu cukup sederhana dan banyak gambarnya. Jadi mudah diikuti tanpa perlu tahu bener bahasanya. Saya ikuti saja petunjuk gambar-gambarnya.

Di salah satu sisi ujung tabung ada lubang berbentuk memanjang seukuran kartu SIM. Oke. Saya ikuti petunjuknya. Kartu SIM AS dari Telkomsel saya masukkan ke dalam lubang itu.

Saya kebingunggan kok tidak ada baterai dan kabel2, apalagi charger. Bagaimana gadget ini bisa hidup. Lebih aneh lagi tidak terlihat ada tombol dan layarnya. Bagaimana cara memakainya?

Saya buka lagi buku manualnya.

Petunjuk berikutnya adalah membuka layar. Di tabung itu ada sedikit tonjolan di kedua ujungnya. Tombol ini ditarik. Layarnya setipis kertas, transparan, tapi kuat dan permukaannya mengkilat. Ketika ditarik lurus, layarnya akan tegak lurus. Sampai langkah ini layarnya masih kosong.

Buka lagi buku manual.

Di buku manual tertulis kalau gadget ini memanfaatkan energi dari panas tubuh manusia, cahaya, dan gerakan. Jadi kalau gadget kena tubuh manusia, maka panas dari kulit manusia akan diubah menjadi energi listrik. Begitu juga jika terkena sinar matahari, gadget akan merubah energi sinar menjadi energi listrik. Sumber energi berikutnya adalah energi gerak. Jika tabung itu digerakkan, gadget akan merubah energi gerak menjadi energi listrik. Energi yang dibutuhkan untuk menghidupkan gadget sangat kecil. Energi yang dikumpulkan dari panas tubuh, sinar, dan gerak sudah mencukupi. Pantas saja tidak ada kabel dan charger.

Untuk menghidupkan gadget, langkah pertama adalah mengisi energi. Salah satunya adalah dengan menjemur atau mengerak-gerakkan gadget. Ketika energinya cukup. Di sisi tabung akan muncul cahaya merah kecil. Jika energinya banyak, sinarnya berubah menjadi hijau. Tidak ada tombol on-off. Gadget akan menyala sendiri ketika energinya cukup. Hebat.

Waktu booting cukup cepat. Layarnya terlihat cukup terang dan tajam. Ada tampilan ikon yang sudah saya kenal: telepon, pesan, internet, kamera. Ada juga beberapa ikon yang masih asing.

Buka lagi buku manual. Cara menelpon. Gadget ini bisa diperintah dengan suara untuk melakukan panggilan. Untuk menelpon tinggal bilang “Call!”.

Call!” perintah saya.
Gadget itu merespon singkat; “Who or enter number.”
Suaranya perempuan, merdu dan jelas.
Meski tidak pinter bahasa Inggris tapi saya tahu maksudnya.
Saya lanjutkan pakai bahasa Indonesia; “Tiga Nol Tiga Nol.”
Di layar muncul angka 3030. Hebat, bisa ngerti bahasa Indonesia. Saya diam beberapa detik. Gadget itu melakukan panggilan. Saya segera matikan. Saya tidak menelpon siapa-siapa. Nomor itu entah nomor siapa.

Saya buka lagi buku manualnya.

Ternyata gadget ini bisa ditekuk dan dibuat seperti gelang. Ujung layarnya bisa diselipkan ke sisi lain tabung. Saya coba tekuk layarnya. Luar biasa. Layarnya bisa digulung tanpa rusak. Saya coba pakai gelang gadget itu. Keren. Sekarang ada tampilan jam digital dan tanggal saat ini.

Dalam posisi ini untuk melakukan panggilan bisa dilakukan dengan cara unik. Posisi tangan seperti isyarat untuk menelpon; jempol di dekat telingga dan jari kelingking di dekat mulut. Saya coba. Ternyata bisa. Suaranya juga jernih.

Saya masih penasaran bagaimana caranya memainkan multimedia, seperti melihat film atau mendengarkan musik/audio secara on-line. Saya pakai paket internet Telkomsel yang kualitasnya lumayan untuk melihat video on-line. Buka-buka lagi buku manual.

Ternyata cukup mudah, tinggal bilang: “Music!” Gadget menampilkan daftar file audio yang ada. Saya pilih salah satu. Di layar terlihat jika file audio sedang dimainkan. Sayangnya saya tidak mendengar apa-apa. Ada suara tapi pelan. Pasti ada yang salah nih, pikir saya.

Buka-buka lagi buku manual. Rupanya speaker belum diaktifkan. Penutup salah satu ujung tabung di tarik sedikit. Hanya keluar sekitar 1 mm. Suara mulai ada, terdengar jernih dan lumayan keras.

Masih ada cara lain untuk mendengarkan audio. Tutup tabung yang tadi saya lepaskan. Tutup itu terikat dengan benang kecil. Tutup ini ditempelkan ke kulit di dekat nadi tangan. Saya tempelkan sesuai instruksi. Bener. Saya jadi mendengar suara audio itu. Cara ini bisa juga digunakan untuk menelpon.

Buka-buka lagi buku manual. Gadget ini gadget hebat. Gadget ini bisa digunakan untuk macam-macam. Bisa disinkronisasi dengan alat-alat elektronik yang ada di rumah sehingga bisa menjadi remote control. Semua bisa dikontrol. Termasuk saklar lampu pun bisa dihidupkan dengan gadget ini.

Saya coba singkronisasi sesuai instruksi. Kebetulan di rumah ada home theater, jadi bisa jadi ajang ujicoba. Saya suka sport, khususnya naik sepeda. Saya ingin coba multimedia sport. Lampu ruangan saya gelapkan. Lalu saya pilih sport>bike>cross country.

Gadget langsung terhubung dengan home theather. Suasana tiba-tiba berubah menjadi seperti di hutan. Saya naik sepeda gunung yang ringan dengan 10 speed di gir belakang dan 1 speed di gir depan. Sepeda fullsus. Mantap.

Saya naiki sepeda itu dan mencoba trak di depannya. Saya ikuti jalan setapak yang menuruni bukit. Tanpa saya sadari jalannya berubah menjadi berbatu-batu terjal. Saya coba jaga keseimbangan dan terus mengayuh. Keringat mulai keluar. Kaos saya basah kuyup oleh keringat.

Di turunan yang terjal saya kehilangan keseimbangan. Roda depan tergelincir dan saya terjauh. Brrukkk…..!!!!

Aduh…..saya meringis kesakitan. Lutut saya yang kena batu-batu. Berdarah. Saya pegangi lutut saya kuat-kuat untuk mengurangi rasa sakitnya. Mata terpejam dan mulut meringgis. Kepala saya terasa sakit dan berkunang-kunang. Saya meringkuk dan mengulingkan badan mencari posisi. Tanah berbatu itu terasa lebih dingin dan datar.

Saya buka mata pelan-pelan. Cahaya terlihat remang-remang. Di atas plafon triplek terlihat lampu lima watt menggantung. Di sebelah lampu ada cicak yang sedang mengintai mangsanya. Mata saya menjelajah di sekeliling plafon dan kamar. Di sudut ada bekas hitam selebar piring dan berjamur. Aku kenal bekas bocor ini. Dinding kamar dari papan. Ada kalender dari toko bangunan pinggir jalan. Ada poster pemandangan alam. Ini kamarku.

Aku mencoba bangkit sambil menahan sakit di lutut. Aku duduk di pinggir ranjang. Lututku benar-benar bengkak. Aku menengok ke lengan kiri tanganku, ke jam tangan G-Force yang aku beli di kali lima dekat stasion. Jam dua, 25 menit.

Semprul…..!!!!

Aku rebahkan badan di dipan papanku dan berharap agar mimpi indah itu berlanjut lagi.


Bagi penggemar komputasi, software package dari Intel yang satu ini bisa jadi cukup berguna untuk membantu “mempercepat” dalam running eksekusi program. Parallel Studio XE 2011 dari Intel menyediakan compiler dan debugger untuk bahasa Fortran dan C/C++ yang merupakan bahasa pemrograman favorit dalam komputasi. Intel Parallel Studio tidak menyediakan versi gratis untuk pengguna sistem operasi Windows. Beruntung bagi pengguna Linux yang ternyata Intel menyediakan versi gratis (non-commercial) untuk “alat bantu” yang satu ini.

Untuk melakukan instalasi paket Parallel Studio XE 2011 di Linux bisa dikatakan cukup mudah, hanya perlu mendaftarkan di website intel software development selanjutnya download package sesuai sistem operasi yang digunakan. Registrasi dilakukan supaya kita bisa memperoleh lisensi (non-commercial) gratis. Setelah melakukan registrasi, selanjutnya serial number dan license file akan dikirim ke alamat email yang telah didaftarkan sekaligus didalam email juga terdapat link download paket software Intel Parallel Studio XE 2011.

Bagi pengguna CentOS, hal yang perlu diperhatikan sebelum instalasi adalah men-disable SELinux terlebih dahulu.

Parameter Insalasi:

  1. lokasi file package ada di: /home/user/Parallel_Studio_XE_2011_U2.tgz
  2. lokasi lisensi diletakkan di: /home/user/license/NCOM_L_NT-36.lic
  3. lokasi program ada di: /opt/intel/
  4. software administrator: root

Buka console selanjutnya masuk sebagai root.

$ su root
# cd /home/user
# tar -xvf Parallel_Studio_XE_2011_U2.tgz
# cd parallel_studio_xe_2011_update2
# sh install.sh

Selanjutnya tinggal mengikuti perintah yang muncul, ikuti perintah yang ada. Bila ditanyakan lisensi, arahkan ke lisensi file /home/user/license/NCOM_L_NT-36.lic.

Untuk konfigurasi pertama kali pindah ke folder bin dari program parallel studio, misal instalasi ada di /opt/intel/composerxe-2011.4.1.191

# cd /opt/intel//opt/intel/composerxe-2011.4.1.191/bin
# source compilevars.sh intel64 (gunakan intel64 jika 64-bit, ia32 jika 32-bit)

Untuk memastikan compiler sudah berjalan bisa dengan mencoba menggunakan contoh program yang sudah disertakan.

# cd /opt/intel/composerxe-2011.4.191/Samples/en_US/Fortran/vec_samples
# ls (untuk melihat isi file, harusnya ada file matvec.f90 dan driver.f90)
# ifort -real-size 64 -O1 -vec-report1 matvec.f90 driver.f90 -o MatVector

Output dari compiler bernama MatVector berada pada folder yang sama (silakan cek dengan mengetikkan perintah ls). Untuk melakukan eksekusi ketikkan perintah:

# ./MatVector

Hasil keluarannya adalah waktu yang diperlukan untuk eksekusi program yang baru saja dibuat.

Beberapa fungsi tambahan yang ada dalam software package adalah debugger. Silakan pindah ke folder /opt/intel/composerxe-2011.4.191/bin/intel64 (penggunaan intel64 atau ia32 tergantung OS yang digunakan).

# cd /opt/intel/composerxe-2011.4.191/bin/intel64
# ./idb

Selanjutnya jika Java Runtime (JRE) telah terinstall maka akan muncul window Intel Debugger yang dapat digunakan untuk debugging software yang baru saja dibuat.

Selamat RUNNING!

Kartu memory

-

Mastop Story

on 2014-10-16 12:00am GMT

Beberapa hari ini saya dipusingkan dengan kartu memory ponsel.Saya berencana mencari kartu memory untuk ponsel lawas saya, nokia n73.Kartu memorynya tentu yang lawas juga.Namanya minisd.

Dan ternyata setelah saya mencari-cari saya tak menemukanya lagi.Hmmm…saat ini semua sudah menggunakan microsd.Jadi memory yang saya cari tersebut sudah menjadi barang langka.Mungkin saya harus mencarinya di musium.


Penyebab Gagal Move On

-

AmaliaRizki.com

on 2014-10-15 12:46pm GMT

Putus cinta?? Patah hati? Korban PHP? Kata Cita Citata “sakitnya tuh disini…” Iya disini… DISINIIIII *silahkan tunjuk bagian mana yang terasa sakit*.Memang begitulah cinta, ketika kejatuhan rasanya bagai menelan pil koplo, mabuk kepayang. Namun bila terjatuh rasanya bagai ngemut daun jambu biji, pahit sembribit.

Konon katanya obat paling mujarab putus cinta adalah jatuh cinta lagi. Eits, tunggu dulu, untuk jatuh cinta lagi tentu ada syaratnya. Apa syaratnya??? Apa hayo apa?? Ya move on dong, kak!.

Tapi move on ga gampang, kak..

Memang sih move on ga segampang ngupil, tapi kalau tekadmu bulat pasti bisa cepat move on kok. Yang susah itu kalau kamu masih ngelakuin hal-hal kayak gini:

Masih Berkomunikasi

Niat hati tak ingin memutus tali silaturahmi, realitanya kamu lagi masang tali buat gantung diri. Percaya atau tidak, komunikasi (apalagi intens) bisa menyebabkan timbul rasa nyaman, rasa nyaman menghasilkan benih-benih suka, kemudian tumbuh bunga-bunga cinta, pada akhirnya muncul keinginan untuk memiliki (lagi). Kalau sudah begitu, dijamin kamu bakal gagal move on. Ujungnya? Sakit hati lagi deh. *kemudian backsoundnya lagu yovie nuno – sakit hati*

Sebenarnya komunikasi sah-sah aja kok, asal hati kamu udah stabil.

Masih Ngarep

Komunikasi intens juga menyebabkan rasa ‘ngarep’ untuk bisa merajut lagi benang-benang cinta yang terurai *aiiih, situ pejuang move on apa tukang jait?*. Ini serius lho. Kalau jauh di lubuk hati masih ngarep, gimana mau move on?.

C’mon guys, masih banyak lelaki atau wanita lain bertebaran diluar sana. Sudahlah jangan mengharap orang yang sudah mengecewakanmu, ga baik untuk kesehatan hatimu, kak. *pukpuk*.

Di Tarik Ulur

Penyebab gagal move on lainnya adalah ketika si mantan masih menarik ulur hatimu. Saat kamu memutuskan meninggalkannya, ia melakukan segala cara agar tak kehilangan perhatianmu (karena belum dapat penggantimu). Dia kembali mendekatimu, tapi disaat kamu menanggapinya ternyata dia hanya ingin berteman. Nah lho…. Sakitnya tuh dimana?

Kalau kata Pak Mario Teguh, kalau begitu kamu ga bakal nikah. Laki-laki/wanita baik mana yang mau sama kamu kalau kamu masih main-main sama mantanmu? Kamu merusak hubunganmu sendiri dengan yang akan datang #jlebjlebjleb.

Ndablek

Nah ini penyebab gagal move on paling dahsyat. Udah berkali-kali sakit hati, kecewa, ditarik ulur, masih komunikasi, dan masih ngarep pula. Duh dek, nyebur sungai ciliwung aja yuk.
Katanya sih karena terlanjur cinta buta. Hellooooo cinta mah ga buta cin, tapi mata, hati, dan pikiranmu aja yang buta. Udah tau dia patut ditinggalkan, eh masih aja ngarep. Gagal move on plus plus deh.

So, kalau kamu memang mau move on, bulatkan tekadmu. Hilangkan dulu semua hal yang berhubungan sama si dia. Cari kegiatan yang bermanfaat dan positif, dijamin bakal cepat move on.

Mbak Hana aja bisa lho meninggalkan Mas Bram, masa kamu ngga sih? Ngahahahaha

*just for fun yah*

Sejak saya mulai merantau dulu, alat transportasi yang sering saya pakai adalah bis malam. Alasannya sederhana; paling mudah dan murah. Di Magelang tidak ada stasion kereta apalagi bandara dan pelabuhan. Kalau mau naik kereta atau pesawat mesti pergi Yogya atau Semarang dulu. Repot.

Ada banyak bis jurusan Mgl-Jobodetabek, baik bis yang ‘asli’ Mgl atau bis-bis lain yang punya trayel lewat Mgl. Bis asli Magelang antara lain: Santoso, Handoyo, dan Ramayana. Bis-bis malam lain yang juga lewat Magelang diantaranya Safari Dharma Raya, Lorena, Mulyo Indah dan Rosalia Indah. Saya pernah mencoba hampir semua bis malam itu.

Bis yang nyaman dinaiki Mulyo Indah dan Rosalia Indah. Rosalia Indah makannya enak. Bis Ramayana lumayan. Kalau bis Handoyo biasa2 saja. Bis Santoso sebenarnya termasuk yang biasa-biasa saja. Bisnya sudah cukup berumur, tapi semuanya Mercy uang terkenal tangguh. Kalau dilihat dari kondisi bis dan pelayanan mungkin Bis Santoso rangking bawah.

Saya memilih naik bis ini karena yang paling pagi sampai ke Bogor. Jaman dulu jam 4 pagi sudah sampai dan saha sempat sholat subuh di rumah dan tidur sejenak. Bis yang lain tidak pernah sampainya pagi.

Bis Santoso juga lewat jalur yang sedikit beda. Umumnya bis malam lewat Semarang baru masuk jalur pantura. Bis Santoso lewat parakan dan weleri.

Meski kondisi bisnya sudah jelek, bis Santoso cukup bandel. Mesin Mercynya memang mantap. Di jalan tanjakan dan belokkan Bis Santoso selalu menang jika lawan bis Hino.

Kadang2 kalau sedang pulang kampung sendirian dan tidak dapat tiket pesawat atau kereta, saya memilih naik bis Santoso. Saya jadi seperti menyusuri kembali masa-masa lalu, 10 tahun yang lalu. Bis ini masih melewati jalur yang sama, warung makan yang sama.

Cuma sekarang sampainya di Bogor tidak bisa pagi. Jalur pantura selalu macet. Kali ini macet juga karena ada perbaikan jalan di daerah Jabar. Sampai di Bogor matahari sudah tinggi, pukul 06.45. Kalau kondisi jalan lancar, sampai di Bogor paling cepat pukul lima lebih.

Bis Santoso juga jadi sarana kami mengirim barang dari dan ke Magelang. Kalau cuma satu kardus biasanya kami lebih suka dititipkan ke awak bis. Sampainya lebih cepat. Cuma kami mesti nungguin bisnya. Apalagi kalau ke Magelang, kadang-kadang bis sampai Magelang jam tiga pagi.


Kenangan TK ABA Polengan

-

Pendekartidar

on 2014-10-15 6:32am GMT

TK Polengan1   TK Polengan1

Kala itu umur saya kiranya baru genap lima tahun lebih beberapa bulan. Suatu pagi, pagi-pagi sekali saya diantar ibu saya ke sebuah taman kanak-kanak. Lokasi sekolah pra-SD itu berada di tengah-tengah dusun tetangga. Di depan sekolah sederhana terbentang luas sebuah pelataran alun-alun sebuah bangunan joglo anggun. Konon bangunan joglo satu-satunya yang tersisa di desa kami tersebut milik Pak Lurah yang memerintah kala itu. Tepat di sisi barat laut berdiri dengan anggun sebuah masjid terbesar di desa kami. Itulah Masjid Al Ikhlas.

Nama bangku sekolah yang pertama kali saya masuki tersebut adalah TK ABA Polengan. Melihat kependekan ABA, mungkin diantara para sedulur ada yang langsung paham bahwa sekolah tersebut berada di bawah pengelolaan salah satu ormas terbesar di tanah air. Bagi yang masih belum nyambung, ABA merupakan kependekan dari Aisyiah Bustanul Athfal.

Hari pertama sekolah memang diantar oleh ibu saya, sekedar untuk mendaftarkan kepada guru sekolah semata. Hari-hari selanjutnya, sebagaimana umumnya anak-anak desa, kami berangkat ke sekolah bebarengan dengan teman-teman yang lain. Jadi tidak musim, anak sekolah di jaman itu pake diantar-antar oleh orang tua. Mungkin itu sisi kemandirian anak kecil yang sudah tergembleng semenjak usia sangat dini. Bahkan beberapa bulan berselang, saya harus sekolah sambil momong dua adik kembar saya yang umurnya dua tahun di bawah saya. Meski pada awal hanya meunggui saya di luar kelas, pada akhirnya adik-adik saya tersebut resmi diterima di kelas nol kecil. Sementara saya, semenjak pertama kali masuk langsung bergabung dengan kelas nol besar, meskipun umur saya di bawah teman-teman sekelas saya yang lain.

Kira-kira menjelang pukul setengah tujuh pagi pintu ruang kelas mulai dibuka. Biasanya yang membukakan adalah anak dari Kepala Sekolah yang memang tinggal tidak seberapa jauh dari sekolahan. Begitu pintu-pintu terbuka, beberapa perangkat permainan dikeluarkan dari ruang kelas untuk dipasang di sekitar halaman sekolah. Tak seberapa lama berselang, guru-guru kami mulai datang. Sebenarnya kami pada waktu itu hanya memiliki dua orang ibu guru. Adalah Bu Sri Umiyati yang bertindak sebagai guru kelas nol besar merangkap kepala sekolah, dan Bu Dalifah yang mengasuh kelas nol kecil.

TK PolenganSekolah TK, tentu saja sangat menyenangkan. Hari-hari kami senantiasa diisi dengan permainan yang memberdayakan otak kami. Pagi sebelum masuk kelas, di halaman sekolah telah tergelar berbagai perlengkapan permainan anak-anak. Ada ayun-ayunan di bawah pohon kamboja. Ada plosotan di samping masjid. Besi-besi rangka untuk panjat-memanjat dan tlusuban. Ada pula jungkat-jungkit di sebelah timur kelas, dan beberapa mainan anak-anak yang lain.

Begitu dentang lonceng dibunyikan, semua murid langsung masuk ke dalam kelas. Meskipun di dalam kelas, tetapi pola pengajaran yang diterapkan juga lebih banyak dengan metode belajar sambil bermain. Memasang passel, memancing ikan kayu, bongkar pasang balok-balokan kayu sering kami lakukan. Kadang-kadang kamu juga diberi kerta warna krem merah, kuning, hijau ataupun biru untuk dilipat-lipat menjadi berbagai bentuk karya yang inspiratif. Seni lipat inilah yang di kala dewasa baru saya tahu bernama origami dan berasal dari negeri sakura.

Bernyanyi dan menari tentu saja tidak pernah ketinggalan. Bahkan meski masih kecil pada beberapa kesempatan kami sudah diajari berdeklamasi. Menulis huruf latin, tentu saja mulai diajarkan dan kami sedikit-dikit baru mengenal nama-nama huruf tetapi sama sekali tidak menghafal. Angka juga mulai diperkenalkan cara penulisannya, namun belum sampai kepada operasional matematis.

Tentang seragam sekolah. Tentu saja kami hanya mengenal satu seragam. Warna kuning krem dengan bawahan dan rompi warna hijau lumut. Itupun hanya kami kenakan untuk hari Senin dan Selasa. Selebihnya, ya kami berpakaian bebas tapi rapi dan sopan.

Hari Sabtu merupakan hari yang lebih santai dan sangat menggembirakan. Hari Sabtu biasanya dimulai dengan aksi bebersih lingkungan. Istilahnya kerja bakti atau gotong royong. Menyapu halaman sekolah bersama-sama. Membersihkan rumput di beberapa sudut. Memangkas tanaman hias dan bunga-bunga. Bahkan membersihkan lumut di dinding-dinding pagar sekolah. Selesai dengan kerja bakti, semua murid diajari membasuh tangan dan menggosok gigi bersama-sama. Masing-masing kami telah memiliki sikat gigi yang dilengkapi dengan cangkir kaleng. Hari Sabtu barangkali memang dirancang untuk menanamkan pentingnya menerapkan pola hidup yang bersih dan sehat.

Masih di hari Sabtu. Selesai bebersih lingkungan dan bebersih diri, kami biasa makan bersama. Setiap Sabtu, satu per satu wali murid digilir untuk urunan menu makanan untuk disantap bersama. Biasanya mereka memberikan sumbangan dalam wujud beras dan gula jawa. Urusan masak-memasak biasa diurusi oleh keluarga ibu kepala sekolah. Sajian yang biasa kami santap mulai dari bubur kacang hijau, sego megono (nasi urap kelapa), juga kolak ketela atau pisang.

Hal yang paling unik dan menjadi kenangan yang tidak pernah terlupakan hingga kini pada saat kembul bujono atau makan bersama adalah tatkala para murid yang bertubuh besar menghabiskan jatah makanannya lebih cepat. Mereka kemudian bertanya bahkan saling teriak, “sopo sing ora entek?” Siapa yang tidak mampu menghabiskan jatah makanannya? Begitu ada murid yang biasanya bertubuh lebih kecil dengan nafsu makan yang tidak sehebat para murid besar, maka sisa makannya segera beralih ke piring si murid besar. Semua saling berbagi dengan ikhlas. Sebuah penanaman nilai kebersamaan yang sangat luar biasa.

Hari puncak yang menjadi kebanggaan kami semua adalah Hari Perayaan. Apakah Hari Perayaan? Hari Perayaan merupakan peringatan HUT Aisyiah (kalau tidak salah). Pada hari tersebut, TK ABA se-kecamatan biasanya dikumpulkan pada salah satu TK untuk memperingati Hari Perayaan yang biasa diisi dengan berbagai macam lomba anak-anak. Lomba yang biasa digelar seperti lomba bernyanyi, puisi, tari, dan beberapa cabang olah raga anak-anak. Uniknya, karena keterbatasan sarana transportasi, para murid seringkali digiring dalam long march yang sangat panjang ke suatu sekolah yang menjadi tuan rumah Hari Perayaan. Meskipun lelah tapi kami sangat bahagia, terlebih kami juga mendapat nasi bungkus daun pisang yang dilengkapi sekedar telur pindang serta sayur kentang, tempe krecek.

Setelah satu tahun duduk di TK ABA Polengan, saya digiring bu guru untuk pindah ke SD di belakang desa. Umur saya baru enam tahun lewat dua bulan. Sementara teman-teman sekelas saya pada umumnya berumur satu atau dua tahun di atas saya. Bagaimanapun, taman yang paling indah hanya taman kami. Taman yang paling indah taman kanak-kanak (ingat dengan lagu ini).

Ngisor Blimbing, 27 September 2014

     Hari ini SDN Salaman 1 kedatangan rombongan tamu penting yang memang sudah teragendakan. Bukan tamu biasa tetapi rombongan team penilai lomba Sekolah Sehat. Dalam hal ini SDN Salaman 1 telah ditunjuk mewakili tingkat kawedanan dalam keikutsertaan lomba tersebut.
     Persiapan memang sudah dilakukan pihak sekolah sejak beberapa hari yang lalu, tetapi SDN Salaman 1 ingin tampil apa adanya atau tidak akan mengada-ada. Dengan harapan apapun hasilnya akan menjadikan sumber inspirasi dikemudian hari dan akan menjadikan pembelajaran yang Insya Allah bermanfaat khususnya di bidang menjaga kesehatan bagi semua elemen warga sekolah.

Kegiatan penilaian dimulai sekitar pukul 10.15 menit dengan diawali para team penilai berkeliling sekolah melakukan pengamatan langsung. Dalam pelaksanaan penilaian ini hampir dikatakan tidak ada hambatan yang berarti. Semua berjalan lancar sesuai harapan. Bagaimana hasilnya? Wallahu a’lam. Kita tunggu saja.









Salah satu sekolah tua yang masih tegak berdiri yaitu SDN Salaman 01 yang berada di Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang. Tidak menutup kemungkinan sekolah tersebut merupakan sekolah tertua di Kabupaten Magelang
Jalan-jalan ke Candi Gedong songo di Kabupaten Semarang
Beberapa waktu yang lalu saya bersama teman-teman satu kerjaan pergi liburan bareng ke kawasan Candi Gedong songo yang ada di Dusun Darum, Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Kawasan Candi Gedong songo tidak kalah menarik dengan komplek Candi yang ada di pegunungan Dieng, Wonosobo, kata teman-teman yang sudah berkunjung kesana. Karena penasaran yang tinggi, akhirnya kami putuskan untuk pergi ke Candi Gedong songo, dari rencana semula ke pantai Indrayanti di Jogja.

after wed di Candi Gedong songo Kabupaten Semarang
Kami berangkat dari Magelang sekitar jam 09:00 pagi dan baru sampai Gedongsongo 2 jam kemudian. Jalan dari Magelang ke Gedong songo yang berkelok-kelok membuat sebagian dari kami ada yang pusing-pusing dan mabuk berat, suatu hal yang lumrah karena mereka jarang naik angkutan umum setiap harinya. Tapi rasa lelah, pusing dan mabuk selama dalam perjalanan sedikit terobati setelah sampai di Komplek Candi Gedong songo, Suasana yang masih sejuk walau sudah siang hari dan semilir angin pegunungan Gedong songo, membuat kami sejenak bisa melupakan beban berat di tempat kerja yang setiap hari harus di hadapi.

Tak lengkap rasanya kalau mengunjungi suatu daerah tanpa mencicipi kuliner khas daerah tersebut, begitu tiba kami langsung menuju warung makan yang berjejer di sepanjang pintu kmasuk Komplek Candi Gedong songo. Kuliner khas Gedong songo adalah sate kelinci, selain Sate kelinci warung-warung di sini juga tersedia aneka hidangan lain seperti Mie Ayam, Nasi Goreng, Soto dll, dan yang paling penting harga makanan di sini termasuk murah.
Jalan-jalan ke Candi Gedong songo di Kabupaten Semarang
Setelah kenyang dengan berbagai kuliner khas Gedong songo, Acara kami lanjutkan dengan menelusuri jalan setapak naik menuju ke Candi-candi yang ada di komplek Gedong songo. Untuk menuju Candi Gedong songo 1, kami harus berjalan kurang lebih 200 meter, Bagi yang tidak biasa jalan bisa memanfaatkan Jasa Naik Kuda Candi Gedong songo yang tarifnya sekitar Rp. 50.000- Rp.70.000,-/ orang. Diperlukan waktu kurang lebih 1 jam untuk bisa mengelilingi satu candi ke candi yang lainnya yang tersebar di Lereng Gunung Ungaran.

Pemandangan Lereng Gunung Ungaran dimana Candi-candi Gedong songo berada sangat indah, di sepanjang jalan terdapat pohon pinus, dan di saat-saat tertentu kabut tipis sering turun. Di antara Candi 3 dan 4 ada sumber air panas alami yang mengandung belerang yang cukup tinggi, dengan kepulan asap yang cukup tebal. Kita juga bisa mandi di pemandian air panas yang letaknya tidak jauh dari sumber air panas alami.
Jalan-jalan ke Candi Gedong songo di Kabupaten Semarang
Candi Gedong songo terletak di ketinggian 1.200 m di atas permukaan laut, Komplek Candi Gedong songo di temukan pertama kali oleh Loten. Pada tahun 1804 Raffles menamai Komplek Candi ersebut dengan nama Candi Gedong pitoe, Karena hanya ada tujuh bangunan candi. Candi-candi tersebut terkenal dengan sebutan Candi Gedong songo setelah Friederich dan Hoopermans seorang arkeolog dari Belanda memuat tulisan tentang Candi Gedong songo pada tahun 1865.

Nama Gedong songo berasal dari Kata Gedong yang berarti bangunan dan Songo yang artinya sembilan. Gedong songo merupakan candi Hindu peninggalan dinasti Sanjaya sekitar abad ke-8 Masehi. Letak candi yang berada di perbukitan, karena Umat Hindu pada waktu itu Gunung di anggap sebagai khayangan atau surga tempat para dewa berada. Candi Gedong songo telah mengalami dua kali pemugaran, tahun 1928-1929 oleh pemerintah Hindia Belanda dan tahun 1972-1982 oleh pemerintah Indonesia.
Kepala Toko Alfamart Jalan-jalan ke Candi Gedong songo di Kabupaten Semarang

Soal besar dan kecil, tentu kita sadari bahwa keberadaan dua hal yang berbeda serta terkesan kontradiktif tersebut justru merupakan sebuah wujud sunatullah yang menyangga gerak roda kehidupan. Besar dan kecil, tak ubahnya ada dan tidak ada, kaya dan miskin, siang dan malam, tinggi dan rendah, pandai dan bodoh, sehat dan sakit, laki-laki dan perempuan, tua dan muda, fana dan kekal, semua hadir berpasang-pasangan sebagai sebuah keniscayaan dunia. Masing-masing pasangan tersebut akan selalu ada dan hadir sebagai syarat sebuah keseimbangan atau harmonisasi kehidupan manusia.

Dalam kesempatan ini saya ingin berbincang mengenai besar dan kecil dalam konteks keakuan, kedirian, cinta, dan juga sikap kepemimpinan seseorang. Secara naluri kemanusiaan, seseorang tentu saja memiliki egosentris untuk mengutamakan dan mengedepankan kepentingan dirinya sendiri. Tanpa pengendalian yang tepat, egoisme yang muncul bisa berakibat menjadi perbuatan memanfaatkan, memperalat, bahkan mengeksploitasi orang lain untuk kepentingan diri sendiri.

Ketika seseorang mulai mencintai orang lain, katakanlah seseorang yang diharapkan bisa menjadi pelabuhan hatinya, sesungguhnya dorongan mencintai tersebut berasal dari kebutuhan rasa disayang dan dicintai. Suatu bentuk kebutuhan diri sendiri dengan mendapatkan sesuatu dari orang lain. Adalah naluriah manusia akan senang apabila ia mendapatkan perhatian, cinta, dan kasih sayang. Sebuah keseimbangan hubungan yang harmonis akan terwujud apabila kedua belah pihak kemudian dapat saling bertepuk seirama untuk saling mengasihi, saling mencintai, saling memberi, serta saling menerima.

Namun apabila cinta tersebut bertepuk sebelah tangan, yang sering terjadi kenapa justru rasa benci akibat cinta yang tertolak? Kejadian ini sebenarnya sebuah bukti nyata bahwa cinta yang awal bersemi tersebut bisa jadi merupakan sebuah pemaksaan rasa yang timbul dari ego seseorang terhadap orang lain. Ia berharap bahwa orang lain akan membalas rasa cintanya, kemudian memberikan perhatian, rasa kasih dan sayangnya kepada dirinya. Bukankah hal ini sebuah bentuk egoisme dimana seseorang lebih mementingkan pemenuhan rasa di hatinya sendiri dan berharap orang lain memberikannya? Aku yang ada barulah sebatas aku kecil. Aku diri sendiri. Sesungguhnya cintanya baru sampai kepada kecintaan terhadap dirinya sendiri.

Namun sebaliknya, jika rasa cinta bergayung sambut, maka rasa berbunga-bunga akan membuncah dari kedua belah pihak yang kemudian saling mencurahkan rasa cinta dan kasih sayang. Dunia seolah berseri dan indah sekali. Setiap saat, setiap detik hanya bayangan dia yang hadir di pelupuk mata. Segala angan, cita dan rasa hanya penuh dengan sosok si dia yang dicinta. Seolah semua rasa telah lebur, menyatu, manunggal dari dua hati insan yang berbeda.

Apabila kemudian ada orang lain mengganggu atau menyakiti seseorang yang kita cinta, kitapun akan merasakan terganggu dan juga rasa sakit itu. Kita akan membela orang yang kita cinta, bahkan jika perlu sampai titik darah penghabisan. Inilah bentuk totalitas sebuah cinta. Cinta sudah meluas dari cinta terhadap diri sendiri menjadi cinta terhadap kebersamaan dengan seseorang dicinta. Aku sudah mulai meluas.

Demikian halnya ketika telah hadir anak-anak sebagai buah kasih cinta suami-istri. Seorang suami sekaligus seorang ayah akan mengayomi istri dan anak-anaknya. Bila adal seseorang yang mengganggu anak-anaknya, ia akan tampil membela dengan sekuat tenaga. Ia bekerja, ia mencari nafkah, ia berjuang, ia bernafas, ia hidup sudah tidak lagi semata-mata demi dirinya sendiri. Ia ada untuk keluarga. Ia ada untuk anak-anak dan istrinya. Dalam konteks ini, makna cinta telah lebih meluas lagi.

Cinta telah berkembang di luar batas cinta kepada diri sendiri dan cinta kepada seseorang yang istimewa, tetapi cinta telah melingkupi sebuah keluarga. Di sinilah peranan seorang ayah sebagai sosok pemimpin yang bertanggung jawab terhadap keluarganya. Ia sisihkan rasa ego diri sendiri, ia akan kesampingkan rasa cinta kepada istrinya, jika dibandingkan rasa cintanya kepada anak-anak dan keluarganya sebagai sebuah wujud perluapan rasa cinta. Diri sendiri semakin mengkerdil, mengecil, menihil, lenyap bahkan sirna. Aku kecil mulai sirna dan tumbuh menjadi aku yang lebih besar. Di sinilah sebuah kebesaran yang sejati mulai tumbuh.

Dalam konteks pemimpin pemerintahan atau negara, filosofi sirnanya aku kecil dan tumbuhnya aku besar, bahkan aku yang lebih besar harus menjadi pijakan setiap pemimpin. Ketika ia telah memangku jabatan seorang pemimpin, maka ia harus melebar-luaskan rasa cintanya dari kecintakan terhadap diri sendiri, cinta terhadap pasangan hidup, cinta terhadap anak-anak, cinta terhadap keluarga, cinta terhadap kelompoknya, cinta terhadap partainya, menjadi cinta yang tak terbatas untuk seluruh rakyat yang menjadi tanggung jawabnya. Pemimpin sejati akan merasa sakit apabila rakyatnya tersakiti. Pemimpim akan merasa susah hidupnya jika rakyat yang dipimpinya mengalami kesusahan hidup. Rakyat kelaparan, pemimpin juga kelaparan. Rakyat menderita, pemimpin juga tidak ketinggalan merasakan derita yang sama. Inilah penjelmaan makna kesadaran manunggaling kawula lan gusti, kebersamaan, kesatuan, senasib-sepenanggungannya pemimpin dengan rakyatnya.

Adakah kita masih memiliki bibit-bibit pemimpin sejati yang melebih-luaskan aku besarnya di atas aku kecilnya, bahkan meniadakan aku kecilnya?

NB: tulisan ini merupakan pengembangan bebas dari diskusi yang menghadirkan Noe Letto sebagai narasumber dalam Kenduri Cinta edisi Oktober 2014.

Lor Kedhaton, 15 Oktoberc 2014


Filed under: Jagad Maiyyah Tagged: Emha Ainun Nadjib, kenduri cinta, kepemimpinan, maiyyah, Noe Letto

Selamat pagi

-

Mastop Story

on 2014-10-15 12:36am GMT

Setelah libur panjang tiga hari, pagi ini sudah memulai bekerja.Rasanya masih capek.Tapi aku kudu semangat.


Masih berbangga dengan gelimangnya harta dan jabatan yang saat ini memikat mata ?, sungguh pengalaman istri siang ini betul-betul patut mendapat apresiasi penuh lantaran tersemat pelajaran berharga syarat akan makna.

©

Tak sembarang berpikir akan hal ini, dan saat kita jumpai penjajak mainan entah siapa dia punya nama, prasangka baik istri sederhana “dalam payah dan lemah sosoknya ia ingin rejeki yang halal dari bekerja bukan meminta”. Segera dibelinya dua buah mainan dalam bungkusan lusuh, setelahnya beberapa kawanpun turut mengikutinya dan si penjual mampu tersenyum yang menawarkan kesahajaan, ia tak ingin di kasihani, karena ia masih mampu untuk berusaha dan bersyukur dengan apa yang ia punya.

Dan benar adanya, merekalah sosok-sosok langka saat ini yang bersama kepayahan kondisi secara kasat mata, kebahagiaan balasan atas kesabaran menantinya dari Sang Pencipta “Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

Kalimat bijak pernah terangkai dari Abu Hudzaifah dalam bukunya Sedekah Orang Miskin ; “Berbahagialah, karena Anda miskin !, kaya tak mesti mulia, dan miskin tak selamanya hina”. Bahkan jika kita tahu, minimnyaharta bisa membuahkan surga, gerigi kuncinya dengan bersabar, berbahagia dan jangan pernah kita berputus asa.

Ingatkah kita sebuah nasihat lawas yang menentramkan hati pendengarnya, “Yakinlah, surga lebih mencintai kita jika kita selalu bertakwa kepadaNya”. Dan Rasul Sholallohu’alaihi wasallam turut menegaskannya ; “Aku berdiri dipintu surga, ternyatayang paling banyak masuk surga adalah orang-orang miskin. Adapun orang-orag kaya masih tertunda (masuk surga). Sementara itu penghuni neraka sudah diperintahkan masuk kedalam neraka”. (HR. Bukhori dan Muslim).

Sekedar mengingatkan diri yang mungkin bermanfaat juga untuk Anda, hidup layaknya putaran roda dimana ritmenya mengalir sekehendak pemainnnya dengan tetap pada skenario utuh tersebut takdir yang hanya mampu dirubah dengan doa. Bersukurkah, bertakwalah dan jangan ada terbesit putus asa karena kita masih mampu untuk berusaha.

_______

Pak Tua  lusuh dan payah tak sempat tunjukkan kecewa, akankan kita mandeg dan enggan untuk berusaha padahal sukses terbentang didepan mata ?

Ngisor wit rambutan, 14 Oktober 2014

Nasib timnas u19

-

Mastop Story

on 2014-10-14 12:00am GMT

timnas u19

Setahun ini penggemar sepak bola Indonesia dibanggakan dengan kehadiran timnas u19.Keterpurukan sepak bola Indonesia sedikit tertutupi dengan kehadiran tim ini.Bahkan mereka sempat meraih juara piala AFF serta lolos ke Piala Asia.

Cerita berlanjut ketika persiapan piala asia dilakukan.Puluhan ujicoba dilakukan.Kemampuan tim ini begitu dipuja-puji disana sini.

Dan benar saja,dalam berbagai ujicoba timnas u19 bermain dengan luar biasa.Mereka banyak memenangkan pertandingan.PSSI kemudian menargetkan merela lolos ke piala dunia.Dengan kata lain mereka harus menjadi semifinalis piala asia.

Namun apa mau dikata, pedang tajam u19 terlalu banyak digunakan berlatih.Hingga saat berperang pedang mereka telah tumpul.Jangankan semifinalis,di babak penyisihan grup mereka sudah dibenamkan Usbekistan dan Australia.
Ujicoba dan persiapan berbulan-bulan tak berarti apa-apa.Sepertinya timnas u19 terlena.Terlalu nyaman dipuji.Mereka belumlah bermental juara.

Mereka mencontoh gaya permainan Eropa.Namu perkara mental bukanlah sesuatu yang gampang dicontoh.Perkara mental adalah perkara niat,perkara batin dan semangat.

Ah,sepertinya kita para pengemar harus berpuasa lebih lama lagi.Dan entah kapan akan menyaksikan timnas kita mengakat piala.


Bos facebook ke Indonesia

-

Mastop Story

on 2014-10-14 12:00am GMT

zukenberg

Sebenarnya saya cukup telat menulis tentang kedatangan bos facebook ini.Dia sudah datang ke Indonesia sejak beberapa hari yang lalu.Dan dia sempat mampir kedesaku.Sayang gak mampir kerumahku hehe…

Mungkin orang ini adalah orang yang cukup mempengaruhi dunia internet Indonesia.Bahkan menurut saya facebook lebih menarik perhatin orang Indonesia daripada raksasa internet Google.

Saat ini pengguna facebook Indonesia adalah salah satu yang paling aktif didunia.Itu artinya kita juga salah satu penyumbang terbesar kekayaan zukenberg.


Tahun ini adalah penyelenggaraan yang ke #8 untuk event Tlatah bocah dengan tagline : “Bocah Dudu Dolanan, Bocah Kudu Dolanan”; acara tahunan yang diinisiasi oleh komunitas Rumah Pelangi di Magelang ini sungguh keren dan selalu menghadirkan variasi acara yang berbeda setiap tahunnya. Rangkaian acaranya pun berjalan lumayan panjang, mulai September- Desember, seperti berikut ini : 1. […]

Google juga punya aplikasi yang sama dengan MS Excel, yaitu Google Spreadsheet. Fungsinya mirip dengan MS Excel meski lebih sederhana. Jadi ingat dengan MS Excel di Windowa 1.1 dulu.

Sebagian fungsi dasar spreadsheet bisa dilakukan dengan Google Spreadsheet. Kotak-kotak kecil atau cell bisa diisi dengan data yang berupa angka atau text. Operasi2 terhadap data tersebut juga tersedia. Jadi kita bisa melalukan operasi2 matematika pada tabel Google Spreadsheet.

Cuma di versi mobile Google Spreadsheet belum bisa menambahkan graphic atau chart. Mungkin dalam beberapa tahun mendatang fungsi ini akan tersedia.

Meski masih sederhana Google Spreadsheet sangat berguna. Data2 bisa dimasukkan di Google Spreadsheet. Jika perlu pengolaha lebih lanjut bisa diexport ke file excel dan kemudian diolah dengan MS Excel.


Satu lagi keluarga aplikasi office besutan Google, Google Slide. Dari namanya sudah diduga kalau aplikasi ini adalah aplikasi untuk presentasi saingan MS PowerPoint. Google Slide bisa digunakan untuk menampilkan file presentasi ppt atau membuat presentasi sederhana.

Google slide memiliki dua tampilan. Pertama tampilan edit dan tampilan show. Salah satu kemampuan Google Slide adalah menampilkan animasi dan custom animation yang dibuat dengan MS PowerPoint. Misalnya: animasi perpindahan slide (slide transtition), animasi huruf, dan lain-lain.

Tampilan show ini mungkinkan untuk melakukan presentasi tanpa menggunakan komputer atau laptop. Apabila smartphone dilengkapi dengan colokan HDMI akan bisa menampilkan presentasi dengan layar televisi atau tayangan lainnya.

Slide presentasi bisa diedit pada tampilan edit. Misalnya untuk melakukan sedikit perubahan pada teks atau proses perbaikan lainnya.

Google Slide juga bisa untuk membuat slide presentasi sederhana. Google Slide baru bisa menambahkan teks. Google slide belum bisa menambahkan foto, gambar, atau file multimedia lainnya.


Prambanan1Ratu Boko sangat lekat dengan legenda Roro Jonggrang. Ratu, dalam khasanah bahasa Jawa mengacu kepada sebutan pemimpin sebuah ke-ratu-an atau keraton. Dengan demikian makna ratu sejajar dengan raja yang merujuk pemimpin kerajaan. Ratu juga tidak merujuk gender lelaki atau perempuan. Begitu halnya dengan sebutan Ratu Boko. Ia juga kerap disebut sebagai Prabu Boko.

Prabu Boko merupakan raja yang beristana di sisi timur Kali Opak. Namanya tenar seantero tanah Jawa. Konon ia memiliki puteri yang cantik jelita bernama Roro Jonggrang. Kecantikan sang puteri menjadikan banyak pangeran dan raja dari negeri lain ingin mempersuntingnya untuk dipermaisurikan.

Di samping banyak negeri yang mengagumi Kerajaan Boko, namun tak sedikit pula kerajaan lain yang ingin menguasai Boko. Boko merupakan wilayah dataran luas yang terhampar di sisi selatan Gunung Merapi. Abu dari gunung yang sangat aktif tersebut merupakan pupuk alam yang menyuburkan tanah Boko. Kesuburan itu masih ditambah dengan hadirnya aliran Kali Opak yang menjadi sumber pengairan. Maka tidaklah mengherankan jika Boko menjelma menjadi sebuah negeri yang ijo royo-royo, subur makmur, gemah ripah loh jinawi.

Tersebutlah Bandung Bondowoso, seorang pangeran dari wilayah Pengging. Dengan segenap pasukannya yang perwira, ia melakukan penyerangan terhadap Kerajaan Boko. Dalam sebuah pertempuran yang dahsyat, ia berhasil menewaskan Prabu Boko. Namun demikian Boko belum sama sekali takhluk karena kepemimpinan Boko kemudian dilanjutkan oleh Roro Jonggrang.

Melihat kecantikan rupa Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso langsung jatuh hati. Sebenarnya hal yang sama juga dirasakan oleh Roro Jonggrang. Namun demi sumpah setia kepada ayahnya dan segenap rakyat Boko, ia mengesampingkan semua perasaannya. Maka tatkala Bandung melamarnya dan berniat menggabungkan kedua kerajaan, Roro Jonggrang mengatur strategi untuk menolak lamaran tersebut dengan siasat halus. Jikalau Bandung bisa membangun seribu candi dalam waktu satu malam sampai batas waktu terbit fajar, ia bersedia menjadi permaisurinya.

Kita semua tahu kisah selanjutnya. Usaha Bandung Bondowoso yang hampir berhasil digagalkan oleh siasat Jonggrang yang “menghadirkan pagi” lebih awal. Mengetahui siasat Jonggrang, betapa marahnya Bandung sehingga ia mengutuk Jonggrang menjadi sebuah patung batu untuk menggenapi seribu candi yang hanya kurang satu.

Ratu Boko2Di samping kemegahan kompleks Candi Prambanan yang megah dan masih dapat disaksikan hingga kini, kita juga dapat menelusuri jejak sejarah Kerajaan Boko dengan mengunjungi sisa-sisa reruntuhan keraton yang terletak di atas bukit Boko. Bukit ini berada di sisi selatan Prambanan, kurang lebih hanya berjarak 5 km.

Pengunjung yang ingin mengunjungi Keraton Boko dapat mengambil satu paket kunjungan dengan Candi Prambanan. Dengan shuttle elf, pengunjung akan diantar ke atas bukit Boko. Begitu membeli tiket gabungan, biasanya pengunjung dianjurkan untuk terlebih dahulu menuju Boko.

Dengan kendaraan yang tersedia, pengunjung dibawa menyusuri sebuah jalanan beraspal di sisi timur Kali Opak ke arah selatan. Tidak seberapa lama pengunjung akan menikmati pemandangan petakan sawah tegalan di bawah sebuah bukit. Dengan melingkari bukit, kendaraan mulai mendaki dari sisi selatan bukit Boko melalui jalan berkelok yang hanya selebar satu mobil. Begitu tiba di atas bukit, nampak sebuah pelataran parkiran luas dengan gapura yang merupakan gerbang awal Keraton Ratu Boko.

Ratu Boko3   Ratu Boko4

Untuk memasuki kawasan petilasan Keraton Ratu Boko, pengunjung harus mengenakan kain penutup pakaian bawah yang disediakan secara gratis oleh pengelola setempat. Untuk mencapai Keraton Boko, pengunjung harus terlebih dahulu menapaki tataran berundak yang lumayan banyak. Keberadaan tataran berundak ini semakin menampakkan keanggunan dan keagungan Keraton Boko yang seolah di puncak bagian puncak sebuah bukit.

Setelah menempuh ratusan anak tangga tataran, akan nampaklah sebuah gerbang candi batu dengan sisi kanan dan kirinya terbentang panjang bangunan tembok atau benteng pembatas sisi luar dan dalam istana. Gerbang tersebut merupakan gerbang pada sisi luar. Gerbang luar ini terdiri atas satu gerbang utama di tengah dengan dua gerbang yang berukuran lebih kecil di masing-masing sisi kanan dan kirinya. Gerbang masing-maisng sisi tersebut beratap struktur batu berbentuk limas segi empat, mirip dengan struktur puncak piramida. Adapun gerbang tengah justru sudah tidak dilengkapi dengan bagian struktur atap alias segi empat terbuka.Mungkin bentuk yang sudah tidak utuh ini belum bisa direkontsruksi hingga kini.

Untuk melintasi gerbang ini, kita harus menaiki bagian tataran tangga yang justru lebih menanjak. Hal ini sebagai petanda bahwa tanah di sisi dalam keraton memang dirancang dengan ketinggian yang lebih daripada tanah di luar lingkaran beteng. Filosofi struktur bangunan punden berundak benar-benar mewujud nyata dalam keseluruhan kompleks Keraton Ratu Boko yang konon memang menganut kepercayaan Hindu Dharma.

Ratu Boko5Selepas gerbang pertama, terdapat teras tanah datar di sisi kanan dan kiri jalur utama. Setelah beberapa langkah, maka akan terdapat tanjakan tataran ke dua yang sekaligus ditandai dengan gerbang utama sisi dalam. Struktur dan gaya gerbang dalam sangat mirip dengan gerbang luar. Setelah melintasi gerbang dalam inilah, pengunjung disuguhi dengan pelataran utama petilasan Keraton Ratu Boko. Pelataran berumput hijau yang luas ini dulunya merupakan bagian utama dimana gedung-gedung utama bagian istana berdiri. Diantara bagian perlengkapan kawasan istana yang masih dapat kita lihat sisa-sisanya diantaranya candi pembakaran, kiara pandang, ataupun bekas sendang keputren.

Berkeliling di pelataran berumput tentu saja akan teras lebih lengkap jika kita sekaligus menaiki sisi utara bukit dimana di atasnya terdapat sebuah bangunan joglo terbuka dengan patung Dewa Shiwa di tengah-tengahnya. Dari atas bukit ini kita bisa memandang secara keseluruhan kompleks petilasan Keraton Ratu Boko di sisi selatan dan juga hamparan dataran rendah Prambanan dengan puncak-puncak candinya di sisi sebelah utara bukit. Dengan hembusan angin sejuk yang sepoi-sepoi, setiap pengunjung dapat menghanyutkan diri ke masa beberapa abad silam hingga seolah-olah tengah berada di masa Roro Jonggrang hidup. Benar-benar sebuah pengalaman yang dapat semakin memperkaya pengetahuan dan rasa batin manusia untuk senantiasa menyelami serta belajar kepada perjalanan sejarah manusia yang penuh dengan seribu satu romantika.

Ratu Boko1  Ratu Boko6

Lor Kedhaton, 13 Oktober 2014


Filed under: Jagad Wisata Tagged: Prambanan, Ratu Boko, Roro Jonggrang

1.    Arak-arakan kemenangan POPDA 2012
2.    Halal bil halal sekolah 2012
3.    Peringatan Maulid Nabi 2013
4.    Ucapan Selamat KUPT kepada siswa berprestasi
5.    Kunjungan Bupati ke Sekolah
6.    Perayaan HUT 2014
7.    Seminar Kurikulum 2013
8.    Buku kurikulum 2013 sampai
9.    Lomba Sekolah Sehat
10.  
Salah satu sekolah tua yang masih tegak berdiri yaitu SDN Salaman 01 yang berada di Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang. Tidak menutup kemungkinan sekolah tersebut merupakan sekolah tertua di Kabupaten Magelang
Rebana merupakan salah satu kegiatan ekstra kurikuler yang dilaksanakan di SDN Salaman 1. Kegiatan latihan yang diampu guru agama Islam ini rutin dilaksanakan setiap hari kamis, namun tidak menutup kemungkinan latihan dilaksanakan dua kali dalam seminggu apabila menghadapi even-even tertentu seperti adanya lomba dan penampilan. Agar lebih efektifnya latihan maka kegiatan ini juga mendatangkan pelatih dari luar sekolah.






Salah satu sekolah tua yang masih tegak berdiri yaitu SDN Salaman 01 yang berada di Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang. Tidak menutup kemungkinan sekolah tersebut merupakan sekolah tertua di Kabupaten Magelang
Untuk menjaga kesehatan, siswa dan guru melakukan senam pagi bersama setiap hari Jumat pagi sebelum pembelajaran dimulai. Kegiatan ini dilakukan oleh semua siswa darim kelas 1 sampai kelas 6 dihalaman sekolah.
Salah satu sekolah tua yang masih tegak berdiri yaitu SDN Salaman 01 yang berada di Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang. Tidak menutup kemungkinan sekolah tersebut merupakan sekolah tertua di Kabupaten Magelang
Untuk meningkatkan ketakwaan siswa kepada Allah s.w.t. setiap Selasa dan Rabu pagi semua siswa membaca dan melafalkan Asmaul Khusna yang juga dipimpin oleh seorang siswa. Kegiatan ini rutin dilaksanakan dengan bimbingan Guru Agama Islam.

Seorang siswa memandu bacaan Asmaul Khusna

Seluruh siswa di kelasnya masing masing melafalkan Asmaul Khusna



Salah satu sekolah tua yang masih tegak berdiri yaitu SDN Salaman 01 yang berada di Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang. Tidak menutup kemungkinan sekolah tersebut merupakan sekolah tertua di Kabupaten Magelang
Santapan rokhani untuk para siswa dilaksanakan pada jumat pagi minggu pertama. Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan membekali para siswa SDN Salaman 1 mengenai permasalahan yang berkenaan dengan agama dan moral sehingga siswa diharapkan dapat melaksanakan kewajibannya sebagai insan beragama dan bermasyarakat.

Ibu Endang (Guru Agama), berinteraktif dengan salah satu siswa.

Ceramah dari Guru Agama

Para siswa mendengarkan penuh antusias.

Salah satu sekolah tua yang masih tegak berdiri yaitu SDN Salaman 01 yang berada di Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang. Tidak menutup kemungkinan sekolah tersebut merupakan sekolah tertua di Kabupaten Magelang

Jangka sorong

-

Mastop Story

on 2014-10-12 12:00am GMT

Salah satu peralatan yang paling penting dalam dunia teknik adalah jangka sorong.Jangka sorong berfungsi untuk mengetahui ukuran dimensi suatu benda kerja.Jangka sorong memiliki ketelitian perseratus milimeter.Dan mampu mengukur dimensi luar dan dalam.

jangka sorong

Ada beberapa macam jangka sorong.Diantaranya adalah

1.Jangka sorong analog
Jangka sorong jenis ini adalah yang paling banyak dijumpai.Jangka sorong jenis ini masih menggunakan cara-cara manual untuk membacanya.Dan tentunya memerlukan ketelitian dari penggunanya.

jangka sorong analog

Namun jangka sorong analog ada yang sudah dilengkapi dengan jarum penunjuk.Jangka sorong jenis ini lebih mudah dalam pembacaanya.

jangka sorong jarum

2.Jangka sorong digital.
Jangka sorong ini adalah yang paling mudah penggunaanya.Namu tetap saja harus mempunyai keahlian dalam menggunakanya.Karena jangka sorong ini sangat sensitiv terhadap tekanan kita.

caliper digital


Salah satu segmen kisah petualangan bergurunya Nabi Musa kepada Nabi Khidzir adalah ketika mereka berdua sampai pada sebuah perkampungan yang dihuni oleh orang-orang yang tidak bersahabat, berperilaku tercela, pokoknya para pelaku kemaksiatan kelas wahid wis. Nah pada saat keduanya menjumpai sebuah rumah kosong, sudah mau roboh, pagar dan dindingnya miring, justru Khidzir mengajak Musa untuk membenahi, terutama menegakkan pagar yang miring.

Meskipun Musa menuruti semua perintah Khidzir tetapi ia tidak kuasa untuk menahan rasa ingin tahunya. Akhirnya Musa lupa dengan pantangan tidak boleh menanyakan apapun pada saat ia bersama Khidzir. Apabila Musa menanyakan sesuatu yang dikerjakan Khidizir hingga tiga kali, maka di saat itulah waktu perpisahan telah tiba. Akhirnya menjelang perpisahan sebagaimana telah menjadi perjanjian mereka berdua, Khidzir mbabar rahasia setiap hal yang dikerjakannya yang senantiasa seolah bertentangan dengan nalar logikanya Musa.

Mengenai pekerjaan menegakkan pagar tadi, Khidzir berujar,” Saya menegakkan pagar, membenahi rumah yang hampir roboh itu dikarenakan di bawah rumah tersebut tersimpan harta karun yang menjadi hak waris anak yatim-piatu. Dengan harta warisan itu, kelak para anak-anak tersebut dapat mempergunakannya sebagai bekal hidup di jalan Tuhan.” Musa manggut-manggut, ia baru paham dan memang mengakui bahwa ilmu pengetahuannya tidaklah sekedar setitik debu dibandingkan keluasan dan kedalaman ilmu Khidzir.

Menegakkan Pagar Miring sengaja diangkat menjadi tema diskusi Kenduri Cinta edisi Oktober 2014 kemarin. Berangkat dari kisah Nabi Musa dan Nabi Khidzir segenap jamaah didorong untuk menggali kembali mengenai apa dan bagaimana keadaan kehidupan kita dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.

Ibrah atau pelajaran menegakkan pagar miring di atas sebenarnya sangat kontekstual dengan keadaan di negara kita yang tengah terombang-ambing dalam badai prahara kehidupan yang tak kunjung usai saat ini. Bagaimana tidak kacau, para pemimpin negara ini harusnya bekerja dan berjuang untuk kepentingan segenap rakyat dan anak cucu kelak di kemudian hari, tetapi justru mereka merampok segala sumber daya hak milik para penerus bangsa. Minyak dijual murah. Batubara, timah, tembaga, pasir besi, semuanya hanya “dimakan” segelintir orang dan kelompoknya.Kita seolah sangat serakah dan tidak lagi menyisakan bagian anak cucu kita di masa datang.

Tidak terhenti hanya pada soal sumber daya alam, martabat dan kehormatan bangsa juga telah banyak digadaikan ke luar negeri. Kita menjadi bangsa yang inverior, minder, rendah diri dan selalu memandang ke atas terhadap segala apapun yang datang dari luar negeri. Kita telah kehilangan kesadaran diri dan pondasi jati diri. Kita tidak lagi mandiri sebagai sebuah bangsa yang hebat. Kita memang hanya tinggal menunggu panennya kehancuran demi kehancuran sebagai buah perbuatan yang kita lakukan.

Namun demikian sebenarnya Tuhan akan senantiasa menolong siapapun hamba-Nya yang masih mau memperjuangkan nasib. Kitapun tidak perlu berkecil hati karena sesungguhnya nenek moyang kita telah banyak mewariskan bekal pengetahuan, nilai luhur, kebijaksanaan, ataupun kearifan lokal yang senantiasa relevan sepanjang jaman. Kita harus menggali kembali, mengenali kembali, dan mempelajari kembali ilmu-ilmu “kuno” tersebut untuk dikontekstualisasikan dengan perkembangan masa kini.

Tiga kisah utuh pengembaraan Musa yang berguru kepada Khidzir, mulai dari segmen menegakkan pagar miring, membocori perahu penyebrangan, serta pembunuhan terhadap seorang bocah pada hakekatnya merupakan penggambaran keluasan ilmu Khidzir yang menembus dimensi waktu masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dari mana kita berasal, di mana kini kita berada, dan ke mana kita akan melangkahkan tujuan hidup. Carut marut persoalan bangsa dan negara kita harus didekati pemecahannya dengan memetakan masa lalu, masa kini, dan masa depan yang ingin kita tuju.

Dalam kerangka kajian Kenduri Cinta, berbagai warisan berharga dari para pendahulu tidak boleh sembarangan dieksploitasi, dikuras habis, bahkan dijual murah kepada bangsa lain karena pada hakekatnya warisan tersebut adalah titipan untuk anak cucu generasi penerus bangsa yang akan datang. Warisan tersebut dapat berupa apapun yang berharga dari bangsa kita, bisa kepribadian, nilai dan pranata luhur, adat dan tradisi, seni, hingga kekayaan alam, bahan tambang, minyak bumi, batu bara, tembaga, timah, emas dan lain sebagainya. Pada titik kesadaran pikir inilah diharapkan segenap Lingkaran Maiyyah Nusantara memerankan peranan pentingnya. Semoga.

Ngisor Blimbing, 11 Oktober 2014


Filed under: Jagad Maiyyah Tagged: Emha Ainun Nadjib, kenduri cinta, maiyah, Noe Letto

          Setelah sekian lama menunggu datangnya buku baru kurikulum 2013, akhirnya tercapai sudah harapan tersebut dengan datangnya  buku tersebut di SDN Salaman 1 pada tanggal 10 Oktober 2013. Walaupun kondisi belumlah komplit untuk kebutuhan 1 tahun tetapi setidaknya sudah memberikan sedikit ketenangan khususnya para guru kelas 1, 2, 4, dan 5.
          Pengecekan barang dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Alhasil, semua sesuai dengan data. Dengan kata lain, jumlah buku dengan berita acara serah terima buku tidak ada perbedaan.
          Kini agenda selanjutnya adalah bagaimana memanfaatkan buku tersebut dalam pembelajaran yang harus mampu diselesaikan dalam semester 1 ini. Mengingat banyaknya kegiatan yang harus dilakukan dalam pembelajarannya, mau tidak mau para guru harus memutar otak bagaimana porsi yang sudah ditentukan tersebut dapat selesai sesuai waktu yang tersedia.




Salah satu sekolah tua yang masih tegak berdiri yaitu SDN Salaman 01 yang berada di Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang. Tidak menutup kemungkinan sekolah tersebut merupakan sekolah tertua di Kabupaten Magelang


Setiap makhluk hidup tak terkecuali manusia dilahirkan di dunia sudah dibekali dengan keistimewaan masing-masing. Tentunya semua keistimewaan tersebut dipersiapkan untuk bekal kehidupanya. Bahkan manusia lahir kembar pun di dunia ini tidak ada yang sama dipandang dari segi manapun. Semua memiliki keistimewaan masing-masing. Itulah kebesaran dan kemurahan Allah atas semua makhluknya.
Manusia sebagai makhluk berakal pun memiliki keistimewaan sendiri-sendiri, misalkan  dalam hal kecerdasan. Manusia lahir sudah dibekali berbagai jenis kecerdasan yang akan membawanya kedalam kesuksesan jika mereka sendiri mampu memanfaatkan. Jadi manusia lahir sudah membawa kecerdasan masing-masing. Bahkan menurut para ahli, manusia di dunia ini tidak ada yang bodoh. Benarkah demikian? Jika ukuran bodoh dinilai dari matematika atau fisika mungkin jawabannya tidak, tetapi bidang ilmu bukan hanya dua hal tersebut. Masih banyak bidang yang mungkin justru lebih memerlukan penekanan. Permasalahannya, pengembangan kecerdasan-kecerdasan tersebut sudahkan terakomodasi di dunia pendidikan kita?
Pendidikan dengan pendekatan saintifik dalam kurikulum 2013 yang sedang getol-getolnya dilaksanakan ini seakan membawa angin segar dalam menumbuhkembangkan berbagai kecerdasan tersebut. Namun sayangnya banyak kendala yang menghadang. Pendekatan saintifik yang menjadi ruh dari kurikulum 2013 ini terancam gagal jika tidak konsisten melaksanakannya. Apa gendalanya? Salah satunya adalah kompetisi bidang akademi. Silahkan direnungkan.

Menurut ahli, kecerdasan manusia dibedakan menjadi beberapa bidang, misalnya :
1.  Kecerdasan matematik – logis, mencakup kemampuan penalaran, menghitung, dan pemikiran logis. Orang yang memiliki kecerdasan ini kita temui pada ahli matematika, ilmuwan, penyelidik, akuntan, pemburu binatang.
2.   Kecerdasan Lingustik, mencakum kemampuan berbicara atau menulis.  Hal ini sering kita jumpai pada Novelis, panyair, penulis iklan, orator, editor, jurnalis, dll.
3.     Kecerdasan visual – spasial, mencakup kemampuan melukis, memotret, atau mematung. Hal ini sesuai untuk pekerja arsitek, pelukis, pemahat, navigator, pemain catur, ahli fisika, ahli strategi perang.
4.    Kecerdasan Musikal, kemampuan menggubah lagu, bernyanyi, dan bermain alat music. Hal ini sering kita jumpai pada penggubah lagu, pemain sandiwara, konduktor, penikmat music, dll.
5.     Kecerdasan Kinetetis, yaitu kecerdasan dalam hal keterampilan mengolah anggota tubuh dan gerak, hal sering kita jumpai pada olah ragawan, penari, actor, ahli bedah, ahli mekanis, dll
6.  Kecerdasan Interpersonal, yaitu kempuan berhubungan dengan orang lain sehingga sering disebut kecerdasan sosial. Hal ini sesuai dengan pekerja sebagai guru, polisi, pemimpin religius, penasehat, motivator dll.
7.   Kecerdasan Intrapersonal, yaitu kemampuan mengelola perasaan dan kesadaran diri sendiri. Hal ini sering kita jumpai pada novelis, penasehat, filosof, guru dll.

Penulis : S. Joko N. (Guru SDN Salaman 1)
(diambil dari beberapa sumber)
Salah satu sekolah tua yang masih tegak berdiri yaitu SDN Salaman 01 yang berada di Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang. Tidak menutup kemungkinan sekolah tersebut merupakan sekolah tertua di Kabupaten Magelang

Suka olahraga? UseeTV bikin kompetisi video lagi dengan tema olahraga nih. Kali ini hadiah utamanya mobil! Yuk rekam aktivitas olahraga kalian dalam video berdurasi maksimal 60 detik. Cek info lengkapnya di useetv.com/wow60

Saya sendiri sudah bikin satu video nih. Temanya olah raga ekstrim parkour. Ini teasernya.

Durasi video ini aslinya 3 menitan. Tapi karena ketentuan lombanya mengharuskan video berdurasi maksimal 60 detik, maka terpaksa saya harus membuang banyak adegan. Video versi panjangnya akan segera saya upload di Youtube saya. Sedangkan untuk versi 60 detiknya ada di sini.  Ayo bantu vote video ini biar menang dengan cara mengeklik icon jempol yang ada di tautan ☛ ini. 

Screen-Shot-2014-10-11-at-1.32.53-AM6 Screen-Shot-2014-10-11-at-1.32.53-AM4 Screen-Shot-2014-10-11-at-1.32.53-AM2 Screen-Shot-2014-10-11-at-1.32.53-AM1 Screen-Shot-2014-10-11-at-1.32.53-AM7 Screen-Shot-2014-10-11-at-1.32.53-AM8

Ayo semua ikutan dan kita saling vote!

The post Lomba Video Tema Sport Berhadiah Mobil! appeared first on GoenRock's VLog®.

Rumah kami tidak begitu luas. Hanya ada dua kamar, satu kamar utama dan satunya kamar anak-anak. Posisi kedua kamar bersebelahan. Jadi kalau ada sesuatu atau suara-suara akan gampang terdengar.

Royan dan Abim sudah cukup besar. Mestinya mereka punya kamar sendiri-sendiri. Kami belum mampu membangun kamar baru, jadi mereka masih berbagi kamar. Seringnya salah satunya tidur di kasur di ruang keluarga.

Entah mulai kapan, kami tidak menyadarinya. Malam-malam kadang-kadang saya bangun untuk sekedar buang air kecil atau minum, lalu kembali lagi ke kamar. Dalam kondisi setengah bangun setengah tidur, saya seperti mendengar sesuatu dari kamar sebelah. Kebetulan Royan yang tidur di kamar.

Suaranya seperti laci meja yang ditarik lalu dimasukkan kembali. Di kamar itu memang ada dua meja jati kecil untuk belajar anak-anak. Awalnya saya biarkan saja. Suara itu muncul lagi.

Pagi sebelum subuh saya bangunkan Royan. Saya tanya dia:
“Tadi malam kamu bangun, Mas Royan?”
“Enggak.”
“Bener?”
“Bener.”

Dari sorot mata dan bahasa tubuhnya saya tahu Royan tidak bohong.

Ternyata tidak cuma sekali suara-suara aneh itu muncul. Istri saya juga pernah mendengarnya. Bahkan suaranya seperti kursi yang digoyang-goyang.

Gludak..gludek…..
Srek..srek….duk..duk…

Suara itu jelas sekali.

Malam hari memang suaranya hening. Suara-suara pelan saja bisa terdengar. Kami masih ragu-ragu apakah suara-suara itu dari kamar sebelah atau bahkan dari luar.

Rumah depan kami adalah rumah yang dijadikan gudang penyimpanan sepatu. Sepertinya rumah itu jarang ditiduri atau paling hanya seorang penjaga saja. Sedangkan rumah sampingnya baru saja dibangun selema beberapa bulan. Kami tidak begitu yakin apakah suara-suara itu dari depan rumah kami.

Entahlah.


Ada banyak operator telepon seluler di Indonesia. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya. Setelah mencoba berbagai macam operator, ada yang satu yang selalu saya pakai sampai sekarang.

Pertama kali saya punya ponsel sekitar tahun 2000an, awal-awal reformasi. Waktu itu hanya ada satu operator: Telkomsel. Harga kartunya sangat mahal untuk ukuran sekarang. Kalau tidak salah ingat Rp. 150rb. Muahal. Saat ini kartu dibagi-bagi gratis. Harga ponselnya saja juga mahal, sekitar Rp. 2jtan. Merek ponsel pertama saya adalah Almarhum Siemen yang layarnya masih biru.

Beberapa tahun kemudian muncul operator-operator baru. Harga pulsa dan kartu pun kian murah. Teman saya banyak yang kemudian baralih memakai operator lain. Ada cerita menarik ketika saya ditugaskan melakukan survei kopi ke gunung-gunung di daerah terpencil. Kami semua berempat. Dua orang pakai Telkomsel, termasuk saya. Dan dua lainnya pakai operator yang berbeda. Jadi ada tiga operator. Karena di daerah terpencil, sinyal adalah barang yang langka. Kami mesti mencari tempat yang tinggi sambil mengacungkan ponsel untuk mendapatkan sinyal. Dari tiga operator harus diakui kalau sinyal saya yang paling kuat dan lebih banyak daerah yang ada sinyalnya. Teman saya sering mengeluh:
“Sinyal saya byar pet aja nih!”

Operator semakin banyak dan persaingan semakin keras. Konsumen yang diuntungkan, karena harga pulsa semakin murah. Harga ponsel pun juga semakin terjangkau. Tapi, operator melancarkan strategi pemasaran yang jitu. Kalau telepon ke operator sesama harganya sangat murah, tapi kalau telepon ke operator yang lain harganya berkali-kali lipat. Akibatnya mungkin tidak diduga para operator. Orang memilih punya lebih dari satu kartu meski ponselnya cuma satu. Kalau mau nelpon kartunya diganti sesuai dengan kartu yang akan ditelepon. Teman saya ada yang punya sampai 5 kartu. Ketika harga ponsel semakin murah, orang membeli lebih dari satu ponsel dengan operator yang berbeda.

Saya pun akhirnya membeli ponsel kedua dan memakai kartu yang berbeda. Operator utama saya tetap Telkomsel, ponsel yang satunya lagi saya isi kartu dari operator yang lain. Hampir semua operator pernah saya coba.

Ketika ponsel bisa buat internetan, GPRS namanya waktu itu. Operator pun berlomba-lomba menawarkan fitur internet ini. Ada operator baru yang menawarkan paket internet sangat murah. Saya pun membeli paketnya. Bener-bener murah, kenceng lagi. Namun, rupanya kencengnya cuma sesaat. Ketika banyak orang yang memakai paket itu, kecepatannya turun drastis. Saya sampai frustasi nunggu loading halaman website. Saya cari operator yang menawarkan paket internet yang lebih murah lainnya. Maklum mahasiswa, suka yang murah-murah. Ada harga ada rupa. Harga memang murah, tapi kualitasnya ‘murah’ juga.

Yang paling menyebalkan adalah ketika saya tinggal di kost-kostan yang tempatnya rendah. Saya tinggal di kota besar, mestinya coverage-nya tidak masalah bagi operator. Cuma di kamar kost saya tidak ada sinyal internet. Payah. Kalau saya pingin internetan, saya mesti keluar kamar cari-cari sinyal. Menyebalkan.

Saya coba ganti beberapa operator. Hanya satu yang sinyalnya lancar jaya di tempat saya, yaitu Telkomsel. Meski paketnya relatif lebih mahal dari operator lain, pilihan saya tetap jatuh sama. Mau bagaimana lagi.

Kini saya masih setia pakai Telkomsel. Semua anggota keluarga saya pakai operator yang sama. Biar murah kalau mau menelpon.

Cuma sekarang ada yang sedikit menyebalkan dari layanan Telkomsel. Pertama, SMS Promosi. Sebel banget. Apalagi kalau SMSnya tengah malam. Ketika sedang asik-asiknya tidur, tiba-tiba terbangun oleh SMS gombal. Asem tenan. Dalam sehari saya mendapatkan banyak SMS iklan, SMS notifikasi, SMS promo, SMS diskon dan banyak lagi.

Kedua, iklan serobot di paket internetnya. Ketika mau masuk ke halaman website tertentu, tiba-tiba dibelokan ke halaman Promosi. Meski tidak berbiaya, tetap saja menyebalkan. Saya ikut petisi untuk memprotes iklan serobot ini.

Operator seluler semakin banyak dengan banyak pilihan harga dan kualitas. Kalau Telkomsel tidak pandai-pandai memanjakan pelanggan setia seperti saya ini, bukan tidak mungkin saya akan pindah ke operator seluler lainnya.

image


Sudah lama rasanya saya pengen ikut kegiatan berbau kepenulisan, hanya saja terkadang waktunya tidak tepat atau keberanian saya belum muncul. Mungkin perlu semedi di Gunung Tidar dulu baru bisa muncul.

Dan kali ini keajaiban terjadi *ngok*. Keberanian akibat rasa penasaran pun muncul. Saya memutuskan ikut kegiatan menulis gratis dari Akademi Bercerita Bentang Pustaka. Gratisan gitu loooh!. Sebenarnya saya pengen ikut dari gelombang pertama, sayangnya kala itu saya harus ke Bandung. Saat ini pun saya hanya bisa ikut 3x pertemuan karena setelah itu saya harus melakukan perjalanan mencari kitab suci *sungokong kali*.

Awal mula acara dimulai rasanya deg-degan banget loh. Merasa asing di tempat baru. Tetapi seiring berjalannya waktu, suasana mencair. Saya sangat menikmati kegiatan ini. Dari perkenalan, membahas materi, dan tiba-tiba seisi ruangan dikagetkan oleh tugas dadakan menulis bebas dalam waktu 15 menit. Pikiran blank, entah mau nulis apa. Akhirnya saya memutuskan menulis tentang kegiatan saat itu, yaa semacam curcol cyiiin. Tulisan asal tulis pun akhirnya jadi meski tak beraturan.
Ini tulisan saya saat itu.

——————————————–

Kunyalakan komputer tuaku yang bernama Jambrong. Awalnya hanya sekedar untuk memutar musik penyemangat pagi. Entah kenapa tiba-tiba hasrat onlineku memuncak. Lalu, dengan perlahan-lahan mulai kutancapkan modem di badan jambrong. Ya, perlahan-lahan karena jika kasar sedikit saja maka Jambrong akan hang.

Setelah modem terpasang, mulailah kuselami dunia maya menjenguk facebook yang mulai dijejali curhatan-curhatan manusia galau. Membosankan memang. Tetapi ada satu status yang menarik perhatianku, status berbau kepenulisan dari kawan dunia maya.

Tulisan itu berisi pemberitahuan tentang kegiatan menulis gratis dari akademi bercerita bentang pustaka. Sontak aku pun antusias menanyakan detil acara tersebut.

Hanya berselang beberapa jam aku pun mulai bersiap-siap agar bisa mengikuti acara tersebut. Acara ini adalah momen menarik dimana aku dapat belajar bagaimana cara menulis kreatif yang baik dan bagaimana agar tulisan kita dapat diterbitkan.

Tepat jam 1 aku tiba di lokasi, kulihat masih tampak sepi, nyenyet, seperti tak berpenghuni. Aku hampir lupa kalau ini perpustakaan.

———————————————

Absurd kan? Ahhaaha ya begitulah namanya juga belajar. Yang penting saya sudah berusaha semaksimal mungkin dan semampu saya.

Tujuan saya ikut kegiatan ini tentu saja ingin belajar tentang dunia kepenulisan. Pengen banget belajar menulis fiksi meskipun lebih tertarik non fiksi. Ya pokoe apapun itu pengen banget belajar. Siapa tau suatu saat bisa nerbitin buku sendiri. Aamiin Ya Allah… *antara ngarep dan berdoa*.

HAJAT SENI 2014

-

TLATAH BOCAH

on 2014-10-10 6:51am GMT

Hajat seni merupakan sebuah rangkaian Festival Tlatah Bocah dalam bentuk perayaan kesenian tradisi untuk mengkampanyekan secara bersama tentang hak anak (hak hidup, tumbuh kembang, pendidikan, partisipasi). Komunitas yang terlibat terdiri dari komunitas seni anak-anak lereng Merapi, Sumbing, Sindoro, dan perbukitan Menoreh serta beberapa daerah lain.

 

Pada tahun ini tuan rumah Hajat Seni adalah dusun Ngargotontro (desa Sumber, kecamatan Dukun, kabupaten Magelang) bertepatan dengan rangkaian ritual Suran di dusunnya.  Rangkaian acar yang disajikan dapat diikuti siapa saja tanpa dipungut biaya. Adapun agenda Hajat Seni tersebut terdiri dari:

 

- Pasang sesaji & kenduri,

- Orasi budaya,

- Sarasehan,

- Penyerahan Penghargaan pada anak-anak yang 7 kali berturut-turut mengikuti Festival Tlatah Bocah

- Penyerahan Beasiswa Merapi

- Instalasi seni dan pameran karya kolaborasi anak-anak di Jawa dan Australia,

- Pentas seni tradisi.

 

==============

 

JADWAL ACARA

 

Sabtu, 1 November 2014

SURAN NGARGOTONTRO

 

Jam 06.00–07.00

1. Pasang Sesaji

 

jam 07.00–09.00

2. Jathilan Papat

 

jam 13.00–17.00

3. Pentas Topeng Ireng (SDK Sumber)

4. Jathilan Bocah (Ngargotontro – Merapi)

5. Warok Bocah (Ngargotontro – Merapi)

6. Angguk Rame (Ngargotontro – Merapi)

 

Jam 17.00–17.30

7. Kenduri

 

Jam 19.30–23.00

8. Tari Merak (Ngargotontro – Merapi)

9. Tari Girang–girang (Ngargotontro – Merapi)

10. Kaori Okado (Jepang)

11. Soreng  (Ngargotontro – Merapi)

12. Teater (Salatiga)

13. Reog Kolaborasi

 

==============

 

Minggu, 2 November 2014

PERAYAAN TLATAH BOCAH 8

 

Jam 09.30–11.30

1. Sarasehan: “Anak, Seni, dan Komunitas (Refleksi)”

 

Jam 13.00–17.00

2. Arak-arakan

3. Campur (Bangun Budaya – Sumber – Merapi)

4. Penyerahan Penghargaan

pada anak-anak yang 7 kali berturut-turut mengikuti Festival Tlatah Bocah

5. Padat Karya (Joko Tarub – Klakah Tengah – Merapi)

6. Kuda Lumping (Bansari – Temanggung – Sindoro)

7. Penyerahan Beasiswa Merapi

8. Kobro Siswo (Remaja Muda – Sengi – Merapi)

9. Tanpa Aran (Omah Ngisor – Sambak – Sumbing)

 

Jam 19.30–23.00

10. Wayang Bocah (Tjipta Boedaja – Tutup Ngisor – Merapi)

11. Reog Bocah (Baratha Muda Jaya – Gumuk – Merapi)

12. Teater Anak (Bocah Ilalang – Bebengan – Menoreh)

13. Musik (Salatiga)

 

Pelaksana : Singo Ngumboro

Peserta : Komunitas
Publik : Penonton (gratis)
Hari – Tanggal : Sabtu, 1 November – Minggu, 2 November 2014
Lokasi : Dusun Ngargotontro, Desa Sumber, Kecamatan Dukun,
Kabupaten Magelang

 

denah HAJAT SENI 2014 dalam ukuran besar

 

Anda dapat berpartisipasi aktif untuk mensukseskan Festival Tlatah Bocah ke 8 dengan cinderamata yang kami sediakan untuk Anda.

 

Mari berpartisipasi dukung kampanye hak anak dan seni tradisi.

 

Klik: CINDERAMATA

JANGAN SAMPAI KECEWA

-

TLATAH BOCAH

on 2014-10-10 4:05am GMT

Masih mau kecewa karena terlewat / tidak hadir seperti tahun lalu pada perayaan anak dengan berbagai seni tradisinya?

 

HAJAT SENI (Festival Tlatah Bocah 8) segera hadir di awal bulan lo, tepatnya:

 

hari / tanggal:
Sabtu-Minggu / 1-2 Nov 2014

 

lokasi:
Dusun Ngargotontro, desa Sumber, kec Dukun,
kab Magelang
(lereng Merapi)

 

Rangkaian acara:
- Pasang sesaji & kenduri,
- Orasi budaya,
- Sarasehan: “Anak, seni, & komunitas (refleksi)”,
- Penyerahan penghargaan pada anak-anak yang 7 kali berturut-turut mengikuti Festival Tlatah Bocah
- Penyerahan Beasiswa Merapi
- Instalasi seni dan pameran karya kolaborasi anak-anak di Jawa dan Australia,
- Pentas seni 20 kesenian (90% anak-anak)

 

Ajak keluarga dan tetangga beramai-ramai…

 

INFO: 

p: 0818 – 0272 3030

t: @TlatahBocah | f: Tlatah Bocah | e: [email protected]

Baru-baru ini, publik dikejutkan oleh Qian Fenglei, seorang miliarder China yang membagi-bagikan iPhone 6 kepada teman-teman sekelasnya di SMA dalam sebuah acara reuni. Bagi banyak orang, hal ini mungkin sangat fenomenal, mengingat iPhone 6 sendiri seperti yang kita ketahui merupakan salah satu ponsel dengan banderol termahal saat ini, namun bagi si Qian, bagi-bagi iPhone ini layaknya ritual bagi-bagi biasa yang tak terlalu spesial, pasalnya, ia memang terkenal sebagai miliarder yang nyah-nyoh bin bloboh alias dermawan. Tahun lalu, saja, Dalam acara reuni serupa, Qian membagi-bagikan iPhone 5 kepada teman-teman SMA-nya.

Saya jadi teringat dengan kisah (hampir) serupa yang terjadi pada bapak saya.

Beberapa tahun yang lalu, bapak saya diundang ke Bangka Belitung untuk menghadiri acara reuni oleh salah seorang kawan sekelas sewaktu SMP. Undangan yang jelas sangat haram untuk ditolak, karena seluruh akomodasi tiket pesawat dan penginapan sudah disediakan oleh si pengundang. Acara reuni tersebut kelak menjadi tonggak sejarah bagi bapak saya, karena melalui jalan reuni itulah, bapak saya akhirnya bisa kesampaian naik pesawat untuk pertama kalinya. Pengalaman naik pesawat tersebut selanjutnya akan menjadi bahan pamer dan olok-olok bapak kepada saya karena saya sama sekali belum pernah naik pesawat. (Saya baru kesampaian naik pesawat setengah tahun setelahnya, dan itu lebih dari sekali, sehingga olok-olok soal naik pesawat justru berbalik pada bapak).

Ada sekitar 40 orang yang diundang dalam acara reuni tersebut, dan hanya sekitar 30 orang yang bisa hadir.

Si pengundang, sebut saja Pak Marcopolo sengaja mengundang kawan-kawan satu kelas semasa SMP karena terdorong oleh rasa rindu yang sedemikian besar sekaligus untuk menyambung tali silaturahmi. Seluruh akomodasi reuni ditanggung pribadi oleh Pak Marcopolo. Pak Marcopolo kala itu menjabat sebagai salah satu petinggi Kepolisian di Bangka Belitung, jadi tak heran jika ia mampu merogoh kocek yang cukup besar untuk mengagendakan acara reuni tersebut.

Dalam reuni yang cukup meriah itu, Pak Marcopolo dengan entengnya membagi-bagikan 30 unit ponsel Blackberry Davis kepada seluruh peserta reuni, tak terkecuali bapak saya. Katanya sebagai cindera mata, sekadar kenang-kenangan atas pertemuan temu kangen generasi gaek yang sudah lama tak bertemu.

Sebagai manusia yang hanya dengan punya hape berlayar warna dan dering poliponik saja sudah cukup berbahagia, tentu bapak merasa bagai kejatuhan durian runtuh tatkala diberi satu unik Blackberry. Benar-benar acara reuni yang sangat tidak mengecewakan. Sudah diberikan akomodasi, disangoni, eh, masih dikasih hape Blackberry.

Setelah acara reuni usai, sesampainya di rumah, bapak langsung bercerita soal blackberry barunya itu, dan saya langsung antusias, namun bukan pada blackberry-nya, melainkan pada sosok pak Marcopolo-nya. Saya pun kemudian memaksa bapak untuk bercerita lebih jauh tentang Pak Marcopolo. Saya ingin tahu bagaimana kehidupan masa sekolah seorang Pak Marcopolo sang pejabat tinggi polisi yang begitu entengan mau membagikan blackberry pada ketigapuluh kawannya tersebut.

“Marcopolo itu dulunya siswa biasa-biasa saja, ndak menonjol, juga ndak pinter, tapi kalau dibandingkan sama bapakmu ini ya jelas masih pinteran dia,”

“Kalau ndak pinter dan juga ndak menonjol, Lha kok dia bisa jadi petinggi polisi pak? Apa pak Marcopolo punya kerabat atau orang dalam di kepolisian?”, Tanya saya penasaran.

“Lho-lho, kamu itu lho, kok gampang banget suudzon sama orang. Sejauh yang bapak tahu, sih, dia itu ndak punya kerabat orang dalam, yah, namanya juga nasib gus, sering ndak bisa disangka, Gusti Alloh kan maha berkehendak,”.

Saya pun mengamini apa kata bapak, kita memang susah menerka nasib, terlebih jika hanya berpatokan pada kehidupan masa kecil. Seseorang yang waktu kecilnya biasa-biasa saja, bisa jadi di waktu dewasanya justru tumbuh menjadi seseorang yang luar biasa. Sama halnya seperti Qian Fenglei yang dulu sewaktu SMA bukanlah seorang siswa yang brilian, bahkan malah pernah hampir putus sekolah, namun di usia dewasa, Qian justru tumbuh menjadi seorang pengusaha yang sukses dan makmur.

Orang Jawa bilang, 'duren-duren, roti-roti, mbiyen-mbiyen, saiki-saiki'.

Sewaktu kecil, mungkin kita mungkin hanya A, tapi saat dewasa, kita bisa saja menjadi Z. Kita tak akan pernah tahu, akan jadi apa kita dan orang-orang di sekitar kita di masa depan. Yang pasti, perubahan tersebut sering kali mengejutkan kita.

Sastro pernah begitu menyesal karena dulu sewaktu SMP pernah menolak adik kelas (sebut saja Bunga) yang dengan terang-terangan mengaku suka dengan Sastro.

“Dulu cintanya aku tolak mentah-mentah, dia itu ndak ada menarik-menariknya blas, gus. Udah item, cerewet lagi!”.

“Lha trus kenapa kamu nyesel?” Tanya saya mencoba memancing jawaban Sastro

“Lha sekarang dia itu beda jauh, gus. Ndilalah kemarin aku ketemu dia, dia nyapa aku gus, sekarang dia itu cantik banget, putih, montok, bibirnya merah dan semrutup, aku saja sampai sempat ndak percaya kalau dia itu si Bunga. Pokoknya aku nyesel berat gus, kalau tahu dia bakal tumbuh jadi cewek yang semledot seperti sekarang, pasti dulu sudah aku terima cintanya!”, Sastro kemudian mencecap lidahnya, “Ah, coba dia cantiknya sejak dulu!”, gerutu Sastro.

Saya hanya tersenyum kecil, mencoba sedikit memahami rasa penyesalan yang sedang Sastro alami.

“Ya kalau dia sudah cantik sejak dulu, mungkin waktu itu yang dia suka bukan kamu tro, tapi kakak kelas lain yang jauh lebih ngganteng dan lebih besus dari kamu, dia kan berani suka sama kamu karena dulu dia sadar bahwa dia ndak terlalu cantik, lagipula adik kelas yang bisa suka sama kamu itu kemungkinannya cuma dua, kalau bukan karena saking pasrahnya, pasti karena saking khilafnya, hahaha,”

“Asuuuuuu”

Mitos gerhana bulan

-

Mastop Story

on 2014-10-09 4:06pm GMT

Gerhana adalah sebuah peristiwa alam.Dan baru-baru ini terjadi didaerah saya.

Dan ada kejadian unik yang terjadi.Yaitu banyak orang yang klotekan(bahasa indonesianya apa ya?).Pokoknya membunyikan alat-alat seperti cangkul,kentongan dsb.

Sebenarnya saya kurang tau tujuan membunyikan alat-alat tersebut.Namun saya pernah mendengar cerita beberapa orang.Jadi ceritanya saat gerhana terjadi mereka bilang bulan ditelan raksasa.Hmmm…

Entah siapa yang memulai cerita itu.Namun dalam masyarakat cerita itu kian berkembang.Dan sampai sekarang masih diingat.Hmmm…biarlah…


Berbeda dengan saat saya masih kecil, sekarang saya jarang sekali bermimpi saat tidur. Saya bermimpi hanya saat sadar. Saya ingin sekali bermimpi saat tidur. Bermimpi saat sadar itu melelahkan. Kita dibuat meraih sesuatu yang belum jelas. “Mimpi-mimpi Sadar” ini mencegah kita untuk tidur. Dia mengharuskan kerja keras dibalut strategi agar dia terwujud. Capek bukan? Karena itu, saya ingin […]

The post Nikmatnya Bermimpi appeared first on Vampir Magelang | @Pengkarya.

Napak Tilas Stasiun Secang

-

Pendekartidar

on 2014-10-09 6:31am GMT

Stasiun Secang   Stasiun Secang1

Secang merupakan sebuah kota kecil di sisi utara Kabupaten Magelang. Kota ini merupakan titik penghubung jalur utama Jogja-Semarang dengan jalur tengah Jawa Tengah yang menembus Temanggung, Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, hingga Purwokerto. Posisi yang sangat strategis ini sudah semenjak jaman penjajahan Belanda diperankan oleh Kota Secang. Di samping jalur transportasi jalan raya yang sudah ada semenjak pemerintahan Mataram, pada masa Belanda, Secang menjadi titik perlintasan jalur kereta api yang sangat penting.

Sebagaimana kita ketahui bersama, bagian tengah wilayah Jawa Tengah sebagian besar merupakan dataran tinggi dengan hamparan gunung-gunung vulkanik yang memberikan kesuburan tanah yang tiada tara. Tidaklah mengherankan jika wilayah ini menjadi sentra budidaya pertanian, perkebunan, dan tentu saja kehutanan. Berbagai produk pertanian penting dihasilkan dari wilayah ini, seperti padi, sayur-mayur, tembakau, kopi, teh, serta aneka buah-buahan. Demikian halnya hasil peternakan, semisal lembu, kerbau, kambing, serta beragam hewan unggas.

Sebagai wilayah produsen berbagai komoditas pertanian yang penting, Belanda memandang perlu untuk membangun jalur transportasi yang berguna untuk membawa produk dari daerah pedalaman menuju kota-kota besar maupun pelabuhan utama untuk keperluan ekspor ke negara lain. Salah satu moda angkutan massal yang mampu membawa barang dalam kuantitas yang besar adalah kereta api. Inilah alasan utama mengapa Belanda membangun jaringan rel kereta api yang menghubungkan poros utara-selatan antara Jogja-Semarang, serta poros barat-timur antara Secang-Purwokerto pada masa itu.

Secang di masa Belanda memang sudah berbeda dengan Secang di era kemerdekaan saat ini. Meskipun di masa kini Secang tetap memerankan posisi strategis penghubung transportasi poros utara-selatan dan barat-timur, namun keberadaan jalur kereta api sudah tidak difungsikan lagi. Namun demikian, bagi siapapun yang masih ingin bernostalgia ataupun menyusur bekas rel kereta api yang pernah jaya di masanya, di Secang masih terbentang beberapa ruas sisa-sisa rel yang semakin menampakkan ketuaannya.

Stasiun Secang2Apabila kita ingin menelusuri sisa-sisa jalur rel kereta api ataupun jejak-jejak sejarah kejayaan kereta api yang melintasi Kota Secang, tidaklah salah jika kita memulainya dari titik bekas Stasiun Secang. Area sisa Stasiun Secang terletak di sisi belakang Kantor Koramil Secang yang tepat berada di pinggiran Jalan Raya Jogja-Semarang. Dengan menyusuri gang sempit beraspal kita dapat menemukan sebuah bangunan tua dengan genteng tua yang bolong di beberapa bagian. Bangunan yang semakin rapuh namun nampak gagah tersebut di berbagi sisi dindingnya sudah nampak kusam, bahkan telah banyak plesteran semen coklat yang terkelupas. Di bagian halaman depan maupun belakang, sisa pelataran tua yang terhampar nampak ditumbuhi rumput liar yang menandakan sangat minimnya tindakan perawatan. Sekilas bangunan stasiun tersebut justru nampak seperti rumah tua tanpa penghuni yang angker dengan mitos hantu gendruwo penunggunya.

Di samping jalur masuk sebagaimana telah diutarakan di atas, bangunan bekas Stasiun Secang juga dapat dicapai melalui jalan sempit di sisi barat pasar, tepat di seberang Masjid Kauman Secang ke arah selatan. Dari mulut jalan hingga lokasi yang turut menorehkan sejarah transportasi kereta api tua ini kurang lebih hanya berjarak 300 meter.

Dalam posisinya seperti saat ini, Stasiun Secang seolah memiliki sisi depan di bagian timur yang berdekatan atau sejajar dengan jalanan raya. Namun bila menilik dari bekas-bekas jalur rel atau peron tempat pemberhentian kereta api, kemungkinan justru bagian depan stasiun justru terletak di sisi sebelah barat. Hal ini nampak dengan keberadaan lima lajur jalur rel yang masih tersisa hingga kini.

Saat ini Stasiun Secang memang hanya bisa dikenang. Namun apabila wacana untuk mengaktifkan kembali jalur rel kereta api Jogja-Semarang benar-benar terlaksana, pastinya Stasiun Secang akan menggeliat lagi dan menjadi titik transisi yang sangat ramai.

Ngisor Blimbing, 19 September 2014

Genduk1Sedikit-sedikit, sebagai orang Jawa, tentu saya pernah menyimak lakon wayang “Ruwat Murwa Kala”. Di dalam kisah wayang yang sering dipentaskan pada hajatan ruwatan tersebut Ki Dalang pasti medhar sabda mengenai keadaan-keadaan yang karena sebab-sebab tertentu harus menjalani ritual ruwat. Ruwat dalam bahasa Arab disepadankan dengan kata tahlukah, artinya penebusan dosa. Dalam makna yang lebih luas, ruwat bisa saja dimaknai dengan upaya pembersihan diri untuk membuang anasir negatif atau kesialan hidup.

Nah salah satu ciri seseorang, terutama sewaktu masih usia bocah, yang wajib menjalani ritual ruwatan adalah bocah yang terlahir secara sungsang. Maksud dari kelahiran sungsang, adalah posisi si jabang bayi dalam proses persalinan yang terbalik dari kebanyakan kelahiran bayi pada umumnya. Jika bayi secara normal terlahir dengan keluarnya bagian kepala terlebih dahulu, maka bayi sungsang justru terlahir dengan bagian kaki atau bagian bawah tubuh yang keluar dari dalam rahim terlebih dahulu.

Adalah sekedar sebuah kebetulan jika si Genduk memang terlahir dalam posisi sungsang. Pada masa usia kehamilan menginjak delapan bulan, janin si Genduk terbalik dengan posisi kaki di bagian bawah. Berbagai upaya telah dilakukan, namun posisi janin tidak berubah hingga hari-hari menjelang kelahirannya. Hal tersebut terjadi karena di samping posisi sudah sungsang, tali pusar atau plasenta janin juga melilit pada lingkar leher. Atas petunjuk dari dokter, kelahiran si Genduk harus dipersiapkan dengan operasi caesar.

Kala itu sekitar sepertiga malam yang akhir hari Sabtu Kliwon, air ketuban tumpah sudah. Dengan bergegas saya antarkan Ibuke Genduk ke rumah sakit terdekat. Maka segera segala daya upaya usaha dipersiapkan untuk proses persalinan secara caesar tadi. Terbaring kesakitan di ruang operasi, Ibuke Genduk terus menahan rasa yang semakin tidak bisa tahan lagi. Akhirnya, apa yang tergariskan harus terjadi benar-benar terjadi. Rencana operasi tinggallah sebuah rencana, karena sampai detik dokter yang akan mengoperasi belum datang, saat kelahiran itu tidak bisa ditunda lagi. Akhirnya terlahirlah si Genduk dengan posisi pantat keluar terlebih dahulu. Proses kelahiran bayi sungsang yang sangat mendebarkan siapapun yang menyaksikan atau bahkan sekedar mendengar kisahnya. Dialah si Genduk yang kini dikenal para tetangga sebagai bocah sungsang.

si GendukEntah sekedar gugon tuhon atau gosip para ibu-ibu, tersebarlah kisah tentang tuah si bocah sungsang. Menurut kepercayaan tradisi di sekitaran Ndalem Ngisor Blimbing, seseorang yang terlahir sungsang akan memiliki keistimewaan-keistimewaan, bahkan tuah yang tidak main-main. Saya sendiri tidak tahu persis hal tersebut benar atau hanya sekedar isapann jempol. Namun dalam perkembangan pertumbuhannya, si Genduk benar-benar menjadi idola ibu-ibu tetangga. Khususnya di waktu sore, para ibu berkumpul reriungan di bawah pohon blimbing kami. Tak lupa di tengah obrolan ngalor-ngidul yang seringkali tak jelas, mereka bergiliran mbopong, nggendhong, ataupun sekedar ngudang si Genduk.

Satu ketika ada salah satu bocah tetangga yang makan berlauk ikan. Entah karena teledor atau tergesa, tiba-tiba duri ikan tersangkut di kerongkongan si bocah dan mengakibatkannya tersedak. Tentu saja hal tersebut membuat ia sangat kesakitan dan terganggu saluran pernafasannya. Ia menjadi tersengal-sengal. Dengan sedikit panik si ibu bocah segera memberinya minum air putih sebanyak-banyaknya. Maksudnya sudah pasti agar tulang yang nyangkut tersebut tergelontor dengan air dan tidak lagi menyumbat kerongkongan serta saluran pernafasan. Berkali-kali dan bergelas-gelas air digelontorkan, tetapi usaha tersebut belum juga membuahkan hasil.

Dengan tergesa, si ibu segera membawa bocahnya ke padhepokan kami. Kebetulan para ibu sedang berkumpul merubungi si Genduk. Melihat si bocah tersedak yang semakin tersengal-sengal nafasnya, salah satu ibu-ibu berinisiatif mengambilkan segelas air putih. Dengan komat-kamit bacaan bismilah dan fatihah, tangan si Genduk segera dimasukkan ke dalam air pada gelas tersebut. Tangan si Genduk diobok-obokkan pada air putih dalam gelas itu. Sejenak kemudian, air putih tersebut diminumkan kepada si bocah tersedak. Setelah beberapa teguk air masuk, nampak si bocah lega dan nafasnya lancar kembali. Keadaan telah teratasi. Peristiwa ini menambah keyakinan para ibu tentang tuah si bocah sungsang!

Kisah tuah si Genduk bocah sungsang tidak terhenti hingga di situ, Budhe tetangga yang turut mengasuh si Genduk sering membawa Genduk ke rumahnya pada saat siang hari. Biasanya selepas mandi pagi, menjelang jam 10-an si Genduk bobok hingga waktu kira-kira sekitar Dzuhur. Nanti agak lingsir matahari hingga Ashar ia juga bobok untuk sesi ke dua.

Di samping mengasuh si Genduk, Budhe ini juga sesekali menerima orderan untuk membuatkan kue ataupun hidangan keteringan. Biasalah, jika ada tetangga, kerabat, kenalan ataupun temannya punya hajatan, semisal ulang tahun, syukuran, slametan, sunatan bahkan hingga pernikahan, Budhe biasa menerima order. Bikin kue ulang tahun lah, kue lapis, kue sus, juga beberapa macam roti basah – roti kering. Bikin lemper, semar mendem, nagasari, wajik, jenang, krasikan, termasuk klemet juga pernah. Untuk paket pesanan besar ya ubarampe jamuan prasmana juga dikerjakannya. Nah, anehnya setelah ia sering momong si Genduk bahkan menidurkannya di rumahnya, pesanan kue dan makanan semakin banyak. Kalau dulu hanya sekali-sekali dalam dua-tiga minggu, kini hampir tiap minggu, bahkan pernah seminggu mengerjakan pesanan dua hingga tiga kali.

Nah, pengalaman Budhe inipun menjadi buah bibir di kalangan ibu-ibu tetangga kanan-kiri Ndalem Ngisor Blimbing. Tersebarlah cerita bahwa si Genduk memang ngrejekeni alias membawa datangnya rejeki bagi Budhe. Semakin teballah keyakinan para ibu tentang tuah si bocah sungsang. Saya sendiri tidak mampu mencernanya dengan nalar pemikiran yang logis, tetapi itulah fakta yang telah mendapatkan kesaksian tidak sedikit para tetangga kami. Saya hanya bisa meyakini bahwasanya segala kebaikan turunnya dari Tuhan. Satu-satunya tugas manusia adalah menyebarluaskan benih-benih kebaikan itu ke lingkungan sekitar keluarga masing-masing. Hanyalah manusia yang memberikan manfaat kepada sesama makhluk-Nya, dialah yang tergolong sebagai manusia yang sebaik-baiknya manusia. Khairunnas, anfauhum linnas.

Ngisor Blimbing, 8 Oktober 2014


Filed under: Jagad Kenyung Tagged: bayi sungsang, Ngisor Blimbing, ruwatan

Lagu pagi ini

-

Mastop Story

on 2014-10-08 12:48am GMT

Sampai ditempat kerja masih terlalu pagi.Belum ada yang datang.Hanya ada beberapa teman yang tinggal di mes.Mereka masih sibuk dengan kegiatanya.Mandi,masak,makan dsb.

Namun ada yang menarik disela-sela kegiatan mereka.Lantunan lagu-lagu Iwan Fals.Begitu nyaman.Nikmat didengarkan sambil menikmati rasa kantuk.Sepertinya harus ditambah segelas kopi.Mumpung masih sepi, bikin dulu ah…


Keberadaan Festival Tlatah Bocah selama 7 tahun ini merupakan perwujudan gotong royong.

 

Bagaimana itu bisa terjadi?

 

Dusun yang menjadi rumah festival menyediakan ribuan konsumsi untuk pelaku seni yang pentas dan juga tamu-tamu yang hadir. Setiap keluarga dari dusun tuan rumah bersemangat untuk menyiapkannya sesuai kemampuan. Selain itu juga mereka meluangkan banyak waktu untuk persiapan tempat pertunjukan, transit peserta serta tamu, dan lain-lain.

 

Belasan komunitas anak-anak berminggu-minggu latihan seni tradisi di komunitasnya untuk tampil terbaik. Mereka pentas bukan karena tanggapan (berbayar) namun kebanggaan karena mendapatkan kesempatan mengekspresikan diri dan kelompoknya dalam kampanye hak anak.

 

Mari berperan dalam perayaan itu.

 

Bagaimana caranya?

 

Anda dapat donasikan barang layakpakaimu untuk dijual dalam pasar murah di dusun-dusun komunitas seni untuk mendukung kebutuhan transportasi dalam festival komunitas seni yang bersangkutan,

 

Kawan-kawan dapat juga memesan cinderamata (tas & kaos) yang kami buat sendiri untuk dukungan sewa soundsytem, lampu, dan peningkatan kapasitas listrik, dll kebutuhan festival.

 

Hal yang paling mudah dan sederhana adalah menyebarkan info ini pada kawan-kawan lain yang sekiranya suka aktivitas anak-anak dan seni tradisi.

 

Kami yakin kawan-kawan sangat mendukung kampanye hak anak melalui festival ini.

 

nb: Bagi kawan-kawan sekitar Jawa Barat, Banten, dan sekitarnya yang ingin banyak berpartisipasi pada Festival Tlatah bocah dapat pula menghubungi Majelis Nasional Pemuda Berbudaya (bapak Tubagus Saptani Suria di 081112280). Terimakasih.

 

INFO PARTISIPASI: 

p: 0818 – 0272 3030

t: @TlatahBocah | f: Tlatah Bocah | e: [email protected]

Bagi pecinta arung jeram, musim kemarau adalah musim yang menyedihkan. Akan tetapi ada trip arung jeram yang dapat dilalui dalam segala musim, yaitu trip sungai Elo. Selain kali Progo, Magelang juga dilalui oleh kali Elo. Walau kalah seru dibanding arung jeram di kali Progo, menyusuri keindahan kali Elo dapat menjadi obat tersendiri bagi pecinta wisata […]

Lebih lengkap artikel tentang "Menyusuri Keindahan Kali Elo bersama Progo Rafting" dapat dibaca di Magelang Online - Informasi lengkap kota Magelang dan sekitarnya.

Konon hidup memang penuh main-main dan permainan. Namun dalam sebuah permainanpun tetap diperlukan perhitungan-perhitungan. Tentu saja perhitungan-perhitungan tersebut dimaksudkan agar manusia meraih untung. Kalau bisa ya sebanyak-banyaknya keuntungan dan sesedikit mungkin mengalami kerugian. Ibarat untung selalu ingin diraih, buntung senantiasa dijauhi.

Malam itu selepas tahlil dan doa untuk almarhum tetangga samping rumah Ndalem Ngisor Blimbing. Berpiring-piring hidangan kue basah dan uba rampenya segera mengalir membanjiri kalangan. Di antara piring-piring kue, hadir kue unti atau nagasari. Kue dari tepung beras diisi dengan irisan pisang raja dan dibalut daun pisang itu segera menarik minat hadirin untuk menyantapknya.

Cerita punya cerita, sang ustadz berkelakar tentang jasa kue unti. Menurutnya, kue unti tersebut pernah sangat berjasa menolongnya dari “kematian”(tepatnya sih kelaparan berat). Waktu itu serombongan orang kampung mendapat undangan untuk hadir mengantarkan seorang calon pengantin pria tetangga kami. Dikarenakan tempat akad nikah dan walimahan di rumah keluarga mempelai perempuan cukup jauh, maka rombongan tersebut harus berangkat pagi-pagi benar.

Meski berangkat esuk mruput, para ibu-ibu sudah memperingatkan agar semua rombongan sarapan dulu untuk mengganjal perut. Tidaklah baik berangkat ke suatu tempat dalam keadaan perut kosong, meskipun rombongan tersebut memang berasal dari Kampung Kosong. Namun hitung punya hitung, karena sedikit tergesa berangkat maka hampir seluruh rombongan tidak sempat sarapan. Dengan enteng mereka berpikir, ah nantinya pasti selepas akad nikah selesai biasa didahului makan-makan sarapan dulu. Nggak sarapan di rumah berarti nggak masalah lah.

Sesampai di lokasi akad nikah, memang serangkaian seremonial segera digelar. Acara pembuka, inti, terus kemudian dilanjutkan baca Qur’an, dilanjutkan pembacaan syair barjanzi, diteruskan sholawatan, dilanjutkan doa-doa, terus dan belum menampakkan ujung akhir. Walhasil, para tamu rombongan pengiring pengantin pria yang tidak sarapan tersebut semakin merasakan lilitan perut yang keroncongan. Berharap acara segera purna dan hidangan selekasnya keluar, namun justru rangkaian acara seakan tiada putus-putusnya. Waduh…..terus gimana dong?

Didera rasa lapar yang semakin tak tertahankan, satu per satu rombongan nylenthir keluar kalangan. Beberapa diantara mereka ada yang langsung menyerbu warteg. Ada yang langsung mborong bakul bakso. Ada yang cari nasi udug. Semua berhamburan tak teratur ke pinggir jalanan demi mengisi perut masing-masing.

Celaka dua belas bagi para pemimpin rombongan, termasuk para ustadz. Mereka tentu saja tidak bisa semau gue nyelonong sebagaimana anggota rombongan yang lain. Dengan amat sangat terpaksa, mereka harus terus bersabar di hadapan para wakil tuan rumah yang tidak akan melepas mereka untuk turut menyerbu warteg di pinggiran jalan. Namun sekuat-kuatnya mereka menahan rasa lapar, merekapun juga manusia biasa yang memiliki keterbatasan. Akibatnya ada yang lemes tubuhnya, ada yang mulai pusing kepala, ada yang gemeter tangannya, bahkan ada yang mulai berkunang-kunang pandangan matanyanya.

Sayang sungguh seribu sayang. Pucuk dicinta, ulam ternyata tak kunjung tiba. Harap segenap hidangan pesta segera dikeluarkan oleh si tuan rumah. Rombongan itu baru ngeh, ternyata lain ladang lain belalang. Lain lubuk, lain ikannya. Lain tempat lain pula adat istiadatnya. Di kampung sendiri rangkaian acara yang panjang biasa disela dengan jeda hidangan makanan, bahkan makan besar. Ini benar-benar di luar perhitungan.

Setelah sekian lama rangkaian acara tak ada hentinya, akhirnya batin-batin hadirin yang bertanya-tanya terus kapan makanan dikeluarkan mendapatkan jawabanya. Pelan-pelan, hidangan mulai unjuk gigi. Pertama sekali keluar justru buah rambutan. Seger bener itu buah. Merah-merah bersemburat kekuningan. Nampak sudah sangat matang rambutan-rambutan itu melambai-lambaikan rambutnya. Tetapi teramat sayang seribu sayang, dikarenakan sebagian hadirin belum sarapan tentu saja mereka takut menyantap buah yang asam-asam manis tersebut. Sudah pasti perut yang kosong sangat tidak sehat jika langsung menyikat buah rambutan. Salah-salah perut bisa berabe.

Sesaat kemudian, sedikit-sedikit kue-kue dikeluarkan. Nah diantara kue basah yang hadir, beberapa rombongan yang tidak sempat turut turun ke jalanan mencari sarapan menemukan kue berbungkus daun pisang. Kue inilah yang menjadi sasaran pelampiasan rasa lapar para hadirin. Kue itulah kue unti atau nagasari yang disinggung di depan. Tanpa ba-bi-bu dan rasa malu, akhirnya empat piring kue unti langsung ludes tanpa bekas. Barulah pucuk dicinta ulam tiba!

Seiring berjalannya waktu, tibalah saat-saat jam makam siang. Lagi-lagi rombongan tersebut berhitung, atau lebih tepatnya berangan. Selazimnya acara hajatan, makan besar biasa disajikan secara prasmanan dengan banyak menu pilihan yang in the hoy. Namun sekali lagi mereka tetap harus menelan ludah. Mereka salah hitung lagi! Boro-boro nasi sebakul besar dengan lauk-pauk, sayur, krupuk, dan lain-lainnya, justru yang nongol adalah besek. Apes bener nasib mereka! Nasi sudah dalam besek, gimane mau makannya. Akhirnya rombongan tersebut segera undur diri dengan membawa oleh-oleh nasi dalam besek. Barulah di atas mobil mereka menyantap nasi besek dengan menggeleng-gelengkan kepala. Salah hitung jadinya buntung!

Pelajaran terpenting dari rombongan pengombyong pengantin tersebut, lain kali kau mau pergi kondangan tetep di rumah meski makan dulu, harus sarapan dulu. Jangan terlalu mengharapkan di sana akan disuguh ini-itu, terlebih jika adat dan kebiasaan setempat berbeda dengan di kampung sendiri. Manusia boleh berhitung, namun takdir Tuhan bisa sangat berlainan dengan harapan manusia. Kisah ini mungkin hanya sebuah contoh kecil dari banyak pengalaman manusia yang kaya akan rencana dan keinginan. Tak jarang karena terlalu yakin telah menghitung akhirnya salah hitung dan jadi buntung. Bukankah Tuhan Maha Penghitung yang sangat teliti akan rencana-rencana rahasia-Nya? Moga kita belajar.

Ngisor Blimbing, 7 Oktober 2014


Filed under: Jagad Ngisor Blimbing Tagged: kue unti, nagasari, Ngisor Blimbing

Sore tadi saya dikejutkan dengan kabar bahwa Maria akan pulang kampung besok. Dia akan pulang ke Natuna dan (sepertinya) tidak akan kembali lagi ke sini. Maria Fauzi ini adalah salah satu rekan kantor saya. Tadinya kami satu perusahaan-satu kantor. Dua bulan ini saya pindah kantor meski masih di perusahaan yang sama. Dan mulai besok, kami […]

The post Perginya Maria Fauzi si Dewi Natuna appeared first on Vampir Magelang | @Pengkarya.

Pengolah kata (word processor) sudah menjadi aplikasi yang wajib ada di Smartphone Android. Smartphone bisa dipakai untuk membaca, membuat, dan mengedit dokumen. Aplikasi semacam ini sudah mulai ada sejak beberapa tahun yang lalu, dan kini Mbah Google pun meramaikan Google Play dengan aplikasi Word Processor besutannya sendiri, namanya Google Doc. Namanya sama seperti versi on-line.

Aplikasi ini akan sangat berguna bagi pengguna Smartphone Android yang banyak bekerja dengan tulis menulis, seperti: sastrawan, wartawan, penulis, dosen, mahasiswa dan pengajar. Pekerjaan menulis yang dulu dikerjakan dengan mesin tik bisa dikerjakan dengan Google  Doc. Meskipun sederhana aplikasi ini memiliki fitur2/menu untuk mengatur font, paragraf, dan bisa membuat table. Tapi belum bisa menambahkan foto dan gambar.

Salah satu kelebihan aplikasi Google Doc adalah terintegrasi dengan Google Drive. Dokumen yang kita buat bisa disimpan langsung di Google Drive, bisa berbagi dengan kolega, dan bisa diakses di mana saja dengan platform yang berbeda-beda. Syaratnya tentu harus terhubung dengan internet.

Misalnya Anda membuat dokumen ketika dalam perjalanan dengan menggunakan Google Doc. Dokumen tersebut bisa disimpan di Drive dan kemudian di download untuk diedit dengan PC atau laptop.

Wordprocessor Google Doc ini masih sederhana. Fitur2 dan menu2nya belum selengkap Microsoft Word atau aplikasi dekstop lainnya. Namun fitur2 dasar sudah tersedia seperti: pengaturan font (jenis huruf, ukuran, bold, italic), pengaturan paragraf dan pengaturan numbering dan index. Google Doc mampu menambahkan tabel di dalam dokumen. Namun belum bisa menyisipkan gambar/image.

Seiring dengan berjalannya waktu, saya yakin aplikasi Google Doc atau aplikasi lain semacamnya akan semakin berkembang. Fitur2nya akan semakin lengkap. Smartphone Android akan menggantikan peranan NetBook.


Now I'm in 3rd grade. I followed a test in my school, 19th Augs 2014. For the first time, I heard there is a university called "President Univ" in Indonesia. LOL. Wow, I thought that it is great with international university system.

I did bussiness mathematic, english, and psychotest. Hmm..I chose communication major lol. Kak Yandri, as speaker in my class said that we had to keep our test code. The code will be used to login in PresUniv's site (for scholarship announcement). My code: E700153.

Then this Oct, I looked for my result.

LOL.
How can I get second scholarship...bzz. But yeah. I don't know I will pick it or not. I think I should sell this city to pay this tuition wkokkok

But at least, learning in a international environment will give great experience! *ahah*

Setelah musim lalu dan diawal musim berkutat dipapan tengah, akhirnya malam tadi MU kembali menghuni 4 besar.Mereka memastikanya setelah mengalahkan Everton 2-1.

Namun posisi tersebut masih sangat sementara.Musim masih sangat panjang.Mereka harus lebih konsisten untuk mempertahankan ataupun naik keperingkat yang lebih tinggi.


I will marry a girl, next Saturday.


I read it this evening and what should I do for you? Nothing.
Its not an invitation, but, juts a notification.
I should stop.
Rusdi Mathari

Tadi malam, lewat pesan chat di facebook, seorang kawan ─yang kalau dilihat dari tekstur kulit keriputnya, beliau seharusnya lebih cocok jadi pakdhe saya─, Rusdi Mathari, atau yang lebih akrab dipanggil Cak Rusdi, bertanya pada saya perihal tanggapan saya tentang Malinda Dee. Ya, Malinda Dee, sosok yang dulu pernah heboh karena kasus pembobolan uang nasabah bank itu.

“Gus, kamu ngikuti soal Malinda Dee, sing silikone pecah Gus?”, tulis cak rusdi dalam pesan chatnya, bagi saya, ini sejenis pertanyaan pancingan, tipikal pertanyaan seorang wartawan.

“Cuma sekilas baca cak, tapi ndak terlalu mengikuti,” balas saya singkat dan cukup diplomatis, saya tak berani menjawab lebih jauh, karena saya masih mencoba meraba, kira-kira pertanyaan apa lagi yang bakal Cak Rusdi ajukan setelah ini.

“Apa pendapatmu soal tubuh indah yang dibuat-buat seperti itu?”, tanya Cak Rusdi, agaknya, ini adalah pertanyaan inti, karena selepas pertanyaan tersebut, Cak Rusdi tak lagi memberikan pertanyaan lain terkait Malinda Dee. Saya agak masygul, karena Cak Rusdi langsung memberikan pertanyaan inti hanya setelah satu pertanyaan pancingan. Sangat tidak interaktif, tadinya saya berfikir, sebagai seorang wartawan yang sudah 24 tahun berkecimpung dalam dunia jurnalistik, Cak Rusdi harusnya bisa sedikit bermain intermezzo. Sedikit berbasa-basi lah. Tapi tak apa, anggap saja sebagai anomali jurnalistik karena faktor usia sang jurnalis :)

Saya sebenarnya ingin langsung menuliskan tangapan saya perihal si Malinda Dee itu, tapi sejurus kemudian, saya berfikir ulang, saya mencoba menjernihkan akal sehat saya. Saya tahu, kalau saya memberikan pendapat saya, besar kemungkinan Cak Rusdi akan menulis artikel tentang tanggapan saya itu, dan saya sadar, itu artinya saya akan kehilangan satu bahan tulisan. Nah, daripada tanggapan saya perihal Malinda ditulis oleh Cak Rusdi, tentu akan lebih baik kalau saya sendiri yang menulis. Sehingga konsepnya bisa agak mirip dengan konsep demokrasi: “Dari saya, oleh saya, dan untuk saya”.

Maka akhirnya saya putuskan untuk menjawab pertanyaan Cak Rusdi tersebut dengan jawaban yang tuntas, “Aku ndak punya pendapat cak!”, tentu agar saya bisa mengelak dan bisa langsung menulis tanggapan saya lewat artikel ini.

Jujur, saya aslinya ndak terlalu tertarik dengan insiden pecah silikon pada wanita pelaku implan. Tapi karena kali ini yang jadi pelaku (atau korban ya?) adalah Malinda Dee, maka saya sebagai laki-laki Indonesia kekinian merasa terpanggil untuk membahasnya. Tentu karena Malinda Dee bukan sosok sembarangan, ia sosok wanita karir yang demi apapun, saya yakin, anda (pria) pasti akan mengambil korelasi sosok dirinya dengan sesuatu bernama payudara. Tak heran, ia memang lekat dengan itu. Bahkan mungkin, hanya Malinda Dee lah wanita yang mampu membuat benang merah yang menghubungkan antara dunia perbankan dengan payudara. (Tolong jangan googling gambar Malinda Dee, ingat, itu termasuk zina mata, dosanya besar)

Kasus pembobolan uang nasabah bank sejatinya bukan kasus yang luar biasa (karena memang sudah sering terjadi), setidaknya tak perlu menjadi headline media selama lebih dari beberapa pekan. Namun Kasus pembobolan uang nasabah oleh Malinda Dee tentu terasa spesial, spesial karena dilakukan oleh seorang karyawan bank berwajah cantik.

Kita semua tahu, bahwa segala sesuatu yang menyangkut wanita cantik akan selalu punya porsi yang lebih besar untuk berkembang menjadi hal yang fenomenal. Polwan itu biasa, tapi kalau polwan-nya Briptu Eka, itu baru luar biasa. Atlet volley wanita itu biasa, tapi kalau yang jadi atlet volley-nya Sabina, itu baru istimewa. Mengendarai mobil sambil mabuk dan menabrak orang itu biasa, tapi kalau yang menabrak itu Novi Amelia, itu baru layak berita.

Kalau untuk kasus Malinda Dee ini, tentu kadar fenomenalnya berlipat ganda, Karena sang tokoh bukan hanya punya paras cantik, namun juga punya ukuran payudara yang jauh di atas ukuran rata-rata wanita Indonesia. Sangat over cemekel kalau kata saya. Payudara yang belakangan diketahui sebagai hasil implan silikon.

Gara-gara kasus pembobolan uang nasabah itu, Malinda Dee akhirnya divonis 8 tahun penjara dalam persidangan tahun 2012 lalu.

Kini, setelah dua tahun tenggelam dalam pemberitaan. Namanya kembali mencuat ke permukaan. Kali ini karena rumor perlakuan khusus yang ia dapat di LP Sukamiskin, dimana tersiar kabar bahwa ia sering tak tinggal di sel-nya karena sakit dan harus menjalani perawatan. Malinda Dee dikabarkan justru lebih banyak menghabiskan waktunya di Klinik ketimbang di sel napi.

Usut punya usut, ternyata Malinda Dee memang sedang menjalani perawatan. Penyebabnya karena silikon yang terpasang di payudaranya meleleh akibat kanker payudara, selain itu, silikon yang ada di pantatnya juga bermasalah, sehingga terpaksa diangkat. “Bokongnya itu sudah tidak punya daging, jadi kulit ketemu tulang. Dokter menganjurkan, untuk mengurangi rasa sakit, silikon harus dipasang,” kata Sri Ulina, Dokter Lembaga Pemasyarakatan Wanita Sukamiskin Bandung.

Konon biaya operasi penyembuhan untuk payudara dan bokongnya itu mencapai ratusan juta dan itu harus ditanggung sendiri oleh Malinda Dee. Itupun ukuran payudaranya tak bisa kembali besar seperti sedia kala, karena kini silikonnya terpaksa diganti dengan ukuran normal. Dan untuk sekedar duduk dan tidur pun, Malinda Dee harus memperhatikan betul posisi tubuhnya.

Payudara besar dan pantat bohai yang dulu menjadi magnet utama penarik perhatian itu kini justru berubah menjadi perkara bagi Malinda Dee.

Sebagai pria waras dengan kadar birahi yang wajar, saya tak menampik bila saya memang lebih menyukai wanita dengan ukuran dada yang cenderung besar, terlebih bila didukung dengan tubuh yang sintal lagi proporsional. Sangat menggairahkan pastinya. Mungkin itu sudah sifat naluriah laki-laki.

Namun menurut saya, ketertarikan semacam itu hanya sebatas pada birahi. Sedangkan di tingkat Hati, tentu laki-laki lebih menyukai wanita yang tampil apa adanya, tanpa permakan, tanpa dempulan pupur, tanpa silikon. Pokoknya tanpa kepalsuan.

Lagipula, Sejauh yang saya tahu, menurut agama yang saya anut, permak atau rombak bagian tubuh adalah sesuatu yang diharamkan, karena itu termasuk dalam perbuatan yang mengubah ciptaan Allah. Permak tubuh tersebut baru bisa berubah hukumnya menjadi boleh, dengan catatan perombakan tersebut sifatnya adalah untuk memperbaiki. Jadi urgensinya fungsional. Misal, penambalan gigi geraham yang growong agar mulut bisa tetap bisa mengunyah makanan dengan lancar.

Intinya, mengubah keadaan tubuh hukumnya dibolehkan hanya jika tujuannya dalam rangka pengobatan, atau mengembalikan pada kondisi normal, dan haram hukumnya jika dilakukan untuk tujuan memperindah penampilan. Dan lagi, apa yang bisa dibanggakan dari bentuk tubuh indah namun manipulatif?

Ingat, Kalau Wanita paling suka dengan kepastian, maka laki-laki paling benci dengan kepalsuan.

Jadi untuk para perempuan di luar sana, izinkan saya untuk memberikan sedikit wejangan. Percaya dirilah dengan fisik yang anda punya sekarang, Tak usah berkecil hati karena anda tak punya tubuh sintal, tak usah malu kalau payudara anda kurang montok, tak usah merasa rendah hanya karena bentuk bokong anda kurang indah. Camkan, Pria memang suka memacari wanita dengan tubuh seksi, tapi akan berfikir dua kali untuk menikahi.

Percayalah, keshalihan, akhlak, kecakapan, dan kecerdasaan jauh lebih utama bagi seorang wanita di mata laki-laki ketimbang tubuh yang sintal dan menggoda.

Ndak seksi ndak apa, yang penting beriman dan bertaqwa, syukur-syukur kalau hafal Pancasila. Hehehe.

Sambil menulis kata-kata terakhir di artikel ini, lamat-lamat saya teringat akan pertemuan saya dengan Cak Rusdi beberapa hari yang lalu, dimana dalam kesempatan itu, beliau mengajari saya teknik ampuh memperbesar penis dengan metode urut.

Saya belum tahu, apakah memperbesar penis termasuk hal yang dilarang atau diperbolehkan. Tapi yang jelas, saya masih belum bisa berbangga diri dengan ukuran penis saya yang sekarang. Jadi, sambil menunggu hasil googling “hukum memperbesar penis”, agaknya ilmu memperbesar penis dari cak Rusdi untuk sementara belum bisa saya amalkan. Setidaknya, sampai waktu yang masih belum bisa ditentukan.

Eh, btw, adakah pembaca yang tahu hukum pasang behel untuk mengurangi tingkat kemrongosan gigi?
Filed under: Related Post, Tips & Tricks, Videos

Setelah sembilan minggu yang lalu saya membeli Asus Zenfone 5 dengan sistem operasi 4.3 a.k.a Jelly Bean dan tadi pagi baru dapat pemberitahuan untuk pembaruan OS dari Jelly Bean ke Android Kitkat 4.4.2.

Bagi pembaca yang kebetulan memiliki Asus Zenfone series silahkan update OSnya ke Kitkat caranya melalui Over The Air (OTA) FYI; Sebelum melakukan update pastikan koneksinya stabil atau bisa menggunakan akses WiFi karena filenya sekitar setengah gigabytes.

Overall selama aku menggunakan Asus Zenfone 5 cukup puas. Penggunaan harian, seperti akses media sosial dengan cukup intens menggunakan notifikasi secara aktif, serta sesekali browsing tanpa menggunakan untuk telepon, nyatanya cukup menguras baterai ZenFone 5. Dengan kapasitas hanya 2.110 mAh, baterai tersebut mampu menghidupi ZenFone 5 antara 11-14 jam. Namun perlu dicatat, durasi tersebut ditorehkan ketika menggunakan dua SIM card sekaligus dan aktif secara bersamaan. Selain itu yang aku sukai dari Zenfone 5 adalah kualitas layarnya yang menawan dengan ZenUI yang responsif dan sedap dipandang.

Namanya lahir, jodoh, dan kematian diyakini sebagai garis takdir yang menjadi rahasia Tuhan ketika manusia belum memahaminya. Soal kematian misalnya, manusia tidak akan tahu bagaimana ia akan meninggal. Apakah melalui sakit, apakah karena kecelakaan, atau bahkan tanpa sebab yang pasti sekalipun. Demikian halnya mengenai waktu kematian. Meskipun pada umumnya manusia meninggal pada usia tua, namun tidak sedikit pula manusia yang dipanggil-Nya pada saat kelahiran, usia kanak-kanak, anak-anak, remaja, bahkan muda-mudi.

Adalah seorang tetangga Ndalem Ngisor Blimbing yang hari kemarin pulang ke haribaan Tuhan. Ia, yang sekedar karyawan kecil pada sebuah pabrik, sudah sekian tahun menderita sakit yang cukup berat. Gagal ginjal!

Gagal ginjal memang “penyakit orang kaya”, dalam pengertian membutuhkan biaya perawatan yang sangat mahal bagi orang papa. Jaman sekarang seolah penyakit sudah tidak mengenal kasta. Penyakit apapun bisa datang dan menghampiri siapapun tanpa pandang bulu apakah ia si kaya atau si miskin. Kita tidak tahu pasti apakah sudah ada kesepakatan diantara komuitas jenis penyakit tersebut yang mendeklarasikan bahwa setiap penyakit memiliki hak yang sama untuk menghampiri seseorang korbannya tanpa memandang status dan kelas ekonomi maupun sosial.

Kembali kepada gagal ginjalnya tetangga sebelah kami. Di tengah keterbatasan biaya untuk mendapatkan perawatan yang super mahal, untunglah pabrik tempat ia bekerja mau menanggung biaya perawatan, termasuk untuk cuci darah secara rutin. Bayangkan, berapa biaya cuci darah dua kali seminggu yang harus dilakukan secara terus-menerus. Tentu saja pembiayaan perusahaan juga melalui mekanisme jaminan kesehatan karyawan yang sudah dikerjasamakan dengan suatu perusahaan asuransi.

Namun apakah sekedar ditanggung biaya perawatan kemudian persoalan ekonomi rumah tangganya telah selesai. Nampaknya tidak demikian. Tetangga saya tersebut adalah kepala keluarga yang menjadi satu-satunya tulang punggung. Ia memiliki tiga orang anak yang masih sekolah. Bahkan si bungsu baru menapaki kelas 2 sekolah dasar. Tentu saja perjuangan hidup masih akan sangat panjang untuk menghantarkan anak-anaknya tersebut ke gerbang cita-cita untuk dapat hidup secara mandiri.

Gagal ginjal, cuci darah, apa yang terpikirkan oleh sebagian diantara kita? Apakah ada sebuah solusi permanen? Operasi cangkok ginjal? Mungkin! Tetapi tentu saja sangat mahal bagi orang biasa sebagaimana tetangga saya sehingga kemungkinan tersebut harus dibuang jauh-jauh. Cuci darah memang satu-satunya cara yang ditempuh untuk memperpanjang nafas. Namun sampai kapan? Bukankah gagalnya fungsi suatu organ biasanya juga akan diikuti dengan komplikasi disfungsi organ yang lain. Apakah memang hanya tinggal menghitung waktu?

Menderita gagal ginjal sudah pasti tidak hanya membutuhkan cuci darah. Masih banyak perawatan-perawatan lain yang juga membutuhkan biaya banyak. Dan ndilalahnya tidak semua pembiayaan tersebut ditanggung oleh pabrik tetangga saya tersebut. Akhirnya, demi menutup biaya perawatan dijuallah sepetak tanah di belakang rumah warisan dari orang tuanya. Konon tanah seluas seratusan meter persegi miliknya laku 200-an juta.

Seolah sadar bahwa kondisi kesehatannya berangsur memburuk, di samping digunakan untuk menutup biaya perawatan, uang yang didapatkannya dipergunakan untuk membangun sebuah rumah petak di sisi rumah tinggalnya. Mungkin ia berpikir kalaulah ia tidak lagi mendapatkan uluran biaya dari pabriknya, ia harus memiliki sumber pendapatan yang lain. Kos-kosan atau rumah kontrak menurut dia bisa memberikan penghasilan. Meski sempat tersendat-sendat, namun dalam waktu 5 bulan, rumah kontrakannya berdiri dan langsung ada penyewa yang menempatinya.

Tidak hanya membangun rumah kontrakan, tetangga tersebut juga merasa memiliki beban hutang “ibadah” yang belum tertunaikan. Ia dan segenap anak istrinya belum pernah diaqiqahi. Maka dengan ketulusan niat untuk menjalankan sunnah Rasul tersebut, menjelang Ramadhan lalu ia menyembelih 9 ekor kambing untuk seluruh keluarganya. Sembilan kambing tentu saja bukan jumlah uang yang sedikit.

Ada yang pro dan kontra diantara para tetangga dengan langkah beraninya di tengah berbagai kesempitan keuangan rela menyembelih 9 kambing untuk dibagi-bagikan kepada para tetangga sekitar. Ada yang berpendapat sayang dengan uang yang tidak sedikit itu dan akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk keperluan masa depan anak-anaknya, atau untuk modal usaha sampingan. Ada yang berpandangan ia benar-benar mengutamakan perintah Tuhan. Ada yang berpikir, teganya ustadz yang memberikan saran kepada orang yang berada pada posisi sulit untuk “berkurban” kambing sembilan.

Saya sendiri merasa sangat hormat dengan kesabaran dan ketabahan tetangga saya tersebut dalam menjalani hari-hari gagal ginjalnya. Setelah sekian lama mondar-mandir masuk rumah sakit untuk cuci darah seminggu dua kali, akhirnya Tuhan memanggilnya juga. Inna lillah wa innailaihi roji’un. Segalanya berasal dari-Nya, dan segalanya akan kembali jua kepada-Nya. Dan lebih salut lagi, sebelum kepergiannya, ia masih sempat menitipkan dua kambing untuk kurban Idhul Adha kali ini.

Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi-Nya, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kelapangan dan kesabaran dalam menjalani perjuangan hidup yang masih akan sangat panjang.

Lor Kedhaton, 3 Oktober 2014


Filed under: Jagad Ngisor Blimbing Tagged: gagal ginjal, hewan kurban, Idul Adha

Setelah memulai tayang perdana di Youtube sejak 7 bulan yang lalu, akhirnya #SOShort memasuki produksi ke-5.  Webseries yang ndak jelas maunya apa dan lucunya di mana ini, sampai saat blogpost ini ditulis sudah rilis sebanyak 27 episode.

Di produksi ke-4 & 5, saya memutuskan menjajal kemampuan kamera mirrorless bersensor full frame terbaru dari Sony untuk digunakan memproduksi webseries. Yaitu Sony A7s.

My A7s

Langsung ditonton saja yuk salah satu episodenya yang disyut menggunakan kamera ini. Tonton di kualitas HD ya!

Dua alasan utama kenapa saya memutuskan memproduksi SOShort dengan A7s:

  1. Low Light Performance. Kamera ini memiliki kemampuan ISO tertinggi sampai dengan ISO409600. Wow!  Sampai kamera ini pun terkenal dengan julukannya Low Light Monster. Belum ada kamera lain yang mampu mengalahkan performanya di ISO tinggi. Di bawah ini hasil screen capture dari footage yang saya shot dengan A7s di ISO32000 (bukan 3200 lho ya).  Gila, ISO segitu masih usable footage-nya. Beda banget dengan DSLR/DSLM merk lain yang saya pakai sebelumnya, di ISO1600 saja sudah bikin kethar-kethir karena sudah noisy.
    a7s ISO32000

    Klik untuk melihat ukuran asli

    Footage aslinya bisa diunduh di sini.  Dengan kemampuan low light segila ini, saya jadi bisa lebih menghemat video light yang dipakai. Ndak perlu lagi sewa lighting yang gedhe-gedhe semacam Kinoflo. Cukup pakai LED video light kalau hanya untuk produksi webseries.

  2. Dynamic Range. Kamera ini mempunyai kemampuan  14+ stops dynamic range dengan mengaktifkan S-Log2 Picture Profile. Jauh di atas kemampuan rata-rata dynamic range DSLR merk lain yang hanya sekitar 10-11+ stops. Dynamic range adalah sejauh mana kemampuan (sensor) kamera untuk menampilkan detail informasi bagian gelap (shadow) sampai bagian paling terang (highlight), dan terutama terlihat dalam kondisi pencahayaan yang kontras. Dengan kemampuan dynamic range setinggi ini, artinya saya bisa lebih percaya diri ketika harus syut pada kondisi subyek dengan pencahayaan latar yang jauh lebih terang seperti di screenshot di bawah ini.
    Screen Shot 2014-10-03 at 2.25.02 AMSaya ndak perlu lagi khawatir background jadi washed out atau subyek jadi underexposed. Gambar jadi lebih berasa  cinematic. Saya juga bisa lebih leluasa melakukan color grading.

 

Kemampuan lain dari A7s yang saya suka:

  1. 4K ready. Kamera ini bisa merekam output 4K 4:2:2 8bit pada resolusi QFHD (3840×2160) ke external recorder seperti Atomos Shogun via HDMI. Saya membayangkan pada suatu saat nanti, dengan resolusi 4K saya bisa  mendapatkan fleksibilitas lebih saat post production. Dengan cukup 1 (satu) shot 4K, setidaknya bisa saya crop menjadi 3 (tiga) shot size berbeda untuk output FullHD. Istilah untuk teknik ini adalah axial cutting. Dengan demikian, waktu produksi menjadi lebih hemat.
  2. Body-nya kecil. Saya bisa bawa kamera ini ke mana-mana walau cuma pakai tas selempang (jika pakai lensa pancake). Bisa buat stealthy shooting. Hehehe… Oke ini ilegal.
  3. EVF. Electronic View Finder A7s ini membantu banget untuk syuting outdoor dengan kondisi cahaya matahari terik. Coba kalau pakai DSLR, mau ndak mau harus pakai LCD karena Optical View Finder-nya ndak bisa buat mode video. Kecuali kalau mau repot-repot pasang EVF tambahan.
  4. Bisa mengunduh aplikasi-aplikasi keren langsung ke kamera dengan koneksi Wi-Fi! photo 2Kita bisa membeli aplikasi (ada yang gratis juga kok) dengan kartu kredit, atau dengan PlayStation Network Card. Satu aplikasi bisa diinstal ke maksimal 10 kamera. Dua aplikasi yang paling saya suka adalah Motion Shot dan Smooth Reflection. Bisa membuat efek seperti foto di bawah ini.

    photo 1

    Atas: Motion Shot app. Bawah: Smooth Reflection app.

  5. Slow Motion 60fps (1080p) dan 120fps (720p).  DSLR lain hanya mampu 60fps di 720p.
  6. XAVC S Codec. Ini codec yang sungguh cakep! Dengan bitrate yang  tidak terlalu besar (50Mbps), mampu menghasilkan detail gambar jauh di atas codec rata-rata yang dipakai kamera lain (AVCHD). Untuk diedit pun masih ringan.

 

Sedangkan yang  ndak saya suka dari A7s:

  1. Batere. Iya, boros banget.  Tapi bukan karena kameranya yang boros, melainkan karena dimensi baterainya yang memang kecil (setengah dari rata-rata dimensi batere DSLR lain). Tapi untunglah harga baterenya cukup murah. Dan lagi pula, ada solusi bisa charge batere dengan powerbank.
  2. Tombol record yang kecil dan letaknya sungguh nyeleneh. Entah apa maksudnya Sony menaruh tombol rekam video di posisi ini dan sekecil ini.photo-2
  3. Body. Untuk urusan durabilitas body, saya masih mengagumi Nikon, Canon, bahkan Panasonic dengan GH4-nya. Baru kepakai syuting masih hitungan jari, body A7s saya sudah ada 2 bekas goresan. Hiks.

Lain kali, saya ingin mencoba Panasonic GH4 dengan kemampuan internal 4K video recording-nya. Ada yang mau minjemin? Hihihi…

Foto-foto behind the scenes.
Terimakasih teman-teman SOS Project dan RED Network yang sudah  bekerja bareng memproduksi SOShort!

Syuting di Kelly's Coffee bersama @ikramarki @hanibocil @koharotv @stupidoism @_iFad Di produksi ke-5, ada @koharotv yang menjadi camera operator IMG_9346 IMG_9360 Di produksi ke-5, ada @ikramarki juga lho. IMG_9395 IMG_9415 IMG_9466 IMG_9493 Di produksi ke-4, dibantu oleh teman-teman RED Network: @aulion @benakribo @vendryana, Brian dan juga ada @nonamerah. Syuting SOShort produksi ke-4 bersama RED Network. Terimakasih @Aulion @vendryana @heeelyrider @ifnhr @nonamerah @muhadkly @_iFad Syuting SOShort produksi ke-4 bersama @NCLYS @ifnhr dan @nonamerah

Dari sekian banyak video SOShort yang sudah dirilis di sini, episode mana yang menurut sampeyan paling oke? Atau kalau misalnya ndak ada yang oke, apa saran & kritik sampeyan?

Tautan:

The post WEBSERIES: SOSHORT PRODUKSI KE-4 & 5 DENGAN SONY A7S appeared first on GoenRock's VLog®.

USAI MERTI JIWO 2014

-

TLATAH BOCAH

on 2014-10-02 6:22pm GMT

Terimakasih atas doa & dukungannya pada Merti Jiwo di gunung Tidar (Minggu, 28 Sept 2014) sebagai pembuka Festival Seni Tradisi yang ke 8 sehingga berlangsung sukses & khidmat. (salah satu liputan dari Sinar Harapan: “Doa Malam di Gunung Tidar”)

 

Rangkaian festival Tlatah Bocah 8 berikutnya berupa:

 

1. HAJAT SENI

Sabtu-Minggu, 1-2 Nov 2014
Dusun Ngargotontro, desa Sumber, kec Dukun, kab Magelang
(lereng Merapi)

 

2. FESTIVAL FILM MERAPI

Sabtu-Minggu, 15-16 Nov 2014
Dusun Gowokpos, desa Sengi, kec Dukun, kab Magelang
(lereng Merapi)

 

3. LAKU LAMPAH

Minggu, 30 Nov 2014
Dusun Tarukan – desa Candisari – kec. Bansari – kab. Temanggung
(Lereng Sindoro)

 

4. LARUNG SUKERTA (penutupan)

Minggu, 7 Desember 2014
Pertemuan sungai Cacaban & sungai Lamat
(kec. Dukun – kab. Magelang).

 

Kawan-kawan dapat mendukung festival ini dengan memesan cinderamata (tas & kaos) yang kami buat sendiri untuk kebutuhan sewa soundsytem, lampu, dan peningkatan kapasitas listrik, dll.

 

 

Selain itu kami juga mengumpulkan barang layak pakai untuk dijual dalam pasar murah di dusun-dusun komunitas seni untuk mendukung kebutuhan transportasi dalam festival komunitas seni yang bersangkutan.

 

Kami yakin kawan-kawan sangat mendukung kampanye hak anak melalui festival ini.

Pernah merasakan sarana transportasi umum di ibukota Jakarta? Entah angkot, bus, maupun kereta api, semuanya hampir sekali tiga uang. Sangat sesak dengan manusia yang berhimpitan. Panas, bau keringat bercampur minyak wangi serta aneka parfum sudah menjadi hal yang biasa. Belum lagi soal keamanannya. Tidak sedikit kasus pencopetan, penjambretan, bahkan perkosaan banyak terjadi di angkutan umum. Intinya sarana transportasi umum tersebut masih sangat jauh dari rasa nyaman dan aman sebagaimana idaman banyak orang. Tentu saja kita semua juga prihatin dengan kondisi tersebut.

Keprihatinan kita nampaknya akan semakin menyesakkan dada tatkala perlakukan kru angkutan juga seringkali kurang nguwongke penumpang. Tidak sedikit dari mereka yang menganggap para penumpang hanya sekedar sebagai pendulang uang. Tidak mengherankan jika para penumpang yang notabene adalah manusia hanya diperhitungkan sebagai uang sewa. Jika ada calon penumpang berdiri di tepian jalan, sopir atau kru angkot atau bus langsung melotot dan melihatnya sebagai beberapa lembar uang ribuan. Setiap kepala dihitung sebagai sewa bagaikan pajak kepala semasa kerajaan dan jaman penjajahan dahulu.

Tidak hanya terhenti dengan istilah sewa untuk menggantikan manusia yang kebetulan menumpang, perlakuan mereka terhadap penumpang juga seringkali tidak berperikemanusiaan. Meski angkutan sudah sedemikian penuh sesak dengan penumpang, sering terjadi bahkan penumpang yang sudah berdiri terus dihimpit-himpit, didesak-desak, juga ditumpuk-tumpuk laksana barang. Yang ada di benak para kru tersebut hanya setumpuk lembaran uang. Tidak kurang dan tidak lebih.

Kalaupun para penumpang disebut sebagai sewa, mestinya mereka memang para penyewa yang memberikan sejumlah uang untuk mendapatkan jasa layanan transportasi umum yang layak, nyaman dan aman. Uang sewa yang diberikan harus dibalas dengan pelayanan yang ramah dan menyenangkan. Itu adalah timbal balik antara kewajiban dan hak yang timbul dari hubungan transaksional yang terjadi. Para penumpang sesungguhnya bukan hanya sekedar barang yang menumpang dengan gratisan. Oleh karena itu mereka sangat berhak untuk dimanusiakan.

Jaman memang benar-benar jaman edan. Bagaimana tidak, lha wong di jaman sekarang ini terang-terangan orang sudah memilih uang sebagai Tuhannya. Hidup senang atau susah sudah sangat tergantung dengan benda yang namanya uang. Orang dikatakan sukses atau gagal dalam hidupnya juga dinilai dari seberapa banyak uang yang dimilikinya.

Orang yang tidak pegang uang, ya sudah pasti dianggap kere, kelas rendah, orang susah, bahkan kasta rendahan. Maka jangan heran jika kemudian orang mati-matian mencari uang. Banting tulang, peras keringat siang malam, ibaratnya kepala sudah menjadi kaki dan kaki menjadi kepala! Semua sudah all out, totalitas setotal-totalnya untuk meraih uang. Jangankan yang halal, yang haram, yang dosa, yang jahat, yang menyusahkan orang lain, yang merugikan negara, yang korup, yang ngrampok, semua dilakukan atas nama uang. Kalau tidak bisa dengan cara halus, ya cara kasarpun harus ditempuh.

Nah, monggo kembali kepada diri kita masing-masing. Apakah dalam pusaran jaman edan ini kita memilih jalan untuk tetap eling lan waspada dengan ajaran agama dan perintah Tuhan. Ataukah kita justru memilih untuk turut ngedan dengan keyakinan jika tidak ikutan ngedan maka kita tidak akan keduman? Ah, pembicaraan sudah semakin ngelantur. Bicara soal sewa kepala para penumpang angkot, malah sampai soal tuhan uang. Sudahlah….

Ngisor Blimbing, 1  Oktober 2014

Manusia memang makhluk Tuhan yang memiliki derajat dan martabat paling tinggi. Manusia dilahirkan dengan dilekati hak-hak asasi sebagai sebuah sisi kemanusiaan manusia yang paling hakiki. Apabila hak asasi manusia diremehkan, diinjak, bahkan dirampas, maka sisi kemanusiaannyapun juga akan sirna. Manusia yang mengalami hal tersebut kemudian menjadi tidak lagi dimanusiakan. Tidak di-wongke, menurut orang Jawa.

Fenomena jaman yang justru menjadi semakin edan, seringkali menjadi suatu ironi ketika kecerdasan, pengetahuan, kesejahteraan dan semua parameter kemajuan jaman justru disertai dengan fenomena kemunduran akhlak, moral, kejujuran maupun segala hal parameter peradaban manusia sebagai makhluk yang mulia. Manusia akhirnya terjebak dalam keterasingan diri-sendiri. Manusia menjadi semakin tidak manusia lagi.

Banyak contoh


Filed under: Jagad Bubrah Tagged: angkot, Jakarta, jaman edan, kemacetan Jakarta, kereta api, transportasi masal