Padepokan Pendekar Tidar

You Are Not Alone !

-

Mas Ivan

on 2014-12-18 1:32pm GMT

Kita sebenarnya hanyalah dokumentasi tumpukan hari dan waktu. Setiap hari berlalu, berarti tabungan hari-hari kita yang sering tersebut usia terkurangi tanpa ada teringat sadar diri. Berulang dan berulang, waktu yang terus berlalu mendekatkan diri ini kepada kematian pun gelimangnya harta dunia kerap kali menyilaukan mata, membungkus kerasnya hati.

Yakini akan keberadaannya. Malaikat maut tak kenal kompromi, Malaikat maut tak kenal negosiasi, dan malaikat maut tak menawarkan discount atas jatah kematian yang telah terdata, jauh…jauh sebelum dunia ini tercipta tatkala masih berada dalam tempat yang mulia tersebut lauhul Mahfuz.

Mari bersegera menuju kualitas diri. Membukanya dengan taubat, mendekatinya dengan ketakwaan dan mengisinya dengan kebaikan murni tanpa sebuah persekutuan. You Are Not Alone !

Sesungguhnya kematian merupakan wejangan nyata untuk kita bebenah diri… pic.twitter.com/f4n9t9C8i7

— Mas Ivan™ (@ivanCOid) 18 Desember 2014

Awalnya saya diajak teman-teman seperbloggeran main ke the breeze, katanya pengen pada hangout macam kongkow-kongkow jtantik gitu. Ya saya oke-in aja, toh isi kepala saya lagi anget-angetnya mikirin bab 3-4, sekalian refreshing, kalau jarkon jawanya bilang mah, “dolan sek, ndak edan”.

The breeze itu memang tempat favorit banget buat kongkow, tidak salah kita main kesana. Konsep mall ini outdoor, jadi terkesan unik dan asik. Apalagi kalau malam, nongkrong di pinggir danau (semacam danau mini) bikin suasana jadi nyaman apalagi kalau kesananya bawa pahatjar (yummi).

Apalagi in akhir tahun, pernak pernik natal dan tahun baru udah mulai meramaikan mall ini. Tentunya juga banyak tenant-tenant disana yang umbar diskon, mulai dari makanan sampai barang elektronik. Cocok kan.

Kebetulan malam itu sedang ramai pengunjung, tidak seperti biasanya banyak pengunjung yang berkumpul di satu titik, tepatnya disalah satu area pertunjukan. saya penasaran sebetulnya ada apa sih? Oh ternyata ada Recycled Percussion, pantes ramai. Saat sampai di depan panggung, kebetulan pertunjukannya sudah selesai, dan menurut abang MC nya bakal dibuka lagi aksi-aksi gokilnya pukul 20:30 nanti. Karena penasaran, saya bersedia menunggu.

Sambil menunggu pentasnya dibuka lagi, kami putuskan untuk makan-makan dulu. Pilihan kami tertuju di salah satu restoran jepang, namanya ootoya Japanese resto. Katanya makanan jepang di resto ini sangat recommended karena rasanya memang the real japanese foods banget. Saya jadi gak sabar lagi pengen nyobain, karena saya sendiri kalau makan makanan jepang suka di foodcourtyang kualitas rasanya gak sebanding dengan resto-resto semacam ootoya.

Karena saya pengen mengulasnya lebih dalam, nanti cerita-cerita tentang Japanese foodsnya saya bikin postingan sendiri aja. Sekarang lanjut ke cerita kongkow di the breezenya.

Perut sudah kenyang dan hidung masih sengir karena kebanyakan makan wasabi(ada yang doyan wasabi?HAHA), saatnya kami nonton pertunjukan yang ditunggu-tunggu, recycled percussion with pemenang America’s Got Talent 2009.

Recycled Percussion

Grup music kreatif ini berasal dari Las Vegas, mereka pemenang America’s Got Talent 2009, personilnya ada 4 orang, bule semua gak bisa bahasa Indonesia (yaiya!). namanya juga recycled, semua semua alat musiknya dari barang-barang bekas, mereka juga mengkolaburasikan bunyi-bunyi tepukan dari anggota badan mereka sehingga menjadi paduan suara yang unik, dan aksi-aksi comedian mereka juga gak kalah kocaknya dengan srimulat. Dan yang pasti, kita gak perlu jauh-jauh ke las vegas buat nonton performance keren mereka, cukup di the breeze aja, catat tanggal mainnya yes?

6 - 21 Dec 2014
Tue - Thu          : 7 pm
Fri                    : 6:30 and 8 pm
Sat & Sun         : 4 pm, 6:30 pm and 8 pm

Masih ada waktu 3 hari lagi, duh.. mepet banget yes, saya kasih infonya? Haha.

Oke, seperti apa aksi akrobatik mereka, coba liat poto-poto dibawah ini,

    photo by the breeze bsd city

    photo by the breeze bsd city

    photo by the breeze bsd city

Kalau gambar gak bisa bergerak, dibawah ini video aksi-aksi keren mereka,

                   video by Christi Sihombing


Saya standing applause dengan aksi mereka, apalagi pas awal pembukaannya, gak menyangka mau main drummer ala cicak. Penuh kejutan-kejutan dan walaupun mereka tidak mempergunakan bahasa Indonesia tapi kecerdasan dan kekreatifan mereka mampu membahasakan dengan baik, alhasil pesan bisa tersampaikan dan kami penonton bisa tertawa terbahak-bahak.

So, jangan menunggu ketidakpastian gebetan deh, di-php-in itu sakitnya tuh dengkul, mending sebelum tanggal 21 main ke the breeze cari gebetan baru dan puas-puasin nonton aksi gokil mereka. Santai saja, tidak dipungut biaya kok, cuma parker motor aja yang bayar.

Setelah selesai pertunjukan mereka tgl 21 nanti, saya rencana mau ke the breeze lagi, malam tahun baruan disana, denger-denger bakal ada DJ Performance sama a million shots of fireworks!

Event tahunan yang mengajak para blogger nasional untuk berkompetisi dalam satu musim layaknya pertandingan sepak bola kembali digelar. Lahir atas inisiasi anak-anak dotsemarang, acara bertajuk Liga Blogger Indonesia atau biasa disingkat LBI merupakan program yang memberikan poin kepada blogger yang telah menyelesaikan tantangan dari tim dotsemarang, dengan tujuan memberikan apresiasi atau reward kepada rekan – rekan blogger Indonesia, sehingga blogger Indonesia terangsang untuk selalu mengupdate blognya dan bisa berfikir secara cepat, tepat dan kreatif. Nah, apakah blogger itu Anda atau justru kita semua ? semoga saja demikian.

LBI 2015 A

Di tahun sebelumnya dua kali gelaran LBI rampung dengan gemilang, dimana pemenang Liga Blogger Pertama adalah Rohani Syawaliah @honeylizious cewek berkerudung asal Pontianak, sedangkan pemenang Liga Blogger Indonesia Kedua tahun 2014 adalah Kang Didno @didno76 pria asal Indramayu yang konon punya profesi sebagai Teacher, Blogger juga seorang Freelance Writer atau penulis lepas yang entah seberapa lepasnya saya kurang begitu tahu.

Dua tahun berjalan, kini masuk ketahun ketiga kembali para inisiator berusaha untuk memberikan pertandingan yang lebih bergengsi, berbobot juga lebih seru, dan yang pasti even kali ini terasa lebih menarik  bagiku lantaran tahun ketiga ini merupakan ketiga kalinya saya turut serta berpartisipasi dimana dua pertandingan sebelumnya selalu dan selalu saja saya putus ditengah jalan (menyerah) dengan melambaikan kain putih :(

Yah..itu masa lalu yang tak boleh kita ratapi berlama-lama, yang jangan pula kita sesali. Bagi seorang pembelajar, kegagalan di hari yang lalu merupakan cambuk penyemangat agar di masa depan kita mampu belajar dengan optimal sepenuh jiwa, tenaga serta pikiran, sehingga apa yang kita cita-citakan dapat tercapai, dan tak lagi kita ulangi kegagalan seperti masa yang telah lalu yang membuat kita terpuruk membisu dalam gelapnya ruang dan waktu, yang sulit untuk kita bersegera bangkit kecuali atas suntikan semangat dari-Nya, dari Sang Maha Pencipta.

Wahai para blogger nusantara…wahai para blogger Indonesia…., kini pleton para pejuang telah siap sedia, lahan pertempuran telah membentang didepan mata, dan amunisi dengan segenap akomodasi juga logistik turut menyokong perjuangan kita. Jangan…jangan kita gentar dengan kuantitas dan kualitas lawan di seberang sana. Jangan…jangan kita menunduk dan ragu sehingga kembali kita alami kekalahan yang membuat diri kita malu lantaran bumi pertiwi terenggut tanpa arti disebabkan pengorbanan yang setengah hati. Maju…maju…dan teruslah kita maju sembari terus kita rapatkan barisan. Maju…maju dan terus maju menggempur lawan sembari kita jernihkan pikiran agar stamina makin optimal tuk jemput kemenangan.

Tak perlu ragu..dan tak perlu takut, yakinlah pertolongan Allah teramat dekat, pertolongan Sang Pencipta selalu ada digenggaman. Yakin akan menang, pasti kemenangan akan kita dapatkan seiring pengorbanan berpadu usaha serta doa.

_____

Ngisor wit rambutan 18 Desember 2014

Ikhwal Iklan Pengobatan

-

Mas Ivan

on 2014-12-17 2:40pm GMT

Sama-sama ingin tawarkan sesuatu supaya dibeli konsumennya, iklan obat dan iklan pengobatan punya konsep sendiri-sendiri pun sebenarnya saling mengisi. Kolaborasi menakjubkan antara keduanya benar tersaji tatkala juru pengobatan juga jualan obat. Tercetak ribuan lembar, flayerpun penuh dengan kata-kata manis berbumbu janji surga yang secara nalar imposible kecuali ada MOU langsung dengan Yang Maha Kuasa. “Sesungguhnya..berobat kepada Tuan Fulan dijamin tokcer tanpa cela.” (Kitab Ngawur, Bab : Ngibul)

Dibilang kreatif #Maksa, iklan keren #berdosa. Tp sy akui pintar jg orang ini punya usaha. Ceruk pasar masih lebar :D pic.twitter.com/GPNaUnXlVK

— Mas Ivan™ (@ivanCOid) December 11, 2014

Masih nekad percaya dengan Iklan super seperti tersuguh diatas ? tak banyak kata, silakan siap kecewa juga tergadai surga sebab tuan punya usaha lebih hebat dari nabi-Nya. Lebih jelas sepuar pengobatan dan dalilnya silahkan baca disini.

Selingkuh jangan asal !

-

Mas Ivan

on 2014-12-17 1:04pm GMT

Sayapun sadar betul ketika mulai merangkai huruf menjadi satu kata utuh SELINGKUH pasti banyak orang bakal tertarik, entah mereka yang mengasumsikannya negatif bahwa selingkuh merupakan perbuatan terlarang, bejat dan memalukan, ataupun mereka yang justru sepaham sambil menggut-manggut mengurai lamunan “ahaa…saya pernah mencicipinya, dan jelas ini perbuatan penuh tantangan dimana banyak kisah menarik terkait perselingkuhan terproduksi, dan ini lumrah untuk kita konsumsi. Ya…selingkuh itu nikmat !”

Selingkuh Kopi 1

Oh tidak…meskipun google mencatat ada sekitar 4.330.000 hasil (0,30 detik) bahasan terkait selingkuh, kiranya selingkuh terbahas kali ini berbeda dengan apa yang kebanyakan orang asumsikan. Selingkuh cukup didalam cawan. Selingkuh cukup didalam gelas atau cangkir dan ini merupakan hal legal tanpa larangan yang setiap hari hampir kita lakukan.

Jangan asal seduh ketika Anda melakukan aksi selingkuh. Jika cangkir terpakai ada merk semisal “Nescafe” ya isi satu tema seperti white kofie bisa juga good day. Kalo nekad bikinnya kopi ireng bisa jadi waktu nggaya didepan kamera…#ehh berkumis lantaran ampas nempel di atas bibir. Ya untung tanpa ada kata buntung kalo Anda emang udah punya kumis beruban, jaminan mutu bakal tambah gagah + tampan karena sewindu lebih muda secara instan tanpa polesan.

Ada benarnya juga kan “selingkuh itu nikmat !”, tapi cukup didalam cawan bukannya dalam makna sebenarnya seperti yang pertama kali Anda pikirkan :D

Dimanapun posisi masjid tentu akan menjadi magnet bagi ummat Islam sejati untuk senantiasa menyambanginya. Sebagai rumah Allah, di masjidlah aktivitas utama peribadahan dilaksanakan. Perpaduan pancaran aura energi suci dari para hamba yang taat, serta arsitektur bangunan masjid yang syahdu pasti akan lebih lengkap lagi jika ditambah dengan keindahan landskap pemandangan yang menjadi latar belakangnya. Sungguh sebuah paduan yang lengkap untuk menghanyutkan jiwa dan raga hamba Allah untuk ‘isyik dalam lautan anugerah ilaihi rabbi.

Salah satu masjid yang memiliki perpaduan indah yang saya maksudkan di atas adalah Masjid At Taa’wun di Puncak Pass, tepat di titik perbatasan wilayah Kabupaten Bogor dan Cianjur. Masjid yang terletak di Jalan Raya Puncak Km 91, Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor ini telah berdiri semenjak tahun 1997. Masjid ini konon berkembang dari masjid sederhana yang dikhususkan untuk pegawai dan karyawan PT Gunung Mas yang merupakan perusahaan pengelola perkebunan teh Gunung Mas.

Dalam perkembangannya, masjid sederhana tersebut tidak mampu menampung jamaah yang berjubel, khususnya pada pelaksanaan sholat Jum’at. Atas prakarsa Gubernur R. Nuriana, dibangunlah sarana masjid yang lebih representatif yang kemudian kita kenal sebagai Masjid At Ta’awun. Menempati area lahan seluas 10.000 m2, masjid tersebut memiliki luas banguan 300 m2. Karena posisinya yang sangat strategis di tepian perlintasan jalur Jakarta, Bogor, Puncak, Cianjur, hingga Bandung menjadikan masjid ini senantiasa penuh jamaah yang melaksanakan kewajiban sholatnya, khususnya para pelintas maupun wisatawan yang secara khusus memang ingin mengunjungi masjid anggun di tepian perkebunan teh ini.


Filed under: Jagad Religi Tagged: Bogor, Masjid At Ta'awun, Puncak Pass

Setiap orang pasti mengharapkan suatu keadaan lingkungan yang nyaman. Baik itu lingkungan kerja ataupun lingkungan tempat tinggal. Lingkungan yang nyaman akan mengakibatkan suatu hasil yang positif, seperti bertambah produktifitas kita atau jika dilingkungan keluarga akan tercipta pola hidup yang lebih sehat.

konsep 5r
Untuk menciptakan keadaan nyaman tersebut, kita dapat menerapkan suatu konsep kedisiplinan yang disebut 5R(ringkas,rapi,resik,rawat,rajin). Konsep ini merupakan adaptasi dari konsep 5S (seiri,seiton,seiso,seiketsu dan shitsuke) yang dikembangkan di Jepang dan negara-negara maju lainya.

5R merupakan suatu perilaku oleh seseorang yang memperlakukanya secara benar. Dan jika perlakuan itu sudah dilakukan dengan benar maka target yang kita ingini bisa tercapai. Dan berikut penjelasan tentang 5R

Ringkas
Artinya memisahkan segala sesuatu peralatan atau perabotan yang kita perlukan atau tidak diperlukan.

Rapi
Menyimpan barang sesuai dengan tempatnya. Agar jika suatu saat kita memerlukanya kita bisa menemukannya dengan mudah.

Resik
Artinya selalu membersihkan lingkungan atau barang-barang yang sudah kita pakai.

Rawat
Yaitu mempertahankan apa yang telah dicapai dalam 3R sebelumnya.

Rajin
Yaitu tetciptanya suatu kebiasaan yang mau menjaga dan meningkatkan apa yang telah dicapai.

Nah mungkin dengan menerapkan suatu konsep budaya yang bagus kita akan mencapai hal yang bagus pula. Maka mulailah suatu kebiasaan yang bagus dari sekarang.


Teh putih adalah teh yang jika diseduh warnanya hampir-hampir putih bening seperti air putih. Meski warnanya polos seperti itu, tetapi baunya harum menyegarkan. Terlebih lagi kandungan antioksidan dan polifenolnya adalah yang tertinggi. Teh putih ini sangat baik untuk kesehatan.

Teh putih dibuat dari pucuk daun teh yang belum mekar atau dikenal dengan istilah peko. Proses pengambilannya sangat selektif, dipilih dengan teliti dan sangat hati-hati. Hasilnya juga sedikit, karena itu lumayan muahal harganya.

Teh putih ini adalah inovasi dari Pusat Penelitian Teh dan Kina, Gambung, Jawa Barat.


image

Suer…ini murni testimoni saya setelah menggunakan GastrofaC. Bukan promosi. Kurang lebih sudah tiga-empat minggu menggunakan GastrofaC untuk kendaraan saya. GastrofaC bisa menghemat bensin kendaraan dan tarikan gas terasa lebih ringan.

Meski bensin cuma naik Rp. 2000, pengeluaran keluarga naiknya berlipat-lipat. Segala cara untuk mengefisienkan pengeluaran akan kami lakukan. Salah satunya efisiensi untuk konsumsi bahan bakar. Sejak BBM naik saya leih banyak naik motor. Ketika saya diberitahu GastrofaC bisa membuat irit bensin saya memakainya juga.

Sebelum memakai GastrofaC biasanya saya isi tangki motor full tank sebanyak kira2 3 liter. Kalau saya pakai terus-terusan, saya isi bensin lagi setelah 5-6 hari. Rata2 saya pakai motor sehari kurang lebih 25-35 km.

Saya tambahkan GastrofaC kira2 saja. Satu tangki full saya isi kurang lebih 5 ml. Kira2 saja, karena tidak ada takaran di botol GastrofaC. Pertama pemakaian yang saya rasakan adalah tarikan gas lebih ringan dan lunak.

Saya isi bensin lagi setelah satu minggu, sekitar 7 hari. Namun, saya masih belum yakin, karena kadang2 saya naik motor, kadang2 kalau pergi sekeluarga kami pakai mobil. Minggu berikutnya saya isi lagi setelah 7 hari. Minggu ketiga ternyata 7 hari juga.

Kalau dihitung kasar ada penghematan sedikit. Biasanya saya isi bensin 5-6 hari, setelah pakai GastrofaC jadi 6-7 hari. Perasaan lebih banyak 7 harinya.

Andaikan setiap hari saya pakai 35 km, tujuh hari jadi 210 km. Saya beli bensin 3 L. Jadi satu liternya kurang lebih 81 km. Menurut saya ini sudah irit banget. Menurut artikel yang pernah saya baca, konsumsi ekonomis motor saya adalah 50-60 km per liter bensin. Berarti efisiensinya kira2 naik 14%.

Jika dilihat dari sisi biaya, pemakaian GastrofaC menambah biaya Rp. 1000 rupiah. Mahal sedikit dari harga pertamax. Kenaikan efisiensi 14% masih terlalu rendah. Penghematannya baru terasa jika peningkatan efisiensinya minimal 20%.

Testimoni ini lebih banyak pakai perasaan. Saya tidak benar2 melakukan pengukuran yang teliti. Bisa saja perhitungan saya ini meleset. Bisa lebih tinggi atau lebih rendah.

Terus terang saya juga penasaran untuk mobil. Sayang tanki mobil saya masih terisi separohnya. Belum ngisi lagi, jadi belum tahu berapa konsumsi bahan bakar per kmnya. Saya ceritakan lagi nanti. Insya Allah.


Ketipu jadwal

-

Mastop Story

on 2014-12-16 12:50am GMT

Hari minggu lalu ada pertandingan big match. Manchester united melawan Liverpool. Tentu menarik sekali. Sekelas El Classico di Spanyol. Saya ingin menontonya.

Dan ketika saya melihat jadwal di detik sport, ternyata hanya disiarkan di televisi berlangganan. Dan saya tidak memilikinya. Akhirnya saya tidur lebih awal.

Dan ketika senin pagi ternyata banyak yang bercerita tentang pertandingan itu. Mereka bilang ditayangkan di sctv. Saya hanya melongo. Ketipu jadwal detik sport. Padahal sudah ada peringatan jadwal bisa berubah sewaktu-waktu :D. Untungnya United menang 3:0.


Tengah bulan lalu saya diajak jalan2 oleh teman melihat2 kebun sawit di sisi barat P. Sumatera. Ada banyak yang saya lihat, namun yang membuat saya sedikit terkejut adalah tandan kosong kelapa sawit atau tankos. Ternyata kini tankos tidak gratis lagi.

Kurang lebih sepuluhan tahun yang lalu ketika awal-awal saya kerja dengan tankos. Tankos sama sekali tidak ada harganya. Bahkan ketika itu pabrik sawit membuat incinerator untuk membakar tankos. Ketika pembakaran tankos dilarang. Tankos ditumpuk saja.

Tahun-tahun itu saya meyakini konsep ‘dari tanah kembali ke tanah’. Tankos dibuat kompos dan dikembalikan ke lahan sawit. Harga tankos masih nol dan kompos sawit menjadi ekonomis. Bertahun-tahun kemudian, berdasarkan cerita pekebun, aplikasi kompos tankos mulai menunjukkan hasilnya. Tankos yang diaplikasikan ke tanah, baik sebagai mulsa atau pun kompos memberikan performa produksi yang lebih baik daripada pemupukan kimia saja.

Tankos juga memiliki peluang untuk dimanfaatkan sebagai berbagai macam produk. Salah satunya bioethanol.

Sejak awal saya sudah menduga jika kelak tankos ini akan ada harganya. Ketika banyak orang yang mencari2, maka akan berlaku hukum ekonomi. Tankos akhirnya ada harganya.

Petani menceritakan ke saya jika ketika mereka setor tbs ke pabrik mereka pulangnya membawa tankos. Tankos ini tidak gratis. Ada harganya, kira2 Rp. 300rb per truk. Andaikan satu truk isinya pool 5 ton, harga tankos per kgnya sebesar Rp. 60. Harga ini belum termasuk ongkos kirim, ongkos angkat2 dan ongkos encer.

Secara kasar, biaya bahan saja jika tankos dibuat menjadi kompos harganya akan menjadi Rp. 120/kg kompos. Jika dibuat menjadi ethanol kira2 menjadi Rp. 240 – 300 per liter ethanol. Ini belum ditambah dengan biaya aktivator, tenaga kerja, energi, investasi, dll.

Harga tankos sudah keniscayaan karena mengikuti hukum ekonomi. Selama harga ini masih lebih rendah daripada harga produk turunannya, harga ini tidak menjadi masalah. Tantangannya adalah membuat proses yang lebih ekonomis dan efisien, sehingga harga produk turunan tankos bisa ditekan serendah mungkin.


Tuhan Tuhan Batu

-

Sang Nananging Jagad

on 2014-12-15 12:17am GMT

Sejak di bangku sekolah dasar kita telah diperkenalkan tentang sejarah perkembangan berbagai agama di Nusantara. Konon jauh sebelum agama-agama besar sebagaimana yang kini telah ada, nenek moyang kita telah menganut kepercayaan lokal yang disebut sebagai animisme dan dinamisme. Dua istilah ini senantiasa diartikan sebagai kepercayaan terhadap roh-roh leluhur ataupun roh-roh yang bersemayam pada benda-benda yang ada di sekitar lingkungan manusia, apakah pohon besar, batu besar, bahkan gunung-gunung dan samudera. Ada persepsi yang terlampau menyederhanakan pemahaman bahwa nenek moyang bangsa Nusantara adalah penyembah batu, pohon, gunung, samudera, dll.

Dalam kisah dakwah Nabi Ibrahim kepada kaumnya, Ibrahim merupakan putera dari seorang pembuat patung bernama Azar. Patung yang dibuat oleh ayah Ibrahim bukan sembarang patung yang hanya digunakan untuk mematut rumah dan taman-taman, patung tersebut dibuat untuk menjadi tuhan sesembahan. Maka salah satu misi dakwah Ibrahim adalah menghancurkan patung-patung berhala dengan kapak yang kemudian kapak dimaksud dikalung pada leher patung yang terbesar. Kisah ini sangat legendaris dan disukai oleh anak-anak sebagai dongeng yang banyak diceritakan oleh Guru Agama Islam.

Apa kaitan antara kepercayaan dinamisme, animisme hingga agama kaum Ibrahim? Tidak lain dan tidak bukan, titik singgungnya terletak di batu itu! Apakah di era modern ini kepercayaan kepada batu-batu itu masih ada?

Kira-kira 5-7 tahun yang lalu, masyarakat Indonesia begitu gandrung dan kedanan dengan komoditas anthurium, gelombang cinta dan tanaman-tanaman sejenis. Masih sangat ingat kan! Bagaimana kemudian rasionalitas logika manusia sulit menerima fakta bahwa segerombol tanaman dihargai berdasarkan jumlah helai daunnya. Entah daya magic hipnotis semacam apa yang menjadikan hal demikian. Masyarakat sedemikian mengagung-agungkan tetanaman, pepohonan demikian. Dengan nalar yang sederhana, dapatkah hal demikian dikatakan mayarakat kita sedang gandrung, terkagum-kagum, bahkan memuja atau menyembah tanaman secara berlebihan? Apakah hal tersebut muncul dari dorongang primitif jiwa-jiwa nenek moyang kita yang masih bersemayam di sanubari terdalam?

Gelombang cinta dan segala macam anthurium memang telah lewat masanya. Sudah tidak langi menjadi tranding topic ataupun transetter pembicaraa masyarakat sehari-hari. Mungkin karena kondisi negara yang masih dan seolah makin semrawut dengan suhu politik yang terus memanas? Tentu saya sendiri tidak paham akan hal ini.

Akan tetapi, demam semodel dengan gelombang cinta ini kok sepertinya ada yang tengah bangkit dan menjangkit masyarakat di waktu-waktu akhir ini ya? Sampeyan tahu apa yang saya maksudkan? Apa kesan kita jika disebutkan beberapa kata, seperti bacan, kalimaya, safir, dll? Apa itu? Itulah istilah perbatuan akik yang kini telah menjadi trend baru di kalangan masyarakat, khususnya untuk kaum Adam. Tidak hanya kakek-kakek dan kalangan lelaku dewasa, para bocah-bocah sekolahpun semakin merasa hebat jika jemari tangannya dipenuhi dengan deretan cincin batu aneka warna. Weiiit, fenomena apa lagi ya?

Di berbagai kalangan lelaki, dimana-mana orang membicarakan batu akik. Dimana-mana orang sibuk duduk sambil menggosok-gosok batu pujaan masing-masing. Bicara soal harga juga luar biasa. Ono rego, ono rupo! Entah dengan parameter atau kriteria yang diciptakan entah oleh siapa, harga sebutir batu akik ada yang paling murah hingga yang paling mahal ada. Dari yang hanya kisaran ratusan ribu, hingga puluhan, bahkan ratusan juta juga ada! Oalah jaman-jaman. Lha untuk sekedar makan dua-tiga kali saja masih banyak saudara-saudara di penjuru tanah air yang belum tercukupi, ini malah masyarakat mengenyangkan hasrat dengan batu. Apa batu juga bisa membuat perut kenyang apa ya?

Jika sebelumnya masyarakat kita begitu memuja tanaman pada masa keemasan gelombang cinta dan kawan-kawannya, kini masyarakat kita tengah memuja batu-batu akik. Jika dulu “menuhankan” pepohonan, giliran kini kita “menuhankan” batu. Hati-hati dengan itu semua lho! Setiap makhluk lain ciptaan Tuhan yang hadir di alam semesta, sesungguhnya diciptakan sekedar menjadi perantara manusia sekaligus mendukung misi kekhalifannya di muka bumi.  Semua hal tersebut tidak boleh memalingkan manusia dari ketauhidan dalam penghambaan yang hanya khusus untuh Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT. Senantiasalah untuk mengasah nurani dengan eling dan waspada!

Ngisor Blimbing, 15 Desember 2014


Filed under: Jagad Bubrah Tagged: batu bacan, berhala, cincin batu

Buku tentang jahe mungkin sudah cukup banyak di toko buku, tapi sayangnya sebagian besar hanya buku-buku panduan (how to) praktis tentang bercocok tanam jahe. Tidak ada atau belum ada buku tentang jahe yang lengkap dan komprehensif tentang jahe yang ada di toko-toko buku berbahasa Indonesia.

Sebagai produsen jahe terbesar di dunia, India memiliki buku tentang jahe yang sangat lengkap. Untungnya buku ini berbahasa Ingris, bukan bahasa urdu atau hindi. Jadi kita masih cukup mudah untuk membaca dan mempelajarinya. Menurut pendapat saya buku ini sangat perlu dimiliki oleh para praktisi jahe yang sekarang sedang marak di Indonesia.

Silahkan beli di Amazon.com. :)
Ginger: The Genus Zingiber (Medicinal and Aromatic Plants – Industrial Profiles)


Bersatu bantu Banjarnegara

-

ikhsan.web.id

on 2014-12-14 1:54pm GMT

Aksi Cepat Tanggap siap menyalurkan bantuan terbaik anda kepada 500 jiwa pengungsi korban longsor Banjarnegara. Bantuan pangan, tenda dan selimut hangat pasti sangat di butuhkan. Saatnya kepedulian kita meringankan beban mereka.

Salurkan bantuan terbaik anda melalui rekening atas nama Aksi Cepat Tanggap
BCA # 676 030 3133
BSM # 706 854 4186
MANDIRI # 101 000 4802 482

* Foto dari ACT di Facebook

Kusumaning Ati

-

Sang Nananging Jagad

on 2014-12-13 1:37pm GMT

Didi Kempot

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kusumaning ati
Duh wong ayu kang tak anti-anti
Mung tekamu bisa gawe tentrem ning atiku

Biyen nate janji
Tak ugemi ora bakal lali
Tur kelingan jroning ati sak bedhahing bumi

Kadung kaya ngene
Sak iki piye karepe
Malah mirangake

Manis pambukane
Kok pahit tiba mburine
Pancen mangkelake

Amung pamujiku
Muga-muga ra ana rubedha

Sak pungkure
Nggonmu lunga ora kandha-kandha

Read more: http://www.wowkeren.com/lirik/lagu/didi_kempot/kusumaning-ati.html#ixzz3LmguSmHK

Filed under: Jagad Jawa Tagged: campursari, didi kempot, tembang jawa
produksi jahe gajah 88 ton/ha

Penelitian intensif tentang jahe di China bisa menghasilkan produksi hingga 88 ton/ha

Dari data yang dikeluarkan oleh http://www.mapsofworld.com, menyebutkan bahwa China adalah produsen jahe no. 2 terbesar di dunia setelah India. Indonesia sendiri berada di peringkat No. 6 setelah Thailand. Harus diakui kalau China memang unggul dibidang ini. Saya coba searching bagaimana penelitian di China tentang jahe ini. Ternyata hasilnya sungguh luar biasa. Sejak satu dekade lebih dilakukan penelitian intensif tentang jahe di China. Hasilnya tidak hanya berhenti di jurnal dan ‘ndongkrok’ di perpustakaan. Produksi jahe di China meningkat pesat dan kini berada di posisi no. 2 di dunia.

Meski sebagian besar literatur-literatur ilmiah tentang jahe ditulis dalam bahasa China, untungnya bagian abstraknya masih di tulis dengan bahasa Ingris, jadi saya masih bisa membaca intisari dari penelitian ini. Ketika searching saya memanfaatkan mesin pencari milik Google yang khusus untuk jurnal-jurnal ilmiah, yaitu: Google Schoolar. Ada banyak sekali daftar publikasi yang muncul. Memang sebagian besar berasal dari dua negera produsen ton ginger dunia: India dan China. Saya tertarik dengan penelitian-penelitian di China. Karena penelitiannya sangat komprehensif, dari semua sisi. Karenana tidak heran kalau hasilnya juga luar biasa.

Dari literatur itu saya temukan sebuah peningkatan dan capaian yang sangat signifikan.
– Tahun 2006 Chuangke et al melaporkan jika hasil penelitiannya bisa menghasilkan produksi jahe hingga 58 ton/ha.
– Tahun 2007 Kong et al melaporkan jika hasil penelitiannya bisa menghasilkan produksi jahe hingga 60 ton/ha. Naik sedikit, tapi kemajuan yang tidak kecil.
– Tahun 2009 Dong et al melaporkan pencapaian yang sangat luar biasa, produksi jahenya bisa mencapai 88 ton/ha. Gilleee bener…..

Jahe Gajah

Jahe Gajah

Di Indonesia juga banyak penelitian tentang jahe. Lembaga penelitian yang bertanggung jawab adalah Balitro, Bogor. Sepanjang yang saya temukan dari literatur yang tersedia di internet. Produksi jahe gajah di Indonesia baru mencapai 25-30 ton/ha. Nggak nyampai separo dari produksi negara China/Tiongkok.

Hebatnya lagi, umur jahe di China hanya 5 bulan (160 hari). Artinya dalam setahun orang China bisa menanam jahe 2 kali. Nah, di Indonesia umur panen jahe 8-10 bulan. Setahun hanya sekali panen.

Budidaya jahe gajah dan jahe-jahe yang lain sedang naik daun di Indonesia. Permintaan eksport dari Indonesia sedang naik. Konon, buyer-buyer international mengalihkan pembelian jahe dari negera-negara top produser ke Indonesia. Entah apa alasannya tidak tahu. Namun, yang jelas akibat permintaan ini, pertanian jahe di Indonesia sedang ramai-ramainya. Harga jahe di Indonesia juga sedang bagus-bagusnya saat ini. Bahkan lebih tinggi dari harga pasaran jahe di pasaran dunia. Aneh, kan?

Budidaya jahe yang sekarang ngetrend di Indonesia adalah budidaya dengan menggunakan polybag. Saya hanya mendengar cerita dari orang-orang, kalau produksi jahe gajah dalam polybag bisa mencapai 10 kg. Jika ini benar, hasil ini equivalen dengan 60 ton/ha. Hasil yang sangat-sangat fantastis. Namun, bagi saya juga sekaligus meragukan. Hasil penelitian Balitro saja paling banter cuma 30 ton/ha….??? Kenapa saya tidak percaya 100% dengan cerita ini, karena yang cerita adalah sales.

Gap produksi yang sangat besar ini, bagi saya, justru memicu dan menantang: menantang mencari cara bagaimana produksi jahe Indonesia bisa menyaingi China.

Meskipun saya hanya membaca sekilas, beberapa penelitian di China. Maklum tidak bisa membaca tulisan China. Budidaya jahe gajah di China menggunakan teknologi pupuk yang lengkap. Media tanamnya diteliti detail. Kemudian komposisi pupuk, sumber pupuknya, perbandingan pupuknya, cara aplikasinya, dosis, cara aplikasinya. Bahkan di China ada penelitian untuk meneliti kombinasi sumber pupuk makro yang berbeda bentuknya. Selain menggunakan pupuk kimia, China juga menggunakan pupuk organik dalam jumlah banyak.

Sekarang mungkin jahe gajah di Indonesia sedang naik daun. Kalau petani kita tidak kreatif dan peneliti jahe kita tidak bergerak cepat, tidak akan bisa mengalahkan China dalam hal produktivitas. Produksi jahe di china sangat efisien, dan harganya bisa sangat murah.

Harus kejar-kejaran nih. Tahun depan, pas Indonesia masa panen jahe, di Vietnam, China, dan India mungkin juga sedang masa panen. Pasaran dunia akan banjir jahe. Kalau harga dan kualitas jahe tidak bagus, jangan harap bisa bersaing di pasaran Internasional.


Murni Curhatan

-

Agus Mulyadi Njaluk Rabi

on 2014-12-11 3:23pm GMT
Namanya NZ, usianya dua puluh satu tahun, alias dua tahun lebih muda dari saya, asalnya dari salah satu kota pesisir di Jawa tengah. Parasnya menarik, Tubuhnya mungil, senyumnya begitu ceria, dengan sedikit dekik di kedua pipinya, tingkah-polahnya sungguh teramat menyenangkan.

Sudah dua setengah tahun terakhir ini saya menyukainya. Dan kemarin, saya benar-benar tak sanggup menyembunyikan perasaan saya. Dalam sebuah acara, kami berdua dipertemukan. Kami lantas berbincang ringan, yah, sekadar bincang formalitas, intermezzo murahan.

Setelah sepeminuman kopi kami mengobrol, Saya lantas memberanikan diri untuk mengajaknya maju ke panggung. Saya lalu mengambil gitar, dan saya nyanyikan “Fly Me to The Moon”-nya Frank Sinatra. Tentu dengan suara yang sumbang.

“Fly me to the moon, let me play among the stars”
“Let me see what spring is like on Jupiter and Mars”
“In other words, hold my hand”
“In other words, darling kiss me”


Setelah lagu romantis itu selesai saya nyanyikan, entah bagaimana ceritanya, saya mendadak nekat mengatakan “I Love you” kepadanya. Saya bingung, Saya kok bisa jadi goblok begini ya. Saya benar-benar malu setengah mati.

Dia hanya diam. Dan ini semakin menambah malu saya. Karena penembakan spontan dan bodoh barusan ternyata hanya menghasilkan jawaban bisu. Sejenak kami berdua diam, dia belum juga memberi jawaban. Raut wajahnya terlihat mulai murka, sedangkan saya begitu gugup dan takut. Akhirnya saya putuskan untuk mengajaknya turun, saya tak ingin berlama-lama menanggung malu dan beban mental yang teramat berat ini.

Hahaha. Tentu saja adegan di atas hanyalah adegan fiktif, hanya ada dalam bayangan saya saja. Karena ada berbagai sebab yang membuat adegan di atas tak mungkin terjadi di dunia nyata. Pertama, saya tak bisa memainkan gitar. Kedua, saya tak hafal penuh lirik lagu “Fly Me to The Moon”-nya Frank Sinatra. Ketiga, seandainyapun saya bisa main gitar dan hafal lagu Fly Me to The Moon-nya Frank Sinatra, saya belum tentu punya mental untuk memetik gitar dan menyanyi di hadapan NZ. Dan yang keempat, saya masih cukup waras untuk tidak bilang I Love You kepada dia, maklum lah, pipi kiri saya ini kelihatannya belum cukup kokoh untuk menerima tamparan tangannya.

Lalu untuk apa saya menulis curhatan yang ndak jelas ini?

Yah, siapa tahu si NZ baca curhatan ini, sehingga ia sadar, bahwa saya begitu menyukainya. Sengaja saya tulis di blog agar ketika yang bersangkutan sadar kalau saya menyukainya, maka yang ia tampar bukanlah pipi saya, melainkan layar monitor atau gadget yang ia gunakan untuk membaca postingan ini.

Dan entah mengapa, setelah menulis curhatan ini, pipi saya kok rasanya seperti ada yang menampar. Dan sedari tadi, berkali-kali saja mendengar bisikan gaib: “Dasar blogger nggak tahu diri!”.

Bicara kemacetan di ibukota? Ah, itu mah soal biasa. Tiap hari Jakarta memang macet. Semua warga negara Indonesia dari Sabang sampai Merauke juga tahu soal hal itu. Namun tentu saja tidak semua dari warga tadi benar-benar merasakan atau bahkan merana setiap hari akibat mengalami kemacetan setiap hari. Hanya warga Jakarta dan sekitarnya atau orang yang sedang punya urusan di ibukotalah yang menikmati pahitnya kemacetan tadi. Untuk transportasi jalan raya, jarak 20 atau 30 km di jam pergi atau pulang kerja sangat biasa jika harus ditempuh paling cepat selama 2 jam. Ya, itu tadi karena macet!

Jalan tol? Dulu memang orang mengartikan jalan tol sebagai jalan yang bebas hambatan. Bebas hambatan tentu saja juga bebas kamacetan. Bagaimana mungkin jalan berbayar kok tidak bisa mengantarkan penggunanya menuju tempat tujuan dalam tempo yang lebih singkat? Namun itu cerita soal jalan tol di masa lalu! Hal seperti itu di masa kini hanya tinggal kenangan. Sebuah kisah klasik sejarah yang tidak pernah kembali lagi. Sungguh sayang seribu sayang!

Jakarta hari ini adalah Jakarta yang semakin semrawut. Kemacetan sudah menjadi hal umum yang terjadi setiap saat. Pertambahan kendaraan pribadi, baik roda empat maupun roda dua sudah sangat di atas ambang batas kapasitas jalan raya yang ada. Setiap orang sudah sedemikian individualis sehingga jalan raya menjadi ajang rimba raya. Di jalan rimba raya yang kemudian berlaku adalah hukum rimba. Siapa yang kuat, dia yang berkuasa. Siapa yang besar, dia menindas yang kecil. Truk kontainer merasa harus didahulukan daripada truk gandeng atau mobil tangki. Truk gandeng merasa lebih kuasa daripada bus penumpang. Bus umum merasa sebagai raja jalanan dibandingkang mobil pribadi atau angkot kecil. Mobil merasa lebih kuat daripada motor. Motor merasa lebih tinggi daripada sepeda kumbang. Demikian juga, sepeda kumbang merasa lebih wah daripada para pejalan kaki. Demikianlah jaman edan di rimba raya ibukota kita yang tercinta ini.

Tidak di tengah ataupun di pinggiran, bahkan Jakarta telah dikelilingi dengan sabuk jalan tol. Semenjak beberapa waktu silam, Jakarta telah dilingkari dengan jaringan jalan tol Jakarta Outer Ringroad atau JORR.  Bahkan ruas JORR terbaru kini telah dibuka dan menjadi jalur sangat strategis yang menghubungkan titik-titik di wilayah selatan, tengah, dan utara. Dari beberapa kota penyangga, termasuk ke bandara Soekarno-Hatta dan Pelabuhan Tanjung Priok. Anda benar sekali, ruas tol yang saya maksudkan adalah jalur tembus yang menghubungkan Tol Pondok Indah-Serpong dengan jalur Tol Jakarta-Merak, juga menembus hingga bandara serta pelabuhan.

Keberadaan jalan tol tembusan tersebut tentu saja diharapkan mampu menguarai kemacetan di berbagai titik ibukota dan mampu mengantarkan warga ibukota dalam beraktivitas sehari-hari. Apakah hal demikian benar-benar telah terwujud dan menjadi kenyataan?

Sebentar kawan! Manusia memang makhluk yang sangat canggih dalam berencana terhadap setiap hal. Akan tetapi kodrat dan iradat Tuhan tetap menjadi sebuah keniscayaan untuk dilawan. Bagaimanapun nalar manusia telah sangat paham jika jumlah kendaraan bermotor telah melampaui ambang batas kapasitas jalanan yang ada, maka yang akan terjadi pastilah sebuah stagnansi yang kemudian disebut sebagai fenomena kemacetan.

Dengan penambahan ruas jalan tol, harapan serta rencana manusia tentu saja menginginkan kemacetan di ruas jalan yang lain akan terurai sehingga semua arus lalu-lintas menjadi lancar jaya. Namun baru bebarapa hari ruas tol baru dimaksud beroperasi, justru muncul simpul kemacetan di beberapa titik tol lain yang bersinggungan langsung. Ambillah contoh persilangan antara Tol Jakarta-Merak dengan Bintaro-Bandara Soetta di titik Meruya. Di titik tersebut selalu terjadi penumpukan kendaraan yang tersendat, terutama kendaraan yang berasal dari Tol Pondok Indah yang ingin beralih ke arah Tomang. Akibatnya, kendaraan dari arah Merak-Tangerang juga kerap menumpuk dan menimbulkan kemacetan baru di dalam ruas jalan tol. Maka tidak mengherankan lagi, jarak Tangerang-Tomang yang hanya sekitar 20 km harus ditempuh tak kurang dari 1,5 jam. Sungguh sebuah keadaan yang semakin parah!

Ali-alih menjadi pengurai kemacetan, kebaradaan tol baru ini justru menjadi penyebab kemacetan yang baru. Apa pasalnya? Tentu saja tidak lain dan bukan, gara-gara adalah pertumbuhan kendaraan pribadi yang semakin tidak terkendali. Di sisi yang lain, operasional bus-bus ataupun kendaraan massal yang lain justru semakin mundur sehubungan dengan penuaan kendaraan yang tidak tertangani dengan baik.

Jika sebulan-dua bulan yang lalu, semua orang seolah merasa berkeberatan jika bahan bakar minyak (BBM) dinaikkan, namun pasca kenaikan sekarang jumlah kendaraan pribadi sama sekali tidak berkuang. Bahkan dari berbagai berita di media massa yang terjadi justru saudara-saudara kita tetap berkendaraan pribadi dengan bensin senilai pertamax yang lebih mahal dibandingkan premiun tanpa subsidi. Ah, andaikan moda transportasi massal yang handal segera hadir di ibukota, tentulah amat senang semua orang yang nglaju harian dan bekerja di tengah-tengah kota Jakarta.

Ngisor Blimbing, 11 Desember 2014


Filed under: Jagad Bubrah Tagged: jalan tol, macet Jakarta, transportasi masal

Kalau jalan-jalan ke mall kemudian capek, badan lelah dan tidak bersemangat, mungkin itu gejala perut lapar, ada baiknya jangan lewatkan coffee shop dibawah ini buat ngisi tenaga lagi. 

Jakarta dengan segudang manusia-manusia super sibuknya itu mungkin sudah terbiasa keluar masuk coffee shop yang bertebaran di sudut-sudut mal, sekadar untuk ngopi-ngopi tjantik, meeting atau cuma numpang wifi-an aja.

Tapi ketika mereka masuk ke coffee shop, apakah mereka ingat kalau mereka sudah makan (namanya juga orang sibuk kan)? Kalau mereka ada yang jomblo bisa jadi lupa makan (wes biyasa). Seharian tidak makan, cuma ngemil dan ngopi saja, rasanya kurang bagus. Ada baiknya sambil ngopi itu, ya wifian (gratis), ya ngemil, ya makan nasi beserta kawan-kawannya. Lalu dimanakah coffee shop semacam itu?

Ini dia.

duh.. mba mba dan mas mas ini.. fokus ke tulisannya ya, iya.
Old Town white coffee memang dirancang untuk mereka yang gemar ngopi-ngopi tjantik tapi ngopinya sambil makan makanan berat (makanan berat itu semacam makanan porsinya hulk, mungkin. haha, becanda ah). Di Old Town kita bisa memesan nasi goreng, tomyam, dry egg noodles, springy noodles sausage dan masih banyak lagi, lebih lengkapnya lihat gambar dibawah ini:

Springy Noodles Sausage
Springy Noodles Sausage


Tom Yam Meehoon
Tom Yam Meehoon

Dry Egg Noodles
Dry Egg Noodles

Minced Chicken Egg Noodle
Minced Chicken Egg Noodle

Prawn Meehoon Mee
Prawn Meehoon Mee
Untuk lebih jelasnya, menu apa saja yang tersedia di Old town bisa dilihat disini (awas, ngiler!)

Sudah lihat bukan menu lengkapnya seperti apa? pas banget buat siapa aja yang pengen cari suasana coffee shop baru dan beda yang bikin perut kenyang.

Menurut mba Agusnur Lase selaku Marketing Manager Old Town Indonesia, di coffee shop ini memang dirancang tidak hanya untuk ngopi-ngopi saja, melainkan sambil ngopi bisa memesan makanan untuk mengisi perut, bersama teman-teman kampus, komunitas, keluarga atau buat para ibu-ibu boleh juga ngadain arisan disini. Dengan kata lain coffee shop ini boleh dibilang family resto juga.

Interior ruangnya dibentuk sedemikian jadul mewah, pilihan warna kayu, penataan meja kursi dan pencahayaannya bikin mata tidak sepet memandang. Jelas sekali, saat pertama masuk kesan pertama yang didapat adalah kenyamanan.

old town
tampak dari depan
old town indonesia
itu ceritanya dapurnya

Kalau saya perhatikan dari daftar menu makanannya, harga perporsinya rata-rata tidak lebih dari 50rebu, artinya makanannya terbilang cukup murah untuk ukuran coffee shop yang sudah memiliki nama besar di Malaysia, singapura, dan china ini.

Fyi, 90% makanan yang dibuat di old town adalah masakan asli Malaysia. Ada sih, beberapa masakan Indonesia, seperti Nasi goreng misalnya. Tapi bahan baku nasi gorengnya masih dibawakan dari Negara asalnya, hal ini demi menjaga cita rasa dan kualitas masakannya.

Lho, daritadi saya kok bahasnya makanan aja ya? katanya coffee shop, kopinya mana? sebelum postingan ini saya pernah bahas kopinya kok, namanya kopi nan  yang, coba cek disini deh. selain kopi nan yang paporitku, ada juga teh rasanya unik, teh ini juga paporitku (kalo teteh cantik calon istriku), namanya xi mut. 

*gambar nyusul*

Penasaran dengan coffee shop ini? Di Indonesia masih langka, baru ada 15 outlets yang tersebar di kota-kota besar Indonesia. Butuh info venue nya bisa akses disini

Lokasi: Old Town White Coffee Alam Sutera
Buka: 10:00 s/d 22:00 WIB

Twitter: @oldtownINA
FB: Old Town Indonesia



vanpersie

Manchester United melakoni match day ke 15 dengan melawat ke kandang Southampton, St. Mary’s. Dan dari lawatan tersebut United berhasil membawa pulang tiga poin. Dengan hasil itu United berhak duduk diurutan tiga klasemen sementara.

Kemenangan united dipastikan setelah dua gol Robin Van Persie hanya mampu dibalas satu gol oleh Southampton. Kemenangan ini juga merupakan kemenangan ke lima beruntun United dimusim ini.


Jonan2Ada satu lagi catatan poin penting dari Kompasianival 2014 yang disampaikan oleh Kemenhub Ignasius Jonan yang hampir terlupakan untuk dituliskan kembali. Di akhir sambutan pidato pembukaan kopdaran blogger terbesar di sepanjang tahun 2014 ini, beliau menghimbau kepada setiap insane warga negara Indonesia, khususnya para Kompasianer yang hadir, untuk turut melakukan Aksi untuk Indonesia. Benar-benar aksi nyata! Bukan lagi sekedar isapan jempol ataupun jargon kosong. Caranya bagaimana? Satu hari, satu kebaikan.

Satu hari, satu kebaikan? Maksudnya bagaimana ya? Setiap warga negara merupakan komponen yang sangat penting dalam maju atau mundurnya sebuah negara. Meskipun pemerintah memiliki perangkat aparat, system birokrasi, sarana dan prasarana penunjang untuk melaksanakan program-program pembangunan, tetapi tidak aka nada artinya sama sekali tanpa dukungan penuh dari setiap warga negara.

Contohnya, kita semua sepakat, pemerintah juga mengagendakan betapa pentingnya soal memelihara kebersihan lingkungan. Pemerintah memiliki perangkat untuk menangani masalah ini. Ada tenaga kebersihan, ada sarana tempat sampah, ada gerobak hingga mobil sampah, termasuk lokasi pembuangan sementara dan akhir sampah. Tetapi semua itu sungguh sia-sia jika setiap individu masyarakat membuang sampah sembarangan. Ya di got, di sungai, di jalanan, intinya semau wudelnya dhewe. Akibatnya ya sampah bertebaran dimana-mana. Got-got, saluran air, hingga sungai menjadi mampet dan menebar bau tak sedap. Belum lagi soal banjir yang mengancam setiap saat. Belum juga penyakit dan berbagai gangguan kesehatan akan timbul. Intinya setiap hal yang besar hanya bisa dicapai jika hal-hal yang kecil sudah beres terlebih dahulu.

Perumpamaan lagi soal transportasi. Semua orang ingin menikmati transportasi yang lancar, cepat, aman, dan nyaman untuk mencapai tempat tujuan. Tidak ada macet, tidak ada copet, tidak berdesak-desak, tidak mandi keringat, selalu on time, dlsb. Bagaimana hal ini bisa tercapai jika jalanan yang sudah terbatas lebar dan panjangnya, tetapi masing-masing dari kita justru kemana-mana inginnya dengan kendaraan pribadi? Yang terjadi ya pastinya jalanan tidak akan mampu menampung semua kendaraan. Walhasil kemacepatan menjadi santapan masyarakat di perkotaan sehari-hari.

Untuk soal kemacetan ini. Seumpama masing-masing warga kota sadar bahwa kamacetan disebabkan oleh penggunaan kendaraan pribadi, mungkinkah kemudian kita mau bersama-sama beralih kepada sarana transportasi massal? Tentu saja hal ini harus dibarengi dengan kesigapan pemerintah untuk membangun dan mempersiapkan sarana dan prasarana transportasi massal yang lebih ideal. Tetapi untuk mencapai ke sana tentu saja perlu waktu. Nah, sementara menuju waktu itu, maukah masyarakat sedikit “berpuasa” dengan berbagai ketidaknyamanan sementara sebagai konsekuensi proses pembangunan sarana transportasi massal yang tengah berlangsung? Inilah hal-hal kecil yang bisa dilakukan oleh setiap orang dan akan berpengaruh besar terhadap kemaslahatan bersama.

Kembali kepada ajakan Pak Jonan, satu hari satu kebaikan. Kebaikan, betatapun kecilnya, yang dilakukan oleh setiap individu akan tergabung menjadi sebuah kebaikan bersama yang memiliki kekuatan sangat luar biasa. Taruhlah setiap orang setiap harinya tidak membuang sampah sembarangan, maka ada 200 juta nilai kebaikan yang terjadi dalam satu hari. Bukankah hal ini tentu saja akan sangat memudahkan petugas sampah, pengangkut sampah, hingga pengelolaan sampah secara keseluruhan?

Tidak usah muluk-muluk, satu kebaikan saja setiap hari. Tidak usah jauh-jauh dan mulailah dari diri sendiri. Bangun pagi, berbenah diri, taat beribadah, disiplin waktu, bekerja dengan baik, dlsb. Yakinlah bahwa kebaikan-kebaikan yang serba kecil itu akan terkumpul bersama menjadi kebaikan masyarakat, bangsa dan negara. Ini merupakan kekuatan aset pembangunan yang sangat luar biasa.

Sebagaimana ajaran dalam berbagai agama, bahwasanya Tuhan lebih menyukai terhadap perbuatan kebaikan meskipun kecil tetapi yang dilakukan secara teratur atau istiqomah. Keteraturan pribadi ini akan menjelma menjadi keteraturan bersama, keteraturan rumah tangga, keteraturan masyarakat, bangsa dan negara. Sebuah efek berantai kebaikan yang akan membawa dunia juga kepada kondisi kebaikan. Ingat, satu hari satu kebaikan. Biarpun kecil, tetapi lakukanlah dengan teratur dan disiplin. Lihatlah apa yang akan terjadi!

Lor Kedhaton, 9 Desember 2014


Filed under: Jagad Budaya Tagged: Ignasius Jonan, Jonan, kompasiana, Kompasianival

Terminal2Muntilan memang sekedar sebuah kota kecil. Namun letaknya yang sangat strategis di jalur wisata Jogja-Borobudur yang sekaligus menjadi bagian poros Jogja-Semarang, menjadikan posisinya menjadi penting. Kota ini berada sekitar 25 km arah utara Kota Budaya Jogjakarta terhubung dengan jalan negara yang lebar nan mulus. Setiap wisatawan yang menuju Candi Agung Borobudur dari arah Jogjakarta pasti akan melewati kota yang paling terkenal dengan tape ketannya ini.

Di samping menjadi titik penghubung perhubungan antar daerah yang strategis, Muntilan juga berperan sebagai kota perdagangan yang penting. Dataran luas nan subur yang terbentang dari sisi Merapi-Merbabu hingga Menoreh dan Sumbing merupakan kawasan pertanian yang sangat kaya raya dengan berbagai komoditas handal. Ada padi, sayuran, palawija, hingga berbagai macam buah-buahan. Bahkan klembak, komoditas endemik yang khas wilayah ini dan sangat terkenal untuk campuran racikan rokok kretek maupun filter.

Dengan latar belakang kekayaan komoditas pertanian yang beragam sejak masa lalu, tidak mengherankan jika pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu membangun sarana transportasi kereta api untuk mengangkut produk pertanian ke luar daerah. Tidak mengherankan pula jika Muntilan di masa lalu memiliki sebuah stasiun kereta api yang cukup besar.

Sarana transportasi kereta api di Muntilan memang kini hanya tinggal kenangan bagi mereka yang pernah menyaksikan kejayaannya hingga di akhir tahun 70-an. Bagi generasi seperti saya bahkan hanya sekedar mendengar dongengan indah tentang para simbah kami yang bakulan sayur-mayur di pasar Bringharjo yang nglaju harian dengan naik kereta api. Namun demikian, hingga pertengahan tahun 90-an generasi kami masih lumayan beruntung dapat menyisakan sisa-sisa rel yang sebagian besar berada di kanan-kiri jalan Raya Jogja-Magelang. Bahkan semasa sekolah di bangku SMP yang berada di samping Toko Tape Ketan, setiap pulang sekolah saya dan beberapa kawan selalu menyusuri rel kereta api dari Muntilan hingga Gulon yang berjarak sekitar 1 Km.

Memasuki Muntilan dari sisi selatan, rel kereta di masa itu membentang di atas Kali Blongkeng. Keberadaannya tepat di sisi kanan jembatan jalan raya yang kala itu hanya satu sisi. Posisi jembatan kereta itu tepat pada posisi jembatan Kali Blongkeng sisi hulu saat ini. Dari titik tersebut, sepasang besi tua sejajar mendampingi Jalan Pemuda di sisi kanan yang kini tepat di pinggiran deretan kios-kios yang ada. Sebelum pelebaran jalan raya dilakukan, rel kereta sudah diurug dengan aspal dan dijadikan jalur lambat yang peruntukkan sepeda, becak dan andong. Lalu dimanakah tepatnya bekas lokasi stasiun kereta api Muntilan berada?

Terminal1Jika kita menyusuri kawasan terminal Drs. Prayitno di sisi Pasar Muntilan, janganlah heran bila sempat menemukan beberapa deretan toko yang mencantumkan alamat Kios PJKA Muntilan. Memang sebenarnya terminal yang saat ini ada merupakan stasiun kereta api di masa lalunya. Hingga akhir tahun 80-an lokasi terminal bus menempel dengan pasar yang kini dipergunakan sebagai kompleks pertokoan Muntilan Plasa. Adapun sisi seberang jalan, tepat di belakang deretan pertokoan yang menyatu dengan Pos Polisi Pasar Muntilan masih berupa jalur-jalur peron dengan beberapa lajur rel. Pada waktu itu, peron tersebut justru difungsikan sebagai tempat parkir kendaraan roda dua bagi para pengunjung pasar.

Selain peron dan jalur-jalur relnya, di masa itu masih tersisa berbagai sarana dan prasarana kelengkapan sebuah stasiun kereta api. Ada wesel-wesel manual yang berperan untuk mengatur atau memindahkan arah jalur rel yang akan mengarahkan kereta pada saat memasuki area peron. Ada pula berbagai rambu dan sinyal terkait. Ada pula jaringan telepon dengan kabel kawat yang masih sangat jadul.

Seiring dengan dominasi pertumbuhan transportasi berbasis jalan raya yang menghubungkan Jogja-Muntilan-Magelang-Semarang menjadikan sarana transportasi kereta api kian tersudut. Akses yang lebih mudah, fleksibel, dan kecepatan menjadikan masyarakat bergeser menggunakan angkutan jalan raya. Hal ini mengakibatkan okupansi pengguna jasa kereta api terus menurun dan menyebabkan tingkat keekonomian kereta api sulit bersaing. Mau tidak mau, suka tidak suka akhirnya jalur kereta api Jogja-Semarang, termasuk yang ke arah Temanggung-Wonosobo dibekukan operasionalnya pada akhir tahun 70-an.

Kini, tatkala jalanan raya sudah mencapai titik jenuh kapasitasnya dan tidak mudah lagi untuk diperlebar maupun dibangun jalur jalan baru, serta ditambah dengan semakin banyak pengguna jalan menggunakan kendaraan pribadi, maka jalanan menjadi semakin padat bahkan sering macet. Untuk mengatasi hal tersebut, ke depan harus dikembangkan, dibangun dan ditingkatkan moda transportasi massal yang handal, termasuk penggunaan kereta api yang sekali jalan dapat membawa ribuan penumpang dan barang. Dengan latar belakang hal tersebut, wacana untuk mengaktifkan kembali jalur kereta api poros Jogja-Semarang yang pernah ada akan semakin menemukan momentumnya. Semoga tidak terlalu lama hal tersebut segera dapat benar-benar menjadi kenyataan. Bagaimana pendapat Anda?

Lor Kedhaton, 5 Desember 2014

LOST

-

Hamasah!

on 2014-12-08 1:10pm GMT
Ups, saya capslock semua. Kehilangan. Saya udah sering kehilangan. Bodohnya, saya tertimpuk batu yang sama. Karena apa? Sure, I didnt keep it well.
Kehilangan ngga cuma sesuatu yang bisa dijaga, bahkan yang belom pernah kita pegang atau liat. Sementara itu, hati saya, kayak musnah.
Ketika saya berhadapan dengannya, saya merasa saya sedang becermin. Saya melihat diri saya ada di situ. Padahal, saya nggak tahu yang di hadapan saya itu siapa. Saya bener-bener nggak tahu dan memang nggak akan pernah bisa tahu. Tapi, saya nyaman dan menemukan sesuatu yang lain dari saya. Saya menerima serpihan puzzle dan bila ditata, klop banget sama kepribadian saya. Sesuatu yang hilang dari diri saya, sebagai manusia, kembali.
Cermin itu menyadarkan saya tentang pergeseran diri saya dari posisi yang sebenarnya. Cermin itu mengingatkan saya bahwa saya dilindungi dan saya memang harus jaga jarak dengan cermin-cermin itu. Anehnya, cermin tersebut berani mengobrol sama saya meski lewat tulisan saja.

Lantas tak terasa saya becermin selama empat jam.. time flies away. Then clap! Semuanya hilang. Saya sudah mencarinya dua hari ini, namun belum ketemu.

Dolanan Mil-milan

-

Sang Nananging Jagad

on 2014-12-07 9:36am GMT

Dolanan mil-milan? Baru dengar kali ini? Mengacu kepada kata dolanan, tidaklah salah jika kita dengan sangat mudah menduga bahwa mil-milan merupakan sejenis permainan. Jenis permainan ini tentu bukan kelasnya game modern yang dikemas untuk dimainkan dengan peralatan elektronik semacam handphone, gadget, komputer dlsb. Lebih tepatnya, dolanan mil-milan termasuk permainan tradisional yang kini semakin jarang (untuk mengatakan tidak pernah) lagi dimainkan anak-anak modern. Atau jangan-jangan para orang tua generasi sekarang bahkan tidak tahu kepada permainan ini.

Saya sendiri tidak tahu pasti siapa dan kapan mil-milan ini diciptakan. Di wilayah padesan Tepi Merapi, semasa usia SD, saya bersama dengan kawan-kawan sering memainkannya.  Jangankan gadget dan smartphone yang menjadi pegangan anak sekolah sekarang, di masa itu tentu saja anak-anakpun sangat jarang memegang alat main yang dibeli. Hal ini tentu saja tidak lepas dari faktor keterbatasan-keterbatasan yang ada. Ya, keterbatasan ekonomi, keterbatasan jaman pula. Namun kondisi demikian justru menjadikan anak-anak masa lalu kemudian lebih aktif menciptakan permainan-permainan dengan bahan seadanya yang ada di sekitar mereka. Termasuk yang namanya dolanan mil-milan ini.

Semakin penasaran kayak apa permainan mil-milan ya? Permainan ini sebenarnya sangat sederhana. Hanya bermodalkan sebatang lidi yang biasa digunakan untuk sapu lidi, anak-anak dapat asyik bermain. Lidi dipotong-potong menjadi bagian kecil dengan panjang kira-kira 2-3 cm. Ada tiga jenis potongan yang dibuat, berupa potongan lurus, potongan yang ditekuk satu, dan potongan yang ditekuk dua. Perbedaan jenis potongan tersebut berkesesuaian dengan perbedaan point. Potongan lurus bernilai satu, yang bertekuk satu bernilai lima, sedangkan yang bertekuk dua bernilai sepuluh point. Seberapa banyak jumlah potongan tidak ditentukan pasti. Namun semakin banyak jumlah potongan akan sangat berpengaruh terhadap tingkat kerumitan permainan yang berlangsung.

Lalu bagaimana memainkannya? Dolanan mil-milan biasa dimainkan oleh beberapa anak sekaligus. Permainan ini minimal dimainkan dua anak. Adapun batasan seberapa banyak anak dapat sekaligus ikut terlibat dalam permainan tidak ada batasan pasti. Artinya dolanan mil-milan dapat dimainkan 3, 4, 6, 10 anak sangat tergantung kondisi.

Giliran atau urut-urutan siapa yang menjadi pemain ditentukan dengan cara pingsut atau hompimpa. Anak yang menang duluan dalam hompimpa mendapat giliran lebih awal. Urutan berganti seterusnya dan diulang hingga beberapa kali putaran. Jumlah putaran permainan sangat tergantung kesepakatan bersama, bahkan terserah tingkat kebosanan atau kepuasan seluruh pemainnya.

Area permainan biasanya dibatasi pada luasan bujur sangkar. Bisa sebuah tegel berukuran 20 x 20 cm, atau bisa juga dibuat bujur sangkar pada lapisan keras maupun kertas tebal. Intinya seberapa luas area permainan tidak ada ketentuan pastinya. Permainan ini memang memiliki banyak sisi fleksibelitas. Mungkin hal ini memang disengaja agar kreativitas dan imajinasi para bocah tidak terbelenggu sempit, bahkan justru anak-anak dibebaskan untuk menciptakan aturan-aturan bersama yang juga disepakati secara bersama-sama. Bukankah ini merupakan pengajaran nilai-nilai demokrasi yang sangat mendasar.

Cara memainkan

Lalu bagaimana cara memainkan dolanan mil-milan ini? Sangat mudah. Anak yang mendapatkan giliran bermain menempatkan semua potongan lidi yang telah dibuat di genggaman tangannya. Genggaman tersebut kemudian disebarkan semerata mungkin di area permainan yang telah disepakati. Tidak boleh ada satupun potongan lidi yang keluar dari area permainan. Jika ada yang dikeluarkan, pemain bersangkutan diwajibkan menebar ulang atau bisa juga diberlakukan aturan gugur haknya untuk bermain pada putaran tersebut.

Begitu potongan-potongan lidi tertebar di area permainan, maka potongan-potongan tersebut akan berserakan. Ada yang terpisah dari potongan yang lain, ada yang tumpang tindih, bahkan ada yang saling mengkait satu sama lain. Tugas si pemain adalah mengambil satu per satu potongan lidi dengan syarat pada saat mengambil, menggeser, atau menyentuh suatu potongan lidi tidak boleh menyebabkan potongan yang lain bergerak atau tergerak. Nah, jika sampai terjadi gerakan potongan lain inilah yang diistilahkan sebagai mil! Dari sinilah nama permainan ini berasal.

Hikmah Permainan

Meskipun permainan mil-milan sangat sederhana, tetpi banyak hikmah dan manfaat yang bisa menunjang pembentukan karakter atau kepribadian para bocah. Hikmah pertama berkaitan dengan bahan permainan yang sangat sederhana. Berangkat dari nilai kesederhanaan ini diharapkan manusia mau mengamalkan pola hidup sederhana. Namun sederhana tidak harus menghentikan tingginya kepandaian dan pemikiran, juga cita-cita manusia. Dalam bingkai kesederhanaan manusia akan lebih bermakna dan berguna bagi sesamanya.

Jika digambarkan sebagai kekuatan manusia, lidi yang terpisah dari ikatannya akan mudah dipatahkan, diluluhlantakkan, dan dihancurkan. Sebaliknya lidi yang tetap menyatu solid dalam ikatannya akan menjadikan kekuatannya berlipat ganda. Inilah simbol kekuatan yang terbentuk dari semangat kebersamaan, rasa persatuan dan kesatuan. Kebersamaan juga tercermin dari permainan yang dilakukan oleh beberapa anak sekaligus.

Pelajaran ke dua berkaitan dengan sikap teliti dalam melihat situasi. Pada saat melihat tumpukan potongan lidi, si pemain harus melihat, mencermati, kemudian mengatur strategi dan menentukan prioritas pengambilan lidi yang berisiko paling ringan sehingga tidak menyebabkan mil. Kehati-hatian saat bertindak juga dilatih agar tidak menimbulkan sentuhan yang menggerakkan potongan lidi selain yang menjadi fokus target yang diinginkan.

Hikmah ke tiga berhubung erat dengan nilai sportivitas yang ingin dibangun. Pada saat seorang pemain mendapatkan gilirannya, pemain-pemain yang lain tetap harus ikut mengamati dan mengawasi serta menjadi saksi setiap gerakan. Begitu terjadi persentuhan yang menggerakkan lidi sekecil apapun, maka mereka harus langsung memvonis mil terhadap temannya. Si pemain yang mendapat giliranpun harus sportif bila pemain yang lain telah menyatakan dirinya mil, maka iapun harus menghentikan permainan dan memberikan gilirannya kepada pemain lain.

Manfaat selanjutnya, pada saat permainan seorang pemain terhenti maka ia harus menghitung berapa skor yang dicapainya dengan cara menghitung jumlah potongan lidi yang berhasil dipisahkan dari tumpukannya sebelum terjadi mil. Ketelitian dan kejujuran dalam berhitung mutlak diperlukan. Dengan demikian anak-anak juga sekaligus belajar menghitung dengan cara penjumlahan.

Tentu saja manfaat-manfaat yang saya sebutkan di atas bisa dikembangkan menjadi lebih banyak lagi. Namun sebagai sebuah gambaran, contoh manfaat di atas kiranya dapat mewakili yang lainnya. Bagaimana menurut sampeyan? Ingin lagi mencoba permainan mil-milan? Ayo amalkan kembali permainan tradisional kita.  Anak kudu dolanan, anak dudu dolanan. Anak harus bermain, anak bukan mainan. Monggo.

Ngisor Blimbing, 7 Desember 2014


Filed under: Jagad Kenyung Tagged: dolanan bocah, dolanan tradisional, Dunia Anak, permainan tradisional

Kranjingan play station

-

Mastop Story

on 2014-12-07 1:39am GMT

Bermain play station memang mengasikan. Apalagi sudah menjadi hobi. Gak ada bosenya. Biarpun sudah bermain tiap hari tetep saja pengen main terus.

ps

Dan itulah yang terjadi. Kecanduan. Rasanya sakaw kalau gak main. Hehe… Bahkan sering membuat lupa waktu. Pulang menjadi terlambat. Hemm…mungkin memang perlu dikurangi agar gak terlalu kecanduan.


image

Menikmati mie hotplate WHO Ciomas

Meski lokasinya tidak jauh dari rumah, kami jarang mampir ke tempat ini. Kami juga tahu kalau tempatnya selalu ramai dengan anak-anak muda. Kami baru sekali makan beberapa malam yang lalu. Ternyata masakannya memang enak, hot, super pedas, dan harganya sangat bersahabat. Pantesan selalu ramai.

Nama tempatnya W.H.O. Singkatan dari Waroeng Hotplate Odon. Tempat makan ini mengusung kosep heavy metal. Anak muda baget. Warnanya didominasi warna merah dan ditempeli poster2 ukuran besar bintang musik rock dan heavy metal. Semua pramusajinya laki2 muda. Umurnya saya kira tidak ada yang lebih dari 25 tahun. Meja dan kursinya biasa-biasa saja.

Menu makanannya didominasi hotplate. Apa2 diletakkan di atas hotplate. Menu andalannya adalah mie hotplate. Midifikasi mie ayam yang diletakkan di atas hotplate. Tesedia beberapa level pedas. Kalau Anda suka masakan pedas, waroeng ini cocok sekali. Selain mie ada juga kwitiau hotplate.

image

Nikmatnya mie hotplate WHO ciomas Bogor

Minumannya macam2, mulai dari juice buah, sop buah, teh, kopi, dan minuman ringan. Lengkap lah.

Ketika pesanan kami datang, tidak sabar kami menyantapnya. Penyajiannya menggugah selera. Uap mie yang mengepul dari atas hotplate langaung membuat air liur banjir sendiri. Pedas-pedas panas. Mantap.

Citarasanya tidak kalah dengan mie hotplate yang disajikan di kafe2 di seputaran taman kencana. Suer…..

Yang lebih membuat saya tercenggang adalah harganya. Ketika bayar di kasir semua pesanan kami berlima hanya Seratus ribuan lebih sedikit. Murah. Kalau di kafe bisa ratusan ribu habisnya.

Lokasi waroengnya ada di jalan ciomas, dekat pintu masuk perum Bukit Asri ke arah Pagelaran. Silahkan mencoba kalau lewat daerah sana.

image

Makan di mie hotplate Ciomas Bogor

image

Mie hotplate WHO ciomas


Operasi zebra

-

Mastop Story

on 2014-12-06 12:54am GMT

Akhir-akhir ini banyak sekali operasi kelengkapan berkendaraan. Dari kelengkapan surat-surat hingga kelengkapan kendaraan. Dan ternyata masih banyak juga yang ketilang. Dari yang tidak memiliki SIM, tidak membawa STNK, tidak menyalakan lampu dsb. Untungnya saya sendiri masih lengkap. Jadi perjalanan lancar.

Dan ada kabar sedikit baik. Polisi yang menilang tak mau bayar ditempat (baca:disogok). Itu sebuah peningkatan dari aparat negara kita. Dan alangkah baiknya jika aparat-aparat lain juga begitu. Gak banyak korupsi dan penyogokan. Sippp


Hujan

-

Mastop Story

on 2014-12-05 1:39pm GMT

Hujan. Hujan. Hujan lagi. Hehe…namanya juga musim hujan. Tiap waktu hujan mesti turun. Gak peduli kita sesibuk apa, kalau mau datang pasti datang. Gak bisa ditolak. Intinya sudah takdirnya begitu.

Kalau didesa-desa yang sebagian pencaharianya bertani, hujan adalah anugrah. Hujan adalah cikal bakal mereka mencari nafkah. Namun berbeda untuk dikota-kota besar. Apalagi yang sering kebanjiran hem… Hujan menjadi bencana. Mungkin mereka akan berfikir untuk tidak memerlukan hujan. Dan untuk orang pedesaan juga berfikir untuk hujan sepanjang tahun.

Biar bagaimanapun kita tetap harus mensyukuri semua. Hujan, panas, mendung dsb. Kita harus bersyukur. Hujan tidak terjadi sepanjang tahun agar yang sering kebanjiran tetap bisa nyari makan. Dan sebaliknya panas tak sepanjang taun agar yang di desa juga tetap harus makan. Jadi, alkhamdulillah…


Kawasan Kedu di kelilingi oleh gunung dan pegunungan. Tanahnya yang subur sangat cocok untuk lahan pertanian, salah satunya adalah tembakau. Tembakau Kedu sangat terkenal akan kualitas dan cita rasanya yang tiada duanya. Sejak jaman kolonial hingga sekarang, wilayah Kedu memang telah menjadi basis tembakau. Tembakau di olah menjadi tembakau krosok, rokok ataupun cerutu. Hasil produksinya […]

Muntilan memang sekedar sebuah kota kecil. Namun letaknya yang sangat strategis di jalur wisata Jogja-Borobudur yang sekaligus menjadi bagian poros Jogja-Semarang, menjadikan posisinya menjadi penting. Kota ini berada sekitar 25 km arah utara Kota Budaya Jogjakarta terhubung dengan jalan negara yang lebar nan mulus. Setiap wisatawan yang menuju Candi Agung Borobudur dari arah Jogjakarta pasti akan melewati kota yang paling terkenal dengan tape ketannya ini.

Di samping menjadi titik penghubung perhubungan antar daerah yang strategis, Muntilan juga berperan dengan kota perdagangan yang penting. Dataran luas nan subur yang terbentang dari sisi Merapi-Merbabu hingga Menoreh dan Sumbing merupakan kawasan pertanian yang sangat kaya raya dengan berbagai komoditas handal. Ada padi, sayuran, palawija, hingga berbagai macam buah-buahan. Bahkan kelmebak, komoditas endemik yang khas wilayah ini sangat terkenal untuk campuran racikan rokok kretek maupun filter.

Dengan latar belakang kekayaan komoditas pertanian yang beragam sejak masa lalu, tidak mengherankan jika pemerintah Hindia Belanda  pada waktu itu membangun sarana transportasi kereta api untuk mengangkut produk pertanian ke luar daerah. Tidak mengherankan pula jika Muntilan di masa lalu memiliki sebuah stasiun kereta api yang cukup besar.

Sarana transportasi kereta api di Muntilan memang kini hanya tinggal kenangan bagi mereka yang pernah menyaksikan kejayaannya hingga di akhir tahun 70-an. Bagi generasi seperti saya bahkan hanya sekedar mendengar dongengan indah tentang para simbah kami yang bakulan sayur-mayur di pasar Bringharjo yang nglaju harian dengan naik kereta api. Namun demikian, hingga pertengahan tahun 90-an kami masih lumayan beruntung dapat menyisakan sisa-sisa rel yang sebagian besar berada di kanan-kiri jalan Raya Jogja-Magelang. Bahkan semasa sekolah di bangku SMP yang berada di samping Toko Tape Ketan, setiap pulang sekolah saya dan beberapa kawan selalu menyusuri rel kereta api dari Muntilan hingga Gulon yang berjarak sekitar 1 Km.

Memasuki Muntilan dari sisi selatan, rel kereta di masa itu membentang di atas Kali Blongkeng. Keberadaannya tepat di sisi kanan jembatan jalan raya yang kala itu hanya satu sisi. Posisi jembatan kereta itu tepat pada posisi jembatan Kali Blongkeng sisi hulu saat ini. Dari titik tersebut, sepasang besi tua mendampingi Jalan Pemuda di sisi kanan yang kini tepat di pinggiran deretan kios-kios yang ada. Sebelum pelebaran jalan raya dilakukan, rel kereta sudah diurug dengan aspal dan dijadikan jalur lambat yang peruntukkan sepeda, becak dan andong. Lalu dimanakah tepatnya bekas lokasi stasiun kereta api Muntilan berada?

Jika kita menyusuri kawasan terminal Drs. Prayitno di sisi Pasar Muntilan, janganlah heran bila sempat menemukan beberapa deretan toko yang mencantumkan alamat Kios PJKA Muntilan. Memang sebenarnya terminal yang saat ini ada merupakan stasiun kereta api di masa lalunya. Hingga akhir tahun 80-an lokasi terminal bus menempel dengan pasar yang kini dipergunakan sebagai kompleks pertokoan Muntilan Plasa. Adapun sisi seberang jalan, tepat di belakang deretan pertokoan yang menyatu dengan Pos Polisi Pasar Muntilan masih berupa jalur-jalur peron dengan beberapa lajur rel. Pada waktu itu, peron tersebut justru difungsikan sebagai tempat parkir kendaraan roda dua bagi para pengunjung pasar.

Lor Kedhaton, 5 Desember 2014


Filed under: Jagad Magelangan Tagged: Jonan, kereta api, Muntilan

Seperti halnya makhluk hidup yang lain, tumbuhan juga perlu makan-makanan yang bergizi agar bisa tumbuh sehat, kuat, dan hasilnya buanyak. Namun, makanannya tumbuhan berbeda dengan makanannya manusia dan binatang. Tumbuhan makan ‘makanan’ dalam bentuk unsur atau senyawa kimia sederhana, yaitu: C (karbon), H (hidrogen), O (oksigen), N (nitrogen), P (fosfor), K (kalium), Mg (magnesium), Ca (kalsium), Fe (besi), S (sulfur) dan beberapa unsur yang lain.

Makanan tumbuhan sering disebut hara atau nutrisi tanaman.


Arung jeram sungai Progo Menakutkan? ya! jika anda tidak menggunakan pelampung, helm serta tidak dipandu oleh Guide yang profesional, atau anda dipandu oleh tukang ojek ha.. ha.. LIhatlah foto dibawah ini, apa mereka terlihat cemas? Arung jeram Sungai Progo mempunyai 3 trip yaitu: 1. Progo Hulu (Grade III+) 2. Progo Atas (Grade III) 3. Progo […]

Lebih lengkap artikel tentang "Seru-Seruan Arung jeram di Sungai Progo" dapat dibaca di Magelang Online - Informasi lengkap kota Magelang dan sekitarnya.

Semalam, Saya, dua kawan saya: Niko dan Kebo, serta Bapak Saya melek sampai pagi. Entah karena pengaruh kopi yang malam itu sama sekali tidak mêjên, atau memang karena obrolan kami berempat yang begitu menggebu, hingga tak terasa kami bisa larut dalam perbincangan seru dari jam dua belas malam hingga menjelang subuh.



Entah berawal dari bahasan apa, mendadak bahan perbincangan kami menjurus ke arah dunia mistis. Mulai dari penampakan, kesurupan, sampai dunia pesugihan. Bahasan yang sebenarnya agak ironi, mengingat diantara kami berempat, tak ada satupun yang pemberani, baik saya, Niko, Kebo, maupun bapak saya, semuanya adalah makhluk pengecut kalau sudah berhubungan dengan dunia supranatural.

Dari sekian obrolan yang meluncur deras dari mulut kami berempat, satu yang jelas saya ingat adalah kisah bapak saya.

Saya tak menyangka, bapak saya yang kelihatannya woles dan unyu itu ternyata menyimpan kisah masa muda yang begitu mistis dan pekat.

Bapak dulu rupanya pernah mendatangi situs makam kuno untuk mengikuti program pesugihan

Alkisah, sewaktu saya masih berusia satu tahun, ekonomi keluarga saya begitu buruk. Bapak saya budrêk. Penghasilan dari menjadi kernet angkot sama sekali tak bisa diandalkan. Ubêtan sana-sini belum jua mencukupi kebutuhan hidup, sungguhpun waktu itu, anak yang menjadi tanggungan baru saya seorang, kedua adik saya belum lahir.

Himpitan ekonomi semakin merapat, nalar pun teracuni. Bapak pun kemudian mencari jalan pintas: Pesugihan.

Berbekal rekomendasi tokcer dari beberapa kawan. Bapak akhirnya mendatangi salah satu situs makam kramat di daerah Muntilan (maaf, demi kenyamanan bersama, nama daerah persisnya tidak saya sebutkan).

Bapak berangkat dari rumah ke lokasi makam keramat dengan penuh kemantapan. Sepanjang perjalanan, bapak terus saja dibayangi angan-angan hidup mapan yang mungkin akan segera bapak dapatkan.

Tak butuh waktu lama untuk sampai di lokasi makam. Di lokasi makam tersebut, ada beberapa orang yang nampaknya juga mempunyai maksud dan tujuan yang tek berbeda jauh dengan bapak. Setelah nyekar, Bapak kemudian dipertemukan dengan sang juru kunci yang kono juga merangkap sebagai perantara pesugihan.

“yang jadi Juru kuncinya itu sama sekali ndak setil, mbah-mbah, ora sangar, ndak ada potongan juru kunci, lempeng. Tapi ilmunya katanya begini!”, kata bapak sambil mengacungkan jempolnya. “Banyak yang berhasil di situ, yang tadinya mlarat kéré, habis dari situ, beberapa bulan kemudian langsung jadi juragan,” lanjut bapak.

“Yang mau ikut pesugihan akèh po pak mo?” tanya Kebo (nama bapak saya Trimo)

Yo akèh tho, lha wong tempatnya sudah terkenal kok!”

Kata bapak, pesugihan di sana memang terkenal karena gêthuk tular, dari mulut ke mulut. Sudah banyak yang membuktikan.

Saya dan Niko menyimak seksama, Kebo sesekali mengajukan pertanyaan. Agaknya Kebo begitu antusias dengan kisah pesugihan bapak saya ini.

“Pesugihan disini tidak banyak syarat yang aneh-aneh, mas. Sampéyan cuma wajib menyelipkan uang sepersepuluh dari jumlah penghasilan Sampéyan di tikar yang menjadi alas tidur Sampéyan!” Kata bapak mencoba menirukan petunjuk si juru kunci waktu itu.

Bapak pun kemudian bertanya kepada sang juru Kunci perihal kapan saja uang itu harus diselipkan.

“Seminggu sekali, tidak boleh terlupa, karena kalau terlupa sekali saja, mas sendiri yang akan jadi tumbalnya!” begitu kata juru kuncinya.

Bapak saya pucat seketika.

“Piyé mas? wani?”

Waduh, kosék mbah, saya tak mikir-mikir dulu!” jawab bapak gamang.

Sampai di titik ini, Bapak benar-benar dibuat bingung. Betapa tidak, ini pilihan yang sulit. Bapak sempat senang karena tahu kalau syarat pesugihan di tempat itu tidak aneh-aneh. Tapi begitu tahu tentang mekanisme pertumbalanya, bapak saya langsung mak jêgagik. Mental bapak yang sedari rumah sudah keras sekarang langsung lembek bak marshmallow.

Sampéyan wani pak mo?” tanya Kebo

“Aku mikir bo, sebenarnya syarat sih ndak susah-susah banget, Cuma nyêlipke duit seminggu sekali di bawah tikar. Tapi yo itu, kalau terlupa sekali saja, aku yang jadi tumbalnya. Yang namanya manusia itu, setajam-tajamnya ingatan, pasti bakal dikasih lupa juga. Lha kalau ndilalah suatu waktu aku lupa nyêlipke duit di bawah tikar, lak yo modar tho aku bo!

Njuk akhirnya sampéyan jadi ambil ndak pak mo?” kali ini Niko yang bertanya.

Saya hanya menyimak serius sambil sesekali menulis catatan penting tentang kisah bapak ini di kertas . Yah siapa tahu bisa saya tulis di blog (dan nyatanya memang saya tulis di blog toh, lha yo postingan ini tulisannya).

“Akhirnya, aku ndak berani ko, daripada kena mêmolo, lebih baik mundur!”

“Ah, pa’e kicir, mosok gitu aja ndak berani!” ejek saya.

Kicir ndasmu, lha yang jadi jaminan tumbal ki bapakmu sendiri je, lha kalau yang jadi tumbal anak pertama, mesti bakal langsung tak lakoni!”, kata bapak menohok saya.

Kami berempat langsung tertawa terbahak.

Modiar ra kowé gussss!”, kata Kebo di tengah tawanya yang menggelegar.

______
Ingatlah, bahwasanya Dalam berbagai ritual pesugihan terdapat bentuk kesyirikan, yaitu memalingkan salah satu ibadah kepada selain Allah. Dan itu adalah seburuk-buruknya.

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun” (QS. An Nisa’: 36)

“Janganlah kamu adakan Rabb yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah).” (QS. Al Isra’: 22)


Semoga kita terhindar dari hal yang sedemikian dan senantiasa sabar. Aamiin

Bicara soal anggaran, tentu tidak berlebihan jika menghubungkannya dengan kesederhanaan. Anggaran menyangkut perencanaan sumber daya, khususnya uang, untuk membiayai suatu kegiatan. Katakanlah demikian. Di sisi lain, kesederhanaan bisa dilihat sebagai suatu pola pikir, sikap, tindakan atau perilaku yang tidak berlebihan dan disesuaikan dengan situasi, kondisi ataupun takaran kebutuhan yang ada. Kesederhanaan bisa diantonimkan dengan kemewahan, sederhana berkebalikan dengan mewah, juga berfoya-foya. Lalu seperti apakah hubungan anggaran dan kesederhanaan tadi?

Semakin kita sederhana dalam merencakan sebuah kegiatan, logikanya akan semakin sedikit pula anggaran yang diperlukan. Dengan semikian kesederhanaan akan berkorelasi positif terhadap penghematan anggaran. Dua kata kunci yaitu kesederhanaan dan anggaran ini akhir-akhir ini sedang naik daun sebagai kampanye kerjanya Kabinet Kerja Jokowi-JK. Hal ini tidak terlepas dari ketidakseimbangan neraca pemasukan dan pengeluaran dalam anggaran belanja dan pendapatan negara yang diakibatkan beberapa faktor, seperti tanggungan hutan luar negeri yang semakin membengkak, alokasi subsidi BBM, termasuk tentu saja tindakan korupsi yang membuat bocornya anggaran.

Salah satu contoh konkrit kebijakan dalam rangka penghematan anggaran adalah pelarangan para PNS untuk rapat ataupun menyelenggarakan kegiatan lain di hotel yang diedarkan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Dulu ketika pertama kali mendengar istilah rapat di hotel dari berita-berita di tivi, si Ponang sempat bertanya dengan nada protes, “Lho Pak, masak hotel kok untuk rapat sih? Kan yang benar hotel itu untuk menginap kalau orang wisata atau pergi jauh ya?” Nah lho! Gimana menjelaskannya ya?

Anak kecil saja tahu, hotel itu gunanya untuk menginap, bukan untuk rapat. Tidak ada salahnya juga jika kita tengok sejenak penjelasan Kamus Besar Bahasa Indonesia mengenai istilah hotel ini. Hotel di dalam KBBI didefinisikan sebagai “bangunan berkamar banyak yang disewakan sebagai tempat untuk menginap dan tempat makan orang yg sedang dalam perjalanan; bentuk akomodasi yg dikelola secara komersial, disediakan bagi setiap orang untuk memperoleh pelayanan, penginapan, makan dan minum“. Benar juga kan? Mana ada hotel dipergunakan untuk rapat. Edaran pelarangan PNS rapat di hotel berarti sudah sesuai dengan KBBI, dan hal ini berarti bahwa makna hotel dikembalikan secara murni dan konsekuen kepada makna leksikalnya. Tentu saja rakyat Indonesia sangat mendukungnya!

Tidak terhenti hanya dengan larangan rapat di hotel, dalam edaran tersebut juga dianjurkan bahwa dalam setiap penyelenggaraan kegiatan kepemerintahan dan birokrasi agar dimasyarakatkan penyediaan konsumsi berupa makanan-makanan tradisional. Dengan anjuran ini nantinya jangan heran jika gatot, thiwul, lemper, wajik, jadah, arem-arem, hingga kacang godhok, kimpul, midro, ganyong akan masuk ke kantor-kantor elit pemerintahan. Makanan pinggiran yang diidentikkan dengan kaum miskin ini akan naik kelas menjadi makanan para elit negara. Di samping dalam rangka memupuk rasa cinta kepada makanan lokal dan penghematan, upaya ini sekaligus untuk meningkatkan omset usaha kecil dan menengah yang terkait. Dengan demikian akan ada efek berantai dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi kerakyatan. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau sekaligus dapat dilampaui.

Anjuran hidup sederhana sesungguhnya bukanlah sebuah ajaran moralitas yang baru. Semenjak era para nabi dan rasul, kesederhanaan senantiasa melekat pada ajaran maupun pengamalan hidup mereka sehari-hari. Dalam ajaran Islam yang saya anut senantiasa diajarkan bahwa dalam setiap perkara kita hendaknya tidak berlebih-lebihan. Dalam makan tidak boleh berlebih-lebihan dalam hal jumlah, porsi ataupun harganya.

Dari sisi porsi, kita diajarkan untuk menimbang seberapa kekuatan perut. Bukankah diajarkan untuk mengisi perut dengan sepertiga makanan, sepertiga air, dan sepertiga sisanya dengan udara. Makan secukupnya, tidak berlebihan justru akan senantiasa menjaga keseimbangan metabolisme tubuh yang berpengaruh terhadap kesehatan.  Kitapun sangat dianjurkan untuk makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Simak, di samping dari segi porsi betapa waktu makan juga sangat penting!

Anda pernah membandingkan harga makanan rakyat dengan makanan hotel? Tentu saja bagaikan membandingkan bumi dan langit kan? Secangkir kopi di kaki lima mungkin hanya dua-tiga ribu perak. Tetapi secangkir kopi di hotel, mall, atau coffe bisa melambung menjadi puluhan hingga ratusan ribu rupiah. Dari sini saja kita sudah dapat menghitung berapa banyak harga yang harus dibayarkan dengan uang rakyat tatkala para PNS rapat di hotel? Ya, untuk konsumsi minumnya dan makanannya. Belum lagi jika paket rapatnya komplit dengan cara nginap! Itu semua menggunakan uang rakyat! Bayangkan!

Di satu sisi rakyat putar otak, jungkir balik, peras keringat banting tulang untuk mensiasati hidup yang semakin sulit kok anggaran negara yang notabene uang rakyat dihambur-hamburkan untuk foya-foya aparat. Di sekitar kita masih banyak rakyat yang kelaparan, makan senin-kemis, lha kok malah para abdi negara bermewah-mewah makan-minum di hotel dengan uang rakyat! Betapa hal tersebut sangat melukai sisi keadilan dan kemanusiaan rakyat bukan?

Indonesia di hari ini telah memasuki babak kehidupan baru. Joko Widodo merupakan pemimpin yang berasal dari akar rumput rakyat Indonesia. Ia tentu sangat paham akan arti penderitaan rakyat. Jangankan untuk menempuh pilihan hidup sederhana, bahkan sekedar bisa bertahan hidup-pun masih banyak rakyat yang tidak dapat mencapainya. Pemimpin yang lahir di tengah suasana kemelaratan sudah sangat pas bila bersikap dan bertindak dengan penuh kesederhanaan pula.

Sudah pasti kebijakan untuk penghematan anggaran dengan penerapan pola hidup sederhana di lingkungan birokrasi pemerintahan tidak sama sekali tanpa hambatan. Kebiasaan para aparatur negara yang merasa anggaran yang diberikan merupakan “hak” sebagai kaum elit negara juga memerlukan perubahan pola pikir yang tidak serta-merta. Resistensi dari dalam sudah pasti ada dan hal itu menjadi tantangan bagi setiap tingkatan pimpinan untuk menyelaraskan dan mengharmoniskannya dengan kebijakan di tingkat komando tertinggi. Jika hal ini menjadi komitmen bersama, saya yakin kesederhanaan bisa benar-benar berdampak terhadap penghematan anggaran negara. Anda sepakat?

Lor Kedhaton, 3 Desember 2014


Filed under: Jagad Bubrah Tagged: kesederhanaan Jokowi, larangan rapat di hotel, makanan tradisional, musim penghujan, PNS

 Jum'at (28/11) lalu saya dapat kesempatan mengunjungi 'markas' Bentang Pustaka, bersama teman-teman dari Akademi Bercerita Magelang. Awalnya saya ingin berangkat dari Magelang bersama-sama, tapi dikarenakan hari jum'at, maka saya memutuskan berangkat dari tempat kerja saya, supaya bisa sholat jum'at sekalian disana.  Sebenarnya saya belum tahu dimana alamat kantor Bentang berada, awalnya saya
Telah hadir kalender tahun 2015 bertema “Magelang Tempo Doeloe”. yang sangat unik dan menarik ! Sangat eksklusif dan berkesan jika menjadi dekorasi ruang anda. Hanya untuk anda yang mempunyai memori terhadap kota tercinta. Spesifikasi kalender sbb : - Ukuran kertas A3/doubel folio [35 x 47 cm] - bahan kertas art paper 150 gram, - dengan […]
image

Jam tangan favorit keluarga; Casio

Jam tangan kami semua dari merek yang sama, meski saat membelinya tidak berbarengan, yaitu: Casio. Meski modelnya tidak terlalu keren dan cenderung konservatif, jam Casio bandel dan tahan lama. Harganya pun murah untuk yang KW1, sesuai untuk kalangan menengah ke bawah.

Jam tangan yang cukup sensasional adalah jam tangan anak2, Royan & Abim; yaitu Casio F-91W. Jam tangan ini terkenal karena laporan CIA yang menyebutkan kalau jam ini adalah jam andalan Al Qaida. Osama bin Laden pun memakai jam tangan ini. Jam tangan ini akurat dan murah. Al Qaida konon menggunakannya juga untuk merakin bom. Karena itu jam ini juga dikenal dengan “Terrorist Watch”. Sereeeemmm….

image

Casio F-91W, Terrorist Watch

Jam ini saya beli ketika ada ‘REA’ di salah satu toko jam di Nortstand tiga tahun lalu. Karena sedang REA alias obral tahun natal harganya super miring, 50% dari harga normal. Harganya cuma SEK 150. Murah bingiiittt. Saya beli dua, satu untuk Royan dan satu untuk Abim.

Jam F-91W bentuknya sederhana. Tahan air alias water resist. Kalau sedang berenang atau main air tidak perlu buka jam tangan. Kehujanan pun tidak apa2. Ada fungsi alarm, timer, dan stop watch. Lengkap dan lebih dari cukup untuk alat penanda waktu. Daya tahan baterainya sangat lama, dua setengah tahun lebih baru ganti baterai.
Jam tangan ini sudah lama dikeluarkan oleh Casio. Saya lihat jam ini di-release ulang dengan model yang lebih variatif. Kalau googling ada jam Casio F-91W yang warnanya tidak melulu hitam. Ada yang putih juga, terlihat lebih keren dan modis.

Jika Anda tertarik dengan jam teroris ini sebaiknya teliti sebelum membeli. Ketika ganti baterai ke toko jam, tukang tokonya bilang kalau jam model ini agak susah dapat yang asli/KW1. Banyak tiruannya dan sulit dibedakan dengan yang asli. Harganya pun cukup mahal >Rp. 300rb. Kalau untuk anak2 mending beli jam KW yang banyak dijual di mall2. Modelnya macem2, meski kualitasnya diragukan.

Anak2 biasanya main kurang hati2. Jam tangan ini sudah baret2. Apalagi Royan yang sangat aktif. Sudah tiga kali jam tangan ini ganti karetnya. Jam tangan bandel, meski dipakai obrok2an yang rusak cuma karetnya. Ganti karet yang biasa murah, cuma Rp. 15rban.

Jam tangan teroris ini masih setia menghiasi tangan anak2. Mereka bangga memakai jam tangan ini, meski modelnya tidak sekeren jam teman2nya di sekolah.

image


image

Hari ini saya kepingin mencoba salah satu inovasi dari Balittro yang menggunakan minyak atsiri sebagai bahan aditif untuk menghemat penggunaan BBM. Karena kendaraan saya minum bensin saya coba yang GastrofaC.

Klaim dari inovatornya yang saya peroleh dari website Balittro bahwa produk ini bisa menghemat BBM dari 20-40%. Ini luar biasa lho. Mestinya diapresiasi oleh pemerintahan sekarang meningkatkan harga bensin sebesar Rp. 1.500. Kalau klaim ini terbukti benar, yang minimal saja 20%, bisa mengurangi beban kenaikkan BBM.

Hitung2 kasarnya begini:
GastrofaC harganya Rp. 31.500 per 30ml. Pemakaiannya 1 ml per liter bensin. Jadi setiap 1 ml harganya Rp. 1.050.
Bensin harganya sekarang Rp. 8.500 + gastrofac Rp. 1.050, harga totalnya = Rp. 9.550 per liter.

Dengan asumsi penghematan 20%, penghematannya senilai 20% x Rp. 9.550 atau Rp. 1.910. Pengeluaran orang menjadi Rp. 7.640. Atau hanya mengalami kenaikan sebesar Rp. 1.140,  meskipun harus memberli GastrofaC dengan harga Rp. 1050 per ml.

Andaikan penghematannya bisa pool seperti yang diklaim sebesar 40%, akan lebih fantastis lagi, yaitu sebesar Rp. 3.840. Atau pengeluarannya menjadi Rp. 5.730. Nilai yang lebih rendah dari harga sebelum subsidi naik.

Jika dilihat secara nasional akan sangat luar biasa sekali penghematannya.

Saya tidak tahu apakah temuan ini pernah disampaikan ke presiden kita atau minimal ke menteri2 terkait. Inovasi bangsa sendiri semacam ini sangat perlu didukung. Apalagi kabarnya pengalihan subsidi itu akan digunakan untuk hal2 yang bermanfaat. Menurut saya ini salah satunya.

Setelah saya cium baunya, minyak yang dipakai untuk GastrofaC adalah minyak sereh. Keluarga saya sering memakai untuk pengusir nyamuk. Baunya harum. Bensin pun akan menjadi lebih harum.

Minyak sereh berasal dari bahan yang terbarukan. Ini bagus, karena lebih ramah lingkungan. Seperti halnya Biofuel (Bioethanol dan Biodiesel) Sereh mudah ditanam di Indonesia. Saya rasa bisa mencukupi jika produk ini diproduksi secara nasional.

Jaman muda dulu….(ciee…), awal tahun 90an. Motor yang untuk balapan sering ditambahi minyak2 seperti ini. Konon biar tambah bertenaga, tambah kenceng, dan lebih hemat. Harum lagi bau knalpotnya.

Minyak atsiri ini dibuat dalam dua versi, salah satunya untuk solar.

image

Memang produk ini belum teruji secara luas. Ini hanya masalah teknis. Kalau dibiayai saya yakin peneliti di Balitro akan mampu mengembangkan versi yang lebih canggih.

Anda tertarik menggunakannya…????


Telaga Warna dan Telaga Pengilon di Dieng Wonosobo
Beberapa waktu yang lalu, saya dan teman-teman satu kerjaan di Jalan Kaliurang Jogja mengadakan liburan bareng setelah sebulan lamanya berkutat dengan target penjualan yang tentunya banyak menyita pikiran tenaga yang cukup membuat stress. Atas ide mereka, kami sepakat untuk pergi liburan bareng, menghilangkan stress dan penat selama sebulan lebih bekerja.

Setelah voting, sebagian besar dari kami pingin liburan kali ini ke Kawasan obyek wisata Dieng di Kabupaten Wonosobo. Alasannya kalau tujuan liburannya hanya di sekiar Jogja saja seperti Pantai Parangtritis, Indrayanti, Kuwaru dan sekitarnya, sebagian dari kami pernah mengunjunginya bahkan ada yang lebih dari tiga kali. Selain itu, dari kami sebagian belum pernah ke Dieng, karena selain tempatnya yang jauh.
Telaga Warna dan Telaga Pengilon di Dieng Wonosobo
Dari Jogja kami berangkat sore hari, dan baru sampai di Wonosobo sehabis Isyak. Untuk menghemat biaya, kami menginap di rumah teman yang kebetulan rumahnya Wonosobo. Setelah Istirahat pagi harinya kami berangkat ke Kawasan Obyek Wisata Dieng Plateu. Obyek wisata yang pertama kami kunjungi adalah Telaga Warna dan telaga Pengilon. Untuk bisa masuk ke kawasan Obyek wisata Telaga Warna dan Pengilon kita cukup bayar karcis retribusi sebesar Rp.2000,- saja. Tergolong murah untuk kawasan wisata terkenal di kawasan Dieng. Setelah masuk ke kawasan Telaga yang kebetulan waktu itu airnya sedang surut karena musim kemarau, Kami segera menyibukan diri dengan foto-foto dengan latar Telaga Warna, berjalan menyusuri pinggiran telaga, dan ada yang sekedar kongkow-kongkow menikmati suasana Telaga Warna sambil sesekali mengabadikan pemandangan telaga dengan handphone dan kameranya.
Alfamart Jogja Goes to Telaga Warna dan Telaga Pengilon di Dieng Wonosobo
Telaga warna dan telaga Pengilon adalah dua tempat dari puluhan obyek wisata di Dieng yang banyak di kunjungi wisatawan, baik wisatawan lokal maupun mancanegara karena keindahannya. Telaga Warna dan telaga Pengilon termasuk dalam wilayah Desa Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa tengah. Telaga Warna dan Pengilon berada di ketinggia 2000 meter di atas permukaan laut, menjadikan daerah di sekitar Telaga Warna dan Pengilon masih dingin saat di siang hari sekalipun.

Sesuai dengan namanya Telaga Warna, Air di Telaga ini warnanya bermacam-macam ada warna hijau, putih ke kuning-kuningan, serta biru laut seperti pelangi. Menurut para ahli warna-warni permukaan Telaga Warna di sebabkan karena adanya pembiasan cahaya pada endapan belerang di dasar telaga. Di dekat Telaga Warna juga terdapat satu telaga lagi yaitu Telaga Pengilon. Telaga Pengilon letaknya di sebelah Telaga Warna, hanya saja warna air di Telaga Pengilon keliahatan  bening dan jernih, saking jernihnya bisa untuk bercermin, sehingga di namakan dengan Telaga Pengilon, Pengilon dalam bahasa Jawa artinya cermin.
Berkunjung ke Telaga Warna dan Telaga Pengilon di Dieng Wonosobo
Seperti umumnya tempat-tempat wisata alam di Indonesia yang banyak menyimpan cerita dan mitos mengenai terjadinya tempat tersebut. Telaga Warna dan Pengilon juga mempunyai mitos dan  legenda yang berkembang di tengah masyarakat sekitar dataran tinggi Dieng. Konon dahalu kala ada seorang bangsawan yang mampir ke Telaga dan tanpa sengaja cincinnya jatuh ke telaga, dan sejak itu telaga menjadi bermacam-macam warnanya. 

Menurut cerita yang satunya lagi, Dahulu ada seorang Ratu di tanah jawa yang mempunyai seorang putri yang cantik jelita, saking cantiknya banyak raja-raja yang ingin meminangnya. Karena kesulitan memilih siapa yang akan di pilih jadi menantunya, sang Ratu membuat sayembara. Barang siapa yang berhasil membuat telaga dengan cepat maka dia yang akan di pilih menjadi menantunya. Sayembara tersebut di ikuti oleh dua orang ksatria yang kedua-duanya sama-sama sakti mandraguna. Salah satu kstaria tadi berhasil membuat telaga jadi lebih dahulu, yaitu telaga Warna. Ksatria yang satunya lagi membuat telaga yang jadinya lebih lama, Telaga tersebut adalah Telaga Pengilon.

 Akhirnya sayembara di menangkan oleh Ksatria yang membuat Telaga Warna. Saat sang ratu dan putrinya melihat kedua telaga tersebut, Sang ratu lebih tertarik dengan Telaga pengilon yang airnya tenang, tidak seperti Telaga Warna yang airnya beriak. Pertanda ksatria yang membuat Telaga Pengilon hatinya baik, tidak serakah. Akhirnya sang ratu memilih Ksatria yang membangun Telaga Pengilon sebagai pemenangnya menggantikan Ksatria yang membangun Telaga Warna. Karena marah, Ksatria yang membuat Telaga Warna mengeluarkan kesaktiannya sehingga selendang yang di kenakan sang ratu dan putrinya terlempar jatuh ke Telaga Warna, dan sejak itu Telaga Warna airnya keliahatan berwarna-warni seperti selendang yang di kenakan sang ratu dan putrinya.
 obyek wisata yang wajib di kunjungi, antara lain Goa Semar, Goa Sumur, Goa Jaran, Serta Batu tulis. Di Goa-goa tadi menurut masyarakat sekitar sering di jadikan buat ritual tertentu. Bahkan konon katanya Almarhum Presiden Soeharto sebelum menjadi Presiden juga sering melakukan tirakat di Goa Semar.
Selain Telaga Warna dan Telaga Pengilon, Di sekitar Telaga juga masih banyak obyek wisata yang wajib di kunjungi, antara lain Goa Semar, Goa Sumur, Goa Jaran, Serta Batu tulis. Di Goa-goa tadi menurut masyarakat sekitar sering di jadikan buat ritual tertentu. Bahkan konon katanya Almarhum Presiden Soeharto sebelum menjadi Presiden juga sering melakukan tirakat di Goa Semar. 

Berkunjung ke Dieng khususnya Telaga Warna dan Pengilon rasanya kita tidak akan pernah menyesal, bahkan pengen balik lagi kesana suatu hari nanti. Sejuk dan dinginnnya udara di dataran tinggi Dieng, Rimbunnnya pepohonan dan air warna telaga yang berwarna-warni membuat kita betah berlama-lama di sana. Akan lebih menyenangkan lagi kalau kesananya bareng keluarga. 

Orang Jawa menyebut benda yang satu ini dengan pit atau sepeda. Konon dinamakan sepeda karena “asepnya tidak ada”. Sepeda jelas sangat berbeda dengan sepur yang “asepe metu ndhuwur” (asapnya lewat atas, mengacu kepada kereta api uap periode awal). Asep merupakan asap sisa pembakaran mesin berbahan bakar fosil yang biasa dikeluarkan dari knalpot atau cerobong.

Masih juga di kalangan manusia Jawa, sepeda seringkali diplesetkan cara meng-inggris-kannya menjadi “bai sikil” dari bahasa yang semestinya bycycle. Untuk ungkapan bai sikil ini tentu saja mengacu kepada cara menjalankan sepeda yang mempergunakan dua tungkai kaki buat menggenjot pedal kanan-kiri. Ah, kalau soal becandaan dan pleset-memplesetekan istilah, wong Jowo memang oye!Sudah hampir satu tahun ini saya kembali menyelami kembali kenikmatan mengayuh sepeda. Meskipun tidak setiap hari, setidaknya setiap pagi hari di akhir pekan senantiasa saya luangkan untuk bersepeda gembira.


Filed under: Jagad Ngisor Blimbing

Pahitnya Kopi Nan Yang

-

nikitomi

on 2014-11-30 5:23am GMT
Nan Yang C (cold)

Jika sebelumnya saya pernah nyobain kopi joss khas jogja, maka malam sabtu kemarin saya berkesempatan untuk nyobain kopi khas Malaysia, kopi Nan Yang.

Entah nan-yangsendiri diambil dari nama apa, yang pasti kopi jenis ini sering di minum oleh orang Malaysia, dan salah satu coffee shop yang menjualnya adalah Old Town:  white coffee yang sudah memiliki lebih dari 200 kedai kopi di Malaysia.

Di Indonesia sendiri kedai kopi yang ber-tagline 'take your time' itu baru ada belasan saja, salah satunya di Living Word Alam Sutera, tepatnya di samping kiri lobby mall.

Saya masuk ke kedainya dan memilih tempat duduk dekat dengan dapur kopi, suasana langsung terasa nyaman, artistic, dan sangat olden, mungkin ini salah satu alasan kenapa dinamakan Old Town. Saat waiters menawarkan menu makanan dan minuman mata saya tidak langsung tertuju ke salah satu kopi andalannya seperti White Coffee misalnya tapi justru jatuh ke nama-nama kopi yang tidak ada embel-embel white coffe, yakni Nan Yang- C. 

"Nan Yang C (cold) nya satu, mbak", pesanku ke mba waitersnya.
"Oke. Tapi kopinya pahit bingit lho, mas?", jawab mbanya pakek 'tapi'.

Tak lama kemudian kopinya sudah datang, dan siap untuk disruput. Jika biasanya kopi yang panas mudah dikenali aroma kopinya lewat kebul-nya, nan yang (cold) justru tidak ada kebul nya sama sekali, ya secara ini adalah semacam es kopi. Hehe.

Untuk mencium aroma kopi - hidung dan otak harus disetting lebih sensitive, saya mengaduknya hingga kopi yang berwarna hitam pekat tercampur semua. Dan, hemmm… aromanya hampir sama dengan biji kopi nan yang (…kemudian hening).  Ketika lidah saya mulai dialiri se-sruputan kopi, pahitnya baru terasa, sangat pahit, dan lembut. Ada rasa pahit yang sangat kontras dibanding rasa kopi sasetan. Bagi lidah yang belum pernah dibelai nan yang sekilas terasa mirip seperti kopi toraja, tapi jika dirasakan lebih dalam dan lebih dalam lagi, klik, akan terasa bedanya.

Di dunia ini di ciptakan untuk saling berpasang-pasangan, begitupun kopi nan yang dengan kaya and butter toast. Roti panggang coklat ini semakin menenggelamkan rasa. Tekstur roti yang terlihat lembut sebelum dimakan justru  terasa kriuk saat digigit, crispy!, sedangkan isinya lembut dan manisnya pas.
Butter Toast

Walaupun pahit, nan yang tidak mempunyai efek yang bikin jantung deg-degan, tapi akan lain halnya jika minum nan yang nya disamping gebetan (halah). Karena memang Old Town sudah terkenal dengan white coffeenya, jadi walaupun nan yang pahit tetap tidak bikin jantung deg-degan.

Hal ini di jelaskan oleh Marketing Manager Old Town Indonesia, Agusnur Lesa, “Selain, dicampur dengan caramel dan lain sebagainya, white coffee di old town kami punya “rahasia olahan dapur” tersendiri, yakni ketika biji kopi kami masuk dalam tahap roasting. olahannya seperti apa? itu rahasia dong. sehingga white coffee kami aman untuk lambung, tidak bikin deg-degan tapi tidak mengurangi rasa aromatic dan cita rasa kopinya tetap terjaga”.

Untuk menjaga cita rasa kopi nan yang, old town mengimpor langsung biji kopinya dari Negara asalnya, Malaysia.

Selain kopi nan yang masih banyak sekali varian white coffee di Old Town. Ada, white coffee gao, white coffee mocha, white coffee milk tea, white coffee hazelnut. Sedangkan bagi yang tidak suka kopi disana ada pilihan lain, seperti Teh tarik dan xi mut



Harga:
Nan Yang C : Rp. 27
Nan Yang O : Rp. 26
Butter Toast : Rp. 16

Lokasi: Old Town Living Word Alam Sutera
Buka: 10:00 s/d 22:00 WIB

Kerja Cerdas dan Keras

-

Mas Ivan

on 2014-11-28 3:34pm GMT

Ketika kerja cerdas atau sering orang menyebutnya SMART work kerap terlupa, sejenak mengingat bahwa tatkala kita bekerja haruslah punya perencanaan yang jelas [Specific ] dengan program yang dapat diukur tingkat keberhasilannya [Measurable], dimana dengannya bakal memacu kita untuk dapat mencapainya [Achievable], namun tetap selaras dengan kemampuan dan sumber daya yang kita miliki [Realistic]. Darinya selalu ada waktu yang jelas dalam pencapaian serta evaluasi [Time].

SMART WORK

© Mas Ivan | [email protected]

Dari pengalaman yang ada hingga saat ini, kiranya cukup waktu untuk mengambil pelajaran berarti dimana kerja keras tidaklah cukup untuk merealisasikan impian yang ingin kita raih dengan segera. Kerja keras lebih cenderung kepada bekerja lebih dari pada jatah waktu kerja pada umumnya seperti 9 jam sehari atau 7 hari dalam seminggu. Kerja keras juga lebih kepada kerelaan kita dalam menyedekahkan sebagian waktu serta tenaga untuk mengejar kebebasan finansial guna menggapai kesuksesan lain yang kita impikan. Akan tetapi dengan apa yang telah kita lakukan seringkali perasaan tak puas datang, dan batin meronta ingin berteriak kencang “kenapa semua ini tidak sesuai dengan kerja keras yang telah kita lakukan ?”.

Jelas saat ini kerja keras mutlak hal yang mesti kita lakukan, pun tak cukup hanya dengan bekerja keras saja. Mengenali diri sendiri dan potensinya baik spiritual, emosional ataupun intelektual, inilah kiranya langkah tepat yang harus kita lakukan segera supaya kerja keras mampu tumbuhkan anthusiasme diri untuk padukan kerja cerdas total tanpa kata futur atau menyerah barang sekali.

Kerja cerdas, saat dimana kita mampu maksimalkan seluruh potensi diri guna meraih apa yang ingin kita capai. Kerja cerdas, saat dimana kita mampu bekerja efektif dan berkesinambungan. Kerja cerdas, saat dimana kita mampu menghargai proses selain hasil akhir dari apa yang kita inginkan.

Jelas Perencanaan, dapat diukur sampai dimana kemajuan keberhasilannya, tak muluk-muluk untuk dapat dicapai, realistis dan mampu dievaluasi.

Nasib Tikus Dalam Bakso

-

Mas Ivan

on 2014-11-28 2:08pm GMT

Alkisah seorang lelaki matang usia yang pernah muda di masanya dan kini berumur 64 tahun penggemar kuliner lokal berjenama bakso. Sosoknya pendek kekar mirip seorang Pendekar. Konon beliau pernah menjadi Camat Candi Mulyo dengan inisial ET bergelar akademisi SH, yang di masa purnanya tuntas tanpa cemar di Sekwan Kabupaten Magelang.

Pak Edy, demikian saya memanggilnya setiap hari. Dan tepat sepekan lalu selepas shalat jum’at rampung, mendadak beliau bercerita tentang kegemarannya mengkonsumsi bakso, namun dalam sudut pandang yang berbeda, yang akhirnya disampaikannya lirih lantaran tak ingin penjual bakso di sebelah kantor tersakiti atas apa yang di ceritakannya saat itu.

Menurut penuturannya “Warung Bakso dan Mie Ayam Pak Pe” yang berlokasi di Sraten, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang dalam beberapa waktu ini diketahui menggunakan bahan dasar daging tikus segar untuk olahan Bakso dan Mie Ayam yang dijajakannya setiap hari. Dalam keterangannya, saat ada konsumen berseragam Tentara hendak membeli Bakso dan sempat memohon ijin masuk ke toilet di belakang warung tersebut, si konsumen sempat melihat para pekerjanya sedang membersihkan daging tikus, dan itu terlihat jelas dimata konsumen yang akhirnya langsung naik pitam hingga berujung ditutupnya warung Pak Pe hingga saat ini.

Bakso Pak Pe

Detail Percakapan | Link Sumber

Sambil bercerita lirih, Pak Edy-pun geleng-geleng kepala karena Bakso dan Mie Ayam Pak Pe merupakan langganannya dalam beberapa waktu ini, dan beliau kerap sekali mampir untuk memenuhi hajat perutnya atau sengaja pesan kepada anaknya untuk membelikannya di tempat tersebut.

Memang murah meriah dan enak dek “katanya kepadaku”. 1 porsi besar Rp 7.000,- dengan isi 7 butir bakso besar dan rasanya memang enak.

“Wah jian….habis dari Kabupaten rencana lain waktu pada mau saya ajak ke Warung Bakso dan Mie Ayam Pak Pe Sraten je !”

Dan sambil nyengir mendengar cerita Pak Edy dalam hati kecil justru tertawa “Hehehe…..Nasib tikus dalam Bakso”, miris memang, namun lantaran Warung Pak Pe dekat dengan area perkantoran (Kabupaten Magelang) dimana di sana banyak tikus-tikus kepala hitam berkeliaran, setidaknya kejadian ini menjadi pelajaran nyata bahwa Tikuspun akhirnya dimakan para tikus pun pewajahannya berbeda tersebut “Bakso” yang akhirnya orang-orang risih dan jijik dengan semua ini.

Alhamdulillah saya belum pernah mencobanya barang sekali. Namun maaf, saya tau Pak Edy orang baik, karena itu melas saja tau kalau beliaunya sempat mengkonsumsi hidangan tersebut berkali-kali padahal ini pelajaran berharga bagi tikus-tikus kepala hitam di pasaran yang hingga saat ini masih asik merusak hidangan masyarakat lewat aneka pos anggaran berdalih perjuangkan nasib besan relawan. #Preet… !, coba sejenak lihat ilustrasi berikut ini.

Trus Bagaimana Nasib Si Penjual ?

Entahlah, biarkan saja ia terima ganjaran setimpal lengkap dengan hukum perdata plus hukum rimba jika memang harus diterimanya. Saya ikhlas…. :D

Nonton timnas

-

Mastop Story

on 2014-11-28 12:39pm GMT

Timnas Indonesia sedang berjuang diturnamen piala AFF. Dan saat ini timnas sedang menghadapi Laos. Timnas harus berjuang dan berharap untuk lolos ke semifinal.
Mereka harus menang sebanyak-banyaknya. Itupun akan mengubah keadaan jika Vietnam kalah dari Filiphina.

Penampilan timnas Indonesia memang cukup standar diturnamen ini. Standarnya adalah buruk. Pertandingan pertama memang beruntung dapat mengimbangi tuan rumah, Vietnam. Namun dipertandingan kedua permainan timnas begitu buruk hingga mereka dikalahkan Filiphina 4:0.

Dan malam ini adalah pertandingan terakhir mereka. Skor sementara 2:1. Dan masih banyak kemungkinan beberapa menit mendatang. Apa yang akan terjadi ya? Ahaiiii…


Dilema Bisnis Property

-

Mas Ivan

on 2014-11-28 12:37pm GMT

Setidaknya hampir jalan dua bulan sejak desain brosurnya kubuat pun akhirnya belum juga naik cetak. Problematika awal bermula ketika caneling dengan pihak ketiga dimana harus ada prasyarat ini itu yang setelahnya kaplingan tanah baru bisa di jual dengan wajah KPR. Oiya, ada prasarat jasa rancang bangun dari pihak ketiga dengan rekomendasi penjual jika sipembeli mau kapling di tempat tersebut. Ya intinya jual tanah kapling plus mbangunke, tapi mbayare iso dikredit/dicicil.

Tak sesederhana yang dibayangkan, selain proses canelingnya berbelit-belit,  penjualan kapling tanah + rumah dengan mediasi perbank-kan ternyata membawa dilema baru bagi kedua pihak, dimana sipenjual tidak bisa tidak ikut andil besar menjadi provoaktor garis depan supaya sipembeli kapling berhubungan dengan dunia perbank-kan, dan jelas hal ini menjadi investasi dosa berkuota yang bakal terus mengalir deras, seiring kredit si pembeli lunas dalam masa KPR yang ditentukan.

Nah lho… pinginnya untung segunung justru malah buntung lantaran sebab ketergesaan dan nafsu yang salah kelola.

Promo Griya Naira

Detail Gambar

Sebuah pelajaran menarik kudapat sore ini ketika ada seorang dermawan ingin bantu temannya agar bisa punya rumah sendiri. Selanjutnya, beliau tanya “Hukum Membantu Orang lain Untuk KPR”, yang akhirnya di jawab Ustadz Ammi Nur Baits (pembina Konsultasisyariah.com, PengusahaMuslim.com dan pengisi kajian-kajian di daerah Yogyakarta).

Saya punya teman, dia membayar biaya kontrak rumah setiap bulan sebesar 80% dari gajinya. Dan saya ingin memberikan sedekah jariyah. Saya ingin memberinya uang untuk membeli rumah. Uang yang saya berikan nilainya setengah dari harga rumah yang ingin dia beli.

Kemudian saya baru tahu, jika dia saya beri uang untuk beli rumah, dia akan utang di bank untuk menutupi setengah harga rumah. Dengan dalil, kondisi darurat. Padahal, jika dia tetap ngontrak, saya juga bisa bantu bayar penuh kontrakannya dan dia bs belajar lebih baik. Apa yang harus aku lakukan?

Jawaban Lajnah Fatwa Syabakah Islamiyah :

Alhamdulilillah was shalatu was salam ‘ala Rasulillah, wa ‘ala Alihi wa Sahbih, amma ba’du,

Jika bantuan dana yang anda berikan untuk membeli rumah, menjadi sebab dia berhutang ke bank, maka anda tidak boleh memberikan uang itu untuk beli rumah. Anda bisa membantunya untuk menyewa seperti yang anda sebutkan, sekaligus menjelaskan kepadanya tentang haramnya riba. Dan dampak buruk riba akan menghanguskan keberkahan. Sementara dengan taqwa akan mendatangkan kemudahan. Allah berfirman,

Allah akan membinasakan riba dan mengembangkan sedekah (QS. al-Baqarah: 276).

Allah juga berfirman,

Siapa yang bertaqwa kepada Allah, Dia akan memberikan jalan keluar ( ) dan Dia akan memberikan rizki dari arah yang tidak dia duga. (QS. at-Thalaq: 2 – 3)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

”Sesungguhnya ruh qudus (Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku, bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rizkinya. Karena itu, bertaqwalah kepada Allah dan bersikaplah terbaik dalam mencari rizki. Jangan sampai tertundanya rizqi mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rizki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya.” (Hadis Shahih – Silsilah as-Shahihah, no. 2866)

Allahu a’lam, sumber: Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 250156

_______

Dari penjelasan Ustadz Ammi Nur Baits diatas jelas bahwa hukum KPR yang nota bene menjadi salah satu produk perbank-kan, pada dasarnya merupakan wujud riba terselubung dengan bungkus memukau yang sajiannya menyilaukan mata. Akan tetapi niatan baik seperti sedekah, jika salah membingkainya pun juga bakalan hilang keberkahannya jika setelahnya menyebabkan orang bergelut dengan riba seperti harus mengambil KPR tertentu supaya orang tersebut punya rumah pribadi, dan lain sebagainya.

Karena itulah kembali kepada bisnis property sebagaimana diawal saya sedikit utarakan, ada baiknya mereka yang berkecimpung dalam dunia property memperhitungkan untung dan ruginya dalam padangan Alloh Ta’ala, tak semata-mata untung segunung dunia yang sebenarnya tak bernilai apa-apa kecuali dosa.

Bersabar dengan apa yang kita punya saat ini jelas lebih terjaga keberkahannya daripada limpahan harta tanpa jalur syar’i yang didapat dengan gelap mata. Namun jika Anda ingin segera punya property sebagaimana pewajahan brosur diatas, segera hubungi saya sebelum orang lain memilikinya berpenanda “Cash atau Tempo” tanpa perantara termasuk wujud KPR.

Bismillah, insyaAlloh berkah dan lebih jelas kehalalannya. Dibuka mulai harga 350 Jutaan. Dingapunten sanget #ModusMarketing sekalian curhat :)

Sudah lama tidak bercerita tentang Kuliner, kali ini saya mau cerita Kuliner khas Godean Jogja, kalau bulak balik lewat Jalan Godean itu sering banget, tapi untuk mampir secara khusus menikmati kuliner khas Godean baru kesampaian siang ini. Kuliner kali ini adalah Belut!, hewan yang kaya akan kandungan gizi ini memang termasuk kuliner pilihan, karena tidak […]
PENGOEMOEMAN ! Segera hadir kalender tahun 2015 edisi “Magelang Tempo Doeloe”. Ukuran kertas A3/doubel folio [35 x 47 cm] dengan bahan art paper 150 gram,dengan isi 6 lembar format 2 bulanan plus 1 lembar sebagai cover [total 7 lembar]. Harga Rp 25.000,-. Konsep kalender mengenai foto-foto Kota Magelang di kisaran tahun 1930-an dan 1950-an, seperti […]

JonanSemenjak digelar rutin setiap tahun dari 2012, baru kali itu saya berkesempatan untuk merapat ke acara Kompasianival 2014. Kopdar Akbar para blogger yang tergabung dalam barisan Kompasianer ini bisa jadi merupakan kopdar terbesar di tahun 2014 ini. Sebelumnya memang ada Pesta Blogger, Blogger Nusantara, ASEAN Blogger Festival, ataupun Festival TIK yang juga menjadi ajang temu darat para penulis online yang juga dikenal sebagai citizen journalist.

Kompasianival kali ing mengusung tema “Kompasianival 2014: Aksi untuk Indonesia”. Kejutan pertama yang sangat berkesan dan memberi arti tersendiri justru hadir sejak di titik awal acara. Setelah kata sambutan yang disampaikan oleh Bang Edi Taslim dari pimpinan Kompasiana, acara dibuka oleh Ignatius Jonan. Siapa yang tidak kenal beliau? Ya, ia adalah mantan orang nomor satu di PT. KAI yang kini menahkodai Kementerian Perhubungan di Kabinet Kerja Jokowi-JK. Lalu kisah apakah yang dibagikan beliau di Kompasianival 2014?

Sebagaimana tema Aksi untuk Indonesia yang diusung, Pak Jonan berbagi kisah mengenai aksi-aksinya untuk Indonesia pada saat mendapat amanah menjadi Dirut PT. KAI. Sejenak setelah berdiri di panggung utama Sasono Budoyo, ia bertanya kepada hadirin, “Tahukah Anda apa yang membuat saat ini tidak ada lagi penumpang kereta api yang berada di atap kereta? Anda semua tahu betapa tidak mudahnya untuk menertibkan penumpang kereta api kelas ekonomi ini yang menjadi ciri khas kereta api lokal di Jabodetabek. Berbagai cara pernah dicoba dan dilakukan, mulai dari melumuri atap dengan oli, menyemprot penumpang dengan cat warna, sampai memasang paku dan kawat berduri di atas kereta. Hasilnya nihil!”

“Lalu bagaimana bisa kondisi tertib tercipta seperti sekarang?” ia melanjutkan. Hal itu tidak lepas dari tiga hal. Hal yang pertama adalah niat baik dari seluruh jajaran PT. KAI untuk berbenah dalam semua aspek pelayanan. Intinya bagaimana penumpang alias konsumen menjadi pertimbangan utama dalam setiap pengambilan kebijakan. Mereka butuh dimanusiakan, diwongke! Dan setiap tindakan tidak akan menjadi sebuah kebaikan jika tidak didasari dengan niat yang baik. Ini sangat mendasar dan sangat penting!”

“Yang kedua, teknologi. Manusia terus berganti dari generasi ke generasi. Seiring dengan itu, perkembangan jaman juga telah menghantarkan manusia kepada perkembangan teknologi berlandaskan ilmu pengetahuan sebagai kunci-kunci jawaban terhadap berbagai permasalahan hidup. Genereasi tua yang tumbuh dan berkembang dalam segala keterbatasan, tentu sangat berlainan dengan generasi muda masa kini yang difasilitasi berbagai kemudahan dan produk teknologi canggih dalam kesehariannya. Namun demikian, mau tidak mau, suka tidak suka, teknologi memang merupakan jawaban dari berbagai permasalahan hidup sehingga setiap komponen perusahaan harus mau belajar untuk mempergunakannya. Hal ini menjadi tantangan tersendiri di kereta api.”

“Adapun yang ke tiga, penyamaan semua kelas kereta api angkutan lokal. Tidak umum di dunia manapun, angkutan kereta api di kawasan kota besar dibedakan menjadi beberapa jenis kelas. Untuk kereta tujuan jauh memang biasa dibedakan kelas-kelasnya. Tetapi untuk lokal, tidak ada pembedaan kelas! Hal ini berkaitan dengan frekuensi dan mobilitas yang sangat tinggi dari para pengguna jasa kereta api lokal. Kereta harus bisa menjadi andalan sarana transportasi harian. Lain halnya dengan kereta api jarak jauh. Katakanlah kereta jurusan Jakarta-Jogja, bisa dibuktikan tidak ada penumpang yang harian nglaju pulang-pergi untuk bekerja misanya. Satu minggu sekali sih masih mungkin. Tetapi setiap hari dapat dikatakan tidak ada.”

“Moda angkutan kereta api sangat spesifik dan jauh berbeda dengan moda angkutan darat yang lain. Jika kendaraan jalan raya bisa saling menyalip satu sama lain, tentu tidak demikian dengan kereta api. Meski semua jalur sudah double track, akan tetapi prioritas jalan terhadap kelas kereta yang lebih tinggi mengharuskan kereta lain dengan kelas di bawahnya harus minggir. Hal ini tidak bisa lagi diteruskan. Prinsipnya, siapa yang berangkat duluan ya harus sampai di tujuan duluan juga. Dengan cara ini penumpang merasa memiliki persamaan hak dan kewajiban. Akhirnya tidak ada lagi penumpang bergelantungan di atas atap kereta api.”

Sungguh sebuah pengalaman kepemimpinan yang bahkan diterapkan dari hal-hal mendasar yang terkesan sederhana dan mungkin tidak terpikirkan oleh menajemen sebelumnya sebagai alternatif penyelesaian masalah. Di bidang-bidang dan sektor kehidupan yang lain tentu saja kita sangat memerlukan sosok-sosok Jonan dalam wujud dan kepentingan yang lain. Sangat beruntung bisa bergabung dalam Kompasianival 2014 dan mendapatkan percikan pengetahuan dari sosok Ignatius Jonan. Moga penggalan tulisan ini juga bisa menginspirasi anak bangsa yang lain untuk turut mewujudkan berbagai aksi nyata untuk Indonesia.

Lor Kedhaton, 25 November 2014

image

Sebenarnya ini sudah agak lama, kira-kira sebulan yang lalu. Bari sekarang saya sempat menuliskannya. Saya diajak oleh teman ke kebun organiknya di Cibodas. Tepatnya di dekat agropolitan Cibodas. Selesai melihat2 kebun saya diajak jalan2 menyusuri lahan sayuran di sekitar agropolitan.

Banyak sayuran yang ditanam di sini. Dari sekian banyak macam sayuran, hanya satu petani yang ahli menanam tomat. Nah, saya diajak melihat ke kebun tomatnya. Saat itu kebunnya sudah tidak dipanen, karena sudah lewat masa panennya yang kira2 5-6 bulan. Padahal buah tomatnya masih banyak dan masih bagus. Lebih bagus dari tomat yang dijual bi Eneng, tukang sayur komplek kami.

Kami berencana membeli tomat2 ini dan mengambilnya sendiri. Saya dapat kira2 satu kantong plastik besar. Beratnya kira2 4-5kg. Buanyak banget. Ketika kami ketemu Pak Sadi, dia bilang: “Ambil saja.”
“Gratis nih…?” tanya kami.
“Iya….sok….sudah tidak dipanen. Itu tomat sisa.”
“Ini banyak banget lho…?”
“Nggak apa-apa. Dibawa saja”
Alhamdulillah. Dapat rejeki nomplok sore ini.

Pak Sadi sedang menyiapkan bibit tomat untuk musim tanam berikutnya. Dia dibantu dua orang anak PKL. Saya ngobrol-ngobrol dengan dia tentang menanam tomat.

Katanya menanam tomat susah-susah gampang. Di Agropolitan ini hanya dia yang menanam tomat. Petani yang lain membenarkan pernyataan ini. Katanya tidak ada petani lain yang bisa menanam tomat sebaik dia. Dalam waktu lima bulan, dia bisa penen besar.
“Musim ini total panen tomat saya 15 ton,”
“15 ton, Pak? Buanyak sekali itu. Besar dan kualitas nomor satu nih tomat.” kata saya.
“Sekilo laku berapa di sini?”
“Yah…rata2 empat sampai lima ribuan per kilo.”

Kalkulator otak saya langasung bekerja. Berarti dalam waktu lima bulan pendapatannya bisa Rp. 60-75jt. Meskipun dikurangi biaya macam2, pendapatan petani ini lebih gede dari gaji saya di kantor. Hebat.

Sambil membantu dia bekerja saya tanya-tanya apa rahasianya menanam tomat.

“Menanam tanaman seperti merawat bayi. Mesti dengan perasaaan.” jelasnya.
“Kalau kita menyayangi tanaman kita, tanaman pun akan tumbuh subur.”
“Selain memberi pupuk dan obat2tan.”
“Kalau itu mah…petani lain juga tahu, Pak.”

“Masih ada rahasia yang lain.” umbuhnya membuat saya semakin penasaran.

“Apa itu, pak? Boleh saya tahu?”
“Pakai ZPT.”
“Hormon…????”
“Iya … hormon.”
“Hormon kan banyak. Hormon apa? Apa semua hormon?”
“Tidak. Saya pakai GA3.”
Giberelin….???”
“Ya. Itu yang membuat tomat saya tumbuh subur, besar, dan berbuah lebat.”

Rupanya ini kunci rahasia yang tidak diajarkannya pada petani lain di agropolitan ini. Makanya hasil tomat petani lain tidak bisa sebaik tanamannya.

Dari ceritanya, tidak hanya hormon yang membuat tanaman tomatnya subur. Dia juga memakai banyak banget pupuk kandang. Terutama pupuk kandang ayam.

Saya pun mencoba menabam tomat sendiri pakai polybag di teras rumah. Saya semprot biang POC yang sudah saya tambahi hormon giberelin. Saat ini baru tumbuh sekitar 80cm-an. Batangnya besar dan tumbuh subur. Saya coba menanam organik, hanya pakai kompos dan biang POC saja. Saya penasaran apakah tomat saya bisa sebagus tomatnya P Sadi. Insya Allah.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

[Maaf nama disamarkan, belum bilang ke orangnya soalnya kalau rahasianya saya tulis di sini]


Dengan nalar yang sadar saya cepat berhitung. Jika yang berada di kegelapan malam pekarangan kosong tersebut benar-benar sekawan pencuri yang kagol karena aksinya dipergoki orang, dapat saja akan melampiaskan rasa marahnya kepada saya yang ndilalahnya hanya di backingi istri di belakang punggung. Rasanya kok saya tidak mau konyol dikeroyok kawanan pencuri. Akhirnya setelah saya rasa komunikasi mentok, saya putuskan untuk meninggalkan manusia bayangan di depan saya. Saya sungguh berharap mereka tidak melanjutkan lagi aksi kriminalnya.

Setelah masuk kembali ke dalam rumah, si Ponang langsung memberondong dengan beberapa pertanyaan, “Ada apa sih Pak? Siapa sih Pak di luar? Mereka ngapain ya? Bla….bla….bla….” Saya berusaha menjelaskan singkat bahwa ada pencuri di luar rumah sedang beraksi. Mereka mencuri sesuatu dari pabrik di belakang rumah.

Ketika saya bisikkan kepada istri bahwa saya harus melaporkan kejadian mencurigakan tersebut kepada pihak keamanan pabrik di gerbang depan, justru si Ponang mencegah, “Jangan Pak, biar saja pencuri itu dihukum oleh Tuhan. Nanti kan sama Tuhan dimasukkan ke dalam neraka Pak!”

Ibunya Ponang yang justru menyahut, “Ya harus dilaporkan Le! Kalau nggak dilaporkan bisa membuat pabrik rugi, dan lama-lama bisa bangkrut.” Si Ponang akhirnya manggut-manggut tanda paham.

Jujur pada saat menghadapi bayangan hitam di depan mata dan suara kawannya di sudut kegelapan, saya sebenarnya sangat ingin melampiaskan kemarahan. Rasanya benar-benar ingin langsung menghajar orang-orang kurang ngajar yang malam-malam berani memanjat tembok. Untungnya saya masih bisa mengendalikan diri dan berpikir dengan nalar yang jernih. Seandainya saya terpancing dengan emosi sendiri, meskipun mungkin dengan bantuan para tetangga dapat bersama-sama menghadapi kawanan pencuri tersebut, tetapi sangat mungkin terjadi saya dihajar duluan sebelum orang-orang kampung datang mengepung. Dan sangat mungkin pula justru para pencuri tersebut langsung lari setelah saya babak belur.

Ketika di pagi hari, beberapa tetangga sempat bertanya mengenai sedikit keramaian yang sayup-sayup juga mereka dengar. Istri saya kemudian memberikan penjelasan sebagaimana yang ia saksikan mengenai insiden semalam. Rupa-rupanya kawanan orang tidak bertanggung jawab tersebut sudah beberapa hari belakangan melakukan aksi mengambil sesuatu dari dalam kawasan pabrik. Menurut desas-desus ada oknum pegawai pabrik yang terlibat. Ada pula preman sebelah yang dikenal sangat tidak ramah. Walhasil, para warga tidak berani untuk melakukan tindakan ataupun melaporkannya kepada pihak pabrik. Mereka ketakutan seandainya diketahui melaporkan apa yang dilihatnya, justru keselamatan diri dan keluarganya bisa terancam oleh para preman.

Ada satu warga yang berniat akan melaporkan kejadian yang saya alami semalam kepada pengurus RT. Jika gerak-gerik aksi mereka dilakukan siang-malam, warga merasa keberatan dan terganggu ketenangannya. Hanya sejauh itu. Sekali lagi, mereka takut jika bertindak lebih jauh, keselamatan mereka terancam. 

Mendengar beberapa tanggapan para tetangga yang justru takut untuk bertindak, saya sempat menjadi ragu dengan rencana saya untuk melaporkan apa yang saya saksikan semalam kepada pihak keamanan pabrik. Hampir seharian penuh saya berpikir ulang, menimbang-nimbang. Tepatkah saya jika melaporkannya? Ataukah saya cukup melaporkan kepada pengurus RT saja? Apakah tindakan saya nantinya tidak membahayakan keselamatan diri saya, anak-istri, keluarga, dan warga kanan-kiri? Kalau mereka mengancam dan menteror bagaimana? Saya benar-benar merasa punya musuh yang tidak kasat mata. Mereka tahu pasti tentang saya, tetapi saya tidak mengenal wujud dan rupa mereka. Sungguh sebuah keadaan yang sangat sulit bin rumit.

Pagi hari itupun dengan beban pikiran kebimbangan di kepala, saya berangkat ke TMII untuk hadir di acara Kompasianival 2014. Sungguh sangat kebetulan pada acara tersebut hadir beberapa pembicara yang dikenal sebagai tokoh-tokoh pemberani. Ada Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan. Ada Gubernur DKI Jakarta, Ahok. Dan juga Ridwan Kamil sang Walikota Bandung. Mereka sungguh para pemimpin yang berani mendobrak kebobrokkan di institusi masing-masing. Sungguh sebuah kebetulan yang saya yakin tidak sekedar kebetulan semata. Mungkin Tuhan sedang ingin menguatkan tekad saya untuk tidak diam dalam ketakutan. Saya harus bertindak, paling tidak dengan melaporkan apa yang saya lihat mengenai aksi para pencuri malam sebelumnya. Jika Jonan, Ahok, dan Kang Emil berani, kenapa saya harus takut? Apapun risikonya! Sayapun harus membuat aksi untuk lingkungan tempat tinggal saya. Aksi nyata untuk Indonesia sebagaimana tema yang diusung dalam Kompasianival 2014.

Sepulang dari Kompasianival, sayapun benar-benar mampir ke pos keamanan pabrik belakang rumah. Dengan langkah yang sempat ragu dan dada berdebar-debar, saya kuatkan tekad untuk menepis segala ketakutan dan kekhawatiran yang belum tentu akan terjadi. Bismillah! Saya patri niat kuat di dalam hati. Sayapun harus yakin bahwa Tuhan akan melindungi diri dan keluarga saya. Kebenaran harus ditegakkan semampu-mampu apa yang bisa kita lakukan.

Di pos keamanan ada dua petugas keamanan yang menemui saya, sebut saja Pak Sigit dan Pak Maul. Saya dengan pelan mencoba menceritakan apa yang saya lihat semalam sebelumnya, pelan dan serunut mungkin. Saya hanya ingin menyampaikan pesan agar kewaspadaan dan patroli keamanan ditingkatkan. Syukur-syukur apabila tidak terjadi kehilangan barang apapun. Demikian usai bercerita, hati dan pikiran saya serasa plong. Paling tidak semampu apa yang bisa saya lakukan saya ingin beramar makruf wa nahi munkar. Dan alhamdulillah, hingga saya menulis lanjutan tulisan ini, saya masih diberikan perlindungan oleh-Nya. Masih baik-baik saja. Semoga!

Ngisor Blimbing, 27 November 2014


Filed under: Jagad Bubrah Tagged: pencuri
Filed under: Related Post, Tips & Tricks, Videos

Selamat malam

-

Mastop Story

on 2014-11-26 12:11pm GMT

Sudah beberapa hari gak ngeblok. Kangen rasanya. Pekerjaan akhir-akhir ini begitu padat. Hanya punya sedikit waktu. Tentunya itu waktu untuk melepas lelah.

Dan malam ini walaupun mendung tapi tak hujan. Dan waktu yang mengasikan untuk menyapa dunia maya. Sambil menyruput secangkir kopi hangat. Mantap.


Bu guru….saya ingin sepertimu

-

Mbak Miu

on 2014-11-25 9:55am GMT

Jika judul ini kurang nyambung….harap maklum, penulis menulis dalam keadaan sangat gembira…hihihi

Selama bekerja di dunia pendidikan, saya mengamati sekaligus mendapat pengalaman yang sangat luar biasa banyak dan berharga. Rekan guru yang bekerja dengan professional serta taat pada aturan yang berlaku membuat saya lebih gigih lagi untk dapat berkarya.  MGMP, KKG, PKG, kumpulan Dharma wanita dan istilah lain yang belum saya ketahui kini mulai saya pahami (semakin greget untuk saya menimba ilmu).

Meskipun saya hanya sebatas lulusan SMA, namun semangat saya untuk mengabdi seperti senior saya sangatlah besar, para senior begitu mensupport agar saya dapat melanjutkan untuk study ke jenjang selanjutnya. ayo bu Muis kamu bisa !

Saya menyebut judul diatas “bu guru”, karena meman lazim sering dilafalkan. bukannya pak guru tidak ada, memang kebetulan  di tempat kerja saya keseluruhan adalah  wanita-wanita tangguh yang mengabdi untuk semuanya, Tuhan, alam, siswa, pemerintah, nusa bangsa.

Orang ini yang ingin jadi guru :)

Orang ini yang ingin jadi guru :)

Saya mendapati sosok ibu Kepala Sekolah yang begitu perhatian dan semangat bekerjanya membara. Leader yang membawa anak buah berbagai karakter untuk bersatu bersama membangun kualitas secara keseluruhan.

Saya mendapati bu guru-bu guru yang selalu membimbing saya dalam tugas serta mengarahkan pada kebaikan layaknya orang tua saya sendiri. (hiks, jadi inget ortu)

Saya mendapati lingkungan pendidikan yang begitu membangun karakter manusia, memberikan kemudahan dalam belajar serta lingkungan yan nyaman. Kebetulan tempat kerja saya sekarang adalah saya pernah bersekolah di tempat ini sewaktu usia Sekolah Dasar. Tempat yang begitu mengena untuk dikenang dan dibanggakan. Disini saya mulai belajar daras 6 tahun dalam mencari jati diri.

Siang itu… Setelah notulen saya tulis untuk mengibarkan bendera PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia),  saya hanya berfikir, lama juga bendera dikibarkan .Bendera tersebut dikibarkan selama 5 hari  sebagai peringatan Hari Guru yang puncaknya jatuh pada hari ini selasa, 25 November 2014. Di berbagai lembaga pendidikan, ada berbagai macam kegiatan menyambut hari Guru Nasional ini. Ada yang libur, sebagai bentuk perhatian untuk jasa Guru, ada yang mengadakan upacara bendera, paskibrakanya bapak dan ibu guru sendiri. dan banyak hal lain yang menarik dalam menyambut hari spesial ini.

Seamat untukmu guru….aku ingin sepertimu…

menjadi contoh… serta mendidik secara sempurna

membantu menemukan bakat dan keahlian kami

mengenalkan berbagai pengalaman berharga

berharap agar anak didiknya menjadi pribadi sukses lahir batin

SELAMAT HARI GURU NASIONAL :)

 


Di saat harga BBM kembali dinaikkan oleh pemerintah, orang-orang kembali ribut untuk mencari solusi alternatif pengganti BBM. Salah satu biofuel pengganti/subtitusi bensin adalah bioetanol. Gaung bioetanol pernah booming kurang lebih 8-10 tahunan yang lalu. Rasanya hampir semua orang berlomba-lomba membuat bioetanol, terutama dari singkong/pati. Kebun-kebun singkong dibangun di mana-mana. Pelatihan-pelatihan bioetanol berjamur dan selalu penuh pesertanya. Namun, ini yang sungguh membuat saya terheran-heran, realisasi bioetanol sebagai energi di Indonesia ternyata NOL. Saya ulangi lagi NOOOOL…sodara-sodara….. alias NIHIL….alias NGGAAKKK ADA. Data ini saya peroleh dari website/publikasinya Kementrian ESDM dan informasi langsung dari staf ESDM. Sungguh aneh.

Saya sudah membahasnya di artikel lain, mengapa bioetanol masih diperlukan di Indonesia. Bioetanol belum bisa digantikan oleh biogas, biosolar/biodiesel atau listrik. Kenapa….????? Karena semua motor dan sebagian besar kendaraan di Indonesia masih minum bensin/premium. Mesin bensin beda dengan mesin diesel apalagi mesin biogas atau mesin listrik.

Pemerintah sudah menaikkan harga premium menjadi Rp. 8.500 pr liter sejak seminggu yang lalu dengan alasan bahwa subsidi BBM sangat membebani anggaran negera. Terlepas dari pro dan kontra terhadap kebijakan pemerintah tersebut, saya hanya berharap agar momentum kenaikan BBM ini bisa menjadi momentum kebangkitan/kesadaran pemerintah dan bangsa ini untuk mengembangkan biofuel, khususnya bioetanol. Hanya saja, perasaan saya euforia bioetanol dan biofuel tidak seperti 8 tahun yang lalu. Program ini pernah tidak berjalan alias gagal, dan sepertinya orang-orang sudah trauma dengan kegagalan ini.

Saya jadi berfikir, kira-kira apa yang menyebabkan bioetanol tidak berkembang di Indonesia. Saya tidak punya banyak informasi. Informasi yang saya punya hanyalan informasi yang saya peroleh secara informal dari teman-teman yang pernah berkecimpung di dunia peretanolan jaman dulu, kenalan dari ESDM, dan teman-teman yang konsern dengan etanol.

Saya menduga bahwa salah satu penyebabnya adalah faktor ekonomis. Bioetanol di Indonesia yang sudah siap untuk diproduksi dalam skala masal adalah bietanol dari molases, nira, dan singkong atau sumber pati-patian yang lain. Bioetanol dari molases dan nira adalah yang paling mudah. Industri ini sudah berdiri sejak dulu kala dengan nama Pabrik Spirtus. Beberapa pabrik spirtus ada di beberapa tempat, terutama yang ada di dekat pabrik gula (PG). Produknya adalah spirtus yang berwarna biru. Spirtus ini adalah bioetanol yang diberi pewarna biru. Jika akan digunakan sebagai bioethanol fuel grade (EFG), perlu ditingkatkan kemurniannya menjadi 99%. Nah…problemnya adalah masalah harga bioetanol itu.

Spirtus kalau tidak salah harganya kurang lebih 15 rb per liter, padahal kadar etanolnya sekitar 60%. Ethanol 95% yang dijual di apotik atau toko kimia dijual dengan harga Rp. 25rb – Rp. 30rb. Saya biasa menggunakan etanol ini untuk disinfektan di lab. Biofuel yang kadar etanolnya 99%, harganya berapa….????????? Konon, jaman dulu pertamina membelinya dengan harga Rp. 5.500/L. Sekarang mungkin harganya naik, tetapi saya tidak tahu berapa tepatnya.

Bagi pengusaha, bagaimana mungkin membuat barang (dalam hal ini bioetanol) yang sangat murni (99%) dengan tahapan yang lebih zulit, rumit, dan biayanya lebih besar, tetapi harganya muurraaahhh. Lebih murah daripada barang yang sama dengan kemurniana cuma 60%. Sungguh-sungguh tidak masuk di akal, bukan….?????!!!!! Itulah Indonesia.

Bahan baku bioetanol berikutnya adalah dari singkong atau bahan lain yang mengandung pati tinggi, seperti: sorgum, sagu, ganyong, dan lain-lain. Singkong sudah di tanam besar-besaran di berbagai daerah di Indonesia. Kabar angin juga, perusahaan-perusahaan besar nasional yang bergerak di bidang energi terbarukan juga sudah menginvestasikan untuk menanam singkong di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Bahkan, kabarnya mereka juga sudah membangun pabrik bioetanol. Kabar terakhir pabrik ini tidak berjalan.

Bioetanol dari singkong atau dari umbi-umbian yang lain membutuhkan langkah proses yang lebih panjang dari pada etanol dari molases atau dari nira. Tambah satu proses lagi, yaitu hidrolisis. Hidrolisis bisa menggunakan asam atau enzime. Kendalanya adalah ketersediaan enzime ini dan harga enzimenya. Gula hasil hidrolisis enzimatik mesti segera difermentasi, kalau tidak akan segera terfermentasi sendiri menjadi asam. Repot, kan. Lebih konyol lagi, harga singkong melonjak hingga 300%nya sejak isu bioetanol dari singkong ini berkembang. Meningkatnya harga bahan baku ini menyebabkan biaya produksinya juga meningkat.

Tantangan lainnya adalah bioetanol dari singkong berkompetisi dengan tepung tapioka. Proses pembuatan tempung tapioka jauh lebih sederhana daripada proses pembuatan bioetanol. Gampangnya, cuma diparut, diperes, dicuci, dan diendapkan saja. Semuanya proses fisik dan tidak melibatkan proses kimia. Harga jual tepung tapioka pun juga lumayan tinggi. Pabrik bioetanol dari singkong tidak bisa bersaing dengan pabrik tepung tapioka. Tragis.

Alternatif berikutnya adalah bioetanol dari lignoselulosa. Secara teoritik, bioetanol ini sangat menjajikan. Indonesia memiliki biomassa yang sangat melimbah. Kalau dikonversi secara matematik potensinya sangat besar. Ini baru dihitung dari limbah biomassa agroindustri, perkebunan, dan kehutanan. Belum lagi kalau biomassanya memang langsung dari tanaman yang ditanama khusus untuk produksi biomassa, akan semakin besar lagi potensinya.

Hanya saja….sayangnya…
Teknologi ini belum siap dalam skala besar. Beberapa pilot plan sudah dibagun di negara Eropa dan di Indonesia juga sudah ada pilot plant yang cukup besar. Masalahnya sama, proses produksi bioetanol dari biomassa lignoselulosa jauh lebih panjang dan lebih sulit daripada produksi bioetanol dari singkong. Tentu saja ini akan berakibat pada biaya produksinya. Setahu saya sampai saat ini belum ada teknologi yang murah untuk menghasilkan bioetanol dari lignoselulosa.

Dari bahan yang mudah saja masih berat apalagi membuat bioetanol dari bahan-bahan yang lebih sulit, lebih berat lagi menjualnya. Itulah kira-kira analisa saya, mengapa bioetanol belum berkembang di Indonesia.

Saya tetap optimis jika bioetanol tetap akan menjadi biofuel yang menjanjikan di masa depan. Namun kapan masa depan itu masih belum jelas. Saya berusaha untuk meneliti dan membuat bioetanol dari biomassa dan mengembangak cara-cara yang bisa lebih murah dari teknologi saat ini. Penelitian semacam ini, meskipun belum terlihat potensi ekonominya dalam jangka pendek, tetapi seyogyanya didukung oleh pemerintah atau industri terkait. Kalau tidak, kemungkinan kita akan tetap dan terus menjadi konsumen teknologi di masa depan. Penelitian-penelitian tentang biofuel/bioetanol dari biomassa sangat gencar di lakukan di luar negeri. Perlahan tetapi pasti mereka akan menemukan teknologi produksi yang murah dan bisa bersaing dengan BBM. Indonesia, kalau tidak mengejar akan tertinggal dan akhirnya menyerah untuk menggunakan teknologi mereka. Semoga ini tidak terjadi.

Wallahua’lam.


Semenjak digelar rutin setiap tahun dari 2012, baru kali itu saya berkesempatan untuk merapat ke acara Kompasianival 2014. Kopdar Akbar para blogger yang tergabung dalam barisan Kompasianer ini bisa jadi merupakan kopdar terbesar di tahun 2014 ini. Sebelumnya memang ada Pesta Blogger, Blogger Nusantara, ASEAN Blogger Festival, ataupun Festival TIK yang juga menjadi ajang temu darat para penulis online yang juga dikenal sebagai citizen journalist.

Kompasianival kali ing mengusung tema “Kompasianival 2014: Aksi untuk Indonesia”. Kejutan pertama yang sangat berkesan dan memberi arti tersendiri justru hadir sejak di titik awal acara. Setelah kata sambutan yang disampaikan oleh Bang Adi Taslim dari pimpinan Kompasiana, acara dibuka oleh Ignatius Jonan. Siapa yang tidak kenal beliau? Ya, ia adalah mantan orang nomor satu di PT. KAI yang kini menahkodai Kementerian Perhubungan di Kabinet Kerja Jokowi-JK. Lalu kisah apakah yang dibagikan beliau di Kompasianival 2014?


Filed under: Jagad Blogger Tagged: Ignatius Jonan, kompasiana, Kompasianival, PT KAI

HIDUP GURU  !
Selamat hari GURU Nasional ke 69. Semoga tetap jaya.
Para guru SDN Salaman 1 merayakan hari guru yang ke 69 dengan penuh kesederhanaan. Hemm. cukup dengan nasi kluban dan telor ayam. Yang pasti, ini tidak menggunakan dana BOS lho! patungan tentunya.

Yang pasti bagaimanapun merayakannya, harapannya tetap satu, sukses pendidikan di Indonesia, semoga anak didik kita kelak menjadi orang-orang yang bermanfaat bagi agama, negara, dan masyarakat. HIDUP GURUUUUUU!


Salah satu sekolah tua yang masih tegak berdiri yaitu SDN Salaman 01 yang berada di Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang. Tidak menutup kemungkinan sekolah tersebut merupakan sekolah tertua di Kabupaten Magelang

Malam itu waktu Isya’ baru sesaat berlalu. Ketika hendak berwudlu di kamar mandi sudut rumah, justru mendengar suara klotak-klutik di sisi luar dinding. Sedikit berdebar, namun saya putuskan mengambil senter dan bergegas keluar. Kaki saya menuntun untuk melangkah ke samping rumah. Sejenak saya amati suasana sekeliling.  Nampak hening dan suara yang tadi menarik kecurigaan justru tak terdengar lagi. Akan tetapi pada saat sorot lampu senter menapaki dinding di pojokan rumah yang berbatasan langsung dengan pabrik di belakang rumah, ada sesuatu yang patut dianggap aneh. Ada sebatang tangga bambu tersandar di dinding!

Ketika sorot lampu senter coba saya edarkan ke sekeliling dengan lebih seksama, lho kok di kandang sapi terdapat bayang-bayang seseorang. Rupanya tubuh seseorang tertangkap cahaya yang lumayan terang temaram. Sosok tersebut kemudian melangkah mendekati saya. Dengan memberanikan diri, saya bertanya kepada sosok yang tidak sempat saya sorot raut mukanya tersebut. “Malam-malam sedang mbenerin apaan Bang?” saya mencoba membuka pembicaraan dengan pertanyaan netral.

Sang empunya bayangan sedikit tergagap. Dengan nada ragu ia menjawab, “Aanu, nggak ngapa-ngapain kok!” Sebuah jawaban yang justru membuat saya bercuriga.

Oo tak kirain lagi mebenerin sesuatu“, sanggah saya tetep menahan untuk tetap ramah bertanya.  Seketika itu justru yang terlontar sebagai tanggapan malah perkataan mbulet yang semakin aneh. Ia sempat menyatakan bahwa apa yang tengah dikerjakannya merupakan bagian pengerjaan proyek di lingkungan pabrik di belakang tembok. Saya hanya ao-ao-ao tok, mencoba untuk memahami apa yang dimaksudkannya. Tetapi saya masih enggan beranjak.

Dalam hati dan pikiran, saya sama sekali tidak percaya dengan keterangan-keterangan bayangan hitam ini. Logika saya, kalau pengerjaan proyek kenapa malam-malam pakai tangga memanjat tembok? Padahal di balik tembok masih dipagari dengan rumpun baris bambu, serta deretan pohon kelapa dan mahoni yang memagari area pabrik. Hmm, sungguh aneh!

Nah, melihat saya justru agak berlama mencoba mendengarkan jawaban yang semakin nggladrah, tiba-tiba muncul suara tanpa raga justru dengan nada tinggi penuh rasa emosi! “Apa urusannya nanya-nanya! Udah dibilingin urusan proyek pabrik!” Saya sungguh sangat terkejut dengan suara tanpa penampakan badan tersebut. Saya jadi deg-degan. Berarti  orang yang saya hadapi tidak hanya satu orang. Entah dua, tiga, lima atau segerombolan orang, saya tidak tahu pasti. Saya mulai berhitung.

Saya menyergah, “Lho lha yo wajar to saya tanya-tanya. Ini tempat tinggal saya, ketika mendengar suara-suara mencurigakan di malam hari, wajar dong kalau saya ngecek!”

Si suara dari kegelapan terdengar semakin emosi. Dia justru terkesan kehilangan kesabaran. Saya baru tersadar dan berpikir bahwa saya pastinya sedang berhadapan dengan sekawanan orang yang punya itikad tidak baik. Kalau saya teriak maling atau pencuri, sulit juga karena saya tidak melihat dengan mata kepala sendiri barang apa yang mereka curi. Namun naluri pikiran saya memastikan bahwa mereka pasti pencuri.


Filed under: Jagad Bubrah Tagged: maling, pencuri

image

Ini melanjutkan lagi posting sebelumnya tentang bercocok tanam di teras rumah. Awalnya cuma iseng-iseng saja, ternyata asik juga. Teras rumah yang cuma seuprit bisa untuk menanam sayur2an. Cara penanamannya organik dan tidak menggunakan pupuk kimia atau obat2a kimia. Jadi lebih sehat dan lebih aman.

Benih & Bibit Tanaman

Saya akan cerita mulai dari awal, benih tanaman sayur-sayuran. Kebetulan beberapa waktu yang lalu saya mudik ke kampung halaman di Magelang. Di kampung benih lokal tanaman sayuran harganya murah. Saya beli beberapa macam benih. Terutama benih-benih yang cocok di dataran rendah. Saya membeli banyak benih tanaman, seperti: bayam cabut, kangkung cabut, tomat, cabai rawit hijau, cabai rawit merah, terong unggu, terong lalap, kacang panjang, sawi hijau dan kobis (kol). Belinya cuma sekantong kecil saja. Jumlah itu sudah lebih dari cukup untuk menanam di halaman rumah.

image

Kangkung Cabut

image

Bayam cabut

image

Sawi

image

Cabai rawit merah

image

Krai

image

Kobis/kol putih

image

Cabai rawit

image

Tomat Buah

image

Cabai rawit

image

Terong Unggu

image

Kacang Panjang

image

Melon

Di Bogor juga ada tempat yang menjual bibit tanaman organik, yaitu di kebun BP2TP Cimanggu atau di outlet penjualan bibit deptan yang di taman kencana. Ada beberapa bibit sayuran yang dijual, yaitu: selada merah, kenikir, tomat, cabai, wortel, kailan, caisim, kacang panjang, bayam merah, lobak, bit merah, terong dan sayuran2 lain. Harganya pun cukup murah. Untuk bibit yang masih kecil dijual dengan harga Rp. 1000/polybag. Bibit yang besar dijual Rp. 2500-3000 per polybag.


Sebagai salah satu kota yang memegang peranan penting sebagai salah satu yang menjadi medan pertempuran melawan penjajah baik di jaman kolonial, kemerdekaan dan pasca kemerdekaan, Magelang tentu masih menyimpan banyak sekali benda-benda peninggalan sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Beberapa peninggalan benda-benda bersejarah tersebut hingga kini banyak yang masih tersimpan rapi di museum-museum yang ada di kota Magelang.

Nah, sebagai upaya untuk melestarikan dan ikut menjaga warisan peninggalan sejarah tadi, Komunitas Kota Toea Magelang bekerjasama dengan Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kota Magelang menyelenggarakan event : DJELADJAH MOESEOEM PERDJOEANGAN/BIKE TO MUSEUM, pada hari Minggu Wage lalu, tanggal 16 November 2014.

Dalam event ini, para peserta diajak berkeliling dan belajar mendalami mengenai seluk-beluk museum-museum yang ada di kota Magelang beserta barang-barang peninggalan yang tersimpan di dalamnya. Beberapa museum yang didatangi diantaranya adalah Museum Jenderal Sudirman, Museum Bumiputera, Museum Taruna Abdul Djalil, Museum Diponegoro dan Museum BPK.

Event ini sangat unik dan menarik, karena para peserta diajak berkeliling dari museum satu ke museum yang lain sambil bersepeda menikmati indahnya suasana kota Magelang.


Gambar dari hamidanwar.blogspot.com

Saya mendapatkan kiriman foto via Facebook dari teman yang menanam jagung di Tulungagung Jatim, Pak Agung Widiyanto. Dia mengirimkan foto2 tanaman jagungnya yang diberi pupuk dasar Promi. Batang jagungnya tumbuh besar dan jagungnya besar2. Berikut ini foto2 yang beliau kirimkan.

Info lain tentang Promi silahkan klik: Promi.

image

Foto batang jagung yang terlihat besar dan sehat.

image

Link komentar asli https://m.facebook.com/photo.php?fbid=878081758882151&id=100000410048681&set=p.878081758882151&source=47&ref=m_notif&notif_t=share_comment

Foto jagung ketika panen.


Penamaan daerah, tempat atau jalan dikenal sebagai toponim dan sudah dikenal masyarakat sejak awal keberadaannya. Kata toponim berasal dari bahasa Yunani topos dan nomos. Topos berarti tempat, sedangkan nomos berarti nama. Jadi pengertian toponim adalah nama suatu tempat. Dalam perkembangan selanjutnya, pengertian toponim tidak hanya pada nama suatu tempat tetapi lebih luas yaitu pada upaya […]
AGENDA KOTA TOEA MAGELANG – 16 November 2014 Kota Magelang di kenal juga sebagai kota perjuangan, bukan hanya karena di kota ini terdapat tangsi militer yang sudah ada sejak jaman Belanda. Akan tetapi tempat ini juga menjadi tempat perlawanan, dan perjuangan anak bangsa, baik di jaman kolonial, kemerdekaan dan pasca kemerdekaan. Berbagai peninggalan di jaman […]
Sempet ngikuti geger #TOGUA kan di timeline beberapa waktu lalu, yaps itu adalah ide Renaisan Jogja, ReBranding jogja setelah branding Jogja never ending asia yang sudah 15 tahun sudah saatnya diganti. Namun ternyata proses penggantian logo dan tagline bukan perkara mudah, hal ini terbukti saat soft launching langsung mendapat kritik pedas dari Butet dan Killthedj, […]

Sedekah Sedari Bocah

-

Sang Nananging Jagad

on 2014-11-20 2:18pm GMT

Kala itu senja menjelang matahari tenggelam. Mendung yang bergelayut seolah mengundang kelam malam untuk datang lebih awal. Sudah semenjak beberapa hari rintik hujan mulai turun dengan teratur di awal musim penghujan yang sudah sekian lama datang tertunda. Dalam suasana yang temaram numun terasa syahdu nan sejuk tersebut, Kanjeng Bapak baru menginjakkan kaki kembali di Ndalem Ngisor Blimbing setelah seharian penuh ngglidhik mengadu nasib di pusat kota.

Belum juga sempat mandi dan bebersih diri sebagaimana biasa menjelang kumandang adzan Maghrib, justru si Ponang tergopoh-gopoh menghampiri. Dengan ekspresi wajah sumringah ia segera berkisah, “Pak, mau bar jajan dijujuli dhuwit receh sewunan. Bar kuwi  aku sedekah ning pengemis tuwa sing ning gerbang sekolahan. Aku ikhlas lho Pak!” Intinya sang bocah bercerita bahwa ketika jajan di sekolah mendapatkan uang koin kembalian seribuan. Koin tersebut kemudian disedekahkan kepada pengemis tua yang ada di gerbang sekolah.

Subhanallah, pujian apalagi yang pantas terbatin di lubuk sanubari ke hadirat-Nya. Secara usia, si Ponang memang baru berusia enam tahun. Baru masuk SD dan sedang senang-senangnya bertemanan di sekolah baru, SD Panglima Jaya. Terhanyut dan terharu sungguh dalam Kanjeng Bapak demi mendengar kisah singkat dari buah hati tercintanya. Dengan anggukan yang mendalam, ia mengacungkan jempol memberikan apresiasi kepada si Ponang seraya berucap, “Pinter, Le! Alhamdulillah”.

Bagi seseorang yang diamanati Gusti Alloh untuk ngemong anak manusia, tentu besar harapan dan doa untuk menjadikan sang buah hati menjadi manusia yang berguna. Ya berguna bagi dirinya sendiri, berguna bagi kedua orang tuanya, berguna bagi keluarga, berguna bagi masyarakat, bangsa dan negara, serta wabil khusus berguna bagi agama-Nya. Maka tidaklah mengherankan bahkan semenjak si buah hati masih berada di alam kandungan, tak henti-hentinya kedua orang tua terus berdoa dan memohon agar dianugerahi anak yang berbakti, manusia utama yang berakhlakul karimah.

Manusia senantiasa hidup dalam serba keterbatasan karena daya nalar maupun upaya manusia juga sedemikian terbatas. Hanya atas segala limpahan nikmat karunia Tuhan, manusia mampu menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Demikian halnya perihal nggula wentah alias mendidik seorang bocah. Memang manusia diberikan keleluasaan untuk berikhtiar memberikan arahan dan didikan, namun jadi atau tidaknya seorang bocah untuk bertumbuh kembang menjadi manusia sejati di kelak kemudian hari, semuanya tidak lepas dari petunjuk dan hidayah Tuhan.

Pun ketika setiap orang tua berusaha mengajarkan serta menanamkan sifat-sifat kebajikan, seperti sifat welas asih berbagi dalam wujud perilaku sedekah. Di alam keluarga kecilnya, Kanjeng Bapak tidak pernah lupa untuk terus menerus tan kendhat mengajarkan perilaku bersyukur terhadap segala pemberian Tuhan melalui perantaraan siapapun atau apapun. Wujud dari rasa syukur itu antara lain dapat diterapkan dalam perilaku saling berbagi terhadap sesama, terlebih kepada saudara-saudara kita yang papa dalam hidupnya.

Sedekah semenjak usia bocah memang harus ditanamkan sebagai perilaku budi pekerti luhur yang kini semakin banyak ditinggalkan orang. Melalui laku sedekah, seorang bocah akan menanam benih rasa empati kepada manusia lain yang kurang beruntung dan serba kekurangan. Di samping mengharap berkah hikmah dari Tuhan, sedekah juga akan membentuk karakter  manusia yang diwarnai sifat-sifat terpuji. Andaikan semua manusia memiliki kelapangan hati untuk saling berbagi, alangkah indahnya kehidupan manusia. Mungkin Tuhanpun tak segan-segan untuk menurunkan sebagian daripada keindahan surga ke atas permukaan bumi.

Dengan sedekah rejeki melimpah. Dengan sedekah umur bertambah. Dengan sedekah hidup akan penuh berkah. Percayakah Anda dengannya?

Ngisor Blimbing, 20 November 2014

 


Filed under: Jagad Religi Tagged: Alam dan Lingkungan, hikmah sedekah, Ngisor Blimbing, sedekah
One Piece – FILM Z DOWNLOAD Source: http://www.imranxrhia.comFiled under: Download, One Piece, Related Post

Ironi Kenaikan BBM

-

Sang Nananging Jagad

on 2014-11-18 2:03pm GMT

Memang BBM versi Gus Mul dipanjangkan menjadi bola-bali mundhak, alias sering-sering naik harganya. Dan keputusan pemerintah untuk menaikkan harga BBM inilah yang menjadi hotnews di berbagai media semenjak malam tadi. Bagaimana tidak miris mendengar ketika sang presiden dengan kalimat datar memberikan pengumuman bahwa pemerintah memutuskan untuk memindahkan subsidi BBM ke sektor-sektor yang lebih produktif. Memang tidak bicara langsung menaikkan harga BBM, namun pada kenyataannya ya harganya memang naik to?

Kalau memang subsidi BBM telah sangat memberatkan neraca APBN yang dapat mengancam kepada defisit anggaran, rakyat pasti legowo jika selisih kenaikan harga BBM dipergunakan untuk menyelamatkan anggaran tersebut. Jika subsidi ternyata telah salah sasaran dan lebih banyak dinikmati kalangan menengah ke atas, sehingga subsidi tersebut perlu ditekan dan disalurkan kepada yang lebih berhak, pastinya rakyat setuja-setuju juga. Terlebih jika dana penghematan subsidi BBM disalurkan untuk dana kesehatan, pendidikan murah, infrastruktur jalan, rel, pelabuhan, bandara, irigasi, transportasi, dan lain-lainnya, sudah pasti rakyat mendukung sepenuh hati.

Bagaimanapun sebuah tujuan kemuliaan membutuhkan pengorbanan. Jer basuki mawa bea. NKRI yang bercita-cita mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, tentu memerlukan komitmen setiap komponen bangsa. Pun ketika kita semua dituntut untuk berprihatin sejenak dengan kenaikan harga BBM yang sudah pasti akan berefek domino menaikkan semua harga barang dan jasa yang lain, pastinya rakyat berharap agar setengah tahun atau setahun mendatang akan menikmati kemajuan pembangunan yang berarti. Ibarat berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Lha terus apa masalahnya jika semua pihak memiliki kesadaran untuk mengencangkan pinggang bersama pada saat ini?

Begini lho sedulur! Dengan menaikkan harga BBM, dengan mengurangi subsidi BBM, maka akan terjadi penghematan APBN yang cukup signifikan, konon mencapai angka 100 triliun dalam beberapa bulan. Namun siapa yang yakin bahwa dana penghematan tersebut tidak akan bocor dan salah sasaran lagi?

Bayangkan juga, di masa akhir tahun ketika rakyat berprihatan dan berkorban dengan membayar harga BBM yang semakin mengecil subsidinya, justru dalam kurun waktu yang bersamaan para birokrat penyelenggara negara sibuk berlomba-lomba menghabiskan anggaran. Ada proyek jalan, jembatan, saluran drainase, pemugaran sekolah, dll yang dikebut mengejar kalender akhir tahun. Bahkan untuk sekedar rapat, tak segan-segan aparatur pemerintah menyelenggarakannya di hotel-hotel mewah berbintang. Meskipun kita ketahui bersama bahwa Menteri PAN dan RB telah menginstruksikan agara para PNS tidak rapat di hotel, tetapi dalam praktiknya masih sangat banyak aparatur negara yang mengejar realisasi anggaran dengan rapat di hotel mewah.

Di samping modus rapat di hotel, konon banyak pula modus menghabiskan dana dengan cara menggeber kegiatan kerja lembur meskipun pekerjaan lemburnya tidak jelas dan mengada-ada. Coba Anda pikir dengan nalar yang jernih, apakah adil ketika seorang PNS yang hanya menunggu jam pulang dari jam 16.00 hingga pukul 19.00 mendapatkan honor hingga mencapai angka seperempat juta rupiah! Di saat seorang buruh pabrik bekerja long sift dan lembur, berapa sih uang saku yang ia kantongi?

Mungkin para menteri, bahkan presiden sendiri, harus blusukan ke hotel-hotel untuk menindak rapat-rapat hura-hura PNS yang tidak jelas. Demikian halnya pengawasan yang super ketat terhadap pelaksanaan lebur juga harus ditegakkan. Bagaimana mungkin negara dapat membangun jika di satu sisi rakyat maupun kalangan masyarakat yang lebih luas disuruh berprihatin dengan kenaikan berbagai harga kebutuhan sehari-hari akibat kenaikan harga BBM, namun di sisi yang lain para aparatur negara berfoya-foya dengan anggaran sisa yang belum terserap sebagaimana contoh di atas. Ah, saya sebagai bagian dari rakyat tentu saja tidak rela dengan perilaku tersebut. Bagaimana dengan Anda?

Ngisor Blimbing, 18 November 2014


Filed under: Jagad Bubrah Tagged: Jokowi, kenaikan BBM, subsidi

Sumber : www.procolourphotography.co.uk  Dalam memperingati hari jadi yang ke 40 tahun, New Armada Magelang, Minggu 9 November 2014 kemarin, menyelenggarakan Open Fun Bike & Road Race. Antusias peserta cukup tinggi, terbukti dengan banyaknya peserta yang datang dari luar daerah Magelang, seperti Temanggung , Purwokerto, Wonosobo, Semarang, Kudus Solo, Klaten, dan juga Jogja. Katanya sih
Mini drama Ada Apa Dengan Cinta (AADC) 2014 yang diluncurkan oleh LINE beberapa waktu yang lalu rupanya benar-benar mampu menarik perhatian khalayak, terutama generasi 80-90an. Mini Drama berdurasi sekitar 10 menit itu menceritakan kelanjutan kisah AADC 2002, tentang pertemuan kembali Cinta dan Rangga yang sudah terpisah selama 12 tahun.

Tentu saya tak akan menceritakan penuh bagaimana sinopsis mini drama tersebut. Karena sampeyan bisa lihat sendiri nanti di youtube. Atau kalau sampeyan cukup malas untuk buka youtube, ini saya kasih embed-an videonya, monggo ditonton dahulu sampai habis, baru baca lanjutannya.



Dalam artikel ini, saya ingin menjembrengkan beberapa pelajaran kehidupan yang bisa diambil dari mini drama AADC 2014 ini. Tentu berdasarkan analisis bodho saya, jadi harap maklum kalau agak menyimpang dari prinsip hidup Anda. Apa sajakah? Ini dia:

Para wanita diharap maklum dan mawas diri kalau di-PHP pria

Tak ada yang bisa membantah betapa indahnya makhluk bernama Dian Sastro itu (beruntung sekali kau Indraguna Sutowo!). Nah, di AADC 2014, jelas para wanita diperlihatkan sebuah ironi yang cukup menyakitkan. Bahwa Dian Sastro yang molek, sintal, dan cantiknya ngedap-edapi saja bisa kena PHP, bahkan sampai 12 tahun lamanya, apalagi para wanita yang berwajah standar yang bahkan untuk sekedar macak pun angel'e setengah modiar.

Jadi, jika Anda adalah wanita yang masih belum bisa menandingi kecantikan seorang Dian Sastro, jangan pernah mengeluh karena di-PHP, maklum dan mawas diri saja. Yakinlah, Gusti Alloh sudah mempersiapkan jalan asmara yang lebih asoy untuk Anda.

Jangan jadi bajingan kalau sampeyan tidak tampan

Kalau Anda ndak punya tampang seganteng Rangga/Nicholas Saputra (atau minimal setara dengan saya), maka buang jauh-jauh niat Anda untuk mem-PHP seorang wanita, apalagi sampai 12 tahun lamanya. Karena bagi wanita, tak ada sebutan lain yang lebih pantas kecuali bajingan untuk pria yang tega menggantungkan perasaan seorang wanita dalam kurun waktu 12 tahun, terkecuali kalau Anda seorang Rangga.

Percayalah, sebajingan-bajingannya Rangga, para cewek akan tetap meleleh kalau melihat tampang cool-nya Rangga. Bahkan pasti ada banyak yang sampai berteriak mentel, “Ranggaaaaaaaaa!”

Bajingan ndak apa-apa, yang penting Rangga.

Kalau mau minggat dari Wanita dan ingin terlihat Keren, ke Luar Negerilah

“Saya akan ke Jakarta besok, selama dua hari. Bisa ketemu?” Begitu pesan yang ditulis Rangga untuk Cinta lewat LINE. Pesan tersebut Jelas terlihat sangar dan flamboyan, karena si Rangga mengirim pesannya dari New York, belahan bumi lain yang jaraknya ribuan kilometer dari Jakarta—tempat Cinta menerima pesannya.

Jelas beda kalau pesan yang terkirim bunyinya: “Saya akan ke Wirobrajan besok, selama dua hari. Bisa ketemu?” Padahal si pengirim mengirim pesannya hanya dari Demak Ijo yang jaraknya cuma sak udutan.

Lak yo bedebah tho?.

Kalau ingin punya pesona romantis, bermain sajaklah

“Detik tidak pernah melangkah mundur, tapi kertas putih itu selalu ada.” Dialog pasif itu membuat Rangga terlihat sangat romantis dan berperasaan. Keromantisan Rangga bertambah dua kali lipat saat sajaknya dibalas oleh Cinta. “Waktu tidak pernah berjalan mundur, dan hari tidak pernah terulang. Tetapi pagi selalu menawarkan cerita yang baru.”

Tentu akan berbeda jika Rangga memulai dialog pasifnya dengan sebuah pantun, terlebih kalau pantunnya diawali dengan kalimat: “Masak aer! Biar mateng. Maaasak aeeer! Biar mateng. Maaaaaasak aeeeeerrr! Biar mateng.”

Pakailah LINE, bukan yang lain

Sebenarnya ini agak wagu, tapi mau bagaimana lagi? Lha wong mini drama Ada Apa Dengan Cinta (AADC) 2014 ini kan terselenggara juga karena LINE, jadi artikel ini akan sangat durhaka jika tidak menyebut si empunya gawe. Jadi tolong maklumi saja bagian ini.

_____
Terbit pertama kali di Mojok.co tanggal 11 November 2014

Lentera dari Rusia

-

Sang Nananging Jagad

on 2014-11-17 8:05am GMT

Pernah mendengar festival balon udara. Balon udara yang saya maksudkan tentu saja bukan balon isian gas karbit, tetapi balon yang diisi dengan asap yang bersumber dari titik api yang dipasang pada bagian bawah balon. Balon semacam ini banyak diterbangkan di daerah pedesaan Jawa Tengah, khususnya pada Hari Lebaran. Meski menurut saya tidak sepenuhnya tepat, kalangan masyarakat kota lebih akrab dengan istilah lantern. Lantern mungkin lebih tepat disetarakan dengan istilah lampion.

Berbeda dengan balon lebaran, lantern berukuran jauh lebih kecil. Mencermati kata “lantern” saya justru mengasosiasikannya dengan kata lentera. Lentera identik dengan pelita atau lampu berbahan bakar minyak yang dipergunakan sebagai penerang di kegelapan malam. Di masa kecil pada waktu kampung halaman kami belum terjamah listrik masuk desa, lentera alias lampu senthir menjadi penerang andalan untuk mendukung aktivitas masyarakat di kala malam.


Filed under: Jagad Budaya Tagged: balon lebaran, lantern, lantern festival


Rasa bangga terpancar pada semua warga SDN Salaman 1 setelah mendengar bahwa dua siswa dari SDN Salaman 1 memperoleh kejuaraan dalam Festifal Taekwondo yang diselenggarakan di Jakarta. Lomba yang berlangsung 13-14 Nopember 2014 ini melibatkan berbagai clup taekwondo di seluruh Indonesia.

Prestasi luar biasa ini diraih melalui beberapa tahapan lomba. Baik dari babak penyisihan sampai final hingga mampu memperoleh kejuaraan. Medali emas mampu diraih oleh anand Fata Wahyu Kardia sedangkan ananda Rafif Naufal Yudatama mampu menyabet medali perah dalam kelas yang berbeda.
Walaupun lomba tersebut bukan atas nama sekolah, namun tetaplah menjadi kebanggaan warga SDN Salaman 1 yang selalu memberikan motivasi kepada siswanya untuk terus maju raih prestasi melalui jalur manapun. Semoga ini menjadi inspirasi semua pihak terutama para siswa SDN Salaman 1 untuk terus maju. Selamat untuk mereka berdua.





Salah satu sekolah tua yang masih tegak berdiri yaitu SDN Salaman 01 yang berada di Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang. Tidak menutup kemungkinan sekolah tersebut merupakan sekolah tertua di Kabupaten Magelang
Gunung Bunder Bogor

Hutan di Gunung Bunder, Bogor

Saya suka memotret dan fotografi, tapi saya tidak punya waktu khusus untuk melalukan hobi saya ini. Saya memotret setiap ada kesempatan. Memotret apa saja. Dan seringkali memotret sambil jalan-jalan bersama keluarga. Salah satunya ketika memotret hutan di Gunung Bunder.

Awalnya kami ingin berangkat pagi-pagi biar bisa menikmati suasana alami di kaki gunung Salak. Sayangnya, pagi ini Abim mesti les di sekolah. Jadinya kami berangkat setelah Abim selesai les.

Kali ini saya ingin mencari jalur baru dengan bantuan Google Maps. Sayangnya Google Maps masih belum ‘mengenal’ jalur di pinggiran kota Bogor. Bukannya cepat sampai malah kami tempuh dengan waktu yang lebih lama.

Sampai di Gunung Bunder sudah pukul 1 siang lebih. Jam segini biasanya Bogor hujan. Bener saja, langit mulai mendung dan air mulai jatuh rintik-rintik. Buyarlah acara jalan-jalan di hutan kali ini. Bahkan saya belum sempat memotret sekali pun.

Kami kembali ke mobil dan naik sampai ke kawasan perkemahan Kawah Ratu. Hujan semakin deras. Praktis kami tidak bisa ke mana-mana. Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke bawah. Dalam perjalanan turun ini, Royan yang menyetir. Mobil berjalan perlahan-lahan. Saya jadi punya kesempatan untuk main-main dengan kamera saya.

Sepanjang perjalanan saya melihat suasana hutan yang terlihat mistis. Pohon-pohon pinus yang rapat tersamar di balik derasnya hujan. Sesekali saya membuka kaca dan memotret dari dalam mobil.

Sampai di satu tempat saya melihat pemandangan hutan yang fotogenik. Meski hujan cukup deras, saya nekad turun dari mobil dan membawa kamera saya. Kami lupa tidak membawa payung, jadi saya memotret sambil hujan-hujan.

Saya memotret cukup banyak dalam perjalanan pulang ini. Saya menggunakan lensa normal 28mm f/2.8 dan iso >1000 dan kecepatan rana 1/25. Saya pakai iso tinggi dan bukaan rana yang lambat karena suasana hujan deras dan cahaya minim. Saya juga tidak ingin memakai lampu flash.

Cukup banyak saya mengambil foto. Sayang tidak semua foto hasilnya bagus. Maklum saya memotret sambil kedinginan dan tidak bisa konsentrasi penuh.

Saya olah dengan program aplikasi standard fotografer amatir: Lighroom. Hanya ada beberapa foto yang saya suka. Salah satunya foto di atas.

Dalam beberapa foto saya berhasil menangkap suasana mistis hutan Gunung Bunder. Tadinya saya agak was-was kalau ada kenampakan di foto saya.

image

Di Gunung Bunder ada hutan yang fotogenik dan sepertinya cocok untuk foto2 prewed atau foto outdoor. Suasanya mirip suasana musim gugur di negara sub tropis.

Lain waktu saya ingin datang dan memotret lagi di Gunung Bunder. Kalau perlu saya mau camping agar bisa memotret dengan suasana dan cuaca yang berbeda-beda. Insya Allah.


Jutaan sel sperma berenang-renang memperebutkan satu sel telur, tetapi hanya ada satu yang akan saling bertemu, dan kemudian…. DHUARR terjadilah pembuahan alias cikal bakal kita, para manusia. Yap, kita adalah hasil pertemuan tersebut, the one and only! *opo toh*. Oke, oke, saya ga bakal bahas terlalu jauh tentang pembuahan karena bukan ranah saya, da aku mah apa tuh..dokter Boyke juga bukan ih..

Jadi begini, beberapa waktu lalu saya nemu video di facebook tentang “Perkembangan Janin di Dalam Rahim Ibu”. Full, dari awal si sperma rebutan sel telur sampai akhirnya lahir seorang bayi mungil ke dunia yang fana ini. Suer tekewer-kewer, video ini berhasil bikin saya terpukau, takjub, dan mewek (kalau nonton sendirian). Sebuah proses yang begitu panjang dan begitu menakjubkan yang dialami oleh setiap manusia sebelum mereka melihat dunia ini benar-benar membuktikan kebesaran Allah. Sungguh begitu hebatnya Dia.

Adakah teman-teman yang udah liat video “perkembangan janin di dalam rahim ibu” di nyutub atau facebook? Videonya emang udah lama banget sih, cuma sayanya aja yang baru nemu. Hehehe. Atau ternyata ada yang belum liat? Kalau belum, tenang aja, bakal saya share nih videonya.

Tanpa banyak basa-basi lagi, monggo disimak baik-baik dan lihat apa yang akan terjadi. Apakah pipimu langsung dibanjiri air mata dan pengen ketemu emak? Eaaa. Kalau saya sih langsung kebayang wajah emak *padahal emaknya lagi masak di dapur*. Aaah.. makasih emak udah ngizinin saya tinggal 9 bulan di dalam rahimmu dan menggembol saya kesana-kemari. Makasih juga babeh yang sudah ‘menanam’ bibitnya. Hihihihi… peluk dan cium untuk kalian. Muah.. muah..

 

Video Perkembangan Janin di Dalam Rahim Ibu

*sumber video dari youtube

Gunung Bunder Bogor

Hutan di Gunung Bunder, Bogor

Gunung Bunder adalah salah satu wanawisata di kaki Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat. Ada banyak curug atau air terjun dan bumi perkemahan. Gunung Bunder bisa jadi salah sarana melepas penat bersama keluarga.

Jika ada waktu luang, kami sekeluarga lebih suka menghabiskan waktu bersama di alam bebas. Jalan-jalan ke Kebun Raya atau ke hutan-hutan di kaki gunung Salak, salah satunya Gunung Bunder yang ada di Ciampea.

Ini koordinate Gunung Bunder untuk mengetahui posisi dan rute menggunakan Google Maps atau Waze:

Kembali Setelah 11 Tahun

Saya pertama kali ke tempat ini sekitar tahun 2000an dulu.  Waktu itu ikutan champing dan hiking dengan teman-teman kota Bogor. Seingat saya dulu tempatnya masih sepi dan asri. Jalan menuju ke sana masih sempit dan jelek. ‘Camping ground’-nya di bawah pepohonan pinus. Di pinggir-pingir camping ground ada beberapa warung yang menjual minuman panas dan mie instan. Ada juga penjual asongan dari warga sekitar. Ada mushola dan toilet yang airnya lancar.

Kini setelah kurang lebih 11 tahunan tidak ke Gunung Bunder, kami main ke sana lagi. Kami melalui rute yang sama: Laladon – IPB Dramaga – Ciampea – dan naik ke Gunung Bunder. Laladon dan IPB Dramaga adalah jalur macet. Untungnya ketika berangkat perjalanan lancar jaya. Jarak 22 km kami tempuh dalam waktu kurang lebih satu jam. 

(Bayangkan! Di Bogor kecepatan  22km/1 jam termasuk lancar. Waktu di Jogja dulu 1 jam jarak tempuhnya 60km. Lebih parah waktu pulangnya, 22 km ditempuh dalam waktu 2,5 jam.)

Ada banyak perubahan di jalur ini. Pertama, kemacetan di Dramaga semakin parah. Mungkin karena kampus semakin ramai. Kedua, banyak villa di bangun di sekitar lokasi wana wisata. Bahkan ada juga istal kuda.


Bermain dengan waktu luang

-

Mas Ivan

on 2014-11-15 2:24pm GMT

Dalam makna positif, bermain waktu luang bukan berarti menghamburkan waktu begitu saja untuk kegiatan tak penting. Perlu kolaborasi utuh terkait hal ini agar otak kiri dan otak kanan agar keduanya mampu sejalan. Otak kanan memandu kreatifitas, otak kiri menjadi eksekutornya dimana ide tak hanya sekedar ide, namun mampu menjadi nyata dan punya rupa yang akhirnya bermanfaat.

Sebut saja contoh malam ini. Saat flu hinggap yang konon sedang beradu kanuragan dengan imun di badan, ngalir sejumput ide sembari ngonline ; “ingin buatkan website resmi sekolah, yang idenya datang lantaran istri pernah nyeletuk kalo Bu Kepala Sekolah pingin SDN Banyurojo 1 segera punya website khusus untuk publikasi ragam kegiatan sekolah, juga prestasi anak didiknya”.

Dan tak butuh panjang tangan panjang waktu, bim salabim kerangka web-pun jadi yang tinggal nunggu beberapa waktu (entah hitungan jam, hari atau bulan) supaya website rampung baik dari sisi tampilan, pendaftaran domain, juga pembiayaan lantaran kewenangan publikasi berada di tangan kepala sekolah, bukan siempunya ide malam ini yang sekedar ingin bermain waktu luang,  supaya lebih bermanfaat dan tak lewat begitu saja.

Satu pelajaran berarti ; “bermain waktu luang bukan menghamburkan waktu begitu saja, namun mengisinya dengan ragam kegiatan positif syarat makna, sesuai dengan kreatifitas plus hobi yang kita punya”.

 

Kalau kita sempat mengingat November Rain dari Guns and Roses, tentu kita tidak menolak bahwa bulan November memang merupakan tahapan menuju puncak bulan penghujan. Bukankah setelah November segera datang bulan Desember yang merupakan gedhe-gedhene sumber. Bahkan selanjutnya datang pula bulan Januari yang identik dengan hujan sehari-hari. Kedua bulan terakhir dari pengalaman nenek moyang dinyatakan sebagai puncak musim penghujan.


Filed under: Jagad Alam

Bakalan ada acara seru di Bulan Desember ini untuk teman-teman blogger ataupun calon blogger di Jogjakarta. Gelaran perdana #PassionBlogging ini dipersembahkan oleh Qwords bekerjasama dengan Komunitas Emak-emak Blogger dan Komunitas Blogger Magelang ( Pendekartidar ). Dunia Blogging sempat mencapai puncaknya dengan adanya pencanangan Hari Blogger Nasional setiap tanggal 27 Oktober 2014, lalu kembali meredup karena […]


Mengelak memang tak melulu soal mental, mengelak terkadang juga perkara skill. Baik mental maupun skill memang sifatnya alamiah, namun jelas bisa terbentuk melalui latihan dan pengalaman.

Suatu ketika, Jonson dan Sri istrinya ingin mencari sensasi baru dalam bercinta. Berbekal referensi video porno 3gp yang pernah mereka tonton, akhirnya Jonson dan Sri memutuskan untuk mencoba sensasi bercumbu secara outdoor, alias di luar ruangan.

“Sri, gimana kalau kita coba di luar rumah Sri, kita coba malam hari buta ini, kan rumah kita agak pelosok, jadi kalau malam pasti jarang yang lewat, gimana Sri menurutmu?”, usul Jonson kepada Istrinya.

Maka, sebagai istri yang baik lagi manutan, Sri pun mengiyakan usul suami tercintanya. Terlebih, ia sendiri juga penasaran dan sangat ingin juga merasakan sensasi bercinta di luar rumah. “Iya mas, nanti malam ya!”, tukas Sri singkat.

Singkat cerita, selepas jam 11 malam. Jonson dan Sri sudah bersiap di amben depan rumah. Dengan aba-aba kedipan mata dari Jonson, keduanya langsung menanggalkan busananya masing-masing hingga keduanya benar-benar telanjang bulat tanpa sehelai benang pun yang menutupi. Karena ini adalah pengalaman pertama bagi mereka telanjang di luar rumah, keduanya pun tampak canggung dan takut, sesekali baik Jonson maupun Sri tolah-toleh kanan-kiri, takut kalau-kalau ada orang yang lewat.

“Ah, Sri, kalau begini, malah jadi ndak tenang, bakalan ndak khusyuk nanti kita tempurnya!”

“Pakai Sarung aja gimana mas? jadi kita mainnya di dalam sarung gitu!”, usul Sri

“Ciamik, ide bagus Sri, sek, tak ambil sarung dulu!”, kata Jonson sambil langsung beringsut masuk ke dalam rumah untuk mengambil sarung.

Begitu sarung diambil, keduanya pun langsung mengatur posisi. Mula-mula Jonson yang menyelimuti badannya dengan sarung, lalu kemudian, Sri masuk ke dalam sisa-sisa rongga sarung. Kedua insan itupun resmi terbalut dalam satu jalinan kain. Proses Lock and Key pun terjadi.

Adegan berikutnya, tak perlu saya terangkan, saya yakin, anda cukup kompeten untuk membayangkannya.

Selama beberepa menit, mereka bedua tenggelam dalam keasyikan birahi yang maha dahsyat.

Saking asyiknya mereka berjimak, hingga tanpa sadar, Bagio tetangga satu RT mereka lewat di jalan depan rumah mereka. Ndilalah, waktu itu, Bagio memang sedang berangkat kerja, karena Bagio dapat jatah shift malam untuk jaga di pabrik tempatnya bekerja.

Melihat adegan yang sedemikian aneh di amben depan rumah jonson, Bagio pun kemudian mencoba mengamati lebih seksama. Dalam cahaya yang temaram, nampak olehnya kepala Jonson yang mecungul dari balik sarung, kepala Jonson bergerak tak beraturan sambil tersengal-sengal.

Bagio pun curiga, Ia yakin bahwa Jonson sedang terjebak dalam sebuah pergumulan. Bagio pun kemudian mencoba memastikan.

“Soooon, lagi apa kamu?”, teriak Bagio

Demi mendengar suara teriakan tersebut, Jonson dan Sri tercekat dan kaget setengah mati. Jonson kemudian menoleh ke arah sumber suara yang ternyata berasal dari Bagio. Beruntung bagi Jonson karena rupanya posisi Sri agak membungkuk, sehingga di luar sarung, hanya kepasa Jonson yang terlihat.

“Ng..ng..Nggak lagi apa-apa, cuma njingkrung krukupan sarung kok yo!”, jawab Jonson dengan tergugup.

“Krukupan sama siapa, kok kelihatannya kamu ndak sendiri?”, tanya Bagio lagi.

“Sama siapa?, Lha yo krukupan sendiri tho, emangnya kamu ndak lihat?”, kata Jonson setengah teriak, mencoba mengamankan harga dirinya.

“Krukupan sendiri ndasmu, Krukupan sendiri kok kakinya ada empat!”.

KENDURI CINTA | NEGERI SETENGAH HATI | 14 November 2014, 20:00 WIB | Taman Ismail Marzuki, Jakarta

KC Nov 2014

 

 


Filed under: Jagad Maiyyah Tagged: Emha Ainun Nadjib, kenduri cinta, maiyyah

Nasi Goreng Gulung Pattaya

-

ikhsan.web.id

on 2014-11-12 5:32pm GMT
Nasi goreng dengan pelengkap berupa telur dadar mungkin sudah menjadi pilihan makanan yang sering disantap oleh banyak keluarga di Indonesia. Namun, tidak ada salahnya Anda mencoba resep bakso nasi goreng gulung Pattaya yang disajikan dengan penampilan dan rasa yang berbeda sehingga keluarga tidak bosan dengan menu nasi goreng yang itu-itu saja.

Untuk membuat nasi goreng khas Thailand ini, Anda memerlukan sepiring nasi putih dingin. Ada perlu menghaluskan 1 bawang merah, 3 bawang putih, dan 3 cabe merah. Bumbu halus ini kemudian Anda tumis dengan satu sendok makan minyak hingga harum. Barulah kemudian Anda bisa memasukkan 1 paha ayam yang sudah disuwir hingga matang. Selanjutnya, Anda harus memasukkan 1 sendok makan saus tiram, 1 sendok makan kecap manis, dan garam secukupnya. Setelah itu, Anda bisa memasukkan irisan sayuran seperti daun bawang, wortel, maupun kacang polong sesuai selera. Setelah sayuran setengah matang, Anda bisa memasukkan nasi putih sembari jangan lupa diaduk hingga tumisan tercampur sempurna dengan nasi. Terakhir, Anda bisa memasukkan lada. Namun, proses pembuatan nasi goreng belum selesai karena Anda masih perlu mengocok 2 butir telur yang ditambahkan sedikit garam untuk kemudian didadar tipis dengan wajan yang berisi mentega.

Anda bisa membungkus nasi goreng yang sudah matang tadi di dalam telur dadar seperti membungkus martabak. Anda hanya perlu menambahkan saus sambal dan nasi goreng gulung Pattaya siap dinikmati.
Mungkin diantara sampeyan sudah ada yang tahu atau bahkan familiar dengan yang namanya Relawan TIK, namun jika ndilalah sampeyan belum tahu sama sekali dengan Relawan TIK, perkenankan saya menjelaskan sedikit tentang Relawan TIK. Jadi, Relawan TIK adalah organisasi yang digagas oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) yang bertujuan untuk melakukan edukasi kepada masyarakat agar dapat memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi dengan baik. Sesuai dengan namanya, organisasi ini beranggotakan para sukarelawan-sukarelawan yang bekerja sukarela tanpa honor, yah, sekedar mengharap ridho dan pahala dari Gusti Alloh semata.

Relawan TIK sudah mempunyai anak cabang organisasi yang terbagi dalam tiap-tiap wilayah, baik wilayah provinsi, maupun Kota/kabupaten.

Nah, ndilalah, ternyata Relawan TIK regional Magelang belum ada. Untuk itulah saya menuliskan artikel ini, karena saya kan mereportasekan tentang pembentukan Relawan TIK Magelang yang baru berdiri beberapa hari yang lalu.

Gagasan untuk membentuk Relawan TIK ini muncul dari Kang Denden Sofiudin atau yang lebih dikenal sebagai Kang Dobelden, beliau adalah dedengkot Relawan TIK Cianjur yang ndilalah punya ikatan batin yang teramat kuat dengan Magelang. Gagasan untuk membentuk Relawan TIK Magelang ini makin besar tatkala Kang Dobelden pindah kantor ke Jogja.

Akhirnya, tanggal 14 Oktober 2014 lalu, Mas Dobelden Bersama dua rekannya, mas Dede Anto (qwords.com) dan Mas Irman Ariadi (Combine resource) datang ke Magelang untuk mengumpulkan kawan-kawan blogger Magelang (Pendekar Tidar) untuk membahas tentang rencana pembentukan Relawan TIK Magelang.



Dalam rembug pertemuan yang diselenggarakan di warung makan Kuncung Bawuk dan dihadiri oleh beberapa blogger tersebut, disepakati akan ada pertemuan lanjutan dalam rangka pembentukan Relawan TIK Magelang.

Belum jua digelar pertemuan lanjutan, Ketua Relawan TIK, Fajar Eri Dianto malah menawarkan slot untuk pengukuhan Relawan TIK Magelang di sela-sela acara diskusi di event Jagongan Media Rakyat tanggal 25 Oktober 2014.



Relawan TIK Magelang pun akhirnya dikukuhkan, padahal belum resmi dibentuk.

Tanggal 8 November 2014, diselenggarakanlah rembugan lanjutan di Kedai Kopi Wayangan, depan Borobudur Golf (awalnya venue direncanakan di Warung makan Voor de Tidar, namun ternyata tutup). Dalam rembugan lanjutan inilah akhirnya disepakati terbentuknya relawan TIK Magelang.







Adapun struktur organisasinya adalah:

Dewan Pelindung
WALIKOTA MAGELANG
BUPATI KAB. MAGELANG

Dewan Pembina
Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Magelang
Ketua Wilayah Relawan TIK Jawa Tengah
DENDEN SOFIUDIN
NANANG TRI AGUNG

Ketua
YUDHA KARYADI DAHLAN

Sekretaris
AGUS MULYADI

Bendahara
AHMAD MUTOHAR

Koordinator Humas
NIKITOMI

Koordinator Literasi
MUHAMMAD AVIV NASIRUDIN

Koordinator Kaderisasi
SAIPURWANTO

Anggota
MUHLISIN
ANDRI BUDI PRASETYO
ARIEF WAHYU NUGROHO
MUHAMMAD HANAFI
IVAN PURNAWAN
NURHAYAT
SASONGKO
MUHAMMAD NAHDHI AHSAN
EKO ARDIAN NUGROHO
DENI
RIZKY AMALIA
KUKUH SETIAWAN
IKHSANUDIN
ARDIAN GANI S


Nah, begitulah sejarah singkat pembentukan Relawan TIK Magelang sodara-sodara. Besar harapan kami agar Relawan TIK Magelang bisa meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi secara baik dan efektif.

Manusia Terbaik

-

Li-s.in

on 2014-11-11 5:51am GMT

Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaknya

Untuk pertanyaan seputar Cinta

-

Mas Ivan

on 2014-11-10 5:53pm GMT

Sebelumnya, film awal terproduksi dan laris tersuguh kepublik tahun 2002 lalu. Teringat jelas masa itu, sajiannya mampu bius generasi muda dan bawa atmosfer baru kisah kasih sekolah, atau sekedar tren sesaat seperti ; kaos kaki panjang untuk para wanita, lagak keren dan smart seperti pemain pria, juga munculnya beragam komunitas kecil di sekolah, sejurus dengan gambaran yang ada dalam tayangannya.

“Adalah cinta yang mengubah jalannya waktu. Karena cinta, waktu terbagi dua. Denganmu, dan rindu untuk kembali kemasa”. Yup’s…begitulah sejumput mukadimah sajak cinta yang terdengar syahdu melalui mulut seorang bernama Rangga di mini drama Ada Apa Dengan Cinta 2. Setelahnya, pungkasan dialog singkat antara Cinta dan Rangga-pun apik tersemat;

Cinta : Jadi beda satu purnama di New York dan Jakarta ?
Rangga : Detik tidak pernah melangkah mundur, tapi kertas putih itu selalu ada !
Cinta : Waktu tidak pernah berjalan mundur dan hari tidak pernah terulang, tetapi pagi selalu menawarkan cerita baru.
Rangga : Untuk semua pertanyaan…yang belum sempat terjawab.”

Tak ingin munafik dengan apa yang dibicarakan hati, jelas terproduksinya tayangan mini drama tersebut ingatkan masa-masa sekolah dahulu, dimana romantisme kisah kasih sekolah masih terasa, pun 12 tahun sudah waktu berlalu.
Ada secuil kepedihan, ada seteguk kegundahan. Dan bersamaan keduanya melebur di cawan cinta, rasa manispun tersaji dimana ketulusan untuk saling memberi serta menerima sisakan ketulusan yang mengendap hingga saat ini di relung jiwa.

Cinta dan Kesunyian. Bukan kesunyian karena cinta yang terang berbeda makna, arti juga pungkasan. Mengalir perlahan, setelahnya mengalir begitu saja hingga titik mengakhirinya setelah koma dalam untaian kata.

Sakitnya tuh nggak disini

-

Mbak Miu

on 2014-11-10 4:45pm GMT

Sakitnya tuh diisini, teng teng teng teng….sepenggalan lagu yang baru In di permusikan dan perkawula mudaan Indonesia. Tiap anak muda pasti hafal, tiap seniman di bus juga sering menyanyikan, hebooooh pokoknya kalau berkunjung ke Indonesia. Untuk  saya pribadi, sekedar pelepas penat mendengarkan lagu itu. Tapi untuk sebagian orang lain memang pas mengena hati yang lagi galau, putus asa lalu frustasi hebat, jangan yaa…. hidup tak cuma untu memikirkan sakit hati yang sakitnya tuh disini, hehehhe

Alur musik itu dangdut, salah satu alur kesukaan saya. Goyang-goyang juga hanya dikamar, nyanyi-nyanyi juga dibatin, kalau mendengarkan juga via earphone sambil ndelik (bersembunyi)…malulah teriak-teriak (takut dilihat anak-anak) ntar kalau dicontoh gawatlah, ibunya lebay . Lha nanti kalau anak-anak jadi meniru dan dihafal lalu dipraktekkan disekolah kan jadi ndak enak saya sama ustadahnya yang mengajar PAUD. Soalnya anak saya yang besar sudah duduk di PAUD kadang sering menirukan goyang dangdut. Ketika saya bertanya dia dapat gerakan itu dari mana ternyata dari temenya disekolah. Saya mikir-mikir….ndak mungkinlah ustadahnya mengajarkan sampai goyang-goyang, ternyata dapat dari temannya …nahh…itu temennya pasti dirumah menirukan kebiasaan ortunya, hihihi.

Kembali ke bahasan lagu ya, disitu diisyaratkan liriknya untuk orang yang lagi galau, (lagi galau tapi musicnya house disco ya galaunya ilang).  Kekasihnya selingkuh, lalu yang diselingkuhi sakit hati. Ini nih yang sempet saya perhatikan di video klipnya, setelah tiba di chorus sambil tangan menepuk-nepuk sebelah dada kiri karena yang sakit pas di hatinya. Sebenernya yang sakit itu hatinya apa jantungnya ya, kok rancu? memang dalam bahasa Inggris, heart itu memang kalau dibahasa Indonesiakan artinya jantung, tapi diistilahkan hati.  Buat kalian yang pernah patah hati yang sakit tu disebelah mana sebenarnya?

Biarlah orang lain yang menilai jika tatapan matanya seperti saya

Biarlah orang lain yang menilai jika tatapan matanya seperti saya

Jadi menurut saya yang orang Indonesia, sakitnya tuh nggak disini (yang sambil menunjuk dada sebelah kiri atas), kecuali kalau si patah hati itu lalu sakit jantung loh….jadi menepuk dan menunjuknya ya di dada sebelah kiri atas, hahahah.  Nah menurut saya agar tidak rancu,  menunjuknya arah ulu hati tengah. (tapi kayaknya aneh dan gak enak banget yak)……owalah bu Muis, gitu aja dipermasalahkan, heloooo kurang kerjaan yaa, iya nih iseng aja soalnya saya suka lagu itu jadi koreksi juga harus perlu. Boleh dong kita sebagai penonton jadi korektor kreatif walau rese. Tapi masih banyak lagi lho korektor yang lebih ulung (emang saya korektor ulung ?). Seperti saya pernah melihat disebuah group media sosial, mungkin kalau saling berhadapan akan adu jotos, tapi itu di perang komentar jadi cukup adu mulut. Ceritanya mempermasalahkan soal film Spong**ob yang salah satu pemerannya gurita itu. Ketika adegan membawa cangkir kan sambil minum teh (teh apa kopi ya, saya lupa). Lalu ditaruh di meja, adegan berikutnya si gurita kembali ke meja tadi lalu cangkirnya sudah tidak ada, kayaknya si gurita sampai detik ini apa-apanya dikerjakan sendiri alias tidak punya pembantu, jadi tidak mungkin sang pembantu memindahahkan cangkirnya, hehehe

Itulah uniknya pengamat video, entah itu film atau klip musik. Jadi sakitnya tuh nggak disini yak, tapi disini (sambil menunjuk ulu hati tengah, haishhhh). Besok lanjut lagi dengan tulisan yang tak kalah menarik amburadulnya yak, ini segini dulu buat permulaan karena baru on lagi di blog setelaah 4 bulan berkelana. Da….da…

 

 


Dalam beberapa hari ini jam kerja saya akan bertambah. Harus pulang malam dan tak ada hari libur. Ditambah harus menyelesaikan pekerjaan yang memusingkan serta melelahkan.

Namun saya harus semangat. Kata teman saya harus berjuang,pantang menyerah hehe…

Semua itu saya lakukan untuk tawakal saya kepada Allah. Semoga dengan perjuangan saya dicukupkan rezeki untuk menghidupi keluarga saya. Semoga diberi kekuatan untuk melaksanakanya. La khaula wala quata illabilahil’aliyil ‘adhim.


Candi Kadisoka, Purwomartani, Kalasan, Sleman
Yogyakarta sejak dahulu kala telah menjadi bagian penting dari pulau Jawa yang tidak bisa di pisahkan. Baik di era Mataram Hindu maupun Mataram Islam sejak masuknya agama Islam ke nusantara. Banyak peninggalan sejarah yang ikut terkubur bersama runtuhnya kerajaan-kerajaan kuno di Jawa tersebut karena bencana alam seperi Banjir besar, Letusan Gunung, Gempa bumi dan lain-lain yang banyak memakan korban baik nyawa, harta benda termasuk bangunan-bangunannya.

Salah satu dari puluhan peninggalan kerajaan Mataram Hindu di Yogyakarta ada di Dusun Kadisoka, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, adalah Candi Kadisoka. Candi ini di perkirakan di bangun sekitar abad ke-8 Masehi. Menurut seorang Arkeolog Belanda Veronique DeGroot, di perkirakan Candi ini tidak selesai di bangun karena dari susunan bangunannya, candi Kadisoka ini hanya sampai lima lapisan dasarnya saja yang di bangun. Candi Kadisoka konon dua kali terkubur lahar gunung Merapi, Jaraknya sekitar satu abad lamanya.
Candi Kadisoka, Purwomartani, Kalasan, Sleman
Candi Kadisoka di temukan oleh seorang penambang pasir tahun 2000, setelah di gali di ketemukan lubang candi dan batu mulia, emas dan plakat yang berisi bunga teratai yang ikut terkubur bersama bangunan candi lainnya. Tapi sampai hari ini Candi Kadisoka baru di gali sebagiannya saja dan meninggalkan beberapa lubang  galian yang tidak di geruskan. Entah sengaja atau memang ada kendala sehingga penggalian candi Kadisoka di hentikan.
Candi Kadisoka, Purwomartani, Kalasan, Sleman
Menurut Pak Widodo yang sudah empat tahun lamanya bertugas menjaga dan memelihara Candi Kadisoka dulunya daerah di sekitar Candi merupakan tempat penambangan pasir, Dan sebagian lagi merupakan ladang tebu. Tepat dimana Candi Kadisoka berada tanahnya berupa gundukan dan apabila di tanami tanaman selalu layu dan kemudian mati. 

Candi Kadisoka letaknya tidak terlalu jauh dari Candi Sambisari, hanya setengah jam saja. Untuk menuju candi Kadisoka tidak terlalu sulit, untuk yang dari arah Klaten bisa turun di depan Alfamart Kalasan 2, setelah itu ikuti Jalan yang menuju ke Candi Sambisari. Dari Candi Sambisari lurus sampai jalan beraspal, pas sampai pertigaan belok kiri sampai di kawasan kolam ikan Kadisoka. Dari kawasan kolam ikan Kadisoka ada penunjuk arah ke Candi, tidak sampai 300 meter sudah sampai di Komplek Candi Kadisoka.

Saya sendiri sudah lama tinggal di Sleman, tidak begitu jauh dari Kadisoka tempat dimana Candi Kadisoka berada, tapi baru tadi pagi kesampaian berkunjung ke sana. Sempat terkejut pas sampai di lokasi candi kok Candinya tidak ada, setelah mendekat baru kelihaan kalau candinya masih terkubur di dalam tanah, hanya sebagiannya saja yang di gali. Karena itu mungkin belum banyak wisatawan yang berkunjung kesana. Hanya beberapa orang saja yang berkunjung ke Candi Kadisoka setiap bulannnya, bahkan malah pernah selama sebulan tidak ada wisatawan yang berkunjung. 
Candi Kadisoka, Purwomartani, Kalasan, Sleman
Semoga nantinya Candi Kadisoka juga mendapat perhatian lebih dari pemerintah, sebagaimana tetangganya Candi Sambisari, Kalasan dan Prambanan. Terutama akses jalan masuk ke areal candi yang masih jalan setapak yang kalau musim hujan selalu becek. 



          SDN Salaman 1 mulai berbenah. Penerimaan dana DAK 2014 silva 2012 sebesar 228 juta memaksa pihak sekolah untuk segera melakukan pembenahan sebagai mana mestinya. Renovasi ini dikerjakan secara marathon mengingat waktu yang dibatasi hingga akhir Desember.
          Dalam renovasi ini sebanyak 3 lokal akan mengalami pembenahan, terutama bagian atap dan jendela serta pintu. Dua lokal merupakan ruangan kelas 6, dan satu lokal kantor guru.
          Dengan kondisi yang seperti ini terpaksa  perubahan jam belajar siswa harus dilakukan. Ada kelas yang harus masuk siang. Kelas 1 A dan 2 A masuk pagi (07.00-10.00), sedangkan kelas 1B dan 2 B masuk siang ( 10.00 - `13.00). Hal ini bergantian setiap minggunya.
Semoga semua baik-baik saja. Selamat bekerja Pak Tukang! Selamat belajar anak-anak!

Para Siswa ikut berbenah memindahi barang-barang






Pukulan pertama Pak Tukang



Persiapan pengecatan

Sliding pertama pengecatan eternit  oleh ibu-ibu

Salah satu sekolah tua yang masih tegak berdiri yaitu SDN Salaman 01 yang berada di Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang. Tidak menutup kemungkinan sekolah tersebut merupakan sekolah tertua di Kabupaten Magelang

Pahlawan dari Desa

-

Sang Nananging Jagad

on 2014-11-10 2:35am GMT

Kita makan nasi yang ditanak dari beras. Beras berasal dari gabah yang ditumbuk atau digiling dan dipisahkan dari kulitnya. Gabah berasal dari buliran padi yang menjuntai pada tangkai tanaman padi, yang ditanam oleh para petani. Apakah ketika kita menyantap nikmatnya nasi putih yang hangat mengepul dengan rasa pulen berpadu aroma harum, kita masih mengingat jasa petani?

Bagi masyarakat desa yang lahir, tumbuh, hingga besar bahkan menjadi bagian dari lingkungan petani, tentu saja mereka mengenal dengan sangat baik kehidupan para petani dalam mengolah tanah. Mulai tanah dibajak, diluku, dan digaru agar menjadi lumpur yang gembur dan subur. Selanjutnya pada hamparan lumpur tersebut benih padi yang sebelumnya telah disemai ditata sambil mundur atau ditandur, ditata karo mundur. Sebuah pekerjaan yang menuntut ketelitian dan ketelatenan yang ekstra tinggi.

Pun seiring dengan pertumbuhan akar benih yang menguat, tunas-tunas baru tumbuh lebih sempurna sehingga tanaman padi bagai bangun dari tidurnya di peraduan. Lir-ilir, tandure wis sumilir. Tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar. Semilir angin menghidupkan hamparan hijau tanaman padi bagaikan penganten yang tengah menikmati masa-masa yang indah, damai, dan sangat nyaman.

Seiring dengan itu, anakan tanaman padi akan berbiak membentuk rumpun padi yang semakin lama semakin rimbun. Maka baris-baris dan jalur-jalur tanaman padi menghijau yang semula mengkotak-kotakkan petakan sawah menjadi luluh, lebur, dan sirna, menyatu menjadi hamparan tanaman yang rapat.

Menjelang usia dua purnama setelah tanam, bunga-bunga padi mulai merekah diiringi suara kodok ngorek, suara katak berceloteh di malam hari. Inilah masa-masa padi kematak dimana padi memulai fase pembentukan bulir padi yang bernas. Bulir padi terus tumbuh dan semakin padat berisi. Seiring waktu tanaman semakin menua, bulir padi itupun semakin matang, semakin berisi, dan batang padipun semakin menunduk. Ibarat sebuah pesan kebaikan untuk petani dan manusia siapapun yang kelak akan menikmati dirinya, padi mengajarkan tentang nilai kerendahan hati yang akan membawa manusia kepada puncak harkat dan martabat hidup.

Tidak hanya pasrah kepada gerak kemurahan alam dan Tuhan, pada setiap tahap pertumbuhan benih padi hingga rumpun padi yang menguning, petani memberikan segenap hati, segenap perhatian, segenap tenaganya untuk merawat tanaman padi dengan sebaik-baiknya. Air sebagai kebutuhan utama untuk menumbuh-kembang-biakkan benih padi senantiasa dijaga dan dipenuhi secara berkecukupan. Rumput-rumput liar, gulma-gulma nakal yang mengganggu dan merebut sari pati bumi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman padi dengan telaten diwatun, dibersihkan dan dibuang sejauh-jauhnya dari rumpun padi.

Demikian pula jika tanaman sakit akibat gangguan hama, entah ulat, belalang, hingga wereng coklat, dengan sigap para petani memberantasnya dengan semprotan pestisida. Pun ketika padi mulai bernas berisi hingga menjelang masa kematangannya, petani akan mati-matian mengamankannya dari serbuan tikus sawah ataupun gerombolan burung pipit. Maka segenap kerja keras dan usaha para petani terbayar lunas tatkala bulir-bulir malai padi dipetik dengan anai-anai benar-benar tergenggam di telapak tangan. Masa panen tiba, saat-saat yang paling hikmat untuk para petani tenggelam dalam sujud syukur panen atas kerja keras sebelumnya.

Dengan jujur kita harus mengakui, tanpa jerih payah dan kerja keras para petani, nasi putih sebagai hidangan pokok kita sehari-hari tidak akan hadir dengan sendirinya di atas meja makan keluarga kita. Petani adalah kepanjangan tangan Tuhan untuk mengantarkan gabah, padi, beras hingga nasi yang tertanak untuk memperpanjang nafas manusia, untuk menegakkan tulang manusia, untuk mengalirkan darah di segenap nadi manusia, bahkan untuk melangsungkan hidup dan kehidupan itu sendiri. Jadi tidak layakkah kita untuk mendudukkan petani sebagai pahlawan kita? Bukankah karya kerja keras mereka sangat penuh dengan hikmah kebajikan yang padanya tiada pernah akan terhenti pahala yang mbanyu mili, mengalir dengan abadi?

Petani di masa lalu berbeda dengan petani di masa kini. Seiring bergulirnya dinamika roda modernitas, semakin sedikit anak-anak petani yang bercita-cita menjadi petani. Anak-anak di kota-kota terlebih lagi. Mereka semakin jauh dari akar asal-usul darah petani dimana nenek moyang dan para leluhur mereka berasal. Mereka tidak lagi tahu dan diberi tahu darimana asal-usul nasi dan makanan yang terhidang di meja saji mereka. Mereka terbentuk menjadi manusia prakmatis yang sulit untuk mengenang jerih payah petani di sudut desa untuk menghasilkan bulir padi yang disantapnya setiap hari. Mereka hanya mengenal uang sebagai “petani” yang memberikannya rasa senang dan kenyang. Mereka seolah sudah melupakan sangkan paraning dumadi, dari mana, di mana, dan ke mana asal-usul rasa senang dan kenyang tersebut.

Petani menjadi profesi yang terpinggirkan, seolah-olah manusia modern tidak lagi membutuhkan jasa dan karya kerja keras petani di sudut-sudut desa di kaki gunung. Para petani menjadi sosok yang semakin dilupakan anak jaman. Petani adalah pahlawan sejati yang tidak lagi dikenang jaman. Para petani memang bukan sosok pahlawan nasional yang dihafal oleh siswa-siswi di sekolah-sekolah formal kita. Petani bukan pula sosok menteri, anggota dewan, ataupun artis yang senantiasa hadir di media tivi, koran, juga internet. Petani tenggelam dalam gelapnya lumpur kehidupan. Mereka bertapa dengan kerja kerasnya di pelosok-pelosok lembah dan ngarai.

Meskipun petani dilupakan, tidak dianggap, bahkan dianggap tidak ada, namun petani adalah pahlawan sejati yang hadir setia di meja makan, setidaknya tiga kali dalam sehari. Ia adalah pahlawan dari desa yang hadir nyata di desa dan di kota. Ia tidak hanya sekedar pahlawan tanpa tanda jasa, ia adalah pahlawan kemanusiaan, pahlawan kehidupan, sebenar-benarnya pahlawan tanpa pernah disebut sebagai pahlawan.

Maka tatkala pada setiap tanggal 10 November kita tenggelam haru mengenang arwah para pahlawan bangsa, ingatkah kita bahwa petani juga pahlawan kita? Salam dari desa!

Ngisor Blimbing, 3 November 2014


Filed under: Jagad Tokoh Tagged: pahlawan, pahlawan sejati, pahlawan tanpa tanda jasa

Solusi bbm naik

-

Mastop Story

on 2014-11-09 11:32am GMT

Mungkin dalam waktu dekat harga bahan bakar minyak akan naik. Subsidi dari pemerintah akan dikurangi. Setidaknya untuk mengurangi utang katanya.

Kemungkinan harganya cuman naik beberapa rupiah saja. Namun akibatnya tentu lain. Semua harga barang pasti naik. Dan gaji buruh? Belum tentu naik. Kalau begini terus bisa dipastikan siapapun Presidenya, kita jauh dari kemakmuran.

Dan hingga saat ini belu ada solusi tentang minyak. Minyak seperti menjadi roh kehidupan. Semua orang membutuhkanya. Hmmm…adakah solusi pengganti minyak?


Sosial media seringkali diibaratkan sebagai sebuah pisau. Terserah kepada penggunanya, apakah akan digunakan untuk memasak dan menghasilkan sajian yang lezat ataukah untuk menusuk dan menghilangkan nyawa seseorang. Dalam rangka mengupas lebih dalam penggunaan sosial media secara positif dan tepat guna, Komunitas Blogger Magelang ‘Pendekar Tidar’, Relawan TIK Magelang dan Qwords.com menggagas talkshow bertemakan ‘Kreatif dan Gaul Dengan Sosial Media.’

Talkshow ini merupakan bagian dari rangkaian acara Festival Buku (Fesbuk) 2014 yang diselenggarakan oleh Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kota Magelang, bertempat di Gedung Kyai Sepanjang dari tanggal 6-10 November 2014. Hadir sebagai nara sumber Kang Deden Sofiudin dari Qwords, Mas Agus Mulyadi seleblogger Magelang dan Om Irman Ariadi dari Combine. Tak lupa ada mbak Dias Alisa yang didaulat dan diberi mandat untuk menjadi mc acara.

Awalnya, acara direncanakan bertempat di panggung luar yang terletak di sebelah Barat gedung. Akan tetapi karena rintik hujan sudah mulai turun dan pertimbangan teknis lainnya, akhirnya acara dipindahkan ke ruang mini theater yang terdapat di bagian dalam Perpustakaan. Meskipun harus duduk secara lesehan dan sedikit berdesakan, namun para peserta yang sebagian besar merupakan pelajar SMP dan SMA ini tetap antusias mengikuti jalannya acara dari awal sampai dengan akhir.

Kang Denden, sebagai nara sumber pertama, menyampaikan materi berkaitan dengan internet safety, langkah-langkah apa saja yang dapat kita lakukan untuk menyelamatkan data, diri dan keluarga kita dalam bersosial media, kecenderungan anak jaman sekarang yang tidak bisa lepas dari media sosial serta kasus-kasus kriminalitas terkini yang muncul sebagai akibat penyalahgunaan media sosial dan juga pidana akibat pelanggaran UU ITE.

Dalam penggunaan media sosial, sebaiknya ada batasan secara tegas yang harus diterapkan kepada pengguna media sosial (khususnya remaja), misalnya batasan umur untuk sign up suatu media sosial, pengawasan dan pendampingan orang tua saat anak beraktivitas di dunia maya dan lain sebagainya.

Nara sumber kedua, tak lain tak bukan adalah Mas Agus Mulyadi. Pada kesempatan ini Mas Agus berbagi cerita mengenai sepak terjangnya di dunia edit foto, mulai dari awal mula dia terjun di dunia edit foto karena diminta temannya untuk mengeditkan foto bersama artis Jkt48, kemudian muncul di portal berita merdeka.com dan yahoo.com sampai akhirnya dia memutuskan untuk menyudahi karir sebagai tukang edit foto bareng artis. Dalam suasana yang penuh guyon dan gayeng layaknya Angkringan atau Pangkur Jengleng di TVRI, Mas Agus dengan gayanya yang jenaka, ceplas-ceplos dan sedikit ngenes berhasil membuat peserta ngekek berjamaah. Tak lupa, setiap ada kesempatan dimanfaatkan dengan baik untuk promo diri yang katanya masih jomblo, promo jasa yaitu edit foto non artis dan promo produk yaitu buku pertamanya yang diterbitkan oleh Bentang dengan judul ‘Jomblo Tapi Hafal Pancasila.’

Nara sumber ketiga, Om Irman dari Combine Resource Institution, mengawali materi dengan memutarkan sebuah tayangan video tentang Demo Website Museum Yogyakarta. Selepas itu Om Irman memberikan materi terkait dengan mapping (pemetaan) maupun aktivitas lain yang selama ini beliau geluti. Sebenarnya Om Irman akan memberikan materi yang berkaitan dengan Sistem Informasi Desa (SID), namun melihat latar belakang peserta maka materi SID hanya diberikan sekilas saja sebagai penambah wawasan secara umum.

Sesi akhir, sesi tanya jawab yang tak kalah seru. Meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 lewat dan beberapa orang tua siswa sudah bolak balik nginguk anaknya dan gelisah karena acara tak kunjung usai, namun ternyata peserta masih cukup antusias untuk menggali lebih dalam pengalaman maupun materi dari ketiga nara sumber pada sesi tanya jawab ini. Beragam pertanyaan muncul, di antaranya adalah mengenai ciri pecandu internet atau media sosial, langkah apa yang bisa dilakukan orang tua untuk membimbing anaknya di dalam beraktivitas di dunia maya, bagaimana cara untuk memasukkan peta ke dalam blog, konten apa yang sebaiknya kita masukkan ke dalam blog dan aplikasi apa yang digunakan untuk melakukan edit foto.

Pukul 16.30 lebih, acarapun berakhir dan ditutup dengan pembagian doorprize dari Qwords.com, setelah itu tak ketinggalan sesi foto bersama sebagai kenang-kenangan dan bukti bahwa acara ini bukan sekedar hoax belaka.

Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kota Magelang yang begitu gigih dan istiqomah untuk njawil kami di setiap acara yang diadakan, matur nuwun atas kesempatan yang sudah diberikan kepada kami di event kali ini, ketiga nara sumber yang sudah berbagi ilmu dan pengalaman yang tak ternilai harganya, Mbak Dias yang berkenan meluangkan waktu di tengah kesibukan dan nglegakke meluncur dari Jogja, para peserta acara, teman-teman komunitas dan pihak lain yang turut membantu terlaksananya acara ini.

Sampai jumpa di acara selanjutnya. InsyaAllah…

Cinta dan Kesunyian

-

Mas Ivan

on 2014-11-08 7:34pm GMT

Ketika kita yakin bahwa ketulusan akan sesuatu yang kita cintai tak berarti memilikinya utuh, maka makna yang sebenarnya dari ketulusan itu akan mampu terjaga pun masa berlalu sedangkan rupa, nuansa, serta romantika tak lagi mampu menggelora dengan kentara seperti sedia kala.

Saat itu sensitifitas teramat penting dan harus diperjuangkan. Meskipun sebenarnya terpendamnya rasa ingin segera mengungkap nyata fakta dan rasa, entah mengapa saat itu sekat begitu rapat menutup dan memisah.

Perlahan namun pasti, setelahnya, mengalir begitu saja. Dua hati saling menepi pun diri ini yakin saat itu masing-masing saling memendam apa yang ingin diungkapkannya segera. Dan kembali ingin memilikinya utuh, ketulusan pun memberanikan diri ini mengambil sikap untuk merelakannya, dengan membuka tempat untuk persinggahan hati yang lain karena ingin mendapat keridhoan-Nya dalam porsi yang berbeda.

Manusia hanya bisa berencana sedangkan skenario utuh milik Sang Pencipta. Suatu ketika, diri ini berharap keduanya saling mengerti dan terbuka. Suatu saat, diri ini ingin kedua hati ditempat yang berbeda itu mampu menyatu, dan itulah yang sebenarnya selalu tersemat dalam doa, memilikinya utuh bukan lantaran nafsu, namun karena cinta…cinta yang bersandar kepada-Nya.

Cinta dan Kesunyian, bukan Kesunyain Cinta lantaran semuanya penuh dengan warna pun terpendam di dalamnya jiwa.

Ketiduran

-

Mastop Story

on 2014-11-08 6:15pm GMT

Sudah sejak kemarin saya ingin menyaksikan pertandingan antara Manchester United vs Cristal palace. Namun apa mau dikata saya ketiduran sebelum pertandingan dimulai.

matta

Dan ketika saya terbangun pertandingan sudah memasuki menit 90. Hmmm…kebagian injuri time. Dan ternyata united menang 1:0 lewat gol Juan Matta. GGMU..


Kok ming Eva Celia wae to ?

-

Mas Ivan

on 2014-11-08 5:55pm GMT

Jangan pernah membandingkannya dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an, lantaran mutlak hanya Al-Qur’an-lah yang punya kelebihan luar biasa termasuk bagi mereka yang melantunkan ayatnya, juga buat mereka yang berniat mendengarkannya. Yah…sekedar share aja, kok ndilalah sore ini saat lagi mandi tiba-tiba Istri nyeletup iseng nanya ; “Kok ming Eva Celia wae to ?…ngefans po ?” yang artinya ; “Kok hanya Eva Celia aja to ?…Ngefans ya ?”.

Info ; emang beberapa waktu ini saat waktu luang tersedia (apalagi dimalam hari gini), saya kerap mendengarkan tembang Eva Celia, hingga beberapa kali dalam status serta posting blog, kenikmatan lain Eva Celia kuangkat bukan tanpa sebab.

Jika biasa orang mendengarkan lagu karena penyanyi, nada atau syairnya, kali ini saya lebih pada keunikan suara Eva Celia yang membawakannya lewat genre jazzy, dimana olahan akhir eksekusinya mampu memberi jiwa yang lebih pada tembang yang dibawakan. Tak hanya satu atau dua tembang saja, bahkan setiap tembang yang dilantunkannya, selalu dan selalu ada sisi kenikmatan lain (jangan pikir aneh**), dan ini yang saya sukai kenapa berulang dan berulang tembangnya selalu saya putar kala waktu luang tiba.

Semakin menjadi, ketika salah satu tembang lawas Dewa 19 di aransemen ulang bersama Indra Lesmana Band (Bapaknya Eva Celia), sontak syairnya yang dalem dengan definisi luas / bisa juga spesifik membawa kita kemasa ketika tembang tersebut menjadi back sound kisah yang kita jalani.

Haruskah kuulangi lagi
Kata cintaku padamu
yakinkan dirimu

Masihkah terlintas didada
Keraguanmu itu
susahkan hatimu

Tak akan ada cinta yang lain
Pastikan cintaku hanya untukmu
Pernahkah terbersit olehmu
Akupun takut kehilangan dirimu

Ingatkah satu bait kenangan
Cerita cinta kita
tak mungkin terlupa
Buang semua angan mulukmu itu
Percaya takdir kita
aku cinta padamu

Tak akan ada cinta yang lain
Pastikan cintaku hanya
terbersit olehmu
Akupun takut kehilangan dirimu

Akankah nanti
terulang lagi
Jalinan cinta semu
Dengar bisikku
Bukalah mata hatimu

_____

So…”Kok Eva Celia wae to ?”, ya karena itulah…, selamat begadang dan sugeng midangetaken ndalu punika !

Nota Kilat Lantaran Sebab

-

Mas Ivan

on 2014-11-08 4:50pm GMT

Bukan tanpa sebab kenapa mendadak nota terbikin kilat tanpa bendelan resmi dengan finishing jilid. Namun anggap saja ada pengalaman cukup dalam dunia cetak & desain yang membuatku tak gagap tatkala dibutuhkan segera nota resmi untuk suatu keperluan.

Nota NgaosCOM

© Print Screen by. Mas Ivan

Tak perlu berjam-jam, ketika gambaran nota yang melintas di kepala, langsung saja eksekusi segera dengan program desain seperti Corel Draw, Photoshop, Indesign, atau beberapa program lainnya, sesuai kemampuan yang kita miliki. Selanjutanya, cetak dengan printer yang kita punya, syukur-syukur pakai kertas khusus fax bertinta laser atau bisa juga mengcopy-nya melalui mesin fax yang tersedia,  jika printer laser belum ada.

Sekedar saran, kurangi warna hitam dominan lantaran bakal memboroskan tinta. Dan jika Anda bertanya kenapa tak langsung kita perbanyak ? tentunya agar cost yang keluar terminimalisirkan, sementara kita hanya butuh beberapa lembar saja dan bukan dengan intensitas harian.

Paling tidak dengan kalkulasi standar kita dapat memangkas biaya desain lantaran kita desain sendiri, memangkas pembelian kertas rim-rim’an (500 lbr utuh) karena hanya butuh dua, tiga atau empat lembar saja. Dan yang pasti kita memangkas biaya cetak serta transport, dimana anggran ini selalu kita keluarkan jika harus memperbanyaknya dengan cetak toko/mesin besar.

Bagaimana ? sederhana dan cukup handal kita terapkan bukan ?, semoga saja demikian.

Barusan saya dapat link artikel di facebook tentang kemunculan Tukang Tambal Ban berparas cantik yang kini sedang heboh di sosial media. Berita tentang Si Tukang tambal ban cantik ini menuai banyak tanggapan. Kebanyakan memuji dan kagum pada si Tukang tambal ban cantik ini.

Kenapa si tukang tambal ban ini bisa menghebohkan khalayak? tentu karena dua hal. Pertama karena ia tukang tambal ban, kedua, karena ia cantik. Ada ribuan tukang tambal ban di pelosok negeri ini, pun ada jutaan wanita yang punya paras cantik. Namun tukang tambal ban yang punya paras cantik, jumlahnya tentu sangat sedikit.

Kita pernah dibuat heboh dengan kemunculan Sabina, atlet Voli yang punya wajah cantik imut dan sangat menggoda imron. Kenapa sosok Sabina bisa membuat heboh? Analisis bodho saya mengatakan, ia bisa membuat heboh khalayak karena ia muncul dengan persona yang keluar pakem. Tak banyak atlet voli wanita yang punya perpaduan wajah cantik imut plus dengan tubuh yang proporsional menggoda. Maka ketika ia datang dengan membawa semua itu, kehebohan hanya tinggal menunggu waktu.

Sedikit mundur ke belakang. Kita juga pernah dibuat heboh dengan kemunculan seorang Briptu Eka. Lagi-lagi ia membuat khalayak heboh karena ia bisa muncul dengan persona yang keluar pakem. Tak banyak polisi wanita yang punya wajah cantik yang jika setiap pria memandangnya pasti berasa ingin menafkahi. Jujur, kebanyakan polisi wanita yang pernah saya lihat hampir tak ada yang secantik Briptu Eka. Ada sih yang cantik, namun itu sedikit. Maka ketika Briptu Eka muncul, lagi-lagi kehebohan pun tak terhindarkan.

Hal yang sama pun berlaku untuk kemunculan Nurul Habibah si Satpol PP cantik yang sempat meramaikan pemberitaan di berbagai media beberapa waktu yang lalu.

Maklumi saja, Karena masyarakat kita memang masyarakat yang masih gumunan, terutama oleh kecantikan.

Tapi rasanya tak adil kalau saya hanya menuliskan tentang kecantikan semata, karena nyatanya, deretan wanita-wanita di atas tak melulu heboh karena murni mendobrak pakem dengan kecantikan. Satu lagi unsur yang penting tentu adalah pemberitaan.

Tentu kita tahu dengan berita heboh Theresia Mariana si Pramugari cantik di pesawat kepresidenan Indonesia. Sosoknya menjadi heboh bukan karena ia mendobrak pakem dengan kecantikannya. Namun karena pemberitaan kecantikannya. Dia tidak mendobrak pakem. Lah, apanya yang didobrak, ia justru sejalan dengan pakem. Yang namanya pramugari itu ya memang lumrahnya harus cantik, sepanjang saya naik pesawat, belum pernah saya menemui pramugari yang tidak cantik, semuanya cantik, minimal menyelerakan. Jadi seharusnya tak ada yang istimewa dengan Theresia. Justru kalau ada pramugari yang jelek item bintitan, dialah yang layak masuk pemberitaan.

Jadi jelas, cantik dan anti mainstream pun belum cukup, masih perlu satu hal lagi yang bisa memunculkan popularitas: Pemberitaan.

Maka, saran saya untuk para wanita cantik yang ingin terkenal dengan instan, mulai sekarang, berhentilah mengikuti kontes-kontes kecantikan atau membuat skandal dengan aneka video dan foto panas hanya demi meraih popularitas. Karena ada satu cara yang lebih tokcer dan oke punya untuk mengdongkrak popularitas lewat kecantikan anda: Cobalah jualan arem-arem di terminal, lalu bayar wartawan media online abal-abal untuk membuat tulisan tentang anda. Suruh si wartawan untuk membuat judul yang fantastis.

"PENJUAL AREM-AREM CANTIK, ISI HATINYA SUSAH DITEBAK, SESUSAH MENEBAK ISI AREM-AREM YANG DIJUALNYA"

Rejeki Mbanyu Mili

-

Sang Nananging Jagad

on 2014-11-08 1:14pm GMT

Blongkeng4Kejaba diparingi jiwa lan raga kang sehat tanpa rubeda, manungsa mesti wae pingin uga diparingi gangsar dalan rejekine. Ora mesti kudu akeh, nanging sing baku rejeki bisa mbanyu mili kanthi  berkah lumeber. Senajan sithik ning ajeg lan syukur-syukur sarwa ngepasi butuh ngepasi ana.

Kang aran rejeki mono wujude maneka warna, ora mung winates wujud dhuwit. Awak seger waras kuwi rejeki. Titipan momongan kang sholeh utawa sholihah kuwi uga rejeki. Tangga teparo kang tansah semanak lan guyub rukun uga rejeki. Kepinteran pikir, keprigelan raga, gangsare sakabehing urusan mesti wae uga wujud rejeki. Wosing rembug, sakabehing perkara kang diparingake Gusti kanggo kamulyaning uripe para menungsa bisa diarani rejeki.

Kanggone wong Jawa, kaya kang wis diajarake dening para leluhur, rejeki mujudake kanugrahaning Kang Hakarya Jagad minangka piranti nggayuh panguripan kang luwih mulya utawa mukti. Senajan Pangeran sarwa Maha Murah dan Welas Asih, ananging tumekane rejeki kudu tansah diupadani. Bebasan wong tani kang nduweni pamrih panen pari mesti wae dheweke kudu lelaku ikhtiar kanthi nandur pari.

Minangka kawulane Gusti Pangeran kang mangerteni unggah-ungguh lan trapsilaning paugeran agama, menungsa kudu kebak rasa syukur marang apa wae wujud rejeki kang ditampa ing madyaning panguripan. Kejaba rasa syukur kuwi diikrarake kanthi kalimat alhamdulillahi rabbil ‘alamin, rasa syukur uga kudu diwujudake kanthi nanjakake sak bagian peranganing rejeki kanggo ngamal zakat, infaq utawa sodakoh amarga sejatine ana ing samubarang rejeki utawa bandha kang diduweni kuwi ana hak-hake para fakir-miskin, boca yatim-piatu, lan golongane menungsa kang kurang beja uripe.

Kajaba kuwi, rejeki amrih berkah uga kudu dibudidaya kanthi cara lelaku ihtiar kang sarwa becik. Rejeki kang halal kudu disranani kanthi lelaku kang halal uga. Sakbanjure rejeki kang halal kuwi mau uga kudu ditanjakake utawa diblanjakake ing dalam kang halal uga. Saka kabecikan kudu nglairake kabecikan kang linuwih. Sangkan parane rejeki kang becik kudu tumuju ing kabecikan uga. Rejeki kang kaya mengkono kuwi kang diarani rejeki kang mampangati tumrap liyan, rejeki kang berkah.


Filed under: Jagad Jawa Tagged: rejeki berkah

Ketombe mungkin bukan penyakit yang mematikan. Tapi, ketombe bisa membuat orang mati kutu dan malu. Suer saya merasakanya sendiri. Alhamdulillah, sekarang masalah ketombe itu lambat laun bisa teratasi.

Entah sejak kapan saya mulai ketombean. Lupa. Mungkin karena saya seorang kontraktor alias ke mana-mana pakia motor. Saya termasuk pengendara motor yang taat aturan. Saya hampir selalu memakai helm standar DOT setiap naik motor. Mungkin karena itu kulit kepala menjadi bermasalah. Lambat laun muncullah ketombe.

Awalnya rabut terasa gatal. Kalau digaruk2 serbuk2 putih beterbangan. Awalnya kecil2 saja. Saya jadi ingat iklan shampoo anti ketombe di tivi. Setelah saya pakai bukannya hilang malah semakin banyak ketombenya. Ketombenya lebih besar ukurannya. Mengerikan.

Ketika di kampung dulu saya kadang-kadang mandi di kali Progo. Ada mata air kecil di pinggir kali yang biasa dipakai untuk mandi. Saya lupa siapa yang memberi tahu pertama kali, ada tanah liat (lempung) yang bisa untuk keramas. Anehnya, meski dicuci pakai lempung kulit kepala bukannya kotor, malah menjadi terasa bersih dan adem. Kulit kepala bersih tidak ada ketombe.

Kini pingir kali Progo sudah jadi pabrik. Tempat mengambil lumpur itu sudah tidak ada, saya juga lupa rupa lumpurnya. Mungkin jika masih ada, lumpur itu bisa menjadi obat ketombe yang mujarab. Sayang sekali.

Ketombe saya semakin parah. Kepala terasa gatel sekali. Ketombe saya pun sudah berevolusi menjadi guede-guede. Ukurannya bisa satu centi lebih. Gendeng.

Saya mencoba berbagai saran untuk mengobati ketombe ini. Hampir semua shampoo anti ketombe saya coba. Hasilnya sangat mengecewakan. Ketombe hanya hilang sesaat setelah habis kramas. Setelah itu muncul lebih parah. Sampai frustasi saya mengobatinya.

Dari sekian banyak shampoo yang saya coba, hanya satu shampoo yang manjur, yaitu Selsun. Harga shampoonya muahal dan baunya tidak enak. Saya pakai yang warna orange. Sekali pakai langsung terasa efeknya. Cuma kalau dipakai setiap hari juga tidak baik. Kulit kepala jadi terasa kering sekali dan rambut tipis bin memerah.

Ada merek lain yang juga bisa mengurangi ketombe, yaitu produk dari Mustika Ratu; shampoo merang. Kalau memakai shampoo ini kepala juga terasa lebih dingin dan ketombe berkurang. Saya pakai shampoo Merang bergantian dengan Selsun.

Saya membaca jika memakai shampoo setiap hari tidak baik untuk rambut dan kulit kepala. Namun, kalau tidak pakai shampoo lama-lama kepala terasa gatal lagi. Artinya ketombe bisa balik lagi. Bahaya.

Saya dapatkan produk Mustika Ratu yang lain. Harganya cukup mahal. Namanya, Cemceman. Seperti lotion untuk kulit kepala. Saya coba untuk tidak keramas pakai shampoo, tetapi pakai Cemceman. Hasilnya lumayan bagus. Meski tidak keramas, kepala tidak terasa gatal. Ketombe juga tidak muncul. Saya coba tidak keramas tiga hari. Masih terasa enak kepala saya. Alhamdulillah.

Shampoo2 itu belum bisa menghilangkan secara tuntas ketombe. Ketombe bisa balik lagi kalau saya berhenti memakainya. Saya masih ingin mencari bahan2 atau shampoo alami lain yang bisa menyembuhkan ketombe secata tuntas. Semoga bisa ketemu.


image

Ust. Muhibbin Bakrun, Lc. (Foto dari Akun FB Laziz Mafaza)

Dari sekitar tujuh orang yg tinggal di masjid Fatimatuzahra, mungkin saya yang paling lain sendiri. Rambut saya lebih dari sebahu, celana jeans ketat, dan naik RX King. Teman-teman lain lebih alim dan kelem, jengot dipelihara dan celana congkrang. Tapi Ust. Muhibbin tetap sabar mengajar kami mengaji. Beliau selalu tersenyum lebar setiap ketemu saya dan memanggil nama saya dengan intonasi khasnya “Isroi”, terus menjabat tangan saya dengan tangan diayunkan dulu.

Ust. Muhubbin mengajar banyak pelajaran dasar-dasar Islam, seperti tafsir, bahasa Arab, dan fikih. Yang paling sulit saya ikuti adalah bahasa Arab. Bukunya ajarnya masih saya simpan sampai sekarang. Susah sekali saya mengikutinya. Dari semua murid yang ikut pelajaran2 itu, saya paling bodoh sendiri. Malu.

Ust. Muhibbin mengajar tafsir setiap hari minggu pagi. Jamaahnya banyak. Kami, ‘penghuni’ masjid wajib mengikutinya. Walaupun sambil ngantuk-ngantuk dan sandaran di tiang marmer masjid, saya mencoba menyimaknya. Ust. Muhibbin mengajar dengan gaya khasnya.

Ada pelajaran khusus juga yg dilaksanakan di malam hari di lantai dua sayap kanan. Kadang2 Ust. Muhibbin yang mengajar kami. Biasanya saya ambil posisi mojok. Mojok kanan, mojok kiri atau mojok belakang. Biar bisa ngantuk soalnya. Meskipun tidak banyak, pelajaran dari Ust. Muhibbin ada yang nyanthol di kepala.

Ust. Muhibbin juga selalu terbuka jika dimintai fatwa seputar masalah fiqh atau hadist. Ketika di masjid ada Ust. Yunan yang usianya sedikit lebih tua dari saya, saya lebih sering konsultasi dengan Ust. Yunan. Kalau menthok baru tanya ke Ust. Muhibbin yg lebih senior.

Banyak Ust yang mengajar di Mafaza, namun Ust. Muhibbin memberi warna tersendiri bagi kami, ‘penghuni’ mafaza. Sampai beberapa hari yang lalu saya kaget membaca status Pak Eko Cahyono yang mengabarkan berita duka; Ust. Muhibbin telah tiada. Waktu itu saya sedang chatting dengan ust. Rano Karno Mohammad Bilal yang sedang di Mesir. Kaget, sedih, haru, jadi satu. Seakan tidak percaya membaca kabar itu. Karena selama ini tidak pernah mendengar beliau sakit.

Selamat jalan Ust. Muhibbin. Engkau isi usiamu dengan berdakwah dan mengajar. Semoga pahala terus mengalir kepadamu. Semoga Allah menerima semua amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Semoga Allah memberi tempat yang lapang di alam kurburmu. Amin.

Brg, 8/11/14

image

Pak Syarief Basir sedang memberi sambutan.

image

image


image

Ciengkek masih jadi tantangan untuk ditaklukkan. Saya coba mengukur berapa jarak dan tinggi tanjakan Ciengkek ini. Pengukuran di mulai dari jembatan kali Ciomas yang ada di dekat  pangkalan pasir. Untuk mengukur ketinggian saya menggunakan aplikasi Altimeter untuk Smartphone Android. Ketinggian di posisi awal ini terbaca 286 dpl.

image

Untuk mengukur jarak tempuh dan waktunya saya menggunakan aplikasi Endomondo. Dengan aplikasi ini saya bisa merekam jejak di peta Google Maps, jarak yang ditempun dan waktu tempuhnya. Saya bersepeda berdua saja dengan Arroyan.

Royan masih muda, tenaganya tenaga kuda, napasnya panjang, Arroyan punya endurance yang lebih baik dari saya. Sejak dari start awal Arroyan sudah melaju di depan. Kira-kira duaratusan meter pertama saya sudah menyeran dan turun dari sepeda. Arroyan masih terus melaju sampai ke tanjakan belok yang pertama.

Saya terkapar beberapa menit. Napas nggos-nggosan dan detak jantung seperti dikejar setan. Arroyan istirahat dengan posisi berdiri bersandar di sepeda. Setelah napas berangsur normal saya berdiri, dorong sepeda sebentar sampai posisi agak landai baru kembali mengowes. Posisi gigi depan nomor 2 dan gigi belakang nomor 2.

Kami mengowes dengan posisi berdiri. Tidak bisa sambil duduk, karena kalau duduk roda depan akan terangkat. Ngowesnya dengan teknik seperti orang berjalan. Saya mengowes terus sambil mengatur napas. Sekali kayuh tarik napas, sekali kayuh buang napas.

Tarikan ke dua saya hanya mampu berjalan dua kelokan menuju tanjakan lurus yang terpanjang. Saya ‘KO’ di ‘buk’ pertama. Arroyan masih terus mengayuh sampai ke bagian atas.

image

Kali ini saya perlu waktu lebih lama untuk mengatur napas. Perut mulai mual seperti mau muntah. Pandangan meredup. Saya khawatir kalau mau pingsan di tanjakan ini. Ngeri juga di kalau sampai pingsan. Dua tahun lalu ada goweser yang meninggal karena terkena serangan jantung ketika mencoba menaklukkan tanjakan ini.

Setelah agak stabil saya coba mengowes lagi. Arroyan nunggu di atas. Saya tahu, sebenarnya Arroyan bisa terus, dia masih terlihat segar. Saya hanya bisa mengowes kira2 lima puluhan meter. Ini tanjakan paling curam menurut saya. Saya KO lagi di pos bambu. Saya terkapar di sana, napas tersengal2, dan mulai berkunang-kunang. Royan masih sabar menunggu saya menstabilkan stamina saya.

Kaki saya sudah mulai loyo. Saya bilang ke Arroyan kalau saya mau dorong dulu sampai kelokan di ujung tanjakan ini. Bahkan saya minta Arroyan untuk membantu saya mendorong sepeda saya. Saya terkapar sebentar untuk kembali mengatur napas.

Ini tanjakan terakhir. Saya coba naik dan gowes. Posisi gigi 1 dan 1. Posisi gigi paling rendah. Akhirnya dengan sisa napas dan tenaga sampai juga di puncak tanjakan Ciengkek ini.

Di puncak ini ketinggiannya adalah 382 dpl. Jaraknya 1.06 km. Waktu tempuh 28.19 menit termasuk istirahat. Jadi beda ketinggiannya adalah 96 m. Tanjakan tercuram saya rasa diatas 35o – 40o sudutnya.  Curam banget.