Padepokan Pendekar Tidar

batu akik unik angka 8

Batu akik unik pancawarna dengan motif angka 8 asal Halmahera Timur. (foto koleksi pribadi)

Hari ini saya mencoba mengosok batu yang saya bawa dari Halmahera Timur (Haltim). Iseng saja. Potongan kecil batu itu saya berikan ke tukang gosok batu. Tidak disangka setelah batu itu digosok dan dipoles muncul pola yang unik, yaitu pola yang membentuk angka 8. Motif batu ini asli tidak dibuat dan kebetulan saja ngosoknya pas dapat motif itu.

Awalnya saya tidak sadar akan motif ini. Bagi saya batu pancawarna ini sama seperti yang lain. Ketika sampai di rumah, Abim mengamati batu ini dan berteriak: “Bi, Ini ada angka 8-nya. Bagus ini, Bi!”. Abim menunjukkan pola angka 8 itu ke saya. Ternyata memang benar, kalau ada motif angka 8-nya.

batu akik unik angka 8

Batu akik unik pancawarna dengan motif angka 8 asal Halmahera Timur. (foto koleksi pribadi)

batu akik haltim halmahera timur

Batu dari Haltim (Hamahera Timur) yang punya motif sangat menarik. Batu ini sebagian besar tembus cahaya. (Foto koleksi pribadi)


Jika kita sempat mengunjungi beberapa website atau situs resmi beberapa institusi pemerintah tengah gencar-gencarnya membuka lowongan beberapa posisi jabatan struktural yang strategis. Era reformasi birokrasi yang digaungkan untuk membenahi organisasi dan kinerja lembaga tata pemerintahan kita, salah satunya dimaknai dengan proses lelang jabatan struktural secara terbuka kepada publik.

Lelang jabatan struktural secara terbuka dimaksudkan untuk memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada semua komponen masyarakat yang memiliki kualifikasi, kompetensi, kapasitas dan kapabilitas untuk menduduki suatu posisi jabatan untuk mendorong reformasi birokrasi menuju birokrat yang profesional. Melalui serangkaian seleksi yang sangat ketat oleh suatu panitia seleksi yang independen, diharapkan akan muncul kandidat terbaik yang dianggap paling mampu untuk memangku suatu jabatan publik.

Pola penentuan pejabat dengan sistem lelang jabatan secara terbuka ini dipelopori oleh Jokowi tatkala menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Jabatan kepala kelurahan atau lurah di lingkungan Pemda DKI Jakarta, dipilih melalui sistem lelang terbuka dengan perlakuan yang sama di mata hukum. Dalam lelang tersebut tidak ada pembedaan agama, ras, suku, karena yang diutamakan adalah kompetensi dan kemampuan kepemimpinan seseorang. Meskipun sempat ada kasus pro-kontra terhadap sosok tertentu, namun lelang jabatan lurah di DKI Jakarta tergolong sukses dalam menjaring kandidat terbaik sehingga sampai saat ini masih dipertahankan oleh Gubernur Ahok yang menggantikan Jokowi.

Lalu bagaimanakah dengan hiruk-pikuk lelang jabatan struktural secara terbuka diberbagai kementerian atau lembaga yang kini banyak menggema? Beberapa contoh lelang pejabat yang dilaksanakan diantara pemilihan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), lelang beberapa posisi direktur jenderal di Kementerian Ristek Dikti, di Batan dll.

Niat, itikad dan konsep lelang jabatan secara terbuka menurut saya baik. Akan tetapi dari beberapa kabar yang sempat saya dengar, ada juga selentingan yang mengatakan bahwa pelaksanaan lelang jabatan ada yang hanya dilaksanakan secara formalitas semata. Seolah-olah ada proses seleksi secara terbuka tetapi panitia seleksi sudah mengantongi nama-nama pejabat yang akan dilantik. Proses seleksi lelang hanya sebuah kamuflase dan sandiwara semata..


Filed under: Jagad Bubrah Tagged: birokrasi, korupsi, korupsi kolusi dan nepotisme

Gus Mul? Siapa yang tidak kenal dengan blogger kondhang kaloka dari kota gethuk ini. Goresan postingannya yang trengginas bin lucu di samping menghiasi tampilan blog pribadinya di www.agusmulyadi.com, www.agusmulyadi.web.id maupun di www.gusmul.com, bualan dagelannya juga banyak terpampang di www.merdeka.com. Seberapa Sampeyan mengenal akrab dengan tokoh kita yang mengaku tidak pernah lulus pesantren namun bisa mendapatkan panggilan Gus ini?

Gus Mul bernama lengkap Agus Mulyadi. Jadi Gus Mul merupakan akronim alias kependekan dari nama Agus Mulyadi tersebut! Lho baru ngeh? Tentu saja kita tidak akan sangsi jika Gus Mul mengaku lahir di bulan Agustus, bulan yang sangat keramat bagi bangsa Indonesia. Demikian pulakah sosok Gus Mul juga memiliki kharisma keramat? Ingin tahu asal-usul sebutan Gus Mul nggak?

Al kisah, Agus Mulyadi sudah gentur menekuni dunia perbloggeran selepas sekolah di SMA Tidar. Dia bahkan pernah mengembara di tatar Sukabumi dan Tanah Ngayojokarta sebagai layouter majalah dan operator warnet. Sejak itu pulalah ia meluncurkan blog getuk magelangan sebagai semangat nasionalisme terhadap kota kelahiran tercintanya.

Sekian lama ngeblog, barulah di awal tahun 2013 ia menampakkan batang hidunya di salah satu gethukan, kopdarannya Bala Tidar Magelang. Tak berselang lama, ia turut menjadi duta Bala Tidar dalam perhelatan Asean Blogger Festival Indonesia (2013) di Kota Bengawan Surakarta. Di sanalah ia mulai mengibarkan diri sebagai seleblogger spesialis dagelan mataraman sebagaimana yang ia warisi dari Pak Trimo, bapaknya yang memang artis kethoprak tersohor pada eranya.

Nah tatkala di Solo itu ia masih aktif menggunakan akun twitter @agusmulyadi_… … (saya agak lupa akun persisnya). Dalam suatu perbincangan ia mengungkapkan kegundahannya. Dalam dunia online ia merasa namanya kurang branding. Ia ingin merumuskan sebuah nama yang singkat, simpel, mudah diingat dan mencerminkan sebuah karakter yang khas, unik, dan kuat. Dia sempat menyinggung pilihan identitas yang sering saya pergunakan di dunia online. Menurutnya dengan menambahkan satu kata yang unik di depan nama asli saya, ternyata ada kesan dalam yang bisa tergambar.

Gus MulMendengar keluh-kesahnya tersebut, tentu saja saya tidak tinggal diam. Melalui sebuah perenungan singkat di depan Pendopo Pura Mangkunegaran yang keramat, saya sampaikan pemikiran yang terlintas pada saat itu. “Kenapa nggak mengusung Gus Mul?” usul saya saat itu. Namamu kan Agus Mulyadi. Satu suku kata diambil dari bagian akhir kata agus, dan satu kata diambil dari permulaan kata mulyadi. Menurut saya nama sandi itu sudah sangat unik dan berbobot.

Memang pada saat itu Gus Mul tidak langsung mengiyakan atau menolak usulan saya. Tetapi pada suatu postingan yang saya dedikasikan untuk memperkenalkan sosok Agus Mulyadi di profil Pendekar Tidar#17 yang sempat saya tulis sepulangnya dari Solo, saya selipkan lagi profokasi Gus Mul. Dan dalam beberapa kesempatan sepanjutnya iapun meluncurkan akun twitter baru @gusmul ketika bercengkrama dengan Bang Qomar. Mulai saat itulah Agus Mulyadi menyandangkan diri sebagai Gus Mul. Waktu itu, kira-kira tepat dua tahun yang lalu.

Semoga dengan kisah ini Anda para pecinta Gus Mul lebih bisa menghayati celotehan guyon matonnya yang sarat dengan pesan nilai kehidupan yang dalam sebagai kumpulan tulisannya dalam Bergumul dengan Gus Mul.

Lor Kedhaton, 5 Mei 2015.

.

By: Sahrudin – @SahrudinSaja CENTRAL JAVA Culture and Tourism Agency will soon organize the Jamu and Culinary Festival 2015 on Friday, June 5 through Sunday, June 7 in Magelang Municipality’s […]

Ketika pertama kali flash disk muncul dulu sebagai tempat menyimpan fila dan data, bagi saya sungguh sangat luar biasa. Karena dengan perangkat kecil seperti itu kita bisa menyimpan file dan memback-up data dengan lebih leluasa. Saya masih ingat flash disk pertama yang saya beli kapasitasnya hanya 128MB. Punya flash disk seperti itu rasanya sudah bangga sekali dan dipamerkan ke sana ke sini. Kapasitas penyimpanannya pun semakin lama semakin besar dan ukurannya pun semakin mengecil.

Itu dulu.

Kini metode penyimpanan berkembang lebih pesat lagi, yaitu menyimpan file dan data di ‘awan’ (Cloud), istilah untuk metode penyimpanan di server maelalui koneksi internet. Kalau dulu jamannya flashdisk kita mesti bawa ke mana-mana flasdik itu, sekarang tidak lagi. Asalkan ada koneksi internet, file dan data yang kita simpan di ‘awan’ tetap bisa kita akses. Kapasitasnya pun awal mulanya hanya kecil. Kalau ingin kapasitas besar ada biaya tambahan.

Masalah utama ketika membawa flashdisk adalah jika perangkat kecil itu tertinggal atau hilang. File dan data bisa hilang selama-lamanya. Dengan ‘fashdisk’ yang ada di ‘awan’, kita tidak perlu khawatir lagi akan kehilangan atau kelupaan flashdisk. Kita tetap bisa mengakses data kita melalui koneksi internet. Memang, kendalanya utamanya adalah jika tidak ada koneksi internet. Ini ibaratnya lupa tidak membawa flashdisk dan tidak bisa mengambilnya.

Saya juga belum lama menggunakan penyimapan ‘awan’ ini. Layanan pertama yang saya gunakan adalah fasilitas penyimpanan di Gmail. Gmail menyediakan ruang penyimpanan yang sangat besar. File-file penting saya upload dan kirimkan ke alamat email saya sendiri. Dengan cara ini saya bisa mengambil file itu lewat attachment yang ada di Gmail. Cara ini sangat mudah. Kemudian muncul banyak layanan penyimpanan file di ‘awan’. Salah satunya adalah Dropbox. Kapasitas penyimpanan di Dropbox cukup lumayan. Kita bisa leluasa menyimpan file data, file dokumen, maupun foto-foto.

Layanan berikutnya yang cukup menarik adalah Google Drive. Kapasitas penyimpanannya juga lumayan besar. Lebih dari cukup untuk penggunaan sehari-hari. Google Drive bisa langsung mengakses layanan Google yang lain, yaitu: Gmail, Drive. dan layanan lainnya.

Layanan ‘awan’ yang laain lagi antara lain adalalah OneDrive milik Microsoft. Saya mendapat fasilitas peyimpanan di ‘awan’nya Microsoft ketika membeli Softwere Office Asli. Kapasitas penyimpanannya sangat besar, yaitu sampai 1 TB. Hanya saja lisensinya cuma satu tahun saja.

Ada banyak layanan sejenis, akan tetapi saya hanya menggunakan 3 layanan di atas. Kapasitasnya kalau digabungkan sangat besar dan lebih leluasa. Dalam beberapa tahun ke depan saya rasa menyimpan file di awan akan menjadi sebuah kebutuhan seperti air dan listrik.

Menunggu kapan matinya hardisk expternal.



Compact, simple, and easy to share – begitulah kata kunci dalam perkembangan mobile photography saat ini. Samsung menuangkannya dalam Samsung Galaxy S6 serta Galaxy S6 Edge. Seberapa jauh kemampuan Galaxy S6 menggantikan kamera mainstream dan apa saja tools untuk mengoptimalkannya?

Trend fotografi yang berkembang sekarang bergeser dari yang tadinya traveling membawa perangkat fotografi besar beserta perangkat pendukung yang merepotkan beralih menjadi cukup membawa smartphone dengan tambahan tools kecil dan software disematkan di dalam smartphone.

Galaxy S6 sebagai ponsel flagship Samsung saat ini tentu tidak ala kadarnya dalam urusan mobile photography. Dengan bekal kamera ponsel terbaik 16MP dilengkapi OIS, aperture f/1.9, dan Auto Focus Tracking, bukan masalah berarti bagi Galaxy S6 dan S6 Edge ketika diposisikan sebagai pengganti pocket camera, atau bahkan pengganti DSLR. Terlebih, dengan keunggulan mengusung sistem Android terbaru yang dapat dipasang aplikasi photo editing and sharing, Galaxy S6 bak setingkat lebih tinggi dari pocket camera dan DSLR dalam urusan olah foto. Samsung Galaxy S6 menjadi terdepan dalam mengemas mobile photography masa depan, The Next Smartphone Leader.

Simak apa saja yang dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan fotografi Samsung Galaxy S6 dan Galaxy S6 Edge.

Install Aplikasi Fotografi

Samsung Galaxy S6 maupun Galaxy S6 Edge dibekali sistem operasi Android terbaru memungkinkan pengguna untuk menginstall aplikasi-aplikasi untuk mengoptimalkan fotografi ponsel. Beberapa aplikasi berikut sangat berguna dalam meningkatkan teknik pengambilan foto maupun pengolahan hasil foto.

Camera FV-5 (paid)
Camera FV-5 menawarkan fitur manual yang membuatnya menyerupai DSLR kamera. Dalam pengambilan gambar, Camera FV-5 memberi keleluasaan pengguna untuk mengatur beberapa variabel yang tidak ada dalam software kamera bawaan Samsung Galaxy S6 bahkan dalam pro-mode, misal shutter speed dan jangkauan ISO yang lebih lebar.

Lapse It Pro (paid, in-app purchase)
Lapse It Pro menawarkan tambahan di sisi video recording. Lapse It Pro digunakan untuk membuat video timelapse dan juga video stop motion. Aplikasi ini berguna misal pada saat merekam sunset yang berlangsung selama setengah jam dan ditampilkan proses dari awal sampai akhir dipercepat menjadi selama beberapa detik supaya bisa dibagikan melalui Instagram.

Adobe Photoshop Express (free, in-app purchase)
Aplikasi besutan Adobe ini bermanfaat dalam olah foto. Dengan tools didalamnya yang sangat lengkap, pengguna dapat melakukan pengaturan noise reduction, white balance, clarity, highlights, dan berbagai advance editing lainnya.

Autodesk Pixlr (free, in-app purchase)
Pixlr sebagai pesaing Adobe Photoshop Express menawarkan fitur serupa dengan menyediakan berbagai tools termasuk blending, double exposure (overlay dua foto), penambahan filter, dan sebagainya.

Pixlr-o-matic (free)
Pixlr-o-matic merupakan tools yang lebih sederhana dari Pixlr. Pixlr-o-matic menawarkan template pengolahan yang sebenarnya dapat dilakukan pada Pixlr, Aplikasi ini berguna apabila kita tidak ingin repot-repot melakukan pengaturan manual melalui Pixlr.

InstaSquare (free)
InstaSquare, sesuai namanya memiliki fungsi untuk membuat gambar menjadi kotak supaya mudah diupload ke Instagram. Kelebihan InstaSquare adalah pengguna tidak perlu crop gambar menjadi kotak. Fungsi ini sangat berguna saat kita ingin mengupload foto dengan rasio 4:3, 9:16, atau 6:10 ke Instagram tetapi kita tidak ingin gambar terpotong alias upload gambar utuh ke Instagram.

Silakan lihat video berikut untuk mengetahui secara singkat kegunaan aplikasi-aplikasi di atas. Meski aplikasi dalam video saya install di Samsung Galaxy Tab S 8.4”, tetapi secara umum bisa jadi fungsi-fungsi aplikasi akan sama ketika diinstall di Samsung Galaxy S6 dan Galaxy S6 Edge.

Samsung Galaxy S6 dibekali kemampuan kamera terbaik dan disokong oleh prosesor tercepat Exynos 8 core 64-bit dengan clock 2.1GHz Quad dan 1.5GHz Quad, jadi sudah pasti takkan terbebani untuk melakukan tugas olah foto dengan aplikasi yang disematkan di dalamnya. Setelah selesai pengambilan gambar dan pengolahannya, tentu pada akhirnya pengguna ponsel pasti menunjukkannya. Instagram, Flickr, Facebook, maupun Path tentu bisa menjadi tempat berbagi hasil tangkapan kamera. Atau mau upload koleksinya ke blog pribadi semisal di BlogDetik, tentu tak ada yang menghalangi.

Perangkat Tambahan?

Perangkat tambahan bisa menggunakan perangkat standar untuk fotografi ponsel. Octopus tripod untuk membantu dalam pengambilan foto dengan shutter speed rendah (long exposure), malam hari, atau untuk membuat timelapse video. Lensa macro, wide angle, dan fisheye yang biasanya dijual dalam satu paket tiga lensa. Apabila ingin menambahkan juga terdapat opsi lensa tambahan eagle eye dan lensa jauh (tele lens). Semua perangkat tambahan yang saya sebutkan akan sangat berguna untuk mengoptimalkan kemampuan kamera dari ponsel terbaik, Samsung Galaxy S6.

Samsung Galaxy S6 Photography Kit
Samsung Galaxy S6 Photography Kit

Apabila ponsel sudah dalam genggaman, aplikasi sudah terinstall, perangkat tambahan sudah dalam kantong, tunggu apa lagi? Tinggal beraksi jepret-jepret dengan ponsel terbaik, kamera ponsel terbaik, prosesor tercepat.

Senjata sudah siap!

Itu Saja Cukup?

Apa yang digenggam adalah alat, dan apa yang dihasilkan tergantung kreatifitas penggunanya.


Tulisan blog ini dibuat untuk diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan BlogDetik dan PT Samsung Indonesia dengan tema “Samsung Galaxy S6 dan S6 Edge, The Next Smartphone Perpaduan Keindahan Desain dan Kekuatan Teknologi“.

Kontak penulis melalui email: nahdhi[at]live.com, facebook: Muh Nahdhi Ahsan, atau twitter: @nahdhi89.

JALAN PAGI KE KL TOWER

KL Tower1Dalam plesiran keluarga kecil kami ke Kuala Lumpur beberpa waktu silam, kami sungguh beruntung mendapatkan tempat menginap yang strategis di pusat KL. Menempati sebuah penginapan sederhana di bilangan kawasan Masjid Jamek yang berdampingan dengan jalur protokol menjadikan kami dekat untuk pergi ke titik-titik penting. Ingin ke Dataran Merdeka, cukup jalan kaki tak lebih dari 10 menit. Ingin ke stasiun Masjid Jameek untuk berpetualang ke berbagai penjuru KL, cukup jalan 3 menit.

Di samping pilihan sarana transportasi kereta api, penginapan kami juga sangat berdekatan dengan berbagai jalur bus, termasuk bus GoKL yang gratis itu. Walhasil, jadilah kami setiap hari menikmati kemewahan bertransportasi massal dengan nyaman dan murah, bahkan gratis.

Melancong ke negeri orang alangkah sayangnya jika waktu tidak dimanfaatkan secara maksimal untuk berkunjung atau menjelajahi berbagai tujuan wisata ternama. Demikian halnya waktu pagi sesaat setelah bangun tidur. Meski pagi masih remang-remang, beberapa kali kami menikmati dengan jalan-jalan beberapa blok dari penginapan dan kami sambung dengan menikmati GoKL. Di salah satu pagi nan cerah, bus GoKL Purple Line mengantarkan kami ke KL Tower.

GoKL1   KL Tower4

Dari penginapan sebenarnya KL Tower nampak dengan sangat gagahnya. Menara kebanggaan warga KL jauh sebelum Twin Tower dibangun tersebut seolah memanggil kami untuk menyambanginya semenjak hari pertama kedatangan kami. Dengan menaiki GoKL dari halte di tikungan Museum Telkom, KL Tower dapat dicapai tidak lebih dari 5 menit dan hanya melewati dua halte bus.

Menara setinggi 420 meter ini mulai dibangun pada 1984 dan baru selesai untuk difungsikan pada tahun 1996. Fungsi utama menara yang berdiri di atas bukit Nanas ini untuk sarana telekomunikasi. Namun demikian, semenjak desain awalnya di samping memerankan fungsi utamanya tadi, KL Tower sengaja dirancang sekaligus sebagai salah satu landmark kebanggaan warga KL. Dan nyatanya KL Tower kini menjadi salah satu tujuan wisata utama di KL. Bagi siapapun yang mengunjungi KL, rasanya tidaklah lengkap tanpa singgah di KL Tower.

Setelah turun di halte Menara Weld di pertigaan Jalan Chulan, kami tapaki jalanan menanjak yang menaiki Bukit Nanas. Dengan tarikan nafas dan langkah kaki yang ekstra, lima belas menit kemudian kami telah berada di gerbang utama. Dari titik ini perjalan mengitari bukit di pusat KL tersebut baru akan dimulai. Setelah bertanya kepada petus keamanan di pos, pagi cerah tersebut kami menaiki sebuah minibus shelter yang sengaja dipersiapan untuk setiap pengunjung. Enaknya lagi, kita tidak perlu mengeluarkan ongkos seringgitpun untuk menaikinya.

Namanya bangun tidur di pagi remang-remang jalan-jalan. Waktu itu memang baru sekitar pukul 06.30. Dengan minibus shelter tersebut kami menapaki jalanan berkelok mengitari Bukit Nanas. Sisi tepian jalanan berupa kawasan hutan lindung yang hijau lebat. Sementara di batas cakrawala rapatnya pepohonan, tersembul gedung-gedung pencakar langit yang memberikan gambaran penataan kawasan kota yang modern menantang jaman. Inilah KL dari atas Bukit Nanas.

KL Tower5  KL Tower6

Tidak lebih dari 8 menit, kami tiba di sebuah pelataran yang cukup luas. Di sisi tepian terdapat area parkir yang cukup luas. Sementara di sisi tengah terdapat deretan gerai makanan dan souvenir yang mengarahkan pengunjung menuju pintu utama menara. Tepat di depan pintu utama terdapat pajangan sebuah mobil balap F1 dari Petronas dan Ferari. Tentu saja pajangan tersebut mengundang decak kagum dari anak-anak, bahkan orang dewasa sekalipun.

Kedatangan kami yang sepagi itu tentu saja hanya menemukan loket yang belum dibuka. Kedatangan kami memang sengaja hanya ingin melihat kawasan sekeliling KL Tower dan sama sekali tidak ingin membeli tiket untuk menaiki pucak KL Tower. Bagaimanapun bandrol tiket 90 RM masih terlalu sayang untuk dirogohkan dari kantong tipis kami. Namun demikian, banyak hal yang bisa dieksplorasi secara gratis di sekitar KL Tower.

KL Tower7Dari pintu utama di pelataran dasar, kami menaiki sebuah eskalator yang membawa ke lantai dasar sisi atas. Di sini terdapat selasar yang mengelilingi KL Tower dengan berbagai gerai dan pajangan hal-ihwal KL Tower. Bagi pengunjung yang ingin menaiki hingga ke puncak menara dan menikmati sensasi pemandangan maupun menikmati sajian kuliner di restonya, tiket dapat dibeli di loket yang berada di sisi kanan selasar.

Dengan mengelilingi selasar secara melingkar, pengunjung disuguhi berbagai foto, gambar dan informasi mengenai KL Tower maupun Malaysia secara umum. Di sisi belakang selasar terdapat sebuah arena panggung pertunjukan yang biasa dipergunakan untuk pentas seni budaya khas Melayu maupun pertunjukan musik modern. Di tempat ini kami sempat melihat seperangkat gamelan yang diberi keterangan sebagai gamelan khas asli Malaysia yang selintas mirip-mirip dengan perangkat gamelan Jawa. Ada gong, bonang, saron, gambang dan beberapa perangkat musik lainnya.

Satu hal unik yang kami lihat di sisi kiri selasar adalah keberadaan sebuah pohon besar yang menjulang tinggi. Keberadaannya seolah menjadi paku di sisi bangunan KL Tower yang menjadikannya tegak lurus tak goyah oleh cuaca maupun guncangan gempa. Penampilan pohon yang lurus dengan pucuk menghijau di puncak pohon menambah keanggunan sosok pohon langka tersebut. Pohon tersebut tak lain dan tak bukan adalah pohon teak yang juga merupakan pohon endemik di pulau Kalimantan. Konon jenis pohon ini tumbuh merata di pulau tersebut, termasuk di sisi Kalimantan Utara yang merupakan bagian dari Negeri Malaysia.

KL Tower2  KL Tower3

Tidak hanya menikmati suguhan keunikan di selasar menara, pengunjung dapat menyebarangi pelataran dan memasuki area Malaysia Cultural Village. Taman mini ini merupakan sebuah penggambaran negeri Jiran dengan kekhasan alam hutannya yang asri serta kehidupan alam pedesaannya. Dengan tatanan pepohonan rindang, tatakan bebatuan, kelam ikan dengan air terjun mininya, benar-benar membawa suasana asri, tenang, sunyi dan sangat menentramkan. Menaiki terap-terap batu, kami menapaki jembatan kayu gelondongan yang tertata rapi dan menghubungkannya dengan area resto dan beberapa gasibo serta panggung terbuka. Inilah suasana indah yang kami nikmati dengan percuma, alias gratis!

Sempat berkunjung ke KL? Tak lengkap tanpa mampir ke KL Tower. Nikmati sensasi dan suasanya.

Lor Kedhaton, 26 Mei 2015


Filed under: Jagad Wisata Tagged: GoKL, KL Tower, KLIA, KLIA Ekspress, Kuala Lumpur

Tangkapan layar alias screen capture barangkali sudah lumrah bagi para pengguna ponsel pintar. Hampir semua ponsel pintar yang beredar saat ini sudah dilengkapi dengan fitur screen capture, baik yang dapat dilakukan dengan menekan kombinasi tombol ataupun dengan swipe layar seperti pada Samsung Galaxy Tab S 8.4“. Bagi maniak sharing experience game, atau sekedar pereview aplikasi, tentu screen capture menjadi fitur yang sangat diandalkan dalam membuat sebuah review.

Screen recording? Screen recording pada ponsel yaitu merekam apa yang ditampilkan dalam layar ponsel beserta perubahannya dan disimpan dalam bentuk video. Bagi developer, tentu sudah cukup terbiasa dengan istilah ini yang biasanya digunakan untuk membuat video preview atau test performa dari aplikasi. Screen recording identik dengan developer mode dan root. Ya, supaya dapat melakukan screen recording, biasanya developer melakukan rooting android device atau sekedar mengaktifkan USB debug. Tentu bukan langkah yang mudah dan aman bagi seorang pemula Android seperti saya. Apalagi rooting dapat mengakibatkan void waranty, menyebabkan garansi tidak berlaku.

Sudah beberapa kali saya mencari aplikasi untuk dapat melakukan screen recording. Pertama menemukan aplikasi untuk screen recording justru dengan menggunakan aplikasi bawaan Android SDK. Pun itu tak mudah, perekamannya dilakukan di komputer dan harus membuka bermacam pengaturan developer mode, USB debug, dan sebagainya dalam smartphone. Hasilnya? Ternyata perpindahan screen tidak smooth. Jangankan merekam screen, perpindahan antar menu saja delay/lag-nya sampai berdetik-detik. Terlebih device yang saya gunakan adalah Samsung Galaxy Tab S 8.4” yang dibekali layar beresolusi 2560x1600px. Tentu saja ini membutuhkan “bandwidth” besar melalui USB sekaligus aliran memori cepat di aplikasi Java yang terpasang di komputer.

Menggunakan aplikasi TeamViewer pun tak cukup membantu, sama-sama lag dalam perpindahan menu dan refresh rate layar meski sudah didukung jaringan berkecepatan 30Mbps untuk ponsel maupun komputernya. Awalnya saya pikir ini disebabkan oleh resolusi layar yang terlalu besar, tetapi ternyata hal yang sama juga berlaku di ponsel Sony Xperia C yang hanya beresolusi 1280x720px.

Adalah Mobizen, aplikasi yang dapat digunakan untuk merekam aktifitas layar dalam video. Cukup install aplikasi Mobizen di ponsel android, install plug-in sesuai dengan merek ponsel yang digunakan. Itu sudah cukup untuk melakukan aktifitas rekam-merekam tangkapan layar dalam bentuk video. Terlebih lagi, aplikasi ini tidak memerlukan media eksternal (misal komputer) untuk melakukan perekaman. Semua aktifitas dilakukan oleh ponsel itu sendiri, on the fly. Mulai dari menangkap tampilan layar realtime, memproses kumpulan gambar menjadi video, dan mengkonversinya menjadi video yang playable dan uploadable.

Tampilan Mobizen Saat Recording
Tampilan Mobizen Saat Recording

Selain dapat melakukan recording on the fly, Mobizen juga dapat menampilkan apa yang ditampilkan di layar ponsel ke komputer. Install aplikasi Mobizen untuk komputer, sambungkan ponsel dengan komputer. Selanjutnya aktifkan developer mode pada ponsel dan enable USB debug. Buka aplikasi Mobizen di ponsel dan di Komputer. Selanjutnya setelah login (pastikan sudah create account terlebih dahulu), seketika itu juga layar ponsel akan di-mirror ke komputer.

Perlakuan dan interaksi antara ponsel dengan komputer sama seperti aplikasi ponsel bersistem operasi Windows Phone yang didalamnya sudah menyematkan fitur Project My Screen dalam default penjualannya.

Berikut hasil screen recording tanpa akses root menggunakan Mobizen pada Samsung Galaxy Tab S 8.4″ dengan versi Android 4.4.2:

Nyadran di Dusun Gejiwan
Nyadran, salah satu tradisi turun temurun yang sudah berlangsung ratusan tahun lalu dan sampai saat ini masih di laksanakan  oleh dusun ataupun desa yang ada di Kabupaten Magelang, dan Jawa tengah pada umumnya. Nyadran di laksanakan setiap bulan Sya'ban, sebelum bulan Ramadhan tiba. pada awal mulanya dahulu kala Nyadran adalah tradisi agama Hindu untuk memberikan sesajen atau sesembahan kepada nenek moyang yang telah tiada dengan cara membawa berbagai aneka macam makanan ke makam.

Seiring dengan berjalannya waktu dan masuknya agama Islam ke nusantara, Tradisi nyadran masih tetap di pertahankan dan berlangsung hingga saat ini. Akan tetapi hanya tata caranya yang berbeda. Kalau dahulu sebelum datang agama Islam, Nyadran adalah membawa sesembahan untuk nenek moyang yang telah tiada. Tetapi dengan hadirnya agama Islam Nyadran adalah  berdoa dengan membaca tahlil bersama-sama di makam dusun untuk mendoakan nenek moyang yang meninggal, dan di akhiri dengan makan bersama di balai dusun dan biasanya saat pulang mereka masih dapat bingkisan makanan ataupun yang sering di sebut juga dengan berkat.

Aktifitas nyadran tidak hanya berhenti setelah berdoa bersama membaca tahlil di makam saja, akan tetapi masih berlanjut dengan berkunjung ke sanak saudara yang masih menetap di dusun tersebut. Karena tradisi nyadran tidak hanya di ikuti oleh warga lokal saja. Akan tetapi di ikuti oleh warga luar dusun bahkan luar daerah yang masih mempunyai keluarga ataupun nenek moyang yang di makamkan di dusun tersebut.

Karena pentingnya tradisi Nyadran ini, banyak para perantau yang telah menetap dan tinggal di daerah bahkan kota lain, di bela-belain pulang untuk bisa mengikuti tradisi Nyadran, berdoa bersama membaca tahlil di makam leluhur mereka sebagai wujud rasa cinta dan bakti mereka kepada leluhur, terutama kepada orang tua yang telah tiada.

Hiruk pikuk Nyadran juga berlangsung di tempat kelahiran saya, Dusun Gejiwan, Desa Krasak, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Tradisi Nyadran di Dusun Gejiwan berlangsung pada hari Minggu (24/05/2015) yang lalu. Tradisi Nyadran di Dusun Gejiwan di laksanakan setiap tahunnya pada hari Minggu pertama di bulan Sya'ban.

Acara Sadranan di Dusun Gejiwan ini di mulai sekitar jam 09:00 pagi. mereka berkumpul di makam dusun berdoa membaca tahlil, Surat Ikhlas, Surat Yasin di makam orang tua dan kerabat dekat mereka, memohonkan ampunan dan berdoa agar keluarga mereka yang telah meninggal mendapat ampunan dan tempat yang layak di sisi Allah SWT. Setelah agak siang semua warga berdoa bersama membaca Tahlil dan Surat Ikhlas yang di pimpin oleh Kyai Baihaqi, salah satu ulama terkenal di desa kami.

Setelah acara Tahlilan di makam selesai, acara kemudian di lanjutkan dengan makan bersama di rumah sesepuh desa yang letaknya tidak terlalu jauh dari makam dusun. di rumah sesepuh dusun ini warga mendapat tausyiah oleh Ustad tentang pentingnya berbakti kepada orang tua yang telah meninggal dunia. Karena kitalah, anak cucu mereka satu-satunya harapan mereka untuk mendoakan mereka agar mendapatkan tempat terbaik di sisiNYA.

Lebih lanjut Ustad mengajak semua warga untuk tetap melestarikan tradisi Nyadran ini, Karena Tradisi nyadran merupakan salah satu bentuk bakti kita kepada orang tua dan nenek moyang kita yang telah tiada, dengan cara mendoakan mereka.

By: Sahrudin – @SahrudinSaja MAGELANG branches of the Indonesian Sports Lovers Community (ISLC) and the Indonesian Table Tennis Association (PTMSI) in collaboration with Magelang Open Organizer (MOO) will host the […]
Membuat kawan kita terkagum-kagum dengan sesuatu yang sangat kita banggakan ternyata memang bukan hal yang mudah. Butuh usaha keras, dan kadang harus disertai dengan kebejoan pula.

Dulu, sewaktu kecil, saya pernah mengajak Rudi, kawan sepermainan saya untuk berkunjung ke rumah nenek saya di kaliangkrik, sebuah daerah yang berada di lereng gunung Sumbing.


Rudi (kiri), Figuran (tengah), dan Saya (kanan)

Bukan tanpa sebab saya mengajak Rudi main ke rumah nenek, selain untuk menemani saya mengambil pesanan marmut, saya juga ingin membuat Rudi merasa takjub dengan keindahan alam pegunungan yang ada di kampung nenek saya.

Namun sesampainya di kampung nenek saya, apa yang saya harapkan ternyata jauh dari ekspektasi. Rudi sama sekali tidak terkagum-kagum dengan keindahan alam di kampung nenek saya. Agaknya, pemandangan pegunungan yang hijau dengan hamparan sawah yang luas memang masih terlalu umum untuk dikagumi.

Saya tak habis usaha dan tak mau menyerah begitu saja.

Saya pun kemudian mengajak Rudi turun ke sungai di dekat rumah nenek saya, Kali Kanci, begitulah warga sekitar menyebutnya. Saya yakin, Kesegaran dan kejernihan air Kali Kanci pasti akan membuat Rudi terkagum-kagum.

Namun hasilnya kembali nihil. Rudi tak menampakkan wajah kekaguman sedikitpun.

Saya mulai kecewa. Ternyata tak ada yang istimewa dari kampung nenek saya ini di mata Rudi.

Hingga pada suatu titik, Rudi memanggil saya dengan penuh antusias.

“Gus, cepetan sini!”

“Ada apa Rud?” kata saya sambil menghampiri Rudi yang terlihat nampak begitu sumringah

“Lihat, ada anakan ikan lele banyak banget!” kata Rudi sambil menunjuk pada sebuah kubangan di salah satu bagian sungai.

Dengan Jumawa saya menjawab “Wah, kalau cuma anakan lele, disini memang banyak Rud!”

“Wah, gila ya, banyak sekali anakan lele-nya, kalau di kampungku, anakan lele sebanyak ini pasti sudah diambili trus dijual!”

“Kalau disini ndak Rud! soalnya orang-orang disini ndak terlalu suka sama lele!” kata saya menerangkan seolah-olah anakan lele yang begitu dikagumi oleh Rudi itu tampak tak berharga bagi orang-orang di kampung nenek saya.

Tanpa sadar, harapan saya kembali membuncah.

Akhirnya, ada juga sesuatu dari kampung nenek saya yang bisa membuat Rudi terkagum-kagum. Rupanya Rudi begitu kagum dengan banyaknya anakan Lele yang ada di Kali Kanci. Yah, walau cuma karena anakan lele, tapi setidaknya, ada sesuatu yang bisa saya banggakan dari kampung nenek saya.

Dalam perjalanan pulang, saya tak henti-hentinya tersenyum. Tersenyum karena misi saya untuk membuat Rudi terkagum-kagum pada kampung nenek saya setidaknya bisa terlaksana.

Namun di satu sisi, saya juga merasa sedih. Sedih karena anakan lele yang dilihat oleh Rudi di Kali Kanci tadi sebetulnya adalah...

Kecebong... Ya, Kecebong.

Festival Cisadane1Kali Cisadane merupakan nama sebuah utama yang mengalir melintasi Kota Tangerang. Keberadaan alur sebuah sungai memiliki peranan yang sangat penting bagi perkembangan peradaban manusia. Dengan air sungai, semenjak dahulu kala manusia menggantung hidupnya. Air sangat berguna untuk berbagai hal. Untuk air minum, untuk mandi serta bebersih, untuk memelihara ikan hingga keperluan budidaya pertanian. Inilah yang menyebabkan semenjak manusia purba, perkembangan peradaban didominasi oelh masyarakat yang berdampingan dengan bantaran sungai. Tidak lain dan tidak bukan karena peranan air yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia.

Bagi Kota Tangerang, Kali Cisadane merupakan salah satu ikon dan landmark kota yang sangat penting. Peranan kali ini telah tercatat sangat panjang dalam sejarah perkembangan Tangerang. Cisadane bahkan telah menjadi salah satu urat nadi penopang penghidupan perekonomian sebagian warga kota. Tidak mengherankan jika perjalanan yang sangat panjang tersebut telah menghadirkan tradisi, seni, dan budaya adiluhung dengan berbagai nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya.

Seiring dengan derasnya terpaan arus globalisasi dewasa ini, nilai kearifan lokal merupakan sebuah benteng jatidiri yang akan menentukan identitas sebuah bangsa. Dengan demikian nilai-nilai luhur tersebut harus senantiasa dilestarikan dan diperkenalkan kepada generasi muda, bahkan sejak anak-anak. Dalam rangka inilah, berkaitan dengan keberadaan dan peranan Kali Cisadane sebagai salah satu benteng pertahanan arus globalisasi bagi warga Kota Tangerang, maka Pemerintah Kota Tangerang secara rutin menggelar acara Festival Kali Cisadane. Termasuk untuk tahun 2015 ini.

Festival Cisadane kali ini diselenggarakan lebih awal daripada agenda pada tahun yang sudah-sudah berkenaan dengan akan segera tibanya bulan Ramadhan. Festival Cisadane 2015 digelar dari 23-30 Mei 2015. Sebagaimana biasanya pelaksanaan festival dipusatkan di sepanjang bantaran Kali Cisadane di Jalan Benteng Jaya. Adapun agenda andalan masih tetap menampilkan aneka lomba perahu dengan unggulan utama adalah lomba perahu naga tingkat Asia Tenggara.

Festival Cisadane2Pembukaan Festival Cisadane 2015 telah dilaksanakan pada Sabtu, 23 Mei 2015. Semenjak pagi hari berbagai acara pendahuluan telah digelar. Acara pembukaan secara resmi oleh Wali Kota Tangerang dimulai pada pukul 15.30. Gelar pembukaan festival dimeriahkan dengan pawai atau karnaval puluhan perahu yang memenuhi Kali Cisadane. Ada perahu pemadam kebakaran yang membuka barisan dengan semprotan air mancur raksasanya. Ada perahu pembawa liong alias naga. Ada perahu pembawa barongsai. Ada perahu pembawa warga engan aneka ragam pakaian adat dari seluruh Nusantara. Ada pula deretan perahu peserta dari berbagai perusahaan di Kota Tangerang yang turut memeriahkan karnaval. Sore hingga senja tersebut, ribuan masyarakat Tangerang dan para pendatang berbaur dengan berderet di sepanjang bantaran Kali Cisadane. Suasana nampak sangat meriah dan penuh kegembiraan.

Di samping sajian utama berbagai lomba yang dilaksanakan di Kali Cisadane, di sepanjang Jalan Bneteng Jaya juga dipenuhi dengan ribuan stand. Mulai stand perwakilan kantor pemerintahan yang ingin lebih mendekatkan diri dan bersosialisasi berbagai program pemabangunan kepada masyarakat, juga stand dari setiap kecamatan di wilayah Kota Tengara, hingga stand dari berbagai pengusaha yang turut memanfaatkan keramaian festival untuk lebih menggerakkan roda bisnisnya. Keberadaan stand-stand tersebut akan memuaskan para pengunjung untuk menikmati berbagai sajian, mulai dari kuliner makanan khas, berbagai permainan tradisional, pentas seni budaya, hingga aneka macam kebutuhan masyarakat.

Festival yang akan berlangsung selama sepekan penuh ini akan dipenuhi dengan berbagai acara yang sangat menarik. Ada acara lomba perahu naga, lomba perahu dayung, lomba gethek, pentas lenong, pentas band, hingga pentas wayang golek dan wayang kulit. Belum pernah menghadiri acara Festival Cisadane? Monggo sekali-sekali disempatkan hadir dan nikmati acaranya.

Ngisor Blimbing, 24 Mei 2015


Filed under: Jagad Budaya Tagged: Cisadane, Festival Cisadane, Kota Tangerang, Tangerang

image

Kalau dilihat sekilas banyak yang mengira ini adalah batu Bacan, karena warnanya hijau dan seperti ada bercak-bercak hitam. Kata penjualnya di pasar Tobelo batu ini adalah batu giok hijau yang berasal dari Halmahera Timur. Awalnya saya mengira batu ini biasa-biasa saja. Tetapi setelah dibentuk dan digosok batu ini bisa mengkilat juga. Bentuknya bagus.

image

image


Baca juga koleksi batu akik lainnya: Batu Akik (Gemstone)


image

image

image

image

image


image

Ini juga salah satu batu akik koleksi Abim. Dia mendapat hadiah batu akik ini dari Pak Ivan teman karibku. Katanya namanya batu Opal Kayu. Warnanya hitam kelam dan kalau digosok bisa sangat mengkilat. Tapi batu ini tidak tembus sinar.

image


Baca juga koleksi batu akik lainnya: Batu Akik (Gemstone)


image

image

image

image

image


Tokoh HebatMelihat sampul buku yang satu ini memang lumayan menarik. Sebagaimana judul panjangnya, ” Tokoh-Tokoh Hebat yang Menggatarkan Dunia, Perjalanan Hidup Para Penakhluk Dunia”, sampul depan dan belakang buku dipenuhi dengan deretan wajah tokoh-tokoh sejarah ternama. Ada deretan tokoh-tokokh jaman Yunani, Romawi, Arab, China, dengan wajah Napoleon Bonaparte yang paling menonjol. Bagi siapapun yang suka menyelami dunia sejarah dan ingin mendapatkan inspirasi dari berbagai tokoh dunia sepanjang sejarah, tentu buku ini layak untuk dibeli.

Lebih dari sekedar alasan-alasan di atas, saya lebih tertarik dan memutuskan ingin membaca lebih lanjut berkenaan dengan nama sang penulis. Wahyu Murtiningsih! Saya kiranya tak salah ingat dan memang sebenarnya nama penulis tersebut merupakan salah satu nama teman sekolah sewaktu duduk di bangku SMP 1 Muntilan di awal dekade 90-an. Karena dua alasan mendasar tadi akhirnya saya membeli buku ini tatkala suatu ketika menemukannya di gerai Gramedia dekat rumah.

Sempat tak tersentuh beberapa minggu dikarenakan antrian buku bacaan yang lumayan panjang, akhirnya buku yang ditulis teman dari Magelang ini sempat saya baca pula. Sebelum membaca buku ini saya memiliki harapan dapat lebih mendalami sejarah singkat para tokoh dunia sebagaimana deretan di halaman sampul. Ada nama-nama seperti Alexander Agung, Asoka, Attila the Hun, Augustus Caesar, Cyrus Agung, Fransisco Pizarro, Hannibal Barca, Herman Cortes, Jengis Khan, Julius Caesar, Karel Agung, Kubilai Khanm Napoleon Bonaparte, Shalahuddin al Ayubi, Sui Weng, dll.

Tatkala membuka bagian daftar isi, pembaca akan disuguhkan dengan 42 nama tokoh yang menggetarkan tadi. Akhirnya sayapun membaca dan mencermati kisah hidup para tokoh yang menjadi bahasan utama dari buku ini. Tanpa banyak kendala dan hambatan, kurang dari stu minggu buku inipun tuntas saya khatamkan. Dan tulisan ini merupakan sekedar sebuah catatan kecil dari buku tersebut.

Sebagaimana penawaran janji di halaman sampul, nampaknya ada beberapa hal yang kurang tuntas dibeberkan oleh penulis mengenai masing-masing tokoh yang diungkap. Ada beberapa tokoh yang dikupas lebih detail, rinci dan tuntas dibandingkan tokoh lain. DAri sisi jumlah halaman pembahasan mungkin melebihi empat hingga enam halaman tulisan. Ada pula tokoh yang terlalu singkat disingkap perjalanan hidupnya dalam dua halaman saja. Dari sini memberikan kesan antar tokoh memiliki kaliber ketenaran dan pengaruh dalam kesejarahan umat manusia. Sehingga ada klasifikasi tokoh utama, tokoh pendukung, bahkan tokoh pelengkap saja.

Mungkin akan lebih bagus jika tokoh yang diungkap tidak terlalu banyak namun yang memiliki ketenaran dan kaliber kesejarahan yang setara. Harapannya pengungkapan fakta sejarah dan pengaruh yang ditinggalkan oleh sang tokoh bisa diungkapan lebih detail, mendalam. Jika ada akan lebih bagus lagi jika dilengkapi dengan foto-foto atau gambar pendukung mengenai tokoh bersangkutan. Dengan demikian para pembaca akan mendapatkan gambaran yang lebih lengkap dan seolah benar-benar terbawa ke alam sejarah di masa silam.

Dari sisi runutan urutan kronologi kejadian, akan lebih baik lagi jika urutan penceritaan para tokoh yang ada diurutkan berdasarkan urutan waktu dari yang terlama hingga terbaru. Dari situ pembaca akan mendapatkan pemahaman mengenai konteks sejarah menjadi sebuah jalinan kisah dari masa awal peradaban manusia hingga yang paling akhir. Begitupun mengenai wilayah-wilayah dunia yang menjadi negara takhlukan juga memberikan kesan ada saling tumpang tindih daerah penguasaan, sehingga nampak sekali batasan pengertian menakhlukkan bangsa lain terlalu kabur. Apakah menakhlukkan secara politik, ekonomi, atau sekedar pengaruh budaya.

Penuturan kisah para tokoh memang nampak sedari awal disetting untuk menggambarkan kehebatan yang bisa menggetarkan bahkan menginspirasi para pembaca. Namun dengan mengisahkan para tokoh sebagia paling hebat, seolah tanpa cacat, membawa kesan hitan putih dimana para penakluk selalu dikesankan sebagai tokoh baik, sedangkan yang ditakhlukkan seolah berada di sisi ketidak-baikan.

Terakhir, khususnya untuk tokoh-tokoh penakluk dari dunia muslim, apakah dengan penggambaran kehebatan seorang tokoh sebagai penakluk justru membawa kesan bahwa setiap kehebatan dan  “kebenaran” harus dipaksakan untuk diakui oleh pihak lain, oleh bangsa lain, bahkan oleh agama lain? Harus dipahamkan dengan perang dan pedang? Ada disebarkan dengan cara penaklukan? Kemudian dimanakah sisi kebaikan, toleransi, ataupun rahmatan lil ‘alaminnya?

Lepas dari catatan-catatan kecil yang mungkin tidak penting dan tidak berguna, jujur saya mengapresiasi peran Mbak Wahyu dalam menghimpun data dan informasi untuk kemudian menuliskannya menjadi bentuk buku sejarah yang layak dibaca. Ungkapan bangga juga saya sampaikan dikarenakan diantara sekian banyak putra asli Magelang, barulah segelintir orang yang mau bersusah payah menjadi penulis buku. Hal ini sebagai sebuah sumbangsih bagi kemajuan dunia kepenulisan dan pengembangan ilmu pengetahuan yang lebih maju ke depannya.

Mudah-mudahan di masa mendatang akan lebih banyak lagi putera-puteri Magelangan yang turut menekuni dan meramaikan dunia penulisan di tanah air sehingga dapat turut memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa. Terkhusus untuk sang penulis, setelah berhasil menghimpun sejarah ketokohan berbagai tokoh dunia, semoga kelak juga berkesempatan menuliskan beberapa tokoh penting yang berkaitan dengan sejarah kehidupan wilayah Magelang. Ini sebuah tantangan yang ingin saya sampaikan sekaligus sebagai sebuah harapan.

Selamat untuk Mbak Wahyu atas karyanya. Dan selamat membaca bagi para pembaca sekalian. Semoga buku di tengan Anda bisa bermanfaat.

Ngisor Blimbing, 23 Mei 2015


Filed under: Jagad Sastra Tagged: Alexander Agung, Napoleon Bonaparte, tokoh berpengaruh, tokoh dunia


Lumia 930 White
Lumia 930 White (Source)

Semuanya memiliki kesempatan berikutnya, kira-kira begitulah apa yang akan saya ulas kali ini. Paul Thurrot pernah mengatakan bahwa Windows Phone dengan Nokia (sekarang Microsoft Devices), PureView, dan optik Zeiss adalah kombinasi sempurna sebuah camera smartphone. Thurrot mengatakan bahwa Lumia 930 adalah smartphone paling perfect yang pernah dia miliki sepanjang masa.

Beberapa saat yang lalu saya baru saja kehilangan Lumia phone saya, Lumia 625H. Lumia 625H ini sudah saya pakai untuk jangka waktu sekitar satu tahun. Dari mulai masih menggunakan Lumia Amber, kemudian Lumia Black, Lumia Cyan, sampai terakhir Lumia Denim. Lumia 625H bukanlah smartphone “jagoan” yang dihasilkan Nokia, tetapi Lumia 625 adalah Lumia pertama dengan layar paling besar di segmen menengah. Layar Lumia 625H berukuran 4,7” merupakan layar terbesar dari Nokia Lumia yang dirilis pada saat itu. Soal Hardware, tentu tidak bisa dibandingkan dengan flagship produsen lain, tetapi pada intinya, Microsoft secara konsisten melakukan update terhadap semua device yang disangga dengan sistem operasinya, tak terkecuali.

Nokia Lumia 625H with 5MP Camera Autofocus
My last update insider Nokia Lumia 625H with 5MP Camera Autofocus

Setelah kehilangan ponsel Lumia 625H (ponsel kedua yang saya beli), saya memutuskan untuk membeli ponsel untuk ketiga kalinya. Ponsel pertama yang saya beli adalah Nokia C6-00 bersistem operasi Symbian dengan keyboard slider. Dalam banyak pertimbangan, saya sedikit bimbang apakah akan beralih ke ponsel Android, iOS, atau tetap dengan Windows Phone. Pertimbangan utama saya adalah ponsel dengan kamera excelent dengan pengaturan yang bisa sesimple mungkin tetapi juga bisa like a pro. Beberapa kandidat adalah Samsung Galaxy Note 4, Sony Xperia Z3, iPhone 5s, Lumia 930, atau Lumia 1020. Pilihan saya jatuh pada Lumia 930 dengan Windows Phone, ponsel flagship Nokia terakhir sebelum berubah menjadi Microsoft Devices.

Lumia 930 adalah ponsel dengan kemampuan jaringan 4G LTE. Sebelumnya, saya sudah memiliki Samsung Galaxy Tab S 8,4” dengan kemampuan 4G LTE. Pada saat itu hanya operator Telkomsel yang menyediakan upgrade SIM Card menjadi USIM yang support 4G LTE. Saya upgrade SIM Card ke USIM, tetapi nomor Telkomsel saya adalah nomor ponsel untuk berkomunikasi telepon secara intensif. Tentu akan sangat aneh dilihat ketika saya menelpon menempelkan sebuah tablet 8,4” di kepala, meski saya sebenarnya sudah menggunakan bluetooth headset untuk antisipasi. SIM Card 4G LTE itulah satu sebab yang membuat saya memilih Lumia 930.

Lumia 930 adalah ponsel dengan display 1920×1080 Full HD AMOLED. Jelas ini adalah teknologi layar terbaik untuk saat ini. Sebelumnya saya sudah cukup merasa kesulitan dengan Lumia 625H yang hanya dilengkapi IPS LCD ketika beraktifitas di bawah teriknya Jakarta siang hari. Soal kontras warna, tentu saja AMOLED display jauh lebih baik dibandingkan IPS LCD, begitu yang saya rasakan ketika membandingkan display Samsung Galaxy Tab S 8,4” yang ber-AMOLED dengan Lumia 625H yang hanya ber-IPS LCD. Display AMOLED itulah penyebab kedua saya memilih Lumia 930.

Lumia 930 adalah ponsel dengan Windows Phone 8.1, Lumia Denim. Saya adalah fan Microsoft sejak masih kuliah. Begitu juga ketika menggunakan Lumia 625H, saya sangat excited dengan informasi-informasi seputar Windows Phone. Saya pernah melalui masa-masa Lumia Amber sampai dengan Lumia Denim. Saya bisa menyimpulkan bahwa semua device yang disangga sistem operasi Windows Phone akan selalu mendapatkan update, apapun spesifikasi hardware-nya. Update software di semua lini Windows Phone adalah sebab ketiga saya memilih Lumia 930.

Lumia 930 adalah ponsel dengan Kamera 20MP, PureView, Zeiss Optic dan software Lumia Camera. Tak perlu tanya lagi bagaiman kemampuan Nokia dalam menciptakan camera phone, tengoklah bagaimana kemampuan Lumia 1020. Saya sebelumnya adalah pengguna Lumia 625H yang hanya dilengkapi kamera 5MP autofocus tanpa ada enhancement PureView maupun Zeiss Optic. Hanya ada Lumia Camera. Mencoba kemampuan dari Lumia Camera sudah cukup membuat saya bisa menyimpulkan software Lumia Camera adalah software terbaik dari ponsel kamera dengan kemampuan setting manualnya yang simple dan sangat pro-friendly. Pengaturan fokus manual, ISO manual, shutter speed manual, exposure manual, dan white balance manual adalah apa yang sudah lumrah muncul di kamera professional dan didatangkan ke Lumia Camera dengan pengaturan semirip mungkin. Kemampuan dan fungsionalitas kamera adalah sebab keempat saya memilih Lumia 930.

Desain yang kokoh dan unik, warna putih yang berkelas, dan berbagai aplikasi terbaik hanyalah sebuah bonus. Kehadiran Windows 10 bisa jadi masih perlu dinanti. Belum lagi kemunculan flagship Microsoft Devices yang rumornya adalah 940 dan 940XL pun saat ini masih samar-samar, dan kemungkinan tidak dalam waktu dekat ini. Tentu Lumia 930 menjadi pilihan terbaik dari ponsel Windows Phone yang ada saat ini.

Tidak ada Windows Phone dan Android lain yang pernah saya miliki bisa “berdiri” stabil tanpa disangga.
Tidak ada Windows Phone dan Android lain yang pernah saya miliki bisa “berdiri” stabil tanpa disangga.

Aroma Mafia Haji

-

Sang Nananging Jagad

on 2015-5-20 8:54am GMT

Seorang rekan beberapa pekan silam berkisah tentang krenteknya naik haji ke tanah suci. Meskipun baru sekedar mendaftarkan diri sebagai calon jamaah haji yang harus menunggu atrian 15 tahun, namun seolah ada kelegaan ketika ia telah membulatkan tekad untuk menjawab panggilan yang mungkin masih sangat sayup-sayup terdengar dari jarak waktu yang masih panjang tersebut. Hal ini tentu sangat berbeda dengan diri penulis yang masih terus merasa tidak memiliki modal iman dan ketaqwaan yang mencukupi sehingga mampu mendengar getar panggilan Tuhan. Terlebih soal modal biaya karena tanggungan sekolah anak-anak dan berbagai kebutuhan, ditambah lagi dengan sikap tak tega hati melihat diri sendiri dan sesama rakyat yang masih serba kekurangan.

Setelah akhirnya mendaftarkan diri melalui sebuah bank yang memberikan layanan pendaftaran calon jamaah haji, rekan saya tersebut sempat bercerita kepada rekan lain yang kebetulan istrinya bekerja di kementerian yang mengurusi penyelenggaraan ibadah haji. Mendengar antrian 15 menunggu untuk dapat berangkat, meskipun sebelumnya sudah harus melunasi sebagian besar biaya haji, rekan saya yang lainnya tadi memberikan sebuah saran urun rembug. Menurut dia, jika ingin ndesel alias melompati antrian sehingga dapat menyingkat waktu antrian, ada cara yang bisa ditempuh.

.


Filed under: Jagad Bubrah Tagged: haji, korupsi

Randa Royal

-

Sang Nananging Jagad

on 2015-5-18 6:18am GMT

Dalam khasanah bahasa Jawa, kata randa berbeda makna dengan ronda. Memang sangat kebetulan jika kata randa berarti janda. Berbeda satu huruf awal, berbeda bahasa, namun memiliki arti yang sama. Randa, ya janda itu tadi. Seorang perempuan yang pernah berumah tangga namun kemudian berpisah dari sang suami. Entah sebab suami meninggal dunia, maupun akibat proses perceraian. Itulah randa yang saya maksudkan.

Dalam jagad perkulineran masyarakat Jawa, randa royal sebagaimana yang saya tuliskan sebagai judul tulisan ini, juga merupakan nama jenis makanan yang dikenal di kalangan masyarakat umum. Randa royal merupakan gorengan yang terbuat dari tape ketela yang ditumbuk lembut seperti adonan tepung kemudian dibulat-bulat. Nah bulatan tersebut selanjutnya dibalut adonan tepung untuk kemudian digoreng dalam minyak panas. Kombinasi antara rasa tape dan kulit tepung yang gurih menghasilkan cita rasa randa royal yang sangat khas. Nyamikan sederhana ini sangat cocok menemani sajian kopi atau teh hangat. Terlebih pada saat suasana hujan gerimis. Wis, mak yuuus habis wis!

Melalui pengantar judul randa royal, saya sebenarnya sedang tidak ingin membicarakan makanan dari tape dan tepung tadi. Serius, randa royal yang saya singgung ini benar-benar berkaitan dengan janda yang ditinggalkan suaminya. Mbak Wina Lia? Jelas bukan! Meskipun kisah janda yang menawarkan menjual rumahnya sekaligus menawarkan diri untuk diperistri pembeli rumahnya tersebut telah menghangat kembali seiring telah ada pria yang menyanggupinya, namun jelas bukan sosoknya yang ingin saya ceritakan.

Randa royal yang satu ini masih terhitung tetangga dekat rumah. Belum satu tahun ini, tetangga tersebut ditinggal suaminya yang meninggal akibat komplikasi berbagai penyakit. Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, ia harus melanjutkan hidup dengan tanggungan tiga orang anak yang dua diantaranya masih duduk di bangku SD dan SMP. Si sulung, atas kebaikan pihak pabrik tempat sang ayah bekerja, didaulat melanjutkan kerja ayahnya menjadi karyawan pabrik.

Hanya dengan mengandalkan topangan hidup dari si sulung, sebenarnya hidup keluarga kecil tersebut sangat pas-pasan. Untuk mengisi waktu si janda berjualan makanan ringan bagi anak-anak di lingkungan sekitar kami. Sekedar mie goreng, es sirup, gorengan dan snack anak-anak. Hanya saja, beberapa saat sebelum si suami meninggal, keluarga tersebut sempat menjual sepetak tanah warisan orang tua tepat di belakang rumah. Nilai rupiahnya tergolong lumayan, sekitar beberapa ratus juta. Niat awalnya dulu untuk menambah biaya pengobatan. Namun ternyata Tuhan berkehendak lain dengan memanggil sang suami ke haribaan-Nya.

Mungkin merasa mengantongi uang yang lumayan banyak, bukan menjadikan si janda berhemat dan bijaksana dalam mengelola keuangan keluarga, justru yang terlihat oleh para tetangga adalah sifat royal alias borosnya. Si bungsu yang manja dan merengek ingin memiliki laptoppun tanpa berpikir panjang langsung dibelikan laptop baru nan kinyis-kinyis. Meskipun anaknya baru kelas dua SD dan hanya menggunakan laptop canggih tersebut untuk bermain game ria, tetapi ada semacam rasa bangga di benak ibu setengah baya tetangga saya tersebut.

Terakhir kemarin kebetulan si bungsu berulang tahun. Si anak meminta untuk diulang-tahuni secara meriah. Demi rasa sayang anak, beberapa tetangga dan kerabatpun dikerahkan untuk mempersiapkan sebuah pesta. Berbeda dengan kebanyakan warga di sekitar kami yang memperingati ulang tahun anaknya hanya ala kadarnya sebagai wujud syukur dan doa permohonan umur sarat keberkahan, tetangga saya mempersiapkan ulang tahun anaknya secara lebih serius. Jika pada umumnya kami sekedar menyuguhkan nasi urap, atau nasi kuning, dengan sedikit snack untuk anak-anak, maka ulang tahun yang satu ini sengaja memesan segala sesuatunya dari restoran ternama. Untuk anak-anak di lingkungan kami, ia memesan fried chicken puluhan dus. Lengkap dengan minuman teh gelas dan kelengkapannya. Dengar-dengar satu paket bingkisan tersebut tak kurang dari 15 ribu harganya.

Mendapatkan bingkisan makanan yang wah, tentu saja anak-anak merasa senang-senang saja. Tetapi sebagian orang tua merasa alangkah sayang dan kurang bijaksananya menuruti segala kehendak anak tanpa memberikan pengajaran moral yang memadai. Di tengah kondisi keluarga yang pas-pasan penghidupannya, mungkin lebih bijaksana jika sedari dini anak-anak dipahamkan dengan kehidupan yang bersahaja dan penuh kesederhanaan. Meskipun pada saat ini masih memiliki uang banyak dari hasil penjualan tanah tadi, akan lebih berguna jika uang tersebut dipergunakan secara lebih hemat tokh masa pendidikan anak-anaknya juga masih begitu panjang dan akan memerlukan banyak biaya.

Namun tampaknya hal-hal yang dipikirkan para tetangga tersebut tidak menjadi pertimbangan utama bagi si randa royal. Setelah ketiadaan suami yang dapat memimpin keluarga kecilnya dengan sikap yang lebih bijaksana, si janda seperti lepas kendali dan kurang kontrol dalam mempergunakan keuangan keluarga. Hal inilah yang menjadikannya mendapat julukan randa royal tadi.

Tulisan ini bukan bermaksud menyinggung perilaku tetangga yang memang memiliki hak penuh untuk mempergunakan segala harta benda miliknya untuk kehidupannya sendiri. Akan tetapi sebagai sebuah bagian dari kelembagaan masyarakat, hendaknya kita bijaksana dalam mendidik anak-anak sejak dini. Tidak setiap hal yang menjadi keinginan anak harus diturutkan. Anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan tahapan umur pendewasaannya. Segala hal pemberian orang tua harus diukur secara proporsional berdasarkan perkembangan psikologis dan psikis si buah hati. Jangan sampai atas nama sayang anak segala hal diperturutkan tanpa berpikir panjang dan bijaksana. Jangan-jangan anak menjadi merasa seperti raja yang segala keinginannya harus terwujud, tidak penduli bagaimana orang tua harus banting tulang untuk menurutinya. Sangat disayangkan jika sifat manja dan tak mandiri itu kemudian terlanjur terbawa hingga dewasa. Maka yang akan terjadi adalah lahirnya orang-orang dewasa yang masih tetap bermental kanak-kanak. Demikiankah yang kita inginkan terhadap anak-anak kita?

Lor Kedhaton, 18 Mei 2015


Filed under: Jagad Bubrah Tagged: janda royal, Kampung Kosong, randa royal, ulang tahun


Hari ini, padi 18 Mei 2015 merupakan detik-detik terakhir siswa kelas 6 SDN Salaman 1 dalam menempuh ujian akhir. Perlaksanaan yang selalu melibatkan pengawas ujian dari sekolah lain ini berlangsung tertib dan aman dihari pertama ini. Semoga hal sama untuk hari-hari berikutnya.




 Siswa peserta ujian 2014/2015

 Komite sekolah bersama guru



Mohon Doa Restu








Suasana Ruang Ujian





Salah satu sekolah tua yang masih tegak berdiri yaitu SDN Salaman 01 yang berada di Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang. Tidak menutup kemungkinan sekolah tersebut merupakan sekolah tertua di Kabupaten Magelang


Ujian Akhir kelas 6 sudah di ambang pintu. Segala upaya sudah dilakukan. Tujuannya tak lain hanyalah semoga para siswa bisa sukses dalam menghadapi ujian kali ini. Bisa memperoleh hasil yang terbaik. Bisa mendapat ketenangan dalam mengerjakan soal ujian. Dan tentunya dapat memberi manfaat khususnya bagi siswa sendiri.

Usaha terakhir yang dilakukan pihak sekolah dan wali siswa adalah menyelenggarakan doa bersama. Acara yang selalu  berlangsung pada tiap tahunnya ini tidak hanya dihadiri oleh wali murid saja, tetapi juga dihadiri oleh ketua paguyuban SDN Salaman 1 sekaligus sebagai Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Magelang.






Salah satu sekolah tua yang masih tegak berdiri yaitu SDN Salaman 01 yang berada di Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang. Tidak menutup kemungkinan sekolah tersebut merupakan sekolah tertua di Kabupaten Magelang
Awalnya saya sama seorang teman saya, Wahyu, udah punya rencana buat ke Bromo abis lebaran. Namun, dikarenakan ada yang nawarin ke Bromo naik Land Rover masa kita nolak. Hehe. Sebenernya nggak nawarin secara langsung sih. Soalnya, orang itu posting di grup facebook Backpacker Nusantara. Bagi siapa aja yang mau  ke Bromo via jalur darat bisa ikutan atau nebeng dengan ongkos seridhonya. Disediakan
batu akik unik ruang angkasa

Batu Akik Ruang Angkasa yang sangat unik. Batunya terlihat seperti kerikil biasa, tetapi kalau digosok luar biasa.

Abim dan teman-temannya kadangkala mencari batu di dekat sekolahnya. Salah satu batu yang sangat unik yang dia temukan adalah batu ruang angkasa. Dia menyebutnya seperti itu, karena kalau batu ini disentering akan muncul bentuk yang unik dari dalam batu itu. seperti ada bentuk bulat-bulat yang membentuk pandangan seperti di ruang angkasa. Jika tidak disinari bentuknya hitam bercak-bercak biasa. Batu ini baru terlihat uniknya setelah disinari dengan cahaya.

Batu Akik Ruang Angkasa yang sangat unik. Batunya terlihat seperti kerikil biasa, tetapi kalau digosok luar biasa.

Batu Akik Ruang Angkasa yang sangat unik. Batunya terlihat seperti kerikil biasa, tetapi kalau digosok luar biasa.

Batu Akik Ruang Angkasa yang sangat unik. Batunya terlihat seperti kerikil biasa, tetapi kalau digosok luar biasa.

Batu Akik Ruang Angkasa yang sangat unik. Batunya terlihat seperti kerikil biasa, tetapi kalau digosok luar biasa.

Batu Akik Ruang Angkasa yang sangat unik. Batunya terlihat seperti kerikil biasa, tetapi kalau digosok luar biasa.

Batu Akik Ruang Angkasa yang sangat unik. Batunya terlihat seperti kerikil biasa, tetapi kalau digosok luar biasa.


Isra MirajTanpa sadar dan benar-benaan dan paham kalender Hijriyah, rupanya hari ini bertepatan dengan 27 Rajab 1436 H. Mengenai tanggal tersebut, mungkin kita tahu bahwa hari tersebut merupakan peringatan Isra’ Mi’raj Kanjeng Nabi Muhammad SAW.  Dari peristiwa penting inilah ummat Islam, melalui Rasulnya, menerima perintah sholat wajib lima waktu sehari semalamnya. Isya’, Subuh, Luhur, Ashar, dan Maghrib, jadilah tepat kita singkat menjadi ISLAM.

Sebagai sebuah kisah sejarah yang didongengkan oleh para guru agama maupun guru ngaji di kampung-kampung, peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan sebuah “cerita dongeng” yang sangat menarik bagi anak-anak. Antara nyata dan tidak nyata, antara sekedar dongeng dengan sebuah realita sejarah, antara percaya dan tidak percaya, bagi para bocah memang segalanya masih dipertanyakan berdasarkan logika pemikiran yang lurus. Namun seiring keterbatasan pengetahuan dan strategi komunikasi, para penutur kisah Isra’ Mi’raj seringkali memilih untuk mendoktrinasi kisah tersebut sebagai dogma yang harus diyakini berlandaskan keimanan.

Di samping mengenal sejarah peristiwa Isra’ Mi’raj dari para guru agama dan guru ngaji, serta beberapa penceramah di mimbar, di masjid dusun kami dulu juga sering ditembangkan syair pujian mengenai Isra’ Mi’raj. Tahu apa yang dimaksud dengan “pujian” nggak?

Pujian-pujian atau biasa disebut pujian saja, bagi kaum muslim tradisional di dusun-dusun merupakan lantunan syair, tembang, maupun sholawatan yang biasa dilakukan pada saat menunggu pelaksanaan sholat berjamaah di masjid atau mushola. Antara saat dikumandangkannya adzan dan iqomad, sambil menunggu berkumpulnya jamaah dan kedatangan sang imam, di samping biasa diisi dengan sholat sunat waktu tersebut juga sering diisi dengan lantunan pepujian tadi.

Pepujian lebih merupakan sebuah tradisi. Secara syariat atau tuntunan ibadah dalam agama Islam jelas tidak ada perintah ataupun larangan mengenai hal ini. Daripada waktu yang sangat mujabbah tersebut hanya diisi dengan obrolan ngalor-ngidul yang tidak karuan, maka generasi pendahulu kita berkreasi dengan syair pujian untuk menantikan saat iqomad.

Ada berbagai macam syair atau tembang pepujian. Ada yang berbahasa Arab, seperti  sholawat badar, sholawat nariyah, dan beberapa syari yang lain. Ada pula syair dalam bahasa Jawa yang entah diciptakan oleh tokoh siapa, seperti anjuran bergegas sholat jamaah jika adzan telah berkumandang, syair tentang pengingat kematian, syair tentang keindahan surga maupun kengerian neraka. Dan diantara sekian syair tadi ada kisah mengenai peristiwa Isra’ Mi’raj.

Adalah Amat Zaenuri atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pak Dombo, salah seorang muadzin di masjid dusun kami di masa lalu, sering mengkombinasikan sholat badar dengan kisah Isra’ Mi’raj. Meski pepujian tersebut saya dengar semasa masih usia bocah, namun saya masih ingat syairnya secara lengkap. Sebuah syair pujian yang sederhana namun sangat dalam maknanya. Syairnya kira-kira begini:

Sholatullah salamullah, ‘ala toha rasulillah;

Sholatullah salamullan. ‘ala-‘ala yasin khabibillah;

Isra’ Mi’raj Kanjeng Nabi, Tindake ing wayah bengi;

Diderekake malaikan loro, Jibril Mikail asmane.

Hanya begitu? Memang hanya begitu saja. Namun di balik syair pepujian yang hanya empat baris tersebut tersimpan sebuah kisah yang bisa diurai secara lebih panjang lebar sebagaimana kisah Isra’ Mi’raj yang sesungguhnya. Di situlah justru kekuatan syair pepujian yang luar biasa. Pesannya singkat tetapi maknanya sangat simbolik dan mendalam. Pepujian merupakan sebuah bentuk nilai kearifan lokal yang mengakulturasikan nilai-nilai agama dengan tradisi tembang yang sudah ada sebelum Islam masuk di Tanah Jawa.

Seiring perkembangan waktu, justru tradisi pujian antara waktu setelah adzan dengan iqomad telah banyak ditinggalkan para pelantunnya. Generasi sepuh para pelaku pepujian satu per satu bahkan kebanyakan diantara mungkin sudah banyak yang telah meninggal. Di sisi lain, arus puritanisasi ajaran Islam juga terlanjur telah menggusur segala hal seni tradisi yang berkaitan erat dengan ritual ibadah yang dinilai sebagai tindakan bid’ah. Dan memang setelah tardisi pepujian punah di masjid-masjid ataupun mushola dusun kita, antara adzan dan iqomad memang diisi dengan aktivitas individu masing-masing jamaah yang menjadikan masjid sunyi dari pepujian. Namun sayangnya kesunyian tersebut juga disebabkan sepinya masjid dan mushola oleh para jamaah, terlebih para remaja dan anak-anak yang merasa kuno dan belum saatnya meramaikan masjid. Alangkah sayangnya!

Ngisor Blimbing, 16 Mei 2015


Filed under: Jagad Budaya Tagged: 27 Rajab, Isra' Mi'raj, nabi muhammad

Windows 10 digadang-gadang menjadi windows baru menggantikan sistem operasi Windows sebelumnya. Windows baru yang dimaksud bukan sekedar pengganti sebagai seri lanjutan setelah Windows 8.1 tetapi juga skema pembayaran baru. Dalam Windows 10 nanti, pembayarannya bukan lagi sekali beli untuk seumur hidup (seperti pada Windows versi sebelumnya) tetapi dengan skema pembayaran berlangganan, ya subscriptions. Itulah kenapa Microsoft berbicara mengenai Free One Year Upgrade bukan Free Upgrade seperti pada saat Windows 8 menjadi Windows 8.1.

Seperti apa Windows 10? Saya berkesempatan mencoba sendiri Windows 10 Enterprise Technical Preview. Rilis yang saya coba adalah rilis build 9926. Tentu rilis ini sudah obsolete atau ketinggalan karena saat tulisan ini diunggah sudah ada rilis build 10074. Saya pikir tidak ada masalah mencoba rilis build berapapun. Toh namanya juga mencoba.

Sistem yang saya gunakan menggunakan virtual machine (Microsoft Hyper-V) dengan pengaturan CPU 1 Core 1 Thread dari Intel Core i5 2500K 3.3GHz, RAM 1024MB, dan harddisk virtual 32GB. Meski dari spesifikasi sepertinya tidak mencukupi untuk menjalankan Windows 10 64-bit, tapi ternyata cukup lancar untuk mengoperasikan aplikasi yang sudah ada atau bawaan yang ada di dalamnya.

Task Manager Windows 10

Dari RAM 1GB, hampir 800MB sudah terpakai untuk sistem, artinya tidak banyak yang bisa dilakukan dengan RAM yang tersisa. Pun dengan CPU yang hanya satu core tidak bermasalah dalam eksekusi buka-tutup aplikasi. Meski demikian, apabila nantinya benar-benar digunakan untuk operasi harian pastinya akan dibutuhkan RAM yang lebih besar dan CPU core/thread lebih banyak. Begitu juga dengan Harddisk virtual yang saya ambil 32GB, masih tersisa cukup banyak apabila akan diinstall aplikasi dasar untuk office.

Klik untuk melihat slideshow
Bagi penikmat susu segar di Magelang wajib mencoba SuperMilk. Sebuah restoran atau cafe di bilangan Kerkopan. Tidak hanya aneka susu yang dapat dipesan disini, Hot Coffe dan Hot Chocolate juga...

Like us on https://www.facebook.com/MagelangOnline
Saya sendiri baru ikutan FestivalTIK yang pertama di Bandung, dan saat itupun baru gabung di RelawanTIK, perhelatan tahun-tahun berikutnya tidak bisa hadir karena selalu bertepatan dengan agenda lain yang tidak bisa ditinggalkan. Tahun 2015 ini FestivalTIK kembali ke Bandung dengan tema “Sabanda Sariksa SaTIKa”, ada apa aja sih di FestivalTIK tahun 2015 di Bandung, bisa […]

Bagi para FPS gamer, tentu cukup mengenal game sekuel game Brothers in Arms. Game yang bertajuk shooter ini sudah cukup lama hadir di platform PC Desktop. Belum lama ini, Brothers in Arms melalui sekuel Brothers in Arms 3: Sons of War hadir di mobile platform Android dan Windows Phone. Jika menilik dari versi PC Desktop, game ini bisa dipastikan memerlukan spesifikasi hardware yang mumpuni.

Android BIA3SOWGame Brothers in Arms 3: Sons of War for Android sedikitnya memerlukan memori penyimpanan 754MB pada versi 1.2.0p. Dengan kebutuhan memori penyimpan sebegitu besar, tentu dapat dimengerti kalau game ini menyasar untuk device android kelas atas. Setidaknya untuk menjalankan game ini dengan cukup mulus, minimal dengan RAM sedikitnya 1.5GB, prosesor 4 core, dan kartu grafis yang mumpuni. Beruntung saat ini ponsel Android dengan spesifikasi mumpuni di kelas menengah bisa dibilang tidak terlalu mahal jika mengkomparasikan dengan spesifikasi yang diperoleh.

Windows Phone BIA3SOWDalam versi Windows Phone, Brothers in Arms 3: Sons of War juga memakan memori cukup besar, yaitu 616MB. Tentu dengan kebutuhan memori sebesar itu membutuhkan resource mumpuni. Barangkali RAM 512MB di ponsel Windows Phone akan teriak keberatan untuk menjalankan game ini. Belum lagi ponsel-ponsel Windows Phone yang yang beredar bisa dibilang ketinggalan jaman untuk teknologi prosesornya. Disaat produsen lain sudah pasang prosesor 4 inti, produsen ponsel untuk Windows Phone masih setia dengan prosesor 2 inti. Begitu juga disaat produsen lain sudah menginjak prosesor 8 inti, mereka baru memasuki era 4 inti.

Dalam ujicoba kali ini, perangkat Android yang digunakan adalah Samsung Galaxy Tab S 8.4 LTE (SM-T705) dengan versi Android 4.4.2 dan game Brothers in Arms 3: Sons of War versi 1.2.0p. Sedangkan perangkat Windows Phone 8.1 Denim sebagai lawan tandingnya adalah Nokia Lumia 930 (RM-1045) dengan game Brothers in Arms 3: Sons of War versi 1.0.3.3.

Dari sisi spesifikasi, Samsung Galaxy Tab S 8.4 LTE masih unggul dengan prosesor 8 inti (big.LITLE) dan RAM 3GB jika dibandingkan dengan Nokia Lumia 930 yang hanya dibekali prosesor 4 inti dan RAM 2GB. Untuk sektor display, sepertinya resolusi layar Samsung Galaxy Tab S yang lebih besar 2560×1600 pixel justru akan lebih membebani jika dibandingkan Nokia Lumia 930 yang hanya dibekali layar resolusi 1920×1080 pixel. Dari prosesor pun meski Samsung Tab S dibekali 8 inti tetapi dengan skema big.LITLE (hanya 4 inti yang aktif bersamaan) dan clock 1.9GHz sepertinya akan sedikit limbung menghadapi Lumia 930 dengan 4 core dan clock 2.2GHz. Tetapi Galaxy Tab S cukup terbantu dengan teknologi prosesor yang lebih baru dan lebih efisien dibandingkan Lumia 930.

Sebelum membahas hasilnya, berikut untuk ditonton video duel Android 4.4.2 melawan Windows Phone 8.1 Denim:

Dalam video, bisa dilihat bagaimana Android “tertinggal” beberapa detik dibandingkan Windows Phone saat loading awal. Begitu juga saat berpindah navigasi, Android terlihat delay jika dibandingkan Windows Phone. Meski Lumia 930 spesifikasinya cukup inferior dibandingkan Galaxy Tab S, untuk urusan bermain game Brothers in Arms 3: Sons of War ternyata Lumia 930 masih lebih mumpuni dibandingkan Galaxy Tab S.


pala organik halmahera maluku

buah pala organik dari pulau Halmahera Utara, Maluku

Biji pala sejak jaman dahulu sudah dikenal sebagai rempah-rempah yang memiliki nilai tinggi. Para pedagang dari Arab yang membawa rempah-rempah berbau harum ini ke India, China, Arab hingga ke daratan Eropa. Ketika orang-orang Eropa (Ingris, Portugis dan Belanda) mulai melakukan penjelajahan dan penjajahan, sampailah mereka ke sumber asal tanaman penghasil biji berharga mahal ini. Mereka berebut menguasai Maluku dan kepulauan-kepulauan penghasil pala mulai abab ke 15 M. Sampai sekarang pun kepulauan Maluku dikenal sebagai penghasil pala terbesar di dunia.

Pohon adalah tanaman asli pulau Banda. Dulu petani hanya mengambil pala dari dalam hutan, namun kemudian pohon pala mulai dibudidayakan secara intensif. Di pulau Halmahera kebun pala biasanya merupakan kebun campuran antara pala dengan kelapa. Mereka melakukan budidaya pala secara tradisional, tanpa menggunakan pupuk kimia apalagi obat-obatan kimia. Tanah di pulau Halmahera yang subur menyebabkan pohon pala tumbuh subur dan berbuah lebat meski tidak pernah di pupuk sama sekali. Bisa dikatakan bahwa budidaya pala petani di Halmahera adalah pertanian organik.

Sayangnya, biji pala dari daerah itu belum diakui sebagai pala organik. Namun, sejak setahun yang lalu, biji pala dari Kab. Halmahera Utara, tepatnya dari kelompok tani Tarakani mendapatkan sertifikat biji pala organik. Sertifikat ini diakui secara internasional dan mendapatkan harga premium. Petani pala bisa langsung mengirimkan biji kering kualitas terbaik langsung ke eksportir.

pala organik grade A

BIji pala organik Grade A yang mendapatkan harga tertinggi.

Mungkin biji pala dari Halmahera Utara ini adalah satu-satunya biji pala yang mendapatkan sertifikat organik dan dihargai premium.

pala organik maluku grade A

Biji pala organik kulatitas A, harganya paling mahal.

fuli pala organik

Fuli pala yang sudah kering.



Progo Rafting merupakan salah satu dari sekian banyak operator (baca:Provider) arung jeram di Magelang. Tercatat ada sekitar 20 lebih operator arung jeram yang beroperasi di sungai Elo dan sungai...

Like us on https://www.facebook.com/MagelangOnline

Ini adalah salah satu jenis batu akik yang ditemukan di Halmahera Timur, yaitu batu giok warna hijau muda. Ada yang bagus warna hijau tua. Batu giok ini dijual di pasar batu Tobelo dan Ternate. Sayang jenis batu ini kurang bagus, masih banyak kapurnya. Warnanya saja yang unik, hijau muda.

batu akik tobelo giok haltim lavender

Dagangan batu akik di pasar batu Tobelo, Halmahera Utara. Ada batu giok haltim warna hijau muda, batu lavender warna ungu, batu hitam jahanam, batu merah hati hiu, dan lain-lain. (Foto koleksi pribadi)

batu giok haltim halmehara timur hijau

Batu giok haltim (Halmahera Timur) warna hijau tua. Sedikit tembus cahaya. Batu ini dijual di pasar batu akik Tobelo, Halhamera Utara. (Foto koleksi pribadi)

batu giok haltim halmehara timur hijau

Batu giok haltim (Halmahera Timur) warna hijau tua. Sedikit tembus cahaya. Batu ini dijual di pasar batu akik Tobelo, Halhamera Utara. (Foto koleksi pribadi)


Nderes Qur’an

-

Sang Nananging Jagad

on 2015-5-14 2:02pm GMT

Sudah pasti setiap ummat Islam tahu bahwa ayat Al Qur’an yang diturunkan pertama kali berkaitan langsung dengan membaca. Terkait langsung dengan kitab suci kaum muslim ini, membaca Al Qur’an merupakan salah satu amal ibadah yang penuh hikmah. Dari berbagai riwayat bahkan kepada setiap pembaca ayat-ayat suci tersebut diberikan pahala dalam hitungan per huruf, bukan per kalimat, bukan per surat ataupun per juz. Betapa sangat pemurah Gusti Allah Yang Maha Pemurah.

Atas dasar latar belakang itulah kaum muslim, terutama di dusun-dusun pada zaman dulu, sangat istikomah untuk mengisi waktu selepas Maghrib hingga Isya’ dengan membaca Al Qur’an. Kegiatan ini bisa dilaksanakan secara bersama-sama di masjid atau langgar, ataupun di salah satau rumah warga yang dijadikan tempat ngaji. Ada pula warga yang membaca Al Qur’an di rumahnya masing-masing. Jadilah waktu-waktu tersebut selalu terdengar gema lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an. Suasana dusun hampir-hampir mirip dengan suasana kota santri, demikian barangkali ungkapan dari kelompok qosidah Nasidaria pada jamannya. Sungguh sebuah suasana yang menentramkan dan menyejukkan hati bagi siapapun yang tersentuh nuraninya.

Membaca ayat-ayat suci Al Qur’an yang dilakukan secara rutin dan berkesinambungan mulai dari Al Fatihah pada juz pertama hingga diakhiri surat An Naas di penghujung juz 30 di lingkungan pedesaan sering sebagai nderes. Nderes, bukan ndèrès! Meskipun dari segi penulisan kedua kata tersebut sangat mirip, namun pembacaan dan maknanya sangat berbeda. Kata yang terakhir, ndèrès, memiliki makna aktivitas pekerjaan menyadap air nira kelapa untuk dijadikan gula merah. Adapun kata nderes merupakan istilah yang dipergunakan untuk menyatakan kegiatan pembacaan ayat-ayat suci Al Qur’an yang dilaksanakan secara rutin dan berkesinambungan setiap hari.

Sebagaimana makna lugas dari iqra’ atau membaca, aktivitas nderes memang semata-mata membaca ayat Al Qur’an. Tanpa tahu maknanya? Tentu saja bagi pembaca yang sekaligus mengetahui makna kata per kata atau kalimat per kalimat jauh lebih baik. Namun demikian di kalangan kebanyakan ummat Islam yang nderes Qur’an, mereka hanya benar-benar sekedar bisa membaca tanpa mengetahui maknanya. Di sinilah hebat dan dahsyatnya nderes Qur’an! Dimana hebatnya?

Bayangkan ketika kita membaca teks book pada saat di bangku sekolah atau kuliah. Kita tentu paham dengan bahasa yang dipergunakan dalam referensi yang dibaca. Dalam hal ini dengan membaca kita bisa mendapatkan pemahaman dan ilmu baru. Dan memang tujuan membaca buku literatur tersebut kita ingin menggali informasi dan ilmu yang menambah deretan pengetahuan kita. Meskipun demikian, kita masih merasa berat, jenuh, dan tidak mudah untuk mencerna setiap kata setiap kalimat, terlebih seluruh isi buku.

Sedangkan nderes Qur’an, bisa baca tetapi tidak tahu arti dari kata dan kalimat yang dibaca! Meskipun bisa nderes sambil membuka-buka tafsir Qur’an, tetapi nderes murni ya hanya membaca dan terus membaca tanpa menggali makna atau tafsirnya. Bayangkan membaca dengan ketidaktahuan! Siapa manusia yang tahan melakukan hal yang konyol tersebut? Ya itu tadi, para manusia yang konsisten untuk nderes Qur’an itu.

Para penderes Qur’an adalah manusia yang hanya tahu bahwa membaca Al Qur’an itu sebuah bentuk ibadah yang diperintahkan Gusti Allah dan dicontohkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad dan para sahabat. Adalah atas dasar kepatuhan kepada Tuhannya dan keinginan untuk meneladani teladan Nabi Muhammad, para penderes menderes Al Qur’an.

Bagi kebanyakan manusia modern, termasuk kebanyakan ummat Islam masa kini, aktivitas nderes Qur’an mungkin hanya dianggap sebuah tindakan bodoh bin sia-sia. Membaca tanpa menambah pemahaman, apa perlunya? Mending waktu digunakan untuk membaca buku, mengeksplor internet, bekerja, mencari hiburan, nonton tivi, atau mungkin kerja lembur. Atau kalaupun niatnya ingin ibadah, pilihan mungkin akan lebih disukai membaca tafsir Qur’an. Atau amalan-amalan lain yang lebih nggenah!

Ah, tetapi biarlah! Meskipun dikomentari tidak rasional, tidak logis, tidak profesional, tidak profitable dan lain sebagainya, tetapi saya kok tetap yakin bahwa pada sebuah masjlis orang yang nderes Qur’an, maka malaikat akan turun berduyun-duyun dari berbagai tingkat langit untuk melingkari penderes Qur’an seraya mendoakan seribu satu doa kebaikan dan keberkahan. Dan nyatanya batin saya senantiasa merasakan ketentraman dan kelegaan tersendiri sehabis menunaikan rutinitas nderes Qur’an tersebut. Lebih alhandulillah lagi, anak lelaki sayapun sudah mulai cak-cek untuk nderes Qur’an meski baru mulai dari Juz ‘Amma.

Ah, andaikan setiap rumah kembali disinari dengan nilai Islam dari aktivitas nderes tersebut, saya yakin Indonesia akan lebih baik. Dunia akan lebih tentram, tata-titi tentrem kerta raharja, baldatun thoyyibatun wa rabbung ghofur. Wallahu alam bishowab.

Ngisor Blimbing, 14 Mei 2015

.

u


Filed under: Jagad Budaya Tagged: Al Qur'an, nderes, ngaji
Beberapa waktu yang lalu, sekira pagi menjelang siang, saya ditelpon sama pegawai pos, katanya sih mau tanya ancer-ancer rumah saya, soalnya ada paket kiriman.

“Depan pintu 2 perumahan Akademi militer Panca Arga pak, masuk, perempatan pertama dekat mushola, tanya saja sama orang daerah situ, Saya orangnya cukup populer kok pak! mustahil ada yang tidak tahu siapa itu Agus Mulyadi, pak!”, begitu jawab saya kira-kira.

Kebetulan, hari itu saya tidak sedang di rumah, jadi kemungkinan paket tersebut bakal diterima sama nenek saya yang sehari-harinya berada di rumah.

Sore harinya, begitu saya pulang ke rumah, adik saya memberitahukan tentang adanya paket kiriman. Walau saya sebenarnya sudah tahu, tapi saya pura-pura terperanjat, yah, minimal agar adik saya merasa punya jasa karena telah memberitahu saya perihal paket kiriman tersebut.

Kirimane saiki ning kamare Mbok'e (nenek),” kata adik saya

Saya langsung bergegas meminta kiriman tersebut kepada nenek saya.



Kiriman tersebut berupa amplop coklat seukuran amplop gajian. Saya berusaha menebak, apa isi amplop tersebut. Mungkinkah isinya uang? atau wesel? ah, daripada terus penasaran, akhirnya saya buka saja amplop tersebut. Nenek saya ikut menyaksikan prosesi pembukaan paket punya saya itu, karena nenek saya juga pensaran, apa isi amplop tersebut. Nenek bahkan sudah menebak, kalau isi amplop tersebut kemungkinan adalah duit atau cek.

Dan begitu saya buka, baik nenek maupun saya sama-sama tercekat. Ternyata isi amplop tersebut adalah...



Sikat gigi, ya... Sikat gigi...

Saya kemudian memegang sikat gigi bermerk Pepsodent tersebut seraya merenung dan berfikir keras, “Apa maksud PT Unilever mengirimkan satu buah sikat gigi ini kepada saya?”

Setelah cukup lama merenung, akhirnya saya tersadar dan ingat, bahwa beberapa waktu yang lalu saya pernah iseng ikut kuis yang diselenggarakan oleh Tanyapepsodent.com yang berhadiah satu buah sikat gigi, Kemungkinan, sikat gigi ini memang hadiah dari kuis yang saya ikuti beberapa waktu yang lalu.

Dan benar saja, setelah membaca pesan yang juga disertakan di dalam amplop, ternyata, saya memang terpilih menjadi salah satu pemenang yang berhak mendapatkan satu buah Sikat gigi Pepsodent deep clean.



Hahaha, Agaknya, Hanya PT Unilever lah satu-satunya perusahaan yang menyadari benar, bahwa gigi saya adalah aset yang sangat berharga.

*Tuh dek, Kamu ndak malu apa sama Unilever? Unilever aja bisa peka sama gigiku, masa kamu ndak bisa peka sama hatiku?

Labu Hijau, OS Rakus Memori

-

invent.id

on 2015-5-14 8:43am GMT

Samsung Galaxy AceSaya masih ingat ketika pertama kali memegang ponsel Samsung Galaxy Ace (versi pertama) dengan RAM 278MB dan memori internal tak lebih dari 200MB merupakan sesuatu yang istimewa pada waktu itu karena spesifikasinya masih cukup superior untuk ponsel kelas menengah. Belum lama membeli Ace yang saat itu masih dengan OS Android Gingerbread 2.3, sudah muncul update OS versi 2.3.3 yang ternyata cukup menghabiskan memori internal. Sampai terakhirnya update ke versi Android 2.3.4 semakin sedikit tersisa memori untuk install aplikasi. Kejadian dari awal pembelian sampai kehabisan memori internal itu pun berlangsung cukup cepat, tak lebih dari setahun.

Selanjutnya ganti ke Ponsel Sony Xperia C, yang saat itu sudah dibekali  dengan Android versi 4.2.2, RAM 1 GB dan 4GB memori internal tetapi hanya dapat digunakan sekitar 1 GB untuk aplikasi. Baru beberapa saat menggunakan, muncul update baru yang juga dibarengi dengan update aplikasi-aplikasi bawaannya. Selanjutnya ditambah dengan aplikasi yang didownload dari Store yang juga semakin membesar ukurannya, kini memori yang tersisa tak lebih dari 50MB yang sudah tidak bisa diinstall aplikasi tambahan lagi dan ditambah keharusan rajin-rajin membersihkan memori internal. Semua terjadi begitu cepat dalam waktu kurang dari satu tahun, sama seperti ponsel sebelumnya.

Selanjutnya berganti ke Android tablet flagship-nya Samsung, Samsung Galaxy Tab S 8.4” yang dari sisi spesifikasi jelas sangat mumpuni sampai saat ini. Dibekali memori internal 16GB, available untuk aplikasi sekitar 10GB. Dari sisi sistem android, ketika nanti ada update kemungkinan masih mencukupi untuk diupdate ke versi selanjutnya (sudah dirilis untuk android 5.0.1, tetapi belum ada untuk Indonesia). Meski cukup untuk update sistem, tetapi perkembangan ukuran aplikasi tambahan di Store cukup tidak mengenakkan. Dalam waktu kurang dari 5 bulan dengan pemakaian normal dan file multimedia saya simpan di memori eksternal, disk space internal yang tersisa tak lebih dari 1,2 GB dari yang tadinya masih tersisa sekitar 5 GB dengan kondisi aplikasi yang terinstall masih sama. Dengan asumsi penggunaan memori untuk menyimpan data aplikasi mencapai 75% dari konsumsi memori, berarti dalam waktu tak lebih dari 6 bulan perkembangan kebutuhan memorinya meningkat 0,95 GB. Dalam waktu satu tahun, tablet saya hanya akan menyisakan 250MB memori internal.

Dari tiga kasus tersebut, apabila pembelian ponsel android orang Indonesia rata-rata dua tahun satu kali, maka setelah satu tahun kemungkinan pemilik ponsel sudah tidak bisa mengikuti update fitur-fitur android yang baru yang diberikan oleh vendor dan penyedia aplikasi untuk ponselnya. Ponsel android akan menjadi barang yang ketinggalan teknologi dalam waktu paling lama satu tahun. Android update yang cepat dengan kebutuhan memori yang semakin besar membuat ponsel Android saya menjadi outdated dalam waktu kurang dari satu tahun.

Bandingkan saja perubahannya dengan iOS yang meski hanya dibekali memori internal tanpa memori tambahan masih mendapatkan update sampai ke versi terbaru, bahkan untuk device yang dirilis tiga tahun yang lalu. Atau bandingkan dengan Windows yang dari masa-masa kejayaan Nokia Lumia 510 untuk segmen low end sampai sekarang masih mendapatkan update, dari sejak Windows 8 Amber sampai 8.1 Denim (Amber, Black, Cyan, Denim) dan sebentar lagi akan mendapatkan Windows 10.

Baru-baru ini Electronics Arts merilis update baru game SimCity Build It. Update yang dirilis pada 11 Mei 2015 dengan nomor versi 1.3.4.26938 ini dirilis dengan penambahan beberapa item baru. Beberapa diantaranya adalah munculnya unlock disaster challenge dan skema upgrade jalan utama.

Pada dissaster challenge di Tower Dr. Vu kini diupdate dengan adanya tambahan robot raksasa dan tesla coil. Dissaster challenge ini melengkapi yang sudah ada di versi sebelumnya yang didalam dissaster challenge hanya muncul meteor, gempa, allien, dan tornado.

Upgrade jalan kini ditambahkan dengan kemunculan upgrade jalan dari mulai two lane road, four lane road, avenue, boulevard, dan streetcar avenue. Pada versi sebelumnya, upgrade jalan hanya terdiri dari tiga level yaitu two lane road, four lane road, dan six lane road.

Konsep dari game SimCity Build It adalah gamer menjadi walikota yang mengembangkan suatu wilayah dari yang tadinya lahan kosong menjadi kota modern dengan berbagai fasilitas kota yang wajib ada.

SimCity Build It
SimCity Build It

Beberapa fasilitas dasar kota yang harus disediakan diantaranya jalan, pusat pemerintahan, kantor polisi, klinik kesehatan, dan pemadam kebakaran. Untuk mendukung pertumbuhan kota disediakan fasilitas-fasilitas untuk membangun pabrik bahan dasar dan market untuk mengolah bahan dasar menjadi barang-barang olahan. Selain itu, untuk meningkatkan level kebahagiaan warga, disediakan juga fasilitas tambahan semacam taman kota, fasilitas pendidikan, transportasi, pusat hiburan, tempat wisata kebudayaan, dan tempat ibadah.

Gamer juga dapat melakukan aktifitas jual-beli barang-barang dari gamer lain melalui fasilitas global market. Selain itu juga ada kapal kargo dan pesawat kargo yang secara periodik datang untuk membeli barang-barang yang dihasilkan. Setiap kali bisa memenuhi seluruh permintaan barang di kapal kargo akan mendapatkan satu kunci yang berguna untuk membangun bangunan-bangunan khusus dan setiap bisa memenuhi permintaan pesawat kargo akan mendapatkan barang tertentu yang diperlukan untuk upgrade bangunan supaya mendapatkan kapasitas penghuni lebih banyak.

Yang seru dari game ini adalah pertandingan level antar sesama gamer. Gamer dengan level lebih tinggi akan membuka ketersediaan dan pembuatan barang dan fasilitas tertentu. Menjadi kebanggaan tersendiri bagi gamer yang memiliki level lebih tinggi dibandingkan gamer lainnya.

Saya sudah level 32, kamu level berapa?

batu akik lavender unggu

Hasil gosokan batu akik lavender. Ada banyak degradasi warna batu lavender, mulai dari unggu muda sampai unggu tua. (Foto koleksi pribadi)

Ini salah satu batu akik yang saya temui di Maluku Utara. Pulau Maluku memang terkenal dengan keanekaragaman batu-batunya. Yang paling terkenal dan paling muahal memang batu dari Pulau Bacan, Batu Bacan Doku atau Batu Bacan Palamea. Batu lain yang menurut saya juga menarik adalah batu Lavender. Seperti namanya, batu ini berwarna unggu. Saya temui batu ini dijual di banyak tempat di pulau Halmahera, di pasar Tobelo, sepanjang jalan antara Sofifi Tobelo, di pasar Gamalama juga ada yang menjualnya.

Yang lebih menarik lagi bagi saya adalah variasi warna unggunya. Warna unggunya mulai dari unggu terang sampai unggu tua ada. Ada yang full polos, tetapi ada juga yang ada pola-polanya. Batu lavender kalau masih dalam bentuk bongkahan tidak akan terlihat seperti batu lavender. Bongkahannya seperti bongkahan kapur saja. Tetapi ketika dibelah baru akan terlihat warna unggunya. Semakin tua warna unggunya semakin mahal harganya, karena lebih sulit di dapat katanya. Kata penjualnya batu ini berasal dari Halmahera Timur, salah satu kabupaten di pulau Halmahera.

Setelah digosok ternyata batu lavender ini bisa mengkilat bagus. Kalau disinari warnanya terlihat uggu. Saya rasa batu-batu lavender ini cocok dipakai oleh para wanita. Apalagi yang warnaya sedikit terang.

batu akik lavender

Batu akik lavender setelah digosok. (Foto koleksi pribadi)

batu lavender pasar gamalama

Bakalan batu lavender warna unggu tua yang dijual di pasar Gamalama, Ternate. (Foto koleksi pribadi)

batu lavender pasar gamalama ternate

Bakalan batu lavender yang dijual di pasar Gamalama, Ternate. (foto koleksi pribadi)


Magelang selain pesona akan candi Borobudurnya masih ada pesona sungainya. Banyak sungai yang melewati wilayah magelang, salah satunya sungai elo yang sering digunakan untuk wisata air arum jeram. Saya sebagai orang magelang malah baru saat kuliah ini saja baru melakukan arum jeram ini bersama teman kuliah. Biaya yang tergantung relatif murah hanya Rp 100.000/orang atau 1 kapal berisi 6 orang Rp 600.000/kapal sudah termasuk alat,makan dan sertifikat. Oh iya kalo mau lebih asik lagi sebaiknya lakukan arum jeram saat musin hujan saat air arusnya deras, walaupun saat musim panas bisa tapi kebanyakan kapal tersangkut oleh batuan sungai.
Sedikit dokumentasi Jalan-jalan saya di Sungai Elo

Foto di check point sebelum terjun ke sungai
Narsis sehabis jeram
Istirahat disambut snack dan kelapa muda
Foto bareng keluarga besar TI-B 2011
Kalo buat masalah foto tidak usah khawatir pihak rafting sudah mempersiapkannya bagi para pengunjung yang ingin melakukan foto cukup menambah Rp 150.000 saja untuk setiap rombongan. Kebetulan saya pesan 3 kapal dan membayarnya juga tetap 150rb, sepertinya kalau rombongan besar juga sama juga. Di magelang sendiri ada 3 sungai yang bisa buat rafting yaitu sungai elo, sungai progo atas dan sungai progo bawah lebih lengkapnya bisa dilihat pada brosur yang saya dapat dari Kompas Adventure. . .

Baru-baru ini muncul kabar bahwa Windows Media Center akan dihilangkan di Windows 10. Kabar ini telah dikonfirmasi oleh Gabriel Aul, salah satu pejabat Microsoft.

@GabeAul If you have WMC now, we’ll have a DVD option for you in an update later this year.

— Gabriel Aul (@GabeAul) May 4, 2015

Barangkali memang Windows Media Center tidak banyak dikenal oleh para pengguna Windows karena kebanyakan Windows digunakan untuk bekerja, bermain game, atau mobilitas. Jarang pengguna Windows menggunakan komputernya sebagai sebuah Media Center. Satu komputer yang didalamnya sudah terdapat paket untuk memutar film, menonton dan merekam TV, live streaming, atau sekedar radio.

Windows Media Center merupakan paket tambahan untuk pengguna Windows biasa supaya bisa mengintegrasikan sekaligus memanfaatkan komputer miliknya dengan fungsi tambahan sebagai media center. Paket Windows Media Center tidaklah gratis, untuk aktivasinya pengguna harus membayar beberapa dolar.

Meski kabarnya memang tidak disertakan dalam rilis Windows 10, tetapi pengguna akan disediakan secara gratis media player khusus untuk memutar DVD sehingga Windows 10 tetap bisa difungsikan layaknya home theater.

Begini tampilan terakhir Windows Media Center di Windows 8.1 Pro.

Windows Media Center

Pacquaio Mayweather

Pertarungan abad ini antara Manny Pacquiao melawan Mayweather Jr memang sudah berlangsung lebih dari seminggu yang lalu. Namun hingga kini, masih saja banyak orang yang terus membicarakan tentang pertarungan tersebut, terutama tentang kekalahan Pacquaio yang dinilai penuh intrik dan manipulatif. Ini wajar saja, namanya juga supporter (Hal ini sesuai dengan hukum olahraga no.241: “Supporter berhak nyocot”). Padahal Pacquiao sendiri sebagai pihak yang kalah sudah mengaku legowo dengan kekalahannya tanpa harus menggugat ke MK.

Jujur saja, saya ini sebenarnya tidak terlalu suka dengan olahraga tinju, maklum saja, saya ini kan pria yang terlalu berperasaan, jadi suka ndak tegaan kalau harus melihat dua manusia saling hantam dan saling menyakiti satu sama lain. Saya lebih suka olahraga catur, olahraga yang bagi saya lebih menjunjung prinsip welas asih, olahraga yang penuh dengan nuansa pengorbanan, saling serang dan saling tikung, namun tak ada satu insan pun yang tersakiti.

Mangkanya, begitu ada kabar heboh soal pertarungan mas melawan Mayweather, saya tidak terlalu antusias. Saya ngetwit soal tinju pun semata biar dikira mengikuti perkembangan timeline. Lha habis banyak yang ngomongin tinju sih, jadi mau nggak mau saya harus ikut-ikutan, biar dianggap kekinian.

Beruntung bapak saya dulu pernah jadi petinju amatir, sehingga saya jadi punya sedikit pengetahuan soal tinju. Jadi kalau ngetwit soal tinju, ndak terlalu kelihatan awam-awam banget lah.

Mengikuti tren masyarakat, saya juga tertarik ingin membahas tentang kekalahan Pacquaio, tapi jelas bukan tentang hal teknis seperti yang dibahas oleh kebanyakan orang. Saya akan mencoba membahas tentang pelajaran-pelajaran asmara yang bisa diambil dari kekalahan Pacquaio. Apa sajakah? Monggo

1. Mujur tak selalu milik Protagonis.

Selain karena alasan “sesama warga asia tenggara”, alasan lain yang membuat saya ikut mendukung Pacquaio adalah karena si Mayweather lawannya si Pacquaio itu kemlinthi-nya minta ampun. Sumpah, andai keadaannya memungkinkan, ingin rasanya saya menggantikan posisi Pacman untuk bertarung melawan si Mayweather itu. (walau tentu itu mustahil, jangankan meninju wajah si Mayweather, untuk menghalau hantaman kenangan saja saya tak mampu).

Tapi sial, orang yang saya anggap kemlinthi dan menyebalkan itu ternyata menang melawan jagoan saya, Pacquaio. Gaya permainan Mayweather yang taktis dan defensif ternyata mampu meredam permainan menyerang khas Pacman. Ia pun akhirnya menang angka, cukup telak bahkan.

Hasil ini tentu tak terlalu menyenangkan, mengingat banyak sekali yang berharap agar Pacquaio yang menang, bukannya si Mayweather.

Pada akhirnya, kekalahan Pacquiao ini menyadarkan kita, bahwa tak selamanya yang kemlinthi dan menyebalkan itu bakal bernasib buruk. Ada kalanya seseorang yang dianggap menyebalkan dan kemlinthi justru mempunyai peruntungan yang baik dalam banyak hal.

Saya punya seorang kawan, yah, sebut saja namanya Songep. Si Songep ini orangnya kemlinthi dan menyebalkan sekali, banyak omong, lagi tidak jenaka. Tapi herannya, hampir setiap anggrek desa yang baru mekar bisa ia taklukkan hatinya dengan sangat mudah. Pokoknya, Setiap wanita yang ia pacari tidak pernah tidak cantik. Minimal nilainya 8 dari maksimal 10.

Sedangkan saya, sosok pria yang notabene adalah pribadi yang rendah hati dan menyenangkan, nasibnya justru tak semujur si Songep. Jangankan pacar cantik, untuk sekadar punya pacar yang standar saja saya susah.

Ternyata memang benar adanya, Mujur tak selalu milik kaum protagonis.

2. Jangan terlalu lena dengan kekuatan doa

Pacquaio dikenal sebagai petinju yang taat beribadah. Ia rajin membaca kitab suci, dan yang paling utama, ia senantiasa berdoa sebelum bertanding. Dengan trek record rohani seperti itu, jangankan masyarakat, Tuhan pun saya rasa akan ikut mendukung Pacquaio untuk menang saat bertanding melawan Meayweather.

Nyatanya, Pacquaio kalah. Doa-nya ternyata tak mampu menolongnya untuk memenangkan pertandingan. Ooooo, Tidak… tidak, saya tidak sedang meng-underestimate-kan kekuatan doa. Saya hanya sedang ingin memberitahukan poin yang kedua, bahwa tak selamanya seluruh perkara bisa selesai hanya dengan doa.

Gusti Alloh SWT memang senang kalau kita senantiasa berdoa kepada-Nya, karena itu menandakan, kita para manusia sadar diri sebagai makhluk yang senantiasa bergantung kepada Tuhannya. Namun begitu, perlu digarisbawahi, bahwa Tuhan juga berhak untuk mengabulkan atau menolak doa kita. Karena bagaimanapun, Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita.

Mungkin Pacquaio memang sengaja dibuat kalah oleh Tuhan agar dirinya tetap rendah hati. Karena bukan mustahil tho, kalau Pacquaio menang lalu ia malah berubah menjadi pribadi yang sombong dan gayanya sama-sama kemlinthi seperti Mayweather?

Nah, begitu juga dengan kita. Kita jangan terlalu mudah lena dengan kekuatan doa. Jangan terlalu yakin si doi bakal mendadak cinta sama kita hanya karena kita terus-menerus berdoa. Berdoa adalah perkara kita, sedangkan urusan hasil, itu urusan Tuhan.

Nyatanya, kita memang sering mendapati fakta, bahwa preman sekolah yang petakilan terkadang lebih mudah untuk mendapatkan pacar ketimbang anak-anak Rohis yang jadwal berdoanya mungkin lebih rutin ketimbang jadwal ngetwitnya Arman Dhani.

Coba bayangkan, berapa jumlah laki-laki yang pernah berdoa meminta kepada Tuhan agar bisa menjadi suami Dian Sastro? saya kira jumlahnya puluhan ribu, atau bahkan ratusan ribu. Toh nyatanya, yang jadi Suami Dian sastro tetaplah hanya satu orang, Ya si Indraguna Sutowo itu (Ciamik kali kau punya nasib bro!).

Dan ini adalah keniscayaan. Maka, tugas kita sebagai makhluk hanyalah bisa pasrah dan khusnuzon kepada sang maha Pencipta.

Kalau memang kita sudah berdoa dan ternyata tak berjodoh dengan si doi, yah, mungkin Tuhan memang ingin memberikan pasangan yang lebih baik. (maksudnya pasangan yang lebih baik… untuk dia, hehehe) atau mungkin Gusti Alloh memang sedang ingin menguji seberapa tangguhkah kita dalam usaha mengejar cinta.

Bisa jadi, Gusti Alloh memberikan kesempatan membujang yang lebih lama agar kita bisa belajar untuk meningkatkan kedewasaan kita. Bisa jadi, Gusti Alloh tidak memberikan kita pacar agar kita senantiasa terjaga dari fitnah. Atau bisa jadi, Gusti Alloh sengaja tidak memberikan kita pacar agar kita bisa lebih fokus untuk menjaga kedaulatan dan stabilitas nasional Negara kesatuan republik Indonesia ini. Bisa jadi tho?

So, Sekali lagi, jangan terlalu lena dengan kekuatan doa.

3. Menyerang saja belum cukup, bermain cantik lah

Pacquaio kalah. Ini di luar perkiraan. Karena selama pertandingan, Pacquaio terlihat lebih banyak menyerang ketimbang Mayweather (yang oleh banyak orang disebut lebih banyak berlari dan memeluk ketimbang memukul). Berkali-kali Pacquaio berhasil memojokkan Mayweather dengan jab, hook, maupun uppercut mautnya. Mayweather seakan limbung dalam pertahanannya. Mayweather terlihat tak berkutik karena hanya bisa sesekali menyerang balik.

Namun perlu diingat, walaupun Pacquaio banyak menyerang, namun pukulannya banyak yang meleset alias tidak mengena. andaipun kena, pukulannya tidak tandas. Sedangkan Mayweather memang sedikit menyerang, pukulannya jarang, tapi nyaris di setiap pukulan baliknya selalu telak mengenai sasaran, dan karena itulah ia mendapat poin mutlak. Dan pada akhirnya, ia lah yang keluar sebagai pemenang.

Teknik seperti ini tentu berlaku pula dalam dunia asmara.

Untuk mengejar perempuan, Kita butuh bermain cantik, bukan sekadar bermain menyerang secara beringas dan membabi buta tanpa meninggalkan kesan dan makna. Jangan seperti lelaki tanggung bulan yang cuma berani mbribik-mbribik halus, berlagak manis dan sok polos, malu-malu asu, padahal hasilnya: Nol besar.

Cobalah bermain cantik seperti kawan saya Nody Arizona, yang mampu bermain taktis ala catenacio, bermain kalem, kelihatannya tak pernah menyerang, tapi sekali ia menyengat, wanita manapun pasti akan dibuat menggelinjang dan menggeliat.

Lha kalau saya sendiri?

Saya sendiri? Please deh barbie. Saya ini pria flamboyan, jadi saya tidak bermain menyerang ataupun bermain cantik. Dalam asmara, Saya selalu menempatkan diri sebagai obyek, bukan subyek. Jadi, saya tak pernah berusaha untuk mengejar wanita, biarlah wanita yang mengejar-ngejar saya.

Karena Sekali lagi, saya ini tipe pria flamboyan.

Lumia 430 Dual SIM

Microsoft baru saja merilis ponsel Lumia 430 Dual SIM di Indonesia. Microsoft sebagai penerus kejayaan Nokia Devices mengeluarkan ponsel bersistem operasi Windows Phone 8.1 untuk segmen low end. Ponsel Lumia 430 dirilis dengan harga kurang dari Rp 650.000,00 selama masa promo. Dengan harga yang memang menyasar segmen low end, Lumia 430 diharapkan menjadi pilihan upgrade bagi pemilik featured phone supaya beralih ke level smartphone.

Lumia 430 dibekali dengan memori internal 8GB, RAM 1024 MB (1 GB), dan Prosesor 1,2GHz Dual Core. Spesifikasi yang demikian sudah cukup untuk menyokong sistem operasi Windows Phone 8.1. Sebagai pembanding, Lumia 625H di kelas yang lebih tinggi memiliki spesifikasi prosesor yang hampir sama, bahkan dengan RAM lebih rendah (RAM 512 MB) sudah mampu menghandle aplikasi-aplikasi pada Windows Phone 8.1 dengan lancar. Tentu saja Lumia 430 memiliki performa lebih baik, meski dengan harga jauh dibawahnya.

Dengan kemampuan Dual SIM di Lumia 430, tak perlu lagi membawa HP banyak-banyak. Satu ponsel dengan dua nomor. Fitur Dual SIM banyak ditawarkan oleh pembuat featured phone. Dengan fitur Dual SIM di Lumia 430, pengguna featured phone yang tadinya menggunakan Dual SIM tak perlu takut untuk move on ke smartphone.

Fitur yang dikorbankan demi mencapai harga ekonomis dan terjangkau di segmen low end adalah kamera. Lumia 430 dibekali dengan kamera utama 2 MP. Meski beresolusi 2 MP tetapi dengan bilangan aperture yang lebih besar f/2.2 (kebanyakan kamera memiliki aperture f/2.4) Lumia 430 mampu menangkap cahaya lebih baik dibandingkan kamera ber-apertur lebih rendah dengan ukuran sensor kamera yang sama.

Lumia 430 dirilis untuk menyasar segmen Low End tetapi aplikasi dan fungsi Windows Phone 8.1 yang didalamnya tetap full feature, semua keunggulan dari Windows Phone 8.1 sudah ada di dalamnya.

Here Drive+ dan Here Maps yang menjadi unggulan bagi Windows Phone dengan offline maps dan voice guide-nya telah disematkan di dalamnya. Dengan offline maps, pengguna tak perlu harus terhubung jaringan internet untuk ber-navigasi ria. Tak perlu bingung dengan urusan bahasa, voice guide di Here Drive+ telah tersedia dalam Bahasa Indonesia.

Urusan dokumen, Lumia 430 dibekali dengan aplikasi Office. Membuka dokumen Microsoft Excel, Microsoft Word, maupun Microsoft PowerPoint bukan lagi masalah. Terlebih dengan dukungan penyimpan online OneDrive 15GB. Apa saja bisa disimpan online, bisa diakses dari mana saja dan kapan saja.

Bagi pengguna featured phone, Lumia 430 akan menjadi pilihan yang bagus dengan fitur-fitur smartphone khas Windows yang ada di dalamnya. Aplikasi Whatsapp, Line, BBM, Twitter, dan Facebook sebagai aplikasi wajib sebuah smartphone sudah tersedia di Windows Phone 8.1. Semuanya sudah All In di dalam Lumia 430.

Kehadiran Lumia 430 menjadi momentum yang bagus bagi pengguna featured phone move on dari HP yang ‘hanya’ bisa nelpon dan SMS tanpa Whatsapp, Line, dan BBM menjadi pengguna smartphone yang smart.

Jadi, tak ada lagi cerita bengong ditanyain, “Pin BBM-mu apa?”

* Source image: Microsoft Lumia Dual SIM.

Kenduri Cinta Mei 2015, sebagaimana tema yang diketengahkan “Kiai Kanjeng of the Unhidden Hand”, memang didedikasikan sepenuhnya untuk menggali pengenalan lebih mendalam mengenai kelompok musik gamelan Kiai Kanjeng. Akar asal-usul dan sejarah berdirikan Kiai Kanjeng tidak bisa dilepaskan sama sekali dari proses kreativitas dan karya adilihung kelompok asal Jogjakarta ini.

Berawal dari kelompok karawitan Dinasti yang menjadi satu kesatuan dengan Teater Dinasti, Kiai Kanjeng terlahir dari Komunitas Pak Kanjeng yang merepresentasikan pembelaan terhadap hak-hak wong cilik yang terkena gusuran pembangunan waduk Kedongombo di Boyolali pada pertengahan dekade 80-an. Pak Kanjeng merupakan sebuah lakon naskah teater yang diinspirasi dari tokoh Pak Jenggot di desa Kedungpring dan dituliskan oleh Emha Ainun Nadjib. Naskah monolog yang diperankan secara bergantian oleh Butet Kertarajasa, Nevi Budiyanto, dan Cak Nun sendiri merupakan sebuah simbol perlawanan terhadap kesewenang-wenangan kekuasaan Orde Baru. Hanya sempat dipentaskan beberapa kali, penampilan kisah Pak Kanjeng menuai cekal dari yang berwajib kal itu.

Tidak terhenti di naskah dan pentas teater Pak Kanjeng, adalah Nevi Budiyanto yang berinovasi lebih lanjut menciptakan gamelan Kiai Kanjeng. Berbeda dengan gamelan Jawa pada umumnya, gamelan Kiai Kanjeng telah dimodifikasi sedemikia rupa hingga mampu menggabungkan unsur pentatonik dari timur dan unsur diatonik dari barat dalam sebuah komposisi irama yang harmonis. Dengan demikian gamelan Kiai Kanjeng menjadi sangat fleksibel dan memiliki keluasan spektrum frekuensi untuk memainkan segala macam jenis musik.

Berbahagia sekali jamaah Kenduri Cinta selama semalam suntuk mendapatkan kisah kesaksian perjalanan Kiai Kanjeng dari para pelakunya langsung. Dengan dipandu oleh Toto Rahardjo, eksplorasi sejarah Kiai Kanjeng diawali dari kesaksian Bambang Isti Nugroho dan Simon HT, dua tokoh yang pernah menjadi “tumbal” Orde Baru karena turut mendobrak ketidakadilan yang terjadi lewat kreativitas karya seni yang dinilai menyudutkan pemerintah kala itu.

Dalam salah satu segmen, beberapa personil Kiai Kanjeng juga sempat membeberkan rahasia dapur yang belum banyak diketahui banyak orang. Islamiyanto, salah seorang vokalis memberikan gambaran mengenai hubungan antara Kiai Kanjeng dan Indonesia. Dengan ungkapan retoris ia bertanya kepada jamaah, “Tahu buah kelapa? Tahu kisah mengenai santan kelapa? Untuk memetik dari pohonnya yang tinggi bukankah perlu dipanjat? Setelah kelapa dipetik, seringkali kelapa dijatuhkan begitu saja. Sakit? Tentu saja. Setelah itu kelapa dikupas sabutnya hingga terlihatlah batoknya. Batok itupun selanjutnya dipecahkan, baik dengan cara dipukul maupun dibanting. Sakit lagi? Sudah pasti demikian! Buah kelapa selanjutnya dicungkil. Tersakiti lagi bukan? Apakah dengan demikian sudah didapatkan santan kelapa yang diinginkan? Belum! Setelah kelapa tercungkil ia perlu diparut, lalu diperas, barulah santan bisa keluar. Berbagai proses penempaan yang begitu panjang, keras, melelahkan, dan bahkan terasa sakit. Kemudian jikapun santan itu dipanaskan atau direbus kemudian dicemplungkan ke dalamnya buah pisang, apa yang didapatkan? Kolak pisang! Ya, kolak pisang! Pernahkan ada kolak santan? Itulah Kiai Kanjeng!”

Dalam segmen yang lain, Cak Nun mengungkapkan kenapa Kiai Kanjeng memiliki stamina yang sangat luar biasa. Sekian tahun menjalani kebersamaan dalam proses kreativitas dan pemaknaan perjalanan hidup tentu bukan sesuatu yang mudah dipertahankan, bahkan pementasan malam itu telah tercatat sebagai penampilan Kiai Kanjeng yang ke 3640. Sebuah prestasi luar biasa yang belum tentu bisa ditorehkan oleh kelompok musik pop dari penjuru bumi manapun.

Menurut Cak Nun dalam kreativitas karya Kiai Kanjeng tidak ada kamus pengakuan diri sebagai seniman. Gamelan sekaligus musik hanyalah merupakan alat atau metode untuk keakraban. Yang dilakukan Kiai Kanjeng adalah misi pelayanan. Mereka sepenuhkan mempersembahkan karya-karyanya dalam rangka mengemban tugas kemanusiaan.

Gamelan, musik, karya atau apapun kegiatan yang dilakukan manusia dapat digolongkan ke dalam tiga tingkatan gelombang. Gelombang pertama adalah musik mencari uang. Pada fase ini seseorang pelaku musik masih menyandarkan penghidupannya kepada karya-karyanya. Golongan ini menjadikan pemusik sebagai profesi dalam rangka mencukupi nafkah hidunya.

Gelombang ke dua, musik untuk musik alias seni sekedar untuk seni itu sendiri. Setelah uang didapat, ketenaran disandang, materi diperoleh, harta kekayaan direngkuh, bagi seorang pemusik ternyata menuntut sebuah pencapaian kepuasan pada nilai yang lebih tinggi lagi. Meski uang tidak lagi menjadi tujuan utama, namun pada gelombang ini uang tetap hadir sebagai sebuah bonus kehormatan dan kemasyuran yang menghampiri.

Lepas dari gelombang pertama dan ke dua, dan pada posisi inilah Kiai Kanjeng berdiri, musik didedikasikan untuk Tuhan. Kiai Kanjeng tidak peduli lagi akan apa yang didapatnya dari proses yang secara konsisten dan ikhlas mereka jalani. Mereka sangat menyadari bahwasanya kehadirannya di lingkungan tertentu merupakan perwujudan amanat Tuhan untuk menumbuhkan kemanfaatan dalam kebersamaan. Mereka sangat meyakini jika sesuatu diniatkan dalam rangka menuju kepada Tuhan, maka Tuhan sendirilah yang akan menjadi kehidupannya dunia akhirat. Di sinilah luar biasanya Kiai Kanjeng.

Ngisor Blimbing, 12 Mei 2015


Filed under: Jagad Maiyyah Tagged: Emha Ainun Nadjib, kenduri cinta, Kiai Kanjeng, maiyyah, taman ismail marzuki
Saya sudah pernah berpuluh-puluh kali (atau mungkin beratus-ratus kali) tidak bisa membuka alamat web di perangkat komputer saya. Biasanya muncul peringatan seperti gambar di bawah ini.



Hal ini wajar, karena ndilalah web yang saya buka memang web halus yang memang tidak diperkenankan dibuak oleh pemerintah.

Namun, sudah hampir sebulan ini, saya tidak bisa membuka beberapa alamat web tertentu (dan bukan web semacam xvideos dkk) melalui perangkat saya. Ketika saya buka, Selalu muncul tulisan peringatan: No data received - ERR_EMPTY_RESPONSE. Ini cukup menyusahkan untuk saya, karena beberapa web yang tidak bisa saya buka adalah web yang cukup penting, beberapa diantaranya malah adalah blog-blog yang saya kelola.

No data received - ERR_EMPTY_RESPONSE

Tadinya saya mengira, ini hanya karena kerusakan pada perangkat browser yang saya gunakan. Namun ketika saya mencoba membuka dengan browser lain, ternyata hasilnya sama saja. Tulisan ERR EMPTY RESPONSE tetap muncul.

Saya pun mencoba bertanya kepada segenap rakyat twitter dan facebook, dan ternyata bukan saya saja yang mengalami hal ini. Usut punya usut, ternyata hal ini memang banyak terjadi pada pengguna Speedy.

@TelkomPromo tiap buka web server luar negri No data received ERR_EMPTY_RESPONSE, mau sampai kapan?

— Aan (@fetrian_w) May 12, 2015

@TelkomCare tiap buka halaman web kadang muncul ERR_EMPTY_RESPONSE

— Putu Yasa (@yasza) May 11, 2015

@gunada @AgusMagelangan @TelkomCare kantor saya pun begitu... nyuruh restart modem? 600 orang bisa ngamuk...

— Sendy Aditya Suryana (@SENDYYeah) May 12, 2015

Saya sudah komplain sama @Telkomcare, namun solusi yang mereka berikan hanya menyuruh kita merestart modem yang saya punya. Dan itu sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Karena setelah saya restart pun, keadaanya tetap sama.

@AgusMagelangan Selamat siang Kak Agus, silahkan restart modemnya 10 menit. Kami bantu refresh jaringan dari sini. Thx^PJ

— Telkom Care (@TelkomCare) May 12, 2015

Saya pernah punya niatan untuk komplain langsung ke kantor Telkom atas masalah ini, namun niat tersebut akhirnya saya urungkan. Saya tak ingin kejadian beberapa bulan yang lalu terulang kembali.

Beberapa bulan yang lalu, saya memang pernah mengalami masalah dengan jaringan speedy saya, saya lalu telpon 147, dan jawabannya normatif "Silahkan ditunggu". Namun setelah beberapa hari, ternyata belum ada tindakan apapun.

Merasa tak puas, saya memutuskan untuk mendatangi kantor Telkom. saya ingin protes dan marah-marah semeledak mungkin.

Tapi bedebah, CS yang melayani aduan saya ternyata manisnya minta ampun, gaya bicaranya juga menyenangkan dan menyejukkan. Saya jadi tak sampai hati untuk memarahinnya. Alih-alih memarahi, hati saya malah terketuk untuk menafkahi. Energi kemarahan saya yang sudah saya tumpuk sejak dari rumah mendadak leleh tak berbekas.

Saya pun pulang ke rumah dengan dan terpaksa menerima solusi yang masih itu-itu lagi: "Silahkan Ditunggu".

Pada akhirnya, saya memang harus kembali kepada khittah saya, menjalani laku suci seorang pertapa, yang Sabar, ikhlas, dan nrimo (sambil sesekali nyocot ringan, tentunya).

Oh, Telkom Speedy, tak bisakah kau selesaikan masalah ERR EMPTY RESPONSE ini secepat mungkin tanpa harus menunggu banyak orang yang protes? dan tak bisakah kau mengganti CS-mu dengan CS laki-laki yang lebih makiable dan bentakable?
mengetik dengan suara

Fasilitas mengetik dengan suara/dikte pada MacBook air. Sangat mudah dan lebih baik daripada dengan Android. (Foto koleksi pribadi)

Sebelumnya saya sudah pernah mencoba mengetik dengan suara dengan menggunakana Smartphone Android (Baca dilink ini: Mengetik dengan Suara dan Tips Android: Menulis dengan suara). Fasilitas-fasilitas itu bisa digunakan untuk belajar pronunciation bahasa Inggris. Namun ada satu kendala pada fasilitas Android ini, yaitu salah satu syaratnya harus terhubung dengan internet. Kalau tidak ada jaringan internet, kalau tidak ada pulsa interenet, maka kita tidak bisa menulis dengan suara dengan menggunakan Android.

Sudah cukup lama saya mengetahui kalau Apple sudah lebih maju untuk masalah ini. Beberapa tahun yang lalu mereka memperkenalkan SIRI, tapi saya belum mencobanya langsung. Saya pernah coba pakai fasiltias ini pada iPad dan iPhone, tapi karena saya jarang menggunakan gadget ini, saya juga jarang menggunakan fasilitas mengetik dengan suara pada gadget Apple.

Sekarang saya mencoba fasilitas ini pada MacBook Air. Dalam pikiran saya, pastilah fasilitas ini di MacBook Air lebih lengkap daripada di iPhone dan iPad. Ternyata memang benar. Bahkan mengetik dan memerintah dengan suara bisa dilakukan hampir di semua aplikasi yang ada di MacBook. Aplikasi-aplikasi yang membutuhkan input teks bisa menggunakan fasilitas ini: MS Word, Page, Safari, Evernote, Main, dan lain-lain.

Saya coba dengan Page dan MS Word, aplikasi yang sering digunakan untuk menulis. Agar bisa mengenali bahasa Indonesia, saya ganti dulu setting bahasanya menjadi bahasa Indonesia. Soalnya jika setting bahasanya bahasa Inggris, dan kita ngomong dengan bahasa Indonesia, Apple akan salah menerjemahkannya.

Misalnya menggunakan MS Word. Buka dokumen baru, lalu klik menu Edit>Start Dictation atau pencet tombol fn fn. Langkah ini akan memunculkan icon microphone kecil di sisi kanan aplikasi. Cobalah untuk mengatakan sesuatu. Setelah jeda ngomong Apple akan langsung menerjemahkannya dalam tulisan. Tulisannya hampir 100% tepat. Hanya sedikit kesalahan, mungkin karena ada suara-suara lain yang ikut masuk.

Hebatnya lagi, Apple bisa menerjemahkan tanda baca. Kalau kita ngomong ‘titik’ maka yang ditulis adalah ‘.’, ‘koma’ yang ditulis ‘,’. Hebat. Waktu saya coba di Android, saya selalu gagal menambahkan tanda baca.

Saya juga masih tetap bisa menulis dengan suara meskipun suasananya sedikit berisik, bukan berisik banget lho. Apple bisa menyaring suara-suara yang masuk dan menerjemahkannya menjadi teks. Ini juga gagal dilakukan dengan Android. Kalau mengetik dengan suara di Android mesti dilakukan di tempat yang tenang dan sunyi senyap.

Fasiltias ini akan sangat membantu bagi orang-orang yang banyak bekerja dengan aktivitas tulis menulis. Apalagi menuliskan cerita atau laporan yang panjang. Apple bisa menjadi assisten pribadi yang hebat. Dalam suasana santai kita bisa ngomong apa saja yang terlintas di kepala. Hanya perlu sedikit bantuan keyboard. Setelah semua selesai, baru kita mengeditnya.


Blackberry Messenger Windows

Blackberry baru saja merilis update baru untuk Windows Phone. Update yang dirilis pada tanggal 7 Mei 2015, yaitu versi 2.1.0.16 Blackberry menambahkan fitur Channel, fitur yang sebelumnya telah hadir lebih dahulu di platform Android dan iOS.

Setiap pengguna dapat membuat Channel sendiri yang didalamnya dapat berbagi pesan (update status), berbagi gambar, dan diskusi dengan subscriber. Selain membuat Channel, pengguna juga dapat subscribe Channel lain semisal channel merek-merek terkenal, artis terkenal, dan sebagainya.

Beberapa fitur dan perbaikan dalam versi terbaru telah diumumkan dalam rilisnya di InsideBlackberry.

Apa itu BBM Channel? Lihat video berikut ini.

Sudah update versi BBM? Join Channel ID Invent: C00313F31.

makan pisang pakai sambel

Menu pisang goreng yang dimakan bersama dengan nasi dan sayur. Makanan di sebuah rumah makan di Tobelo, Halmahera Utara. (Foto koleksi pribadi)

Bagi saya, kalau belum makan nasi serasa belum makan meski sudah banyak makan makanan lain. Sebagian besar orang Indonesia, terutama Indonesia bagian barat, memiliki tabiat yang sama. Karenanya, kita sangat tergantung pada makanan pokok nasi atau beras. Saudara-saudara kita dari Indonesia Timur sudah terbiasa makan makanan pokok selain nasi, yaitu: sagu, singkong, ubi dan pisang. Saya baru sadar setelah merasakannya sediri ketika berkunjung pertama kali ke Halmahera, Maluku.

Sagu sebagai makanan pokok sudah diajarkan sejak saya masih SD dulu, tapi saya baru tahu kalau sagu dimasak menjadi seperti lem yang disebut dengan papeda. Di sebuah rumah makan kami disuguhi makanan ini. Ketika pertama kali saya melihatnya yang terbayang dikepala saya adalah lem dari tepung kanji. Mirip sekali soalnya. Cara membuatnya juga sangat sederhana. Tepung sagu, diberi air panas lalu diaduk sampai mengental seperti lem.

Papeda dimakan seperti makan nasi. Papeda dimakan dengan sayur ikan, sayur terong, sayur daun ketela dan juga sambal. Makannya pun hanya dengan tangan. Bagi saya ini agak aneh, sulit mengambil papeda dengan tangah, soalnya ‘njedel’ seperi itu. Meski bagi saya sedikit asing dan aneh, tapi makan papeda ini enak juga.

Makanan pengganti nasi berikutnya adalah singkong rebus, ubi rebus dan pisang rebus. Singkong, ubi dan pisang ini direbus dengan menggunakan santan. Saya tidak tahu apa nama buah pisang yang dimakan ini, tapi buah pisang ini banyak mengandung pati. Cara makannya sama persis dengan jenis sayuran yang sama seperti makan papeda atau nasi. Kalau makan singkong dengan sayur ikan, tidak terlalu mengherankan bagi saya. Yang akan aneh adalah ubi dan pisang. Ubi dan pisang rasanya manis ditambah gurih dari santan kelapa. Ketika dipadukan dengan sayur ikan, ikan bakar dan sambal rasanya sedikit unik di mulut saya. Paduan rasa manis ubi dan pisang dengan gurih ikan dan pedas sambal.

Pisang ternyata dimakan dengan banyak makanan lain. Orang Maluku makan pisang dicocol dengan sambal dan kacang merah. Pisangnya disebut dengan pisang bebek, salah satu jenis pisang lokal yang terkenal di Maluku. Pisang yang dimakan dengan nasi ini adala pisang yang masih agak muda. Pisangnya juga banyak mengandung pati, jadi rasanya pulen dan mengenyangkan.

Rasanya saya perlu mencoba makan dengan cara ini di rumah. Saya akan coba minta istri saya sesekali makan singkong dan ubi dengan sayur.

Andaikan kebiasaan ini bisa ditularkan ke orang-orang di wilayah Indonesia bagian barat, mungkin diversifikasi pangan bisa direalisasikan. Pak Walikota Depok, Nurmahmudi Ismail, sudah memulai untuk menggalakan makan pokok selain nasi. Kalau tidak salah, dalam sehari dicanangkan makan selain nasi.

Sayang sekali, saya tidak membawa HP ataupu kamera, sehingga saya tidak bisa tampilkan foto-fotonya.





Sabtu telah tiba, enggak terasa malam minggu bakal datang lagi.  Sebagai anak kos yang jomblo, gue enggak masalah gara-gara enggak malem-mingguan. Tapi,gue merasa kesepian saat malam minggu. Kesepian karena anak-anak kos pada pulang, dan kos berubah jadi kuburan. Cuman ada gue dan sohib gue yang masih stay di kosan. Weekend ini gue emang enggak pulang, karena minggu depan kan liburnya double, jadi gue pulang kampung minggu depan aja. Tapi, sohib gue, Erwan enggak balik karena kemarin baru aja balik Bekasi.


Udah lama banget enggak traveling. Rutinitas dan kesibukan skripsi  membuat gue jarang banget traveling. (*skripsi,maaf kamu jadi kambing hitam yak!). Meskipun mau traveling, tapi mau ke mana, sama siapa? Mau jalan-jalan di Solo, shampir semua objek sejarah di Solo udah semua gue kunjungi, kecuali satu. Iya gue belum pernah mengungjungi keraton Mangkunegaran. Padahal udah  4 tahun di Solo tapi belum pernah masuk ke Mangkunegaran, cuman melihat dari luar aja. Baik, udah diputuskan, Keraton Mangkunegaran adalah destinasi traveling kali ini.

Setelah mandi, sekitar jam 10, gue dan Sohib gue cus ke Mangkunegaran, tepatnya di daerah Ngarsopuro. Matahari mulai memancarkan panasnya bahkan suhu udara di kota Solo mendadak panas banget.Tapi, masa bodohlah daripada jadi fosil di kosan, mending main dan kepanasan. Sampe daerah Ngarsopura, gue bingung. Sebenarnya dimana sih pintu masuknya. Setelah muter-muter dan tanya sama orang sekitar situ, ternyata pintu masuknya terletak di lapangan deket Ngarsopura. Maklum aja, di Mangkunegaran enggak terlihat seperti objek wisata dari luar. Tanpa menunggu lama, kamipun masuk.
*Keraton Mangkunegaran

Hanya dengan membayar 10 ribu, gue udah dapet tiket masuk dan dapet pemandu wisata. Ya,itung itung murah 10 ribu untuk wisatawan domestik. Dan yang jelas lebih murah dari keraton Kasunanan Solo. Sebenarnya gue udah sering banget liat keraton Mangkunegaran sejak jaman SD. Foto Keraton mangkunegaran pasti selalu menghiasi buku-buku bahasa Jawa  pas SD. Tapi gue bener-bener enggak nyangka, bisa datang langsung ke sini.


Di Keraton Mangkunegaran, gue disuguhi Pendopo dan limasan yang megah yang berlantai marmer. Gamelan Jawa yang tiap Malam Sabtu Pon dimainkan masih tertata apik di pendopo keraton Mangkunegaran. Disini , mas Guide memberikan informasi bahkan sering kali mengajak diskusi. Selain disuguhi dengan informasi sejarah, kamipun diajak melihat koleksi Raja Mangkunegara seperti topeng, perhiasan, barang-barang eropa. Dan gue juga diperlihatkan singgasana raja Mangkunegara. Tapi sayang, di sini gue enggak diperbolehkan mengambil gambar dikarenakan ruangan satu ini adalah ruangan pribadi raja yang dianggap sakral. Kadang-kadang bau dupa dan menyan masih tercium kuat banget. Kata mas Guide, emang di sini masih melakukan tradisi dan masih memberikan sesaji.
*Sudut Keraton Mangkunegaran

Setelah muter-muter, gue enggak lupa foto-foto. Tapi sayang, gue cuman diperbolehkan foto di luar keraton aja. Tapi enggak apa-apa, yang penting gue udah pernah ke Keraton Mangkunegaran. Alhamdulilah, meski matahari bersinar terik, tapi setidaknya gue banyak banget informasi dan dapet ilmu yang bermanfaat. Ada beberapa ilmu yang gue dapat dari diskusi bareng mas Guide.

“Sebenarnya masalah perpecahan dan perebutan tahta yang terjadi udah ada sejak lama sejak jaman nenek dan leluhur, apalagi masalah Harta, tahta, Wanita.Ketiga faktor ini merupakan masalah kaum lelaki. Emang benar, dibalik Laki-laki yang hebat ada wanita yang hebat pula, begitu juga dibalik laki-laki yang koruptor ada wanita yag selalu menikmati hasil curian suaminya.”


Ya seperti inilah kehidupan weekend gue. Meskipun gue jomblo, tapi setidaknya gue bisa mensyukuri dan menikmati hobby traveling gue ini.

Feed burner
Jalan-jalan ke Gua Pindul Gunung Kidul Yogyakarta
Gunung Kidul, salah satu Kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta yang banyak memiliki obyek wisata yang masih alami, seperti pantai dan obyek wisata alam yang layak di kunjungi. Pantai Indrayanti, Baron, Somandeng, Sundak, Krakal merupakan salah satu dari puluhan pantai yang banyak di kunjungi di Gunung Kidul. 

Selain puluhan pantai yang indah, Gunung Kidul memiliki berbagai obyek wisata alam yang masih alami dan menantang untuk kita kunjungi. Antara lain Gua Sriti dan Gua Pindul yang banyak di kunjungi wisatawan, terutama di akhir pekan dan hari libur nasional.
Beberapa waktu yang lalu, saya bersama teman-teman satu kerjaan di Kaliurang bersama-sama mengunjungi Gunung Kidul, Tujuan utama kami adalah Gua Pindul dan Pantai Somandeng. Dua obyek wisata yang banyak di kunjungi wisatawan setiap mereka ke Gunung Kidul, dan kebetulan beberapa dari kami belum pernah kesana.

Kami berangkat pagi hari dari Jogja, dan baru sampai di obyek wisata Gua Pindul sekitar jam 10:00 siang.  Setelah istirahat sejenak sembari sarapan, kami lanjutkan petualangan kami di kawasan obyek wisata Gua Pindul.  Sebelum ke komplek Gua Pindul kami mendaftarkan diri ke agen wisata di sana yang akan memandu dan mengantar ke komplek Gua Pindul. Tiket untuk bisa masuk ke Gua Pindul tergolong cukup murah, hanya 35.000/ orang sudah termasuk pemandu selama kita menyusuri lorong gua.

Jalan-jalan ke Gua Pindul Gunung Kidul Yogyakarta
Sebelum memasuki Gua Pindul ada banyak pantangan yang tidak boleh di langgar, seperti tidak boleh berkata kotor dan jorok, tidak boleh membunuh ikan ataupun kelelawar yang ada di dalam gua, dan bagi yang mempunyai kemampuan supranatural, bisa melihat hal-hal gaib selama di dalam gua, agar diam dan tidak menceritakan pada pengunjung lainnya selama ada di dalam Gua.  Selama menyusuri sekitar 45 menit lamanya, kita akan di ajak mengenang kembali sejarah asal muasal terjadinya Gua Pindul, Para pemandu ini sangat kocak dan humoris, suasana Gua yang agak gelap dan mencekam sedikit cair dengan guyonan para pemandu yang membuat para pengunjung tertawa. 

Ternyata di hari-hari biasapun Gua Pindul tetap ramai di kunjungi wisatawan, dan hampir semua yang kesana datang dengan rombongan, bagi yang datang sendiri bisa gabung dengan rombongan yang lain. Saya dan teman-teman menyusuri Gua Pindul atau yang lebih di kenal dengan Cavetubing. Cavetubing hampir sama denganrafting atau arung jeram, bedanya kalau Rafting menyusuri sungai dengan perahu, kalau Cuvetubing menyusuri sungai dengan ban dalam. Aliran sungai yang melewati Gua Pindul sangat tenang dan tidak dalam, jadi Cavetubing di Gua Pindul ini bisa di ikuti oleh anak-anak maupun orang tua. 
Jalan-jalan ke Gua Pindul Gunung Kidul Yogyakarta
Gua Pindul yang panjangnya sekitar 350 meter, lebar 5 meter, jarak permuakaan air dengan atap gua sekitar 4 meter, dengan kedalaman air sekitar 12 meter. Untuk menyusurinya di perlukan waktu sekitar 45 menit dari pintu masuk sampai keluar. Gua Pindul terbagi dalam tiga zona, yaitu zona terang, remang dan gelap.  Salah satu yang menarik di tengah gua terdapat lubang besar yang tembus sampai ke atas gua, karena sinar matahari bisa masuk lewat lubang ini sehingga di tengah gua terlihat terang. warga sekitar sering menyebut lubang ini dengan Sumur terbalik.

Selain lubang sumur terbalik di dalam gua Pindul ini juga terdapat stalagtit yang sudah menyatu dengan stalagmit, tampak seperti tiang yang besar, dan katanya merupakan yang terbesar di dunia, karena hanya bisa di pegang oleh tangan lima orang dewasa.  Untuk melewati lorong stalagtit dan stalagmit tersebut hanya bisa di lewati satu orang saja. Selain menyatunya Stalagtit dan Stalagmit yang menjadi tiang penyangga Gua, Masih ada Stalagtit Putting yang konon akan menjadi cantik penuh pesona bagi wanita yang memegangnya. Selain Stalagtit Putting ada juga Stalagtit Jantan,  Konon bagi yang percaya dan bisa menjadikan pemegannya bisa menjadikan jantan, perkasa dan tahan lama.
Jalan-jalan ke Gua Pindul Gunung Kidul Yogyakarta
Gua Pindul terletak di Dusun Gelaran, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Gunung Kidul. Bagi yang belum pernah ke Wonosari ataupun Gunung Kidul, Jangan khawatir tersesat ataupun nyasar kalau mau ke obyek wisata Gua Pindul. Karena setelah anda sampai di Wonosari banyak penunjuk arah ke Gua Pindul. Jadi jangan lupa apabila Gunung Kidul jadi tujuan liburan anda, pastikan Gua Pindul menjadi salah satu tujuannya.


Kegiatan Jumat pagi minggu pertama kali ini (8/5) sedikit ada perbedaan. Kalau kegiatan-kegiatan sebelumnya guru agama SDN Salaman 1 menjadi pemandu utama dalam tausyiahnya, kali ini tausyiah diisi dan disampaikan oleh Ibu Rohmah, S.Ag. penyuluh Kantor Urusan Agama Kecamatan salaman.



Tausyisah yang pertama kali disampaikan oleh pihak luar SDN Salaman 1 ini mestinya membuat suasana  berbeda dari seperti biasanya, Selain antusias siswa dan juga para guru, juga memberikan harapan-harapan kedepan mengenai kelanjutan dan perkembangan kegiatan jumat pagi tersebut.

Semoga kegiatan-kegiatan seperti ini dapat membawa siswa SDN Salaman 1 khususnya kedalam pembentukan karakter spiritual yang kita harapkan. Semoga!




Salah satu sekolah tua yang masih tegak berdiri yaitu SDN Salaman 01 yang berada di Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang. Tidak menutup kemungkinan sekolah tersebut merupakan sekolah tertua di Kabupaten Magelang
SDN Salaman 1 Bebas Asap Roko. Itulah bunyi slogan yang terpasang di gedung sekolah SDN Salaman 1.Slogan peduli kesehatan ini memang sudah direncanakan sejak dulu mengingat bahayanya asap rokok bagi kesehatan. Dengan ini pula diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi segenap warga SDN Salaman 1 khususnya bagi seluruh siswa tentang pentingnya menjaga kesehatan.


Rokok yang sudah menjadi kebutuhan negatif bagi sebagian orang ini memang menjadi polemik di masyarakat, karena sebagian orang yang peduli kesehatan tidak mengharapkan kehadirannya. Lebih-lebihri sering dikatakan bahwa perokok pasif memiliki tingkat bahayanya yang lebih tinggi daripada perokok aktif

Hal inilah yang menjadi komitmen seluruh warga SDN Salaman 1 untuk bebas dari asap rokok. Lebih-lebih SDN Salaman 1 sering kedatangan tamu yang mempunyai kebiasaan merokok dan tidak mempedulikan pihak lain. Semoga dengan tulisan ini misa menyadarkan semua pihat tentang penyingnya menjaga kesehatan.





Salah satu sekolah tua yang masih tegak berdiri yaitu SDN Salaman 01 yang berada di Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang. Tidak menutup kemungkinan sekolah tersebut merupakan sekolah tertua di Kabupaten Magelang


Banyak pendaki yang cuma mendaki untuk kesenangan, tanpa memikirkan etika mendaki. Babat sana-sini, buang sampah seenak udel sendiri.

Mendaki gunung pun hanya agar bisa berfoto di puncak dengan pose memegang kertas A4 bertuliskan pesan yang menye-menye, untuk kemudian diupload (baca:dipamerkan) di facebook dan di tag kepada kawan-kawan atau sang pujaan hati.

Dan ketika ditanya, apa alasan mendaki gunung, jawabnya hebat dan revolusioner: “Lha aku kan pecinta alam, ingin merasakan bukti kebesaran sang Pencipta,”

Pecinta alam taik lah, Pecinta alam itu kalau mendaki gunung, sampahnya kalau bisa ditelan, bukan dibuang bebas seperti mantan.

Lagipula, Bukankah pecinta alam yang sesungguhnya adalah justru dia yang tak pernah berambisi untuk menjamah alam?

Kalau memang sampeyan tak bisa menjadi pemulung saat mendaki, tak usahlah mendaki, cukup duduk manis di rumah dan nonton D'Academy.

*kemudian muncul komen: “jangan digeneralisir dong gus, nggak semua pendaki seperti itu!”

Tombo Ati adalah sebuah syair puji-pujian yang sering kami lagukan sambil menunggu iqomad dikumandangkan di masa kecil kami. Syair yang konon diciptakan Kanjeng Sunan Bonang ini, seolah memang menjadi pelipur hati yang mendatangkan ketentraman mendalam jika direngeng-rengengkan.

Meskipun syairnya seolah sangat sederhana, namun Tombo Ati menyimpan kandungan makna yang sangat dalam sekaligus sufistik. Lewat aransemen ulang tembang Tombo Ati inilah saya mengawali perkenalan dengan Kiai Kanjeng, sebuah kelompok gamelan dari Jogja pada paruh tahun 90-an. Melalui sebuah kolaborasi apik dengan budayawan Emha Ainun Nadjib, Kiai Kanjeng menghadirkan aransemen album berjudul Kado Buat Muhammad. Waktu itu album berbentuk kaset pita dipinjamkan kepda saya oleh seorang teman dari Muara Kali Progo.

Di samping tembang Tombo Ati yang sudah sangat dikenal di kalangan masyarakat pedesaan di pedalaman pulau Jawa, Kado Buat Muhammad juga memuat beberapa aransemen lain, seperti Kado Muhammad, Kemana Anak-anak Itu, Jalan Sunyi, Paradok, Rayap, Besi dan Gelombang, Engkau Menjelang, dan Tak Sudah-sudah. Kesemua syair yang ditembangkan tersebut merupukan karya puisi Cak Nun yang dimusikalisasikan sangat cantik oleh Kiai Kanjeng.

Dengan berbasis gamelan Jawa, gamelan Kiai Kanjeng merupakan ijtihad musikalisasi Novi Budiyanto yang menggabungkan unsur irama nada pentatonik dan diatonik sekaligus unsur musik barat dan timur. Dengan kreasi inovasi tersebut gamelan Kiai Kanjeng dapat memainkan segala musik dan lagu dari seluruh penjuru dunia dengan sangat indahnya. Karawitan, keroncong, campur sari, pop, ndangdut, jazz, rock, hingga gambus bisa diramu menjadi sajian yang sangat nikmat di telinga kita semua.

Tidak terhenti pada perkenalan dengan Kiai Kanjeng melalui kaset Kado Buat Muhammad, sejak di bangku kuliah saya menelusuri karya-karya Cak Nun mulai Slilit Sang Kiai, Arus Bawah – Budaya Tanding, Indonesia Bagian dari Desa Saya, dll. Bahkan sayapun akhirnya dalam beberapa kesempatan diperjalankan untuk menikmati beberapa sesi latihan Kiai Kanjeng di Karang Malang dan beberapa pementasan di sekitar Jogja. Semenjak itu hingga kini saya menjadi salah satu penikmat sajian-sajian Kiai Kanjeng dalam beberapa kesempatan acara di lingkaran masyarakat maiyah.

Kiai Kanjeng bagi saya pribadi merupakan sebuah fenomena keajaiban dunia yang dianugerahkan langsung oleh Gusti Alloh. Dari hari ke hari, gamelan beserta dengan para penabuh yang menggawanginya senantiasi melanglang buana. Dari desa ke desa, dari kota yang satu ke kota yang lain, dari kampus satu ke kampus lain, dari masjid satu ke masjid lain, mereka terus bergerak memberikan pelayanan kepada ummat, kepada masyarakat. Perjalanan panjang yang sudah dilalui lebih dari 20 tahun telah mencatatkan pementasan Kiai Kanjeng lebih dari 3600.

KC Mei 2015Bahkan di bulan Mei 2015 ini, di tengah kehangatan nuansa keikhlasan masyarakat maiyah Kenduri Cinta, Kiai Kanjeng akan menorehkan jejak pentasnya yang ke 3640. Sebuah prestasi, konsistensi dan keikhlasan yang menjadi energi positif yang sangat luar biasa dan mungkin belum pernah tertandingi oleh kelompok musik manapun. Sungguh sangat rugi jika Anda yang di Jakarta melewatkan kesempatan yang sangat istimewa bersama gamelan Kiai Kanjeng yang satu ini. Kenduri Cinta dengan tajuk Kiai Kanjeng the Unhidden Hand. Monggo merapat ke Plaza Taman Ismail Cikini, Jakarta Pusat. Jum’at, 8 Mei 2015 pukul 20.00 WIB hingga selesai bersama sedulur maiyah yang lain. Salam maiyah.

Lor Kedhaton, 6 Mei 2015

.


Filed under: Jagad Maiyyah Tagged: Emha Ainun Nadjib, kenduri cinta, Kiai Kanjeng, maiyah, taman ismail marzuki
Beberapa waktu yang lalu, sehabis jadi pembicara bedah buku di acara Gramedia Fair di kota saya, saya diberi kenang-kenangan sama Gramedia, sebuah boneka lucu berwujud gajah kecil yang merupakan produk dari Gramedia Kids.



Saya sih ndak heran kenapa dikasih boneka, soalnya tampang saya ini kan memang baby-face banget, jadi mungkin banyak vendor yang mengira kalau saya ini masih usia TKIT dan masih sangat cocok kalau dikasih kenang-kenangan boneka gajah. Lagipula, saya memang lebih suka dikasih kenang-kenangan berupa boneka gajah ketimbang plakat kayu. Soalnya, plakat ndak ada belalainya.

Selain berfungsi sebagai boneka, si gajah ini ternyata juga bisa difungsikan sebagai bantal. Maklum, produk ini memang namanya "Bontal", alias boneka bantal, teksturnya empuk, kemungkinan isinya dari bahan dacron lembut.

Nah, si Gajah kecil ini ngakunya berasal dari Taman Nasional Way Kambas (Kalau benar demikian, maka saya tak bisa memaafkan Gramedia karena telah merenggut kebebasan si gajah dari ekosistemnya).





Oh ya, si Gajah mungil ini ternyata belum punya nama lho. Ia meminta saya untuk memberinya nama. Tak cukup sampai disitu, Ia bahkan meminta saya untuk membuatkan akta kelahiran. Sebuah permintaan yang sangat sulit untuk saya penuhi.

Kalau cuma ngasih nama sih oke, lha tapi kalau harus bikin akta kelahiran segala, hambok sorry. Please deh, dikiranya gampang apa bikin akta kelahiran untuk gajah. Saya harus ke kantor catatan sipil mana coba? lagipula, status anak gajah ini juga masih abu-abu. Siapa ibunya? Ia hasil dari hubungan gelap apa tidak? Siapa bidan yang membantu persalinannya? Semuanya serba misterius.

Lagian aneh-aneh saja, baru kenal sebentar kok sudah minta dibuatkan akta, Hih, memangnya saya pria apaan? Hehehe

Tapi tak apa, karena bagaimanapun, saya lah yang punya kewajiban untuk menjaga si gajah mungil ini. Dan sebagai pria flamboyan yang gampang iba, jelas saya akan berusaha merawat dan emnjaga si gajah kecil ini.

Si gajah mungil ini memang tidak selucu dan sehebat Bona gajah kecil berbelalai panjang yang bisa melakukan banyak hal dengan belalai panjangnya. Tapi tetap saja, saya akan tetap berusaha untuk menyayangi si gajah kecil ini. Karena Saya yakin, dengan belalai pendek yang ia punya, setidaknya ia mampu... ia mampu...

Mampu menghisap habis seluruh iler yang saya tumpahkan. Tanpa sisa.



Eh, btw, sampeyan ada usulan nama untuk si gajah kecil ini? mbok tolong corat-coret di kolom komentar.


“Saya mau cari pria yang sudah matang”, begitu alasan seorang wanita tatkala menolak pinangan seorang pria ingusan.

Aduh mbak, kasihan sekali dirimu. Lha sampeyan sendiri kan masih mentah, mosok iya cari pria yang sudah matang. mendingan cari yang sama-sama mentah, jadi nanti bisa matang bersama-sama.

Kalau sampeyan dapat yang matang, nanti giliran anda-nya yang sudah matang, pria anda itu mungkin sudah akan menuju fase bosok alias busuk.

Kalau saya sih... kalau saya sih bebas, soalnya saya bukan pria matang, tapi bukan pula pria mentah. Saya pria Gemading.

Dan itu pula sebabnya kenapa saya masih betah jadi bujang, soalnya pria Gemading belum butuh cinta, butuhnya Karbit.
“Ini layar hape kenapa? Kok goyang dumang?”
“Jangan-jangan rusak, padahal baru aja setahun.”
“Kok Aura Kasih tetep cantik sih..”
“…”

Itulah kegalauan yang gue alamin beberapa waktu lalu, dimana si Vannya, hape Advan s5j (esmanje) kesayangan gue tiba-tiba goyang dumang. Entah karena udah capek atau udah lelah, separo dari LCD hape tiba-tiba goyang naik turun. Masa sih rusak, padahal masih baru setahun. Gue masih inget beli si Doi tepat satu tahun yang lalu di bulan Mei. Waktu itu gue beli setelah ditinggalin “mantan” gue tepat sebelum hari ulang tahun gue, taik banget kan. Sebelum pake si Vannya, gue pake si Sonia, hape Sonny Ericson yag udah setia nenenin gue selama hamper 3 tahun. Eh typo, maksud gue nemenin, tsah. Waktu itu setelah pulang dari “mantan” gue di Semarang, tiba-tiba Si Sonia ngambek, memori Sonia mendadak enggak terbaca.
Padahal dalam memori Sonia tersimpan data penelitian kuliah gue. Gue cuman bisa nangis sekenceng-kencengnya dipangkuan pak Sopir. Semenjak saat itu, gue mulai move on ke hati Vannya.
*Sonnya, hape sebelum Vannya

Seiring “perpindahan hati” ke Vannya, gue juga mulai hijrah ke lain hati, eaa *malah curhat*. Hari demi hari gue lalui bersama si Vannya. Dengan kehadiran si Vannya, gue jadi lebih irit, enggak pernah beli pulsa modem lagi. Vannya sungguh sangat multifungsi. Dia bisa jadi modem, bisa buat SMS, bisa buat nelpon, bahkan bisa buat ngelempar anjing, tsah.
*Si Vannya

Tapi sayang seribu sayang. Belum genap setahun, si Vanya mulai enggak sehat, layar goyang separo hingga “badan” yang cepet panas. Kenapa baru sekarang sakitnya sih? Kenapa bersamaan dengan berakhirnya garansi? Kampret banget kan. Segala usaha telah gue lakukan, dari membongkar Vannya dengan tangan gue, sampe gue bawa ke mas-mas tukang servis hape. Tapi, tetep aja si Vannya harus dioperasi, harus ganti LCD. Kalau sampe ganti LCD, sama aja si Vannya udah enggak perawan donk.

Setelah browsing-browsing, emang penyakit yang dibawa Vannya adalah penyakit LCD yang sering banget goyang dumang. Dari informasi beberapa pengguna advan S5J, udah 6 orang yang ngeluh gara-gara layar hape mereka goyang dumang. Setelah mengetahui fakta tadi, akhirnya gue memutuskan untuk move on. Gue beli pengganti si Vannya. Kali ini gue beralih ke hati Susan, hape ASUS Zenfone5.Meski harganya udah turun dari tahun lalu, gue tetep beli. Sebenarnya, dulu gue sempet mau beli ini hape, tapi sayang tahun lalu barangnya masih inden. Gue ini paling enggak sabar sama  yang namanya Pre-order, so gue nyari yang ready stock. Makanya gue beli si Vannya.

Banyak banget hal yang gue sukai dari si Susan. Harganya yang murah, tapi spek dewi. Dari layarnya yang 5”, hingga layar hape yang udah pake Gorilla Glass. FYI, Gorilla Glass adalah kaca yang tahan gores. Jadi gue enggak perlu ngasih pelindung layar lagi. Selain layar, si Susan ini udah support OTG seperti si Vannya. Jadi sekarang gue enggak perlu bawa laptop ke kampus. Cukup bawa FD dan  hape aja, copy paste beres. Tapi yang lebih keren lagi, si Susan ini double simcard. Jadi si Susan udah ngasih restu buat nyari selir, halah.


Pertama kali beli si Susan, gue mendadak shock gara-gara si susan enggak punya headset. Gue bongkar bungkus si Susan, dan enggak menemukan headset. “Ah paling Susan enggak bisa buat radio, jadi enggak perlu headset”, pikir gue dalam hati. Tapi, setelah gue cek, di dalam Susan terdapat aplikasi radio. Astaga, jangan-jangan ketinggalan di konter. Ya udahlah, gue ikhlas aja. Beberapa hari kemudian, gue browsing-browsing. Ternyata emang si Susan enggak dibekali headset. Jadi Susan cuman dibekali kardus, cas, kabel usb dan buku garansi doank.
*kelengkapan SUsan

Ya seperti itulah awal cerita geu bersama Si Susan. Semoga nasibmu enggak seperti Sonnia dan Vannya ya SUs. Semoga kamu lebih awet dan bisa bekerja optimal. Gue ini bukan tipe orang yang yang suka beli hape yang bermerk. Gue cuman beli spek hape. Makanya sampe sekarang gue enggak pernah beli hape Samsung, Oppo. Ya menurut gue harga mereka enggak sebanding dengan spek mereka. Gue beli hape bukan karena gengsi, tapi emang fitur hape benar-benar mendukung aktivitas gue, dan yang jelas sesuai dengan kantong anak kos.Buat kamu yang bingung mau beli hape apa, gue kasih saran pake ASUS aja. Setidaknya mereka punya nilai lebih dan harga yang pas sesuai kantong anak kos.
*Bekerja yang optimal ya Sus..


Menurut gue, cukup ini dulu cerita gue bersama si Susan. Makasih udah mau baca tulisan gue ini. Maklum, sekarang gue jarang banget update blog gara-gara gue lagi sibuk skripsi dan sibuk membuka hati, eaa.
Feed burner

Hari Senin kemarin sewaktu pulang kampung, saya berkesempatan icip-icip kamera mirrorless SAMSUNG NX1 di Jogja. Saya dipinjami kamera APS-C dengan kemampuan on-board 4K video recording pada frame rate 24FPS ini dari salah satu teman admin komunitas DSLR Cinema Indonesia yang tinggal di Jogja. Jadi ini bukan review berbayar ya. Hehehe…

Mungil! Tapi feel DSLR-nya masih dapet.Sarapan lontong opor dulu di Alun-Alun Kidul sebelum menjajal NX1

Hanya ada 4 tes yang saya lakukan karena keterbatasan waktu dan saya juga harus bergantian dengan rekan member DCI lain yang ingin mencoba. Semoga lain kali saya bisa memegang kamera ini lebih lama agar bisa melakukan in-depth review.  Tes yang saya lakukan adalah:

  • Detail 4K
  • Rolling Shutter
  • Moire
  • Continuous Auto Focus

Untuk menyaksikan hasil tes dalam kualitas 4K, klik icon settings di pojok kanan bawah, ubah quality menjadi 2160p (4K). Jangan lupa tonton di full screen mode ya. 

Beberapa catatan singkat setelah memegang kamera ini kurang dari 2 jam:

Pros

  • Batere awet. Selama 2 jam pemakaian untuk video batere masih sisa sekitar 40%.
  • Layar SUPER AMOLED-nya jernih sekali, dan tidak terlalu reflektif. Shooting di luar ruangan dengan cahaya matahari persis di belakang kamera, masih nyaman.
  • Grip enak. Feel DSLR-nya dapet banget. Asik untuk keperluan fotografi.
  • Detail gambar 4K luar biasa! Ternyata codec H.265 ini memang benar efisien. Kecil ukuran file-nya, tapi kualitas gambar keren banget.
  • Tidak menemukan Moire.
  • Focus Peaking (bisa diubah warnanya).

Cons

  • Zebra Function tidak ada pilihan mengatur IRE.
  • Tidak bisa mengatur segala sesuatunya di Picture Wizard seperti contrast, saturation dan lain-lain dengan  WYSIWYG. 
  • Tidak ada tombol dedicated Focus Assist.
  • Tidak ada Log Profile (flat picture style).
  • Codec H.265 belum bisa diolah natively di editing software. Harus convert ke format lain. Saya memakai Wondershare dan convert ke ProRes HQ.
  • Tombol perekaman video terlalu kecil dan letaknya terlalu berdekatan dengan tombol Exposure Compensation. Gampang bikin salah pencet. IMG_7839

Semoga beberapa kekurangan dari segi fitur di atas bisa teratasi di next firmware update.

Tips:
Karena tidak ada Log Profile, ini adjustment yang saya lakukan untuk mendapatkan gambar yang lebih flat agar mudah untuk dilakukan color correction. 

Naikkan value Master Black Level ke +15

Naikkan value Master Black Level ke +15

Ubah Gamma Control ke Gamma DR

Ubah Gamma Control ke Gamma DR

Kurangi value Contrast ke -10

Kurangi value Contrast ke -10

Untuk spesifikasi lengkap mengenai kamera ini, silakan cek di laman web ini.

The post SAMSUNG NX1 Quick Test appeared first on GoenRock's VLog®.

Gus Mul? Siapa yang tidak kenal dengan blogger kondhang kaloka dari kota gethuk ini. Goresan postingannya yang trengginas bin lucu di samping menghiasi tampilan blog pribadinya di www.agusmulyadi.com, www.agusmulyadi.web.id maupun di www.gusmul.com, bualan dagelannya juga banyak terpampang di www.merdeka.com. Seberapa Sampeyan mengenal akrab dengan tokoh kita yang mengaku tidak pernah lulus pesantren namun bisa mendapatkan panggilan Gus ini?

Gus Mul bernama lengkap Agus Mulyadi. Jadi Gus Mul merupakan akronim alias kependekan dari nama Agus Mulyadi tersebut! Lho baru ngeh? Tentu saja kita tidak akan sangsi jika Gus Mul mengaku lahir di bulan Agustus, bulan yang sangat keramat bagi bangsa Indonesia. Demikian pulakah sosok Gus Mul juga memiliki kharisma keramat? Ingin tahu asal-usul sebutan Gus Mul nggak?

Al kisah, Agus Mulyadi sudah gentur menekuni dunia perbloggeran selepas sekolah di SMA Tidar. Dia bahkan pernah mengembara di tatar Sukabumi dan Tanah Ngayojokarta sebagai layouter majalah dan operator warnet. Sejak itu pulalah ia meluncurkan blog getuk magelangan sebagai semangat nasionalisme terhadap kota kelahiran tercintanya.

Sekian lama ngeblog, barulah di awal tahun 2013 ia menampakkan batang hidunya di salah satu gethukan, kopdarannya Bala Tidar Magelang. Tak berselang lama, ia turut menjadi duta Bala Tidar dalam perhelatan Asean Blogger Festival Indonesia (2013) di Kota Bengawan Surakarta. Di sanalah ia mulai mengibarkan diri sebagai seleblogger spesialis dagelan mataraman sebagaimana yang ia warisi dari Pak Trimo, bapaknya yang memang artis kethoprak tersohor pada eranya.

Nah tatkala di Solo itu ia masih aktif menggunakan akun twitter @agusmulyadi_… … (saya agak lupa akun persisnya). Dalam suatu perbincangan ia mengungkapkan kegundahannya. Dalam dunia online ia merasa namanya kurang branding. Ia ingin merumuskan sebuah nama yang singkat, simpel, mudah diingat dan mencerminkan sebuah karakter yang khas, unik, dan kuat.

Mendengar keluh-kesahnya tersebut, tentu saja saya tidak tinggal diam. Melalui sebuah perenungan singkat di depan Pendopo Pura Mangkunegaran yang keramat, saya sampaikan pemikiran yang terlintas pada saat itu..

.


Filed under: Jagad Blogger Tagged: Agus Mulyadi, Gus Mul

Dugaan kami PISCOK = Pisang Dancook, ternyata singkatan dari pisang coklat. Pantas saja penjualnya mesam-mesem ketika kami mencoba logat Suroboyonan, ternyata mereka dari jawa barat. Piscok atau...

Like us on https://www.facebook.com/MagelangOnline

Kethoprak merupakan salah satu seni tradisi yang saya kagumi semenjak usia bocah. Di kala itu memang jaringan siaran televisi masih sangat terbatas. TVRI masih menjadi satu-satunya pelaku penyiaran televisi. Itupun acaranya masih terkotak-kotak antara acara yang disiarkan langsung oleh suatu stasiun TVRI daerah dengan muatan wajib dari TVRI Pusat. Dikarenakan lokasi desa tempat kami tinggal yang meskipun menjadi wailayah admintratif Provinsi Jawa Tengah, tetapi lebih dekat secara geografi ke Yogakarta, maka siaran TVRI Jogjakarta menjadi menu tontonan warga dusun kami.

Diantara acara yang menjadi favorit warga dusun adalah kethoprak mataraman. Acara yang tayang seminggu sekali ini sering menampilkan grup kethoprak yang kondang kaloka saat itu, diantaranya grup PS Bayu dari Sleman, Saptamandala Kodam IV, Wahyu Budaya dari Kediri, dll. Di masa kecil itulah para bocah seperti kami sangat mengenal dan seringkali menirukan karakter lucu para dagelan kethoprak, semisal Gudel, Genjik, Ngabdul, Poniman, Gito-Gati, Sandirono-Sandirene, Bambang Rabies, dan masih banyak seniman kreatif lainnya.

Di samping mengenal dan menggemari siaran kethoprak dari TVRI, seni kethoprak juga menjadi menu siaran banyak radio kala itu. Pagi menjelang siang, siang menjelang sore, bahkan malam hari selalu ada saja radio yang memanjakan para pemirsanya dengan siaran kethoprak. Salah satu kelompok yang paling terkenal dengan aksi rekamannya yang disiarkan di radio-radio adalah Saptamandala Kodam IV. Kelompok kethoprak yang dipimpim pasangan suami istri Widayat-Marsidah ini juga digawangi para jagoan dagelan seperti Ngabdul dan Poniman. Sponsor utama siaran kethoprak kala itu adalah PT Henson Farma dengan produk obatnya yang ternama seperti Utradin, Ultraflu, juga PilKita.

Selain menyimak kisah drama kethoprak dari layar televisi dan siaran radio, di wilayah pedesaan tempat tinggal kami kala itu juga masih sering ada pentas kethoprak yang biasanya ditanggap oleh seseorang yang sedang memiliki hajat. Di samping pentas kethoprak oleh kelompok seniman lokal, tak jarang kami berkesempatan menyaksikan aksi para seniman kethoprak yang terkenal di televisi. Saya masih ingat ketika kelas VI SD, Pakdhe Prapto pernah nanggap PS Bayu yang menghadirkan semua personilnya, komplit dengan Bambang Rabies. .

Kethoprak merupakan seni drama yang memadukan seni teater, seni karawitan, seni tembang, bahkan seni artistik penataan panggung. Lakon yang dipentaskan dalam seni kethoprak sangat beragam, mulai kisah klasik kerajaan yang pernah jaya di Nusantara seperti Kahuripan, Kediri, Singosari, Majapahit, Demak, Pajang, Mataram, hingga Yogyakarta dan Surakarta. Di sampingitu ada juga kisah babad Timur Tengah yang menceritakan Umar Maya dan Umar Maji.


Filed under: Jagad Budaya Tagged: kethoprak, seni tradisi
Welcome Mei…
Enggak terasa udah masuk bulan Mei, padahal April kemarin gue baru kelar semprop. Rasanya waktu seperti orang lagi ejakulasi dini, cepet banget, tsah. Oke, lupakan kata-kata terakhir tadi. Semoga aja di bulan ini menjadi Bulan yang indah, bulan yang menyenangkan. Enggak seperti Bulan Mei tahun lalu. Gue sampe sekarang masing terbayang-bayang kejadian yang menimpa gue tahun lalu. Saat gue resmi menjomblo, j*ncuk banget kan.

Alhamdulilah, bulan April kemarin gue udah semprop. Rencana bulan Mei ini gue tinggal penelitian aja. Meskipun temen-temen gue udah pada kelar penelitian, bahkan  bahkan ada juga temen gue yang udah pada wisuda, j*ncuk banget kan? Tapi enggak apa-apa, pelan tapi pasti enak. Dari pada cepet-cepet, entar malah keburu cepet keluar, keluar data penelitian maksudnya. Enggak usah ngeres deh.


Sebelumnya, gue mengucapkan selamat hari Pendidikan Nasional. Sebagai mahasiswa yang punya harapan, semoga aja pendidikan di Indonesia semakin bertambah baik. Semoga aja pemerintah lebih menitik beratkan pada sektor pendidikan kentimbang bikin pengalihan isu.


Berhubung sekarang sabtu malam, gue pingin nemenin para pembaca yang jomblo. Sebagai mahasiswa yang senasib dan seperjuangan dalam menanggung beban Tuna-asmara, gue ingin menemani malam minggu kalian biar enggak pada galau.

Entah kenapa gue merasa ada yang berbeda dengan hari Sabtu jaman dulu dan jaman sekarang.  Masih teringat sewaktu jaman SD. Hari Sabtu adalah hari yang selalu gue nanti-nantikan.

Jaman SD, tiap hari Sabtu geu merasa bahagia banget. Gue selalu buru-buru ingin segera pulang ke rumah dan menikmati weekend. Alasan kenapa gue seneng banget bila Sabtu telah tiba karena hari Sabtu merupakan hari yang menyenangkan bagi anak sekolah. Karena keesokan harinya anak sekolah, termasuk gue ini enggak datang ke sekolah. Selain itu, acara TV Anime udah menunggu gue dari pagi sampe siang hari.
*Acara TV yang udah dinanti

Sabtu malam harinya, gue juga menikmati acara TV, tanpa harus belajar. Seakan malam minggu merupakan malam yang panjang bagi gue. Meskipun sat itu gue masih polos, belum mimpi basah, dan belum kenal sama yang namanya pacaran, tapi gue bisa menikmati malam Minggu.

Tapi, seiring berjalannya waktu, entah kenapa gue merasa Malam minggu merupakan malam yang enggak bisa gue nikmatin lagi kayak dulu. Malam minggu bagi mahasiswa itu merupakan malam kesepian. Kesepian lahir batin (udah kayak lebaran aja nih). Buat anak kos, malam minggu jadi malam horor karena harus jadi penunggu kos. Banyak anak kos yang pada pulang kampung. Tapi semua itu enggak berlaku bagi anak perantuan yang jauh dari rumah. Ketika malam minggu, kosan yang tadinya ramai  berubah jadi kuburan. Enggak cuman dikosan, sekitar kampus juga sepi tiap hari Sabtu. Terutama di daerah kampus gue. Beda banget dengan Jogja dan kota-kota besar laiinya. Malam Minggu di Jogja tetep aja ramai.

Kini sekarang gue udah balig, gue udah puber. Gue udah bisa ngerasain kesepiannya malam minggu karena Jomblo. Ketika yang enggak jomblo menghabiskan malam minggu bareng pacar mereka,  yang jomblo cuman bisa semedi menyembah sabun dan tisue, anjrit banget kan. Tapi… alhamdulilah meski gue seorang Tuna-asmara tapi gue masih bisa menikmati malam minggu dengan suka cita dan ngenes. Malam Minggu yang panjang dan indah ini gue habiskan dengan mengerjakan Skripsi dan Tugas akhir. Keren kan? Keren gundhulmu Cuk!!!  Ah sudahlah… dinikmatin aja, toh Jomblo itu kan cuman maslaah rasa aja dan bagaimana kita melihat dan menikmati aja.

Tetep semangat,  bulan Mei udah datang, saatnya memperbaiki diri ke arah lebih baik. Tetap semangat dan tetep jaga kesehatan. Karena kesehatan itu mahal dan sangat berharga apapun. Banyak banget temen-temen yang tepar gara-gara terforsir skripsi. Bahkan sempet ada berita bahwa ada mahasiswa yang koid gara-gara ngerjain skripsi. Ya iyalah, ngerjain skripsinya di tengah  rel kereta.


Gue kira ini dulu curhatan Mahasiswa tingakat akhir di malam Minggu yang indah indah. Selamat malam para Tuna-Asmara…
Feed burner


TEMPE, siapa tak kebal nama itu. Dari desa sampai kota pasti pernah menikmati makanan tersebut. Tempe dapat digoreng baik dengan tambahan tepung untuk pembungkus maupaun tanpa tepung pembungkuas. Enak juga disantap menggunakan cabe. Pada umumnya tempe dapat dijumpai diwarung-warung.
Selain digoreng, tempe juga dapat dimasak dengan cara dibacem yaitu dengan memasak menggunakan gula jawa (tempe rasa manis). Masakan seperti ini pun cocok untuk disantap langsung maupun dijadikan lauk teman nasi. Apalagi ditambah ceplusan cabai rawit, Hmmmm…….!
Yang tidak kalah populernya, tempe juga bias disayur dengan beraneka resep, Dari tumis sampai lodeh, pokoknya mengundang selera. Banyak jenis resep yang diturunkan leluhur kita dalam masakan tempe.
Pembuatan tempe sebetulnya tidaklah begitu sulit. Hanya butuh kesabaran saja. Ingin mencoba membuat tempe sendiri? Kita bias membuat sesuai dengan selera kita bentuknya. Mari kita ikuti langkah-langkamnya.


1.  Rendam kedelai di dalam wadah selaman 1 malam. (Gambar ini menunjukkan hasil perendaman   dalam 1 malam)


2. Bersihkan kotoran yang ada serta remas-remas kedelai. Hal ini dilakukan supaya kedelai dapat terbelah serta pecah. Selain itu kotoran juga menjadi mudah dihilangkan.



3. Rebus hingga mendidih, angkat jika uap sudah banyak keluar dari wadah.





4. Cuci kembali denngan membuang kulit kedelai yang terangkat dan terapung.

 5. Rendam kembali selama  1 malam,




6. Bersihkan serta remas-remas kembali. Jika skala besar biasanya perajin menggunakan kaki dalam membersihkan serta memecah kedelai (dengan menginjak-injak di dalam wadah)





7. Kukus kedelai yang sudah dibersihkan

 sebelah kanan proses perebusan, sebelah kiri proses pengukusan

 8. Angkat jika sudah sekitar 1 jam



9. Dinginkan dengan cara diangin-anginkan



9. Taburkan ragi tempe setelah kedelai dingin sekitar 1 cendok makan untuk 1 kg kedelai



10. Cambur hingga rata dengan menggunakan alat. Jika menggunakan tangan, maka tangan harus dibungkus denga plastik untuk menghindari iritasi.






11. Bungkus kedelai yang sudah ditaburi ragi sesuai selera kita, Bisa menggunakan daun, plastik, maupun yang lainnya


12. Jika menggunakan plastik mala rekatkan plastik dengan api lilin
 





13. Simpan dan tempatkan pada tempat yang terlindung dari sinar matahari. Akan lebih efektif jika ditutup dan dibungkus dengan kain (diungkep)





14. Hari yang dua, jadilah tempe siap dimasak

Bentuk balok

Bentuk roda (cetakan agar-agar)

Bentuk silinder, tinggal iris tipis-tipis dan goreng (cetakan bambu

Bentuk kerucut, (cetakan daun pincuk)


 Bentuk tempe seperti pada umumnya


SELAMAT MENCOBA !!!!
Salah satu sekolah tua yang masih tegak berdiri yaitu SDN Salaman 01 yang berada di Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang. Tidak menutup kemungkinan sekolah tersebut merupakan sekolah tertua di Kabupaten Magelang

Hari ini adalah May Day. Tanggal 1 Mei diperingati sebagai Hari Buruh Internasional. Tentu saja tema pembicaraan yang paling aktual bisa dipastikan berkenaan dengan aksi demo buruh di berbagai kota belahan dunia. Dari Jakarta, Jogja, Surabaya, Medan hingga Makassar ribuan buruh menyampaikan beberapa tuntutannya. Soal aspirasi kenaikan upah buruh, penghapusan sistem outsorcing, tunjangan kesehatan, perumahan atau transportasi menjadi isu utama.

Saya tidak akan menambahi tulisan bertema May Day, tetapi hanya ingin sedikit berkisah mengenai seorang tetangga Dalem Ngisor Blimbing. Namun demikian, kisah tersebut tentu saja masih ada gandeng-cenengnya atau hubungannya dengan dunia perburuhan kita.

Adalah Bang Sueb, seorang pedagang gorengan keliling asli asal Indramayu. Sudah beberapa tahun, ia dan keluarganya merantau di pinggiran ibukota. Dari penghasilannya sebagai penjual gorangen keliling, tentu saja kehidupan keluarga kecil sangat pas-pasan. Penghasilan dari jualan hanya cukup untuk sekedar makan dan sewa rumah petak. Nasib ramah seolah belum berkenan menghampiri mereka.

Pekerjaan jualan gorengan keliling seperti Bang Sueb tentu saja bukanlah pekerjaan yang ringan. Di pagi hari buta, ia harus sudah bangun dan mruput menuju pasar untuk kulakan bahan, seperti ubi, tepung, kol, tauge, loncang, seledri, dll. Siang menjelang sore barulah Bang Sueb beraksi dengan pikulan yang dimodifikasi mengangkut kompor, tabung gas, adonan gorengan dan juga tempat gorengan yang telah matang. Dari gang ke gang, dari kampung ke kampung dijalani Bang Sueb dengan penuh kesabaran. Harapannya sangat sederhana ketika turun ke jalanan, agar gorengannya laku dan cepat habis. Hanya itulah satu-satunya tumpuan penghidupan keluarganya.

Hari ke hari, waktu ke waktu dan masa ke masa. Bukannya kehidupan semakin baik dan berpihak kepada wong cilik seperti Bang Sueb, e malah harga semua barang kian melembung. Dipicu kenaikan harga BBM, harga tepung, minyak, bahkan sekedar lombok ijo juga turut naik. Hal yang sama juga berlaku setali tiga uang dengan uang sekolah, ongkos angkutan umum, biaya periksa kesehatan, dan semua hal yang dibeli dengan uang.

Beberapa tahun membina rumah tangga, Bang Sueb dikaruniai dua orang anak. Si sulung sudah masuk SD meski terpaksa dititipkan kakek-neneknya di kampung halaman Indramayu. Hal ini tak lepas dari mahalnya biaya sekolah di pinggiran Jakarta yang sulit terjangkau keluarga Bang Sueb. Adapun anak ke dua, masih berumur dua tahunan dan ikut kedua orang tuanya. Untuk membantu meringankan beban Bang Sueb, istrinya secara serabutan sering menjadi buruh cuci setrika. Meski kedua suami-istri merupakan tipe pribadi pekerja keras dan tak kenal lelah, namun apa daya kemampuan ekonomi keluarga mereka tak kunjung berubah. Untuk sekedar hidup sehari-haripun mereka sangat pas-pasan.

Seiring bertambahnya usia anak-anaknya, Bang Sueb yang ingin setiap anak-anaknya bisa mengenyam bangku pendidikan yang lebih baik. Namun tentu saja tidak ada pendidikan yang gratis di negeri manapun. Justru dari waktu ke waktu biaya sekolahpun semakin tidak berpihak kepada Bang Sueb. Menyikapi hidup yang pas-pasan dan tak kunjung membaik, istri Bang Sueb berani nekat mengambil sikap. Ia nekat mendaftar menjadi TKI atau TKW ke negeri Taiwan. Dengan bekal pendidikan yang minim, ia rela menjalani hidup sebagai pembantu rumah tangga.

Adalah menjadi hak setiap anak bangsa untuk mendapatkan penghidupan dan pekerjaan yang layak di negerinya sendiri. Hal ini merupakan amanat kontitusi yang harus dijunjung tinggi oleh pemimpin kita. Namun bicara peluang dan kesempatan kerja di negeri kita sendiri, kita semua sadar belum semua angkatan kerja yang ada mendapatkan lapangan pekerjaan.

Pergi ke luar negeri untuk mengadu nasib hanya berbekal pendidikan dan ketrampilan yang seadanya adalah sebuah kenekatan yang luar biasa. Banyak pemuda-pemudi, bahkan warga setengah baya yang nekat menjadi buruh di negara orang seperti Malaysia, Taiwan, Jepang, Korea, dan negara-negara Timur Tengah. Mereka hanya berpikir bagaimana tidak berpangku tangan dan terus memperjuangkan nasibnya yang terabaikan oleh negara.

Kenekatan para TKI melanglang ke negeri perantauan tak sepenuhnya bebas dari segala risiko. Ada banyak kasus memprihatinkan yang menimpa saudara buruh migran tersebut. Ada yang terkena tipuan para penyalur kerja yang tidak bertanggung jawab. Ada yang ilegal masuk dan bekerja di negeri tujuan. Ada yang disiksa atau diperkosa majikannya. Bahkan ada juga yang terancam hukuman mati karena pembelaan diri terhadap tindak kekerasan yang dialaminya.

Di Hari Buruh kali ini, secara pribadi saya berpengharapan semoga para pemimpin negara ini segera memikirkan strategi perlindungan para buruh migran di luar negeri sana. Bagaimanapun mereka adalah tulang punggung keluarga, bahkan juga pahlawan devisa. Alangkah tidak bijak jika pemerintah mengambil kebijakan moratorium pengiriman TKI tanpa diiringi dengan peningkatan peluang lapangan kerja di dalam negeri.


Filed under: Jagad Bubrah Tagged: buruh, May DAy, TKI

Duit Beli Duit

-

Sang Nananging Jagad

on 2015-4-29 6:37am GMT

Semua orang butuh uang alias duit. Duit di jaman modern ibarat bagian ruh yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Mau minum, butuh duit! Mau makan, butuh duit! Mau bepergian, butuh duit! Mau sekolah, butuh duit! Mau ke dokter, butuh duit! Ibarat semua kegiatan atau keperluan manusia tidak bisa lepas dari benda yang bernama duit.

Kemajuan dunia teknologi informatika berbasis sistem yang terdigitalisasi dan terotomatisasi menjadikan trend segala hal terdorong ke arah electronic online. Layanan pajak online, layanan perizinan online, transaksi online, bahkan semua aspek pelayanan pemerintahan menuju online. Maka kita kemudian tidak asing lagi dengan istilah e-commerce, e-goverment, e-budgeting, e-procurement, e-banking, dan tentu saja e-money. Nah kali ini kita akan berbincang mengenai e-money ini. Apakah yang disebut e-money?


Filed under: Jagad Budaya Tagged: duit, e-money, uang
Siapa yang belum pernah ke Bada’an ? hmm.. rasanya kurang afdol jika berkunjung ke taman Bada’an tanpa mencoba menu kuliner yang satu ini. Bakso Pak Min Bada’an termasuk salah satu...

Like us on https://www.facebook.com/MagelangOnline

Sepeda kayuh memang merupakan salah satu sarana angkutan periode awal sebelum hadirnya mesin. Dengan mengandalkan tenaga kayuhan kaki dari pengendaranya menjadikan kendaraan ini super irit dan sangat ramah lingkungan. Mungkin karena kayuhan kaki alias sikil (dalam bahasa Jawa) ini yang menjadikan orang barat menyebut sepeda dengan ungkapan bai-sikil, bycicle. Tentu saja hal terakhir ini hanya sebuah pikiran lucu-lucuan semata dan jangan dimasukkan ke dalam hati, terlebih ke dalam otak.

Sebagai sebuah negeri jajahan yang selama ratusan tahun menjadi takhlukan negara penjajah, sepeda hadir di Nusantara tentu saja diperkenalkan oleh kaum penjajah Belanda. Pada awalnya sepeda masih menjadi sebuah kemewahan hanya hanya bisa dimiliki oleh para tuan menir dan noni-noni Belande. Orang pribumi masih benar-benar by sikil alias kemana-mana jalan kaki, atau paling mewah ya naik kuda atau delman.

Seiring dengan perkembangan sejarah, beberapa kalangan pribumi terutama kalangan ningrat dan orang berada juga mampu memiliki sepeda. Para amtenar atau pegawai pamong Belanda banyak yang bersepeda lengkap dengan baju beskap putih serta topi bundarnya. Demikian halnya para kaum terpelajar juga mengandalkan sepeda untuk pulang pergi ke sekolahnya.

Pasca Indonesia merdeka, sepeda masih menjadi sarana transportasi yang penting bagi masyarakat. Sepeda banyak dipergunakan untuk pulang-pergi kerja, berangkat ke sekolah atau kampus, bahkan ada juga ojek sepeda seperti yang kini tersisa di kawasan Kota Tua Jakarta.

Setelah masyarakat berkenalan dengan sepeda bermesin atau sepeda motor, sepeda menjadi sedikit banyak tergusur ke arah pinggiran. Bahkan untuk sepeda jenis sepeda onthel hanya tersisa menjadi sarana transportasi masyarakat kawasan pedesaan. Dengan dilengkapi bagasi atau boncengan di sisi belakang pengemudi, sepeda banyak dipergunakan sebagai sarana angkut barang. Para petani tidak jarang mengangkut gabah, beras, kelapa, hingga rumput untuk makan ternak juga menggunakan sepeda.

Di samping boncengan di sisi belakang, dulu banyak sepeda yang dilengkapi bagasi khusus dudukan bocah di depan pengemudi sepeda. Boncengan yang kecil mungil tersebut hanya dikhususkan untuk mengangkut bocah balita karena ukurannya memang mungil. Bocengan berupa dudukan yang terbuat dari bahan plastik tersebut dilengkapi dengan kerangka dari besi lunak yang terdiri atas tiga bagian, yaitu dudukan, pegangan, serta pedal injakan kaki anak. Di sisi tengah antara pegangan dan pedal indajakan terdapat cantolan untuk mengkaitkan boncengan tersebut ke sisi kanan dan kiri setang sepeda. Jadilah para bocah di jaman dahulu menikmati kemewahan berkendara dengan duduk di boncengan klasik tersebut.

Nah dewasa ini seiring dengan kampanye ramah lingkungan dan pola kehidupan sehat, masyarakat kembali melirik menggunakan sepeda. Bersepeda bangkit kembali sebagai salah satu gaya hidup menikmati kesantaian sekaligus sebagai sarana olah raga. Bahkan ada kalangan tertentu yang menjadikan sepeda sekaligus sebagai sarana transportasi untuk mencapai tempat kerja. Jadilah jargon bike to work yang terkenal itu, menjadi slogan bagi para anggota komuitas pesepeda untuk kerja tersebut.


Filed under: Jagad Nusantara Tagged: sepeda onthel
Bulan april bakal segera berlalu dan selama sebulan ini aku belum nulis apa-apa di blog ini. Aku nggak mau nyebutin alasannya kenapa, karena yang nanya alasan tetap saja alasan. Oke, mm mau nulis apa ya? Oya, aku mau sedikit cerita nih, beberapa waktu yang lalu Mbak Asma Nadia datang ke  Magelang loh. Kerumahmu, Koh? Bukanlah. Dia datang demi mengisi acara talkshow "Pengin Pintar dan Kreatif? Ayo

Hari berganti hari, bulan berganti dengan bulan, mantan berganti dengan gebetan, Ya itulah kehidupan. Setelah menunggu berbulan-bulan, akhirnya tepat tanggal 23 kemarin, gue semprop. Iya, beneran, gue kemarin baru semprop, padahal teman-teman gue udah selesai penelitian, bahkan ada yang udah wisuda, taik banget kan.

Tapi, gue merasa seneng banget karena udah semprop. Meskipun semprop cuman formalitas aja, dan enggak mempengaruhi nilai, tapi syarat utama penelitian skripsi, gue kudu semprop dulu. FYI, bagi yang belum tau apa itu semprop, gue kasih tau dulu. Semprop itu kepanjangan dari seminar proposal. Setelah selesai menyusun bab 1-3, mahasiswa diberi mandat untuk mempresentasikan rencana penelitian yang akan dilakukan. Dalam hal ini, rencana penelitian yang kita bikin akan dikomentarin temen maupun dosen. Selain itu, para audien juga bakal memberikan pendapat, masukan untuk penelitian kita sehingga penelitian yang akan kita buat bakal lebih kecee.


Balik lagi ke semprop, jadi setelah kemarin dikejar-kejar dosen,  guepun diperbolehkan semprop. Biasanya, mahasiswa yang mengejar-ngejar dosen, tapi gue malah yang dikerjar-kejar dosen. Gue mah orangnya gitu, eaa.

“Mas wisnu… udah sampe mana?”
“Mas Wisnu…. Kapan semprop? Segera ya…”
“…”
Ya seperti itulah kata-kata dari dosen pembimbing yang selalu dilontarkan ke gue.  Dosen pembimbing gue emang beda dari yang lain, petjah abis pokoknya.
Setelah mendapat restu untuk sempop, guepun kudu menyiapkan hal-hal yang berhubungan sama semprop. Iyaa, kayak makalah untuk kedua pembimbing, power point buat peserta, dan yang paling penting “Konsumsi”. Baik untuk temen-teman maupun bapak ibu dosen pembimbing.

Pada H-1, gue pergi ke swalayan di Solo. Karena gue jomblo, gue pergi sendirian. Mau ngajakin temen, masih pada sibuk. Mau minta bantuan sama temen juga enggak enak. Ya udahlah, enggak ada salahnya pergi sendirian, lagian kalo pergi sendirian malah cepet kelar.
***
Akhirnya tiba hari H. Pagi-pagi gue udah berangkat ke kampus setelah beli snak untuk dosen.  Semprop akan diadakan jam setengah pagi, tapi gue ngejarkom ke teman-teman jam 8.Biar enggak molor. Soalnya salah satu pembimbing gue ada acara jam setengah 10. Takutnya beliau bakal cabut ditengah seminar.
*gue yang pake baju putih

Satu persatu teman-teman gue berdatangan. Hingga waktu menunjukan pukul setengah 9. Jumlah peserta yang hadir baru 8, masih kurang 2 orang. Padahal pembimbing udah datang dan udah masuk ruangan. Seminar proposal akan segera dimulai kalo jumlah peserta yang hadir berjumlah minimal 10 orang, kampret banget kan. Gue kudu gimana? Udah jam segini, tapi masih kurang 2 anak. Padahal gue juga udah bawa anak kos, anak jurusan hukum yang gue culik buat ikut semprop anak FKIP.

Banyak temen-temen seangkatan yang enggak bisa dateng. Soalnya, temen-temen udah pada sibuk penelitian, ada yang jadi observer, dan ada juga yang lagi kuliah. Enggak lama kemudian, dua temen gue dateng. Gue cuman bisa mangap-mangap aja. Akhirnya semprop dimulai.

Alhamdulilah semprop lancar. Semua ini berkat bantuan dan semangat dari temen-temen, termasuk temen-temen KKN. Meskipun temen-temen KKN enggak bisa dateng, setidaknya mereka udah ngasih semangat dan motivasi. Ya meskipun KKN udah berakhir, udah jarang ketemu, tapi kita masih tetep komunikasi. Temen-temen KKN enggak ada yang ninggalin gue gitu aja meskipun KKN udah kelar. Enggak kayak mantan, udah nyakitin, ditinggal pergi, taik banget, bangke pokonya.
*motivasi dari anak-anak KKN


Ya meskipun lama, tapi akhirnya gue bisa semprop pada waktunya.  Selesai semprop, gue merasa seneng banget. serasa ada sedikit beban yang lepas. Semprop bukan akhir dari segalanya, tapi awal dari penelitian. Insyallah bulan Mei besuk, gue mulai penilitian skripsi. Semoga diberi kelancaran dan bisa lulus tahun ini, amin.
*Alhamdulilah maju satu langkah
Feed burner

Ngopi ndisik dulur

-

Agus Mulyadi Blog

on 2015-4-26 4:40am GMT


Gusti Alloh itu menciptakan segala sesuatunya berpasang-pasangan. Ada siang ada malam, ada hitam ada putih ada pria ada wanita, ada jelek ada agus. Semuanya sudah diformat. Jadi, kalau ada kesedihan, mungkin karena itulah kopi diciptakan.

Jadi, ayo jerang air panasmu, tuang kopimu. Mari kita isi masa-masa reformasi ini dengan menyesap kopi bersama-sama. Percayalah, sepahit apapun kopimu, ia adalah kawan yang tak pernah berkhianat.

Njo, ngopi ndisik gaessss, ben ra gundah

Sesekali krisis Air

-

Agus Mulyadi Blog

on 2015-4-26 1:47am GMT


Sudah dua hari terakhir ini air ledeng dari PAM di Banyurojo dan beberapa kelurahan lain di Mertoyudan mati total. Kabar yang beredar, hal ini disebabkan karena adanya kerusakan (lebih tepatnya kebocoran) saluran air di toren PAM karena hujan deras yang mengguyur Magelang dua hari yang lalu.

Kini, di kampung saya, air bersih benar-benar menjadi benda langka yang sangat berharga dan sangat sulit didapatkan. Sangat kontras dengan nama desa saya, Banyurojo (raja air).

Kelangkaan air ini kemudian memaksa banyak warga untuk bisa lebih beradaptasi dengan keadaan. Saya salah satunya.

Sebagai salah satu makhluk yang paling sering menghabiskan banyak waktu di kamar mandi, saya kini harus lebih hemat dan selektif dalam menggunakan air.

Sebisa mungkin, saya akan berusaha untuk tidak berak atau kencing di siang hari, karena susah sekali mendapatkan air untuk cebok. Kalau malam sih oke saja, karena masih bisa nunut berak atau kencing di kali di depan kompleks perumahan akademi militer di seberang kampung. Persetan dengan petugas jaga yang mungkin bakal menyorot pantat kenyal saya dengan lampu senter. Anggap saja itu cendera mata salam kenal dari saya. Bukankah pepatah mengatakan: Tak kenyal maka tak sayang?.

Kalaupun terpaksa harus buang hajat siang hari, ya mau bagaimana lagi. Saya harus berubah menjadi orang kulon yang cukup cebok dengan menggunakan tissu. Berat memang, tapi tetap harus dilakukan (yo meh piye meneh). Okeee, Menurut ajaran agama saya, cebok dengan tissu memang diperbolehkan, tapi bagi saya, tetap saja, rasanya belum marem kalau belum menggunakan air.

Urusan wudhu pun saya terpaksa harus mbukak yutub dulu, cari video tutorial bagaimana cara berwudhu dengan satu gelas air (1 mud). Dan alhamdulillah, sejauh ini, belum ada masalah.

Untuk urusan ngopi, kini saya tak bisa sembarangan ngopi-ngopi bareng kawan-kawan di kamar loteng saya. Maklum, air di galon harus saya manfaatkan dengan seefektif mungkin. Boleh ngopi, asal air bawa sendiri. Terkesan kejam dan tega, tapi mau bagaimana lagi. Bukankah "tanah air" memang sudah selayaknya diperjuangkan? hehehe.

Tapi dari seluruh problema air bersih ini, setidaknya ada satu berkah yang bisa saya dapat. Setidaknya, kini saya tak bakal berani coba-coba buka situs esek-esek. Tentu ada alasan lain selain alasan "takut dosa".

Please deh, di saat kondisi krisis air seperti ini, rasanya kurang etis kalau harus menghabiskan air bergayung-gayung hanya untuk mandi junub cuma karena khilaf memainkan jari-jari tangan.

Oh, ya, untuk kawan-kawan (terutama kawan-kawan perempuan), saya sarankan jangan mampir dulu ke rumah saya. soalnya, sudah dua hari ini saya ndak mandi.

Bukan apa-apa sih, saya cuma takut, kalian bakal jatuh cinta sama aroma tubuh saya. Cukuplah gigi saya saja yang menyihir kalian, aroma tubuh saya jangan.

Radya SurjanIndonesia sungguh sebuah negeri yang sangat kaya tradisi. Keberadaan ratusan suku bangsa dengan masing-masing adat istiadat, seni, dan budayanya inilah yang menjadikan negeri kita semarak warna-warni pelangi tradisi. Salah satu karya yang tidak bisa dilepaskan dari tradisi adalah pakaian adat.

Seiring dengan perkembangan jaman dan juga semakin memudarnya tradisi kedaerahan yang justru semakin tergantikan dengan tradisi nasional bahkan global, pemakaian pakaian adat menjadi sebuah pemandangan yang semakin langka. Pakaian adat saat ini hanya terbatas dipergunakan benar-benar pada suatu acara adat, terutama pada perhelatan suatu pernikahan. Itupun hanya terbatas dipergunakan oleh mempelai berdua dan barisan keluarga inti. Adapun para tamu lebih merasa nyaman dengan pakaian nasional, seperti hem atau jas berdasi, atau setidaknya pakaian batik.

Akan tetapi di beberapa hari belakangan ini, di berbagai sekolah-sekolah kita tidak heran jika mendapati para pelajar kita menggunakan pakaian adat di sekolah. Tentu saja tidak ada perhelatan pernikahan atau upacara adat yang dihelat di lingkungan sekolah. Kalau Anda lupa, baiknya saya ingatkan bahwa pekan ini adalah pekan Hari Ibu Kita Kartini. Sebagai sebuah tradisi yang diformalkan, Hari Kartini kemudian selalu identik dengan pakaian adat.

Meskipun memang hakikat pesan moral Hari Kartini tidak hanya soal anak-anak yang diajari untuk mencintai pakaian adat masing-masing suku yang ada di tanah air, tetapi anjuran pemakaian pakaian adat pada saat memperingati Hari Kartini adalah sebuah langkah postitif dalam rangka menanamkan, menumbuhkan, memupuk, serta memelihara rasa nasionalisme anak bangsa. Sedari dini anak-anak kita harus sudah dipahamkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa majemuk yang terdiri dari ratusan suku bangsa, maka keberagaman harus ditanamkan sejak di bangku sekolah. Dengan mengenal keberagaman justru kita berharap rasa persatuan diantara anak bangsa akan semakin menguat.

Di samping sekedar berpakaian adat, rangkaian acara Hari Kartini juga banyak diwarnai dengan aneka jenis perlombaan. Ada lomba peragaan busana adat, lomba memasak, lomba menggulung stagen, lomba melukis tokoh Kartini, paduan suara, olah raga, dlsb. Di samping menggali kembali akar tradisi, Hari Kartini juga menjadi ajang unjuk ketangkasan bakat anak-anak kita. Tentu saja hal tersebut merupakan hal yang positif. Bagaimana Kartinian di lingkungan sampeyan?

Ngisor Blimbing, 25 April 2015


Filed under: Jagad Budaya Tagged: Hari Kartini, Jepara, Kartini, pakaian adat

Water Torn atau menara air yang menjadi land mark Kota Magelang ini berada di sudut barat-utara aloon-aloon Kota Magelang. Menara yang mampu menampung 1,750 juta liter air ini mulai dibangun tahun 1916 oleh seorang arsitek kebangsaan Belanda bernama Herman Thomas Karsten pada masa pemerintahan Kolonial Belanda, dengan menghabiskan dana sebanyak 550 ribu gulden. Reservoir ini […]
Aneh tapi nyata, ada pohon pisang tumbuh di jalan raya, tepatnya di Bunderan Salaman arah ke Borobudur 4 April 2015.  Tidak hanya satu batang tetapi ada dua batang yang masih segar berdiri tegak. Sedangkan yang satunya berada di depan kantor Pegadaean Salaman.



Itu merupakan akal-akalan warga saja yang melihat adanya lobang besar di jalan raya. Karena kerusakan jalan yang parah tersebut maka demi keselamatan pengguna jalan maka warga menanam atau memberi tanda lobang jalan dengan pohon pisang sehingga warga tahu kalau ada lobang mengancam pengguna lajan.

Musim penghujan memang sangat berpotensi merusak jalan aspal karena arus air yang deras terus menggigis aspal jalan. Tak terkecuali daerah Salaman yang tercatan merupakan daerah yang memiliki curah hujan tinggi. Terlebih musim penghujan yang terasa lebih panjang ini.
Salah satu sekolah tua yang masih tegak berdiri yaitu SDN Salaman 01 yang berada di Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang. Tidak menutup kemungkinan sekolah tersebut merupakan sekolah tertua di Kabupaten Magelang

Hari itu Senin pagi. Sebagaimana rutinitas di awal pekan, kepadatan di stasiun Tangerang biasanya lebih padat dengan para calon penumpang yang membludak. Suasana ruwet kian bertambah dengan pelaksanaan proyek penataan lingkungan di sekitar area stasiun. Arus penumpang yang biasanya memasuki area stasiun melalui gerbang di sisi seberang Masjid Agung sudah beberapa hari sebelumnya dialihkan ke gerbang sisi tengah. Walhasil calon penumpang pejalan kaki harus berputar-putar dulu untuk mencapai loket dan peron stasiun.

Sebagai penumpang yang hanya kadang-kadang menjadi pengguna kereta api, saya tidak sepenuhnya tahu informasi perkembangan kebijakan layanan stasiun Tangerang termasuk keberadaan proyek yang sedikit banyak mengganggu kenyamanan calon penumpang. Pagi itu niatnya ingin naik kereta komuter line yang biasa berangkat pukul 06.45 WIB. Ketika memasuki area stasiun pada pukul 06.35, belum nampak satupun kereta sebagaimana biasanya. Para calon penumpangpun sudah berdiri berdesakan di sisi peron jalur 1. Pengumuman dari petugas menginformasikan bahwa kereta baru melaju di stasiun Poris. Akhirnya pukul 06.50, kereta yang seharusnya berangkat 06.45 baru memasuki stasiun tempat kami menunggu.

Begitu kereta terhenti dan pintu dibuka, sekonyong-konyong para calon penumpang saling menghambur, saling berebut dan berdesakan untuk mendapatkan tempat duduk. Saya sendiri terima pasrah dan memilih masuk belakangan. Dan akhirnya memang saya hanya mendapatkan tempat berdiri tepat di samping pintu.

Belum menempatkan dan menata diri dengan baik, saya dikejutkan dengan suara ribut-ribut di sisi tengah gerbong. Dua orang perempuan tengah kasak-kusuk terlibat dalam adu mulut yang membuat semua penumpang lain tercengang. Satu perempuan bertubuh sedang dan berkaca mata. Satu perempuan lain bertubuh gemuk besar. Keduanya duduk saling berdampingan, tetapi justru mereka berdualah yang sedang terlibat adu mulut. Umpatan-umpatan keluar bagaikan berondongan peluru dari para prajurit yang tengah adu senjata. Satu dua orang mencoba meneduhkan suasana dengan nasehat singkat. “Sudah-sudah, banyak orang! Tak baik ribut-ribut!” Meski demikian emosi kedua perempuan itu bukannya teredam.

Usut punya usut pada saat tadi para calon penumpang berebutan untuk naik gerbong dan mencari tempat duduk, dua orang tersebut terlibat desak-desakan bangku kereta. Si perempuan kurus berniat baik ketika dilihatnya ada bapak-bapak lansia yang juga tengah berusaha mencari bangku kosong. Ketika si perempuan sudah duduk terlebih dahulu, ia mengamankan satu posisi di sampingnya untuk diberikan kepada bapak lansia tersebut.

Di pihak lain, perempuan gendut rupanya sedang hamil. Karena tubuhnya yang memang gemuk dan besar mungkin penumpang yang lain tidak ngeh dan menduga bahwa ia sedang hamil. Merasa perempuan hamil harusnya mendapatkan prioritas, termasuk juga di deretan bangku non-prioritas, maka ia dan suaminya langsung duduk di bagian tengah.

Si perempuan kurus yang yang “membokingkan” satu space untuk bapak lansia yang sama sekali tidak dikenalnya menegurnya. Ia sama sekali tidak tahu bahwa perempuan yang gemuk tersebut sedang hamil. Dari sinilah kesalahpahaman bermula. Adu mulutpun berkepanjangan dan membuat penumpang yang lain justru menjadi serba tidak enak.

Semua orang kemudian paham bahwa pertengkaran tidak perlu terjadi hanya karena salam paham. Masing-masing pihak punya niatan baik. Si perempuan kurus ingin menolong orang lain. Si perempuan gemuk itupun kalau menyampaikan baik-baik bahwa dirinya tengah hamil, pasti juga tidak akan menimbulkan eyel-eyelan.

Setelah kedua perempuan merasa tidak enak dengan pandangan mata para penumpang lain yang merasa tidak nyaman dengan suara ribut-ribut mereka, akhirnya adu mulutpun berakhir dengan masing-masing saling diam. Suasanapun kembali tenang dan persoalan dianggap selesai.

Gambaran peristiwa seperti di atas mungkin banyak terjadi di ibukota Jakarta. Rimba raya jutaan manusia yang sehari-harinya dipenuhi suasana persaingan, perebutan, menang-menangan, bahkan perang hidup-mati. Jakarta yang semestinya menjadi tidak sekedar ibukota tetapi juga ibukota hati nurani justru semakin menampakkan ketidakberadapannya. Kebijakan pola pembangunan sentralistik dengan memadatkan uang dan modal di ibukota telah menggiring kepada keadaan pemusatan manusia. Di Jakarta orang mencari kerja, kesempatan, peluang, karir, uang dan tentu saja penghidupan yang kurang bisa dijanjikan di daerah. Akhirnya bom-bom permasalahan sosial dan krimimal tumbuh setiap saat untuk meledak dan menhancurkan peradaban pad suatu saat yang entah kapan itu. Masihkah ada angin di Jakarta?

Lor Kedhaton, 23 April 2015


Filed under: Jagad Bubrah Tagged: commuter line, kereta api

Huruf Alif dan Air Putih

Raden Mas Panji Sosrokartono barangkali merupakan nama asing bagi sebagian generasi saat ini. Menilik dari nama Kartono, barangkali kita akan menebak adanya hubungan kekerabatan dengan Raden Ajeng Kartini, pahlawan emansipasi wanita dari Jepara. Bulan April memang bulannya Kartini, sebagaimana peringatan Hari Kartini setiap tanggal 21 April diperingati. Adakah hubungan antara Kartono dan Kartini?

RMP Sosrokartono adalah kakak kandung RA Kartini. Ia dilahirkan di Jepara pada tahun 1877, merupakan putra ke dua dari delapan bersaudara putra Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat yang menjabat bupati dari 1890 – 1905. Selama 29 tahun beliau malang melintang sebagai pengembara di Eropa sejak 1897. Para kaum intelektual dan bangsawan Eropa menyebutnya sebagai De Javanese Prins(Pangeran dari Jawa) atau De Mooie Sos(Sos yang tampan).

Pada awalnya ia belajar di Delft untuk kemudian mendalami ilmu di Universitas Leiden, Belanda. Selepas menamatkan pendidikannya, Kartono berprofesi sebagai wartawan perang untuk koran The New York Tribune. Ia meliput secara langsung dari fron terdepan Perang Dunia I di daratan Eropa. Untuk memudahkan tugas jurnalistik dan menembus medan perang, ia diberi pangkat Mayor oleh tentara Sekutu. Meski demikian ia menolak dipersenjatai. Ia pernah pula bekerja sebagai staf Kedutaan Prancis di Den Haag, bahkan pernah menjadi penerjemaah di Liga Bangsa Bangsa yang berkedudukan di Wina.

Apa sebenarnya keistimewaan seorang Kartono hingga sebagai seorang putra pribumi yang dijajah lebih dari tiga setengah abad begitu cemerlang berkarir di perantauan jauh dari tanah kelahirannya?

Sosrokartono dikenal sebagai orang yang cerdas dengan penguasaan 17 bahasa asing dan 9 bahasa daerah. Ia berbicara dalam bahasa Inggris, Belanda, India, Cina, Jepang, Arab, Sanskerta, Rusia, Yunani, Latin, bahkan ia juga pandai berbahasa Basken(Basque), suatu suku bangsa Spanyol, demikian pernah dituturkan oleh Bung Hatta. Sebagai wartawan perang ia menerima gaji US$ 1.250 pada waktu itu. Dengan penghasilan sebesar itu, ia termasuk konglomerat di Wina. Maka tidaklah mengherankan apabila lingkup pergaulannya begitu luas di kalangan para bangsawan Eropa.

Konon di masa pengembaraannya tersebut ia pernah sempat berkorespondensi dengan Rajendra Tagor dan Albert Einstein, dan terlibat dalam perdebatan panjang mengenai filsafat dan teologi. Semenjak di Eropa, Kartono memang sudah menekuni laku tirakat sebagaimana tradisi orang Jawa di tanah asalnya. Dan kebiasaan ini yang kelak menjadikannya seorang spiritual spesial.

Kecakapannya dalam berbagai bahasa asing menjadikan Kartono berani menemui calon pejabat Gubernur Jendral di Hindia Belanda, W Rooseboom pada tanggal 14 Agustus 1899. Kepada calon petinggi tanah jajahan itu, ia menyampaikan bahwa Kerajaan Belanda harus benar-benar memperhatikan pendidikan bagi kaum pribumi. Bagaimanapun kejayaan dan kemakmuran yang dinikmati bangsa Belanda adalah mutlak atas jasa tanah jajahan. Upaya yang disampaikannya tersebut merupakan bentuk dukungan moral terhadap perjuangan yang pernah digagas oleh adiknya, RA Kartini, untuk memajukan pendidikan kaum pribumi terlebih kaum perempuannya.

Pada saat menjadi pembicara dalam Kongres Bahasa dan Sastra Belanda ke-25 di Gent, Belgia pada September 1899, Kartono menyampaikan pidato berjudul Het Nederlandsch in Indie(Bahasa Belanda di Indonesia). Dalam kesempatan tersebut ia mempersoalkan hak-hak kaum pribumi di Hindia Belanda yang tidak pernah dipenuhi oleh pemerintah penjajah. Dengan tegas ia menyatakan sebagai musuh dari siapapun pihak yang akan menjadikan Hindia Belanda menjadi bangsa Eropa atau berkebudayaan Eropa. Baginya Hindia Belanda memiliki khasanah budaya adiluhung yang yang bersumber dari adat istiadat berbagai suku bangsa yang telah mendiami gugusan Nusantara secara turun temurun.

Keluhuran tradisi, adat istiadat dan budaya yang dimiliki Nusantara harus terus dipupuk dan dikembangkan. Kepada siapapun putra pribumi yang berada di belahan bumi manapun, dihimbaunya agar tetap bangga dan melestarikan budaya bangsanya. Hanya dengan rasa kebanggaan terhadap bangsa dan budayanya itu, bangsa kita akan menemukan jati diri hingga akan menjadi bangsa yang mulia dan bermartabat disegani bangsa lain.

Setelah dua puluh sembilan tahun melanglang buana di dunia Barat, Kartono memutuskan untuk pulang ke tanah airnya, Hindia Belanda. Sekembalinya di Jawa, Kartono tidak kembali ke Jepara melainkan bergabung dengan Taman Siswa Bandung. Ia memang bertekad meneruskan cita-cita Kartini untuk memajukan pendidikan kaum pribumi. Atas jasa baik RM Soeryodipoetro, adik Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan kita, Kartono diminta menjadi pimpinan Nationale Middlebare School(Sekolah Menengah Nasional) milik Taman Siswa. Selain itu ia juga diminta menempati sebuah gedung di jalan Pungkur Nomor 7 Bandung.

Jalan Pungkur Nomor 7 kemudian berkembang pula menjadi sebuah perpustakaan atas jasa baik beberapa kolega dan teman-temannya yang memberikan sumbangan koleksi buku. Rumah panggung dari kayu dengan dinding anyaman bambu tersebut diberi nama Pondok Darussalam yang berarti rumah kedamian.

Pondok Darussalam kemudian berkembang menjadi tempat berkumpulnya para tokoh pergerakan nasional. Tak kalah tokoh seperti Bung Karno memerlukan datang untuk sekedar belajar bahasa dan bertukar pikiran dengan Kartono. Bahkan kemudian pondok tersebut menjadi pusat kegiatan Partai Nasional Indonesia dan Indonesisch Nationale Padvinders Organisastie pimpinan Abdoel Rachim, mertua Bung Hatta.

Demi menyaksikan penderitaan rakyat di sekitarnya yang didera kemelaratan dan berbagai macam penyakit, Kartono kemudian banyak melakukan tirakat dan laku prihatin. Ia seringkali melakukan cegah dahar lan guling, melakukan puasa dan mengurangi waktu tidur. Seringkali ia hanya minum air kelapa muda. Berkat karomah yang dianugerahkan Tuhan, ia berhasil menyembuhkan masyarakat yang datang berobat kepadanya. Ia kemudian dikenal sebagai tokoh spiritual hingga dipanggil dengan sebutan Eyang Sosro.

Eyang Sosro dalam melakukan penyembuhan terbilang memakai metode yang unik. Cerita air putih, huruf alif dan wejangan kebijakan filsafat Jawa adalah media penyembuhan yang melegenda. Bahkan dengan air putihnya, ia pernah diminta oleh Sultan Deli untuk memberantas wabah penyakit yang menyerang warganya.

Eyang Sosro meninggal pada tahun 1952 setelah mengalami kelumpuhan selama sepuluh tahun. Tokoh yang tidak pernah berumah tangga ini dimakamkan di Sedo Mukti desa Kalipitu, Kabupaten Kudus Jawa Tengah.

Diantara nasehat bijaknya yang terkenal adalah ungkapan sugih tanpa banda, digdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala, dan menang tanpa ngasorake(kaya tanpa harta, sakti tanpa jimat, menyerang tanpa prajurit, dan menang tanpa merendahkan). Bahkan di batu nisannya tertulis trimah mawi pasrah, suwung pamrih tebih ajrih, langgeng tan ana susah tan ana bungah, anteng manteng sugeng jeneng(rela terhadap takdir yang terjadi, tidak ambisius tiada ketakutan, tetap tenang dalam keadaan suka dan duka, diam sungguh-sungguh, maka akan selamat sentosa).[]

 Cisitu, 14 April 2009


Filed under: Jagad Budaya Tagged: Jepara, Kartini, Sosro Kartono

Bulan MerahSeorang kakek berkisah sebuah dongeng kepada cucunya tentu saja sesuatu yang lumrah dan wajar. Dongeng memang dipaido keneng, bisa sesuatu yang memang hanya sebuah cerita rekaan namun bisa juga merupakan sebuah kisah yang memang nyata-nyata pernah ada. Antara rasa penasaran ini pulalh yang dirasa Bre tatkala kakeknya mengurai cerita tentang Bulan Merah.

Bulan Merah konon merupakan sebuah kelompok musik keroncong eksis secara misteris di paruh jaman pergerakan nasional tatkala republik ini masih digenggam kekuasaan kolonialis Belanda. Adalah Bumi dan Siti, keponakan Rawi yang mewarisi segala bakat dan darah seni pamannya yang sepanjang umur hidupnya digeluti dalam dunia musik keroncong. Mereka sebenarnya anak dari Said, seorang tokoh pembawa pesan perjuangan, alias mata-mata atau telik sandi. Ketika pada suatu ketika aksi mereka dipergoki patroli Belanda, berondongan peluru memberondong tubuh Said dan istri hingga menjadikan Bumi dan Siti yatim piatu hingga untuk selanjutnya ia diasuh oleh Rawi.

Demi tekad untuk melanjutkan perjuangan ayahnya sebagai pembawa pesan perjuangan, Bumi dan Siti dibantu oleh Ratna Melati membentuk sebuah grup musik keroncong keliling yang kemudian diberi nama Bulan Merah. Turut menggawangi Bulan Merah adalah Sumo, Sastro, Kusno, Priambodo, dan Ku Chen. Bertindak selaku biduan atau vokalis adalah duet Siti dan Ramas Suryo.

Berbeda dengan umumnya kelompok keronrong yang eksis pada jamannya, Bulan Merah merupakan kelompok legendaris yang misteris. Dikarenakan sejak awal pendiriannya diniatkan untuk menjadi pembawa pesan rahasia, maka kelompok ini juga bergerak secara kucing-kucingan untuk menghindari mata-mata maupun patroli pasukan Belanda. Gerak Bulan Merah menjadi sangat rahasia dan hanya diketahui secara persis oleh para pejuang terpercaya. Inilah yang menjadikan nama Bulan Merah hanya sempat terngiang dari mulut ke mulut tanpa setiap orang yang membicarakannya pernah menyaksikan pentas kelompok ini dengan mata kepalanya sendiri. Tidak mengherankan jika Bulan Merah kemudian dianggap antara ada dan tiada. Ya, sangat misterius antara realita atau sekedar mitos.

Dalam pelaksanaan pentas Bulan Merah justru menyelenggarakannya bersamaan waktu dengan pentas-pentas lain yang berlangsung terbuka. Hal ini merupakan sebuah strategi khusus agar orang-orang yang datang ke Bulan Merah benar-benar orang yang berkaitan dengan perjuangan anak bangsa dan sekaligus untuk menghindari kecurigaan patroli Belanda. Pada pagi buta sehari sebelum Bulan Merah naik panggung, mareka menyebar selebaran gelap dengan kalimat singkat. “Ini Malem. Pertoendjoekan Boelan Merah. Bermaen di Kebon Djati. Djam 7.30” Demikian kira-kira pesan singkat yang mereka tempelkan di pohon-pohon pinggiran jalan.

Lalu bagaimana Bulan Merah menyampaikan pesan rahasia perjuangan? Tentu tidak secara terbuka dengan menyampaikan pidato, tentu saja menyampaikan pesan lewat syair lagu. Lewat syair lagu? Ya, justru disinilah kecerdasan Bumi selaku pimpinan dalam menggubah setiap syair dengan sisipan pesan-pesan berita perjuangan yang disampaikan secara berantai kepada para pejuang yang hadir dalam pertunjukan Bulan Merah.

Pentas Bulan Merah biasa diawali dengan sapaan lagu Boelan Menjapa Kawan. Puncaknya adalah pesan yang dikemas dalam gubahan Krontjong Padhang Mboelan.

Pada kesempatan pertujukan di Batavia, justru patroli Belanda berhasil mengendus gerak Bulan Merah. Untunglah sebelum patroli menangkap para personil Bulan Merah, potongan kertas-kertas pesan rahasia sempat dimusnahkan dengan cara dibakar. Interogasi mendalam yang dilakukan tetap tidak bisa menguak hubungan Bulan Merah dengan gerakan para pejuang. Merekapun lolos dari penjara.

Kejadian di Batavia mengharuskan Bulan Merah harus lebih berhati-hati dalam bergerak. Demi keamanan, merekapun memutuskan untuk pindah dari markas lama yang merupakan rumah milik Paman Rawi. Tidak tanggung-tanggung, mereka menyingkir hingga jauh ke pedalaman Boyolali yang asri. Namun demikian, Bulan Merah terus saja berpentas keliling menyampaikan pesan rahasia untuk memperjuangkan kemerdekaan Nusantara. Hingga akhirnya kemerdekaan itu benar-benar tergenggam di tangan rakyat, merekapun mendendangkan pesan kemerdekaan.

Apakah misi pembawa pesan perjuangan berkahir tatkala kemerdekaan benar-benar teraih? Bulan Merah yang lahir dari akar penderitaan rakyat tidak pernah berhenti berjuang atas nama rakyat. Tatkala perjuangan melawan penjajah asing berakhir, ternyata tidak secara otomatis menjadikan rakyat benar-benar merdeka dan sejahtera. Justru ada saat-saat dimana rakyat justru menderita di bawah kekuasaan bangsa sendiri. Inilah kira-kira situasi di masa orde lama yang semakin melenceng dari amanat penderitaan rakyat. Bulan Merahpun kembali bergerak memberikan pesan kritikan kepada pemerintah.

Di masa akhir pemerintahan orde lama, terjadi pembunuhan terhadap beberapa jenderal. Sebagai pihak pengkritik pemerintah yang dianggap berseberangan, Bulan Merah dianggap terlibat turut mendukung kelompok yang dicurigai sebagai dalang pembunuhan tersebut. Melalui sebuah operasi tentara, pengejaran terhadap Bulan Merah dilakukan hingga tepian hutan Wonolelo di batas Merapi-Merbabu. Dalam peristiwa tersebut semua personil Bulan Merah dihabisi. Namun sejarah kemudian mencatat ada satu personil yang lolos dari maut, itulah Ku Chen yang kemudian dipertemukan dengan kakek Bre. Akhirnya teka-teki di benak Bre terjawab bahwa Bulan Merah bukan sekedar mitos yang didongengkan kakeknya.

Rangkaian kisah perjalanan Bulan Merah, sebuah kelompok musik keroncong pembawa pesan rahasia, ini merupakan kisah novel heroik yang dikemas sangat apik oleh Gin alias Ginanjar Teguh Iman. Dalam beberapa kesempatan saya memang pernah bertemu dengan Gin. Akan tetapi obrolan panjang lebar dengan salah satu penggerak Komunitas Nulis Buku Magelang ini sering kami lakukan melalui chatting di media online. Sekian lama buku ini terbit, namun baru di awal April ini saya dipertemukan novel Bulan Merah ini di sebuah toko buku. Tanpa pikir panjang tentu saja langsung memboyongnya pulang dan segera membacanya.

Alur yang dibangun Gin dalam Bulan Merah ini memang unik. Kisah digali dari sebuah kisah yang tengah dikisahkan oleh seorang kakek kepada Bre, cucunya. Meski kisah dibeber melalui kisah flashback namun justru membuah cerita seolah-olah benar-benar hidup dan membawa pembaca tenggelam ke dalam suasana haru-biru perjuangan di masa pergerakan merebut kemerdekaan.

Membaca di bagian awal buku ini saya justru menjadi terkesima dengan pengetahuan penulis yang cukup mendalam mengenai seluk beluk peralatan musik keroncong. Bagaimana Gin menyinggung asal-usul kata keroncong yang berasal dari bunyi “crong” ukelele cuk menjadi sebuah pengetahuan baru bagi pembaca. Demikian halnya uraian masing-masing fungsi peralatan mulai ukelele cak dan cuk, biola, celo, kontrabas, hingga fluite sungguh meyakinkan seolah-olah berasal dari seorang penggelut musik keroncong profesional.

Buku setebal 250-an halaman ini meski diukir pada kertas coklat yang seringkali melelahkan mata, namun dengan pilihan font dan jarak spasi yang pas tetap nyaman di mata. Akan tetapi ada sedikit rasa penasaran yang tidak sempat tertemukan jawab oleh kebanyakan pembaca novel ini, yaitu hadirnya kata-kata voorspel, tussenpel, dan kadensa yang seolah menjadi pembatas buku yang mungkin terbagi menjadi tiga bagian besar.

Buku ini sangat unik di tengah novel populis yang ditulis umumnya penulis muda dewasa ini. Novel dengan latar perjuangan sudah saatnya hadir kembali di tengah masyarakat yang kini justru semakin terkoyak rasa nasionalismenya dan justru terdesak oleh sikap individualisme. Kahadiran buku ini mungkin bisa menggali kesadaran kebangsaan, khususnya di kalangan generasi muda.

Sebagai penulis kelahiran dan hingga kini tinggal di Kota Tidar Magelang, Gin sungguh patut diacungi jempol dengan mengangkat beberapa nama tempat yang ada di Magelang, seperti Wonolelo, Sawangan, menjadi bagian setting lokasi novelnya. Hal ini tentu saja menjadi sebuah kesan tersendiri bagi pembaca yang asli orang Magelang maupun orang-orang yang pernah memiliki kenangan di Magelang. Langkah ini sekaligus bukti komitmen seorang Gin untuk turut menggaungkan nama Magelang agar lebih dikenal lagi oleh saudara sebangsa setanah air di belahan wilayah yang lain.

Melalui novel Bulan Merah ini, Magelang harus turut bangga. Diantara sekian banyak para penulis dengan segudang karya tulisnya, Gin termasuk penulis yang telah membuktikan bahwa karyanya layak dibukukan untuk dibaca banyak orang. Tidak hanya pembaca di Magelang, tetapi tentu saja pembaca di seluruh pelosok tanah air. Mudah-mudah rintisan Gin dan juga beberapa penulis Magelang yang telah berhasil membukukan tulisannya ini semakin menggugah tumbuh kembangnya kesusastraan di Bhumi Tidar tercinta.

Ngisor Blimbing, 11 April 2015

RESENSI:

Judul Buku: Bulan Merah – Kisah Para Pembawa Pesan Rahasia

Penulis: Gin

Penerbit: Qanita, Mizan Group Bandung

Cetakan I, Agustus 2014

ISBN 978-602-1637-33-3

256 h; 20,5 cm



“Tertawa adalah tanda bahagia, tapi akan lebih bahagia jika anda bisa membuat orang lain tertawa”, begitulah kata kangmas Albert Einstein.

Tentu saya sangat sependapat dengan beliau, karena bagi saya, berbagi tawa memanglah sesuatu yang sangat menyenangkan dan bikin ketagihan, Lebih nyandu ketimbang ciu.

Tertawa itu menyehatkan. Jadi bisa dibilang, cara termurah untuk menjadi seorang dokter adalah dengan membagikan hal-hal yang lucu yang mampu membuat orang lain tertawa.

Beberapa waktu yang lalu, saya dan dua kawan saya, Nico dan Kebo mencoba membuat akun twitter yang mengusung twit humor, akun tersebut kami namai @CocotSelo. Misinya ya itu tadi: membagikan hal-hal yang lucu.

"Akun Dagelan waton Muni, Kadang ora dipikir, jadi rasah protes nek ra lucu... Meh Follow yo Karepmu, Ra Follow yo Matamu", begitulah bio yang tercantum di akun humor ini.



Saya, Nico, dan Kebo adalah kawan sepermainan, kami bertiga sering nongkrong dan ngobrol ngalor-ngidul sembari ngopi dan bermain kartu bareng di kamar loteng saya. Dari obrolan tersebut, sering kali terlontar guyonan-guyonan yang menurut kami lucu. Atas dasar itulah, kami kemudian membuat akun Cocotselo, yaitu untuk menampung guyonan-guyonan tersebut lewat twit. Harapannya agar guyonan-guyonan tersebut bisa dinikmati tidak hanya oleh kami bertiga.

Karena keseharian kami menggunakan bahasa Jawa, maka Cocotselo pun kami isi dengan twit-twit lucu (lucu menurut kami) berbahasa Jawa, biasanya soal asmara atau sosial.

Selain twit, kadang kami juga mengisi cocotselo dengan meme yang dibuat sekenanya. Yah, ndak lucu-lucu banget sih, tapi lumayan lah, ada saja barang sepotong dua potong manusia yang mau ngretweet.





Alhamdulillah, akun ini ternyata mendapat respon yang cukup baik. Pelan tapi pasti, follower mulai berdatangan. Follower cocotselo kini sudah mencapai 1700-an.

Puas dengan Cocotselo, Saya dan Nico ingin kembali membuat akun lucu-lucuan yang lain, tapi kali ini, kami ingin membuat akun dengan konsep grup, sehingga nantinya, bukan hanya saya dan Nico yang bisa memposting konten lucu, melainkan seluruh anggota grup juga bisa ikut berkontribusi menyebarkan kelucuan.

Kami akhirnya memilih Sebangsa.com sebagai platform ekspolorasi kami. Alasannya sederhana: Sebangsa adalah sosial media buatan anak negeri, dan fiturnya tidak kalah canggih dibanding sosial media global kebanyakan.

Grup di Sebangsa ini kami namakan Dagelan. Anggotanya baru sedikit, yah, namanya juga masih akun baru.

Tentu saya akan sangat berbahagia kalau sampeyan mau bergabung dan meramaikan grup Dagelan ini. Yah, siapa tahu sampeyan punya stok bahan humor yang turah-turah. Ingat, Humor itu seperti birahi, kalau tidak dilampiaskan, bisa berbahaya. hehehe

Wah, tapi saya belum punya akun Sebangsa je mas Agus...

Ya tinggal bikin tho, gitu aja kok gundah...

Hanyalah Wong Cilik

-

Agus Mulyadi Blog

on 2015-4-20 6:03am GMT


"Presiden'e meh sopo, nasibe wong cilik koyo dhewe ki yo tep podo wae"

Wong cilik yang sudah biasa rekoso mungkin sudah menganggap bahwa default hidupnya memang sudah disetting rekoso. Jadi ketika kondisi hidup dirasa sulit, dia hanya nggresulo sebentar dan misuh sekedarnya, setelah itu, ya biasa saja: ngudud, ngopi, ngarit, tidak menghujat siapa-siapa, tidak nyumpahi siapa-siapa.

Kalaupun harus menghujat presiden, menghujatnya ya cuma sebentar, tidak ndremimil seperti buzzer awal bulan. Karena ia menganggap, hidup itu lumrahnya memang harus begitu, harus rekoso.

Mereka sadar, susah itu pasti, tapi ketenangan adalah hak. jadi, Walau keadaan susah, pikiran mereka tetap jreeng, tidak spaneng.

Mereka tetap bahagia, dan kebahagiaan mereka didapat tanpa perlu piknik. Karena sejatinya, hidup itu sendiri adalah piknik yang sepiknik-pikniknya.

Kabar buruknya, orang-orang semacam ini biasanya tidak punya akun facebook atau twitter, sehingga saya tidak bisa men-Cc atau memensen beliau-beliau ini.

Mungkin karena mereka sadar, bahwa facebook dan twitter hanyalah makhluk yang bisanya cuma bikin spaneng.
Gemar menabung memang harus kita tanamkan sejak dini. Kegiatan yang sering dilakukan disetiap sekolah ini tak jarang dijadikan kegiatan wajib sekolah yang harus dilaksanakan bagi setiap siswa. Memang ada kelemahan dan kelebihannya. Kelebihannya diantaranya mengajak berdisiplin siswa dalam pengelolaan managemen keuangan serta membuat skala prioritan pemenuhan kebutuhan dan lain-lain. Sedangkan kelemahannya adalah kegiatan tersebut sangat menyita waktu guru dalam pengelolaannya.


Kegiatan menabung bagi SDN Salaman 1 sebenarnya sudah dilaksanakan sejak dahulu sekitar tahun tahun 2003 hingga 2006 yaitu dengan didirikannya Bank Sekolah Pelangi bahkan dalam kegiatan tersebut semua kegiatan dilaksanakan oleh siswa, Guru/petugas hanya mengontrol dan menyimpan uang tabungan. Namun karena suatu kesibukan maka kegiatan tersebut dihentikan.

Kali ini gemar menabung kembali akan digalakkan dengan diresmikannya Gerakan Ayo Menabung yang diprakarsai oleh Dewan Pendidikan Kabupaten Magelang yang bekerjasama dengan Bank BKK Tempuran. yang sasarannya seluruh sekolah di Kabupaten Magelang. Sedangkan SDN Salaman 1 sebagai sasaran pertama sekaligus sebagai sempel bagi segolah-sekolah berikutnya. Peresmian ini bertempat di ruang kelas SDN Salaman 1 yang dihadiri sekitar seratus tamu undangan tepatnya tanggal 18 April 2015. Ayo menabung!!!!


























Salah satu sekolah tua yang masih tegak berdiri yaitu SDN Salaman 01 yang berada di Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang. Tidak menutup kemungkinan sekolah tersebut merupakan sekolah tertua di Kabupaten Magelang

Magelang memang terkenal dengan Kupat Tahu nya. Ada bermacam-macam aneka menu Kupat tahu yang ditawarkan di Kota Gethuk ini. Kupat tahu Pak Sus Tanjung adalah salah satu dari sekian banyak warung kupat tahu di magelang. Asal nama warung ini diambil dari nama pemiliknya Pak Sus ditambah nama daerah lokasi Tanjung; jalan Magelang-Purworejo pertigaan Tanjung, setelah […]

Lebih lengkap artikel tentang "Uniknya Kupat Tahu Pak Sus Tanjung" dapat dibaca di Magelang Online - Informasi lengkap kota Magelang dan sekitarnya.

Posting ke 400Dulu ketika awal-awal mengenal dunia blog, bara semangat empat lima senantiasa berkobar dan menjadi penyemangat untuk membuat postingan dengan rutin. Sekian jam atau sekian hari tidak menyentuh halaman dashboard seolah ada sesuatu yang terasa hambar dalam hidup. Di samping membuat postingan dan mengutak-atik dashboard, blogwalking juga menjadi rutinitas tersendiri yang sangat mengasyikkan. Dari sinilah diantara sesama blogger saling berkomentar, saling bertegur sapa, bahkan saling mempertautkan rasa persaudaraan tanpa batas.

Tidak hanya eksis di jagad online, berbagai kopi darat alias kopdaran juga dengan penuh semangat dihadiri. Hikmah luar biasa yang saya nikmati sebagai seorang blogger adalah jaringan pertemanan dan persahabatan yang semakin bertambah luas. Saya termasuk blogger yang sangat beruntung bisa sering kopdaran kere hore di tepian kolam Bundaran HI yang sangat tersohor di masanya tersebut. Dari titik inilah sayapun diperkenalkan dengan beragam blogger dari beragam komunitas berbasis lokal yang muncul bak cendawan di musim hujan, katakanlah Cah Andong, Bengawan, TPC, Lumpia, KBBC, Warok, Blogor, Batagor, deBlogger, Blogger Bekasi dlsb.

Di tengah semaraknya pertumbuhan dunia perbloggeran Nusantara kala itu, sempat ada satumpernyataan yang dilontarkan Roy Suryo sebagai pakar telematika, “blogger hanyalah sebuah trend sesaat.” Pernyataan tersebut seolah memberikan prediksi bahwa sebagai sesuatu hal yang masih baru sangat wajar bila terjadi euforia semangat ngeblog. Namun seiring waktu nantinya akan mencapai titik jenuh dan segera disusul dengan masa surut. Kini setelah sekitar sepuluh tahunan, apakah pernyataan itu terbukti?

Sebagai sebuah keniscayaan hukum alam, perguliran dan pergantian generasi blogger kita juga datang dan pergi silih berganti. Kehadiran media sosial yang sekaligus berperan sebagai miniblog seperti facebook dan twitter, harus diakui memberikan banyak pengaruh terhadap eksistensi kaum blogger. Di saat yang sama gerak berbagai komunitas blogger juga mengalami penurunan intensitasnya. Tidak mengherankan jika hingga saat ini saya masih berusaha untuk tetap eksis ngeblog dan posting secara rutin, justru saya semakin merasakan sebuah perasaan sepi yang kian menjadi.

Namun sebagai sebuah pencarian jati diri melalui aktivitas menulis, bagi saya pribadi blog merupakan media pembelajaran yang sangat luar biasa. Meski masih tetap mempertahankan penggunaan blog berplatform gratisan, bahkan khusus blog ini baru tergenerate sekitar 2,5 tahun yang lalu, namun waktu ternyata memberikan catatan bahwa saya telah menampilkan postingan hingga mencapai postingan ke-400. Sungguh? 400?

Sayapun tidak terlalu memperhatikan, namun memang demikianlah adanya. Bukan bermaksud menepuk dada, akan tetapi tulisan yang ke-400 di blog ini sengaja ingin saya dedikasikan sebagai wujud rasa syukur kehadirat Tuhan YME yang telah berkenan memberikan kekuatan, ide, gagasan, pencerahan, dan segala bentuk petunjuk apapun hingga saya masih diberikan kesempatan untuk terus belajar menulis melalui media blog dengan senantiasa terlimpahi ide yang seolah tidak pernah mengering. Semoga Tuhan senantiasa memberkati langkah kecil ini.

Ngisor Blimbing, 19 April 2015


Filed under: Jagad Blogger Tagged: blogger, Komunitas Blogger, kopdar, pendekar tidar

Negara republik ini tengah sakit. Semua tahu dan tidak menyangsikan hal itu. Diantara bagian komponen bangsa yang menjadikan keprihatinan kita semua, tentu saja para oknum aparatur negara yang bermental korup. Ada deretan oknum pejabat, wakil rakyat, aparatur negara, dll juga para penegak hukum. Termasuk juga tentunya kalangan para pegawai yang telah digaji dengan uang rakyat tetapi tidak bekerja secara profesional. Golongan terakhir inilah yang dikisahkan oleh seorang sahabat saya kali ini. Sahabat saya tersebut kebetulan bekerja di salah satu instansi pemerintah pusat.

Angin reformasi yang telah berhembus selama hampir tujuh belas tahun tidak menjadikan serta-merta semua sikap dan perilaku korup sama sekali terkikis. Bahkan jika perilaku ini dulunya hanya dilakukan oleh kalangan oknum tertentu dan secara sembunyi-sembunyi, kini menurut sahabat saya tersebut, perilaku korup dilakukan secara lebih terstruktur, sistematis, dan dibungkus dengan legalitas aturan yang lebih rapi. Celakanya lagi, dilakukan secara berjamaah.

Konon salah satu kebijakan untuk mengindari perilaku korup adalah sistem tunjangan berbasis kinerja. Menurut analisis, salah satu penyebab perilaku korup adalah gaji pegawai pemerintah yang kecil. Dengan sistem tunjangan kinerja tersebut diharapkan seseorang akan mendapatkan tunjangan yang lebih besar jika kinerjanya lebih baik atau lebih tinggi. Seorang pegawai yang tidak dapat memenuhi tuntutan kinerja tidak akan mendapatkan tunjangan kinerja sebesar rekannya yang berkinerja lebih baik. Aturan itupun dibarengi dengan kebijakan reward and punishment dimana seorang pegawai yang bekerja baik, berkinerja baik, berjasa kepada negara akan mendapatkan penghargaan. Sebaliknya, seorang pegawai yang kinerjanya rendah atau bahkan melanggar aturan, termasuk berperilaku korup akan mendapatkan hukuman, mulai dari surat peringatan, penundaan kenaikan kepangkatan, hingga pemecatan ataupun penuntutan hukum.

Nampaknya sistem tersebut sekilas tampak bagus. Akan tetapi demikiankah pelaksanaannya? Ternyata konsep tidak selamanya indah dan sejalan dengan pelaksanaan. Hingga saat ini, tahapan penilaian kinerja belum sepenuhnya dijalankan. Tunjangan kinerja masih sebatas dinilai dari pemenuhan jam kerja alias absensi pegawai. Pegawai yang bekerja kurang dari jam kerja yang ditetapkan akan dipotong tunjangan kinerjanya.

Dengan sistem yang baru, setelah para pegawai tersebut diberikan sebagian dari tunjangannya, ternyata tidak secara otomatis kinerjanya meningkat sebagaimana yang dituntut. Masih menurut sahabat saya, meskipun pendapatan para pegawai tersebut telah bertambah namun tidak secara otomatis hal tersebut membuat mereka merasa cukup. Ibarat meminum air laut yang asin, semakin banyak minum justru semakin kehausan. Demikian halnya mentalitas sebagian besar para pegawai pemerintah kita. Diberikan berbagai fasilitas, diberikan peningkatan tunjangan tidak secara otomatis membuatnya merasa cukup dengan penghasilannya. Lalu apa yang terjadi?

Di samping penerimaan tunjangan kinerja yang besar yang tentu saja dianggarkan dari uang rakyat yang belum dibarengi dengan peningkatan kinerja dan profesionalisme, perilaku korup juga masih muncul dalam wujud atau modus-modus seperti mark up anggaran, pengadaan fiktif, bahkan rapat-rapat yang diselenggarakan seadanya.

Ketika muncul kebijakan pembatasan pelaksanaan rapat di hotel, tidak sedikit kalangan birokrasi yang mensiasati diri dengan rapat lembur atau di luar jam kantor. Menurut sahabat saya, rapat yang diselenggarakan pada jam kantor, baik di pagi atau siang hari, para pegawai hanya dianggarkan mendapatkan snack dan makan siang. Tidak ada komponen honor di sana. Akan tetapi jika rapat digeser pada jam di luar kantor, maka ada honorarium uang lembur yang bisa dibawa pulang. Konon nilai pagu anggarannya pada saat ini sebesar Rp 300.000,- Sungguh menggiurkan bukan?

Sebenarnya berdasarkan aturan, kegiatan lembur memang diperbolehkan. Tentu saja ada kriteria suatu pekerjaan menjadi dimungkinkan untuk dilemburkan, seperti jenis pekerjaan yang menuntut segera diselesaikan dalam dateline mepet ataupun pekerjaan yang menuntut keterlibatan pihak atau unit kerja lain yang sulit saling bertemu pada jam kerja biasa dikarenakan kesibukan pekerjaan masing-masing.

Namun sayang seribu sayang, kriteria tersebut sering dibuat-buat untuk sekedar menjadi dalih agar uang lembur dapat dicairkan. Bahkan untuk memenuhi ketentuan keterlibatan antar unit kerja, tak jarang terjadi perjokian peserta rapat. Perjokian, maksudnya? Ya, banyak terjadi peserta rapat yang tidak benar-benar ikut rapat tetapi turut membubuhkan tanda tangan di daftar hadir dan mendapatkan jatah honorarium yang sama dengan peserta rapat yang benar-benar turut aktif berapat. Sebut saja rombongan joki rapat yang demikian sebagai rombongan kere hore. Tidak perlu kerja, dapat uang! Ealah Gusti!

Sebagai orang awam bagian dari wong cilik, tentu saja nalar cupet saya tidak pernah sampai menduga apalagi berpikir ada modus sedemikian rendahnya di kalangan para aparatur negara yang terhormat. Bayangkan saja bagaimana kalangan rakyat biasa harus jungkir-balik, peras keringat, banting tulang hanya untuk mendapatkan seribu-sepuluh ribu perak, ini para oknum aparatur justru berpesta pora dengan uang rakyat, uang kita semua. Aparatur yang telah mendapatkan gaji tetap yang tentu saja jauh melebihi pendapatan rakyat biasa yang bekerja serabutan, bekerja di pabrik dengan standar gaji UMR, di sektor swasta dengan tuntutan kerja yang tinggi tetapi gaji pas-pasan, justru dengan kerja enak bahkan tanpa kerja mendapatkan durian runtuh. Tentu saja hal seperti itu bisa disebut sebagai kerja fiktif dan honorarium yang diterima bisa dikategorikan honor buta, dan perilaku demikian juga termasuk perilaku korup!

Bagi para rombongan kere-hore, sebagai wong cilik tentu saja kami turut mendoakan agar Anda semua segera diberikan hidayah oleh Tuhan untuk kembali ke jalan yang lurus. Meskipun pekerjaan kami serabutan, pendapatan kami seadanya, tetapi paling tidak rakyat kecil yang masih memegang teguh nilai agama dan kebaikan adalah orang kaya yang sejati di mata Tuhan. Bagaimanapun dan sebaik apapun manusia membungkus perbuatan nistanya dengan berbagai justifikasi aturan terselubung, tokh Tuhan tidak tidur dan sama sekali tidak bisa ditipu. Yakinlah bahwa setiap perbuatan sekecil apapun, apakah suatu kebajikan atau sebuah dosa, pasti akan tetap ada balasan yang seadil-adilnya. Semoga kita semua bisa merenungkannya dengan seksama.

Ngisor Blimbing, 18 April 2015


Filed under: Jagad Bubrah Tagged: korupsi, korupsi kolusi dan nepotisme
Dear Mas Mario Steven Ambarita.

Eh, saya harus panggil mas Mario, atau Mario saja ya? Soalnya saya lebih tua dari sampeyan je mas...Etapi saya panggil “Mas Mario” aja deh, biar lebih sopan.

Mas Mario,...” (tolong jangan dijawab dengan kalimat: “sahabat saya yang super”)

Saya begitu tersentak begitu membaca berita di Merdeka.com tentang aksi mas yang nekat menyusup ke roda pesawat Garuda GA 177 tujuan Pekanbaru – Jakarta dengan cara melompati pagar Bandara Pekanbaru, Riau sesaat sebelum pesawat lepas landas. Lebih tersentak lagi tatkala mengetahui kalau mas akhirnya bisa selamat sampai tujuan (Jakarta). Yah, kendatipun dengan kondisi tubuh yang sangat memprihatinkan: Tubuh membiru dan telinga banyak mengeluarkan darah.

Sungguh sebuah aksi yang sangat dan berani. Aksi yang mungkin akan membuat seorang Limbad pun akan berfikir seribu kali untuk melakukannya. Aduuuh, pucing pala Limbad.

Mas Mario, Dulu saya pernah begitu takjub dengan keberanian para bonek yang berani ndompleng di atas kereta yang melaju dengan kecepatan tinggi demi untuk menonton Persebaya berlaga. Sebuah keberanian berbalut militansi yang sangat luar biasa. Namun begitu mengetahui aksi mas Mario, keberanian para bonek tadi jadi terlihat berkurang cukup banyak di mata saya. Ternyata memang benar apa kata pepatah, di atas langit, masih ada langit, di atas Bonek, masih ada yang lebih Bonek.

Aksi sampeyan benar-benar membuat heboh jagad penerbangan. Berita tentang sampeyan bercokol di tangga teratas aneka portal berita.

Mas Mario, aksi sampeyan mengingatkan saya pada sebuah film lawas berjudul Commando, Di film besutan tahun 1985 yang dibintangi oleh Arnold Schwarzenegger (yang berperan sebagai John Matrix) itu, ada adegan yang hampir serupa dengan aksi yang sampeyan lakukan. Yakni adegan saat si John Matrix ndompleng di roda pesawat terbang. Tapi aksi tersebut jelas tidak ada seupil-upilnya jika dibandingkan dengan aksi sampeyan, mas. Karena adegan si John Matrix itu hanya adegan dalam film, bukan adegan nyata, lagipula, di film tersebut, si John Matrix tidak ndompleng sampai Jakarta, melainkan cuma sampai ujung bandara, untuk kemudian lompat ke rawa-rawa.

Saya jadi berfikir, mungkin sampeyan lah yang lebih pantas menyandang nama Schwarzenegger, bukan si Arnold itu. Keren lho mas, coba bayangkan, nama sampeyan berubah jadi Mario Schwarzenegger, sangat barat dan sangat “Commando”. Ehhm… Atau kalau sampeyan kurang suka, bagaimana kalau sedikit diubah agar jadi lebih Ngindonesia, Mario Suasanaseger, misalnya... Gimana? gimana?

Mas Mario...

Bagi saya, aksi mas bukanlah sekadar aksi random yang sembarangan seperti kata banyak orang. Karena sebelumnya, Mas Mario telah mempersiapkan segala sesuatunya. Bahkan sampeyan sempat selama 10 hari mengamati Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru dan mancari tahu bagaimana cara untuk bisa menyusup. Sampeyan juga dengan teliti dan cermat memperhitungkan jeda taxying pesawat selama 5 menit di ujung landasan bandara.

Sungguh aksi yang cerdas, nekat, militan, dan.... Sableng.

Aksi yang jelas membuat banyak orang heran, tak terkecuali saya. Gimana ndak heran, Disaat banyak orang mengeluh tentang Jakarta yang berisik, macet, banjir, dan semrawut. Sampeyan malah mempertaruhkan nyawa untuk bisa berangkat ke Jakarta.

Well,pada akhirnya, Keheranan saya akan aksi mas akhirnya terjawab. Sampeyan rela berangkat ke Jakarta dengan toh nyowo ternyata demi untuk menemui seseorang, seseorang yang katanya sangat-sangat sampeyan idolakan. Dan seseorang itu ternyata adalah... Jokowi., ya Jokowi... Presiden yang sangat sampeyan kagumi.

Entah benar apa tidak, tapi begitulah alasan yang sampeyan kemukaan saat ditanya oleh para wartawan terkait motivasi sampeyan melakukan aksi yang bikin kuduk berdiri itu. (btw, kenapa harus Jokowi sih mas?).

Well, Saya tak perlu keheranan dua kali. Karena saya tahu bagaimana rasanya mengidolakan seorang tokoh.

Memang benar, rasa cinta yang berlebihan kepada sang idola kerap mematikan nalar manusia. Saya sendiri sudah membuktikannya.

Adalah Freddie Mercury, si vokalis Queen, manusia yang bisa membuat saya menjatuhkan pilihan untuk mengidolakannya. Alasannya simpel: Dia Mrongos, dan luar biasa. Sebagai salah satu duta pria mrongos Indonesia, saya merasa harus mengidolakan tokoh yang juga mrongos tapi mempunyai prestasi yang sensasional. Dan Freddie Mercury adalah jawabanya. Sebenarnya, Luiz Suarez juga masuk kriteria, tapi sayang, dia bukan pemain MU, jadi saya terpaksa mencoretnya dari daftar. Tapi tenang, Diding Boneng tetap masuk list kok.

Rasa cinta saya pada Freddie Mercury membuat saya sering menirukan gayanya saat tampil di panggung. Saya sering secara spontan menirukan gaya berjalannya sambil membopong stan mic, dengan langkah yang dibuat sedemikian manja, kadang berlari-lari kecil, kadang merenggangkan kaki sambil mengepalkan tangan di atas. Dan itu sering saya lakukan di hadapan kawan-kawan saya. Saya bahkan tak canggung melakukan aksi tersebut di hadapan guru ngaji saya, beliau bahkan sampai berseloroh “wooo, dasar cah gendeng” sambil tersenyum geli melihat tingkah saya, tapi saya cuek saja.

Gara-gara Freddie pula, saya sering berniat memanjangkan kumis (kebetulan, Freddie punya kumis tebal), walau banyak kawan-kawan saya yang sudah memperingatkan, bahwa wajah saya tak akan lebih mendingan dengan bantuan kumis tebal di bawah hidung saya.

Yah, mungkin ini yang namanya nalar mati karena idola.

Seandainya Freddie Mercury masih hidup dan sekarang tinggal di Jakarta, saya mungkin tak akan berfikir dua kali untuk menemuinya. Tapi jelas bukan dengan ndompleng roda pesawat seperti yang mas lakukan. Saya tak mau badan saya membiru. Sudah pendek, biru lagi. Saya takut nanti orang-orang bakal menyamakan saya dengan galon air isi ulang.

Tapi mas Mario, bagaimanapun, Saya tetap salut dengan tekat dan keberanian sampeyan untuk ndompleng di pesawat dengan mempertaruhkan nyawa sampeyan. Namun saya berharap, jika kelak, di kemudian hari, sampeyan ingin melancarkan aksi yang lebih ekstrem dan lebih “Arnold” lagi, tolong jangan lakukan aksi tersebut demi Jokowi. Lakukanlah demi Raisa, Chelsea Islan, atau minimal salah satu personel JKT48.

Karena saya yakin, Jokowi mungkin tidak akan peduli dengan aksi sampeyan, karena sekarang ini, beliau sedang sibuk “mengurus” urusan negara dan juga sibuk mengurus persiapan hajatan nikahan anaknya.

Saya ndak ingin mas makan ati. Masak, sudah jauh-jauh menggantung di pesawat, eh, masih ditambah digantungin sama Jokowi. Kan nyesek mas. #DiaMahGituOrangnya.

Ya sudah mas. Segini saja. Saya ndak mau menambah beban mas Mario lewat surat terbuka yang sangat tidak jelas ini.

Semoga mas Mario senantiasa diberikan kesehatan, dan lolos dari hukuman (sumpah, saya kasihan sama ibu sampeyan mas). Dan semoga, kelak, Pak Jokowi berkenan untuk memberikan balasan atas aksi mas.

Iyaaaa, Saya pengin banget melihat Pak Jokowi ndompeng di roda pesawat dari Jakarta sampai ke Pekanbaru untuk bertemu mas Mario.

*Terbit pertama kali di Kolom Merdeka.com

Begitulah SMA Tidar

-

Agus Mulyadi Blog

on 2015-4-12 9:52am GMT
SMA Tidar, begitu khalayak menyebut SMA ini. SMA yang dirintis oleh Mayjen Sarwo Edhie Wibowo ini berlokasi di dalam kompleks perumahan akademi militer Panca Arga. Kendati SMA ini sekarang secara resmi sudah berubah nama menjadi SMA Negeri 1 Mertoyudan, namun para siswa maupun lulusannya lebih senang menyebutnya tetap sebagai SMA Tidar. Terkesan lebih eksklusif dan flamboyan (jarene).



Tahun 2006, saya masih lucu-lucunya, masih benar-benar suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Di tahun tersebut, saya lulus dari SMP Negeri 7 Magelang. Kelulusan ini kelak akan menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan hidup saya.

Lulus dari SMP adalah dilema hidup dan pergulatan batin yang maha dahsyat. Karena disitulah muncul sebuah pilihan penting bagi setiap lulusan SMP di manapun berada: Ingin melanjutkan ke SMK, atau ke SMA. Saya mengambil opsi yang pertama, melanjutkan ke SMK. Alasannya klasik, saya teracuni oleh jargon klise bahwa kalau lulus SMK, pasti bakal langsung siap kerja.

Saya pun lantas mendaftar ke SMK Negeri 1 Magelang, SMK yang konon adalah SMK terbaik di kota sejuta bunga, SMK yang ndilalah lokasinya hanya sak udutan dari kampung saya.

Tapi nasib memang berkata lain. Perjuangan saya masuk SMK Negeri 1 Magelang ini harus berhenti di tengah jalan.

Saya harus terdepak dari SMK yang lebih dikenal sebagai SMK Cawang ini. Alasannya sungguh tak dapat diterima oleh perasaan dan nurani: Tinggi Badan. Ya, dulu saya tak lolos tes pengukuran tinggi badan. Tinggi saya waktu itu hanya 150 cm lebih dikit (lebih pendek dari seorang Hobbit sekalipun). Waktu itu, saya benar-benar masih imut, imut dalam arti yang sesungguhnya.

Bapak saya kemudian menyarankan saya untuk mendaftar ke SMK lain, tapi saya sudah kadung mutung.

Di tengah kemutungan saya, bapak mencoba menyarankan saya untuk mendaftar ke MAN (Madrasah Aliyah Negeri). Saran yang justru semakin membuat saya tambah mutung. Bayangkan, sewaktu di SMP saja, saya pernah harus sebegitu bersusah-payah hanya untuk bisa menghafalkan 10 surat pendek, lha mosok sekarang harus masuk MAN, yang notabene bakal penuh dengan hafalan ilmu fikih dan hadits. Bodhol bakule slondok.

“Yo, MAN rapopo, tapi pa'e wae sing sekolah, ojo aku,” kata saya kepada bapak.

Di menit-menit krusial, akhirnya saya melabuhkan formulir pendaftaran di SMA Tidar. Mungkin sebagai pelampiasan atas didepaknya saya dari SMK Cawang, Karena ndilalah lagi, lokasi SMA Tidar juga sama-sama sak udutan dari kampung saya.

***

Saya akhirnya diterima di SMA Tidar. Lagi-lagi, ini menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan hidup saya. Selepas diterima di SMA Tidar, saya langsung mempunyai firasat, bahwa kehidupan saya akan semakin asyik dan bakal penuh dengan gairah.

Firasat saya agaknya mulai benar.

Di hari pertama saya masuk sekolah (tepatnya saat MOS), saya langsung menjadi pusat perhatian. Bukan... bukan, bukan karena pesona saya yang sedemikian cemerlang, namun karena sebuah peristiwa heboh yang terjadi saat pembagian kelas.

Rupanya yang namanya Agus Mulyadi bukan hanya saya. Bedebah, Ternyata ada satu cecunguk lain yang namanya sama-sama Agus Mulyadi. Lebih bedebah lagi, ternyata ia tetangga desa, Jangkrik.

Pembagian kelas pun akhirnya berlangsung dengan sedikit balutan perang urat syaraf.

Nama Agus Mulyadi masuk di dua kelas yang berbeda, yakni X-4 dan X-6. Nah, Permasalahannya adalah: Agus Mulyadi mana yang masuk X-4 dan Agus Mulyadi mana yang masuk X-6. Kalau saya pribadi sih lebih memilih untuk masuk di X-4, karena feeling saya mengatakan, X-4 lebih asoy ketimbang X-6. Feeling perjaka yang baru saja masuk SMA biasanya ciamik.

Ndilalah, si Agus Mulyadi jilid 2 nampaknya juga menginginkan kelas tersebut.

Maka, gesekan kecil pun lantas tak terhindarkan.

“Bapakmu ki ra kreatif, nduwe jeneng kok madan-madani!” umpat saya pada si Agus Mulyadi jilid 2

“Lha, aku ro kowe ki luwih tuwo aku ju, berarti bapakmu sing ora kreatif,” balasnya skak-mat.

Apakah saya menyerah? ooooh, tentu tidak, bukan Agus Mulyadi (jilid 1) namanya kalau langsung tumbang hanya karena skak-mat murahan seperti itu. Saya masih punya segudang argumen defensif yang lebih dari cukup kalau hanya untuk meladeni debat kusir dengan si Agus Mulyadi jilid 2.

“Lha aku jenenge Agus ki le mergo lahir bulan agustus, lha nek kowe kan lahire ora bulan agustus, dadi kowe ki ra nduwe landasan batin sing kuat, intine aku luwih otoritatif lan luwih berhak!”, balas saya defensif.

“Ah prek ndes!” timpalnya kesal. Agaknya ia mulai terpojok. Hahaha, kalah dia.

Urusan soal nama ini akhirnya selesai dengan cara yang agak unik. Saya dan dia akhirnya menentukan pembagian kelas dengan suit alias pingsut. Dan bisa ditebak, saya lagi-lagi menang: saya jentik (kelingking), dia jempol. Jari saya rupanya masih cukup tokcer dan bertuah. Jadilah saya akhirnya masuk kelas X-4.

***

Masalah transportasi menjadi masalah utama saya di awal-awal masa sekolah.

Walaupun dekat, namun untuk berjalan kaki ke sekolah rupanya cukup menyita waktu dan tenaga. Terlebih waktu itu, saya belum punya motor. Mau nebeng juga belum punya kenalan. Akhirnya, andong pun menjadi pelampiasan.

Pertama kali saya naik andong, saya langsung dipersilahkan untuk duduk di samping pak Kusir. Saya tadinya mengira, itu adalah sebuah penghormatan. Sial, ternyata saya terlalu ge-er. Rupanya memang sudah menjadi aturan baku di kalangan driver andong, bahwa penumpang laki-laki wajib duduk di kursi depan, di samping pak Kusir.

Duduk di kursi depan tentu menjadi pengalaman baru yang menarik dan menyenangkan. Senada dengan salah satu lirik lagu anak-anak legendaris: "Naik Delman istimewa ku duduk di muka, ku duduk samping pak kusir yang sedang bekerja".

Tapi seiring berjalannya waktu, duduk di samping pak kusir ternyata tak selamanya menyenangkan. Bayangkan, di pagi yang indah, sampeyan harus duduk dengan lutut yang ditekuk sedemikian sempit, ditambah dengan pemandangan pantat kuda di depan sampeyan. Tentu bukan pemandangan ideal untuk anak muda yang baru puber.

Perlu sampeyan tahu, Seseksi dan sesemok apapun kuda tersebut, pantatnya tetaplah pantat kuda, pantat yang jauh dari erotis dan sangat tidak menggairahkan.

Duduk persis di belakang pantat kuda semakin terasa sangat menyebalkan. Terlebih jika sampeyan harus rela sesekali terkena kibasan ekor kuda yang baunya sangat tidak sedap itu. Kita semua tahu, ekor kuda tak pernah terkena sentuhan busa Rejoice atau Emeron. Jadi jangan harap sampeyan bakal mencium aroma jasmin atau levender dari ekor kuda yang menyapa hidung sampeyan.

Saya hanya betah naik andong kurang dari seminggu. Selebihnya, saya lebih memilih untuk berjalan kaki.

Seiring dengan bertambahnya kenalan, Intensitas jalan kaki saya semakin berkurang, karena setiap kali saya menunggu di depan gerbang perumahan Panca Arga, biasanya ada saja kawan satu kelas yang menawari saya tebengan (atau lebih tepatnya: saya memang sengaja menunggu tebengan).

Masalah transportasi pun akhirnya terpecahkan dengan sangat cantik dan elegan. Sungguh rezeki anak sholeh.

***

Bersekolah di SMA Tidar rupanya memunculkan sebuah sekuritas yang maha tinggi. SMA ini bisa dibilang menjadi salah satu SMA paling aman. Saya katakan aman karena hampir tak ada SMA atau SMK lain yang berani nglurug (menyerang) SMA ini. Bagaimana mau nyerang, Lha wong lokasinya saja berada di dalam kompleks perumahan akademi militer je. Hanya siswa SMK Khilaf saja yang mungkin punya niat untuk menyerang SMA ini.

Hal ini bukan omong kosong.

Pernah suatu ketika, serombongan siswa dari salah satu sekolah swasta di Magelang mencoba nglurug SMA Tidar. Hasilnya sudah bisa ditebak: gagal total.

Serombongan siswa khilaf tersebut tumbang di langkah awal oleh hadangan PM (Polisi Militer). Para siswa tersebut langsung kocar-kacir tak berkutik dengan bentakan sang PM. Saya tak heran, karena Se-gentho-gentho-nya anak SMK, tentu bakal ciut nyalinya kalau harus berhadapan dengan Polisi Militer yang kepalan tangannya saja segedhe toples lebaran.

Pepatah klasik mengatakan: "Pemenang sejati bukanlah dia yang mengalahkan musuhnya di medan perang, Pemenang sejati adalah dia yang mampu menghindari perang demi kemaslahatan".

Pepatah ini agaknya cocok ditujukan untuk anak-anak SMA Tidar.

***

Sewaktu kelas satu, ada sebuah peristiwa yang begitu terkenang.

Saya sedang duduk-duduk di beranda kelas, saat tiba-tiba, seorang guru menarik saya dan menggelandang saya ke kantor guru. “salah saya apa pak?” tanya saya dengan wajah yang ketakutan. “wis, teko melu”, jawabnya tegas.

Sesampainya di kantor guru, saya kemudian disuruh duduk di kursi pendek di pojokan kantor. Sebentar memang, tapi waktu yang sebentar itu terasa sangat lama sekali bagi saya.

Si guru tadi kemudian mengundang beberapa guru lainnya. Dan dengan sangat tidak terduga, beliau mengucapkan “Selamat Ulang tahun, gus”, yang diikuti oleh guru-guru lainnya.

Terlalu sulit untuk tidak sentimentil. Saya sendiri bahkan tidak tahu kalau hari itu adalah hari ulang tahun saya. Ingin rasanya saya tidak menangis, tapi ternyata sulit. Air mata saya akhirnya mengalir dengan sebegitu deras. Bendungan berkedok "laki-laki tidak boleh menangis" pun akhirnya jebol juga.

Itulah kali pertama bagi saya diberikan ucapan selamat ulang tahun tanpa saya harus memberitahukan hari ulang tahun saya. Waktu itu belum jamannya facebook. Friendster pun belum sedemikian cemerlang. Jadi selamat ulang tahun masih menjadi ucapan yang terlalu klenik dan mewah.

Belakangan saya dengar kabar (entah benar entah tidak), kalau guru yang menggelandang saya itu kini sudah pindah dari SMA Tidar dan kini menjadi kepala sekolah.

***

Belajar di SMA Tidar benar-benar memberikan sensasi tersendiri bagi segenap siswanya. Betapa tidak, seminggu sekali, pada hari jumat, para siswa akan belajar di bawah naungan suara desingan peluru. Suara tersebut tak lain dan tak bukan adalah suara riuh latihan perang yang diselenggarakan oleh akademi militer.

Hari Jumat memang menjadi hari wajib latihan militer di lapangan tembak yang lokasinya memang tak jauh dari kampus SMA Tidar. Jadi jangan heran kalau setiap jumat, suara senapan sahut-menyahut sedari pagi, bahkan sesekali diselingi suara dentum ledakan. Awesome sekali.

Ini sensasi baru dalam kegiatan belajar-mengajar. Bagaikan bersekolah di daerah konflik, namun tetap aman-sentosa dan tak khawatir bakal kena mortir atau peluru nyasar.

***

Jam kosong adalah surga bagi saya. Saya tak pernah menghabiskan waktu jam kosong di kantin seperti kebanyakan siswa. Saya biasanya menghabiskan waktu jam kosong dengan bermain ping-pong di aula bersama kawan-kawan dekat saya: Sentiko, Anugrah, dan Dicky.

Kami berempat benar-benar keranjingan ping-pong, terutama Saya dan Sentiko. Saya dan Sentiko bahkan pernah suatu kali masuk ke gudang gereja POUK (Persekutuan Oikumene Umat Kristen) ─salah satu gereje kristen di kompleks Panca Arga─ di malam hari hanya untuk bermain ping-pong. Kami bermain dari jam 10 malam sampai lepas dini hari. Permainan bisa saja baru akan berakhir di pagi hari jika saja Sentiko tidak mendapat sms ancaman dari ibunya untuk segera pulang.

Kami berempat mulai keranjingan bermain ping-pong di aula sejak kami melihat beberapa karyawan dapur dan beberapa guru laki-laki bermain ping-pong selepas jam pulang sekolah. Kami lantas meminta ijin untuk menggunakan meja tersebut saat jam kosong atau jam istirahat. Dan rupanya kami diizinkan.

Belakangan, jadwal bermain ping-pong kami semakin ekstrem. Kami tak hanya bermain saat jam kosong, kami bahkan pernah beberapa kali kedapatan bermain ping-pong saat jam pelajaran. Hal itu membuat aturan penggunaan meja ping-pong tersebut semakin diperketat.

Pengetatan ini membuat kami mulai mengurangi intensitas olahraga tampar bola ini, walau sesekali kami masih sering mencuri waktu untuk tetap bermain.

Intensitas bermain ping-pong baru benar-benar hilang di masa-masa menjelang ujian nasional.

***

Tiga tahun saya mengarungi bahtera pendidikan di SMA Tidar (alhamdulillah, saya belum pernah tidak naik kelas). Selama tiga tahun tersebut, saya sempat empat kali jatuh cinta pada teman wanita. Tiga diantaranya kawan satu kelas (sama-sama setingkat kelas), sisanya adik kelas.

Di SMA inilah, saya pertama kalinya berani menembak teman yang saya taksir. Dan pertama kalinya pula saya ditolak. Ditolaknya dengan telak pula. Tas-tes, bat-bet, tanpa tedeng aling-aling.

Bayangkan, Sesaat setelah saya mengutarakan perasaan saya, jawaban si dia hanya singkat dan sangat tidak basa-basi: “yo, tapi aku ora” jawabnya lugas. Dan ia pun berlalu begitu saja. Seakan-akan seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Asuuuu.

Ah, Mungkin ia waktu itu belum terlalu khilaf untuk bisa menerima saya.

Sungguh penolakan yang sangat spartan dan bengis. Penolakan yang lebih kejam dari rezim otoriter manapun. Tidak ada kata-kata pengayem seperti “kamu terlalu baik buat aku”, “aku belum boleh pacaran sama mama”, atau “aku masih pengin konsentrasi sama sekolah”, atau minimal kata-kata penolakan yang halus lainnya.

Tapi tak apa, setidaknya, saya sudah berani mengungkapkan perasaan saya. Sungguh pun saya ditolak. Sebuah debut asmara yang tidak terlalu gemilang sih. Tapi debut tetaplah debut, yang kelak akan menjadi kenangan rekam jejak yang berati bagi saya. Berani nembak saja saya sudah senang. Urusan hasil, itu nomor enam (nomor satu sampai lima, tetap Pancasila).

Saya jadi ingat dengan petuah Bu Resmi, salah satu guru idola saya di SMA Tidar. Kata beliau, "Kalau kamu berani jatuh cinta, kamu juga harus berani cintamu jatuh".

Iya sih bu, saya berani cinta saya jatuh, tapi mbok yo ojo gasik-gasik banget ngono lho :)

***

Ah, sungguh SMA Tidar telah memberikan kenangan yang teramat indah dan tak akan pernah terlupakan. SMA Tidar benar-benar telah mengisi perjalanan hidup saya dalam rangka menempa diri demi menjadi pria yang lincah dan trengginas.

Kini, tak terasa, sudah enam tahun berlalu sejak saya lulus dari SMA tercinta ini.

Belakangan, kabar tentang kawan-kawan saya pun mulai menggaung. Kawan-kawan saya sesama SMA Tidar sudah banyak yang jadi orang besar. Ada yang jadi Prajurit Taruna, ada yang jadi dokter, ada yang jadi seniman, ada yang jadi abdi negara, ada yang jadi pendakwah, ada juga yang jadi aktivis. Bahkan kawan sebangku saya dulu, sekarang jadi vokalis Lapiezt Legiet, salah satu Band Reggae lokal yang sangat ngehits dan punya nama besar di Magelang dan sekitarnya.

*Ditulis pertama kali untuk naskah Buku MEMBACA MAGELANG 3

Sempat Alay

-

Mahasiswa Punya Cerita

on 2015-4-10 11:54am GMT
Welcome April, gimana gimana kabarmu? Udah lama kagak update blog. Gimana kabar skripsimu? Sampai mana? Sampai mana-mana. Temen-temen SMA udah pada pendadaran, dan gue masih sibuk berdoa biar hati dosen pembimbing gue bisa luluh kayak lagunya Samsons. Semua akan wisuda pada waktunya kok, tsah.
Oke, pada kesempatan kali ini, gue mau ngebahas tentang Facebook. Pasti kalian udah enggak asing dengan sosmed yang satu ini. Ya, menurut gue, sosmed satu ini masih tetep eksis, enggak kayak Friendster. Gue masih inget, pertama kali gue punya akun FB itu pas jaman kelas X. Waktu itu gue masih jadi maniak friednster, dan migg33. Tiba-tiba aja salah satu ‘teman’ lagi asik mainan sosmed. Gue penasaran sama tuh sosmed. Setelah gue cari tau, nama sosmed yang dimainin “temen” gue adalah FB. Semenjak saat itu, gue bikin akun FB dan “move on” dari yang namanya migg33 dan  FS atau Friendster.

Ya seperti itu asal muasal gue punya akun FB. Seiring berjalanya waktu, gue masih tetep aja jomblo, loh. Enggak terasa udah 6 tahun lebih gue jadi pengguna FB. Jadi, kemarin siang gue iseng-iseng buka FB. Entah kenapa gue mendadak ingin melihat timeline beberapa tahun yang lalu. Setelah ngepoin TL, mendadak gue shock. Status yang pernah gue update, wall-wall-an dengan stranger yang rata-rata cewek membuat gue makin mangap-mangap. Ternyata gue sempat Alay. Padahal gue sering banget ngatain ababi-ababil alay, tapi dulu gue juga alay. Tapi, seiring berlalunya kenangan, gue udah sedikit enggak Alay, tsah.
Yap,  gue yakin kalian juga pernah alay di FB. Kali ini, gue akan ngajakin kalian bernostalgila dengan ke-Alay-an yang mungkin aja pernah kalian lakukan di FB beberapa waktu yang lalu. Tapi gue akan ngebas kealayan gue aja. Daripada kelamaan, langsung aja Ya… beberapa ke-Al4y-an yang pernah gue lakuin. Check this out.
1.   Nulis Status pake Cuplikan Lagu
Hal konyol yang pernah gue lakuin saat awal-awal punya FB ya bikin status pakai cuplikan lagu. Entah jaman dulu kenapa gue bisa ngelakuin hal kayak gitu. Nulis status pake lagu-lagu yang menurut gue lagi mewakili perasaan saat itu. Biasanya gue sering update status pake lagu-lagunya Peterpen.
*Demi apa coba
Tapi, setelah gue sadar, gue enggak pernah update status pake cuplikan lagu-lagu lagi. Terlebih lagi, sekarang udah jamannya Path. Kita bisa update lewat “listen to” di path. Jadi, enggak perlu lagi nulis status lagu buat mewakili perasaan kita, eaa… alay. Hayo… siapa yang dari kalian yang juga pernah ngelakuin hal yang sama? Kalo dulu di FB sering update cuplikan lagu, berarti kita sama, sama-sama alay.
2.   Chat di Wall
Hal konyol yang dulu pernah gue lakuin selanjutnya adalah chating di Wall. Wajar aja, sebelumnya gue adalah pengguna Friendster. Jaman pake FS, gue sering nulis di wall temen yang gue ajak chat. Kebiasaan itu terbawa sampe gue punya FB.


Gue sering banget wall-wallan sama temen di FB gue. Bahkan karena terlalu banyak yang ngewall, gue sampe lupa bales wall temen-temn FB gue.  Kalo sekarang, tiap ada temen yang ngewall pasti bakal dibalas di kolom komentar. Tapi, kalo gue dulu, tiap ada yang ngewall, gue balas di wall temen gue. Karena terlalu banyak ngewall, wall gue mencapai 100 lebih dalam waktu beberapa bulan. alay banget kan.

3.   Nulis Pakai Huruf Aliens
K4Mo3h L6 4paH? aNAx M4n4?
Gue yakin setelah membaca tulisan di atas mata kalian berubah jadi silinder. Hayoo.. siapa yang dulu pernah nulis kayak gitu? Nulis pake bahasa Planet Namec biar keren. Bukan keren, malah ngerusak sistem saraf, hahaha.
 Tulisan Planet Namec tadi pernah ngetrend di kalangan anak muda waktu itu. Tapi alhamdulilah, gue enggak ngikutin trend huruf Planet Namec tadi.


 *mataku... mataku...
Kenapa gue bisa tau model tulisan kayak gitu? Karena temen-temn FB tiap ngewall di FB gue sering pake tulisan Namec, jadi gue tau. Ya gue maklum aja sih, pasti dari kalian juga pernah ngikutin huruf besar kecil gitu.
 Enggak cuman huruf besar kecil aja, waktu itu gue juga sempet bingung tiap ada temen yang ngewall kayak gini:


Mendadak gue bingung dan mencerna maksud dari wall di atas. Setelah gue nyari di primbon, ternyata lagi ngetren adanya substitusi huruf. Misalnya aja X= Nya. Dari situlah gue jadi tau, anjir… alay.

4.   Update Status Senang maupun Galau


Awal-awal punya FB, gue sering mencurahkan apa yang terjadi dengan gue baik sedih maupun senang. Entah apa kenapa gue selalu update, mungkin biar orang-orang pada tahu kondisi gue, mungkin.
Ya mungkin waktu itu gue masih ababil. Tiap lagi seneng pasti update status, tiap lagi susah juga update.
Hal yang lebih nyesek lagi itu saat update status galau kemudian dikometarin guru itu rasanya….  Silahkan isi sendiri. Kampret banget kan, waktu itu gue asal nge-add orang termasuk guru di SMA gue. Ya sebuah konsekuensi tiap update status, guru selalu  enggak pernah absen coment status gue. Terlebih lagi, waktu facebook masih kayak tai ayam yang baru keluar, anget-anget gitu.


*Saat status dikomen sama guru (=.=)

5.   Upload Foto Sesat
Enggak cuman status aja yang bisa kita share, tapi foto juga bisa. Waktu awal-awal punya FB, gue sering banget upload foto-foto yang menurut pendapat gue tuh foto keren dan kece abis. Ya misalnya aja foto di kuburan, foto lagi boker, dan foto-foto yang udah diedit lewat jasa internet.
Waktu itu gue pake Photofunia.  Kita tinggal upload, entar udah ada frame yang secara otomatis ada di foto kita.

*foto di makam, udah kayak kuncen, kuncen hatimu...

Tapi… seiring bertambahnya usia, gue merasa hal yang gue lakuin itu Alay banget. Foto dikuburan pake gaya ala Kuncen, kuncen hatimu… eaaa.
Setelah sadar, gue bertobat… Foto-foto alay yang pernah gue upload, gue hapus. Sampe sekarang gue enggak pernah upload foto-foto alay lagi.

6.   Update Status Gak Penting
Hal alay yang yang pernah gue lakuin yang terakhir adalah gue pernah update status gaje dan gak penting. Entah apa maksud gue update status gaje kayak gini:


Iya, bahkan gue pernah update status gaje kayak gini: 

Bahkan, temen-temen FB merasa shock dan ngomel-ngomel gara-gara status gue merusak Timeline mereka.
Pasti dari kalian juga pernah update status gaje dan enggak penting juga kan. Ya alasan kenapa update status gaje biar keliatan eksis aja, menurut gue. Harap dimaklumi ya ke-Alay-an yang pernah ada.

Ya mungkin masih banyak ke-Alay-an yang perlu dibongkar. Tapi, berhubung skripsi gue belum kelar, gue cukupin dulu tulisan dari gue. Makasih udah mau  baca tulisan gue ini. sebenarnya enggak usah malu mengakuin kalo kita sempat Alay, toh Alay itu adalah proses menuju Dewasa. Doakan gue segera Semprop ya gaes…
Feed burner
Sudah masuk bulan April 2015. Duh Gusti paringono ekstasi, Saya baru sadar, kalau ternyata sudah hampir enam bulan alias setengah tahun blog ini tidak diurus. Tidak ada postingan baru di blog ini sejak bulan November tahun lalu. Sebagai blogger lurus, saya merasa sangat-sangat berdosa.

Tapi mau bagaimana lagi, saya memang sudah kadung cinta dengan blog saya yang satunya (agusmulyadi.web.id), jadi saya lebih konsen untuk posting di sana.

Sebenarnya sih ada banyak sekali agenda yang seharusnya bisa saya tulis sebagai pengisi postingan blog ini, namun karena kesibukan, reportase kegiatan tersebut akhirnya berlalu begitu saja tanpa pernah saya tuliskan.

Beberapa diantaranya adalah:

Jadi pembicara di acara Diskusi buku bertajuk "Menulis di Era Digital" bersama Ainun Nufus tanggal 6 Januari di Togamas Affandi



Jadi Pembicara di acara CS Summit 2015 di Hotel East Parc Jogja tanggal 7 Maret 2015.



Jadi bintang Tamu di acara The Comment Net dan juga acara Ensiklotivi TV One bersama Agan Harahap



Kopdar dan Makan Siang Dengan Menteri Kominfo Pak Rudiantara bersama para pegiat dunia IT Jogja tanggal 21 Maret 2015



Pembukaan dan peresmian Angkringan Mojok



Dan masih banyak lagi agenda-agenda lain yang seharusnya bisa saya jadikan sebagai postingan.

Tapi tak apa, setidaknya, setelah postingan ini, saya akan mencoba untuk lebih aktif lagi posting di blog yang dulu sempat emnajdi blog kebanggan saya ini.

Yah, doakan saja.
Salah satu kegembiraan saya karena bisa berkenalan dengan youtube adalah, Saya banyak menemukan grup-grup dangdut koplo akustik amatir yang menurut saya tak kalah menghibur ketimbang grup orkes dangdut koplo "mayor" yang sudah punya jam terbang tinggi dan sudah manggung di berbagai daerah.

Saya selalu tertarik untuk menonton video dangdut dari berbagai orkes dangdut. Namun sayang, birahi saya sering tak terkontrol kalau melihat dangdut koplo dengan biduan berbusana seronok serta dengan goyangan yang seringkali lebih "ngguyer" ketimbang putaran piston Jupiter MX.

Kalau sudah begitu, orkes koplo akustik amatir (atau istilah kerennya Orkes Koplo Unplugged) seringkali menjadi opsi yang aplikatif, karena biasanya mereka murni hanya menampilkan skill bermusik, bukan goyangan. Hati gembira, birahi juga tak meronta.

Beberapa minggu yang lalu, di youtube, saya beruntung karena menemukan Elsanada, sebuah grup orkes dangdut akustik amatir yang beranggotakan para pekerja perantauan Jawa di Malaysia.

Saya melihat, ndangdutan bagi Elsanada adalah salah satu cara yang paling elegan untuk melampiaskan kerinduan pada kampung halaman. Ketika mendengarkan ndangdut mereka, rasanya kok ya, menyenangkan, sekaligus trenyuh. Seakan-akan saya ikut merasakan langsung bagaimana menjalani kehidupan di rantau sana.

Ada jiwa dalam musik dangdut koplo yang mereka bawakan. Bukan sekadar musik pesanan penonton yang cukup dibayar dengan imbalan uang. Namun lebih dari itu, Musik mereka membawa pesan kerinduan yang dalam kepada handai taulan di kampung halaman. Begitulah dangdut, selalu multitafsir.

Saya bahagia, karena sudah menjadi salah satu pendengar mereka.

Nah, barusan, saya kembali menemukan orkes dangdut koplo amatir lain yang juga mempunyai daya tarik entertain yang luar biasa. Namanya New DIK (Dolopo Interpres Koplokustik), grup orkes ini berasal dari Madiun.

Saya akui, Orkes koplo ini sangat menghibur, karena dalam membawakan lagu-lagunya, selalu diawali dengan prolog tentang curhatan tentang lagu yang akan dinyanyikan. Prolog tersebut dibawakan dengan gaya dagelan, sehingga seringkali membuat saya terpaksa terkocok perutnya.

Saya tak tahu apakah sampeyan akan sependapat dengan saya. Namun saya kira, dalam urusan musik, selera memang tidak bisa dipaksakan.

Sengaja saya share video New DIK di bawah ini untuk anda, karena saya merasa, dangdut koplo New DIK ini terlalu indah untuk saya nikmati sendiri.

Salam Koplo, salam Gegana (Gelisah Galau Merana), Ngibing buooooos #SayNoToSenggolBacok

Ini postingan yang mungkin akan membuat bergidik bagi sebagian pembaca. Soalnya, akan ada beberapa gambar mengerikan (disturbing picture) yang kemungkinan akan membuat pembaca tidak betah, jadi sebaiknya, untuk para wanita yang punya hati lembut dan mudah rapuh serta tidak tegaan, saya sarankan sampeyan untuk tidak meneruskan membaca artikel ini lebih lanjut (lebih baik membaca hati saya saja).

Jadi begini, saya mau cerita...

Sudah beberapa hari terakhir ini, rumah saya sering didatangi oleh seekor kucing bercorak kembang telon yang cukup manis manja group (Oh ya, sebagai informasi, saya ini adalah seorang pecinta kucing, sebelumnya, saya pernah menuliskan kisah saya dengan kucing-kucing yang pernah saya pelihara, silahkan cari sendiri di bagian daftar isi), tapi sayang, kucing manis ini berkurang manisnya karena ada luka yang cukup mengerikan pada wajahnya.



Separuh wajahnya koyak dan berlubang dengan kedalaman sekitar satu sentimeter, bagian pipi dan mata sebelah kanan sudah tidak nampak lagi. Terlihat sangat mengerikan.

Si kucing malang ini sudah beberapa malam numpang tidur di kursi di beranda rumah saya. Biasanya sekitar jam 11 malam sudah ndekem manis, lalu pagi harinya sudah hilang entah kemana. Sungguh kucing yang tahu diri, ia mau menginap hanya pas malam hari saja, mungkin ia sadar, ia akan membuat banyak orang histeris kalau menampakkan diri di siang hari bolong.

kalau boleh jujur, Saya sebenarnya sudah pernah beberapa kali melihat kucing dengan luka yang mengerikan, tapi saya rasa, belum pernah saya lihat yang semengerikan ini.



Oh ya, ngomong-ngomong soal luka mengerikan pada si kucing manis ini, iseng-iseng, saya mencoba membuat analisis sederhana tentang penyebab terjadinya luka si kucing tadi. Dan setelah melalui proses penyelidikan sederhana, akhirnya, muncullah tiga kemungkinan penyebab luka pada si kucing manis nan malang ini.

Apa sajakah?

Pertama, karena perkelahian yang begitu hebat dan spartan dengan sesama kucing. Kita semua tahu, bahwa dalam sebuah ekosistem sosial, bukan hanya manusia saja yang perlu berkelahi demi sebuah eksistensi, terkadang kucing pun demikian. Entah karena perkara harga diri, berebut daerah teritorial, atau bisa jadi karena berebut betina (biasanya ini kucing yang rapuh hatinya). Ah, tapi ini urusan politis dan internal antar dunia kucing, jadi saya tak berani berspekulasi terlalu jauh.

Kedua, karena digebug dengan sangat keras oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab. Ini kemungkinan yang cukup besar koefisiennya. Karena selama ini, di lingkungan tempat saya tinggal, cukup banyak warga yang tak suka dengan kucing, maklum, namanya juga kucing, kalau lapar, sering kali nekat jadi begal pindang atau ayam goreng. Ini sudah jadi keniscayaan, karena menurut saya, tak ada kucing yang seratus persen baik hati dan tidak suka mencuri, kalaupun ada, itu hanya Doraemon.

Ketiga, karena luka bawaan. Kemungkinan ketiga ini sengaja saya masukkan list setelah saya mendengar informasi dari bulik saya, yang mengaku pernah tahu kalau kucing ini dulunya punya luka kecil menganga di bagian dekat mata kanannya. Entah karena infeksi atau sebab tertentu, bisa jadi luka yang sudah sedemikian mengerikan seperti sekarang ini adalah hasil pemekaran luka lama yang dulu hanya seuprit. Bisa saja tho?

Nah, itulah beberapa kemungkinan penyebab terjadinya luka pada wajah si kucing malang tadi.

Eh, tapi percuma juga ding saya bahas penyebabnya, toh, apapun penyebabnya, saya tetap saja tak mampu mengobatinya. Lha kalau luka lecet, mungkin masih bisa saya tangani, lha kalau luka ngeri seperti itu? saya juga bingung sendiri je. Angkaat tangan saya.

Sebenarnya, Saya sih pengin sekali memungut dan merawatnya, tapi rasanya tak mungkin. Keluarga saya sudah tak mengizinkan saya untuk menambah kucing peliharaan lagi, terlebih lagi kondisi kucing pendatang yang satu ini sangat-sangat mengerikan, yang sudah barang tentu akan semakin menambah kadar larangan bagi saya untuk memungutnya.

Pada akhirnya, saya hanya bisa menyediakan tempat di teras rumah sambil sesekali menyediakan makanan untuk si kucing. Tak lupa juga saya berdoa dan berharap, semoga si kucing senantiasa diberikan kesehatan, dan disembuhkan lukanya oleh Sang Maha Pemberi Kesembuhan (tolong diaminkan, pembaca)

Oh ya, Dipersilahkan kepada para spammer yang ingin mengambil foto kucing di blog ini untuk diposting di facebook dengan caption foto: "Mohon katakanlah 'Amin' bagi yang melihat gambar ini, untuk mendoakan kesembuhan bagi kucing malang ini"

Masjid Agung Al Aqsho Klaten


Bagi para penikmat kopi kiranya inovasi anyar besutan Caffex berupa Bubuk kafein dengan nama CafeinAll bakal jadi suplemen baru tanpa harus menyeduh secangkir kopi dipagi, siang ataupun petang hari.

© Image by. foodbeast.com

Portable dan higienis saya menyebutnya. Buat yang telah nyandu dengan kopi, CafeinAll bisa dipadukan dengan makanan lainnya lantaran bubuk kafein ini tanpa bau dan rasa. Karena itulah taburan kafein ini dilangsir beritagar tidak akan merusak rasa makanan atau minuman.

Sedangkan menurut Foodbeast, kafein bubuk yang diyakini bisa memberi efek segar dan berenergi ini bukanlah yang pertama ada di pasaran AS dan Eropa. Namun pemakaiannya tak boleh lebih dari 300 mg atau 9 kali taburan per hari dan tetap terlarang untuk ibu hamil serta orang yang memiliki gangguan jantung. Hingga tulisan ini diturunkan, Caffex yang juga memproduksi kopi dan coklat mengaku kehabisan stok CafeinAll.

_____

Ngisor wit rambutan | 3 April 2014 | 13 Jumadil Akhir 1436 H | #22




GORICKE FAHRRAD







Der Panzer Kuasai Belanda
Tak hanya sepeda-sepeda asal Inggris yang meramaikan pasar sepeda di Belanda zaman dahulu. Sepada dari Jerman (Der Panzer) pun turut ambil bagian meramaikannya. Menurut literatur yang saya dapat ternyata sekitar tahun 1890-an hingga awal 1900-an, Belanda merupakan pasar bagus bagi sepeda-sepeda buatan bangsa Eropa seperti Jerman, Prancis, bahkan Amerika Serikat. Sampai-sampai ada orang Belanda yang bilang “Merupakan hal yang bagus bila sebagian besar sepeda yang dijual di negeri Belanda berasal dari negara lain. Sebagaimana halnya sepeda Belanda yang dilempar jauh kepasaran Hindia Timur (maksudnya Hindia Belanda atau Nederland Indie). Dimana para kolektor sepeda Fongers di Indonesia sangatlah bangga bila menaiki sepeda asal Belanda itu”.
Hal ini memang bukan tanpa alasan, lebih seratus tahun lalu, pasar sepeda di Belanda banyak dikuasai sepeda bangsa asing, sebut saja Jerman salah satunya. Ada beberapa merek sepeda Jerman yang beredar di Belanda. Seperti sepeda Goricke (Goricke Rijwielen), yang memproduksi sepeda sejak 1895. Di tahun 1899, pabrikan Goricke memunculkan sepeda berteknologi gardan, yaitu sepeda tanpa menggunakan rantai. Agen sepeda Goricke di Belanda dijalankan oleh Jansen & Heckers. Selain memproduksi sepeda, Goricke pun membuat sepeda motor yang dirilis pada tahun 1905, bahkan sepeda motor Goricke ini tercatat sebagai motor tercepat di dunia di zamannya. Tak sampai disitu, Goricke pun membuat mobil roda tiga. Selain Goricke, sepeda Jerman lainnya adalah merek Concordia (Concordia Rijwielen), yang diageni oleh Klisser & Citroen. Sepeda ini masuk Belanda sekitar tahun 1902. Selain sepeda, produsen ini pun membuat mesin jahit.


Pabrik sepeda Agustus Göricke, didirikan pada Desember 1874, adalah salah satu produsen sepeda di Jerman. 1899-sebagai akibat eksperimentalnya dalam mesin penggerak roda, Göricke berkeinginan untuk mengembangkan suatu sarana transportasi yang lebih praktis dan lebih cepat, dan merubah namanya menjadi Bielefelder Maschinen- und Fahrradwerke AG, August Göricke. Serangkaian terobosan-terobosan dicapainya dengan ditandai produksi sepeda motor pada tahun 1903. Tahun 1921, Bielefelder Maschinen- und Fahrradwerke AG, August Göricke kembali merubah namanya menjadi Werke AG-Göricke. Setelah mengalami pasang surut dan berpindah kepemilikan, dari mulai kepemilikan Konsursium Jerman-Belanda NVTE (Naamloze Vennootschap tot Exploitatie Der Göricke Fabrieken), berganti nama menjadi Göricke-Fahrrad-und Maschinenfabrik, Nippel & Co. (Göricke-Werke Nippel & Co) setelah penggabungan dengan pabrik Erich Nipple & Co pada Oktober 1941, sampai pada akhirnya 1964 di beli oleh Werke AG Panther. (barangantiklawas.blogspot.com)


 

 














MBLUSUK-MBLUSUK MEN!! Destination Unlocked!! Solo!!

Day 2.
Hari terakhir di Solo ini saya dan teman saya bangun sekitar pukul 06.00 pagi. Kabut tipis dan basah sisa hujan semalam membuat enggan rasanya untuk beranjak dari kasur. Menikmati udara dan embun pagi kota Solo, It's a good start to begin the day. Solo, We're ready to rock the day!!

Mblusukmen goes to Solo

The Last Day
Selama interval jeda waktu antara bangun tidur dan siap-siap checkout, saya dan teman saya mencoba mengexplore homestay sembari ngobrol-ngobrol santai menikmati suasana. Yang cukup mengherankan ketika tempat kami menginap ini yang lokasinya berada tepat dipusat kota bisa bebas polusi suara. 

Bapak-bapak pegawai homestay yang sedang menyapu halaman homestay

Ngobrol santai menikmati pagi

Setelah kami siap-siap sekitar pukul 09.00, kami berdua siap-siap checkout dari homestay untuk selanjutnya bertemu teman-teman Blusukan Solo di depan ticketing Kori Kamandungan Keraton Kasuanan. Kami dipandu oleh dua orang kawan panitia Blusukan Solo untuk menuju temapt tersebut.

Ready to explore!

Dalam perjalanan ke Kori Kamandungan saya harus nyari bensin dulu karena indikator bensin motor udah ketip-ketip. Mampirlah kami ke penjual bensisn eceran didekat pasar Klewer yang baru saja terbakar. Ternyata eh ternyata, penjualnya adalah seorang anak kecil. Mungkin sekitar kelas 3 SD. Tetep semangat ya dik!! Insyallah berkah.

 Bersama adik penjual bensin eceran

Destination Unlocked!!
Destinasi I, Kori Kamandungan. 
Sampai dibangunan iconic keraton kasuanan ini komplit sudah dan sah sudah saya ada di Solo. Bila kita serach di mbah Google dengan key word Solo, bangunan ini pasti akan muncul. Kori Kamandungan merupakan tempat dimana dulunya para tamu Kasuanan sebelum bertemu raja berhenti sejenak. Di Kori ini juga terdapat 2 cermin besar dikanan dan kiri dinding yang berfungsi untuk melihat apakah ia sudah rapi belum. Selain itu juga banyak juga makna filosofis mengenai keberadaan 2 cermin ini adalh sebagai tempat berintrospeksi diri.

Kori Kamandungan dengan latar belakang Menara Sangga Buwana

Sebelum memulai blusukan pagi ini, teman-teman dari Blusukan Solo memberi kami sarapan berupa Lonjongan. Lonjongan adalah sejenis jajanan pasar yang berisi beraneka ragam camilan manis seperti gathot, tiwul, ketan merah dan putih, jenang gethuk dan lain-lain. 

Lenjongan Solo yang berisi camilan manis dengan parutan kelapa sebagai topping-nya

Briefing sebelum blusukan 

Setelah selesai sarapan, kami langsung diajah menjelajah kampung yang ada didalam kompleks Keraton Kasunanan. Kami dibawa menyusuri jalan-jalan sempit ditengah kampung keraton ini. 


Memasuki kampung keraton Kasunanan

Terlihat dikejauhan Menara Sangga Buwana Keraton Kasunana Surakarta

Destinasi II, nDlaem Mlayakusuman. 
Tempat ini dulunya adalah tempat tinggal milik kerabat keraton yang kemudian dihuni oleh salah satu teman Blusukan Solo yang berasal dari mancanegara. Beliau bernama Miss Eva. WNA asal Wina, Austria yang sudah  sangat jatuh cinta dengan Solo dan memilih untuk menghabiskan hidupnya di Solo selama 25 tahun. Sampai akhir hayatnya beliau meninggal di nDalem ini. Menurut mas Fendy, karena beliau adalah warga negara asing yang tidak mempunyai visa bekerja, maka selama tinggal di Solo, beliau tidak bekerja dan warga sekitar nDalem Mlayakusuman lah yang memberikan makanan kepada Miss Eva. Tambahan, Beliau sangat mahir berbahasa Jawa halus dan malahan lebih bagus dari orang asli Solo sendiri.

nDalem Mloyokusuman. Sayang kami ndak bisa masuk kedalam nDalem ini.

Destinasi III, Makam Ki Gede Sala. 
Ditengah perumahan padat penduduk di kampung Keraton, terdapatlah sebuah makam orang yang yang sangat penting pada masa awal Keraton Kasunanan berdiri. Beliaulah pemilik tanah yang kita kenal sebagai Solo. Nama Solo sendiri sebenarnya berasal dari nama beliau. Konon dulunya tanah yang kita sebut Solo sekarang ini adalah rawa-rawa dipinggir Bengawan Solo yang dimiliki oleh Ki Gede Sala. Saat Keraton Kertasura hancur saat geger pecinan, Sunan Pakubuwono II meminta para abdinya untuk mencari lokasi Keraton yang baru. Setelah mencari kebebrapa lokasi, munculah 3 opsi pilihan lokasi yang akan digunakkan sebagai Keraton yang baru. Dan pada akhirnya pilihan jatuh ke Desa Sala yang kita kenal sebagai Kota Solo sekarang.  

Patok Lokasi makam Ki Gede Sala

 
Didalam kompleks makam terdapat dua makam lain disamping makam Ki Gede Sala. Ada makam Kyai Carang dan Nyai Sumedang. 

 
Penjelasan oleh Juru Kunci Makam mengenai siapa Ki Gede Sala dan 2 makam lain disekitarnya. Menurut penuturan juru kunci, 2 makam lain ini merupakan teman seperguruan Ki Gede Sala.

 
Nisan Ki Gede Sala yang berprasasti aksara jawa.

Sedikit tambahan, setiap peringatan dari hari jadi Kota Solo, semua jajaran pemkot Solo selalu berkunjung ke kompleks pemakaman ini. Begitu pula dalam ajang kontes pemilihan Dimas dan Diajeng Solo selalu sowan ke kompleks pemakaman ini. Jangan heran kalau politikus Solo yang nyaleg juga sering ngalap berkah ditempat ini. 

Destinasi IV. Museum dan Keraton Kasunanan Surakarta.
Setelah mengunjungi kompleks pemakaman Ki Gede Sala, kami bersama rombongan kawan-kawan Blusukan Sala menuju ke Museum Keraton Kasunanan Surakarta. 

  
Pemandangan menuju Keraton Kasunanan yang melewati tengah kampung di dalam Benteng Baluwarti.Dikejauhan nampak menara Sangga Buwana Keraton.  

 
 Tak lupa, dalam perjalana menuju ke Keraton, saya melihat batu yang diduga sih komponen candi.  

 
Pintu masuk menuju ticketing Keraton

 
Peserta mulai memasuki kompleks Keraton.

  
Ini yang menurut saya unik. Becak-becak di Solo mempunyai bentuk yang berbeda dari bisa saya temui baik di Magelang ataupun di Jogja. Bentuk becak yang berslebor trepes dan pinggiran yang mblenduk membentuk huruf 'B'. 

 Memasuki kompleks Keraton, kami langsung disambut oleh pemandu dari Keraton. Setelah sedikit perkenalan, kami langsung dipandu memasuki ruangan-ruangan didalam museumKeraton Kasunanan. Banyak sekali koleksi yang dipamerkan dalam museum. Mulai dari perlatan memasak dapur keraton, koleksi pusaka keraton, kereta keraton, arca-arca era jawa klasik, pakaian keraton dan lain sebagainya. Kalau mau komplit main kesini yak..

 
Perkenalan oleh pemandu dari Keraton.

 
Penjelasan oleh pemandu Keraton didalam salah satu ruangan Museum.

 
Ruangan lain dalam Museum.  

  
Kereta yang digunakan untuk mengantarkan Jenazah Raja. Sayang kurang terawat dan hanya diletakkan diluar ruangan.

Setelah selesai tour dalam museum, kami diantar menuju ke dalam kompleks Pendapa Agung Keraton Kasunanaan. Ada aturan khusus jika kita ingin memasuki area ini. Jika teman-teman memakai sandal (baik jepit/sepatu sandal) diminta untuk dilepas dan nyeker. Sedang bagi teman-teman yang memakai sepatu tidak diminta untuk melepas. Kenapa? Konon karena sejak kolonial dulu, Orang Belanda (VOC) yang notabene selalu memakai sepatu tidak pernah diminta melepaskan sepatunya ketika memasuki keraton. Hal itu masih berlangsung hingga sekarang. Siapa saja yang memakai sepatu di Keraton, bila bersepatu tidak diminta untuk melepasnya.  

 
Yey! Masuk ke area pelataran Pendapa Agung.

 
Penjelasan oleh bapak pemandu mengenai seluk beluk pendapa Agung. Dalam area pelataran ini terdapat 77 tumbuhan sawo kecik. 7 (pitu) dalam bahasa jawa bermakna pitulungan (pertolongan). 

 
Penampakan pendapa Agung Keraton Kasuananan.
Penjelasan berikutnya mengenai adanya patung-patung gaya Yunani di sekitar pendapa. Konon patung-patung ini adalah pemberian dari kerajaan di Eropa. Keraton sendiri dulu sangat dekat dengan rezim Napoleon Bonaparte.

 
Detail beberapa patung-patung dewi Yunani yang sangat cantik. 

 
Sajen dan Dupa yang ada di pelataran Pendapa Agung. Sajen adalah akronim dari Syahadat kang sejati (Syahadat yang sejati) dan Dupa adalah akronim dari Dudu apa-apa (Buka apa-apa). Kedua benda simbolis ini tidak bisa lepas dari kultur orang jawa.

 
 Menara Sangga Buwana. Menara diamana para raja Surakarta bersemedi dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Menara ini juga dipercaya tempat diamana para raja  menerima wisik dan berkomunikasi dengan penguasa laut selatan.
Setelah puas menikmati indahnya Keraton, kami beranjak menuju lokasi Destinasi terakhir.
 
 
Perjalanan menuju lokasi destinasi terakhir.

 
 Dalam perjalanan ini saya diberitahu lokasi dimana letaknya insiden konflik perebutan tahta keraton Solo pernah terjadi tahun 2012an lalu. Peristiwa penabrakan pintu salah satu nDalem dengan sebuah mobil sampai-sampai pintunya jebol dan diganti. Ini dia lokasinya.

Destinasi V. nDalem Pangeran.
Dulunya nDalem Pangeran adalah tempat tinggal para pangeran Keraton Kasuananan. Sebenarnya terdapat beberapa lokasi nDalem pangeran dalam kompleks Keraton, namun beberapa di antaranya ada yang sudah 'Moksa' (hilang tak berbekas), menuju hancur, dan lain sebagainya. nDalem pangeran yang satu ini bisa dikatakan yang masih realtif baik diantara yang lainnya itu. 

  
Foto bersama teman-teman Blusukan Solodi nDalem Pangeran.
 
nDalem ini sudah tidak digunkan lagi oleh keraton untuk hunian para pangeran keraton. Sebenarnya nDalem ini sudah bukan milik keraton Kasunanan. hak guna bangunan sudah milik keluarga Cendana. Pada tahun 90an, nDalem ini sudah dibeli oleh pak Harto.Mitos beredar apabila ada orang yang membeli rumah di kompleks keraton, maka si pembeli akan mengalami musibah. Dan, ketika do 'otak-atik gatuk kan' mitos ini terbukti. Semenjak pembelian nDalem ini, beberapa kejadiaan buruk terjadi mulai sepeninggalnya Bu Tien sampai lengser keprabonnya Pak Harto. yaa,, but who knows? Wallohualam Bissawab.. 

nDalem Pangeran sendiri sekarang lebih berfungsi sebagai temapt latihan karawitan dan kesenian warga sekitar. Karena tidak sebagai fungsi rumah tinggal, nDalem pangeran dibeberapa bagian terlihat rusak dan kurang begitu terawat. sayang sekali.

 
Saka (tiang) pendapa depan nDalem pangeran.

  
Aktivitas latihan karawitan yang dilakukan oleh anak sekolah.
 
  
Teman saya yang sempat berkolaborasi latihan dengan adik-adik pengrawit cilik.

  
Aneh bin ajaib. Didalam nDalem ini saya menemukan batu candi. Ada potonga arca kepala Budha dan Stupa. Kalo arca kepala Budha nya saya blum yakin ini lama atau baru, tapi untuk stupa nya inyallah lawas. Entah darimana barang ini.

  
Penampakan bagian belakang pendapa nDalem pangeran yang bersebalah langsung dengan pasar Klewer. Beberapa kerusakan bisa dilihat disini.

  
Dibagian belakang ini dulunya para pangeran sering berlatih memanah (jemparingan) ala jawa. Tapi sekarang sudah menjadi semak belukar.

 
Beberapa ubin (tegel kunci) yang ada di nDalem Pangeran.

 
Ubin disamping nDalem Pangeran temapt penjaga nDalem.

 
Potongan ubin yang tinggal satu.

 
Human Interest. Aktivitas warga sekitar didalam nDalem Pangeran. Momong Putu 

 
Sehat-sehat mbah.

nDalem Pangeran merupakan destinasi akhir dari rangkaian peringatan HUT ke-3 Blusukan Solo. Acara di nDalem Pangeran ini kira-kira berakhir sekitar pukul 12.30. Setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih pada teman-teman Blusukan Solo, kami berpamitan pulang. Sebenarnya masih ada beberapa tempat yang ingin saya kunjungi, namun keterbatasan waktu yang membuat kami harus pulang kembali ke Magelang. Suatu saat saya pasti kembali. I'll be back!!

EPILOG.
Rugi rasanya kalau main ke Solo tidak mampir ke Museum Radya Pustaka. Maka setelah kami berpamitan, denga sedikit waktgu yang tersisa saya dan konco mblusuk saya ini menyempatkan diri ke Museum Radya Pustaka. Kami tiba pukul 13.30, 30 menit sebelum museum tutup. Tanpa ba bi bu, kami langsung bergegas beli tiket dan masuk melihat koleksi Museum.

 
 Koleksi asli dari kepala kapal keraton Kasunanan Surakarat yang dulu digunakan untuk menyusuri Bengawan Solo.

 
Set Gamelan Keraton Surakarta.

 
Lingga berprasasti. Epic!! 

 
Arca perunggu 
 
  
Arca mungil Siwa yang tidur. 

 
Vajra alat ritual para pandita agama Hindu. Vajra merupakan senjata dewa Indra yang berupa petir. Vajra juga merupaka simbolisme dari maskulinitas sedang genta adalah simbolisme feminitas.
 
  
Arca Siwa yang sedang mengendarai Nandhi.

 
Wayang Beber. wayang yang digambar pada lembaran-lembaran kain / ketas yang berisi fragmen kisah dalam cerita pewayangan. 

 
Potongan relief Kartikya yangsedang mengendarai burung merak. 

DESTINATION MAHA UNLOCKED!!
Dan ini lah yang paling ULTIMATE bagi teman-teman yang asli Magelang. Satu kata, MENGHARUKAN. Bersama saya adalah Lempengan Asli Prasasti Mantyasih yang dipahat diatas tembaga. Jika teman seklian ngaku orang Magelang dan cinta Magelang, adalah hukumnya wajib untuk datang dan berfoto dengan Prasasti Mantyasih. Tidak syah ke Magelangan sampean jika tidak melihat langsung prasasti Mantyasih. Anggaplah sebagai 'pentasbihan' atau 'pembaptisan' jika sampean sudah jadi orang Magelang yang Kaffah dengan berfoto dengan Prasasti Mantyasih. hahahahah.. Salam Mblusuk Men!!


Special Thanks to:
1. Teman-teman KTM yang sudah memberi saya kesempatan untuk mewakili komunitas dalam acara HUT ke-3 Blusukan Solo. Terima kasih support baik moral dan material kepada saya dan teman saya. (tidak termasuk soal #savegustamblusukmen dan iming2 foto Djeladjah Candi) wkwkwkwkwkwk..
2. Teman-teman Bluskan Solo atas sambutan, pelayanan dan keramah-tamahannya selama HUT. Saya pribadi mewakili komunitas sangat-sangat berterima kasih atas undangan yang diberikan dan kebaikan teman-teman Blusukan Solo. Maaf jikalau ada hal yang kurang berkenan selama acara HUT. Kami tunggu Blusukannnya ke Magelang.
3. Tidak lupa terima kasihnya untuk teman saya yang tidak mau disebutkan identitasnya yang sudah mau menemani saya blusukan di Solo. Hahahaha

Kontributor Foto:
1. Pribadi
2. Doc. Blusukan Solo
3. Temen saya

SALAM MBLUSUKMEN!! :v