Padepokan Pendekar Tidar

Beberapa video ini adalah hasil penelitian pemanfaatan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak.



Sepeda kayuh memang merupakan salah satu sarana angkutan periode awal sebelum hadirnya mesin. Dengan mengandalkan tenaga kayuhan kaki dari pengendaranya menjadikan kendaraan ini super irit dan sangat ramah lingkungan. Mungkin karena kayuhan kaki alias sikil (dalam bahasa Jawa) ini yang menjadikan orang barat menyebut sepeda dengan ungkapan bai-sikil, bycicle. Tentu saja hal terakhir ini hanya sebuah pikiran lucu-lucuan semata dan jangan dimasukkan ke dalam hati, terlebih ke dalam otak.

Sebagai sebuah negeri jajahan yang selama ratusan tahun menjadi takhlukan negara penjajah, sepeda hadir di Nusantara tentu saja diperkenalkan oleh kaum penjajah Belanda. Pada awalnya sepeda masih menjadi sebuah kemewahan hanya hanya bisa dimiliki oleh para tuan menir dan noni-noni Belande. Orang pribumi masih benar-benar by sikil alias kemana-mana jalan kaki, atau paling mewah ya naik kuda atau delman.

Seiring dengan perkembangan sejarah, beberapa kalangan pribumi terutama kalangan ningrat dan orang berada juga mampu memiliki sepeda. Para amtenar atau pegawai pamong Belanda banyak yang bersepeda lengkap dengan baju beskap putih serta topi bundarnya. Demikian halnya para kaum terpelajar juga mengandalkan sepeda untuk pulang pergi ke sekolahnya.

Pasca Indonesia merdeka, sepeda masih menjadi sarana transportasi yang penting bagi masyarakat. Sepeda banyak dipergunakan untuk pulang-pergi kerja, berangkat ke sekolah atau kampus, bahkan ada juga ojek sepeda seperti yang kini tersisa di kawasan Kota Tua Jakarta.

Setelah masyarakat berkenalan dengan sepeda bermesin atau sepeda motor, sepeda menjadi sedikit banyak tergusur ke arah pinggiran. Bahkan untuk sepeda jenis sepeda onthel hanya tersisa menjadi sarana transportasi masyarakat kawasan pedesaan. Dengan dilengkapi bagasi atau boncengan di sisi belakang pengemudi, sepeda banyak dipergunakan sebagai sarana angkut barang. Para petani tidak jarang mengangkut gabah, beras, kelapa, hingga rumput untuk makan ternak juga menggunakan sepeda.

Di samping boncengan di sisi belakang, dulu banyak sepeda yang dilengkapi bagasi khusus dudukan bocah di depan pengemudi sepeda. Boncengan yang kecil mungil tersebut hanya dikhususkan untuk mengangkut bocah balita karena ukurannya memang mungil. Bocengan berupa dudukan yang terbuat dari bahan plastik tersebut dilengkapi dengan kerangka dari besi lunak yang terdiri atas tiga bagian, yaitu dudukan, pegangan, serta pedal injakan kaki anak. Di sisi tengah antara pegangan dan pedal indajakan terdapat cantolan untuk mengkaitkan boncengan tersebut ke sisi kanan dan kiri setang sepeda. Jadilah para bocah di jaman dahulu menikmati kemewahan berkendara dengan duduk di boncengan klasik tersebut.

Nah dewasa ini seiring dengan kampanye ramah lingkungan dan pola kehidupan sehat, masyarakat kembali melirik menggunakan sepeda. Bersepeda bangkit kembali sebagai salah satu gaya hidup menikmati kesantaian sekaligus sebagai sarana olah raga. Bahkan ada kalangan tertentu yang menjadikan sepeda sekaligus sebagai sarana transportasi untuk mencapai tempat kerja. Jadilah jargon bike to work yang terkenal itu, menjadi slogan bagi para anggota komuitas pesepeda untuk kerja tersebut.


Filed under: Jagad Nusantara Tagged: sepeda onthel
Bulan april bakal segera berlalu dan selama sebulan ini aku belum nulis apa-apa di blog ini. Aku nggak mau nyebutin alasannya kenapa, karena yang nanya alasan tetap saja alasan. Oke, mm mau nulis apa ya? Oya, aku mau sedikit cerita nih, beberapa waktu yang lalu Mbak Asma Nadia datang ke  Magelang loh. Kerumahmu, Koh? Bukanlah. Dia datang demi mengisi acara talkshow "Pengin Pintar dan Kreatif? Ayo

Hari berganti hari, bulan berganti dengan bulan, mantan berganti dengan gebetan, Ya itulah kehidupan. Setelah menunggu berbulan-bulan, akhirnya tepat tanggal 23 kemarin, gue semprop. Iya, beneran, gue kemarin baru semprop, padahal teman-teman gue udah selesai penelitian, bahkan ada yang udah wisuda, taik banget kan.

Tapi, gue merasa seneng banget karena udah semprop. Meskipun semprop cuman formalitas aja, dan enggak mempengaruhi nilai, tapi syarat utama penelitian skripsi, gue kudu semprop dulu. FYI, bagi yang belum tau apa itu semprop, gue kasih tau dulu. Semprop itu kepanjangan dari seminar proposal. Setelah selesai menyusun bab 1-3, mahasiswa diberi mandat untuk mempresentasikan rencana penelitian yang akan dilakukan. Dalam hal ini, rencana penelitian yang kita bikin akan dikomentarin temen maupun dosen. Selain itu, para audien juga bakal memberikan pendapat, masukan untuk penelitian kita sehingga penelitian yang akan kita buat bakal lebih kecee.


Balik lagi ke semprop, jadi setelah kemarin dikejar-kejar dosen,  guepun diperbolehkan semprop. Biasanya, mahasiswa yang mengejar-ngejar dosen, tapi gue malah yang dikerjar-kejar dosen. Gue mah orangnya gitu, eaa.

“Mas wisnu… udah sampe mana?”
“Mas Wisnu…. Kapan semprop? Segera ya…”
“…”
Ya seperti itulah kata-kata dari dosen pembimbing yang selalu dilontarkan ke gue.  Dosen pembimbing gue emang beda dari yang lain, petjah abis pokoknya.
Setelah mendapat restu untuk sempop, guepun kudu menyiapkan hal-hal yang berhubungan sama semprop. Iyaa, kayak makalah untuk kedua pembimbing, power point buat peserta, dan yang paling penting “Konsumsi”. Baik untuk temen-teman maupun bapak ibu dosen pembimbing.

Pada H-1, gue pergi ke swalayan di Solo. Karena gue jomblo, gue pergi sendirian. Mau ngajakin temen, masih pada sibuk. Mau minta bantuan sama temen juga enggak enak. Ya udahlah, enggak ada salahnya pergi sendirian, lagian kalo pergi sendirian malah cepet kelar.
***
Akhirnya tiba hari H. Pagi-pagi gue udah berangkat ke kampus setelah beli snak untuk dosen.  Semprop akan diadakan jam setengah pagi, tapi gue ngejarkom ke teman-teman jam 8.Biar enggak molor. Soalnya salah satu pembimbing gue ada acara jam setengah 10. Takutnya beliau bakal cabut ditengah seminar.
*gue yang pake baju putih

Satu persatu teman-teman gue berdatangan. Hingga waktu menunjukan pukul setengah 9. Jumlah peserta yang hadir baru 8, masih kurang 2 orang. Padahal pembimbing udah datang dan udah masuk ruangan. Seminar proposal akan segera dimulai kalo jumlah peserta yang hadir berjumlah minimal 10 orang, kampret banget kan. Gue kudu gimana? Udah jam segini, tapi masih kurang 2 anak. Padahal gue juga udah bawa anak kos, anak jurusan hukum yang gue culik buat ikut semprop anak FKIP.

Banyak temen-temen seangkatan yang enggak bisa dateng. Soalnya, temen-temen udah pada sibuk penelitian, ada yang jadi observer, dan ada juga yang lagi kuliah. Enggak lama kemudian, dua temen gue dateng. Gue cuman bisa mangap-mangap aja. Akhirnya semprop dimulai.

Alhamdulilah semprop lancar. Semua ini berkat bantuan dan semangat dari temen-temen, termasuk temen-temen KKN. Meskipun temen-temen KKN enggak bisa dateng, setidaknya mereka udah ngasih semangat dan motivasi. Ya meskipun KKN udah berakhir, udah jarang ketemu, tapi kita masih tetep komunikasi. Temen-temen KKN enggak ada yang ninggalin gue gitu aja meskipun KKN udah kelar. Enggak kayak mantan, udah nyakitin, ditinggal pergi, taik banget, bangke pokonya.
*motivasi dari anak-anak KKN


Ya meskipun lama, tapi akhirnya gue bisa semprop pada waktunya.  Selesai semprop, gue merasa seneng banget. serasa ada sedikit beban yang lepas. Semprop bukan akhir dari segalanya, tapi awal dari penelitian. Insyallah bulan Mei besuk, gue mulai penilitian skripsi. Semoga diberi kelancaran dan bisa lulus tahun ini, amin.
*Alhamdulilah maju satu langkah
Feed burner


Gusti Alloh itu menciptakan segala sesuatunya berpasang-pasangan. Ada siang ada malam, ada hitam ada putih ada pria ada wanita, ada jelek ada agus. Semuanya sudah diformat. Jadi, kalau ada kesedihan, mungkin karena itulah kopi diciptakan.

Jadi, ayo jerang air panasmu, tuang kopimu. Mari kita isi masa-masa reformasi ini dengan menyesap kopi bersama-sama. Percayalah, sepahit apapun kopimu, ia adalah kawan yang tak pernah berkhianat.

Njo, ngopi ndisik gaessss, ben ra gundah


Sudah dua hari terakhir ini air ledeng dari PAM di Banyurojo dan beberapa kelurahan lain di Mertoyudan mati total. Kabar yang beredar, hal ini disebabkan karena adanya kerusakan (lebih tepatnya kebocoran) saluran air di toren PAM karena hujan deras yang mengguyur Magelang dua hari yang lalu.

Kini, di kampung saya, air bersih benar-benar menjadi benda langka yang sangat berharga dan sangat sulit didapatkan. Sangat kontras dengan nama desa saya, Banyurojo (raja air).

Kelangkaan air ini kemudian memaksa banyak warga untuk bisa lebih beradaptasi dengan keadaan. Saya salah satunya.

Sebagai salah satu makhluk yang paling sering menghabiskan banyak waktu di kamar mandi, saya kini harus lebih hemat dan selektif dalam menggunakan air.

Sebisa mungkin, saya akan berusaha untuk tidak berak atau kencing di siang hari, karena susah sekali mendapatkan air untuk cebok. Kalau malam sih oke saja, karena masih bisa nunut berak atau kencing di kali di depan kompleks perumahan akademi militer di seberang kampung. Persetan dengan petugas jaga yang mungkin bakal menyorot pantat kenyal saya dengan lampu senter. Anggap saja itu cendera mata salam kenal dari saya. Bukankah pepatah mengatakan: Tak kenyal maka tak sayang?.

Kalaupun terpaksa harus buang hajat siang hari, ya mau bagaimana lagi. Saya harus berubah menjadi orang kulon yang cukup cebok dengan menggunakan tissu. Berat memang, tapi tetap harus dilakukan (yo meh piye meneh). Okeee, Menurut ajaran agama saya, cebok dengan tissu memang diperbolehkan, tapi bagi saya, tetap saja, rasanya belum marem kalau belum menggunakan air.

Urusan wudhu pun saya terpaksa harus mbukak yutub dulu, cari video tutorial bagaimana cara berwudhu dengan satu gelas air (1 mud). Dan alhamdulillah, sejauh ini, belum ada masalah.

Untuk urusan ngopi, kini saya tak bisa sembarangan ngopi-ngopi bareng kawan-kawan di kamar loteng saya. Maklum, air di galon harus saya manfaatkan dengan seefektif mungkin. Boleh ngopi, asal air bawa sendiri. Terkesan kejam dan tega, tapi mau bagaimana lagi. Bukankah "tanah air" memang sudah selayaknya diperjuangkan? hehehe.

Tapi dari seluruh problema air bersih ini, setidaknya ada satu berkah yang bisa saya dapat. Setidaknya, kini saya tak bakal berani coba-coba buka situs esek-esek. Tentu ada alasan lain selain alasan "takut dosa".

Please deh, di saat kondisi krisis air seperti ini, rasanya kurang etis kalau harus menghabiskan air bergayung-gayung hanya untuk mandi junub cuma karena khilaf memainkan jari-jari tangan.

Oh, ya, untuk kawan-kawan (terutama kawan-kawan perempuan), saya sarankan jangan mampir dulu ke rumah saya. soalnya, sudah dua hari ini saya ndak mandi.

Bukan apa-apa sih, saya cuma takut, kalian bakal jatuh cinta sama aroma tubuh saya. Cukuplah gigi saya saja yang menyihir kalian, aroma tubuh saya jangan.

Radya SurjanIndonesia sungguh sebuah negeri yang sangat kaya tradisi. Keberadaan ratusan suku bangsa dengan masing-masing adat istiadat, seni, dan budayanya inilah yang menjadikan negeri kita semarak warna-warni pelangi tradisi. Salah satu karya yang tidak bisa dilepaskan dari tradisi adalah pakaian adat.

Seiring dengan perkembangan jaman dan juga semakin memudarnya tradisi kedaerahan yang justru semakin tergantikan dengan tradisi nasional bahkan global, pemakaian pakaian adat menjadi sebuah pemandangan yang semakin langka. Pakaian adat saat ini hanya terbatas dipergunakan benar-benar pada suatu acara adat, terutama pada perhelatan suatu pernikahan. Itupun hanya terbatas dipergunakan oleh mempelai berdua dan barisan keluarga inti. Adapun para tamu lebih merasa nyaman dengan pakaian nasional, seperti hem atau jas berdasi, atau setidaknya pakaian batik.

Akan tetapi di beberapa hari belakangan ini, di berbagai sekolah-sekolah kita tidak heran jika mendapati para pelajar kita menggunakan pakaian adat di sekolah. Tentu saja tidak ada perhelatan pernikahan atau upacara adat yang dihelat di lingkungan sekolah. Kalau Anda lupa, baiknya saya ingatkan bahwa pekan ini adalah pekan Hari Ibu Kita Kartini. Sebagai sebuah tradisi yang diformalkan, Hari Kartini kemudian selalu identik dengan pakaian adat.

Meskipun memang hakikat pesan moral Hari Kartini tidak hanya soal anak-anak yang diajari untuk mencintai pakaian adat masing-masing suku yang ada di tanah air, tetapi anjuran pemakaian pakaian adat pada saat memperingati Hari Kartini adalah sebuah langkah postitif dalam rangka menanamkan, menumbuhkan, memupuk, serta memelihara rasa nasionalisme anak bangsa. Sedari dini anak-anak kita harus sudah dipahamkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa majemuk yang terdiri dari ratusan suku bangsa, maka keberagaman harus ditanamkan sejak di bangku sekolah. Dengan mengenal keberagaman justru kita berharap rasa persatuan diantara anak bangsa akan semakin menguat.

Di samping sekedar berpakaian adat, rangkaian acara Hari Kartini juga banyak diwarnai dengan aneka jenis perlombaan. Ada lomba peragaan busana adat, lomba memasak, lomba menggulung stagen, lomba melukis tokoh Kartini, paduan suara, olah raga, dlsb. Di samping menggali kembali akar tradisi, Hari Kartini juga menjadi ajang unjuk ketangkasan bakat anak-anak kita. Tentu saja hal tersebut merupakan hal yang positif. Bagaimana Kartinian di lingkungan sampeyan?

Ngisor Blimbing, 25 April 2015


Filed under: Jagad Budaya Tagged: Hari Kartini, Jepara, Kartini, pakaian adat

Water Torn atau menara air yang menjadi land mark Kota Magelang ini berada di sudut barat-utara aloon-aloon Kota Magelang. Menara yang mampu menampung 1,750 juta liter air ini mulai dibangun tahun 1916 oleh seorang arsitek kebangsaan Belanda bernama Herman Thomas Karsten pada masa pemerintahan Kolonial Belanda, dengan menghabiskan dana sebanyak 550 ribu gulden. Reservoir ini […]
Aneh tapi nyata, ada pohon pisang tumbuh di jalan raya, tepatnya di Bunderan Salaman arah ke Borobudur 4 April 2015.  Tidak hanya satu batang tetapi ada dua batang yang masih segar berdiri tegak. Sedangkan yang satunya berada di depan kantor Pegadaean Salaman.



Itu merupakan akal-akalan warga saja yang melihat adanya lobang besar di jalan raya. Karena kerusakan jalan yang parah tersebut maka demi keselamatan pengguna jalan maka warga menanam atau memberi tanda lobang jalan dengan pohon pisang sehingga warga tahu kalau ada lobang mengancam pengguna lajan.

Musim penghujan memang sangat berpotensi merusak jalan aspal karena arus air yang deras terus menggigis aspal jalan. Tak terkecuali daerah Salaman yang tercatan merupakan daerah yang memiliki curah hujan tinggi. Terlebih musim penghujan yang terasa lebih panjang ini.
Salah satu sekolah tua yang masih tegak berdiri yaitu SDN Salaman 01 yang berada di Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang. Tidak menutup kemungkinan sekolah tersebut merupakan sekolah tertua di Kabupaten Magelang

Hari itu Senin pagi. Sebagaimana rutinitas di awal pekan, kepadatan di stasiun Tangerang biasanya lebih padat dengan para calon penumpang yang membludak. Suasana ruwet kian bertambah dengan pelaksanaan proyek penataan lingkungan di sekitar area stasiun. Arus penumpang yang biasanya memasuki area stasiun melalui gerbang di sisi seberang Masjid Agung sudah beberapa hari sebelumnya dialihkan ke gerbang sisi tengah. Walhasil calon penumpang pejalan kaki harus berputar-putar dulu untuk mencapai loket dan peron stasiun.

Sebagai penumpang yang hanya kadang-kadang menjadi pengguna kereta api, saya tidak sepenuhnya tahu informasi perkembangan kebijakan layanan stasiun Tangerang termasuk keberadaan proyek yang sedikit banyak mengganggu kenyamanan calon penumpang. Pagi itu niatnya ingin naik kereta komuter line yang biasa berangkat pukul 06.45 WIB. Ketika memasuki area stasiun pada pukul 06.35, belum nampak satupun kereta sebagaimana biasanya. Para calon penumpangpun sudah berdiri berdesakan di sisi peron jalur 1. Pengumuman dari petugas menginformasikan bahwa kereta baru melaju di stasiun Poris. Akhirnya pukul 06.50, kereta yang seharusnya berangkat 06.45 baru memasuki stasiun tempat kami menunggu.

Begitu kereta terhenti dan pintu dibuka, sekonyong-konyong para calon penumpang saling menghambur, saling berebut dan berdesakan untuk mendapatkan tempat duduk. Saya sendiri terima pasrah dan memilih masuk belakangan. Dan akhirnya memang saya hanya mendapatkan tempat berdiri tepat di samping pintu.

Belum menempatkan dan menata diri dengan baik, saya dikejutkan dengan suara ribut-ribut di sisi tengah gerbong. Dua orang perempuan tengah kasak-kusuk terlibat dalam adu mulut yang membuat semua penumpang lain tercengang. Satu perempuan bertubuh sedang dan berkaca mata. Satu perempuan lain bertubuh gemuk besar. Keduanya duduk saling berdampingan, tetapi justru mereka berdualah yang sedang terlibat adu mulut. Umpatan-umpatan keluar bagaikan berondongan peluru dari para prajurit yang tengah adu senjata. Satu dua orang mencoba meneduhkan suasana dengan nasehat singkat. “Sudah-sudah, banyak orang! Tak baik ribut-ribut!” Meski demikian emosi kedua perempuan itu bukannya teredam.

Usut punya usut pada saat tadi para calon penumpang berebutan untuk naik gerbong dan mencari tempat duduk, dua orang tersebut terlibat desak-desakan bangku kereta. Si perempuan kurus berniat baik ketika dilihatnya ada bapak-bapak lansia yang juga tengah berusaha mencari bangku kosong. Ketika si perempuan sudah duduk terlebih dahulu, ia mengamankan satu posisi di sampingnya untuk diberikan kepada bapak lansia tersebut.

Di pihak lain, perempuan gendut rupanya sedang hamil. Karena tubuhnya yang memang gemuk dan besar mungkin penumpang yang lain tidak ngeh dan menduga bahwa ia sedang hamil. Merasa perempuan hamil harusnya mendapatkan prioritas, termasuk juga di deretan bangku non-prioritas, maka ia dan suaminya langsung duduk di bagian tengah.

Si perempuan kurus yang yang “membokingkan” satu space untuk bapak lansia yang sama sekali tidak dikenalnya menegurnya. Ia sama sekali tidak tahu bahwa perempuan yang gemuk tersebut sedang hamil. Dari sinilah kesalahpahaman bermula. Adu mulutpun berkepanjangan dan membuat penumpang yang lain justru menjadi serba tidak enak.

Semua orang kemudian paham bahwa pertengkaran tidak perlu terjadi hanya karena salam paham. Masing-masing pihak punya niatan baik. Si perempuan kurus ingin menolong orang lain. Si perempuan gemuk itupun kalau menyampaikan baik-baik bahwa dirinya tengah hamil, pasti juga tidak akan menimbulkan eyel-eyelan.

Setelah kedua perempuan merasa tidak enak dengan pandangan mata para penumpang lain yang merasa tidak nyaman dengan suara ribut-ribut mereka, akhirnya adu mulutpun berakhir dengan masing-masing saling diam. Suasanapun kembali tenang dan persoalan dianggap selesai.

Gambaran peristiwa seperti di atas mungkin banyak terjadi di ibukota Jakarta. Rimba raya jutaan manusia yang sehari-harinya dipenuhi suasana persaingan, perebutan, menang-menangan, bahkan perang hidup-mati. Jakarta yang semestinya menjadi tidak sekedar ibukota tetapi juga ibukota hati nurani justru semakin menampakkan ketidakberadapannya. Kebijakan pola pembangunan sentralistik dengan memadatkan uang dan modal di ibukota telah menggiring kepada keadaan pemusatan manusia. Di Jakarta orang mencari kerja, kesempatan, peluang, karir, uang dan tentu saja penghidupan yang kurang bisa dijanjikan di daerah. Akhirnya bom-bom permasalahan sosial dan krimimal tumbuh setiap saat untuk meledak dan menhancurkan peradaban pad suatu saat yang entah kapan itu. Masihkah ada angin di Jakarta?

Lor Kedhaton, 23 April 2015


Filed under: Jagad Bubrah Tagged: commuter line, kereta api

Huruf Alif dan Air Putih

Raden Mas Panji Sosrokartono barangkali merupakan nama asing bagi sebagian generasi saat ini. Menilik dari nama Kartono, barangkali kita akan menebak adanya hubungan kekerabatan dengan Raden Ajeng Kartini, pahlawan emansipasi wanita dari Jepara. Bulan April memang bulannya Kartini, sebagaimana peringatan Hari Kartini setiap tanggal 21 April diperingati. Adakah hubungan antara Kartono dan Kartini?

RMP Sosrokartono adalah kakak kandung RA Kartini. Ia dilahirkan di Jepara pada tahun 1877, merupakan putra ke dua dari delapan bersaudara putra Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat yang menjabat bupati dari 1890 – 1905. Selama 29 tahun beliau malang melintang sebagai pengembara di Eropa sejak 1897. Para kaum intelektual dan bangsawan Eropa menyebutnya sebagai De Javanese Prins(Pangeran dari Jawa) atau De Mooie Sos(Sos yang tampan).

Pada awalnya ia belajar di Delft untuk kemudian mendalami ilmu di Universitas Leiden, Belanda. Selepas menamatkan pendidikannya, Kartono berprofesi sebagai wartawan perang untuk koran The New York Tribune. Ia meliput secara langsung dari fron terdepan Perang Dunia I di daratan Eropa. Untuk memudahkan tugas jurnalistik dan menembus medan perang, ia diberi pangkat Mayor oleh tentara Sekutu. Meski demikian ia menolak dipersenjatai. Ia pernah pula bekerja sebagai staf Kedutaan Prancis di Den Haag, bahkan pernah menjadi penerjemaah di Liga Bangsa Bangsa yang berkedudukan di Wina.

Apa sebenarnya keistimewaan seorang Kartono hingga sebagai seorang putra pribumi yang dijajah lebih dari tiga setengah abad begitu cemerlang berkarir di perantauan jauh dari tanah kelahirannya?

Sosrokartono dikenal sebagai orang yang cerdas dengan penguasaan 17 bahasa asing dan 9 bahasa daerah. Ia berbicara dalam bahasa Inggris, Belanda, India, Cina, Jepang, Arab, Sanskerta, Rusia, Yunani, Latin, bahkan ia juga pandai berbahasa Basken(Basque), suatu suku bangsa Spanyol, demikian pernah dituturkan oleh Bung Hatta. Sebagai wartawan perang ia menerima gaji US$ 1.250 pada waktu itu. Dengan penghasilan sebesar itu, ia termasuk konglomerat di Wina. Maka tidaklah mengherankan apabila lingkup pergaulannya begitu luas di kalangan para bangsawan Eropa.

Konon di masa pengembaraannya tersebut ia pernah sempat berkorespondensi dengan Rajendra Tagor dan Albert Einstein, dan terlibat dalam perdebatan panjang mengenai filsafat dan teologi. Semenjak di Eropa, Kartono memang sudah menekuni laku tirakat sebagaimana tradisi orang Jawa di tanah asalnya. Dan kebiasaan ini yang kelak menjadikannya seorang spiritual spesial.

Kecakapannya dalam berbagai bahasa asing menjadikan Kartono berani menemui calon pejabat Gubernur Jendral di Hindia Belanda, W Rooseboom pada tanggal 14 Agustus 1899. Kepada calon petinggi tanah jajahan itu, ia menyampaikan bahwa Kerajaan Belanda harus benar-benar memperhatikan pendidikan bagi kaum pribumi. Bagaimanapun kejayaan dan kemakmuran yang dinikmati bangsa Belanda adalah mutlak atas jasa tanah jajahan. Upaya yang disampaikannya tersebut merupakan bentuk dukungan moral terhadap perjuangan yang pernah digagas oleh adiknya, RA Kartini, untuk memajukan pendidikan kaum pribumi terlebih kaum perempuannya.

Pada saat menjadi pembicara dalam Kongres Bahasa dan Sastra Belanda ke-25 di Gent, Belgia pada September 1899, Kartono menyampaikan pidato berjudul Het Nederlandsch in Indie(Bahasa Belanda di Indonesia). Dalam kesempatan tersebut ia mempersoalkan hak-hak kaum pribumi di Hindia Belanda yang tidak pernah dipenuhi oleh pemerintah penjajah. Dengan tegas ia menyatakan sebagai musuh dari siapapun pihak yang akan menjadikan Hindia Belanda menjadi bangsa Eropa atau berkebudayaan Eropa. Baginya Hindia Belanda memiliki khasanah budaya adiluhung yang yang bersumber dari adat istiadat berbagai suku bangsa yang telah mendiami gugusan Nusantara secara turun temurun.

Keluhuran tradisi, adat istiadat dan budaya yang dimiliki Nusantara harus terus dipupuk dan dikembangkan. Kepada siapapun putra pribumi yang berada di belahan bumi manapun, dihimbaunya agar tetap bangga dan melestarikan budaya bangsanya. Hanya dengan rasa kebanggaan terhadap bangsa dan budayanya itu, bangsa kita akan menemukan jati diri hingga akan menjadi bangsa yang mulia dan bermartabat disegani bangsa lain.

Setelah dua puluh sembilan tahun melanglang buana di dunia Barat, Kartono memutuskan untuk pulang ke tanah airnya, Hindia Belanda. Sekembalinya di Jawa, Kartono tidak kembali ke Jepara melainkan bergabung dengan Taman Siswa Bandung. Ia memang bertekad meneruskan cita-cita Kartini untuk memajukan pendidikan kaum pribumi. Atas jasa baik RM Soeryodipoetro, adik Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan kita, Kartono diminta menjadi pimpinan Nationale Middlebare School(Sekolah Menengah Nasional) milik Taman Siswa. Selain itu ia juga diminta menempati sebuah gedung di jalan Pungkur Nomor 7 Bandung.

Jalan Pungkur Nomor 7 kemudian berkembang pula menjadi sebuah perpustakaan atas jasa baik beberapa kolega dan teman-temannya yang memberikan sumbangan koleksi buku. Rumah panggung dari kayu dengan dinding anyaman bambu tersebut diberi nama Pondok Darussalam yang berarti rumah kedamian.

Pondok Darussalam kemudian berkembang menjadi tempat berkumpulnya para tokoh pergerakan nasional. Tak kalah tokoh seperti Bung Karno memerlukan datang untuk sekedar belajar bahasa dan bertukar pikiran dengan Kartono. Bahkan kemudian pondok tersebut menjadi pusat kegiatan Partai Nasional Indonesia dan Indonesisch Nationale Padvinders Organisastie pimpinan Abdoel Rachim, mertua Bung Hatta.

Demi menyaksikan penderitaan rakyat di sekitarnya yang didera kemelaratan dan berbagai macam penyakit, Kartono kemudian banyak melakukan tirakat dan laku prihatin. Ia seringkali melakukan cegah dahar lan guling, melakukan puasa dan mengurangi waktu tidur. Seringkali ia hanya minum air kelapa muda. Berkat karomah yang dianugerahkan Tuhan, ia berhasil menyembuhkan masyarakat yang datang berobat kepadanya. Ia kemudian dikenal sebagai tokoh spiritual hingga dipanggil dengan sebutan Eyang Sosro.

Eyang Sosro dalam melakukan penyembuhan terbilang memakai metode yang unik. Cerita air putih, huruf alif dan wejangan kebijakan filsafat Jawa adalah media penyembuhan yang melegenda. Bahkan dengan air putihnya, ia pernah diminta oleh Sultan Deli untuk memberantas wabah penyakit yang menyerang warganya.

Eyang Sosro meninggal pada tahun 1952 setelah mengalami kelumpuhan selama sepuluh tahun. Tokoh yang tidak pernah berumah tangga ini dimakamkan di Sedo Mukti desa Kalipitu, Kabupaten Kudus Jawa Tengah.

Diantara nasehat bijaknya yang terkenal adalah ungkapan sugih tanpa banda, digdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala, dan menang tanpa ngasorake(kaya tanpa harta, sakti tanpa jimat, menyerang tanpa prajurit, dan menang tanpa merendahkan). Bahkan di batu nisannya tertulis trimah mawi pasrah, suwung pamrih tebih ajrih, langgeng tan ana susah tan ana bungah, anteng manteng sugeng jeneng(rela terhadap takdir yang terjadi, tidak ambisius tiada ketakutan, tetap tenang dalam keadaan suka dan duka, diam sungguh-sungguh, maka akan selamat sentosa).[]

 Cisitu, 14 April 2009


Filed under: Jagad Budaya Tagged: Jepara, Kartini, Sosro Kartono

Bulan MerahSeorang kakek berkisah sebuah dongeng kepada cucunya tentu saja sesuatu yang lumrah dan wajar. Dongeng memang dipaido keneng, bisa sesuatu yang memang hanya sebuah cerita rekaan namun bisa juga merupakan sebuah kisah yang memang nyata-nyata pernah ada. Antara rasa penasaran ini pulalh yang dirasa Bre tatkala kakeknya mengurai cerita tentang Bulan Merah.

Bulan Merah konon merupakan sebuah kelompok musik keroncong eksis secara misteris di paruh jaman pergerakan nasional tatkala republik ini masih digenggam kekuasaan kolonialis Belanda. Adalah Bumi dan Siti, keponakan Rawi yang mewarisi segala bakat dan darah seni pamannya yang sepanjang umur hidupnya digeluti dalam dunia musik keroncong. Mereka sebenarnya anak dari Said, seorang tokoh pembawa pesan perjuangan, alias mata-mata atau telik sandi. Ketika pada suatu ketika aksi mereka dipergoki patroli Belanda, berondongan peluru memberondong tubuh Said dan istri hingga menjadikan Bumi dan Siti yatim piatu hingga untuk selanjutnya ia diasuh oleh Rawi.

Demi tekad untuk melanjutkan perjuangan ayahnya sebagai pembawa pesan perjuangan, Bumi dan Siti dibantu oleh Ratna Melati membentuk sebuah grup musik keroncong keliling yang kemudian diberi nama Bulan Merah. Turut menggawangi Bulan Merah adalah Sumo, Sastro, Kusno, Priambodo, dan Ku Chen. Bertindak selaku biduan atau vokalis adalah duet Siti dan Ramas Suryo.

Berbeda dengan umumnya kelompok keronrong yang eksis pada jamannya, Bulan Merah merupakan kelompok legendaris yang misteris. Dikarenakan sejak awal pendiriannya diniatkan untuk menjadi pembawa pesan rahasia, maka kelompok ini juga bergerak secara kucing-kucingan untuk menghindari mata-mata maupun patroli pasukan Belanda. Gerak Bulan Merah menjadi sangat rahasia dan hanya diketahui secara persis oleh para pejuang terpercaya. Inilah yang menjadikan nama Bulan Merah hanya sempat terngiang dari mulut ke mulut tanpa setiap orang yang membicarakannya pernah menyaksikan pentas kelompok ini dengan mata kepalanya sendiri. Tidak mengherankan jika Bulan Merah kemudian dianggap antara ada dan tiada. Ya, sangat misterius antara realita atau sekedar mitos.

Dalam pelaksanaan pentas Bulan Merah justru menyelenggarakannya bersamaan waktu dengan pentas-pentas lain yang berlangsung terbuka. Hal ini merupakan sebuah strategi khusus agar orang-orang yang datang ke Bulan Merah benar-benar orang yang berkaitan dengan perjuangan anak bangsa dan sekaligus untuk menghindari kecurigaan patroli Belanda. Pada pagi buta sehari sebelum Bulan Merah naik panggung, mareka menyebar selebaran gelap dengan kalimat singkat. “Ini Malem. Pertoendjoekan Boelan Merah. Bermaen di Kebon Djati. Djam 7.30” Demikian kira-kira pesan singkat yang mereka tempelkan di pohon-pohon pinggiran jalan.

Lalu bagaimana Bulan Merah menyampaikan pesan rahasia perjuangan? Tentu tidak secara terbuka dengan menyampaikan pidato, tentu saja menyampaikan pesan lewat syair lagu. Lewat syair lagu? Ya, justru disinilah kecerdasan Bumi selaku pimpinan dalam menggubah setiap syair dengan sisipan pesan-pesan berita perjuangan yang disampaikan secara berantai kepada para pejuang yang hadir dalam pertunjukan Bulan Merah.

Pentas Bulan Merah biasa diawali dengan sapaan lagu Boelan Menjapa Kawan. Puncaknya adalah pesan yang dikemas dalam gubahan Krontjong Padhang Mboelan.

Pada kesempatan pertujukan di Batavia, justru patroli Belanda berhasil mengendus gerak Bulan Merah. Untunglah sebelum patroli menangkap para personil Bulan Merah, potongan kertas-kertas pesan rahasia sempat dimusnahkan dengan cara dibakar. Interogasi mendalam yang dilakukan tetap tidak bisa menguak hubungan Bulan Merah dengan gerakan para pejuang. Merekapun lolos dari penjara.

Kejadian di Batavia mengharuskan Bulan Merah harus lebih berhati-hati dalam bergerak. Demi keamanan, merekapun memutuskan untuk pindah dari markas lama yang merupakan rumah milik Paman Rawi. Tidak tanggung-tanggung, mereka menyingkir hingga jauh ke pedalaman Boyolali yang asri. Namun demikian, Bulan Merah terus saja berpentas keliling menyampaikan pesan rahasia untuk memperjuangkan kemerdekaan Nusantara. Hingga akhirnya kemerdekaan itu benar-benar tergenggam di tangan rakyat, merekapun mendendangkan pesan kemerdekaan.

Apakah misi pembawa pesan perjuangan berkahir tatkala kemerdekaan benar-benar teraih? Bulan Merah yang lahir dari akar penderitaan rakyat tidak pernah berhenti berjuang atas nama rakyat. Tatkala perjuangan melawan penjajah asing berakhir, ternyata tidak secara otomatis menjadikan rakyat benar-benar merdeka dan sejahtera. Justru ada saat-saat dimana rakyat justru menderita di bawah kekuasaan bangsa sendiri. Inilah kira-kira situasi di masa orde lama yang semakin melenceng dari amanat penderitaan rakyat. Bulan Merahpun kembali bergerak memberikan pesan kritikan kepada pemerintah.

Di masa akhir pemerintahan orde lama, terjadi pembunuhan terhadap beberapa jenderal. Sebagai pihak pengkritik pemerintah yang dianggap berseberangan, Bulan Merah dianggap terlibat turut mendukung kelompok yang dicurigai sebagai dalang pembunuhan tersebut. Melalui sebuah operasi tentara, pengejaran terhadap Bulan Merah dilakukan hingga tepian hutan Wonolelo di batas Merapi-Merbabu. Dalam peristiwa tersebut semua personil Bulan Merah dihabisi. Namun sejarah kemudian mencatat ada satu personil yang lolos dari maut, itulah Ku Chen yang kemudian dipertemukan dengan kakek Bre. Akhirnya teka-teki di benak Bre terjawab bahwa Bulan Merah bukan sekedar mitos yang didongengkan kakeknya.

Rangkaian kisah perjalanan Bulan Merah, sebuah kelompok musik keroncong pembawa pesan rahasia, ini merupakan kisah novel heroik yang dikemas sangat apik oleh Gin alias Ginanjar Teguh Iman. Dalam beberapa kesempatan saya memang pernah bertemu dengan Gin. Akan tetapi obrolan panjang lebar dengan salah satu penggerak Komunitas Nulis Buku Magelang ini sering kami lakukan melalui chatting di media online. Sekian lama buku ini terbit, namun baru di awal April ini saya dipertemukan novel Bulan Merah ini di sebuah toko buku. Tanpa pikir panjang tentu saja langsung memboyongnya pulang dan segera membacanya.

Alur yang dibangun Gin dalam Bulan Merah ini memang unik. Kisah digali dari sebuah kisah yang tengah dikisahkan oleh seorang kakek kepada Bre, cucunya. Meski kisah dibeber melalui kisah flashback namun justru membuah cerita seolah-olah benar-benar hidup dan membawa pembaca tenggelam ke dalam suasana haru-biru perjuangan di masa pergerakan merebut kemerdekaan.

Membaca di bagian awal buku ini saya justru menjadi terkesima dengan pengetahuan penulis yang cukup mendalam mengenai seluk beluk peralatan musik keroncong. Bagaimana Gin menyinggung asal-usul kata keroncong yang berasal dari bunyi “crong” ukelele cuk menjadi sebuah pengetahuan baru bagi pembaca. Demikian halnya uraian masing-masing fungsi peralatan mulai ukelele cak dan cuk, biola, celo, kontrabas, hingga fluite sungguh meyakinkan seolah-olah berasal dari seorang penggelut musik keroncong profesional.

Buku setebal 250-an halaman ini meski diukir pada kertas coklat yang seringkali melelahkan mata, namun dengan pilihan font dan jarak spasi yang pas tetap nyaman di mata. Akan tetapi ada sedikit rasa penasaran yang tidak sempat tertemukan jawab oleh kebanyakan pembaca novel ini, yaitu hadirnya kata-kata voorspel, tussenpel, dan kadensa yang seolah menjadi pembatas buku yang mungkin terbagi menjadi tiga bagian besar.

Buku ini sangat unik di tengah novel populis yang ditulis umumnya penulis muda dewasa ini. Novel dengan latar perjuangan sudah saatnya hadir kembali di tengah masyarakat yang kini justru semakin terkoyak rasa nasionalismenya dan justru terdesak oleh sikap individualisme. Kahadiran buku ini mungkin bisa menggali kesadaran kebangsaan, khususnya di kalangan generasi muda.

Sebagai penulis kelahiran dan hingga kini tinggal di Kota Tidar Magelang, Gin sungguh patut diacungi jempol dengan mengangkat beberapa nama tempat yang ada di Magelang, seperti Wonolelo, Sawangan, menjadi bagian setting lokasi novelnya. Hal ini tentu saja menjadi sebuah kesan tersendiri bagi pembaca yang asli orang Magelang maupun orang-orang yang pernah memiliki kenangan di Magelang. Langkah ini sekaligus bukti komitmen seorang Gin untuk turut menggaungkan nama Magelang agar lebih dikenal lagi oleh saudara sebangsa setanah air di belahan wilayah yang lain.

Melalui novel Bulan Merah ini, Magelang harus turut bangga. Diantara sekian banyak para penulis dengan segudang karya tulisnya, Gin termasuk penulis yang telah membuktikan bahwa karyanya layak dibukukan untuk dibaca banyak orang. Tidak hanya pembaca di Magelang, tetapi tentu saja pembaca di seluruh pelosok tanah air. Mudah-mudah rintisan Gin dan juga beberapa penulis Magelang yang telah berhasil membukukan tulisannya ini semakin menggugah tumbuh kembangnya kesusastraan di Bhumi Tidar tercinta.

Ngisor Blimbing, 11 April 2015

RESENSI:

Judul Buku: Bulan Merah – Kisah Para Pembawa Pesan Rahasia

Penulis: Gin

Penerbit: Qanita, Mizan Group Bandung

Cetakan I, Agustus 2014

ISBN 978-602-1637-33-3

256 h; 20,5 cm



“Tertawa adalah tanda bahagia, tapi akan lebih bahagia jika anda bisa membuat orang lain tertawa”, begitulah kata kangmas Albert Einstein.

Tentu saya sangat sependapat dengan beliau, karena bagi saya, berbagi tawa memanglah sesuatu yang sangat menyenangkan dan bikin ketagihan, Lebih nyandu ketimbang ciu.

Tertawa itu menyehatkan. Jadi bisa dibilang, cara termurah untuk menjadi seorang dokter adalah dengan membagikan hal-hal yang lucu yang mampu membuat orang lain tertawa.

Beberapa waktu yang lalu, saya dan dua kawan saya, Nico dan Kebo mencoba membuat akun twitter yang mengusung twit humor, akun tersebut kami namai @CocotSelo. Misinya ya itu tadi: membagikan hal-hal yang lucu.

"Akun Dagelan waton Muni, Kadang ora dipikir, jadi rasah protes nek ra lucu... Meh Follow yo Karepmu, Ra Follow yo Matamu", begitulah bio yang tercantum di akun humor ini.



Saya, Nico, dan Kebo adalah kawan sepermainan, kami bertiga sering nongkrong dan ngobrol ngalor-ngidul sembari ngopi dan bermain kartu bareng di kamar loteng saya. Dari obrolan tersebut, sering kali terlontar guyonan-guyonan yang menurut kami lucu. Atas dasar itulah, kami kemudian membuat akun Cocotselo, yaitu untuk menampung guyonan-guyonan tersebut lewat twit. Harapannya agar guyonan-guyonan tersebut bisa dinikmati tidak hanya oleh kami bertiga.

Karena keseharian kami menggunakan bahasa Jawa, maka Cocotselo pun kami isi dengan twit-twit lucu (lucu menurut kami) berbahasa Jawa, biasanya soal asmara atau sosial.

Selain twit, kadang kami juga mengisi cocotselo dengan meme yang dibuat sekenanya. Yah, ndak lucu-lucu banget sih, tapi lumayan lah, ada saja barang sepotong dua potong manusia yang mau ngretweet.





Alhamdulillah, akun ini ternyata mendapat respon yang cukup baik. Pelan tapi pasti, follower mulai berdatangan. Follower cocotselo kini sudah mencapai 1700-an.

Puas dengan Cocotselo, Saya dan Nico ingin kembali membuat akun lucu-lucuan yang lain, tapi kali ini, kami ingin membuat akun dengan konsep grup, sehingga nantinya, bukan hanya saya dan Nico yang bisa memposting konten lucu, melainkan seluruh anggota grup juga bisa ikut berkontribusi menyebarkan kelucuan.

Kami akhirnya memilih Sebangsa.com sebagai platform ekspolorasi kami. Alasannya sederhana: Sebangsa adalah sosial media buatan anak negeri, dan fiturnya tidak kalah canggih dibanding sosial media global kebanyakan.

Grup di Sebangsa ini kami namakan Dagelan. Anggotanya baru sedikit, yah, namanya juga masih akun baru.

Tentu saya akan sangat berbahagia kalau sampeyan mau bergabung dan meramaikan grup Dagelan ini. Yah, siapa tahu sampeyan punya stok bahan humor yang turah-turah. Ingat, Humor itu seperti birahi, kalau tidak dilampiaskan, bisa berbahaya. hehehe

Wah, tapi saya belum punya akun Sebangsa je mas Agus...

Ya tinggal bikin tho, gitu aja kok gundah...


"Presiden'e meh sopo, nasibe wong cilik koyo dhewe ki yo tep podo wae"

Wong cilik yang sudah biasa rekoso mungkin sudah menganggap bahwa default hidupnya memang sudah disetting rekoso. Jadi ketika kondisi hidup dirasa sulit, dia hanya nggresulo sebentar dan misuh sekedarnya, setelah itu, ya biasa saja: ngudud, ngopi, ngarit, tidak menghujat siapa-siapa, tidak nyumpahi siapa-siapa.

Kalaupun harus menghujat presiden, menghujatnya ya cuma sebentar, tidak ndremimil seperti buzzer awal bulan. Karena ia menganggap, hidup itu lumrahnya memang harus begitu, harus rekoso.

Mereka sadar, susah itu pasti, tapi ketenangan adalah hak. jadi, Walau keadaan susah, pikiran mereka tetap jreeng, tidak spaneng.

Mereka tetap bahagia, dan kebahagiaan mereka didapat tanpa perlu piknik. Karena sejatinya, hidup itu sendiri adalah piknik yang sepiknik-pikniknya.

Kabar buruknya, orang-orang semacam ini biasanya tidak punya akun facebook atau twitter, sehingga saya tidak bisa men-Cc atau memensen beliau-beliau ini.

Mungkin karena mereka sadar, bahwa facebook dan twitter hanyalah makhluk yang bisanya cuma bikin spaneng.
Gemar menabung memang harus kita tanamkan sejak dini. Kegiatan yang sering dilakukan disetiap sekolah ini tak jarang dijadikan kegiatan wajib sekolah yang harus dilaksanakan bagi setiap siswa. Memang ada kelemahan dan kelebihannya. Kelebihannya diantaranya mengajak berdisiplin siswa dalam pengelolaan managemen keuangan serta membuat skala prioritan pemenuhan kebutuhan dan lain-lain. Sedangkan kelemahannya adalah kegiatan tersebut sangat menyita waktu guru dalam pengelolaannya.


Kegiatan menabung bagi SDN Salaman 1 sebenarnya sudah dilaksanakan sejak dahulu sekitar tahun tahun 2003 hingga 2006 yaitu dengan didirikannya Bank Sekolah Pelangi bahkan dalam kegiatan tersebut semua kegiatan dilaksanakan oleh siswa, Guru/petugas hanya mengontrol dan menyimpan uang tabungan. Namun karena suatu kesibukan maka kegiatan tersebut dihentikan.

Kali ini gemar menabung kembali akan digalakkan dengan diresmikannya Gerakan Ayo Menabung yang diprakarsai oleh Dewan Pendidikan Kabupaten Magelang yang bekerjasama dengan Bank BKK Tempuran. yang sasarannya seluruh sekolah di Kabupaten Magelang. Sedangkan SDN Salaman 1 sebagai sasaran pertama sekaligus sebagai sempel bagi segolah-sekolah berikutnya. Peresmian ini bertempat di ruang kelas SDN Salaman 1 yang dihadiri sekitar seratus tamu undangan tepatnya tanggal 18 April 2015. Ayo menabung!!!!


























Salah satu sekolah tua yang masih tegak berdiri yaitu SDN Salaman 01 yang berada di Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang. Tidak menutup kemungkinan sekolah tersebut merupakan sekolah tertua di Kabupaten Magelang

Magelang memang terkenal dengan Kupat Tahu nya. Ada bermacam-macam aneka menu Kupat tahu yang ditawarkan di Kota Gethuk ini. Kupat tahu Pak Sus Tanjung adalah salah satu dari sekian banyak warung kupat tahu di magelang. Asal nama warung ini diambil dari nama pemiliknya Pak Sus ditambah nama daerah lokasi Tanjung; jalan Magelang-Purworejo pertigaan Tanjung, setelah […]

Lebih lengkap artikel tentang "Uniknya Kupat Tahu Pak Sus Tanjung" dapat dibaca di Magelang Online - Informasi lengkap kota Magelang dan sekitarnya.

Sudah beberapa kali saya mendapat kiriman link video dalam YouTube ini. Penanaman jahe dengan sistem hidroponik. Tujuannya untuk menyediakan bibit jahe yang bebas hama dan penyakit. Menarik juga untuk dicoba. Hawai yang bukan negara penghasil utama jahe saja melakukannya. Masak kita yang termasuk sepuluh besar tidak bisa…..


Informasi PROMI Klik di PROMI

View this document on Scribd

Posting ke 400Dulu ketika awal-awal mengenal dunia blog, bara semangat empat lima senantiasa berkobar dan menjadi penyemangat untuk membuat postingan dengan rutin. Sekian jam atau sekian hari tidak menyentuh halaman dashboard seolah ada sesuatu yang terasa hambar dalam hidup. Di samping membuat postingan dan mengutak-atik dashboard, blogwalking juga menjadi rutinitas tersendiri yang sangat mengasyikkan. Dari sinilah diantara sesama blogger saling berkomentar, saling bertegur sapa, bahkan saling mempertautkan rasa persaudaraan tanpa batas.

Tidak hanya eksis di jagad online, berbagai kopi darat alias kopdaran juga dengan penuh semangat dihadiri. Hikmah luar biasa yang saya nikmati sebagai seorang blogger adalah jaringan pertemanan dan persahabatan yang semakin bertambah luas. Saya termasuk blogger yang sangat beruntung bisa sering kopdaran kere hore di tepian kolam Bundaran HI yang sangat tersohor di masanya tersebut. Dari titik inilah sayapun diperkenalkan dengan beragam blogger dari beragam komunitas berbasis lokal yang muncul bak cendawan di musim hujan, katakanlah Cah Andong, Bengawan, TPC, Lumpia, KBBC, Warok, Blogor, Batagor, deBlogger, Blogger Bekasi dlsb.

Di tengah semaraknya pertumbuhan dunia perbloggeran Nusantara kala itu, sempat ada satumpernyataan yang dilontarkan Roy Suryo sebagai pakar telematika, “blogger hanyalah sebuah trend sesaat.” Pernyataan tersebut seolah memberikan prediksi bahwa sebagai sesuatu hal yang masih baru sangat wajar bila terjadi euforia semangat ngeblog. Namun seiring waktu nantinya akan mencapai titik jenuh dan segera disusul dengan masa surut. Kini setelah sekitar sepuluh tahunan, apakah pernyataan itu terbukti?

Sebagai sebuah keniscayaan hukum alam, perguliran dan pergantian generasi blogger kita juga datang dan pergi silih berganti. Kehadiran media sosial yang sekaligus berperan sebagai miniblog seperti facebook dan twitter, harus diakui memberikan banyak pengaruh terhadap eksistensi kaum blogger. Di saat yang sama gerak berbagai komunitas blogger juga mengalami penurunan intensitasnya. Tidak mengherankan jika hingga saat ini saya masih berusaha untuk tetap eksis ngeblog dan posting secara rutin, justru saya semakin merasakan sebuah perasaan sepi yang kian menjadi.

Namun sebagai sebuah pencarian jati diri melalui aktivitas menulis, bagi saya pribadi blog merupakan media pembelajaran yang sangat luar biasa. Meski masih tetap mempertahankan penggunaan blog berplatform gratisan, bahkan khusus blog ini baru tergenerate sekitar 2,5 tahun yang lalu, namun waktu ternyata memberikan catatan bahwa saya telah menampilkan postingan hingga mencapai postingan ke-400. Sungguh? 400?

Sayapun tidak terlalu memperhatikan, namun memang demikianlah adanya. Bukan bermaksud menepuk dada, akan tetapi tulisan yang ke-400 di blog ini sengaja ingin saya dedikasikan sebagai wujud rasa syukur kehadirat Tuhan YME yang telah berkenan memberikan kekuatan, ide, gagasan, pencerahan, dan segala bentuk petunjuk apapun hingga saya masih diberikan kesempatan untuk terus belajar menulis melalui media blog dengan senantiasa terlimpahi ide yang seolah tidak pernah mengering. Semoga Tuhan senantiasa memberkati langkah kecil ini.

Ngisor Blimbing, 19 April 2015


Filed under: Jagad Blogger Tagged: blogger, Komunitas Blogger, kopdar, pendekar tidar

Empat hari ini benar2 pengalaman luar biasa bagiku. Empat hari mencoba bertahan hidup sendiri di alam liar. Makan seadanya. Minum sedapatnya. Tidur sebisanya. Tidak ada ponsel atau alat komunikasi yang lain. Lapar, capek,  hujan, dingin, gelap, was-was adalah tantangan yang mesti ditaklukkan.

Hari pertama, bekal yang terbawa hanya sepotong jagung, dua butir ubi, 5 butir kurma, dan gula jawa. Air hanya sebotol kecil air mineral. Baju hanya yang melekat di badan. Tidak ada alat komunikasi apa pun, kamera juga tidak ada.  Tidak ada uang sepeser pun. Perlengkapan yang terbawa matras, ponco, kompas, head lamp, golok/belati, nasting, korek api, tali rafia, sleeping bag, buku kecil, ballpoint dan mushaf. Sangat terbatas bekal dan perlengkapan yang ada di tas carrierku. Bismillah.

Menjelang tengah malam petualangan dimulai. Langit terang dan bintang-bintang berkelap-kelip di langit mengiringi langkah ini. Aku menyusuri jalan setapak. Jalan menanjak landai. Aku terus berjalan hingga lewat tengah malam, sampai di tempat yang agak lapang. Aku berhenti di tempat itu untuk bermalam. Segera aku membuat bivak sederhana yang penting bisa untuk berteduh. Aku membangun bivak tepat di dekat sungai kecil. Alhamdulillah, sungai itu airnya sangat jernih dan bisa diminum.

Sebelum istirahat, aku sempatkan sholat malam dua rokaat dan witir satu rokaat saja. Waktu subuh masih cukup lama. Saya segera mengelar matras dan masuk ke dalam sleeping bag untuk tidur.

Bismika allahumma ahya wa bismika ammut. Amin.

Aku benar2 terlelap di kehangatan sleeping bag ini. Hingga serasa ada sesuatu yang membangunkanku. Aku lihat jam menunjukkan pukul setengah empat lebih. Sebentar lagi masuk waktu subuh.

Setelah ambil wudhu, aku sholat fajar dua rokaat. Istirahat dulu beberapa saat dan kemudian sholat subuh.
Alhamdulillah, udara pegunungan ini segar sekali. Seperti biasa, sambil menunggu matahari, aku dzikir pagi yang saya hafal.

Ketika matahari mulai bersinar. Aku mencari kayu dan ranting kering. Aku buat tungku dari batu hingga bisa untuk menaruh nasting. Ada beberapa kotak parafin yang terisa di kantong. Aku bakar parafin ini untuk mulai membakar ranting dan kayu. Nasting aku isi air, kemudian jagung dan ubi mulai aku masak. Perlu waktu cukup lama memasak dengan cara ini.

Sambil menunggu jagung masak, aku coba mencari kalau-kalau ada sesuatu yang bisa dimakan. Di pinggir hutan ini saya temukan pohon perdu kecil yang daunnya berbulu. Buahnya kecil-kecil dan berbulu juga. Buah yang sudah masak berwarna unggu. Buah ini rasanya manis. Saya kumpulkan dan dapat lumayan banyak. Cukuplah untuk cemilan di pagi hari selain sepotong jagung dan sebutir ubi setengah matang.

Ketika matahari naik setinggi tombak, aku lanjutkan lagi perjalanan dan mulai masuk ke hutan. Petualangan yang sebenarnya baru dimulai. Sebelum mulai perjalanan, aku isi dulu tempat air dengan air dari sungai kecil itu. Jalan setapak mulai terjal dan menanjak. Hutan ini benar-benar hutan yang masih perawan. Vegetasinya sangat lebat. Di lantai hutan tumbuh paku-pakuan, rotan, dan tanaman perdu lainnya. Pohonnya tinggi-tinggi dan besar-besar. Batang pohon itu hampir seluruhnya ditumbuhi lumut dan paku2an sampai setinggi 10-15 m. Suasananya sangat lembab, tipikal hutan tropis di Indonsia. Lantai hutan memiliki humus yang sangat tebal. Aku dapat mencium bau tanah humus hutan ini. Aroma yang menyegarkan.

Di sepanjang perjalanan ini aku temukan tanaman yang bentuk daunnya mirip daun begonia, bunganya kecil2 bergerombol. Bunga tanaman ini bisa dimakan. Rasanya sedikit asem seperti jeruk. Sambil berjalan aku makan bunga2 ini, lumayan untuk mengisi perut yang belum kenyang ini.

Meski belum lewat tengah hari, suasana mulai gelap seperti menjelang sore. Kabut mulai turun dan seperti akan turun hujan.

Jalan semakin terjal. Di beberapa tempat kemiringannya lebih dari 35-45o. Vegetasi pun semakin lebat. Aku berhenti setelah sampai di tempat yang tinggi dan mendatar. Gerimis mulai turun, sepertinya hujan lebat segera datang.

Bener saja. Baru sesaat istirahat, hujan benar2 turun. Aku segera memakai jaketku yang tahan air. Dengan cepat aku keluarkan poncoku. Ponco itu aku buka dan aku tutupkan ke atas tas carrier untuk melindungi dari air hujan. Dalam posisi itu secepatnya aku memasang bivak. Ujug2nya aku ikat dengan tali rafia. Satu ujung aku ikatkan ke pohon. Ujung yang satu aku aku ikatkan ke pohon seberangnya. Ujung yang belakang aku ikatkan ke ranting dan posisinya lebih rendah. Jadi posisinya miring agar air bisa mengalir. Kurang dari tiga menit bivak sudah jadi. Untuk menahan air agar tidak masuk, pinggir-pinggir bivak aku tutup dengan daun paku pohon. Aku aman berteduh di dalam bivak ini.

Ketika hujan reda, aku keluar mencari kayu bakar dan makanan lain yang bisa aku temukan. Aku kumpulkan daun2 paku pohon dan aku susun di dalam bivak sebagai alasnya. Aku temukan buah hutan yang warnanya merah kecil. Rasanya manis, tapi bijinya besar2.

Ada banyak paku pohon yang tumbuh di hutan ini. Beberapa jenis, daun mudanya yang belum mekar sempurna bisa di makan. Tangkai daun muda ini lunak. Bagian dalaknya bisa langsung di makan. Rasanya lumayan lah, lunak, banyak airnya. Aku kumpulkan agak banyak untuk persediaan makan.

Aku kembali membuat perapian. Daun paku muda itu aku bersihkan dan aku re bus bareng dengan ubi. Makananku setengah matang lagi.

Setelah reda beberapa waktu, hujan turun lagi. Aku kembali berteduh dan mencoba untuk memejamkan mata sambil menahan dinginnya kaki yang basah.

Selepas sholat magrib, perjalanan dilanjutkan lagi. Malam gelap membuat suasana hutan semakin mencekam. Jalan setapak yang dilalui kadang2 menanjak kadang2 menurun curam. Benar-benar menantang.

Di tempat ini aku tidak ketemu sumber air. Jadi, aku benar2 mengandalkan sisa air yang ada di dalam botol. Aku mesti benar2 berhemat air.

Dua jam perjalanan, nafas mulai tersenggal-senggal. Aku bermalam di tempat yang sedikit miring. Vegetasinya lebih lebat. Cukup sulit untuk menemukan tempat bermalam.

Di tempat ini, aku kembali mencoba membuat perapian dan memasak. Makanan yang aku dapatkan masih sama. Ada beberapa tanaman hutan yang bisa di makan. Beberapa daun muda enak di lalap langsung asalkan ada sambal dan ikan asinnya. Hmmm nikmat.

Perjalanan dilanjutkan lagi. Kali ini berangkatnya ketika matahari masih terang. Jalannya lebih menjak dan lebih curam. Lututku yang pernah cidera mulai terasa ketika buat berjalan turun. Sedikit nyeri.

— masih bersambung —


Negara republik ini tengah sakit. Semua tahu dan tidak menyangsikan hal itu. Diantara bagian komponen bangsa yang menjadikan keprihatinan kita semua, tentu saja para oknum aparatur negara yang bermental korup. Ada deretan oknum pejabat, wakil rakyat, aparatur negara, dll juga para penegak hukum. Termasuk juga tentunya kalangan para pegawai yang telah digaji dengan uang rakyat tetapi tidak bekerja secara profesional. Golongan terakhir inilah yang dikisahkan oleh seorang sahabat saya kali ini. Sahabat saya tersebut kebetulan bekerja di salah satu instansi pemerintah pusat.

Angin reformasi yang telah berhembus selama hampir tujuh belas tahun tidak menjadikan serta-merta semua sikap dan perilaku korup sama sekali terkikis. Bahkan jika perilaku ini dulunya hanya dilakukan oleh kalangan oknum tertentu dan secara sembunyi-sembunyi, kini menurut sahabat saya tersebut, perilaku korup dilakukan secara lebih terstruktur, sistematis, dan dibungkus dengan legalitas aturan yang lebih rapi. Celakanya lagi, dilakukan secara berjamaah.

Konon salah satu kebijakan untuk mengindari perilaku korup adalah sistem tunjangan berbasis kinerja. Menurut analisis, salah satu penyebab perilaku korup adalah gaji pegawai pemerintah yang kecil. Dengan sistem tunjangan kinerja tersebut diharapkan seseorang akan mendapatkan tunjangan yang lebih besar jika kinerjanya lebih baik atau lebih tinggi. Seorang pegawai yang tidak dapat memenuhi tuntutan kinerja tidak akan mendapatkan tunjangan kinerja sebesar rekannya yang berkinerja lebih baik. Aturan itupun dibarengi dengan kebijakan reward and punishment dimana seorang pegawai yang bekerja baik, berkinerja baik, berjasa kepada negara akan mendapatkan penghargaan. Sebaliknya, seorang pegawai yang kinerjanya rendah atau bahkan melanggar aturan, termasuk berperilaku korup akan mendapatkan hukuman, mulai dari surat peringatan, penundaan kenaikan kepangkatan, hingga pemecatan ataupun penuntutan hukum.

Nampaknya sistem tersebut sekilas tampak bagus. Akan tetapi demikiankah pelaksanaannya? Ternyata konsep tidak selamanya indah dan sejalan dengan pelaksanaan. Hingga saat ini, tahapan penilaian kinerja belum sepenuhnya dijalankan. Tunjangan kinerja masih sebatas dinilai dari pemenuhan jam kerja alias absensi pegawai. Pegawai yang bekerja kurang dari jam kerja yang ditetapkan akan dipotong tunjangan kinerjanya.

Dengan sistem yang baru, setelah para pegawai tersebut diberikan sebagian dari tunjangannya, ternyata tidak secara otomatis kinerjanya meningkat sebagaimana yang dituntut. Masih menurut sahabat saya, meskipun pendapatan para pegawai tersebut telah bertambah namun tidak secara otomatis hal tersebut membuat mereka merasa cukup. Ibarat meminum air laut yang asin, semakin banyak minum justru semakin kehausan. Demikian halnya mentalitas sebagian besar para pegawai pemerintah kita. Diberikan berbagai fasilitas, diberikan peningkatan tunjangan tidak secara otomatis membuatnya merasa cukup dengan penghasilannya. Lalu apa yang terjadi?

Di samping penerimaan tunjangan kinerja yang besar yang tentu saja dianggarkan dari uang rakyat yang belum dibarengi dengan peningkatan kinerja dan profesionalisme, perilaku korup juga masih muncul dalam wujud atau modus-modus seperti mark up anggaran, pengadaan fiktif, bahkan rapat-rapat yang diselenggarakan seadanya.

Ketika muncul kebijakan pembatasan pelaksanaan rapat di hotel, tidak sedikit kalangan birokrasi yang mensiasati diri dengan rapat lembur atau di luar jam kantor. Menurut sahabat saya, rapat yang diselenggarakan pada jam kantor, baik di pagi atau siang hari, para pegawai hanya dianggarkan mendapatkan snack dan makan siang. Tidak ada komponen honor di sana. Akan tetapi jika rapat digeser pada jam di luar kantor, maka ada honorarium uang lembur yang bisa dibawa pulang. Konon nilai pagu anggarannya pada saat ini sebesar Rp 300.000,- Sungguh menggiurkan bukan?

Sebenarnya berdasarkan aturan, kegiatan lembur memang diperbolehkan. Tentu saja ada kriteria suatu pekerjaan menjadi dimungkinkan untuk dilemburkan, seperti jenis pekerjaan yang menuntut segera diselesaikan dalam dateline mepet ataupun pekerjaan yang menuntut keterlibatan pihak atau unit kerja lain yang sulit saling bertemu pada jam kerja biasa dikarenakan kesibukan pekerjaan masing-masing.

Namun sayang seribu sayang, kriteria tersebut sering dibuat-buat untuk sekedar menjadi dalih agar uang lembur dapat dicairkan. Bahkan untuk memenuhi ketentuan keterlibatan antar unit kerja, tak jarang terjadi perjokian peserta rapat. Perjokian, maksudnya? Ya, banyak terjadi peserta rapat yang tidak benar-benar ikut rapat tetapi turut membubuhkan tanda tangan di daftar hadir dan mendapatkan jatah honorarium yang sama dengan peserta rapat yang benar-benar turut aktif berapat. Sebut saja rombongan joki rapat yang demikian sebagai rombongan kere hore. Tidak perlu kerja, dapat uang! Ealah Gusti!

Sebagai orang awam bagian dari wong cilik, tentu saja nalar cupet saya tidak pernah sampai menduga apalagi berpikir ada modus sedemikian rendahnya di kalangan para aparatur negara yang terhormat. Bayangkan saja bagaimana kalangan rakyat biasa harus jungkir-balik, peras keringat, banting tulang hanya untuk mendapatkan seribu-sepuluh ribu perak, ini para oknum aparatur justru berpesta pora dengan uang rakyat, uang kita semua. Aparatur yang telah mendapatkan gaji tetap yang tentu saja jauh melebihi pendapatan rakyat biasa yang bekerja serabutan, bekerja di pabrik dengan standar gaji UMR, di sektor swasta dengan tuntutan kerja yang tinggi tetapi gaji pas-pasan, justru dengan kerja enak bahkan tanpa kerja mendapatkan durian runtuh. Tentu saja hal seperti itu bisa disebut sebagai kerja fiktif dan honorarium yang diterima bisa dikategorikan honor buta, dan perilaku demikian juga termasuk perilaku korup!

Bagi para rombongan kere-hore, sebagai wong cilik tentu saja kami turut mendoakan agar Anda semua segera diberikan hidayah oleh Tuhan untuk kembali ke jalan yang lurus. Meskipun pekerjaan kami serabutan, pendapatan kami seadanya, tetapi paling tidak rakyat kecil yang masih memegang teguh nilai agama dan kebaikan adalah orang kaya yang sejati di mata Tuhan. Bagaimanapun dan sebaik apapun manusia membungkus perbuatan nistanya dengan berbagai justifikasi aturan terselubung, tokh Tuhan tidak tidur dan sama sekali tidak bisa ditipu. Yakinlah bahwa setiap perbuatan sekecil apapun, apakah suatu kebajikan atau sebuah dosa, pasti akan tetap ada balasan yang seadil-adilnya. Semoga kita semua bisa merenungkannya dengan seksama.

Ngisor Blimbing, 18 April 2015


Filed under: Jagad Bubrah Tagged: korupsi, korupsi kolusi dan nepotisme
Dear Mas Mario Steven Ambarita.

Eh, saya harus panggil mas Mario, atau Mario saja ya? Soalnya saya lebih tua dari sampeyan je mas...Etapi saya panggil “Mas Mario” aja deh, biar lebih sopan.

Mas Mario,...” (tolong jangan dijawab dengan kalimat: “sahabat saya yang super”)

Saya begitu tersentak begitu membaca berita di Merdeka.com tentang aksi mas yang nekat menyusup ke roda pesawat Garuda GA 177 tujuan Pekanbaru – Jakarta dengan cara melompati pagar Bandara Pekanbaru, Riau sesaat sebelum pesawat lepas landas. Lebih tersentak lagi tatkala mengetahui kalau mas akhirnya bisa selamat sampai tujuan (Jakarta). Yah, kendatipun dengan kondisi tubuh yang sangat memprihatinkan: Tubuh membiru dan telinga banyak mengeluarkan darah.

Sungguh sebuah aksi yang sangat dan berani. Aksi yang mungkin akan membuat seorang Limbad pun akan berfikir seribu kali untuk melakukannya. Aduuuh, pucing pala Limbad.

Mas Mario, Dulu saya pernah begitu takjub dengan keberanian para bonek yang berani ndompleng di atas kereta yang melaju dengan kecepatan tinggi demi untuk menonton Persebaya berlaga. Sebuah keberanian berbalut militansi yang sangat luar biasa. Namun begitu mengetahui aksi mas Mario, keberanian para bonek tadi jadi terlihat berkurang cukup banyak di mata saya. Ternyata memang benar apa kata pepatah, di atas langit, masih ada langit, di atas Bonek, masih ada yang lebih Bonek.

Aksi sampeyan benar-benar membuat heboh jagad penerbangan. Berita tentang sampeyan bercokol di tangga teratas aneka portal berita.

Mas Mario, aksi sampeyan mengingatkan saya pada sebuah film lawas berjudul Commando, Di film besutan tahun 1985 yang dibintangi oleh Arnold Schwarzenegger (yang berperan sebagai John Matrix) itu, ada adegan yang hampir serupa dengan aksi yang sampeyan lakukan. Yakni adegan saat si John Matrix ndompleng di roda pesawat terbang. Tapi aksi tersebut jelas tidak ada seupil-upilnya jika dibandingkan dengan aksi sampeyan, mas. Karena adegan si John Matrix itu hanya adegan dalam film, bukan adegan nyata, lagipula, di film tersebut, si John Matrix tidak ndompleng sampai Jakarta, melainkan cuma sampai ujung bandara, untuk kemudian lompat ke rawa-rawa.

Saya jadi berfikir, mungkin sampeyan lah yang lebih pantas menyandang nama Schwarzenegger, bukan si Arnold itu. Keren lho mas, coba bayangkan, nama sampeyan berubah jadi Mario Schwarzenegger, sangat barat dan sangat “Commando”. Ehhm… Atau kalau sampeyan kurang suka, bagaimana kalau sedikit diubah agar jadi lebih Ngindonesia, Mario Suasanaseger, misalnya... Gimana? gimana?

Mas Mario...

Bagi saya, aksi mas bukanlah sekadar aksi random yang sembarangan seperti kata banyak orang. Karena sebelumnya, Mas Mario telah mempersiapkan segala sesuatunya. Bahkan sampeyan sempat selama 10 hari mengamati Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru dan mancari tahu bagaimana cara untuk bisa menyusup. Sampeyan juga dengan teliti dan cermat memperhitungkan jeda taxying pesawat selama 5 menit di ujung landasan bandara.

Sungguh aksi yang cerdas, nekat, militan, dan.... Sableng.

Aksi yang jelas membuat banyak orang heran, tak terkecuali saya. Gimana ndak heran, Disaat banyak orang mengeluh tentang Jakarta yang berisik, macet, banjir, dan semrawut. Sampeyan malah mempertaruhkan nyawa untuk bisa berangkat ke Jakarta.

Well,pada akhirnya, Keheranan saya akan aksi mas akhirnya terjawab. Sampeyan rela berangkat ke Jakarta dengan toh nyowo ternyata demi untuk menemui seseorang, seseorang yang katanya sangat-sangat sampeyan idolakan. Dan seseorang itu ternyata adalah... Jokowi., ya Jokowi... Presiden yang sangat sampeyan kagumi.

Entah benar apa tidak, tapi begitulah alasan yang sampeyan kemukaan saat ditanya oleh para wartawan terkait motivasi sampeyan melakukan aksi yang bikin kuduk berdiri itu. (btw, kenapa harus Jokowi sih mas?).

Well, Saya tak perlu keheranan dua kali. Karena saya tahu bagaimana rasanya mengidolakan seorang tokoh.

Memang benar, rasa cinta yang berlebihan kepada sang idola kerap mematikan nalar manusia. Saya sendiri sudah membuktikannya.

Adalah Freddie Mercury, si vokalis Queen, manusia yang bisa membuat saya menjatuhkan pilihan untuk mengidolakannya. Alasannya simpel: Dia Mrongos, dan luar biasa. Sebagai salah satu duta pria mrongos Indonesia, saya merasa harus mengidolakan tokoh yang juga mrongos tapi mempunyai prestasi yang sensasional. Dan Freddie Mercury adalah jawabanya. Sebenarnya, Luiz Suarez juga masuk kriteria, tapi sayang, dia bukan pemain MU, jadi saya terpaksa mencoretnya dari daftar. Tapi tenang, Diding Boneng tetap masuk list kok.

Rasa cinta saya pada Freddie Mercury membuat saya sering menirukan gayanya saat tampil di panggung. Saya sering secara spontan menirukan gaya berjalannya sambil membopong stan mic, dengan langkah yang dibuat sedemikian manja, kadang berlari-lari kecil, kadang merenggangkan kaki sambil mengepalkan tangan di atas. Dan itu sering saya lakukan di hadapan kawan-kawan saya. Saya bahkan tak canggung melakukan aksi tersebut di hadapan guru ngaji saya, beliau bahkan sampai berseloroh “wooo, dasar cah gendeng” sambil tersenyum geli melihat tingkah saya, tapi saya cuek saja.

Gara-gara Freddie pula, saya sering berniat memanjangkan kumis (kebetulan, Freddie punya kumis tebal), walau banyak kawan-kawan saya yang sudah memperingatkan, bahwa wajah saya tak akan lebih mendingan dengan bantuan kumis tebal di bawah hidung saya.

Yah, mungkin ini yang namanya nalar mati karena idola.

Seandainya Freddie Mercury masih hidup dan sekarang tinggal di Jakarta, saya mungkin tak akan berfikir dua kali untuk menemuinya. Tapi jelas bukan dengan ndompleng roda pesawat seperti yang mas lakukan. Saya tak mau badan saya membiru. Sudah pendek, biru lagi. Saya takut nanti orang-orang bakal menyamakan saya dengan galon air isi ulang.

Tapi mas Mario, bagaimanapun, Saya tetap salut dengan tekat dan keberanian sampeyan untuk ndompleng di pesawat dengan mempertaruhkan nyawa sampeyan. Namun saya berharap, jika kelak, di kemudian hari, sampeyan ingin melancarkan aksi yang lebih ekstrem dan lebih “Arnold” lagi, tolong jangan lakukan aksi tersebut demi Jokowi. Lakukanlah demi Raisa, Chelsea Islan, atau minimal salah satu personel JKT48.

Karena saya yakin, Jokowi mungkin tidak akan peduli dengan aksi sampeyan, karena sekarang ini, beliau sedang sibuk “mengurus” urusan negara dan juga sibuk mengurus persiapan hajatan nikahan anaknya.

Saya ndak ingin mas makan ati. Masak, sudah jauh-jauh menggantung di pesawat, eh, masih ditambah digantungin sama Jokowi. Kan nyesek mas. #DiaMahGituOrangnya.

Ya sudah mas. Segini saja. Saya ndak mau menambah beban mas Mario lewat surat terbuka yang sangat tidak jelas ini.

Semoga mas Mario senantiasa diberikan kesehatan, dan lolos dari hukuman (sumpah, saya kasihan sama ibu sampeyan mas). Dan semoga, kelak, Pak Jokowi berkenan untuk memberikan balasan atas aksi mas.

Iyaaaa, Saya pengin banget melihat Pak Jokowi ndompeng di roda pesawat dari Jakarta sampai ke Pekanbaru untuk bertemu mas Mario.

*Terbit pertama kali di Kolom Merdeka.com

jahe ginger zingiber officinale

Jahe (Zingiber officinale Rosc.) (foto dari buku )


Terus terang saya merasa ‘gemes’ banget dengan banyaknya informasi-informasi menyesatkan tentang budidaya jahe, termasuk PHP (Pemberi Harapan Palsu) yang banyak dilakukan oleh beberapa oknum yang menginginkan keuntungan sesaat. Awalnya saya tidak terlalu peduli dengan informasi-informasi ini. Tetapi ketika banyak cerita langsung yang disampaikan ke saya tentang modus-modus yang banyak dipakai oleh oknum-oknum itu, saya merasa perlu menyampaikan apa yang saya tahu. Komentar dan pendapat saya ini bisa saja tidak benar. Silahkan saja bagi pembaca yang ingin membantah dan menyampaikan argumen sebaliknya dari pendapat saya ini. Kita mencari kebenaran dan kemajuan pertanian jahe di Indonesia, tidak mencari menang kalah. Artikel ini melengkapi artikel sebelumnya: Panen jahe 20 kg per polybag mungkinkah?

Beberapa informasi yang menurut saya sangat menyesatkan antara lain adalah:
– Panen jahe per polybag bisa mencapai 10 kg, 20 kg, bahkan ada yang bilang 40 kg. Baik itu jahe gajah, jahe emprit, atau jahe merah.
– Panen jahe di ladang bisa sampai puluhan ton per ha.

Informasi-informasi menyesatkan ini disampaikan secara langsung oleh oknum marketing, lewat video di Youtube, lewat halaman website, bahkan ada yang dimuat di website resmi pemerintah.

Informasi ini dipakai untuk merayu orang agar mau melakukan budidaya jahe, karena tergiur keuntungan yang menabjubkan. Hitung-hitungannya pun sering kali sangat tidak masuk akal.
Contohnya, harga jual jahe gajah Rp. 8.500 kg, bahkan ada yang memberi informasi jahe merah/emprit sampai harga Rp. 20rb per kg.

Dikalikan saja dengan produksi jahenya:

1 polybag 20 kg, harga Rp. 20.000 = Rp. 400.000. Kalau punya 100 polybag kan sudah dapat uang Rp. 40jt. Menurut oknum-oknum itu modalnya per polybag cuma RP. 30.000. Keuntungannya RP. 400rb – Rp. 30rb = RP. 370rb per polybag.

Okelah misalnya pakai harga paling rendah RP. 8.500/kg. Omzet per polybagnya sudah bisa mencapai RP. 170rb, keuntungan Rp. 140rb per polybag.

Penanaman di ladang juga melakukan perhitungan yang menyesatkan. Misalnya:

Penanaman 1 ha dengan populasi 90.000 tanaman. Promosinya 1 rumpun bisa panen 1kg – 3 kg. Taruhlah pakai angka yang paling kecil 1 kg per rumpun. Produksi per ha-nya kan sudah bisa mencapai 90 ton. Dikalikan dengan harga per kg Rp. 8.500, omzetnya bisa dapat Rp. 765jt. Siapa yang tidak tergiur dengan angka seheboh ini.

Ada juga hitung-hitungan yang saya lihat di YouTube seperti ini:
– Produksi jehe per 25m2 sebanyak 300 kg. Ini ditunjukkan video dan testimoni oleh petaninya, agar pemirsa lebih yakin.
– Hitung-hitungan produksi per ha adalah: (10.000 m2/25 m2) x 300kg = 120 ton. SANGAT LUAR BIASA.
– Coba dikalikan dengan harga per kg Rp. 8.500 = Rp. 1.02 milyard. Siapa yang tidak ngiler dengan angka ini.

Biasanya oknum-oknum tersebut memberikan bukti berupa foto-foto, video, atau bahkan jahenya langsung dan ditimbang langsung.

Siapa yang tidak tergiur dengan iming-iming fantastis ini. Apalagi yang punya modal.

Sudah banyak korbannya. Realitanya hasil panen jahe tidak ada yang pernah sampai setinggi itu. Bahkan hasil-hasil paling top di negeri produsen jahe terbesar di dunia pun, China, tidak ada yang sampai setinggi itu (Baca: Hasil Penelitian TOP di China bisa produksi 88 ton jahe per ha). Ada petani yang menyampaikan ke saya jika panen ribuan polybag jahenya hanya dapat rata-rata 1,2 kg per polybag, bahkan per rumpunnya paling banter hanya dapat 300 gr. Miris sekali.

ASUMSI-ASUMSI DAN BUKTI-BUKTI YANG DIPAKAI ITU MENYESATKAN

Menurut saya, asumsi-asumsi dan bukti-bukti yang dipakai untuk melakukan perhitungan itu adalah SANGAT MENYESATKAN. Pertama, biasanya yang diambil hanyalah contoh-contoh yang bagus saja. Mungkin saja ada satu polybag yang satu rumpunnya bisa keluar sampai 1,5 kg. Ini cuma satu dua saja, dan itu saja kebetulan. Hasil ini lah yang difoto, dibuat video, ditimbang, dan ditunjukkan sebagai bukti untuk menarik orang.

Satu polybag tidak bisa digunakan untuk menarik kesimpulan. Ini kaidah statistik. Jadi jika satu polybag, 1m2 atau 25m2, belum bisa digunakan untuk mengeneralisir yang luas. Samplingnya harus mewakili populasi agar hasilnya tidak bias.

Untuk penanaman di lahan, satu rumpun rata-rata cuma dapat 300 gr.

TIDAK MUNGKIN HASIL PANEN JAHE BISA SETINGGI ITU

Ini argumen saya mengapa data-data dan hitungan-hitungan itu SANGAT MENYESATKAN. Sekali lagi, silahkan dibantah argumen saya ini.

Pertama

Secara genetik tidak ada jahe di Indonesia, atau bahkan di dunia yang potensi produksinya bisa setinggi itu. Potensi genetik ini adalah batasan dari ‘sono’nya. Kenyataan dilapangan tidak ada yang melebihi potensi ini, umumnya selalu di bawah potensi produksinya. Produksi jahe paling top yang pernah saya baca di China hanya pol di angka 88 ton per ha. Itu cuma dari satu jurnal. Jurnal-jurnal yang lain jauh di bawah itu, kebanyakan di bawah angka 60 ton per ha. Rata-ratanya di bawah lagi, 30-40 ton pe ha. Ini di China dan India, dua negra produsen jahe paling top di dunia.

Di Indonesia, menurut data dari BPS dan Deptan (Silahkan di googling sendiri), produksi di lapangan yang paling bagus adalah 27 ton per ha, ada yang melaporkan sampai 30 ton per ha. Menurut Balitro, potensi produksinya kurang lebih 35 ton per ha untuk jahe gajah. Jahe emprit dan jahe merah cuma 1/3 sampai 1/2-nya saja. Di Indoensia belum ada varietas jahe yang potensi produksinya sangat-sangat tinggi melebihi potensi produksi varietas jahe dari China atau India.

Mengapa angka-angka itu menyesatkan? Karena kalau dihitung potensi produksinya akan jauh di atas angka-angka potensi produksi jahenya. Misalkan saja, untuk produksi jahe 20 kg per polybag. Kalau dikalikan per ha, kurang lebih setara dengan 120 ton per ha. Kalau ada yang bilang satu tunas satu polybag bisa keluar 10 kg, berarti satu hanya hampir 200 ton. INI MUSTAHIL.

Petani-petani yang sudah beberapa kali panen dengan sistem polybag menyampaikan jika satu polybag bisa dapat 3 kg sudah bagus sekali. Kalau bisa dapat 5 kg per polybag masih bisa dinalar, karena per hanya sekitar 30 ton. NORMAL. Kebanyakan petani mengeluhkan jika per polybag cuma dapat 1,2 kg atau bahkan ada yang kurang dari 1 kg.

Kedua

Produksi jahe bisa diperkirakan dari hara yang diserap oleh tanaman jahe sampai produksi. Sudah banyak penelitian yang menghitung berapa banyaknya hara tanaman yang dibutuhkan untuk panen 1000 rimpang jahe segar. Silahkan baca di link ini: Pola Makan Tanaman Jahe. Bisa dihitung kok berapa kebutuhan hara NPK untuk bisa panen 10 kg, 20 kg per polybag atau 120 ton per ha. Ini baru kebutuhan, belum aplikasi riil di lapangan. Laporan di China, untuk bisa panen 50 ton per ha, dibutuhkan pupuk urea sebanyak 1 ton. Buanyak banget kan.

Nah, kalau dihitung jumlah hara yang terkandung di dalam media tanam jahe, plus pupuk cair yang disemprotkan ke tanaman jahe, nilainya jauh di bawah jahe yang bisa dipanen. Hara NPK yang ada di dalam media tanam tidak bisa seluruhnya diserap oleh tanaman jahe, hanya sebagian kecil saja. JADI SANGAT TIDAK MUNGKIN SATU POLYBAG UKURAN 60 CM X 60 CM BISA PANEN 20 KG.

Ketiga

Masalah hama dan penyakit jahe. Budidaya semua tanaman tidak ada yang bisa bebas dari serangan hama dan penyakit. Apalagi jahe gajah adalah tanaman jahe yang sangat rentan terhadap serangan penyakit, terutama penyakit bercak daun dan busuk rimpang. Lebih-lebih budidaya jahe gajah tidak bisa menggunakan pestisida kimia. Serangan hama dan penyakit menjadi salah satu tantangan terberat petani jahe, khususnya jahe gajah. Serangan hama dan penyakit ini bisa membuat gagal panen atau mengecilkan produksi jahe.

HASIL PANEN YANG WAJA

Hasil penen jahe yang wajar menurut saya adalah 20-30 ton per ha untuk jahe gajah. Untuk jahe merah dan jahe emprit dapat 10 – 15 ton per ha sudah bagus.

Hasil panen per polybag untuk jahe gajah dapat 3 kg sudah bagus, kalau bisa dapat 5 kg per polybag perlu upaya keras dan pemupukan yang baik, selain bebas hama dan penyakit. Hasil panen jahe kecil (merah dan emprit) dapat 1,3 kg sudah bagus.

Dari angka-angka ini, petani jahe bisa menghitung berapa potensi pendapatannya dengan harga pasar yang wajar. Petani jahe juga bisa mengatur pengeluaran biaya-biaya untuk budidaya jahe ini.

SALAM JAHE.


HachikoKisah anjing yang paling legenda barangkali adalah anjing yang bersama dengan beberapa para pemuda yang diasingkan Tuhan dalam sebuah goa selama berabad-abad. Mereka tidur sangat panjang namun tidak merasakan waktu yang panjang tersebut, termasuk pula si anjing peliharaan mereka. Karena tidur karib bersama anjing di dalam goa, maka para pemuda tersebut kemudian mendapat julukan sebagai ashabul kahfi. Betapa seekor anjing bisa sangat setia kepada orang-orang terdekatnya. Konon pula menurut sohibul hikayat, anjing tersebut kelak juga akan masuk ke surga menemani para pemuda sholeh tersebut.

Ada pula kisah mengenai anjing lain yang juga dimuliakan Tuhan. Konon ada seekor anjing yang kehausan di tengah gurun padang pasir. Hawa panas dan terik sinar matahari sudah tentu menjadikan anjing tersebut sangat kehausan. Ketika dilihatkan ada sebuah sumur tua di tepian jalan, anjing tersebut tanpa berpikir panjang langsung menerjang ember yang ada di bibir sumur. Celakanya ember tersebut tidak dapat menahan berat tubuh si anjing sehingga anjing tersebut terperosok dan jatuh ke dalam sumur.

Tak berselang waktu lama, lewatlah di jalan dekat sumur tersebut seorang perempuan pelacur. Karena ia juga didera rasa kehausan yang teramat sangat, maka iapun mendekati sumur tua dan bermaksud menimba air untuk melepaskan rasa dahaganya. Ketika mengangkat tiba dan memasukkan ember ke dalam sumur, barulah ia sadar ternyata ia melihat sesosok makhluk menggapai-gapai permukaan air di dalam sumur yang cukup dalam. Melihat anjing yang hampir tenggelam di dasar sumur tersebut, jatuhlah rasa iba si perempuan pelacur tersebut.

Dengan segenap tenaga si perempuan pelacur berusaha menyelamatkan aning yang tercebur ke dalam sumur. Dengan berbagai cara ia benar-ebanr berusaha, bahkan tanpa terasa setelah sekian lama barulah ia berhasil menyelamatkan si anjing malang. Sebegitu bersungguh-sungguh mengerahkan segala daya upayanya, sampai-sampai perempuan pelacur tersebut sudah lupa akan rasa hausnya dan niatannya untuk menimba air guna diminumnya.

Setelah si anjing berhasil diangkatnya ke atas, segera ia mengeringkan bulu basah si anjing dengan kain yang dikenakannya. Beberapa saat setelah selesai, barulah ia sadar bahwa dirinya sangatlah haus dan keletihan karena berusaha menolong si anjing malang. Rasa kehausan yang teramat sangat ternyata menjadikan perempuan tersebut kehilangan kesadaran diri, bahkan hingga menemui ajalnya. Konon para malaikan menjadi saksi bahwa segala dosa-dosa selama menjalani dunia hitamnya terhapus lunas oleh kabaikannya yang tulus ikhlas menolong si anjing malang yang tersebur ke dalam sumur. Bahkan ia mengabaikan kepentingan dirinya sendiri hingga menemui ajalnya. Maka ke surgalah kelak perempuan itu kembali.

Kenapa tiba-tiba menulis tentang anjing? Bersamaan waktu menulis ini sebenarnya saya tengah secara tidak sengaja menyimak sebuah film cerita yang mengisahkan persahabatan abadi antara seorang manusia dan seekor anjing. Adalah Ricard Gere yang berperan sebagai seorang profesor di sebuah perguruan tinggi pada suatu kota kecil. Dari seorang Jepang sahabatnya ia mendapatkan hadiah seekor anjing. Anjing yang selanjutnya dinamai Hachi tersebut dipeliharanya baik-baik dan penuh kasih sayang. Akhirnya terjalinlah hubungan “istimewa” bagaikan dua sahabat karib yang setia sehidup-semati, susah-senang selalu dilalui bersama-sama.

Saking setianya Hachi kepada majikannya, setiap kali berangkat kerja Hachi selalu mengantarkan majikannya hingga di depan stasiun kereta. Demikian halnya pada saat sang profesor pulang kerja di kala senja, Hachi sudah menunggu penuh gelisah di seberang jalan muka stasiun. Hubungan sang profesor dengan Hachi sudah melebihi hubungan antar manusia. Orang-orang di sekitar stasiunpun lambat laun hafal dan memahmi kebiasaan Hachi tersebut. Merekapun lama-kelamaan juga turut menyayangi Hachi.

Tanpa sebab-musabab yang terkisahkan secara gamblang, sang profesor majikan Hachi meninggal dunia di tengah kelas pada saat memberikan kuliah kepada para mahasiswanya. Kepergian sang profesor tentu saja membawa rasa kepedihan bagi keluarga, para tetangga dan mahasiswa di kampusnya. Hal yang sama juga justru paling dirasakan oleh Hachi. Meskipun sang profesor telah pergi untuk selamanya, namun kebiasaan Hachi mengantar profesor ke stasiun di pagi hari dan menjemput profesor di sore hari tidak berubah sama sekali seolah-olah majikannya masih hidup.

Pada awalnya orang-orang di sekitar stasiun merasa iba terhadap Hachi. Namun sikap keras dan tak mau menyerahnya Hachi membuat orang-orang tersebut memahami apa yang diinginkan dan dirasakan Hachi. Akhirnya mereka membiarkan saja Hachi tetap menunggu seseorang yang sudah tidak bisa lagi untuk pergi dan tidak bisa lagi untuk kembali. Hachi tetap terus melakukan kebiasaannya tersebut hingga uzur usianya dan akhirnya ia meninggal dalam posisi menunggu sang profesor di seberang muka stasiun kereta. Kejadian tersebut berlangsung pada tahun 1934.

Jadilah Hachi ikon legenda kesetiaan yang tanpa batas. Meskipun ia seekor anjing, namun sikap dan sifatnya telah menjadikannya menjadi anjing terhormat yang dikenang sepanjang masa bahkan selang waktu lama setelah ia turut pergi menyusul majikannya. Hachi kemudian diabadikan dalam wujud sesosok patung yang berdiri setia di depan area stasiun Shibuya di salah satu titik Kota Tokyo.

Kisah Hachiko si anjing setia merupakan kisah nyata. Kisahnya sangat melegenda dan bagi masyarakat Jepang seolah telah menjadi mitos sejarah yang teramat dalam tertanam di hati sanubari mereka. Legenda anjing Hachiko seolah sejajar dengan anjing sahabat para ashabul kahfi dan anjing yang mengangkat derajat pelacur dari lembah dosa. Maka jangan sekali-kali kita membenci makhluk Tuhan yang satu ini karena ia diciptakan Tuhan pasti dengan maksud dan tujuan yang penuh mutiara hikmah. Jadilah kita sebagai ashabul kipit, ashabul kirik kecepit, para sahabat anjing yang kejepit keruwetan jaman edan ini.


Filed under: Jagad Raya Tagged: anjing Hachiko, jembatan rel, stasiun Shibuya

jahe ginger zingiber officinale

Jahe (Zingiber officinale Rosc.) (foto dari Wikipedia, buku Kohler)

Jahe adalah salah satu bumbu/remah2 yang paling penting dan paling banyak digunakan di seluruh dunia. Tanaman jahe tersebar mulai dari daerah tropis hingga daerah sub tropis. Pada masa lalu, jahe lebih dihargai sebagai tanaman obat dan menjadi salah satu bahan penting dalam pengombatan di China dan India. Di Eropa, jahe juga merupakan obat karminative ringan yang paling berharga dan menjadi komponen dari banyak sediaan farmasi.

Jahe atau dalam bahasa Ingris disebut Ginger, secara botani dikenal dengan nama Zingiber officinale Rosc. Zingiber officinale Rosc termasuk dalam famili Zingiberaceae. Nama latin zingiber kemungkinan berasal dari bahasa Tamil kuno (India) akar, ingiver, yang berarti rimpang jahe (Ravindran dan Babu, 2005). Penulis lain menduga zingiber berasal dari bahasa Sangsekerta singavera (Watt, 1872; Rosengarten, 1969; Purseglove et al., 1982), yang berarti tanduk, karena bentuk rimpang jahe yang cercabang-cabang seperti tanduk rusa. Kata officinale berasal dari bahasa latin (officina) yang berarti digunakan dalam farmasi atau pengombatan (Johson, 1981).

Jahe melalui saudagar-saudagar dari Arab, jahe menyebar ke Yunani dan Roma, dan dari sini menyebar ke Eropa Barat.

—– lanjut lagi lain waktu —–


Tulisan ini merupakan tulisan kedua mengenai aktivitas kreatif yang rutin digelar di markas Komunitas Kandank Jurank Doank milik Dik Doank di kawasan Jurangmangu. Salah satu kegiatan pengembangan seni yang dilaksanakan di Kandank Jurank adalah workshop seni lukis. Acara ini digelar secara terbuka di tengah pelataran setiap Ahad Pagi. Hangat sinar mentari pagi diiringi dengan kicauan burung dengan terpaan hembusan angin sawah sangat cocok sebagai sarana pengantar penggalian ide kreatif yang dapat dituangkan melalui karya seni lukis.

Minggu pagi di pertengahan April ini sebenarnya tidaklah dirancang secara khusus untuk menyambangi Kandank Jurank. Akan tetapi tanpa angin, tanpa hujan, senja hari sebelumnya tiba-tiba terbetik ide untuk angon bocah-bocah ke tempat Mas Dik tersebut. Akhirnya jadilah minggu pagi itu si Ponang dan Genduk bangun lebih pagi dengan semangat menyambangi Jurangmangu. Kepergian kali ini merupakan ke dua kalinya untuk si Ponang, adapun Genduk baru pertama kali turut jalan minggu pagi yang cukup jauh.

Ketika tiba di Kandank Jurank, nampak sebuah kesibukan persiapan suatu acara. Bersamaan dengan kedatangan kami, nampak pula rombongan ibu-ibu berkerudung juga tengah tiba. Di pelataran utama sisi depan teras sanggar, sudah tertata panggung sederhana dengan segala kelengkapan sound sistemnya. Bahkan sepagi itu, Mas Dik sudah siap di depan mikrofon dan memberikan ungkapan sambutan kepada para hadirin yang mulai hadir mengalir.

Sementara di sudut lapangan futsal, nampak serombongan anak-anak berbaju polos putih-putih dengan sabuk khas di pinggang mereka. Mereka rupanya serombongan murid-murid beladiri dari sebuah perguruan karate. Di panggung bawah kenari nampak pula rombongan berbaju biru muda yang merupakan para karyawan dari sebuah bank swasta.

Menjelang pukul delapan pagi, hadirin berkumpul duduk lesehan di sisi timur dan utara lapangan rumput untuk segera memulai acara. Acara workshop melukis pagi itu sangat istimewa karena akan mengetengahkan sesi melukis dengan cat air. Sebuah gaya melukis yang cukup unik dan sulit mengingat dibutuhkan ketelitian dan kesabaran yang ekstra tinggi untuk melakukannya. Lebih menarik lagi sesi tersebut langsung dipandu oleh para pelukis yang tergabung dalam Ikatan Pelukis Wanita Indonesia.

Di sesi awal, dengan panduan acara secara langsung oleh Mas Dik, tampil Ibu Tio yang sudah berusia 70-an tahun namun masih sangat gesit menarikan kuas cat airnya di atas kertas putih. Sambil memberikan arahan dan tips-tips dalam melukis, ibu penggerak IPWI tersebut terus melukis. Posisi lukisan cat air yang harus senantiasa mendatar untuk menghindari lelehan cat air yang belum kering tidak menyusutkan perhatian para hadirin yang duduk di bawah dan tidak dapat melihat secara langsung proses kreatif yang sedang dilakukan Ibu Tion. Namun demikian, sesekali dengan sangat cepat lukisan yang sedang diproses tersebut diperluhatkan juga kepada hadirin.

Setelah banyak arahan melukis menggunakan cat air dibahas, tibalah saatnya hadirin semua mempraktikan diri untuk melukis. Masing-masing peserta diberikan selembar kertas gambar dan sebuah alas tempat melukis. Tema lukisan tidak ditentukan alias bebas sekehendak hati pelukisnya. Demikian halnya, karena keterbatasan sarana cat air, hadirin justru dibebaskan untuk melukis dengan pewarna krayon maupun spidol.

Sambil terus santai mendengarkan obrolan ringan yang dilontarkan Mas Dik, anak-anak yang berkelompok 5-6 orang terus antusias menggoreskan pensil, spidol atau krayonnya. Ada yang melukis sebuah rumah. Ada yang menggambar ikan di dasar laut dengan segala flora faunanya. Ada yang menggambar kucing. Ada yang menggambar stasiun kereta api listrik lengkap dengan sarana parkir dan beberapa minimarket di sekitarnya.

Si Ponang yang pada awalnya masih sangat malu-malu untuk bergabung dengan teman-teman sebayanya yang lain lambat laut asyik juga terhanyut dalam keseriusan penyelesaian gambarnya. Sebagaimana biasanya, gambar yang dibuat si Ponang menampilkan kesatuan gambar detail yang sarat dengan cerita stasiun versinya sendiri. Maka pada saat waktu menggambar hampir habis, gambar stasiun yang diinginkannya belum selesai dengan tuntas. Beberapa bagian sudah sempat diwarnai dengan krayon, akan tetapi sebagian yang lain msaih menampilkan corak kertas putih polos. Namun demikian, saat gambar  harus dikumpulkan si Ponangpun rela menyerahkannya kepada para juri.

Meskipun tidak meraih juara menggambar di pagi itu, mudah-mudah si Ponang dan Genduk bisa mulai paham untuk mengaktualisasikan kreativitas seni mereka dengan caranya masing-masing. Di samping itu suasana Kandank Jurank yang ramai dengan anak-anak yang hadir juga mampu memberikan kepercayaan diri untuk mencari dan memperbanyak jaringan pertemanan di antara anak-anak yang masih polos dan suci dari dosa-dosa duniawi.

Setelah hampri setengah hari kami menghabiskan waktu di Kandank Jurank, kamipun mengakhiri kunjungan tersebut dengan bersantap mie ayam sambil duduk santai di meja kursi kayu yang meski sederhana tetapi tertata dengan sentuhan seni yang tinggi dan menyentuh hati. Akhirnya kamipun pulang dengan seulas senyum di bibir kami masing-masing. Meski tidak berjanji, si Ponang dan Genduk nampak ingin suatu saat kembali bisa melukis di Kandank Jurank.

Lor Kedhaton, 13 April 2015


Filed under: Jagad Budaya Tagged: Dik Doank, Ikatan Pelukis Wanita Indonesia, Kandank Jurank Doank, melukis, menggambar

produksi jahe gajah 88 ton/ha

Penelitian intensif tentang jahe di China bisa menghasilkan produksi hingga 88 ton/ha

Sebuah penelitian di China oleh Dong et al. (2009) dari Horticulture Science and Engineering,Shandong Agricultural University menemukan bahwa penggunaan kompos dari jerami jagung (corn straw) ternyata dapat menghasilkan produktivitas jahe yang tinggi, 82,5 ton/ha. Berbagai macam kompos bisa digunakan, termasuk kompos dari kotoran ternak atau pupuk kandang, dan kompos daun-daunan. Faktor terpenting dari kompos yang menentukan produktivitas tanaman jahe adalah ketersediaan NPK-nya.

Hara utama tanaman jahe adalan N (Nitrogen), P (fosfat) dan K (kalium). Umumnya ketersediaan NPK di tanah adalah sangat rendah, hanya beberapa mg per kg tanah. Sebagian besar hara mineral yang terdapat di dalam kompos juga terikan secara organik, sehingga tidak mudah tersedia bagi tanaman. Agar aplikasi kompos bisa menghasilkan produktivitas yang tinggi, menurut Dong et al (2009) yang paling penting adalah ketersediaan NPK-nya ini. Ketersediaan NPK yang bagus menurut Dong et al (2009) adalah 2588 dan 1468 mg/kg. Ketersediaan ini lebih dari seribu kali tanah biasa.

Bahan organik yang masih ‘mentah’, entah itu kotoran ternak, bokashi, daun-daunan, jerami, dll, ketersediaan NPK-nya sangat rendah atau bahkan tidak tersedia bagi tanaman. Hara NPK ini terikan secara organik. Agar NPK ini bisa tersedia bagi tanaman perlu dikomposkan terlebih dahulu. Proses pengomposan akan mengurai dan memecah bahan organik, sehingga NPK menjadi lebih tersedia bagi tanaman. Pengomposan ini harus benar-benar ‘matang’ sehingga hara NPK benar-benar tersedia bagi tanaman.

Hasil penelitian Dong et al (2009) menunjukkan hasil yang sangat spektakuler menurut saya. Karena produktivitas jahenya bisa mencapai: 82,5 ton/ha.

dong et al


Literatur di bawah ini adalah buktu ilmiah penggunaan biokontrol Trichoderma sp untuk mencegah serangan penyakit busuk rimpang pada jahe gajah, jahe merah dan jahe emprit. Artikel ini melengkapi artikel sebelumnya: Bukti Ilmiah Aplikasi Trichoderma sp pada Jahe.

Promi mengandung beberapa spesies Trichoderma sp. Trichoderma ini berperan sebagai agensia hayati yang menyerang jamur-jamur penyebab penyakit tular tanah. Aplikasi Promi pada media tanam jahe bisa mencegah dan mengurangi serangan penyakit busuk rimpang jahe.


Baca juga:
Bukti Ilmiah Trichoderma sp untuk Mengatasi Penyakit Jahe – Bagian 1
Peningkatkan Pertumbuhan Jahe dengan Mikroba Trichoderma spp
Aplikasi Trichoderma harzianum dan Aspergillus sp pada Tanaman
PETUNJUK APLIKASI PROMI UNTUK MEDIA TANAM JAHE
Panduan Aplikasi Aktivator Promi untuk Media Tanam Jahe
Panduan Aplikasi Pupuk Anorganik Khusus Jahe


View this document on Scribd

pola serapan hara mineral pupuk oleh tanaman jahe

Pola serapan hara mineral (pupuk) oleh tanaman jahe. (Gambar dari buku Ginger The Genus of Zingiber

Salah satu unsur hara yang sangat dibutuhkan oleh tanaman jahe adalah Ca dan Mg, selain hara K, N, dan P. Bahkan kebutuhan hara Ca dan Mg ini lebih besar daripada hara P, seperti yang terlihat pada grafik serapan hara di atas. (Baca juga: Pola dan Kebutuhan Pupuk Tanaman Jahe). Meski kebutuhannya tidak sebanyak hara K, namun kebutuhan hara ini cukup banyak dan perlu mendapatkan perhatian bagi petani jahe.


Panduan aplikasi pupuk anorganik khusus jahe
Pupuk Organik.Cair Khusus Jahe
Aplikasi hormon atau ZPT (zat pengatur tumbuh) Giberelin untuk meningkatkan produktivitas jahe


Meski kebutuhannya cukup besar, hara Ca dan Mg ini tidak banyak mendapatkan perhatian. Beberapa petunjuk budidaya jahe yang saya dapatkan jarang sekali menambahkan hara Ca dan Mg sebagai pupuk tanambahan untuk tanaman jahe (Silahkan baca di artikel ini: Pemupukan pada tanaman jahe). Pupuk yang dianjurkan hanyalah kompos/pupuk kandang, urea atau ZA, KCl dan SP36.

Ca dan Mg memang cukup banyak tersedia di tanah, terutama di daerah-daerah yang banyak mengandung kapur seperti di Gunung Kidul, Pacitan, dan beberapa tempat lainnya. Mengingat kebutuhannya yang cukup besar, untuk daerah-daerah lain yang tidak banyak mengandung kapur perlu ditambahkan pupuk Ca dan Mg. Beberapa pupuk mineral alami maupun anorganik bisa digunakan sebagai sumber Ca dan Mg, antara lain: dolomite (Ca dan Mg), kaptan (Ca), kieserite (Mg), kalsium nitrat (Ca dan N), atau magnesium sulfat (Mg).

dolomite Mg dan Ca jahe

Dolomite yang kaya akan mineral Ca dan Mg, sangat diperlukan untuk tanaman jahe.

Menurut saya, dolomite adalah pilihan yang tepat. Dolomit kaya akan Ca dan Mg, selain itu dolomit adalah mineral alami.(Baca artikel: Media Tanam Jahe: Dolomit. Kandungan hara dalam dolomit kurang lebih adalah 30% CaO dan 20% MgO.

Penambahan dolomit ke dalam media tanam tidak terlalu besar. Berdasarkan data kebutuhan hara dari Kun et al (1999), per 1000 kg jahe membutuhkan kurang lebih 1,3 kg Ca dan Mg atau kurang lebih setara dengan 6 kg dolimit. Jika diperhitungkan dengan efisiensinya, kebutuhan dolomit per polybag media tanam cukup dengan <100 gr saja.


SMA Tidar, begitu khalayak menyebut SMA ini. SMA yang dirintis oleh Mayjen Sarwo Edhie Wibowo ini berlokasi di dalam kompleks perumahan akademi militer Panca Arga. Kendati SMA ini sekarang secara resmi sudah berubah nama menjadi SMA Negeri 1 Mertoyudan, namun para siswa maupun lulusannya lebih senang menyebutnya tetap sebagai SMA Tidar. Terkesan lebih eksklusif dan flamboyan (jarene).



Tahun 2006, saya masih lucu-lucunya, masih benar-benar suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Di tahun tersebut, saya lulus dari SMP Negeri 7 Magelang. Kelulusan ini kelak akan menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan hidup saya.

Lulus dari SMP adalah dilema hidup dan pergulatan batin yang maha dahsyat. Karena disitulah muncul sebuah pilihan penting bagi setiap lulusan SMP di manapun berada: Ingin melanjutkan ke SMK, atau ke SMA. Saya mengambil opsi yang pertama, melanjutkan ke SMK. Alasannya klasik, saya teracuni oleh jargon klise bahwa kalau lulus SMK, pasti bakal langsung siap kerja.

Saya pun lantas mendaftar ke SMK Negeri 1 Magelang, SMK yang konon adalah SMK terbaik di kota sejuta bunga, SMK yang ndilalah lokasinya hanya sak udutan dari kampung saya.

Tapi nasib memang berkata lain. Perjuangan saya masuk SMK Negeri 1 Magelang ini harus berhenti di tengah jalan.

Saya harus terdepak dari SMK yang lebih dikenal sebagai SMK Cawang ini. Alasannya sungguh tak dapat diterima oleh perasaan dan nurani: Tinggi Badan. Ya, dulu saya tak lolos tes pengukuran tinggi badan. Tinggi saya waktu itu hanya 150 cm lebih dikit (lebih pendek dari seorang Hobbit sekalipun). Waktu itu, saya benar-benar masih imut, imut dalam arti yang sesungguhnya.

Bapak saya kemudian menyarankan saya untuk mendaftar ke SMK lain, tapi saya sudah kadung mutung.

Di tengah kemutungan saya, bapak mencoba menyarankan saya untuk mendaftar ke MAN (Madrasah Aliyah Negeri). Saran yang justru semakin membuat saya tambah mutung. Bayangkan, sewaktu di SMP saja, saya pernah harus sebegitu bersusah-payah hanya untuk bisa menghafalkan 10 surat pendek, lha mosok sekarang harus masuk MAN, yang notabene bakal penuh dengan hafalan ilmu fikih dan hadits. Bodhol bakule slondok.

“Yo, MAN rapopo, tapi pa'e wae sing sekolah, ojo aku,” kata saya kepada bapak.

Di menit-menit krusial, akhirnya saya melabuhkan formulir pendaftaran di SMA Tidar. Mungkin sebagai pelampiasan atas didepaknya saya dari SMK Cawang, Karena ndilalah lagi, lokasi SMA Tidar juga sama-sama sak udutan dari kampung saya.

***

Saya akhirnya diterima di SMA Tidar. Lagi-lagi, ini menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan hidup saya. Selepas diterima di SMA Tidar, saya langsung mempunyai firasat, bahwa kehidupan saya akan semakin asyik dan bakal penuh dengan gairah.

Firasat saya agaknya mulai benar.

Di hari pertama saya masuk sekolah (tepatnya saat MOS), saya langsung menjadi pusat perhatian. Bukan... bukan, bukan karena pesona saya yang sedemikian cemerlang, namun karena sebuah peristiwa heboh yang terjadi saat pembagian kelas.

Rupanya yang namanya Agus Mulyadi bukan hanya saya. Bedebah, Ternyata ada satu cecunguk lain yang namanya sama-sama Agus Mulyadi. Lebih bedebah lagi, ternyata ia tetangga desa, Jangkrik.

Pembagian kelas pun akhirnya berlangsung dengan sedikit balutan perang urat syaraf.

Nama Agus Mulyadi masuk di dua kelas yang berbeda, yakni X-4 dan X-6. Nah, Permasalahannya adalah: Agus Mulyadi mana yang masuk X-4 dan Agus Mulyadi mana yang masuk X-6. Kalau saya pribadi sih lebih memilih untuk masuk di X-4, karena feeling saya mengatakan, X-4 lebih asoy ketimbang X-6. Feeling perjaka yang baru saja masuk SMA biasanya ciamik.

Ndilalah, si Agus Mulyadi jilid 2 nampaknya juga menginginkan kelas tersebut.

Maka, gesekan kecil pun lantas tak terhindarkan.

“Bapakmu ki ra kreatif, nduwe jeneng kok madan-madani!” umpat saya pada si Agus Mulyadi jilid 2

“Lha, aku ro kowe ki luwih tuwo aku ju, berarti bapakmu sing ora kreatif,” balasnya skak-mat.

Apakah saya menyerah? ooooh, tentu tidak, bukan Agus Mulyadi (jilid 1) namanya kalau langsung tumbang hanya karena skak-mat murahan seperti itu. Saya masih punya segudang argumen defensif yang lebih dari cukup kalau hanya untuk meladeni debat kusir dengan si Agus Mulyadi jilid 2.

“Lha aku jenenge Agus ki le mergo lahir bulan agustus, lha nek kowe kan lahire ora bulan agustus, dadi kowe ki ra nduwe landasan batin sing kuat, intine aku luwih otoritatif lan luwih berhak!”, balas saya defensif.

“Ah prek ndes!” timpalnya kesal. Agaknya ia mulai terpojok. Hahaha, kalah dia.

Urusan soal nama ini akhirnya selesai dengan cara yang agak unik. Saya dan dia akhirnya menentukan pembagian kelas dengan suit alias pingsut. Dan bisa ditebak, saya lagi-lagi menang: saya jentik (kelingking), dia jempol. Jari saya rupanya masih cukup tokcer dan bertuah. Jadilah saya akhirnya masuk kelas X-4.

***

Masalah transportasi menjadi masalah utama saya di awal-awal masa sekolah.

Walaupun dekat, namun untuk berjalan kaki ke sekolah rupanya cukup menyita waktu dan tenaga. Terlebih waktu itu, saya belum punya motor. Mau nebeng juga belum punya kenalan. Akhirnya, andong pun menjadi pelampiasan.

Pertama kali saya naik andong, saya langsung dipersilahkan untuk duduk di samping pak Kusir. Saya tadinya mengira, itu adalah sebuah penghormatan. Sial, ternyata saya terlalu ge-er. Rupanya memang sudah menjadi aturan baku di kalangan driver andong, bahwa penumpang laki-laki wajib duduk di kursi depan, di samping pak Kusir.

Duduk di kursi depan tentu menjadi pengalaman baru yang menarik dan menyenangkan. Senada dengan salah satu lirik lagu anak-anak legendaris: "Naik Delman istimewa ku duduk di muka, ku duduk samping pak kusir yang sedang bekerja".

Tapi seiring berjalannya waktu, duduk di samping pak kusir ternyata tak selamanya menyenangkan. Bayangkan, di pagi yang indah, sampeyan harus duduk dengan lutut yang ditekuk sedemikian sempit, ditambah dengan pemandangan pantat kuda di depan sampeyan. Tentu bukan pemandangan ideal untuk anak muda yang baru puber.

Perlu sampeyan tahu, Seseksi dan sesemok apapun kuda tersebut, pantatnya tetaplah pantat kuda, pantat yang jauh dari erotis dan sangat tidak menggairahkan.

Duduk persis di belakang pantat kuda semakin terasa sangat menyebalkan. Terlebih jika sampeyan harus rela sesekali terkena kibasan ekor kuda yang baunya sangat tidak sedap itu. Kita semua tahu, ekor kuda tak pernah terkena sentuhan busa Rejoice atau Emeron. Jadi jangan harap sampeyan bakal mencium aroma jasmin atau levender dari ekor kuda yang menyapa hidung sampeyan.

Saya hanya betah naik andong kurang dari seminggu. Selebihnya, saya lebih memilih untuk berjalan kaki.

Seiring dengan bertambahnya kenalan, Intensitas jalan kaki saya semakin berkurang, karena setiap kali saya menunggu di depan gerbang perumahan Panca Arga, biasanya ada saja kawan satu kelas yang menawari saya tebengan (atau lebih tepatnya: saya memang sengaja menunggu tebengan).

Masalah transportasi pun akhirnya terpecahkan dengan sangat cantik dan elegan. Sungguh rezeki anak sholeh.

***

Bersekolah di SMA Tidar rupanya memunculkan sebuah sekuritas yang maha tinggi. SMA ini bisa dibilang menjadi salah satu SMA paling aman. Saya katakan aman karena hampir tak ada SMA atau SMK lain yang berani nglurug (menyerang) SMA ini. Bagaimana mau nyerang, Lha wong lokasinya saja berada di dalam kompleks perumahan akademi militer je. Hanya siswa SMK Khilaf saja yang mungkin punya niat untuk menyerang SMA ini.

Hal ini bukan omong kosong.

Pernah suatu ketika, serombongan siswa dari salah satu sekolah swasta di Magelang mencoba nglurug SMA Tidar. Hasilnya sudah bisa ditebak: gagal total.

Serombongan siswa khilaf tersebut tumbang di langkah awal oleh hadangan PM (Polisi Militer). Para siswa tersebut langsung kocar-kacir tak berkutik dengan bentakan sang PM. Saya tak heran, karena Se-gentho-gentho-nya anak SMK, tentu bakal ciut nyalinya kalau harus berhadapan dengan Polisi Militer yang kepalan tangannya saja segedhe toples lebaran.

Pepatah klasik mengatakan: "Pemenang sejati bukanlah dia yang mengalahkan musuhnya di medan perang, Pemenang sejati adalah dia yang mampu menghindari perang demi kemaslahatan".

Pepatah ini agaknya cocok ditujukan untuk anak-anak SMA Tidar.

***

Sewaktu kelas satu, ada sebuah peristiwa yang begitu terkenang.

Saya sedang duduk-duduk di beranda kelas, saat tiba-tiba, seorang guru menarik saya dan menggelandang saya ke kantor guru. “salah saya apa pak?” tanya saya dengan wajah yang ketakutan. “wis, teko melu”, jawabnya tegas.

Sesampainya di kantor guru, saya kemudian disuruh duduk di kursi pendek di pojokan kantor. Sebentar memang, tapi waktu yang sebentar itu terasa sangat lama sekali bagi saya.

Si guru tadi kemudian mengundang beberapa guru lainnya. Dan dengan sangat tidak terduga, beliau mengucapkan “Selamat Ulang tahun, gus”, yang diikuti oleh guru-guru lainnya.

Terlalu sulit untuk tidak sentimentil. Saya sendiri bahkan tidak tahu kalau hari itu adalah hari ulang tahun saya. Ingin rasanya saya tidak menangis, tapi ternyata sulit. Air mata saya akhirnya mengalir dengan sebegitu deras. Bendungan berkedok "laki-laki tidak boleh menangis" pun akhirnya jebol juga.

Itulah kali pertama bagi saya diberikan ucapan selamat ulang tahun tanpa saya harus memberitahukan hari ulang tahun saya. Waktu itu belum jamannya facebook. Friendster pun belum sedemikian cemerlang. Jadi selamat ulang tahun masih menjadi ucapan yang terlalu klenik dan mewah.

Belakangan saya dengar kabar (entah benar entah tidak), kalau guru yang menggelandang saya itu kini sudah pindah dari SMA Tidar dan kini menjadi kepala sekolah.

***

Belajar di SMA Tidar benar-benar memberikan sensasi tersendiri bagi segenap siswanya. Betapa tidak, seminggu sekali, pada hari jumat, para siswa akan belajar di bawah naungan suara desingan peluru. Suara tersebut tak lain dan tak bukan adalah suara riuh latihan perang yang diselenggarakan oleh akademi militer.

Hari Jumat memang menjadi hari wajib latihan militer di lapangan tembak yang lokasinya memang tak jauh dari kampus SMA Tidar. Jadi jangan heran kalau setiap jumat, suara senapan sahut-menyahut sedari pagi, bahkan sesekali diselingi suara dentum ledakan. Awesome sekali.

Ini sensasi baru dalam kegiatan belajar-mengajar. Bagaikan bersekolah di daerah konflik, namun tetap aman-sentosa dan tak khawatir bakal kena mortir atau peluru nyasar.

***

Jam kosong adalah surga bagi saya. Saya tak pernah menghabiskan waktu jam kosong di kantin seperti kebanyakan siswa. Saya biasanya menghabiskan waktu jam kosong dengan bermain ping-pong di aula bersama kawan-kawan dekat saya: Sentiko, Anugrah, dan Dicky.

Kami berempat benar-benar keranjingan ping-pong, terutama Saya dan Sentiko. Saya dan Sentiko bahkan pernah suatu kali masuk ke gudang gereja POUK (Persekutuan Oikumene Umat Kristen) ─salah satu gereje kristen di kompleks Panca Arga─ di malam hari hanya untuk bermain ping-pong. Kami bermain dari jam 10 malam sampai lepas dini hari. Permainan bisa saja baru akan berakhir di pagi hari jika saja Sentiko tidak mendapat sms ancaman dari ibunya untuk segera pulang.

Kami berempat mulai keranjingan bermain ping-pong di aula sejak kami melihat beberapa karyawan dapur dan beberapa guru laki-laki bermain ping-pong selepas jam pulang sekolah. Kami lantas meminta ijin untuk menggunakan meja tersebut saat jam kosong atau jam istirahat. Dan rupanya kami diizinkan.

Belakangan, jadwal bermain ping-pong kami semakin ekstrem. Kami tak hanya bermain saat jam kosong, kami bahkan pernah beberapa kali kedapatan bermain ping-pong saat jam pelajaran. Hal itu membuat aturan penggunaan meja ping-pong tersebut semakin diperketat.

Pengetatan ini membuat kami mulai mengurangi intensitas olahraga tampar bola ini, walau sesekali kami masih sering mencuri waktu untuk tetap bermain.

Intensitas bermain ping-pong baru benar-benar hilang di masa-masa menjelang ujian nasional.

***

Tiga tahun saya mengarungi bahtera pendidikan di SMA Tidar (alhamdulillah, saya belum pernah tidak naik kelas). Selama tiga tahun tersebut, saya sempat empat kali jatuh cinta pada teman wanita. Tiga diantaranya kawan satu kelas (sama-sama setingkat kelas), sisanya adik kelas.

Di SMA inilah, saya pertama kalinya berani menembak teman yang saya taksir. Dan pertama kalinya pula saya ditolak. Ditolaknya dengan telak pula. Tas-tes, bat-bet, tanpa tedeng aling-aling.

Bayangkan, Sesaat setelah saya mengutarakan perasaan saya, jawaban si dia hanya singkat dan sangat tidak basa-basi: “yo, tapi aku ora” jawabnya lugas. Dan ia pun berlalu begitu saja. Seakan-akan seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Asuuuu.

Ah, Mungkin ia waktu itu belum terlalu khilaf untuk bisa menerima saya.

Sungguh penolakan yang sangat spartan dan bengis. Penolakan yang lebih kejam dari rezim otoriter manapun. Tidak ada kata-kata pengayem seperti “kamu terlalu baik buat aku”, “aku belum boleh pacaran sama mama”, atau “aku masih pengin konsentrasi sama sekolah”, atau minimal kata-kata penolakan yang halus lainnya.

Tapi tak apa, setidaknya, saya sudah berani mengungkapkan perasaan saya. Sungguh pun saya ditolak. Sebuah debut asmara yang tidak terlalu gemilang sih. Tapi debut tetaplah debut, yang kelak akan menjadi kenangan rekam jejak yang berati bagi saya. Berani nembak saja saya sudah senang. Urusan hasil, itu nomor enam (nomor satu sampai lima, tetap Pancasila).

Saya jadi ingat dengan petuah Bu Resmi, salah satu guru idola saya di SMA Tidar. Kata beliau, "Kalau kamu berani jatuh cinta, kamu juga harus berani cintamu jatuh".

Iya sih bu, saya berani cinta saya jatuh, tapi mbok yo ojo gasik-gasik banget ngono lho :)

***

Ah, sungguh SMA Tidar telah memberikan kenangan yang teramat indah dan tak akan pernah terlupakan. SMA Tidar benar-benar telah mengisi perjalanan hidup saya dalam rangka menempa diri demi menjadi pria yang lincah dan trengginas.

Kini, tak terasa, sudah enam tahun berlalu sejak saya lulus dari SMA tercinta ini.

Belakangan, kabar tentang kawan-kawan saya pun mulai menggaung. Kawan-kawan saya sesama SMA Tidar sudah banyak yang jadi orang besar. Ada yang jadi Prajurit Taruna, ada yang jadi dokter, ada yang jadi seniman, ada yang jadi abdi negara, ada yang jadi pendakwah, ada juga yang jadi aktivis. Bahkan kawan sebangku saya dulu, sekarang jadi vokalis Lapiezt Legiet, salah satu Band Reggae lokal yang sangat ngehits dan punya nama besar di Magelang dan sekitarnya.

*Ditulis pertama kali untuk naskah Buku MEMBACA MAGELANG 3

Bulan MerahSeorang kakek berkisah sebuah dongeng kepada cucunya tentu saja sesuatu yang lumrah dan wajar. Dongeng memang dipaido keneng, bisa sesuatu yang memang hanya sebuah cerita rekaan namun bisa juga merupakan sebuah kisah yang memang nyata-nyata pernah ada. Antara rasa penasaran ini pulalh yang dirasa Bre tatkala kakeknya mengurai cerita tentang Bulan Merah.

Bulan Merah konon merupakan sebuah kelompok musik keroncong eksis secara misteris di paruh jaman pergerakan nasional tatkala republik ini masih digenggam kekuasaan kolonialis Belanda. Adalah Bumi dan Siti, keponakan Rawi yang mewarisi segala bakat dan darah seni pamannya yang sepanjang umur hidupnya digeluti dalam dunia musik keroncong. Mereka sebenarnya anak dari Said, seorang tokoh pembawa pesan perjuangan, alias mata-mata atau telik sandi. Ketika pada suatu ketika aksi mereka dipergoki patroli Belanda, berondongan peluru memberondong tubuh Said dan istri hingga menjadikan Bumi dan Siti yatim piatu hingga untuk selanjutnya ia diasuh oleh Rawi.

Demi tekad untuk melanjutkan perjuangan ayahnya sebagai pembawa pesan perjuangan, Bumi dan Siti dibantu oleh Ratna Melati membentuk sebuah grup musik keroncong keliling yang kemudian diberi nama Bulan Merah. Turut menggawangi Bulan Merah adalah Sumo, Sastro, Kusno, Priambodo, dan Ku Chen. Bertindak selaku biduan atau vokalis adalah duet Siti dan Ramas Suryo.

Berbeda dengan umumnya kelompok keronrong yang eksis pada jamannya, Bulan Merah merupakan kelompok legendaris yang misteris. Dikarenakan sejak awal pendiriannya diniatkan untuk menjadi pembawa pesan rahasia, maka kelompok ini juga bergerak secara kucing-kucingan untuk menghindari mata-mata maupun patroli pasukan Belanda. Gerak Bulan Merah menjadi sangat rahasia dan hanya diketahui secara persis oleh para pejuang terpercaya. Inilah yang menjadikan nama Bulan Merah hanya sempat terngiang dari mulut ke mulut tanpa setiap orang yang membicarakannya pernah menyaksikan pentas kelompok ini dengan mata kepalanya sendiri. Tidak mengherankan jika Bulan Merah kemudian dianggap antara ada dan tiada. Ya, sangat misterius antara realita atau sekedar mitos.

Dalam pelaksanaan pentas Bulan Merah justru menyelenggarakannya bersamaan waktu dengan pentas-pentas lain yang berlangsung terbuka. Hal ini merupakan sebuah strategi khusus agar orang-orang yang datang ke Bulan Merah benar-benar orang yang berkaitan dengan perjuangan anak bangsa dan sekaligus untuk menghindari kecurigaan patroli Belanda. Pada pagi buta sehari sebelum Bulan Merah naik panggung, mareka menyebar selebaran gelap dengan kalimat singkat. “Ini Malem. Pertoendjoekan Boelan Merah. Bermaen di Kebon Djati. Djam 7.30” Demikian kira-kira pesan singkat yang mereka tempelkan di pohon-pohon pinggiran jalan.

Lalu bagaimana Bulan Merah menyampaikan pesan rahasia perjuangan? Tentu tidak secara terbuka dengan menyampaikan pidato, tentu saja menyampaikan pesan lewat syair lagu. Lewat syair lagu? Ya, justru disinilah kecerdasan Bumi selaku pimpinan dalam menggubah setiap syair dengan sisipan pesan-pesan berita perjuangan yang disampaikan secara berantai kepada para pejuang yang hadir dalam pertunjukan Bulan Merah.

Pentas Bulan Merah biasa diawali dengan sapaan lagu Boelan Menjapa Kawan. Puncaknya adalah pesan yang dikemas dalam gubahan Krontjong Padhang Mboelan.

Pada kesempatan pertujukan di Batavia, justru patroli Belanda berhasil mengendus gerak Bulan Merah. Untunglah sebelum patroli menangkap para personil Bulan Merah, potongan kertas-kertas pesan rahasia sempat dimusnahkan dengan cara dibakar. Interogasi mendalam yang dilakukan tetap tidak bisa menguak hubungan Bulan Merah dengan gerakan para pejuang. Merekapun lolos dari penjara.

Kejadian di Batavia mengharuskan Bulan Merah harus lebih berhati-hati dalam bergerak. Demi keamanan, merekapun memutuskan untuk pindah dari markas lama yang merupakan rumah milik Paman Rawi. Tidak tanggung-tanggung, mereka menyingkir hingga jauh ke pedalaman Boyolali yang asri. Namun demikian, Bulan Merah terus saja berpentas keliling menyampaikan pesan rahasia untuk memperjuangkan kemerdekaan Nusantara. Hingga akhirnya kemerdekaan itu benar-benar tergenggam di tangan rakyat, merekapun mendendangkan pesan kemerdekaan.

Apakah misi pembawa pesan perjuangan berkahir tatkala kemerdekaan benar-benar teraih? Bulan Merah yang lahir dari akar penderitaan rakyat tidak pernah berhenti berjuang atas nama rakyat. Tatkala perjuangan melawan penjajah asing berakhir, ternyata tidak secara otomatis menjadikan rakyat benar-benar merdeka dan sejahtera. Justru ada saat-saat dimana rakyat justru menderita di bawah kekuasaan bangsa sendiri. Inilah kira-kira situasi di masa orde lama yang semakin melenceng dari amanat penderitaan rakyat. Bulan Merahpun kembali bergerak memberikan pesan kritikan kepada pemerintah.

Di masa akhir pemerintahan orde lama, terjadi pembunuhan terhadap beberapa jenderal. Sebagai pihak pengkritik pemerintah yang dianggap berseberangan, Bulan Merah dianggap terlibat turut mendukung kelompok yang dicurigai sebagai dalang pembunuhan tersebut. Melalui sebuah operasi tentara, pengejaran terhadap Bulan Merah dilakukan hingga tepian hutan Wonolelo di batas Merapi-Merbabu. Dalam peristiwa tersebut semua personil Bulan Merah dihabisi. Namun sejarah kemudian mencatat ada satu personil yang lolos dari maut, itulah Ku Chen yang kemudian dipertemukan dengan kakek Bre. Akhirnya teka-teki di benak Bre terjawab bahwa Bulan Merah bukan sekedar mitos yang didongengkan kakeknya.

Rangkaian kisah perjalanan Bulan Merah, sebuah kelompok musik keroncong pembawa pesan rahasia, ini merupakan kisah novel heroik yang dikemas sangat apik oleh Gin alias Ginanjar Teguh Iman. Dalam beberapa kesempatan saya memang pernah bertemu dengan Gin. Akan tetapi obrolan panjang lebar dengan salah satu penggerak Komunitas Nulis Buku Magelang ini sering kami lakukan melalui chatting di media online. Sekian lama buku ini terbit, namun baru di awal April ini saya dipertemukan novel Bulan Merah ini di sebuah toko buku. Tanpa pikir panjang tentu saja langsung memboyongnya pulang dan segera membacanya.

Alur yang dibangun Gin dalam Bulan Merah ini memang unik. Kisah digali dari sebuah kisah yang tengah dikisahkan oleh seorang kakek kepada Bre, cucunya. Meski kisah dibeber melalui kisah flashback namun justru membuah cerita seolah-olah benar-benar hidup dan membawa pembaca tenggelam ke dalam suasana haru-biru perjuangan di masa pergerakan merebut kemerdekaan.

Membaca di bagian awal buku ini saya justru menjadi terkesima dengan pengetahuan penulis yang cukup mendalam mengenai seluk beluk peralatan musik keroncong. Bagaimana Gin menyinggung asal-usul kata keroncong yang berasal dari bunyi “crong” ukelele cuk menjadi sebuah pengetahuan baru bagi pembaca. Demikian halnya uraian masing-masing fungsi peralatan mulai ukelele cak dan cuk, biola, celo, kontrabas, hingga fluite sungguh meyakinkan seolah-olah berasal dari seorang penggelut musik keroncong profesional.

Buku setebal 250-an halaman ini meski diukir pada kertas coklat yang seringkali melelahkan mata, namun dengan pilihan font dan jarak spasi yang pas tetap nyaman di mata. Akan tetapi ada sedikit rasa penasaran yang tidak sempat tertemukan jawab oleh kebanyakan pembaca novel ini, yaitu hadirnya kata-kata voorspel, tussenpel, dan kadensa yang seolah menjadi pembatas buku yang mungkin terbagi menjadi tiga bagian besar.

Buku ini sangat unik di tengah novel populis yang ditulis umumnya penulis muda dewasa ini. Novel dengan latar perjuangan sudah saatnya hadir kembali di tengah masyarakat yang kini justru semakin terkoyak rasa nasionalismenya dan justru terdesak oleh sikap individualisme. Kahadiran buku ini mungkin bisa menggali kesadaran kebangsaan, khususnya di kalangan generasi muda.

Sebagai penulis kelahiran dan hingga kini tinggal di Kota Tidar Magelang, Gin sungguh patut diacungi jempol dengan mengangkat beberapa nama tempat yang ada di Magelang, seperti Wonolelo, Sawangan, menjadi bagian setting lokasi novelnya. Hal ini tentu saja menjadi sebuah kesan tersendiri bagi pembaca yang asli orang Magelang maupun orang-orang yang pernah memiliki kenangan di Magelang. Langkah ini sekaligus bukti komitmen seorang Gin untuk turut menggaungkan nama Magelang agar lebih dikenal lagi oleh saudara sebangsa setanah air di belahan wilayah yang lain.

Melalui novel Bulan Merah ini, Magelang harus turut bangga. Diantara sekian banyak para penulis dengan segudang karya tulisnya, Gin termasuk penulis yang telah membuktikan bahwa karyanya layak dibukukan untuk dibaca banyak orang. Tidak hanya pembaca di Magelang, tetapi tentu saja pembaca di seluruh pelosok tanah air. Mudah-mudah rintisan Gin dan juga beberapa penulis Magelang yang telah berhasil membukukan tulisannya ini semakin menggugah tumbuh kembangnya kesusastraan di Bhumi Tidar tercinta.

Ngisor Blimbing, 11 April 2015

RESENSI:

Judul Buku: Bulan Merah – Kisah Para Pembawa Pesan Rahasia

Penulis: Gin

Penerbit: Qanita, Mizan Group Bandung

Cetakan I, Agustus 2014

ISBN 978-602-1637-33-3

256 h; 20,5 cm


Filed under: Jagad Sastra Tagged: Gin, keroncong perjuangan, Membaca Magelang, novel bulan merah

File ini juga bisa didownload di link Google Drive: Panduang Aplikasi Pupuk Anorganik Khusus Jahe

View this document on Scribd

Sempat Alay

-

Mahasiswa Punya Cerita

on 2015-4-10 11:54am GMT
Welcome April, gimana gimana kabarmu? Udah lama kagak update blog. Gimana kabar skripsimu? Sampai mana? Sampai mana-mana. Temen-temen SMA udah pada pendadaran, dan gue masih sibuk berdoa biar hati dosen pembimbing gue bisa luluh kayak lagunya Samsons. Semua akan wisuda pada waktunya kok, tsah.
Oke, pada kesempatan kali ini, gue mau ngebahas tentang Facebook. Pasti kalian udah enggak asing dengan sosmed yang satu ini. Ya, menurut gue, sosmed satu ini masih tetep eksis, enggak kayak Friendster. Gue masih inget, pertama kali gue punya akun FB itu pas jaman kelas X. Waktu itu gue masih jadi maniak friednster, dan migg33. Tiba-tiba aja salah satu ‘teman’ lagi asik mainan sosmed. Gue penasaran sama tuh sosmed. Setelah gue cari tau, nama sosmed yang dimainin “temen” gue adalah FB. Semenjak saat itu, gue bikin akun FB dan “move on” dari yang namanya migg33 dan  FS atau Friendster.

Ya seperti itu asal muasal gue punya akun FB. Seiring berjalanya waktu, gue masih tetep aja jomblo, loh. Enggak terasa udah 6 tahun lebih gue jadi pengguna FB. Jadi, kemarin siang gue iseng-iseng buka FB. Entah kenapa gue mendadak ingin melihat timeline beberapa tahun yang lalu. Setelah ngepoin TL, mendadak gue shock. Status yang pernah gue update, wall-wall-an dengan stranger yang rata-rata cewek membuat gue makin mangap-mangap. Ternyata gue sempat Alay. Padahal gue sering banget ngatain ababi-ababil alay, tapi dulu gue juga alay. Tapi, seiring berlalunya kenangan, gue udah sedikit enggak Alay, tsah.
Yap,  gue yakin kalian juga pernah alay di FB. Kali ini, gue akan ngajakin kalian bernostalgila dengan ke-Alay-an yang mungkin aja pernah kalian lakukan di FB beberapa waktu yang lalu. Tapi gue akan ngebas kealayan gue aja. Daripada kelamaan, langsung aja Ya… beberapa ke-Al4y-an yang pernah gue lakuin. Check this out.
1.   Nulis Status pake Cuplikan Lagu
Hal konyol yang pernah gue lakuin saat awal-awal punya FB ya bikin status pakai cuplikan lagu. Entah jaman dulu kenapa gue bisa ngelakuin hal kayak gitu. Nulis status pake lagu-lagu yang menurut gue lagi mewakili perasaan saat itu. Biasanya gue sering update status pake lagu-lagunya Peterpen.
*Demi apa coba
Tapi, setelah gue sadar, gue enggak pernah update status pake cuplikan lagu-lagu lagi. Terlebih lagi, sekarang udah jamannya Path. Kita bisa update lewat “listen to” di path. Jadi, enggak perlu lagi nulis status lagu buat mewakili perasaan kita, eaa… alay. Hayo… siapa yang dari kalian yang juga pernah ngelakuin hal yang sama? Kalo dulu di FB sering update cuplikan lagu, berarti kita sama, sama-sama alay.
2.   Chat di Wall
Hal konyol yang dulu pernah gue lakuin selanjutnya adalah chating di Wall. Wajar aja, sebelumnya gue adalah pengguna Friendster. Jaman pake FS, gue sering nulis di wall temen yang gue ajak chat. Kebiasaan itu terbawa sampe gue punya FB.


Gue sering banget wall-wallan sama temen di FB gue. Bahkan karena terlalu banyak yang ngewall, gue sampe lupa bales wall temen-temn FB gue.  Kalo sekarang, tiap ada temen yang ngewall pasti bakal dibalas di kolom komentar. Tapi, kalo gue dulu, tiap ada yang ngewall, gue balas di wall temen gue. Karena terlalu banyak ngewall, wall gue mencapai 100 lebih dalam waktu beberapa bulan. alay banget kan.

3.   Nulis Pakai Huruf Aliens
K4Mo3h L6 4paH? aNAx M4n4?
Gue yakin setelah membaca tulisan di atas mata kalian berubah jadi silinder. Hayoo.. siapa yang dulu pernah nulis kayak gitu? Nulis pake bahasa Planet Namec biar keren. Bukan keren, malah ngerusak sistem saraf, hahaha.
 Tulisan Planet Namec tadi pernah ngetrend di kalangan anak muda waktu itu. Tapi alhamdulilah, gue enggak ngikutin trend huruf Planet Namec tadi.


 *mataku... mataku...
Kenapa gue bisa tau model tulisan kayak gitu? Karena temen-temn FB tiap ngewall di FB gue sering pake tulisan Namec, jadi gue tau. Ya gue maklum aja sih, pasti dari kalian juga pernah ngikutin huruf besar kecil gitu.
 Enggak cuman huruf besar kecil aja, waktu itu gue juga sempet bingung tiap ada temen yang ngewall kayak gini:


Mendadak gue bingung dan mencerna maksud dari wall di atas. Setelah gue nyari di primbon, ternyata lagi ngetren adanya substitusi huruf. Misalnya aja X= Nya. Dari situlah gue jadi tau, anjir… alay.

4.   Update Status Senang maupun Galau


Awal-awal punya FB, gue sering mencurahkan apa yang terjadi dengan gue baik sedih maupun senang. Entah apa kenapa gue selalu update, mungkin biar orang-orang pada tahu kondisi gue, mungkin.
Ya mungkin waktu itu gue masih ababil. Tiap lagi seneng pasti update status, tiap lagi susah juga update.
Hal yang lebih nyesek lagi itu saat update status galau kemudian dikometarin guru itu rasanya….  Silahkan isi sendiri. Kampret banget kan, waktu itu gue asal nge-add orang termasuk guru di SMA gue. Ya sebuah konsekuensi tiap update status, guru selalu  enggak pernah absen coment status gue. Terlebih lagi, waktu facebook masih kayak tai ayam yang baru keluar, anget-anget gitu.


*Saat status dikomen sama guru (=.=)

5.   Upload Foto Sesat
Enggak cuman status aja yang bisa kita share, tapi foto juga bisa. Waktu awal-awal punya FB, gue sering banget upload foto-foto yang menurut pendapat gue tuh foto keren dan kece abis. Ya misalnya aja foto di kuburan, foto lagi boker, dan foto-foto yang udah diedit lewat jasa internet.
Waktu itu gue pake Photofunia.  Kita tinggal upload, entar udah ada frame yang secara otomatis ada di foto kita.

*foto di makam, udah kayak kuncen, kuncen hatimu...

Tapi… seiring bertambahnya usia, gue merasa hal yang gue lakuin itu Alay banget. Foto dikuburan pake gaya ala Kuncen, kuncen hatimu… eaaa.
Setelah sadar, gue bertobat… Foto-foto alay yang pernah gue upload, gue hapus. Sampe sekarang gue enggak pernah upload foto-foto alay lagi.

6.   Update Status Gak Penting
Hal alay yang yang pernah gue lakuin yang terakhir adalah gue pernah update status gaje dan gak penting. Entah apa maksud gue update status gaje kayak gini:


Iya, bahkan gue pernah update status gaje kayak gini: 

Bahkan, temen-temen FB merasa shock dan ngomel-ngomel gara-gara status gue merusak Timeline mereka.
Pasti dari kalian juga pernah update status gaje dan enggak penting juga kan. Ya alasan kenapa update status gaje biar keliatan eksis aja, menurut gue. Harap dimaklumi ya ke-Alay-an yang pernah ada.

Ya mungkin masih banyak ke-Alay-an yang perlu dibongkar. Tapi, berhubung skripsi gue belum kelar, gue cukupin dulu tulisan dari gue. Makasih udah mau  baca tulisan gue ini. sebenarnya enggak usah malu mengakuin kalo kita sempat Alay, toh Alay itu adalah proses menuju Dewasa. Doakan gue segera Semprop ya gaes…
Feed burner

Gratis, Lesehan, dan Barokah!


Filed under: Jagad Maiyyah Tagged: Emha Ainun Nadjib, kenduri cinta, Kiai Kanjeng, maiyyah

Sebagai orang tua, adalah sebuah kewajaran jika tidak lelahnya untuk berpesan kepada anak-anaknya yang masih bocah untuk tidak sembarangan jajan. Di tengah jaman edan saat ini, tidak hanya sekali dua kali kita mendengar pemberitaan mengenai aneka jajanan anak yang tidak higienis. Entah yang makanan kadaluarsa lah, yang menggunakan pewarna berbahaya, yang berpengawet bahan kimia, bahkan daging celeng atau babi.

Untuk para penjaja makanan anak di sekolah si Ponang, menurut saya belum pernah terdengar isu-isu yang menghebohkan sebagaimana yang pernah diungkap di media tivi ataupun koran di atas. Akan tetapi sebagai sekedar nasehat untuk anak-anaknya, tentu saja setiap orang tua selalu menyampaikannya. Setidaknya terhadap jajanan macam apapun harus diingatkan untuk memperhatikan setidaknya standar kebersihan dan pengemasan makanan. Hal ini penting karena tak jarang bersumber dari makanan jajanan bisa menganggu kesehatan, meskipun sekedar pilek atau batuk-batuk.

Nah, suatu ketika si Ponang memperlihatkan gejala batuk-batuk yang tak kunjung sembuh. Sayapun menjadi sedikit curiga. Batuk memang bisa disebabkan beberapa faktor, seperti alergi, debu, mengkonsumsi makanan atau minuman yang terlalu manis, atau bisa jadi dari es. Dari sinilah kecurigaan saya timbul. Meskipun sudah seringkali diwanti-wanti untuk tidak jajan es doger secara berlebihan, ndilalah namanya bocah, selalu saja melanggar pesan orang tua. Selidik punya selidik, usut punya usut, setelah sempat saya tanya secara hati-hati, memang pada beberapa hari berturut-turut si Ponang memang selalu jajan es doger.

Es doger memang lezat. Siapapun yang pernah menikmati santapan pelega rasa haus di kala panas menyengat tersebut mungkin akan senantiasa ketagihan. Yang justru menjadi kekhawatiran saya terhadap sajian es doger ini adalah kemungkinan penggunaan air mentah yang belum dimasak hingga mendidih. Bukankah jika demikian sangat dimungkinkan bakteri ataupun virus pengganggu tidak mati dan akan terkonsumsi ke dalam tubuh? Demikian halnya dengan kebiasaan jajan es doger setiap hari ini, bagaimanapun juga sesuatu yang dikonsumsi terlalu berlebihan tentu saja akan berakibat kurang baik bagi kesehatan tubuh kita.

Sebenarnya kami tidak pernah sama sekali melarang si Ponang untuk jajan es doger. Sekali dua kali sehabis pelajaran olah raga ataupun pelajaran tambahan di siang hari yang terik tidak terlalu masalah lah. Akan tetapi kok bisa batuk-batuknya tidak sembuh-sembuh dan seolah semakin menjadi-jadi. Dan ketika didesakkan pertanyaan, ternyata si bocah memang mengakui bahwa beberapa hari terkahir ia selalu jajan es doger.

Tentu saja kembali saya menasehati mengenai kurang baiknya jajan es doger setiap hari, termasuk efek kesehatan yang bisa menyebabkan batuk pilek tadi. Akan tetapi saya justru menjadi tersentak dengan jawaban si Ponang, “Habisnya kan mesake Pak! Kasihan sama ibu-ibu penjual es dogernya. Ia kan menggendong bayi kecil. Kalau nggak ada yang beli es dogernya, darimana ia dapat uang dan memberi makan bayi itu. Lagian saya batuk-batuk sedikita nggak apa-apa lah Pak!”

Gubrakkk….saya benar-benar bagai tersambar geledek di siang terang matahari. Dari mana si Ponang sempat-sempatnya berpikir semacam itu. Siapa yang membisikkan pemikiran janggal itu ke relung otaknya? Bagaimana seorang bocah SD berpikir tentang sebuah pengorbanan diri seperti itu? Apakah ini sebuah tabir makrifat kasing sayang maha luas dari seorang bocah yang belum terlumur debu dosa yang merasa iba melihat sesamanya dalam balutan derita?

Pada satu sisi kekagetan jawaban si Ponang menumbuhkan keheranan sekaligus kesadaran bahwa sayapun harus belajar tentang sebuah mutiara nilai tiada tara di balik peristiwa sederhana es doger dan batuknya si Ponang ini. Seringkali manusia membeli sesuatu, entah makanan yang dikonsumsi, baju yang dikenakan, kendaraan yang ditumpangi atau apapun yang bernama barang atau jasa adalah atas dasar suatu kebutuhan yang seringkali dan kebanyakan daripadanya justru didorong oleh hasrat dan nafsu. Intinya tindakan tersebut dilakukan dalam rangka pemenuhan kebutuhan atau kepuasan diri sendiri. Kita membeli bakso ya karena kita lapar dan ingin kenyang. That’s all!

Akan tetapi dari pernyatan si Ponang Kecil kita bisa berkaca, bahkan ada seorang bocah yang berani berpikir ia membeli karena rasa iba dan kasihan terhadap penjualnya. Ia memang menyukai es doger, tetapi masih dalam batas kewajaran. Ia memang sering kehausan di sela waktu sekolahnya, akan tetapi tidak harus setiap hari ia membeli es doger kan? Rupanya tindakan borong es doger setiap hari itu didorong oleh rasa kasihan melihat penjualnya yang berjualan sambil menggendong bocah bayi. Meskipun sudah berungkali dinasehati untuk tidak berlebihan membeli es doger yang bisa menyebabkannya batuk ataupun pilek, namun risiko itu justru dilanggarnya secara sadar demi mengutamakan rasa iba terhadap sesama. Kepentingan orang lain harus diutamakan daripada kepentingan diri sendiri. 

Saya pastinya tidak tahu apakah ini hanya akal-akalan si Ponang untuk tidak dipersalahkan membeli es doger terus-terusan. Akan tetapi sayapun tidak percaya jika hal tersbeut hanya akal-akalan akan tetapi mampu memberikan argumen yang belum senalarnya muncul dari benak seorang bocah kecil. Atau justru mungkin Tuhan tengah berkirim sebuah pesan penting kapada kita. Monggo kita renungkan lebih dalam.

Lor Kedhaton, 8 April 2015


Filed under: Jagad Kenyung Tagged: es doger, si Ponang
Sudah masuk bulan April 2015. Duh Gusti paringono ekstasi, Saya baru sadar, kalau ternyata sudah hampir enam bulan alias setengah tahun blog ini tidak diurus. Tidak ada postingan baru di blog ini sejak bulan November tahun lalu. Sebagai blogger lurus, saya merasa sangat-sangat berdosa.

Tapi mau bagaimana lagi, saya memang sudah kadung cinta dengan blog saya yang satunya (agusmulyadi.web.id), jadi saya lebih konsen untuk posting di sana.

Sebenarnya sih ada banyak sekali agenda yang seharusnya bisa saya tulis sebagai pengisi postingan blog ini, namun karena kesibukan, reportase kegiatan tersebut akhirnya berlalu begitu saja tanpa pernah saya tuliskan.

Beberapa diantaranya adalah:

Jadi pembicara di acara Diskusi buku bertajuk "Menulis di Era Digital" bersama Ainun Nufus tanggal 6 Januari di Togamas Affandi



Jadi Pembicara di acara CS Summit 2015 di Hotel East Parc Jogja tanggal 7 Maret 2015.



Jadi bintang Tamu di acara The Comment Net dan juga acara Ensiklotivi TV One bersama Agan Harahap



Kopdar dan Makan Siang Dengan Menteri Kominfo Pak Rudiantara bersama para pegiat dunia IT Jogja tanggal 21 Maret 2015



Pembukaan dan peresmian Angkringan Mojok



Dan masih banyak lagi agenda-agenda lain yang seharusnya bisa saya jadikan sebagai postingan.

Tapi tak apa, setidaknya, setelah postingan ini, saya akan mencoba untuk lebih aktif lagi posting di blog yang dulu sempat emnajdi blog kebanggan saya ini.

Yah, doakan saja.
Saat menjadi pembicara di acara Urun Rembug Petani Jahe Se-Indonesia. Foto diambil dari wall FB salah satu panitia.

Saat menjadi pembicara di acara Urun Rembug Petani Jahe Se-Indonesia. Foto diambil dari wall FB salah satu panitia.

Weekend awal bulan ini, tepatnya Sabtu – Senin, tanggal 4-6 April 2015, saya diminya berbagi pengetahuan tentang jahe dan pembuatan media tanamnya. Acaranya di sebuah Resort milik PTPN 9, Banaran 9 Resort and Hotel, di Unggaran Jawa Tengah.

Acara ini boleh dibilang sukses. Pesertanya penuh lebih dari 100 peserta. Mulai dari petani jahe, baik yang sudah pengalaman maupun yang pemula, pengusaha jahe, produsen pupuk, pabrik jamu, eksportir dan komunitas petani jahe. Saya menjadi pembicara kedua. Pembicara yang lain adalah Prof. Sidik dari Unpad Bandung dan Bp. Bambang Purwoko, Sidomuncul.

Seperti yang pernah saya sampaikan, saya akan menyampaikan materi tentang sekilas kebutuhan pupuk tanaman jahe, pembuatan media tanam, dan pembuatan MOL. Macam-macam media tanam untuk jahe sudah saya uraikan di dalam blog ini: kompos, pupuk kandang, coco peat, abu janjang, dolomit, arang sekam, zeolit, dan lain2. Di blog ini sengaja hanya saya sampaikan tentang macam-macam media tanam yang bisa digunakan untuk tanaman jahe. Saya tidak berikan tips dan trik untuk meramunya, karena akan saya sampaikan pada acara urun rembug ini.

Bagi peserta urun rembug yang belum sempat mendapatkan file presentasi saya dan file excel untuk meramu media tanam, bisa didownload di link ini:

Saat menjadi pembicara di acara Urun Rembug Petani Jahe Se-Indonesia. Foto diambil dari wall FB salah satu panitia.

Urun Rembug Petani Jahe Se-Indonesia 2015


Saya bicara maraton, mulai dari pukul 14 sampai istirahat asar. Dilanjut lagi dari setelah asar sampai magrib. Dilanjut lagi setelah sholat isya’ sampai selesai. Cukup lama juga saya berbicara sampai hampir hilang suara saya. Meski capek, tapi saya senang bisa berbagi ilmu dengan peserta. Banyak peserta yang bertanya maupun menyampaikan komentar dan pendapatnya sendiri. Jadi saling tukar pengalaman.

Di sela-sela acara, terutama di waktu-waktu istirahat, saya berdiskusi dengan peserta. Menarik menyimak apa yang mereka sampaikan. Beberapa petani mengeluhkan jika mereka beberapa kali ‘tertipu’ oleh penjual bibit jahe. Dari sekian banyak bibit yang mereka beli ternyata banyak yang busuk. Lebih dari setengahnya busuk. Lebih parah lagi, ada juga yang tanaman jahenya hampir habis terserang busuk rimpang. Ada yang sudah panen umur 15 bulan, tetapi jahenya kecil-kecil. Sangat jauh dari apa yang dijanjikan oleh penjual pupuknya. Ada juga yang hanya ‘peninjau’, tetapi menyampaikan hal-hal yang menurut saya ‘bohong’. Ada peserta yang cerita ke saya sebelum mulai acara, kalau bisa membuat mikroba yang lebih kecil dari mikroba dan dibuatnya dengan cara dibakar sampai > suhu 300oC. Kabarnya ada juga peserta yang lebih mirip dukun daripada penjual pupuk/bibit. Menarik.

Agribisnis jahe pernah terpuruk beberapa tahun yang lalu. Saya sangat berharap agar agribisnis jahe yang kembali bangkit ini tidak mengulang kesalahan-kesalahan masa lalu. Momentum kebangkitan jahe ini jangan dirusak oleh segelintir oknum yang hanya ingin keuntungan sesaat saja.

Maju pertanian jahe Indonesia.


Kopi banaran

Kopi Banaran

Foto di atas saya ambil dengan menggunakan SmartPhone Android Samsung Galaxy Note2. Smartphone Android yang sudah cukup berumur. Kopi Banaran yang cukup nikmat.

Ketika sarapan pagi di lobby, pengelola memajang beberapa stoples kopi dari berbagai grade. Grade yang paling bagus adalah grade A. Biji kopi mulus, tidak ada yang cacat atau pecah, dan dipetik sudah merah. Pastinya kopi kualitas nomor wahid yang nikmat rasanya. Saya tidak terlalu tertarik dengan rasanya, tapi saya tertarik dengan bentuknya yang unik. Biji-biji kopi ini menarik untuk di foto. Saya minta ijin kepada penjaganya untuk memotret biji-biji kopi ini. Biji kopi segar saya letakan di atas piring makan yang putih bersih. Cahaya pagi yang masih lunak membuat pemcahayaan sempurna untuk memotret macro/close up.

kopi banaran fotografi ponsel

Kopi Banaran

Seting kamera yang saya lakukan adalah memindah fokusnya menjadi macro dan setting meteringnya menjadiL: spot. Setting macro adalah setting untuk memotret pada jarak dekat. Untuk memotret biji kopi ini, setting yang paling cocok adalah setting macro.

Nah, setting yang tidak kalah pentingnya adalah setting metering. Metering adalah metode yang dilakukan oleh kamera HP untuk menentukan nilai iso, diagframa, dan rana, agar pencahayaan dan eksposurenya bisa pas. Ada tiga pilihan biasanya, yaitu: matrix, center weighted, dan spot. Dalam kondisi ini metering sangat menentukan hasilnya. Coba perhatikan perbedaan dua foto di bawah ini, foto pertama dengan setting matrix dan foto kedua dengan setting spot.

fotografi ponsel metering

Kopi bararan yang difoto dengan setting metering Matrix

fotografi ponsel metering

Kopi banaran yang difoto dengan metering spot

Beda banget hasilnya kan?

Nah, tip berikutnya yang tidak kalah penting adalah mencari pencahayaan yang pas dan jarak yang pas juga. Posisi tangan harus benar-benar stabil pada saat memotret.

Kopi Banaran Samsung Note 2 Fotografi Ponsel Android

Kopi Banaran

Kopi Banaran Samsung Note 2 Fotografi Ponsel Android

Kopi Banaran

Kopi Banaran Samsung Note 2 Fotografi Ponsel Android

Kopi Banaran

Kopi Banaran Samsung Note 2 Fotografi Ponsel Android

Kopi Banaran


Bekicot Samsung Note 2 Fotografi Ponsel Android

Bekicot

Minggu pagi di Banaran Resort and Hotel. Udara segar di ketinggian 900 dpl menarik kami untuk jalan-jalan pagi menyusuri perkebunan kopi Getas. Ada banyak yang menarik. Salah satunya adalaha bekicot-bekicot yang ternyata jumlahnya sangat banyak. Jenisnya pun sedikit beda, karena bekicot-bekicot ini warnanya putih. Bekicot unik ini menarik saya untuk memotretnya. Saya memotret dengan menggunakan kamera HP Smartphone Samsung Galaxy Note 2. Smartphone Android yang sudah cukup berumur. Dengan sedikit kreatifitas, bekicot ini bisa menjadi model yang menarik.

Bekicot Samsung Note 2 Fotografi Ponsel Android

Bekicot

Bekicot Samsung Note 2 Fotografi Ponsel Android

Bekicot

Bekicot

Bekicot

Bekicot Samsung Note 2 Fotografi Ponsel Android

Bekicot

Bekicot Samsung Note 2 Fotografi Ponsel Android

Bekicot


Libur panjang pekan ini saya mendapatkan undangan untuk berbagi dalam acara Urun Rembug Petani Jahe Se-Indonesia di Unggaran. Karena, tempatnya dengan dengan kota asalku, Magelang, dan pas limbur panjang, saya bawa seluruh keluarga mudik ke Magelang. Sekalian mau nenggok Bulik di Salatiga. Banyak yang menarik dalam syafar dan silaturahimku akkhir pekan ini. Salah satunya adalah tentang bercocok tanam di teras rumah. Sayang saya tidak punya banyak waktu untuk mencari tahu lebih detail.

Jalanan macet seperti lebaran, Bogor – Magelang perlu waktu 20 jam. Saya sampai rumah sudah cukup malam. Keesok harinya ketika saya membersihkan dalam mobil ada yang menarik di depan rumah. Di seberang jalan depan rumah dari dulu adalah taman kampung Jambon Tempel Sari. Almarhum Bapak yang dulu sering merawat tanam ini. Nah di depan papan pengumuman dipasang selebaran yang menarik: AKU SADAR MEMILAH DAN MENGOLAH SAMPAH.

Menanam sayuran di dalam polybag di pekarangan.

Menanam sayuran di dalam polybag di pekarangan.

Ketika saya mendekat, saya sedikit kaget. Di depan papan pengumuman ini banyak polybag yang berisi tanaman. Ada tanaman cabe, tomat, dan lain-lain. Di samping papan pengumuman ini ada sedikit tanah kosong yang ditanami kunyit, kencur dan jahe. Ada beberapa tanaman sayuran lainnya juga. Ternyata, tanaman-tanaman ini sengaja di tanam oleh warga jambon Tempel Sari. Kebetulan, Tempel Sari menjadi salah satu wakil desa untuk mengikuti lomba pemanfaatan pekarangan rumah untuk menanam sayuran/hortikultura. Lumayan, bisa menjadi salah satu pemasukan warga. Minimal tidak perlu beli cabe, ketika harga cabe sangat mahal.

menanam cabe, tomat, dan empon-empon di pekarangan

Tanaman cabe, tomat, dan empon-empon di pekarangan, Jambon Tempel sari, Magelang

Sayangnya, tanaman ini kurang perawatan. Andaikan dirawat dengan lebih baik, tanaman-tanaman ini bisa menghasilkan optimal. Panennya bisa menjadi lebih bagus.

Hari minggu sebelum pulang, saya sempatkan untuk bersilaturahim ke rumah Bulik Asih, adik ragil Bapak Mertua. Tempat tinggalnya di Karang Alit, jalan Purbaya IV. Dengan bantuan Waze, tidak sulit menemukan tempat tinggal Bu Lik Asih. Ternyata Bu Lik Asih sedang gerah dan baru saja pulang dari rumah sakit.
Ketika masuk ke rumah beliau, saya langsung tertarik dengan tanaman yang ditanam di teras rumah Bu Lik Asih: KOL. Tanaman KOL berjejer rapi tepat di teras depan.

menanam kol di teras rumah

Tanaman Kol di depan teras rumah Bu Lik Asih dan Om Yoto, Salatiga.

Dengan sedikit tertatif-tatih Bu Lik Asih menerima kedatangan kami. Singkat cerita, taya menanyakan tentang tanaman kol yang ditanam di teras depan rumah. Ternyata, Bu Lik Asih dan Om Yoto ini memang suka bercobok tanaman. Beliau pernah menjadi juara kedua propinsi pemanfaatan pekarangan rumah untuk bercocok tanam. Ini bukan yang terbaik, kata Bu Lik Asih. Tanaman sebelumnya jauh lebih baik dari ini, katanya. Selain menanam kol, Bu Lik dan Om juga menanam cabe, terong, mentimum dan lain-lain. Tanaman ini ada di belakang rumah yang tidak begitu luas untuk ukurang Salatiga.

Salut saya melihatnya. Menarik dan bisa menjadi contoh.

Menanam sayuran di teras rumah

Tanaman kol di teras rumah Bu Lik Asih dan Om Yoto, salatiga.

menanam brokoli di teras rumah

Menanam brokoli di teras rumah

Tanaman-tanaman ini ditanam full organik hanya memanfaatkan kompos yang dibuat dari sisa-sisa seresah dan sampah organik. Cara membuatnya pun sangat sederhana. Hanya membuat lubang di belakang rumah. Dibiarkan saja sampai jadi kompos. Selain itu juga membeli sedikit pupuk kandang di toko pertanian. Jika ada hama, ulat misalnya, diatasi dengan cara manual. Karena cuma sedikit, jadi mudah mengambilin ulat-ulat atau kutu-kutunya.

Sehat sekali.

INi bisa menjadi inspirasi dan contoh untuk warga-warga yang lain. Menanam tanaman sayuran di depan rumah tidak lah sulit dan meropotkan. Hanya pelu sedikit kesabaran dan kesadaran.

Bu Lik Asih dan Om Yoto, Salatiga

Bu Lik Asih dan Om Yoto

di rumah bu lik asih dan om yoto salatiga

Di rumah Bu Lik Asih dan Om Yoto, Salatiga


Salah satu kegembiraan saya karena bisa berkenalan dengan youtube adalah, Saya banyak menemukan grup-grup dangdut koplo akustik amatir yang menurut saya tak kalah menghibur ketimbang grup orkes dangdut koplo "mayor" yang sudah punya jam terbang tinggi dan sudah manggung di berbagai daerah.

Saya selalu tertarik untuk menonton video dangdut dari berbagai orkes dangdut. Namun sayang, birahi saya sering tak terkontrol kalau melihat dangdut koplo dengan biduan berbusana seronok serta dengan goyangan yang seringkali lebih "ngguyer" ketimbang putaran piston Jupiter MX.

Kalau sudah begitu, orkes koplo akustik amatir (atau istilah kerennya Orkes Koplo Unplugged) seringkali menjadi opsi yang aplikatif, karena biasanya mereka murni hanya menampilkan skill bermusik, bukan goyangan. Hati gembira, birahi juga tak meronta.

Beberapa minggu yang lalu, di youtube, saya beruntung karena menemukan Elsanada, sebuah grup orkes dangdut akustik amatir yang beranggotakan para pekerja perantauan Jawa di Malaysia.

Saya melihat, ndangdutan bagi Elsanada adalah salah satu cara yang paling elegan untuk melampiaskan kerinduan pada kampung halaman. Ketika mendengarkan ndangdut mereka, rasanya kok ya, menyenangkan, sekaligus trenyuh. Seakan-akan saya ikut merasakan langsung bagaimana menjalani kehidupan di rantau sana.

Ada jiwa dalam musik dangdut koplo yang mereka bawakan. Bukan sekadar musik pesanan penonton yang cukup dibayar dengan imbalan uang. Namun lebih dari itu, Musik mereka membawa pesan kerinduan yang dalam kepada handai taulan di kampung halaman. Begitulah dangdut, selalu multitafsir.

Saya bahagia, karena sudah menjadi salah satu pendengar mereka.

Nah, barusan, saya kembali menemukan orkes dangdut koplo amatir lain yang juga mempunyai daya tarik entertain yang luar biasa. Namanya New DIK (Dolopo Interpres Koplokustik), grup orkes ini berasal dari Madiun.

Saya akui, Orkes koplo ini sangat menghibur, karena dalam membawakan lagu-lagunya, selalu diawali dengan prolog tentang curhatan tentang lagu yang akan dinyanyikan. Prolog tersebut dibawakan dengan gaya dagelan, sehingga seringkali membuat saya terpaksa terkocok perutnya.

Saya tak tahu apakah sampeyan akan sependapat dengan saya. Namun saya kira, dalam urusan musik, selera memang tidak bisa dipaksakan.

Sengaja saya share video New DIK di bawah ini untuk anda, karena saya merasa, dangdut koplo New DIK ini terlalu indah untuk saya nikmati sendiri.

Salam Koplo, salam Gegana (Gelisah Galau Merana), Ngibing buooooos #SayNoToSenggolBacok

Mengisi liburan tanggal merah di akhir pekan kemarin, kebetulan si Ponang justru turut menunggui Buliknya yang sedang menjalani persalinan anak ke duanya di salah satu rumah sakit sekitar Parung Bingung. Tentu saja di setiap benak seorang anak yang nampaknya adalah sebuah keceriaan dan keriangan. Terlebih ketika mendapat tambahan seorang saudara sepupu, mereka tentu terhanyut dalam kegembiraan yang tiada tara.

Semenjak siang, petang, bahkan malam hari, si Ponang dan sepupunya yang merupakan kakak dari dédék yang baru terlahir pastinya berasyik masyuk dengan berbagai candaan dan permainan. Mulai dari lari kejar-kejaran lah, petak umpet, hantu-hantuan, dan apapun jenis dolanan yang mereka kreasikan. Jadilah suasana rumah sakit yang semestinya tenang, sunyi senyap, justru menjadi hiruk-pikuk oleh ulah para bedhes tersebut. Tak kurang-kurangnya para orang tua mengingatkan dan menasehati, namun yang namanya anak-anak tentu saja sulit untuk diatur sebagaimana orang yang sudah dewasa. Akhirnya kamipun sekedar memakluminya, tokh sebagai saudara sepupu merekapun jarang-jarang mendapatkan kesempatan untuk berkumpul dan bermain bersama.

Nah dikarenakan keasyikan bermain itulah, dalam salah satu adegan pergulatan terjadilah sebuah intrik tragedi kecil yang menghebohkan karena lebih banyak sisi keulucuannya. Ya, saat tengah asyik dengan derai cekikikan, ndilalahnya sandal si Ponang putus di bagian jepitannya. Namanya juga anak-anak, akhirnya merengeklah ia kepada Bapaknya. Mungkin dunia keceriaan mereka seketika menjadi teramat menyiksa seakan kiamat telah tiba.

Kondisi pada saat itu untuk langsung beli sandal di tempat sekitar memang tidak memungkinkan. Akhirnya untuk sementara waktu, saya sedikit mengakali keadaan tersebut dengan menyambung bagian sandal yang terputus dengan peniti. Menurut perhitungan, dengan sambungan darurat tersebut paling tidak memungkinkan kami untuk berjalan ke warung sebelah dan membeli sandal yang baru.

Cilakanya kok ya tidak ada warung terdekat yang menjual sandal seukuran kaki si Ponang. Terpaksalah kami harus menempuh jarak yang semakin jauh dari lokasi putusnya sandal. Untuk nyangking dan berjalan nyeker, si Ponang nggak mau dan merasa malu. Untuk ditinggal sebentar dan Bapaknya membeli sandal sendiri, iapun tak mau. Akhirnya terjadilah apa yang saya khawatirkan, baru beberapa meter berjalan sambungan darurat dengan peniti yang saya buat terlepas. Jadilah kami sebentar-sebentar berhenti untuk selalu memperbaiki peniti tersebut.

Setelah sempat memasuki dua buah minimarket di pinggiran jalan, namun sandal bocah yang kami jumpai senantiasa berukuran lebih kecil sehingga kekecilan, atau justru malah kebesaran hingga kedodoran di kaki si Ponang. Perjalanan bertambah jauh di tengah terik sinar matahari tengah hari tentu saja sangat menyiksa badan kami.

Pucuk dicinta dan ulampun tiba. Pada sebuah warung di samping penjaja sayur-mayur justru bergelantungan sandal-sandal jepit yang sudah sangat dikenal banyak orang. Tanpa basa-basi dan ba-bi-bu, kamipun langsung menghambur dan memilah-milah gantungan sandal-sandal tersebut. Puji Tuhan Sang Maha Pengasih, ternyata ada salah satu pasang sandal yang ukurannya pas di kaki si Ponang. Sebuah sandal bermerk akrab di telinga, dengan model sederhana, dan tentu saja dengan harga yang semanak pula. Akhirnya berjalanlah si Ponang dengan sandal barunya tersebut. Haripun kembali gembira. Sebagai orang tua, sayapun merasa lega.

Ternyata kemewahan sebuah kebahagiaan sejati adalah sebuah momentum dan detik-detik dimana kita tengah membutuhkan sesuatu dan di saat yang bersamaan itupun sesuatu yang kita butuhkan tersebut dihadirkan Tuhan di hadapan kita. Kebahagian saya justru berlipat ganda tatkala melihat si Ponang memakai sandal sederhana tersebut dengan penuh rasa bangga berbalut rasa syukur yang membuncah.

Di kala sampai kembali di rumah, justru si Ponang dengan bangga sempat memamerkan sandal barunya tersebut sebagai “sandal asli produk Indonesia”. “Ini sandal-sandal yang dipakai para artis lho,” kisahnya kepada ibunya. Iapun menambahkan bahwa di tivi ada turis-turis bule yang memakai sandal ini di bandara lho! Alangkah bangganya ia dengan produk asli Indonesia yang baru dimilikinya. Petang hari tatkala sholat di mushola, sandal baru itupun menemaninya denga penuh kebersahajaan. Demikian tatkala si Ponang turut menghadiri acara tasyakuran dan aqikahnya bayi di tetangga sebelah, sandal itupun turut menghantarkannya. Itulah sandal swallow, sandal asli produk Indonesia kebanggaan si Ponang.

Lor Kedhaton, 6 April 2015


Filed under: Jagad Kenyung Tagged: si Ponang, swallow

Ini postingan yang mungkin akan membuat bergidik bagi sebagian pembaca. Soalnya, akan ada beberapa gambar mengerikan (disturbing picture) yang kemungkinan akan membuat pembaca tidak betah, jadi sebaiknya, untuk para wanita yang punya hati lembut dan mudah rapuh serta tidak tegaan, saya sarankan sampeyan untuk tidak meneruskan membaca artikel ini lebih lanjut (lebih baik membaca hati saya saja).

Jadi begini, saya mau cerita...

Sudah beberapa hari terakhir ini, rumah saya sering didatangi oleh seekor kucing bercorak kembang telon yang cukup manis manja group (Oh ya, sebagai informasi, saya ini adalah seorang pecinta kucing, sebelumnya, saya pernah menuliskan kisah saya dengan kucing-kucing yang pernah saya pelihara, silahkan cari sendiri di bagian daftar isi), tapi sayang, kucing manis ini berkurang manisnya karena ada luka yang cukup mengerikan pada wajahnya.



Separuh wajahnya koyak dan berlubang dengan kedalaman sekitar satu sentimeter, bagian pipi dan mata sebelah kanan sudah tidak nampak lagi. Terlihat sangat mengerikan.

Si kucing malang ini sudah beberapa malam numpang tidur di kursi di beranda rumah saya. Biasanya sekitar jam 11 malam sudah ndekem manis, lalu pagi harinya sudah hilang entah kemana. Sungguh kucing yang tahu diri, ia mau menginap hanya pas malam hari saja, mungkin ia sadar, ia akan membuat banyak orang histeris kalau menampakkan diri di siang hari bolong.

kalau boleh jujur, Saya sebenarnya sudah pernah beberapa kali melihat kucing dengan luka yang mengerikan, tapi saya rasa, belum pernah saya lihat yang semengerikan ini.



Oh ya, ngomong-ngomong soal luka mengerikan pada si kucing manis ini, iseng-iseng, saya mencoba membuat analisis sederhana tentang penyebab terjadinya luka si kucing tadi. Dan setelah melalui proses penyelidikan sederhana, akhirnya, muncullah tiga kemungkinan penyebab luka pada si kucing manis nan malang ini.

Apa sajakah?

Pertama, karena perkelahian yang begitu hebat dan spartan dengan sesama kucing. Kita semua tahu, bahwa dalam sebuah ekosistem sosial, bukan hanya manusia saja yang perlu berkelahi demi sebuah eksistensi, terkadang kucing pun demikian. Entah karena perkara harga diri, berebut daerah teritorial, atau bisa jadi karena berebut betina (biasanya ini kucing yang rapuh hatinya). Ah, tapi ini urusan politis dan internal antar dunia kucing, jadi saya tak berani berspekulasi terlalu jauh.

Kedua, karena digebug dengan sangat keras oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab. Ini kemungkinan yang cukup besar koefisiennya. Karena selama ini, di lingkungan tempat saya tinggal, cukup banyak warga yang tak suka dengan kucing, maklum, namanya juga kucing, kalau lapar, sering kali nekat jadi begal pindang atau ayam goreng. Ini sudah jadi keniscayaan, karena menurut saya, tak ada kucing yang seratus persen baik hati dan tidak suka mencuri, kalaupun ada, itu hanya Doraemon.

Ketiga, karena luka bawaan. Kemungkinan ketiga ini sengaja saya masukkan list setelah saya mendengar informasi dari bulik saya, yang mengaku pernah tahu kalau kucing ini dulunya punya luka kecil menganga di bagian dekat mata kanannya. Entah karena infeksi atau sebab tertentu, bisa jadi luka yang sudah sedemikian mengerikan seperti sekarang ini adalah hasil pemekaran luka lama yang dulu hanya seuprit. Bisa saja tho?

Nah, itulah beberapa kemungkinan penyebab terjadinya luka pada wajah si kucing malang tadi.

Eh, tapi percuma juga ding saya bahas penyebabnya, toh, apapun penyebabnya, saya tetap saja tak mampu mengobatinya. Lha kalau luka lecet, mungkin masih bisa saya tangani, lha kalau luka ngeri seperti itu? saya juga bingung sendiri je. Angkaat tangan saya.

Sebenarnya, Saya sih pengin sekali memungut dan merawatnya, tapi rasanya tak mungkin. Keluarga saya sudah tak mengizinkan saya untuk menambah kucing peliharaan lagi, terlebih lagi kondisi kucing pendatang yang satu ini sangat-sangat mengerikan, yang sudah barang tentu akan semakin menambah kadar larangan bagi saya untuk memungutnya.

Pada akhirnya, saya hanya bisa menyediakan tempat di teras rumah sambil sesekali menyediakan makanan untuk si kucing. Tak lupa juga saya berdoa dan berharap, semoga si kucing senantiasa diberikan kesehatan, dan disembuhkan lukanya oleh Sang Maha Pemberi Kesembuhan (tolong diaminkan, pembaca)

Oh ya, Dipersilahkan kepada para spammer yang ingin mengambil foto kucing di blog ini untuk diposting di facebook dengan caption foto: "Mohon katakanlah 'Amin' bagi yang melihat gambar ini, untuk mendoakan kesembuhan bagi kucing malang ini"

Masjid Agung Al Aqsho Klaten


Bagi para penikmat kopi kiranya inovasi anyar besutan Caffex berupa Bubuk kafein dengan nama CafeinAll bakal jadi suplemen baru tanpa harus menyeduh secangkir kopi dipagi, siang ataupun petang hari.

© Image by. foodbeast.com

Portable dan higienis saya menyebutnya. Buat yang telah nyandu dengan kopi, CafeinAll bisa dipadukan dengan makanan lainnya lantaran bubuk kafein ini tanpa bau dan rasa. Karena itulah taburan kafein ini dilangsir beritagar tidak akan merusak rasa makanan atau minuman.

Sedangkan menurut Foodbeast, kafein bubuk yang diyakini bisa memberi efek segar dan berenergi ini bukanlah yang pertama ada di pasaran AS dan Eropa. Namun pemakaiannya tak boleh lebih dari 300 mg atau 9 kali taburan per hari dan tetap terlarang untuk ibu hamil serta orang yang memiliki gangguan jantung. Hingga tulisan ini diturunkan, Caffex yang juga memproduksi kopi dan coklat mengaku kehabisan stok CafeinAll.

_____

Ngisor wit rambutan | 3 April 2014 | 13 Jumadil Akhir 1436 H | #22




GORICKE FAHRRAD







Der Panzer Kuasai Belanda
Tak hanya sepeda-sepeda asal Inggris yang meramaikan pasar sepeda di Belanda zaman dahulu. Sepada dari Jerman (Der Panzer) pun turut ambil bagian meramaikannya. Menurut literatur yang saya dapat ternyata sekitar tahun 1890-an hingga awal 1900-an, Belanda merupakan pasar bagus bagi sepeda-sepeda buatan bangsa Eropa seperti Jerman, Prancis, bahkan Amerika Serikat. Sampai-sampai ada orang Belanda yang bilang “Merupakan hal yang bagus bila sebagian besar sepeda yang dijual di negeri Belanda berasal dari negara lain. Sebagaimana halnya sepeda Belanda yang dilempar jauh kepasaran Hindia Timur (maksudnya Hindia Belanda atau Nederland Indie). Dimana para kolektor sepeda Fongers di Indonesia sangatlah bangga bila menaiki sepeda asal Belanda itu”.
Hal ini memang bukan tanpa alasan, lebih seratus tahun lalu, pasar sepeda di Belanda banyak dikuasai sepeda bangsa asing, sebut saja Jerman salah satunya. Ada beberapa merek sepeda Jerman yang beredar di Belanda. Seperti sepeda Goricke (Goricke Rijwielen), yang memproduksi sepeda sejak 1895. Di tahun 1899, pabrikan Goricke memunculkan sepeda berteknologi gardan, yaitu sepeda tanpa menggunakan rantai. Agen sepeda Goricke di Belanda dijalankan oleh Jansen & Heckers. Selain memproduksi sepeda, Goricke pun membuat sepeda motor yang dirilis pada tahun 1905, bahkan sepeda motor Goricke ini tercatat sebagai motor tercepat di dunia di zamannya. Tak sampai disitu, Goricke pun membuat mobil roda tiga. Selain Goricke, sepeda Jerman lainnya adalah merek Concordia (Concordia Rijwielen), yang diageni oleh Klisser & Citroen. Sepeda ini masuk Belanda sekitar tahun 1902. Selain sepeda, produsen ini pun membuat mesin jahit.


Pabrik sepeda Agustus Göricke, didirikan pada Desember 1874, adalah salah satu produsen sepeda di Jerman. 1899-sebagai akibat eksperimentalnya dalam mesin penggerak roda, Göricke berkeinginan untuk mengembangkan suatu sarana transportasi yang lebih praktis dan lebih cepat, dan merubah namanya menjadi Bielefelder Maschinen- und Fahrradwerke AG, August Göricke. Serangkaian terobosan-terobosan dicapainya dengan ditandai produksi sepeda motor pada tahun 1903. Tahun 1921, Bielefelder Maschinen- und Fahrradwerke AG, August Göricke kembali merubah namanya menjadi Werke AG-Göricke. Setelah mengalami pasang surut dan berpindah kepemilikan, dari mulai kepemilikan Konsursium Jerman-Belanda NVTE (Naamloze Vennootschap tot Exploitatie Der Göricke Fabrieken), berganti nama menjadi Göricke-Fahrrad-und Maschinenfabrik, Nippel & Co. (Göricke-Werke Nippel & Co) setelah penggabungan dengan pabrik Erich Nipple & Co pada Oktober 1941, sampai pada akhirnya 1964 di beli oleh Werke AG Panther. (barangantiklawas.blogspot.com)


 

 














Saya menemukan sebuah jurnal hasil penelitian tentang penyakit busuk rimpang rimpang jahe secara organik, yaitu dengan cara aplikasi ekstrak tanaman Boerhavia diffusa. Menurut penelitian ini, perendaman bibit jahe dengan ekstrak tanaman Boerhavia dan aplikasi semprot ke daun bisa mengatasi serangan penyakit busuk rimpang jahe ini. Sayangnya, saya tidak tahu nama lokal dari tanaman ini. Kalau ada teman-teman yang tahu, bisa sharing biar tanaman jahenya tidak terserang penyakit busuk rimpang.

Tanaman boerhavia diffusa yang bisa dimanfaatkan untuk mengatasi serangan penyakit busuk rimpang jahe.

Tanaman boerhavia diffusa yang bisa dimanfaatkan untuk mengatasi serangan penyakit busuk rimpang jahe.


Tanaman boerhavia diffusa yang bisa dimanfaatkan untuk mengatasi serangan penyakit busuk rimpang jahe.

Tanaman boerhavia diffusa yang bisa dimanfaatkan untuk mengatasi serangan penyakit busuk rimpang jahe.

Tanaman boerhavia diffusa yang bisa dimanfaatkan untuk mengatasi serangan penyakit busuk rimpang jahe.

Tanaman boerhavia diffusa yang bisa dimanfaatkan untuk mengatasi serangan penyakit busuk rimpang jahe.

View this document on Scribd

Penaran mikroba tidak diragukan lagi sangat bermanfaat untuk pertumbuhan tanaman. Berikut ini satu bukti ilmiah lagi tentang manfaat biofertilizer alias pupuk hayati atau pupuk mikroba untuk tanaman jahe, jahe gajah, dan jahe merah.
Aktivator Promi memiliki kandungan biofertilizer yang bisa dimanfaatkan untuk tanaman jahe. Baca di sini: Aplikasi Promi untuk Tanaman Jahe

View this document on Scribd

MBLUSUK-MBLUSUK MEN!! Destination Unlocked!! Solo!!

Day 2.
Hari terakhir di Solo ini saya dan teman saya bangun sekitar pukul 06.00 pagi. Kabut tipis dan basah sisa hujan semalam membuat enggan rasanya untuk beranjak dari kasur. Menikmati udara dan embun pagi kota Solo, It's a good start to begin the day. Solo, We're ready to rock the day!!

Mblusukmen goes to Solo

The Last Day
Selama interval jeda waktu antara bangun tidur dan siap-siap checkout, saya dan teman saya mencoba mengexplore homestay sembari ngobrol-ngobrol santai menikmati suasana. Yang cukup mengherankan ketika tempat kami menginap ini yang lokasinya berada tepat dipusat kota bisa bebas polusi suara. 

Bapak-bapak pegawai homestay yang sedang menyapu halaman homestay

Ngobrol santai menikmati pagi

Setelah kami siap-siap sekitar pukul 09.00, kami berdua siap-siap checkout dari homestay untuk selanjutnya bertemu teman-teman Blusukan Solo di depan ticketing Kori Kamandungan Keraton Kasuanan. Kami dipandu oleh dua orang kawan panitia Blusukan Solo untuk menuju temapt tersebut.

Ready to explore!

Dalam perjalanan ke Kori Kamandungan saya harus nyari bensin dulu karena indikator bensin motor udah ketip-ketip. Mampirlah kami ke penjual bensisn eceran didekat pasar Klewer yang baru saja terbakar. Ternyata eh ternyata, penjualnya adalah seorang anak kecil. Mungkin sekitar kelas 3 SD. Tetep semangat ya dik!! Insyallah berkah.

 Bersama adik penjual bensin eceran

Destination Unlocked!!
Destinasi I, Kori Kamandungan. 
Sampai dibangunan iconic keraton kasuanan ini komplit sudah dan sah sudah saya ada di Solo. Bila kita serach di mbah Google dengan key word Solo, bangunan ini pasti akan muncul. Kori Kamandungan merupakan tempat dimana dulunya para tamu Kasuanan sebelum bertemu raja berhenti sejenak. Di Kori ini juga terdapat 2 cermin besar dikanan dan kiri dinding yang berfungsi untuk melihat apakah ia sudah rapi belum. Selain itu juga banyak juga makna filosofis mengenai keberadaan 2 cermin ini adalh sebagai tempat berintrospeksi diri.

Kori Kamandungan dengan latar belakang Menara Sangga Buwana

Sebelum memulai blusukan pagi ini, teman-teman dari Blusukan Solo memberi kami sarapan berupa Lonjongan. Lonjongan adalah sejenis jajanan pasar yang berisi beraneka ragam camilan manis seperti gathot, tiwul, ketan merah dan putih, jenang gethuk dan lain-lain. 

Lenjongan Solo yang berisi camilan manis dengan parutan kelapa sebagai topping-nya

Briefing sebelum blusukan 

Setelah selesai sarapan, kami langsung diajah menjelajah kampung yang ada didalam kompleks Keraton Kasunanan. Kami dibawa menyusuri jalan-jalan sempit ditengah kampung keraton ini. 


Memasuki kampung keraton Kasunanan

Terlihat dikejauhan Menara Sangga Buwana Keraton Kasunana Surakarta

Destinasi II, nDlaem Mlayakusuman. 
Tempat ini dulunya adalah tempat tinggal milik kerabat keraton yang kemudian dihuni oleh salah satu teman Blusukan Solo yang berasal dari mancanegara. Beliau bernama Miss Eva. WNA asal Wina, Austria yang sudah  sangat jatuh cinta dengan Solo dan memilih untuk menghabiskan hidupnya di Solo selama 25 tahun. Sampai akhir hayatnya beliau meninggal di nDalem ini. Menurut mas Fendy, karena beliau adalah warga negara asing yang tidak mempunyai visa bekerja, maka selama tinggal di Solo, beliau tidak bekerja dan warga sekitar nDalem Mlayakusuman lah yang memberikan makanan kepada Miss Eva. Tambahan, Beliau sangat mahir berbahasa Jawa halus dan malahan lebih bagus dari orang asli Solo sendiri.

nDalem Mloyokusuman. Sayang kami ndak bisa masuk kedalam nDalem ini.

Destinasi III, Makam Ki Gede Sala. 
Ditengah perumahan padat penduduk di kampung Keraton, terdapatlah sebuah makam orang yang yang sangat penting pada masa awal Keraton Kasunanan berdiri. Beliaulah pemilik tanah yang kita kenal sebagai Solo. Nama Solo sendiri sebenarnya berasal dari nama beliau. Konon dulunya tanah yang kita sebut Solo sekarang ini adalah rawa-rawa dipinggir Bengawan Solo yang dimiliki oleh Ki Gede Sala. Saat Keraton Kertasura hancur saat geger pecinan, Sunan Pakubuwono II meminta para abdinya untuk mencari lokasi Keraton yang baru. Setelah mencari kebebrapa lokasi, munculah 3 opsi pilihan lokasi yang akan digunakkan sebagai Keraton yang baru. Dan pada akhirnya pilihan jatuh ke Desa Sala yang kita kenal sebagai Kota Solo sekarang.  

Patok Lokasi makam Ki Gede Sala

 
Didalam kompleks makam terdapat dua makam lain disamping makam Ki Gede Sala. Ada makam Kyai Carang dan Nyai Sumedang. 

 
Penjelasan oleh Juru Kunci Makam mengenai siapa Ki Gede Sala dan 2 makam lain disekitarnya. Menurut penuturan juru kunci, 2 makam lain ini merupakan teman seperguruan Ki Gede Sala.

 
Nisan Ki Gede Sala yang berprasasti aksara jawa.

Sedikit tambahan, setiap peringatan dari hari jadi Kota Solo, semua jajaran pemkot Solo selalu berkunjung ke kompleks pemakaman ini. Begitu pula dalam ajang kontes pemilihan Dimas dan Diajeng Solo selalu sowan ke kompleks pemakaman ini. Jangan heran kalau politikus Solo yang nyaleg juga sering ngalap berkah ditempat ini. 

Destinasi IV. Museum dan Keraton Kasunanan Surakarta.
Setelah mengunjungi kompleks pemakaman Ki Gede Sala, kami bersama rombongan kawan-kawan Blusukan Sala menuju ke Museum Keraton Kasunanan Surakarta. 

  
Pemandangan menuju Keraton Kasunanan yang melewati tengah kampung di dalam Benteng Baluwarti.Dikejauhan nampak menara Sangga Buwana Keraton.  

 
 Tak lupa, dalam perjalana menuju ke Keraton, saya melihat batu yang diduga sih komponen candi.  

 
Pintu masuk menuju ticketing Keraton

 
Peserta mulai memasuki kompleks Keraton.

  
Ini yang menurut saya unik. Becak-becak di Solo mempunyai bentuk yang berbeda dari bisa saya temui baik di Magelang ataupun di Jogja. Bentuk becak yang berslebor trepes dan pinggiran yang mblenduk membentuk huruf 'B'. 

 Memasuki kompleks Keraton, kami langsung disambut oleh pemandu dari Keraton. Setelah sedikit perkenalan, kami langsung dipandu memasuki ruangan-ruangan didalam museumKeraton Kasunanan. Banyak sekali koleksi yang dipamerkan dalam museum. Mulai dari perlatan memasak dapur keraton, koleksi pusaka keraton, kereta keraton, arca-arca era jawa klasik, pakaian keraton dan lain sebagainya. Kalau mau komplit main kesini yak..

 
Perkenalan oleh pemandu dari Keraton.

 
Penjelasan oleh pemandu Keraton didalam salah satu ruangan Museum.

 
Ruangan lain dalam Museum.  

  
Kereta yang digunakan untuk mengantarkan Jenazah Raja. Sayang kurang terawat dan hanya diletakkan diluar ruangan.

Setelah selesai tour dalam museum, kami diantar menuju ke dalam kompleks Pendapa Agung Keraton Kasunanaan. Ada aturan khusus jika kita ingin memasuki area ini. Jika teman-teman memakai sandal (baik jepit/sepatu sandal) diminta untuk dilepas dan nyeker. Sedang bagi teman-teman yang memakai sepatu tidak diminta untuk melepas. Kenapa? Konon karena sejak kolonial dulu, Orang Belanda (VOC) yang notabene selalu memakai sepatu tidak pernah diminta melepaskan sepatunya ketika memasuki keraton. Hal itu masih berlangsung hingga sekarang. Siapa saja yang memakai sepatu di Keraton, bila bersepatu tidak diminta untuk melepasnya.  

 
Yey! Masuk ke area pelataran Pendapa Agung.

 
Penjelasan oleh bapak pemandu mengenai seluk beluk pendapa Agung. Dalam area pelataran ini terdapat 77 tumbuhan sawo kecik. 7 (pitu) dalam bahasa jawa bermakna pitulungan (pertolongan). 

 
Penampakan pendapa Agung Keraton Kasuananan.
Penjelasan berikutnya mengenai adanya patung-patung gaya Yunani di sekitar pendapa. Konon patung-patung ini adalah pemberian dari kerajaan di Eropa. Keraton sendiri dulu sangat dekat dengan rezim Napoleon Bonaparte.

 
Detail beberapa patung-patung dewi Yunani yang sangat cantik. 

 
Sajen dan Dupa yang ada di pelataran Pendapa Agung. Sajen adalah akronim dari Syahadat kang sejati (Syahadat yang sejati) dan Dupa adalah akronim dari Dudu apa-apa (Buka apa-apa). Kedua benda simbolis ini tidak bisa lepas dari kultur orang jawa.

 
 Menara Sangga Buwana. Menara diamana para raja Surakarta bersemedi dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Menara ini juga dipercaya tempat diamana para raja  menerima wisik dan berkomunikasi dengan penguasa laut selatan.
Setelah puas menikmati indahnya Keraton, kami beranjak menuju lokasi Destinasi terakhir.
 
 
Perjalanan menuju lokasi destinasi terakhir.

 
 Dalam perjalanan ini saya diberitahu lokasi dimana letaknya insiden konflik perebutan tahta keraton Solo pernah terjadi tahun 2012an lalu. Peristiwa penabrakan pintu salah satu nDalem dengan sebuah mobil sampai-sampai pintunya jebol dan diganti. Ini dia lokasinya.

Destinasi V. nDalem Pangeran.
Dulunya nDalem Pangeran adalah tempat tinggal para pangeran Keraton Kasuananan. Sebenarnya terdapat beberapa lokasi nDalem pangeran dalam kompleks Keraton, namun beberapa di antaranya ada yang sudah 'Moksa' (hilang tak berbekas), menuju hancur, dan lain sebagainya. nDalem pangeran yang satu ini bisa dikatakan yang masih realtif baik diantara yang lainnya itu. 

  
Foto bersama teman-teman Blusukan Solodi nDalem Pangeran.
 
nDalem ini sudah tidak digunkan lagi oleh keraton untuk hunian para pangeran keraton. Sebenarnya nDalem ini sudah bukan milik keraton Kasunanan. hak guna bangunan sudah milik keluarga Cendana. Pada tahun 90an, nDalem ini sudah dibeli oleh pak Harto.Mitos beredar apabila ada orang yang membeli rumah di kompleks keraton, maka si pembeli akan mengalami musibah. Dan, ketika do 'otak-atik gatuk kan' mitos ini terbukti. Semenjak pembelian nDalem ini, beberapa kejadiaan buruk terjadi mulai sepeninggalnya Bu Tien sampai lengser keprabonnya Pak Harto. yaa,, but who knows? Wallohualam Bissawab.. 

nDalem Pangeran sendiri sekarang lebih berfungsi sebagai temapt latihan karawitan dan kesenian warga sekitar. Karena tidak sebagai fungsi rumah tinggal, nDalem pangeran dibeberapa bagian terlihat rusak dan kurang begitu terawat. sayang sekali.

 
Saka (tiang) pendapa depan nDalem pangeran.

  
Aktivitas latihan karawitan yang dilakukan oleh anak sekolah.
 
  
Teman saya yang sempat berkolaborasi latihan dengan adik-adik pengrawit cilik.

  
Aneh bin ajaib. Didalam nDalem ini saya menemukan batu candi. Ada potonga arca kepala Budha dan Stupa. Kalo arca kepala Budha nya saya blum yakin ini lama atau baru, tapi untuk stupa nya inyallah lawas. Entah darimana barang ini.

  
Penampakan bagian belakang pendapa nDalem pangeran yang bersebalah langsung dengan pasar Klewer. Beberapa kerusakan bisa dilihat disini.

  
Dibagian belakang ini dulunya para pangeran sering berlatih memanah (jemparingan) ala jawa. Tapi sekarang sudah menjadi semak belukar.

 
Beberapa ubin (tegel kunci) yang ada di nDalem Pangeran.

 
Ubin disamping nDalem Pangeran temapt penjaga nDalem.

 
Potongan ubin yang tinggal satu.

 
Human Interest. Aktivitas warga sekitar didalam nDalem Pangeran. Momong Putu 

 
Sehat-sehat mbah.

nDalem Pangeran merupakan destinasi akhir dari rangkaian peringatan HUT ke-3 Blusukan Solo. Acara di nDalem Pangeran ini kira-kira berakhir sekitar pukul 12.30. Setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih pada teman-teman Blusukan Solo, kami berpamitan pulang. Sebenarnya masih ada beberapa tempat yang ingin saya kunjungi, namun keterbatasan waktu yang membuat kami harus pulang kembali ke Magelang. Suatu saat saya pasti kembali. I'll be back!!

EPILOG.
Rugi rasanya kalau main ke Solo tidak mampir ke Museum Radya Pustaka. Maka setelah kami berpamitan, denga sedikit waktgu yang tersisa saya dan konco mblusuk saya ini menyempatkan diri ke Museum Radya Pustaka. Kami tiba pukul 13.30, 30 menit sebelum museum tutup. Tanpa ba bi bu, kami langsung bergegas beli tiket dan masuk melihat koleksi Museum.

 
 Koleksi asli dari kepala kapal keraton Kasunanan Surakarat yang dulu digunakan untuk menyusuri Bengawan Solo.

 
Set Gamelan Keraton Surakarta.

 
Lingga berprasasti. Epic!! 

 
Arca perunggu 
 
  
Arca mungil Siwa yang tidur. 

 
Vajra alat ritual para pandita agama Hindu. Vajra merupakan senjata dewa Indra yang berupa petir. Vajra juga merupaka simbolisme dari maskulinitas sedang genta adalah simbolisme feminitas.
 
  
Arca Siwa yang sedang mengendarai Nandhi.

 
Wayang Beber. wayang yang digambar pada lembaran-lembaran kain / ketas yang berisi fragmen kisah dalam cerita pewayangan. 

 
Potongan relief Kartikya yangsedang mengendarai burung merak. 

DESTINATION MAHA UNLOCKED!!
Dan ini lah yang paling ULTIMATE bagi teman-teman yang asli Magelang. Satu kata, MENGHARUKAN. Bersama saya adalah Lempengan Asli Prasasti Mantyasih yang dipahat diatas tembaga. Jika teman seklian ngaku orang Magelang dan cinta Magelang, adalah hukumnya wajib untuk datang dan berfoto dengan Prasasti Mantyasih. Tidak syah ke Magelangan sampean jika tidak melihat langsung prasasti Mantyasih. Anggaplah sebagai 'pentasbihan' atau 'pembaptisan' jika sampean sudah jadi orang Magelang yang Kaffah dengan berfoto dengan Prasasti Mantyasih. hahahahah.. Salam Mblusuk Men!!


Special Thanks to:
1. Teman-teman KTM yang sudah memberi saya kesempatan untuk mewakili komunitas dalam acara HUT ke-3 Blusukan Solo. Terima kasih support baik moral dan material kepada saya dan teman saya. (tidak termasuk soal #savegustamblusukmen dan iming2 foto Djeladjah Candi) wkwkwkwkwkwk..
2. Teman-teman Bluskan Solo atas sambutan, pelayanan dan keramah-tamahannya selama HUT. Saya pribadi mewakili komunitas sangat-sangat berterima kasih atas undangan yang diberikan dan kebaikan teman-teman Blusukan Solo. Maaf jikalau ada hal yang kurang berkenan selama acara HUT. Kami tunggu Blusukannnya ke Magelang.
3. Tidak lupa terima kasihnya untuk teman saya yang tidak mau disebutkan identitasnya yang sudah mau menemani saya blusukan di Solo. Hahahaha

Kontributor Foto:
1. Pribadi
2. Doc. Blusukan Solo
3. Temen saya

SALAM MBLUSUKMEN!! :v


  


Salah satu misteri hidup yang menjadi rahasia Tuhan dan manusia tidak mengetahuinya adalah maut alias kematian. Sudah pasti manusia senantiasa mengharapkan umur yang panjang. Akan tetapi dikarenakan manusia hidup di dunia hanyalah diibaratkan sekedar mampir ngombe atau sangat sebentar dan sekedar singgah untuk kemudian melanjutkan perjalanan di alam kubur dan akhirat, maka maut menjadi sebuah keniscayaan.

Baru berlalu seminggu yang lalu, seorang bayi anak tetangga dipanggil sebelum sempat menghirup udara dunia. Menurut beberapa cerita, usia kandungan si bayi mungil itu memang sudah mencapai waktunya untuk lahiran. Akan tetapi hingga hitungan hari-H nya, masih belum ada tanda-tanda kelahiran. Atas saran dari bidan yang biasa memeriksa kandungannya, si ibu diminta untuk ke rumah sakit atau dokter spesialis kandungan. Namun demikian, himbauan tersebut sedikit terabaikan karena keinginan yang keukeh tidak ingin lahiran di rumah sakit.

Maka ketika kemudian kondisi tidak ada perkembangan berarti, dengan terpaksa dibawalah si ibu hamil tersebut ke rumah sakit. Akan tetapi rupanya nasi telah terlanjur menjadi bubur, si janin justru sudah tidak bernafas lagi di dalam kandungan.

Sebagaimana pengalaman saudara ipar perempuan yang pernah mengalami kasus yang serupa, mungkin sekali terdapat kelainan kehamilan atau janin yang tidak sempat terdeteksi semenjak dini. Untuk kandungan saudara ipar kami, ketika umur kandungan sudah mencapai saat kelahiran justru detak jantung si janin semakin melemah. Dalam kondisi demikian hingga di tunggu pada hari perkiraan kelahiran tidak juga ada tanda-tanda kontraksi sebagaimana normalnya. Dikarenakan usi kandungan sudah mencapai titik kematangan, maka dokter menganjurkan kelahiran harus dilakukan melalui proses operasi.

Lain dengan kisah maut yang menjemput si janin yang belum sempat terlahirkan, hari kemarin seorang tetangga mengalami serangan jantung selepas waktu Ashar. Dari riwayat kesehatan, sebenarnya tetangga kami tersebut termasuk orang yang sehat dan segar bugar bahkan jarang sakit. Akan tetapi serangan jantung tersebut ternyata telah mengantarkannya kepada malaikat maut.

Kisah di atas hanyalah sebuah penggalan satu cerita di balik banyak cerita betapa maut bisa saja menghampiri seorang janin yang belum lahir sekalipun dan bisa juga menyambangi orang yang telah berumur. Maut tidak hanya mengenal dan hanya berkenan menjemput orang yang telah lanjut usia. Maut tidak hanya menghampiri orang yang sedang sakit. Maut bisa datang kepada siapapun sebagaimana perintah yang diamanatkan oleh Tuhan Sang Penguasa Maut.


Filed under: Jagad Ngisor Blimbing Tagged: maiyah, Ngisor Blimbing

Di artikel sebelumnya (baca di: Panduan Aplikasi Giberelin pada Jahe) saya menyampaikan tentang panduan aplikasi giberelin (GA3) untuk tanaman jahe. Sebenarnya sudah banyak penelitian dan percobaan yang mencoba menggunakan dan mencari hormon atau zpt apa yang cocok untuk tanaman jahe. Salah satunya yang sudah berhasil adalah pemakaian hormon/ZPT GA3 atau giberelin dengan konsentrasi tinggi (150ppm). Hasilnya sangat mengejutkan. Produksi rimpang segar jahe gajah adalah sebesar 69.86 ton/ha dibandingkan kontrol yang mencapai 45.6 ton per ha. Artinya, bahwa aplikasi hormon giberelin dengan konsentrasi tinggi pada awal fase pertumbuhan cepat dan fase pembesaran rimpang (baca: fase-fase pertumbuhan jahe) dapat meningkatkan produksi rimpang jahe segar secara signifikan. Berikut artikel aslinya:

View this document on Scribd

Asam Humat Cair kandungan 20%

Asam humat cair berkualitas tinggi dengan kandungan 20%.

Asam humat adalah salah satu bahan pembenah tanah yang bisa memperbaiki sifat-sifat tanah. Banyak sekali manfaat asam humat untuk pertanian. Dalama jumlah sedikit asam humat akan memperbaiki karakteristik tanah, namun dalam jumlah besar asam humat bisa meracuni bahkan mematikan tanaman. Asam humat bisa bertindak sebagai agen pengkelat yang akan ‘memegang’ hara nutrisi tanaman di dalam tanah, sehingga hara tersebut tidak cepat tercuci dan lebih mudah diserap oleh akar tanaman. Asam humat juga telah dipakai sebagai pelapis (coating) beberapa pupuk kimia seperti urea dan kalium. Beberapa hasil penelitian di China membuktikan bahwa pupuk yang diberi asam humat lebih efisien diserap oleh tanaman jahe. Selain digunakan sebagai coating pupuk, atau disemprotkan ke tanaman. Asam humat juga bisa dipakai dalam media tanam jahe. Asam humat bisa dipakai untuk tanaman jahe gajah, jahe merah, dan jahe emprit.

Asam humat, baik yang cair maupun yang padat bisa ditambahkan dalam formulasi media tanam jahe. Asam humat cair bereaksi basa, penambahan harus diperhatikan agar tidak meningkatkan pH media terlalu tinggi (>7), sedangkan asam humat padat bereaksi masam. Penambahan asam humat hanya sedikit/secukupnya saja.

Informasi lanjut: Asam Humate

Referensi:
Liang, T. B., et al. “Effects of humic acid urea on yield and nitrogen absorption, assimilation and quality of ginger.” Plant Nutrition and Fertilizer Science 13 (2007): 903-909.

LIANG, Tai-bo, et al. “Effects of Potassium Humate on Growth, Potassium Uptake and Utilization Efficiency of Ginger.” Journal of Soil and Water Conservation 1 (2008): 018.

Lan, L. I. U., et al. “Microbial and enzyme activity in response to humic acid in soil with a ginger crop.” (2009).


View this document on Scribd

Rice-feeding insects of tropical Asia
B.M. Shepard, A.T. Barrion, J.A. Litsinger
This field guide documents the community of insects that feed on rice in the tropical zone of Asia and complements the IRRI publication “Helpful insects, spiders, and pathogens: friends of the rice farmers.” It covers 78 phytophagous species in 64 genera, 27 families, and 8 orders. The phytophage guild represents five groups-general defoliators, (27 species), plant suckers (25 species), early vegetative pests (11 species), soil pests (9 species), and stem borers (6 species). Stem borers and plant suckers comprise the major rice pests. A brief description of each insect’s life stage and damage it does to the rice plant is presented for a quick and reliable identification.
Specifications

Publisher: International Rice Research Institute
Language: English
ISBN: 9789712200625
Pages: 234 pages


Aktivator Promi produk dari Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia (PPBBI) berbahan aktif mikroba-mikroba yang bermanfaat bagi tanaman, yaitu: Polyota sp (mikroba pendegradasi lignoselulosa), Aspergillu sp (mikroba pelarut P), dan Trichoderma sp (mikroba pelarut P, perangsang pertumbuhan tanaman, dan agensia hayati). Aktivator Promi bisa digunakan dalam pembuatan kompos dari bahan-bahan organic, maupun pembuatan pupuk kandang dari kotoran sapi. Aktivator Promi juga bisa digunakan langsung pada pembuatan medi a tanam jahe.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa aplikasi mikroba pada media tanam seperti Trichoderma sp dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman jahe dan mengurangi resiko serangam penyakit tular tanah, seperti busuk rimpang jahe. Trichoderma sp yang ada di dalam Promi bisa berperan sebagai perangsang pertumbuhan tanaman, maupun sebagai agensi a hayati untuk melindungi tanaman jahe dari serangan penyakit yang disebabkan oleh bakteri/fungi dari dalam tanah.

Aplikasi Promi dalam Media Tanam

Aplikasi Promi pada pembuatan media tanam jahe

1. Dosis aplikasi Promi untuk media tanam adalah 1 kg Promi untuk 1-2 ton media tanam.
2. Campurkan semua bagian Promi menjadi satu dan diaduk merata.
3. Pencampuran Promi dengan media tanam diberikan secara bertahap. Tahap pertama campurkan 1 kg Promi dengan kurang lebih 100 kg media tanam.
4. Aduk hingga semua Promi tercampur merata.
5. Tambahkan secara bertahap ke dalam 100 kg media tanam tersebut sedikit-demi sedikit hingga volumenya 1 – 2 ton.
6. Masukkan media ke dalam polybag sebagai media penanaman jahe.

Aplikasi Promi pada polybag yang sudah ditanami jahe

1. Dosis aplikasi adalah 1 kg Promi dilarutkan dengan 100-200 liter air.
2. Aduk hingga tercampur merata.
3. Siramkan larutan Promi kurang lebih 1/5 liter – 1 liter ke dalam polybag.

Perhatian:

Jaga kelembaban media tanam. Media tanam yang sangat lembab (<90%) dan kurang drainase dapat menyebabkan terjadinya serangan hama dan penyakit tanaman jahe.

Informasi lebih lanjut silahkan kunjungi:

1. http://iribb.org/
2. http://isro.com/promi/
3. Ibu Eka IBU EKA (085711656103/087770643945)

Referensi

Rokhminarsi, E. And M. Januwati (2013). “Pengaruh Formula Trichoderma Harzianum-Mikoriza Dan Pupuk Inorganik Terhadap Serangan Fusarium Oxysporum Pada Tanaman Jahe Muda.” Jurnal Agrin 17(1).
Lo, C.-T., C.-Y. Lin, Et Al. (2002). “Screening Strains Of Trichoderma Spp For Plant Growth Enhancement In Taiwan.” Plant Pathology Bulletin(4): 215-220.
Rajan, P., S. Gupta, Et Al. (2002). “Diseases Of Ginger And Their Control With Trichoderma Harzianum.” Indian Phytopathology 55(2): 173-177.


View this document on Scribd

Aktivator Promi produk dari Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia (PPBBI) berbahan aktif mikroba-mikroba yang bermanfaat bagi tanaman, yaitu: Polyota sp (mikroba pendegradasi lignoselulosa), Aspergillu sp (mikroba pelarut P), dan Trichoderma sp (mikroba pelarut P, perangsang pertumbuhan tanaman, dan agensia hayati). Aktivator Promi bisa digunakan dalam pembuatan kompos dari bahan-bahan organic, maupun pembuatan pupuk kandang dari kotoran sapi. Aktivator Promi juga bisa digunakan langsung pada pembuatan medi a tanam jahe.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa aplikasi mikroba pada media tanam seperti Trichoderma sp dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman jahe dan mengurangi resiko serangam penyakit tular tanah, seperti busuk rimpang jahe. Trichoderma sp yang ada di dalam Promi bisa berperan sebagai perangsang pertumbuhan tanaman, maupun sebagai agensi a hayati untuk melindungi tanaman jahe dari serangan penyakit yang disebabkan oleh bakteri/fungi dari dalam tanah.

Aplikasi Promi dalam Media Tanam

Aplikasi Promi pada pembuatan media tanam jahe
1. Dosis aplikasi Promi untuk media tanam adalah 1 kg Promi untuk 1-2 ton media tanam.
2. Campurkan semua bagian Promi menjadi satu dan diaduk merata.
3. Pencampuran Promi dengan media tanam diberikan secara bertahap. Tahap pertama campurkan 1 kg Promi dengan kurang lebih 100 kg media tanam.
4. Aduk hingga semua Promi tercampur merata.
5. Tambahkan secara bertahap ke dalam 100 kg media tanam tersebut sedikit-demi sedikit hingga volumenya 1 – 2 ton.
6. Masukkan media ke dalam polybag sebagai media penanaman jahe.

Aplikasi Promi pada polybag yang sudah ditanami jahe
1. Dosis aplikasi adalah 1 kg Promi dilarutkan dengan 100-200 liter air.
2. Aduk hingga tercampur merata.
3. Siramkan larutan Promi kurang lebih 1/5 liter – 1 liter ke dalam polybag.

Perhatian:
Jaga kelembaban media tanam. Media tanam yang sangat lembab (<90%) dan kurang drainase dapat menyebabkan terjadinya serangan hama dan penyakit tanaman jahe.

Informasi lebih lanjut silahkan kunjungi:
1. http://iribb.org/
2. http://isro.com/promi/
3. Ibu Eka IBU EKA (085711656103/087770643945)

Referensi
Rokhminarsi, E. And M. Januwati (2013). "Pengaruh Formula Trichoderma Harzianum-Mikoriza Dan Pupuk Inorganik Terhadap Serangan Fusarium Oxysporum Pada Tanaman Jahe Muda." Jurnal Agrin 17(1).
Lo, C.-T., C.-Y. Lin, Et Al. (2002). "Screening Strains Of Trichoderma Spp For Plant Growth Enhancement In Taiwan." Plant Pathology Bulletin(4): 215-220.
Rajan, P., S. Gupta, Et Al. (2002). "Diseases Of Ginger And Their Control With Trichoderma Harzianum." Indian Phytopathology 55(2): 173-177.


Malu itu Perlu

-

Sang Nananging Jagad

on 2015-3-30 1:57am GMT

Alkisah, terceritakanlah seorang mahasiswa kota kembang yang di sela kesibukan kuliahnya bekerja paruh waktu sebagai wartawati sebuah surat kabar. Meski belum menjadi sebuah pilihan profesi yang tetap, tetapi ia menjalani kerja kewartawanannya dengan penuh dedikasi dan idealisme tinggi seolah ia telah menemukan passion yang senantiasa mendorongnya untuk menulis dengan profesional.

Suatu ketika, si mahasiswi mengangkat sebuah tulisan hasil investigasinya terhadap sebuah proyek properti yang mengungkapkan banyak catatan tentang ketidakwajaran. Intinya dalam proyek tersebut terdapat indikasi-indikasi perbuatan melawan hukum dan menimbulkan kerugian negara. Gamblangnya ada dugaan korupsi di dalam pengerjaan proyek tersebut.

Melalui serangkaian wawancara dan investigasi di lapangan yang cukup, si mahasiswi yang wartawati tersebut kemudian mengajuan sebuah tulisan yang membongkar tindakan korup tersebut ke meja redaksi. Selang beberapa hari kemudian, bukannya tulisan otentik hasil investigasinya yang dimuat, namun yang justru terpampang sebagai headline di halaman terdepan koran tempat ia bekerja adalah sebuah tulisan yang sudah dipoles dan dimanipulasi untuk membelokkan fakta. Apakah si wartawati protes?

Tentu saja wartawati tersebut protes kepada pimpinan redakturnya. Sang redaktur memberikan jawaban bahwa pihaknya tidak dapat berbuat apa-apa dengan adanya intervensi dari direktur yang menginginkan korannya tidak menelanjangi proyek properti yang penuh indikasi korupsi tersebut.

Tidak hanya terima sampai di situ, si wartawati menghadap direktur dan menyampaikan protesnya. Kali ini direktur koran tersebut memberikan keterangan yang berputar-putar yang pada intinya korannya butuh para pemasang iklan, dan salah satu kontributor pemasang iklan yang menghidupi koran tersebut adalah perusahaan properti yang diberitakan tersebut. Ketika didesak lebih lanjut mengenai idealisme dan profesionalisme kewartawanan, sang direktur akhirnya mengungkapkan secara gamblang bahwa tidak sebaiknya koran yang ia pimpim berani berseberangan, bahkan melawan, seorang pejabat HS alias Herman Sangkelana. Ia adalah seorang pejabat tinggi di salah satu kementerian.

Mendengar nama berinisial “HS” alias Herman Sangkelana disebut, nampak ada gurajat keterkejutan di wajah si wartawati. Akhirnya ia keluar kantor, kembali ke sebuah rumah tua yang  ditinggalinya selama ini saat kuliah di kota kembang. Tak seberapa lama, ia meluncur mengendarai mobilnya melaju di jalan tol dan tiba di sebuah rumah elit di pinggiran ibukota. Sesaat setelah satpam penjaga pintu membukakan pintu gerbang, tersorot sebuah papan nama di muka rumah tersebut, “Herman Sangkela”.

Pengantar uraian di atas merupakan sebuah prolog kisah Inka, seorang wartawati berdedikasi tinggi yang dikemas dalam Sinetron Wajah Indonesia berjudul “Malu Itu Perlu” yang tayang pada salah satu stasiun televisi Minggu malam, 29 Maret 2014 mulai pukul 23.00 WIB. Lalu bagaimana kisah kelanjutannya?

Tanpa seorangpun tahu bahwa Inka si wartawati tadi ternyata adalah anak ke dua dari Herman Sangkelana. Dalam dialog singkat pada malam hari ketika ayahnya akan berdinas luar ke Bangkok bersama ibu dan kakaknya, ia sempat memberikan beberapa sindiran mengenai perilaku ayah dan keluarganya yang memanfaatkan fasilitas kenegaraan dengan mengajak keluarga pada saat berdinas luar negeri. Pembicaraan juga sedikit mengarah kepada kasus proyek perusahaan properti milik ayahnya tersebut.

Sejuta persaan gelisah bergojak di dada dan otak Inka. Secara naluriah ia tentu saja sangat sayang kepada ayah, ibu dan kakaknya. Akan tetapi naluri dan hati nuraninya sangat tidak menyetujui dengan tindakan korup oleh siapapun. Tanpa sepengetahuan ayah dan kakaknya yang juga terlibat dalam proyek properti penuh tindak korupsi tersebut, di tengah malam Inka menyelinap ke ruang kerja ayahnya dan mengkopi semua data laporan proyek properti yang heboh tersebut.

Singkat cerita, idealisme Inka menuntunnya untuk terus melanjutkan investigasi perihal penyimpangan proyek properti milik ayahnya yang juga seorang pejabat negara tersebut. Di luar dugaannya, rekan-rekan wartawan dan juga senior redakturnya memberikan dukungan penuh pada saat ia disidang di hadapan direktur yang memojokkan Inka dan berkeras untuk menghentikan ulah berbahayanya. Akhirnya dewan redaksi, melalui voting, memutuskan kasus properti tersebut harus diungkap melalui tulisan untuk mendorong penegak hukum menindaknya.

Dengan picuan berita yang ditulis, berbagai koran dan media lain semakin menyorot kasus properti yang dicurigai merugiakan keuangan negara tersebut. Hal ini mendorong aparat penegak hukum untuk segera turun tangan. Akhirnya, Herman Sangkelana diadili dan mendapatkan hukuman pidana penjara 15 tahun.

Sebuah pilihan berat telah diambil Inka, ia tetap menuruti hati nurani betapapun hal itu berakibat sangat berat bagi keluarganya. Kepentingan negara dan rakyat harus diutamakan di atas kepentingan pribadi dan keluarganya. Betapa HS sangat marah dan mendendam ketika mengetahui bahwa yang membawanya ke penjara adalah anak kandungnya sendiri. Bahkan ketika ia sudah di dalam sel penjara, ia enggan bertemu ketika Inka membesuknya. Semua tentu terasa sangat pahit dan getir di hati Inka.

Di akhir cerita, melalui doa dan kepasrahan kepada Tuhan, dikisahkan Herman Sangkelana akhirnya mau menemui Inka. Dalam sebuah percakapan yang teramat dalam, HS mengungkapkan kesadarannya bahwa ia akhirnya sadar bahwa ialah yang telah keliru dan tidak bisa bertanggung jawab terhadap keluarganya dengan memberi nafkah melalui jalan yang haram. Akan tetapi Inka telah menyelamatkan dirinya dan keluarganya. Penjara dunia ada jangka waktu  akan berakhir, tetapi penjara akhirat akan abadi sepanjang masa. HS sangat berterima kasih dan bangga memiliki Inka. Inilah akhir kisah sinetron Malu Itu Perlu.

Sinetron Malu Itu Perlu, merupakan sebuah kritik cerdas terhadap fenomena perilaku korup yang kian merajalela di negeri ini. Tidak hanya dilakukan secara mandiri oleh seseorang, banyak tindakan korupsi yang melibatkan secara langsung maupun tidak langsung semua anggota keluarga sebagaimana proses pencucian uang yang sering dipakai sebagai kedok korupsi. Di sinilah pesan moral yang sangat dalam ingin disampaikan bahwa setiap anggota keluarga memiliki peran untuk saling mengingatkan satu sama lain agar jangan sekali-kali korupsi karena terkadang dorongan atau bisikan korupsi juga bisa berasal dari dalam sebuah rumah tangga.

Lor Kedhaton, 30 Maret 2015


Filed under: Jagad Sastra Tagged: korupsi, sinetron wajah indonesia

Li-sin 2.8

-

Li-s.in

on 2015-3-29 4:48pm GMT
Waktu berjalan begitu cepat. Tahun baru bergulir kembali. Dan, rasanya baru sekejap mata, Januari, Februari dan Maret terlampaui lagi. Sementara jarum jam terus berdetak, tak mau di-pause, meski hanya untuk sekejap. Sang waktu terus bergerak mengikis sedikit-demi sedikit jatah umur kita. Hingga hari yang dijanjikan itu akan tiba. Kematian. Semua yang berjiwa akan merasakan mati. […]
Tulisan ini bukan tentang kisah cinta San Chai dan Tao Ming Tse. Bukan pula tentang drama korea yang sempat membuat demam masyarakat Indonesia beberapa tahun yang lalu. Tulisah ini hanya sekedar mengulas keberadaan monumen langka yang mungkin belum banyak dikenal masyarakat. Pada hari Jum’at Pahing tanggal 11 Mei 2001, sekitar jam 09.00 WIB, sebuah meteor […]

Ungkapan bola-bali munggah-medun, berarti sering naik juga sering turun. Dalam kondisi gonjang-ganjing harga minyak dunia yang tidak stabil dan kemudian pemerintah kita justru menganut dinamika ketidakstabilan tersebut dalam menetapkan harga bahan bakar minyak di dalam negeri, sudah pasti membuat kalangan rakyat gelisah dan gusar. Siapa suruh bikin singkatan BBM?

Bagaimanapun BBM merupakan barang yang turut menentukan hajat hidup rakyat banyak. Memang rakyat tidak meminum BBM secara langsung, akan tetapi dalam berbagai aspek kegiatan sehari-hari, BBM sangat diperlukan dalam rangka transportasi orang maupun barang. Meskipun bisa jadi rakyat jelata sama sekali tidak memiliki kendaraan pribadi, tetapi setidaknya tetap mempergunakan jasa transportasi yang notabene bertumpu secara operasional terhadap BBM. Jadi jika harga BBM naik, otomatis harga jasa transportasi yang harus dibayar juga bertambah mahal.

Dalam kurun waktu lima bulan perjalanan pemerintahan Jokowi, setidaknya sudah beberapa kali terjadi penetapan perubahan harga BBM. Pernah BBM dinaikkan sangat drastis hingga rata-rata kenaikannya Rp 2.000,-. Pada saat itu semua sektor kehidupan langsung terkena imbas. Tarif transportasi langsung naik, harga kebutuhan sehari-hari juga naik. Semua menjadi bertambah mahal dan daya beli masyarakat secara umum turun drastis.

Pada saat harga BBM dunia turun, pemerintah mengikutinya dengan kebijakan penurunan harga BBM meskipun harga tidak sepenuhnya pulih seperti sebelum dinaikkan. Rakyat senang ketika itu, sudah pasti. Cilakanya, ketika pemerintah menurunkan harga BBM, hal yang sama tidak serta merta diikuti dengan penurunan tarif transportasi, harga lebutuhan bahan pokok, dan semua harga barang dan jasa yang sudah terlanjur dinaikkan.

Bagi para pengguna kendaraan pribadi, turunnya harga BBM sudah pasti langsung menguntungkan mereka. Tetapi bagi pengguna jasa transportasi umum atau massal, khususnya yang berupa kendaraan angkutan jalan raya, penurunan hanyalah hal biasa yang tidak berimbas sama sekali terhadap mereka. Ya, itu tadi, harga BBM turun tetapi ongkos tidak ikutan turun. Nah, dalam kondisi demikian siapakah yang berdiri di belakang rakyat yang pada umumnya menjadi pengguna transportasi umum tadi. Di kala mereka membayar ongkos angkot yang lebih kecil dari tarif yang sebelumnya sudah dinaikkan, seringkali mereka dimaki-maki oleh kru angkutan. Tidak jarang hal ini menimbulkan keributan atau pertengkaran kecil yang bisa mewarnai keseharian rakyat kecil. Bisa dibilang fenomena ini merupakan sebuah ekses konflik horisontal tanpa kehadiran institusi negara yang seharusnya menjadi pembela bagi rakyat lemah.

Tanpa campur tangan peranan pemerintah, hukum alam senantiasa mengarahkan bahwa sebuah ketidakseimbangan atau guncangan kehidupan di tengah masyarakat lambat laun akan menemukan arah kestabilannya sendiri. Dalam ilustrasi peristiwa di atas, kestabilan masyarakat terwujud dengan kondisi orang lemah, rakyat kecil, ya harus selalu mengalah. Alih-alih setiap bepergian selalu protes tarfi terhadap kru angkutan yang tidak mau menurunkan tarif angkutan setelah harga BBM turun, akhirnya kebanyak orang memilih untuk membiasakan diri. Meskipun di dalam hati senantiasa mengumpat, tetapi apalah daya mereka hanya orang kecil. Betapa luar biasa pengorbanan rakyat untuk negara ini!

Mengikuti penurunan harga BBM yang pernah diputuskan oleh pemerintah, setidaknya kini sudah dua kali harga BBM kembali dinaikkan, bahkan hanya dalam kurun waktu di bulan Maret ini. Dari segi nominal rupiah, kenaikan tersebut memang bisa dibilang kecil dan membuat orang sedikit-banyak mengabaikannya. Kenaikan pertama di awal bulan, premium naik dari Rp. 6.500,- menjadi Rp. 6.900,-. Kenaikan yang dilakukan seolah tanpa menyisakan imbas apapun yang signifikan terhadap perekonomian kita.

Harga itupun kini dinaikkan kembali menjadi Rp. 7.400,-. Nah, di sinilah baru muncul pro-kontra dan sedikit riak gejolak. Belum berapa lama masyarakat menghadapi kenaikan harga beras yang menjerat, kini BBM juga tiba-tiba dinaikkan kembali. Mungkin kenaikan kali ini akan berimbas signifikan terhadap komponen tarif transportasi maupun biaya produksi yang lain yang juga akan berdampak terhadap kesulitan hidup bagi rakyat kecil.

Apakah kebijakan pemerintah dalam mengambangkan harga BBM mengikuti fluktuasi harga BBM dunia sudah tepat? BBM yang merupakan salah satu komoditas hajat hidup orang banyak di tanah air, tentu merupakan parameter yang sangat riskan jika dikelola tanpa kestabilan harga. Hal ini berkaitan dengan peranan BBM sebagai parameter penentu akibat ketergantungan sektor lain terhadap tarif transportasi yang sangat tinggi. Jika harga BBM naik, biaya transportasi naik, biaya produksi naik, harga-harga barang naik, dan semua hal kemudian menjadi semakin mahal. Otomatis dengan mahalnya berbagai hal, daya beli masyarakat turun dan memicu kemiskinan yang meluas.

Mungkin pemerintah berdalih, kebijakan mengikuti mekanisme harga BBM tingkat dunia juga diterapkan di banyak negara lain. Namun apabila dicermati lebih mendalam, konstruksi ekonomi negara lain, terutama yang berkaitan dengan ketergantungan sektor transportasi tidak setinggi di negara kita. Dengan sistem transportasi massal yang sudah mapan, naik-turunnya harga BBM tidak mempengaruhi tarif angkutan umum. Namun cerita indah ini tentu saja tidak berlaku di Indonesia.

Terus bagaimana? Apakah selamanya rakyat kecil harus hidup dalam kesusahan dan terpinggirkan dari keberpihakan kebijakan pemerintah yang sejatinya adalah para pelayan mereka? Entahlah…..

Ngisor Blimbing, 29 Maret 2015


Filed under: Jagad Bubrah Tagged: BBM, Jokowi

KOTA TOEA MAGELANG atau KOmoenitas petjinTa & pelestAri bangoenan TOEA di MAGELANG merupakan sebuah komunitas yang berupaya untuk lebih menggali informasi tentang SEJARAH/HISTORY dan berusaha melestarikan berbagai peninggalan CAGAR BUDAYA/HERITAGE (tangible dan intangible) yang ada di Magelang dan sekitarnya. Komunitas ini tidak hanya menitikberatkan pada bangunan tua berupa peninggalan jaman Hindu, Budha, Islam, Tionghoa ataupun […]
DI TJARI ! Sebuah pameran yang selalu menimbulkan kekangenan suasana tempo doeloe kembali hadir menyapa anda. Membuat anda merasa kembali ke suasana di masa lalu. Seolah-olah seperti sebuah mesin waktu yang membawa anda ke sekian puluh tahun yang lalu. Berbagai benda2 lawas, kuliner jadul, pertunjukan, musik, pentas kesenian, jelajah sepeda tua. layar tancap, pameran foto […]
Panorama Selogriyo, Duplikat Surga Langit tampaknya tidak begitu bersahabat siang ini, Sabtu (21/3/2015). Setelah shalat dhuhur di masjid kampung setempat, kami segera melangkahkan kaki untuk memulai trekking ke Candi Selogriyo. Candi itu terletak disebuah bukit yang bisa dikatakan berada di lereng Sumbing. Jarak tempuh kami dari parkiran motor sekitar 1,5 Km. Gerimis menyambut kami sesaat […]
AGENDA KEGIATAN KTM JAYA – 21 Maret 2015 Bumi Magelang yang subur ini semenjak dahulu memiliki peradaban yang tinggi. Bagaikan harta karun yang tak ternilai harganya. Berbagai peninggalan bersejarah berserakan di wilayah ini, termasuk peninggalan berupa situs dan candi yang merupakan peninggalan di jaman Hindu dan Budha. Jejak-jejak sejarahnya masih bisa kita temukan hingga sekarang, […]

Ing sawijining dina ing adicara Kenduri Cinta, Cak Emha Ainun Nadjib ngandakake kahanane para pemimpin negara ing jaman saiki. Beda banget sipat para pemimpin ing jaman perjuangan utawa awal kemerdekaan mbiyen. Umpama wae dwitunggal proklamator Bung Karno lan BUng Hatta. Uga isih ana akeh pemimpin kang tansah dadi tuladha tumraping kawula senajan para priyagung mau wis kapundhut ing Pangeran, kayadene para pahlawan nasional.

Jejere pemimpin kudu nduweni sikap lan perbawa kaya kang wis diajarake denig Ki Hajar Dewantara, ” Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”. Dadi pemimpin kudu tansah bisa empan papan. Pemimpin kudu tansah nduweni pekerti luhur kang bisa dituladhani dening sakabehing para kawula. Minangka pengarep, jejering pemimpin kudu menehi tuladha kang apik.

Kajaba kuwi, pemimpin uga kudu dadi pribadhi kang ora kena wigah-wigih medhun ing tengahing masyarakat. Pemimpin kudu gelem ajur-ajer kanggo mangerteni lan ngrasakake kahanan kang sak nyatane kayadene sing dirasakake rakyat. Rakyat ngeleh lan durung kecukupan sandhang pangane, pemimpin kudu bisa ngrasakake bab kuwi. Malah kepara pemimpin kudune dadi pawongan kang paling ngarep ngrasakake kesusahane kawulane.

Sakbanjure, yen ing madyaning masyarakat wis ana kang ngayahi jejibahan, nduweni inisiatip minangka dadi pelopor rodhaning pembangunan, jejere pemimpin uga bisa nyengkuyung lan nyemangati, utawa menehi dhukungan. Ora mung cukup tekan semono, anggone nyengkuyung mau uga kudu gelem kucul ragad apadene uba rampe kang dibutuhake.

Sakliyane telung bab kuwi mau, bab kang luwih wigati diduweni pemimpin ing jaman saiki yakuwi sikap wani lan teges gawe keputusan kang gegayutan kepentingan bebrayan agung. Sikep tegas iki mujudake sikep kang langka ditemokake ing pribadhine pemimpin saiki. Akeh pemimpin kang mung mentingake kepentingane golongan, partai, kepara malah urusan pribadi lan kulawargane dhewe. Mula ora kaget yen kedadean korupsi tansaya ndadra lan kepara malah wis dadi “budhaya” kang angel banget dibrantas.

Akeh uga jejere pemimpin kang ora nduweni sikep pemimpin. Pemimpin ora bisa dadi tuladha, pemimpin ora nduweni visi-misi kepemimpinan, pemimpin kang ora bisa nyemangati kawula kang dipimpin. Malah akeh pemimpin kang ngrugeni kepentingane bebrayan agung. Angel nemokake pemimpin kang gelem dadi pelayane masyarakat. Pemimpin kang nengenake urusan negara lan rakyate. Jejer pemimpin kaya mengkene sejatine ora kena dianggep minangka pemimpin.

Ing jaman kang kepungkur, sejatine wis akeh para pujangga lan winasis kang nggagas piwulang penting tumraping para pemimpin. Ukara kayata “nek dadi ojo dudu, nek dudu ojo dadi”, sejatinya ngemu piwulang agung kanggone para pemimpin ing sakwernane jaman. Ukara kuwi bisa diwedhar luwing gamblang dadi, nek dadi pemimpin kudu nduweni sikep lan perbawa kepemimpinan kang sejati. Ananging kasak baline, yen ora nduweni sikep lan perbawa pemimpin, ya ojo pisan-pisan pingin dadi pemimpin utawa bener-bener dadi pemimpin.  Yen piweling luhur iki katerak dening para pemimpin, mesti wae kang bakal kedadean anane para pemimpin kang ora bisa njaga lan ngemban amanate kawula sing dipimpin.

Ngisor Blimbing, 28 Maret 2015


Filed under: Jagad Jawa Tagged: basa Jawa, pemimpin


Dalam rangka memperingati HUT Kota Mungkid yang jatuh pada tanggal 22 maret lalu, maka seluruh PNS di wilayah Kabupaten Magelang diwajibkan mengenakan pakaian tradisional pada hari seninnya, tanggal 23 Maret. Kebijakan ini berlaku untuk seluruh PNS tak terkecuali. Begitu juga bagi seluruh pegawai dijajaran pendidikan termasuk semua guru di Kabupaten Magelang.

SDN Salaman 1 turut menyambut kebijakan ini dengan mengenakan pakaian tradisional bagi seluruh guru dan karyawan baik ketika upacara bendera maupun pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas. Bahkan petugas upacara yang biasanya dilakukan siswa, kali ini para guru dan karyawan yang melaksanakan.

Memang sedikit ribet dengan pakaian yang tidak biasa dikenakan ini. Selain jalannya yang harus sedikit lebih hati-hati, juga mau keluar untuk foto copy pun harus berfikir ulang. Berlum lagi jika mau naik sepeda motor bagi laki-laki yang mengenakan jarik. Tetapi itulah salah satu usaha untuk melestarikan budaya leluhur kita.

































Salah satu sekolah tua yang masih tegak berdiri yaitu SDN Salaman 01 yang berada di Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang. Tidak menutup kemungkinan sekolah tersebut merupakan sekolah tertua di Kabupaten Magelang

[no title]

-

abuzhahira

on 2015-3-27 1:16am GMT

Morning sunrise from @atriamagelang rooftop facing the famous Merapi and Merbabu Mountain.. – with itta, Djulia, Bernard, yuliyanti, Sungkowo, Bhaskara, Anastasia 🍒, DrAyuKartika, Bintang, dewi, Sigit Biantoro, Dimas, Rudha, Angga, Diah, Dyah Meta, 🌀Ruth, koko, Faldi, Andriyanti, Nuno, Amazia, Deny, Aditya, anii, Nia, Didi, Mike, Irene, Rully, Mayang, W, Deva, and Yono at Atria Hotel & Conference

View on Path


Halo mas Nando apa kabar? Masih diliputi rasa ketakutan kah? Ah, semoga sudah tidak ya mas

Mas Nando, sebelum saya melanjutkan catatan ini, mungkin ada baiknya kalau kita beramah-tamah dahulu. Yah, sekadar basa-basi atau intermezzo gitu lah. Atau kita bisa berkenalan dulu mungkin? Maklum, sebagai sesama penggemar liga inggris, kurang lengkap rasanya kalau kita belum saling berkenalan.

Oke, saya duluan ya mas. Saya akan memperkenalkan diri, nama saya Agus Mulyadi. Saya orang Magelang, 23 tahun, masih bujang, dan pendukung berat Manchester United.

Beda dengan sampeyan yang pendukung berat Arsenal (Yah, tapi tak apa. Kita memang punya hak untuk memilih jalan masing-masing. Sampeyan memilih jalan Arsenal, sedangkan saya memilih jalan kebaikan dan kebenaran).

Nah, sekarang giliran sampeyan mas.

Eh, tapi ndak usah ding, Setelah saya pikir-pikir, sampeyan ndak perlu memperkenalkan diri deh. Kan saya sudah tahu nama sampeyan: Nando Irawansyah, saya sudah tahu siapa sampeyan, Saya juga sudah tahu kalau sampeyan pendukung berat Arsenal, jadi sampeyan tidak perlu lagi memperkenalkan diri.

Saya dengar, mas Nando tinggal di Bali ya! Saya pernah lho ke Bali, dua kali malah. Tapi itu dulu mas, dulu banget. Sewaktu Darma Wisata kelas 3 SMP dan 3 SMA. Kalau sekarang sih rasanya berat bagi saya untuk berlibur lagi ke Bali. Maklum mas, berat di ongkos.

Oke, tu nde poin saja ya mas.

Begini mas Nando. Beberapa waktu yang lalu. Saya baca berita tentang Mas Nando. Iya, berita tentang Mas Nando yang menulis status hujatan itu. Ndak ingat? yang begini lho statusnya:

"bener2 fuck nyepi sialan se goblok ne, q jadi gak bisa nonton ARSENAL maen, q sumpahin acara gila nyepi semoga tahun depan pas ogoh2 terbakar semua yang merayakan, fuckkk you hindu"

Sudah ingat kan, mas? Ah, pasti ingat lah.

Begitu saya membaca status tersebut, sejenak, saya benar-benar tak habis pikir dengan mas. Bagaimana bisa seseorang yang tinggal di Bali tega menulis status yang sebegitu menyakitkan bagi masyarakat Bali.

Duh mas Nando, Sangat disayangkan, sampeyan rela mengorbankan harga diri dan nama baik sampeyan hanya demi Arsenal (kalau demi MU sih mungkin masih mending).

Tentu sampeyan kini tahu apa konsekuensi status tersebut. Ya, kini sampeyan menjadi public enemy di Bali (bahkan mungkin di Indonesia). Sampeyan dicari oleh banyak orang. Beberapa ingin menasehati, tapi kebanyakan ingin menghadiahi bogem mentah.

Tak heran sih, soalnya status facebook sampeyan itu benar-benar sudah keterlaluan. Menghina agama Hindu dengan kata yang teramat sangat kotor.

Saya yang notabene bukan pemeluk Hindu saja sempat merasa murka begitu membaca status sampeyan.

Saya jadi ingat dengan kasus yang pernah menimpa Florence Sihombing beberapa waktu yang lalu. Kasusnya hampir sama dengan yang sedang melanda mas saat ini: meluapkan emosi di sosial media, lalu memancing kemarahan massa.

Kasus Florence itu harusnya bisa menjadi pelajaran penting bagi saya, sampeyan, dan seluruh pengguna sosial media khususnya di Indonesia, untuk bisa lebih bijak dan beretika dalam menggunakan sosial media. Kendati sosial media adalah ranah maya, namun tetap saja kita harus bersikap layaknya seperti di ranah nyata. Karena seluruh aturan yang ada dalam sosial media pada dasarnya dibangun oleh aturan yang biasa digunakan oleh orang-orang di dunia nyata.

Bersikap tidak sopan dan tidak etis di dunia maya tentu saja tak jauh berbeda fatalnya dengan bersikap tidak sopan di dunia nyata.

Saya berani ngomong begini karena saya sendiri dulu pernah mengalaminnya mas. Iya, dulu saya pernah menulis status yang sangat sangat tidak etis.

Entah kegoblokan bagian mana yang dulu sampai bisa membuat saya menulis status facebook yang sebegitu kurang ajar. Kurang lebih, begini bunyi statusnya:

"Wanita adalah kendaraan terbaik di dunia ini, karena: Memiliki 2 lampu depan yg menawan, Memiliki 2 bemper belakang yg indah, Mengeluarkan pelumas sendiri saat panas, Di starter hanya dengan sentuhan jari, Ganti oli otomatis setiap bulan, Beragam posisi berkendara dn mudah di sesuaikan, dan Aksesorisnya mengagumkan..."

Status tersebut sebenarnya bukan asli buatan saya, itu jelas, karena saya terlalu sholeh dan lurus untuk bisa menulis status se-bajingan itu. Status itu saya dapatkan dari pesan di facebook yang kemudian saya copas dan saya buat sebagai status facebook. Niatnya awalnya sih untuk lucu-lucuan saja. Ealah, status tersebut malah menjadi sumber perkara bagi saya.

Alih-alih mendapatkan komentar yang lucu (harapan saya sih begitu), saya justru mendapatkan banyak hujatan. Bahkan ada salah satu guru SMP saya (kebetulan beliau berteman di facebook) ikut memarahi.

Status saya sebagai jejaka yang suci dalam fikiran, perkataan, dan perbuatan langsung tumbang seketika. Roboh sudah pertahanan nama baik saya waktu itu. Entah sudah berapa kawan wanita meng-unfriend pertemanan facebook saya setelah status itu terbit.

Dan efek yang paling parah tentunya adalah: saya semakin susah dapat pacar. Lha bayangkan, lha wong seandainya saya rutin nulis status-status motivasi khas Mario Teguh pun saya belum tentu dapat pacar, apalagi kalau saya nulis status yang isinya menghina perempuan. Duuuh, jelas makin banyak perempuan yang menjauhi saya.

Karenanya, Sejak saat itu, saya kemudian selalu berhati-hati kalau mau nulis status atau ngetwit. Takut kalau-kalau ada yang tersinggung oleh status atau twit saya.

Nah, Mas Nando, sebagai orang yang sama-sama pernah dihujat karena menulis status di sosial media. Saya hanya ingin menasehati sampeyan. Mari kita sama-sama belajar untuk tidak seenaknya sendiri menulis status di sosial media. Mari sama-sama belajar untuk tidak melampiaskan emosi di sosial media yang memang sudah terlalu berisik ini.

Sampeyan bukanlah pelukis ternama yang bisa dengan mudah melampiaskan emosinya lewat lukisan dan kemudian menjualnya dengan harga puluhan juta, yang tentu lebih dari cukup untuk membeli persediaan kopi teman begadang selama bertahun-tahun.

Sampeyan juga bukan aktor atau aktris sinetron yang bisa melampiaskan emosi lewat akting memukau di layar kaca yang untuk selanjutnya dibayar dengan bayaran yang luar biasa tinggi, yang tentu lebih dari cukup untuk membeli persediaan orson pengisi kulkas selama setahun lebih.

Sampeyan bukan penjual emosi yang cerdik, maka setidaknya, jadilah penyalur emosi yang baik. Salurkanlah emosi sampeyan pada tempatnya. Karena bagaimanapun, emosi itu tak selamanya buruk, asal disalurkan pada tempat yang pas.

Nah, karena saya tahu sampeyan adalah fans berat Arsenal, maka saran saya, luapkan saja emosi sampeyan pada Manchester United, karena tim 'kacangan' asal Manchester itu sudah menggondol gelar juara liga Ingris jauh lebih banyak ketimbang Arsenal, sehingga membuat tim sekelas Arsenal nampak seperti pecundang.

Oke mas Nando, semoga sharing singkat kita kali ini bermanfaat.

Sudah ya mas. Sekian dulu, kapan-kapan dilanjut lagi. Saya sedang nunggu SMS dari manajemen One Direction soalnya.


*Terbit pertama kali di kolom Merdeka.com

Ini lanjutan tentang beberapa bahan yang bisa digunakan sebagai media tanam jahe. Selain bahan-bahan yang mengandung nutrisi atau ‘gizi’ untuk tanaman. Dalam pembuatan media juga diperlukan beberapa bahan tambahan lain. Bahan-bahan ini mungkin tidak atau sedikit sekali kandungan nutrisinya, namun penambahan bahan-bahan ini diperlukan dalam pembuatan media tanam jahe. Bahan-bahan ini tidak mesti ada, tetapi penambahan bahan-bahan ini bisa meningkatkan kualitas dari media tanam jahe.

Salah satu bahan yang bisa dipakai adalah zeolit. Zeolit adalah salah satu bahan mineral yang ditambang dan memiliki karakteristik khusus sebagai bahan pencampur media tanam. Salah satu manfaat dari zeolit adalah sebagai bahan pembenah tanah. Zeolit bisa meningkatkan nilai KTK (Kapasitas Tukar Kation), yaitu sebuah nilai yang menunjukkan kemampuan media tanam untuk bertukar kation dengan perakaran. Hara mineral akan terserap oleh akar dan akar akan menukar kationnya dengan larutan tanah. Gampangnya, semakin tinggi nilai KTK akan semakin efisien penyerapan hara nutrisi oleh tanaman. Zeolit diberikan dalam jumalh sedikit saja. Zeolit ada yang berbentuk tepung, kerikil atau bongkahan. Zeolit yang digunakan dalam pembuatan media tanam jahe adalah zeolit tepung atau pasir kecil. Zeolit juga dapat memperbaiki struktur tanah. Tanah yang banyak mengandung liat bisa menjadi lebih gembur dengan penambahan zeolit.

Bahan lain yang juga biasa digunakan sebagai media tanam adalah arang sekam. Arang sekam berperan dalam membantuk struktur tanah. Tanah bisa menjadi lebih berongga sehingga akan meningkatkan kandungan oksigen tanah. Tanah juga membuat media tanam menjadi lebih ringan. Arang sekam juga bisa ‘memegang’ hara nutrisi agar tidak tercuci. Namun, arang sekam menyebabkan penurunan kapasitas menyimpan air media tanam. Jika diberikan dalam jumlah yang banyak, media tanam akan lebih mudah kering. Keseimbangan antara arang sekam dan coco peat dalam pembuatan media tanam penting, terutama untuk mendapatkan kadar air media tanam yang sesuai untuk tanaman jahe.

Beberapa petani jahe juga menambahkan pasir dalam pembuatan media tanam jahe. Fungsinya sama, yaitu untuk memperbaiki struktur tanah. Pasir juga akan meningkatkan rongga-rongga tanah, meningkatkan kandungan oksigen dalam tanah, tetapi juga membuat media tanam menjadi cepat kering. Di daerah yang curah hujannya tinggi, penambahan pasir dan arang sekam bisa membantu mengurangi tingkat kelembaban media tanam, sehingga tanaman jahe tidak mudah terserang oleh penyakit dari dalam tanah.


Buku-buku dan CD gratis dari Puslitbangtan.

Buku-buku dan CD gratis dari Puslitbangtan.

Serasa mendapatkan rejeki nomplok saya hari ini. Kebetulan saya dan teman saya ditugaskan mengikuti seminar hasil penelitian di Puslitbangtan, di Jl. Merdeka, Bogor. Topiknya tidak terlalu familier bagi saya. Rupanya penugasan ini membawa ‘rejeki’ dan ‘barokah’ bagi saya. Saya mendapatkan 9 buku, satu CD, dan tiga BWD (bagan warna daun). Buku-buku tentang pertanian dan pengetahuan praktis pertanian lainnya.

Buku-buku yang saya peroleh adalah:

  • Masalah Lapang: Hama, penyakit, hara pada Padi
  • Musuh Alami Hama Padi
  • Gula Padi di Asia
  • Hama, Penyakit, dan Gulma pada Tanaman Ubi Kayu
  • Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Ubi Kayu
  • Penelitian Padi dan Palawija
  • Peningkatan Produksi Kedelai di Lahan Pasang Surut
  • PTT Ubi Kayu
  • Layanan Konsultasi Padi Indonesia
  • CD Inovasi Teknologi Pengendalian Tikus Padi Sawah Berbasis Ekologi

Ada lima buku tentang padi, mulai dari hama, agensia hayati, penyakit, dan konsultasi tentang pertanian. Buku ini sangat bermanfaat untuk petani. Menurut saya, buku-buku ini mesti dimiliki oleh penyuluh dan praktisi pertanian Indonesia.

Masalah lapang hama penyakit hara pada padi

Masalah lapang hama penyakit hara pada padi. Buku gratis dari Puslitbangtan,


Musuh alami hama padi. Buku gratis dari Puslitbangtan.

Musuh alami hama padi. Buku gratis dari Puslitbangtan.

Gulma padi di asia. Buku gratis dari Puslitbangtan.

Gulma padi di asia. Buku gratis dari Puslitbangtan.

Buku Layanan Kulsultasi padi Indonesia. Buku grati s dari Puslitbangtan.

Buku Layanan Kulsultasi padi Indonesia. Buku grati s dari Puslitbangtan.

Penelitian Padi dan Palawija, Buku gratis dari Puslitbangtan.

Penelitian Padi dan Palawija, Buku gratis dari Puslitbangtan.

Namun, menurut saya yang paling saya sukai adalah saya menemukan Skala Warna Daun jaman dulu bantuan dari Jepang melalui program JICA. Bagan warna daun ini terdiri dari 8 skala warna dan digunakan untuk mendiagnosis status hara tanaman. Seperti mendapatkan harta karun rasanya. Saya juga mendapatkan BWD yang model baru, terdiri dari empat skala warna. BWD yang terakhir khusus untuk tanaman padi.

Bagan warna daun (BWD), bagan warna untuk meningkatkan efisiensi pemupukan N.

Bagan warna daun (BWD), bagan warna untuk meningkatkan efisiensi pemupukan N.

Senang sekali saya hari ini.


Pagi-pagi menjelang terbit fajar, seorang tetangga sebelah yang hendak berangkat kerja berpapasan dengan seorang tetangga yang lain. Tetangga yang lain tersebut tergopoh-gopoh membopong sepanci sisa nasi. Ia rupanya hendak “membuang” nasi sisa tersebut di kandang samping pekarangan yang menjadi basecamp beberapa jenis unggas, seperti ayam dan menthok.

Membuang sisa nasi, nampaknya hanya sebuah peristiwa biasa. Toh banyak rumah tangga, terlebih warung makan dan restoran yang pasti menyisakan nasi basi yang kemudian mesti dibuang. Akan tetapi coba kita bayangkan jika nasi sebakul lebih dibuang dari sebuah keluarga yang sekedar menyandarkan hidupnya dari seorang kepala rumah tangga yang berprofesi sebagai tukang ojek!

Saya, tetangga saya, maupun Anda tentu tidak bisa mengetahui latar belakang peristiwa pembuangan nasi basi sepanci atau sebakul tersebut. Tanpa bermaksud berburuk sangka terhadap keluarga tukang ojek tersebut, tetapi mungkin timbul pertanyaan di benak kita, alangkah sayangnya nasi sebanyak itu kok sampai menjadi nasi basi yang harus dibuang? Apakah memang masaknya kebanyakan? Ataukah nasi tersebut sekedar pemberian dari orang lain yang karena satu dan lain hal tidak sempat tersentuh untuk dimakan?

Namun demikian kita juga tentu sangat menyayangkan apabila di tengah masyarakat tanah air yang belum sepenuhnya bisa makan tiga kali sehari, masih sulit bisa membeli beras sekedar untuk kebutuhan satu-dua hari, kok ada nasi terbuang percuma. Dimanakah rasa syukur kita seandainya kebetulan kita diberikan rejeki sehingga bisa menghidangkan sebakul nasi untuk keluarga kita sehari-harinya? Sejauh apakah kita menghindarkan diri dari sifat dan sikap kemubadziran? Dari sudut nalar yang manakah kita bisa membenarkan sebuah keluarga yang hidup pas-pasan dari penghasilan yang juga pas-pasan namun gagah berani “membuang” nasi basi? Kenapa sampai ada nasi basi?

Pertanyaan-pertanyaan retoris tersebut tentu saja bukan pula bermaksud memberikan pembenaran kepada suatu keluarga kaya raya yang sudah tercukupi semua kebutuhan hidupnya, bahkan mungkin bergaya hidup mewah, untuk abai terhadap kenikmatan rejeki yang dilimpahkan Tuhan dan boleh membuang nasi sembarangan.

Bukankah kearifan masyarakat kita juga telah mengkreativitaskan diri mengolah sisa nasi menjadi nasi goreng, kerupuk gendar juga menjadi intip goreng yang sangat lezat di lidah kita? Kreativitas tersbeut justru merupakan hasil olah pikir dan olah rasa manusia kita untuk lebih mengoptimalkan kenikmatan Tuhan sampai titik yang setinggi-tinggi untuk tetap menjaga rasa syukur akan karunia-Nya. Mungkin banyak diantara kalangan masyarakat kita yang belum meresapi hal-hal kecil seperti ini.

Dari fragmen peristiwa kecil ini saya hanya ingin sekedar bercermin dan mengajak pembaca semuanya untuk merenung diri sejenak. Apakah karunia kenikmatan Tuhan telah kita syukuri dengan sesungguh-sungguhnya antara lain dengan mendayagunakan kenikmatan tersebut dengan sebaik-baiknya demi kemaslakhatan bersama danmenghindarkan diri dari sikap boros dan tindakan mubadzir?

Saya sempat membayangkan andaikata menjadi sesuap atau sebulir nasi putih yang tercipta melalui proses evolusi penggemblengan yang teramat panjang dan berat, dari bulir gabah ditumbuk, digesek, digiling hingga kemudian telanjang menjadi beras putih nan suci. Sebelum ditanak, beras itu harus diguyur air dan “dipususi“, dicuci dan diperas bersih untuk menghilangkan segala sisa kotoran yang melekat padanya. Sehabis itupu bulir-bulir beras  menjalani peristiwa “perliwetan” dimana ia terendam dan tenggelam dalam gelegak air mendidih yang sekaligus panas untuk menjelmakan diri menjadi nasi.

Sekedar sebagai makhluk Tuhan yang senantiasa patuh kepada setiap titah perintah-Nya, nasi-nasi itu, semenjak dari gabah hingga beras dan nasi, telah menjalani proses penderitaan dan penggemblengan untuk menjalankan perintah yang bermuara kepada pengenyangan perut manusia yang lapar. Ia tengah menunaikan tugas untuk menjaga keberlangsungan hidup para manusia melalui nutrisi yang dikandung dan disarikannya dari sari pati bumi dan energi alam.

Nasi-nasi itu akan dianggap berguna dan berhasil menjalankan amanat Tuhan-Nya hanya dan apabila hanya nasi-nasi tersebut benar-benar memberikan asupan tenaga ke dalam tubuh manusia untuk menggerakkan manusia menunaikan tugas-tugas kebajikan. Maka jika nasi memang telah menjadi nasi, nasi menjadi lebih berhak untuk disantap manusia dibandingkan disantap ayam, menthok, maupun jenis unggas dan binatang yang lainnya. Kalaupun sekedar untuk dikonsumsi unggas, gabah tidak perlu digembleng, ditempa, dan diolah dengan pukulan, gesekan, guyuran, rebusan, hingga menjadi wujud nasi. Tokh ayam dan menthok sudah doyan dan cukup mencerna gabah. Sekali lagi ini hanya sebuah perenungan yang bisa jadi tidak ada ujung-pangkalnya. Semua kembali ke nurani kita masing-masing.

Lor Kedhaton, 26 Maret 2015


Filed under: Jagad Bubrah Tagged: maiyyah, nasi, nasi basi
Jahe Gajah

Rimpang Jahe Gajah yang tumbuh maksimal

Saya tertarik membahas ini. Banyak orang yang tergiur menanam jahe gajah karena terbuai dengan ‘janji’ panen jahe per polybag 10 kg bahkan ada yang bilang 20 kg. Apakah mungkin ….. ? Yang sudah bisa panen rata-rata per polybag ukuran 60 cm x 60 cm atau pakai karung silahkan absen di kolom komentar di bawah dengan menyertakan foto atau buktinya. Terus terang, saya belum pernah melihat dengan mata kepala dan mata kaki sendiri, belum pernah pegang dengan tangan sendiri.

Produktivitas jahe nasional di Indonesia hanya berkisar dari angka 21-30 ton per ha (saya baca di tulisan dari Balitro). Ini data hasil panen jahe yang di tanam di ladang bukan di polybag. Dari data itu, kalau dibagi per polybag produktivitas jahe gajah tertinggi adalah 5 kg per polybag. Ada teman yang menceritakan jika jahe gajah yang ditanam di polybag, sampai-sampai rimpang dan tunasnya menonjol keluar, ketika dipanen bobotnya masih 30 ton per ha
10 kg per polybag —> 60 ton per ha
20 kg per polybag —> 120 ton per ha

Laporan produksi paling top di China yang pernah saya dapatkan adalah 88 ton per ha (Baca di sini: Penelitian Top di China). Laporan yang lain di bawah itu semua, ada yang 60 ton per ha, ada yang 51 ton per ha, tapi umumnya masih berkisar di kepala 3. Kalau produksi 88 ton per ha, dibagi per polybag dapatnya angka 14,7 ton per polybag. Saya tidak sepenuhnya percaya dengan data ini. Kalau pun benar, mungkin varietas jahenya adalah varietas terbaru yang super top markotop.

Sepanjang pengetahuan saya, varietas jahe keluaran Balitro (lembaga penelitian yang menghasilkan varietas jahe paling top di Indonesia) tidak ada yang potensi produksinya mencapai 88 ton per ha. Dilihat dari sisi varietas jahe gajah yang digunakan oleh petani jahe di Indonesia, rasanya mustahil bin mustahal produksi jahe per polybag 60×60 bisa mendapatkan 20 kg per polybag. Angka 10 kg per polybag saja menurut saya masih jauh. Bukan tidak mungkin, tapi rasanya masih perlu kerja keras dari peneliti2 di Balitro untuk mendapatkan varietas jahe gajah super. Kalau pakai bibit jahe asalan, artinya tidak jelas varietasnya apa, tetuanya dari mana, jahe muda atau jahe tua tidak jelas, penyakiten lagi; hampir bisa dikatakan tidak mungkin bisa panen 10 kg per polybag.

Yang lagi mimpi bangun-bangun … heh heh … bangun…. !!!!!!!

Bisa panen jahe gajah 10 kg per polybag tentu saja mungkin, tapi banyak syaratnya.

Pertama, varietas jahe yang digunakan memiliki potensi produksi >80 ton per ha. Realitas produksi selalu di bawah potensi produksinya, bisa dapat 80% dari potensi produksinya sudah sangat top markotop.

Kedua, bebas dari serangan hama dan penyakit. Kalau tanaman jahenya terserang busuk rimpang, busuk pangkal batang, daun bercak-bercak, dimakan uret, dimakan nematoda, tidak mungkin jahe bisa tumbuh maksimal dan optimal. Sekali lagi, selain bibit yang top, tanaman jahe juga harus bebas dari hama dan penyakit.

Ketiga, nutrisi hara/pupuk yang diberikan jumlahnya cukup dan seimbang. Pupuk tidak hanya perlu banyak sekali, tetapi juga harus seimbang. Saya ingin membahas masalah ini agak lebih detail.

Dari laporannya Koh Kun, diperkirakan pupuk yang dibutuhkan untuk setiap panen 1000 kg jahe adalah: 6,34 kg N, 0,75 kg P2O5, dan 9,27 kg K2O. Kalau ingin panen 10 kg per polybag kebutuhan nutrisi pupuknya masing-masing per polybag adalah sebanyak 63,4 gr urea, 7,5 kg SP36 dan 92,7 gr KCl. Kebutuhan pupuk per hektarnya lumayan buanyak zekali. Nilai-nilai ini belum diperhitungkan efisiensi serapan haranya. Bukti kongkrit dari laporan penelitian di China, untuk mendapatkan hasil produksi 51 ton per paling tidak dibutuhkan 1000 kg urea, 250 kg SP36 dan 725 kg KCl. Agar bisa mencapai 60 ton per ha (atau 10 kg per polybag) perlu pemupukan dan perawatan yang optimmal. Media tanam yang digunakan harus yang paling bagus; baik dari kualitas maupun kuantitas. dan bersih dari hama dan penyakit. Pupuk jahe bisa diberikan dalam bentuk padat maupun cair.

— ::: lanjut lagi lain kesempatan :::–



“Kenapa semua sosmed diblokir sama mantan?”
“Padahal udah 10 tahun pacaran, kok sekarang dia ngehapus pertemanan di FB?”
“Kok gue enggak bisa ngeliat profil mantan sih…”
“Kok sekarang Aura Kasih sama Glen sih…”
“…”

Untuk yang terakhir, abaikan aja. Pernah ngalamin hal serupa? Kalo iya, berarti mantan kamu emosi sama kamu, peace. Pasti dari kalian pernah ngalamin kayak gitu. Habis putus dari mantan, semua komunikasi dan jejaring sosial dihapus oleh mantan. Mau stalking jadi enggak bisa. Ya namanya juga orang baru putus, pasti emosipun menguasai pikiran, dan endingnya apapun yang berhubungan dengan mantan pasti bakal dihanguskan, cie.


Pasti mantan punya alasan kenapa dia ngeblokir sosmed kalian. Iya, biar kamu enggak bisa stalking doi lagi, hahaha. Menurut gue, itu cuman dari sisi negatif aja. Gue punya pendapat kenapa mantan ngeblokir sosmed kalian. Iya, daripada ngebahas sisi negatif, gue akan ngebahas alasan dari sisi positif aja. Beberapa hari lalu, gue dapet pelajaran “ilmu kehidupan” di bus. Gue ketemu sama bapak-bapak yang ngasih nasehat ke gue. Beliau berpesan, “Ngapain mikirin sisi negatif, mending berfikir dari sisi positif aja.”

Langsung aja, beberapa alasan kenapa mantan ngeblokir sosmed kalian. Cek this out gaes.

1.   Dia Takut Kangen Sama Kamu
Alasan kenapa mantan ngeblokir kamu, tuh karena mantan takut kangen sama kamu. Tiap hari bersama, dan tiba-tiba komunikasi berhenti gara-gara ‘putus’ pasti bakal ada sesuatu yang hilang. Mau stalking, pasti bakal membawa kenangan, so solusi yang tepat adalah ngeblokir sosmed mantan. Biar mantan enggak bisa stalking dan ngehubungin kalian. Ada pepatah yang mengatakan, “karena like setitik, rusak Move on Sebelanga”, cie.

2.   Dia Enggak ingin nyakitin Kamu
Alasan lain kenapa mantan ngeblokir kita karena dia enggak ingin nyakitin perasaan kamu. Iya, doi enggak mau bikn kamu sakit hati saat dia udah jadian sama pacara barunya. Dia enggak mau ada hati yang terluka, cie. Di sisi lain, saat kamu jadian sama pacar baru, kamu juga enggak akan menyakiti perasaan mantan kamu. Saat kamu mau posting foto-foto mesra sama pacar baru, mantan kan enggak akan bisa ngeliat ke-alay-an kamu dengan pacar di sosmed. Tau kan, gaya pacaran alay? Salah satunya terlalu show off di media sosial. Jadi, sama-sama menjaga hati dan perasaan aja deh.
3.   Mantan Ingin ngebantu melupakan Kenangan

Yang tersisa dari mantan adalah sebuah kenangan. Saat mantan ngeblokir semua pertemanan di sosial media, berarti si mantan care sama kita. Iya, dia ingin membantu melupakan kenangan masa lalu kalian kan. Karena mengingat kenangan sama mantan itu lebih menyakitkan lho, meskipun itu kenangan terindah (*lagu Samsons terdengar dari kejauhan). Seindah-indah kenangan bareng mantan itu bakal jadi kenangan ‘busuk’ saat status kalian udah jadi mantan. Bener kan? Jadi kalo mantan ngeblokir FB, Instagram berarti dia ingin membantu kamu melupakan dia. Jadi, syukuri aja.

4.   Dia Memberikan Kesempatan Biar kamu mencari Yang Lebih Baik

Ada yang pernah bilang, balikan sama mantan itu ibarat elo pakai baju kotor yang belom sempet dicuci, right? Alasan kenapa mantan ngeblokir sosial media kalian tuh karena dia ingin kamu nyari yang lebih baik dari dia. Saat mantan ngeblokir, itu kode buat kamu biar kamu nyari gebetan baru tanpa diketahuin mantan. Iya, soalnya mantan itu bakal kepo lho. Mantan bakal kepo sekarang elo lagi deket sama siapa, sekarang siapa pacar baru elo, apakah pacar baru kalian lebih ganteng/ cantik dari mantan.


So, menurut gue, enggak usah galau deh gara-gara mantan kalian ngeblokir akun sosmed kalian. Berfikirlah out of the boxaja. Karena berfikir positif itu bakal menghasilkan energi positif juga buat kita. Daripada mikir negatif, pasti juga akan memberikan efek negatif bagi pemikirnya juga. Jaman sekolah dulu, pasti kalian pernah belajar Fisika, pasti kalian pernah mendengar “hukum Kekelan” kan? “Mantan tidak dapat diciptakan, dan tidak dapat dimusnahkan.” Mantan hanya berubah bentuk dari mantan satu ke mantan yang lain.”


pictsource: 
DKJ
nahimungkar.com

Feed burner
rimpang jahe 3 bulan

Rimpang jahe umur 3 bulan. Ada tiga anakan dan banyak akar yang tumbuh.

Masih ingat kan kalau jahe itu punya ‘mulut’ (baca di artikel ini: Pola dan kebutuhan makan (pupuk) tanaman jahe). Makanan jahe adalah hara mineral (pupuk) yang kita berikan ke tanaman jahe tersebut. Tapi berapa banyak sih jahe makan setiap harinya …? Pertanyaan itu sungguh mengelitik. Untungnya, peneliti (lagi-lagi) dari negeri ‘tirai bambu’ telah mencoba mencari jawaban atas pertanyaan ini. Koh Xin-Sheng dan teman-temannya (2010) melakukan penelitian untuk mengukur berapa banyak pupuk yang dimakan oleh tanaman jahenya setiap harinya. Pengetahuan ini penting sekali, terutama agar kita bisa memberikan makanan alias pupuk yang tepat untuk tanaman jahe kita. Berikut ini data hasil penelitian Koh Xin.

Serapan hara (pupuk) N, P dan K oleh tanaman jahe (Xin-Sheng et al. 2010)

Serapan hara (pupuk) N, P dan K oleh tanaman jahe (Xin-Sheng et al. 2010)


Pertumbuhan tanaman jahe terdiri dari beberapa fase (Baca lagi: Fase Pertumbuhan Jahe). Ternyata dari hasil penelitian Koh Xing, tanaman jahe ‘makan’ dengan kecepatan yang berbeda-beda dalam setiap fase pertumbuhannya. Tiga bulan pertama (sampai usia 103 hari), dia hanya makan kurang lebih hanya 30%-nya saja. Maklum, pada fase ini, sebagian kebutuhan makannya dipenuhi dari cadangan makanan yang ada di dalam rimpang jahe. Nah, makanya mulai banyak setelah fase bibit tadi. Makannya sangat rakus sekali pada fase pembesaran rimpang, yaitu setelah usia 139 hari. Dari mulai usia ini sampai dipanen pada usia 6-8 bulan, porsi makanan yang diserap oleh tanaman jahe mencapai 45% dari total makanan yang diserap sepanjang kehidupan jahe. Artinya, di usia-usia ini lah tanaman jahe harus banyak sekali disediakan makanan alias pupuk.

Kalau dihitung per gram makanan yang diserap oleh tanaman jahe, di fase bibit (sampai usia 103 hari) tanaman jahe menyerap 0,1 gr urea, 0,06 gr SP36 dan 0,1 gr KCl per tanaman/rumpun per hati. Di fase pertumbuhan cepat dan perkembangan rimpang tanaman jahe memakan 0,4 gr urea, 0,2 gr SP36 dan 0,4 gr KCl per tanaman/rumpun per hari. Kalau satu polybag diisi 3 bibit, jadinya per hari tanaman jahe makan 1,3 gr urea, 0,6 gr SP36 dan 1,3 gr KCl per polybag per hari di usia >100hari. Gampangnya, setiap polybag tanaman jahe makan kira-kira setengah sendok makan pupuk urea, seujung kecil sendok teh pupuk SP36 dan setengah sendok pupuk KCl per hari. Coba hitung sendiri kalau punya 1000 polybag.

Ini kan tanaman bukan orang, cara makannya sedikit beda dengan orang. Kalau orang dikasih sesuap di makan sesuap. Tapi kalau tanaman dikasih urea sesendok, apalagi dikasihnya dengan cara ditabur ke tanah, yang dimakan bukannya sesendok tapi paling banter cuma sepertiganya saja. Mudahnya, kalau tanaman dikasih satu kilo urea, urea yang dimakan paling cuma 2 onsnya saja. Jadi, kalau tanaman jahe perlunya sehari setengah sendok makan urea, dikasihnya mesti sesendok penuh. Lebih efisien jika diberikan lewat mulut daun alias stomata, yang dimakan bisa lebih banyak lagi. Misalnya, diberikan dalam bentuk pupuk cair yang disemprotkan ke daun.

Bagaimana aplikasi praktis dari hasil penelitiannya Koh Xin-Sheng dan kawan-kawannya ini? Kan, nggak mungkin kita menyuapi tanaman jahe setiap hari. Kalau cuma satu sih masih mending, lha kalau satu hektar atau punya 6000 polybag, perlu berapa ‘baby sister’ untuk menyuapi tanaman jahenya.

Ngasih makan ke tanaman cukup beberapa kali saja, tidak perlu setiap hari. Kalau dilapang biasanya dikasihkan tiga kali, pertama sebagai pupuk dasar, pemupukan pertama dan pemupukan kedua. Kalau diberikan dalam bentuk pupuk cair biasanya disemprotkan setiap minggu, dua minggu atau seminggu dua kali, tergantung yang punya tanamannya.

Berapa banyak ‘makanan’ yang mesti diberikan ke tanaman? Kita lanjutkan nanti lagi ya….
Insha Allah.

—lanjut lagi nanti —-


Berbelanja barang lewat online mungkin kini sudah menjadi sebuah tren. Nggak ketinggalan gue juga sering belanja lewat online. Kita  nggak perlu repot-repot dateng ke toko buat beli sesuatu. Tinggal duduk di depan komputer, utak-atik keyboard, dan tunggu pesanan kita datang. Apalagi kini siapa aja bisa berjualan online. Nggak perlu bikin website atau blog, tinggal gabung aja ke grup jual
pola serapan hara mineral pupuk oleh tanaman jahe

Pola serapan hara mineral (pupuk) oleh tanaman jahe. (Gambar dari buku Ginger The Genus of Zingiber

Masih ingat gambar di atas di artikel “Pola dan Kebutuhan Makan (pupuk) Tanaman Jahe“. Hara nutrisi alias ‘gizi’ tanaman jahe yang juga dibutuhkan dalam jumlah banyak adalah ‘gizi’ Mg (Magnesium) dan Ca (kalsium). Di grafik di atas bahka posisi Mg dan Ca lebih tinggi daripada N (nitrogen) pada saat umur > 4 bulan. Ini menandakan bahwa pupuk Mg dan Ca juga sangat penting untuk tanaman jahe. Kecukupan pupuk Mg dan Ca dibutuhkan untuk mendapatkan hasil panen rimpang jahe yang optimal.

Ada banyak sumber pupuk Mg dan Ca yang biasa digunakan sebagai pupuk. Sumber Mg dan Ca alami yang bisa digunakan adalah kaptan (kapur pertanian) sebagai sumber Ca, dolomit sebagai sumber Ca dan Mg, dan kieserite sebagai sumber Mg. Kaptan, dolomit dan kieserite adalah senyawa kalsium yang bereaksi basa. Bahan-bahan ini juga bisa berfungsi sebagai buffer yang akan mempertahankan keasaman (pH) media. Beberapa bahan, terutama tanah-tanah merah/kuning umumnya bereaksi masam, penambahan kaptan, dolomite atau kieserite bisa menetralkan keasaman tanah-tanah tersebut. Media tanah yang baik adalah media tanam yang bereaksi netral.

dolomite Mg dan Ca jahe

Dolomite yang kaya akan mineral Ca dan Mg, sangat diperlukan untuk tanaman jahe.

Rumus kimia dolomite adalah CaMg(CO3)2, kandungan hara kurang lebih 30% CaO dan 21% MgO.
Rumus kimia kaptan adalah CaCO3, kandungan haranya kurang lebih 36% Ca.
Rumus kimia kieserit adalah MgSO4.H2O, kandungan haranya 17% Mg dan 23% S.

Bahan-bahan yang kaya Mg dan Ca ini ditambahkan dalam formulasi media tanam jahe dalam polybag maupun diberikan sebagai pupuk dasar pada penanaman jahe di ladang.


Akhirnya masuk semester 8. dan udah ga ada alesan lagi buat gak ngerjain Skripsi. sebenernya pengen sih cepet-cepet lulus. tapi gak tau kenapa pasti pas mau ngerjain idenya mentok ilang gitu aja. ya skripsinya sih jalan dikit-dikit. iya cuma dikit. tapi gpp lah daripada ga sama sekali. ehh tapi daripada dikit mending banyak sih. ya udah lah ya dikit juga masuk itungan kok. bingung yak ternyata kalo ngomong muter-muter.

Ya dan entah bagaimana jalan ceritanya surat lamaran yang udah 7bulan dikirim eh tiba-tiba nyaut. iya sih nyaut gara-gara temenku yang 7 bulan lalu daftar kesitu bareng-bareng yang rekomendasiin. ya alhamdulillah sekarang ada kerjaan jadi fotografer  juru foto di satu foto studio di jogja. Jadi udah 2 bulan ini aku kerja, kerjanya sih enak gak terlalu berkeringat tapi yang jelas sering dikerjar2 deadline. Kalo pas ga ada kerjaan sih malah ga ngapa2in sama sekali.

awal-awal kerja sih bingung pas ada orang foto, yang foto ini 3 orang cewek cantik yang rata-rata berumuran 20an tahun. sebenernya gak ada masalah sih kalo pas motret nya kan tinggal dipencet tuh tombol dikamera. tapi kan mereka bukan model yang udah lihai didiepan kamera. terus mereka nyanya
"Mas bagusnya gaya nya gimana ya? kita kan bukan model, nah kalo masnya kan udah biasa tuh motret orang"
nah disini aku cuma bisa terdiam sampe 2 menit cuma bisa cengar-cengir cari-cari cara gimana biar ga dipojokin pertanyaan kaya gitu. terus dengan gaya belagu aku bilang.
"motret itu yang penting PD sama nyaman aja. kalo udah PD sama nyaman pasti keliatan nyantai di kamera."
mereka pun jawab
"Ohh gitu ya mas. kita sih udah nyantai terus gaya nya gimana nih biar asik"
anjir aku yang ga ada basic fotografi cuma bisa ngarahin gaya-gaya alay dan ini lah hasilnya
















sebenernya yang bikin nambah ga konsen itu pas duduk lesehan sempet ada penampakan. ya nambah gak konsen aja

ok next

tapi ternyata motret itu ada banyak hal yang bisa dipelajari. contoh penataan lampu, penataan properti, terus sudut pengambilan gambar.

ini aku bagi tips cara penggunaan kamera DSLR dengan baik

kalo kemarin sempet denger dari suhu yang make studio dia bilang
"pengambilan gambar itu yang benar adalah hasil foto sama dengan apa yang di konsepkan sama yang motret"
jadi kalo emang pengennya ngeblur muka nya gak jelas,kalo emang konsepnya ngeblur ya gpp. jadi seni itu ga ada batasannya.

jadi kalo kalian alay yang baru aja punya kamera DSLR terus hasilnya ala kadarnya terus diejekin orang "ehh hasil nya kok jelek banget"
jawab aja "konsep yang aku ambil emang kaya gini". udah kelar masalah

kalo mengenai cara pemakaian kamera DSLR yang baik kaya gini


Jangan sampe kebalik kaya gini

atau malah kaya gini

itu gak bakal keliatan apa-apa yang keliatan cuma bateri kamera

Dadah,
WASALAM.....

MBLUSUK - MBLUSUK MEN!! Destination Unlocked!! Solo!!


Day 1.
Memenuhi undangan komunitas Blusukan Solo, saya diutus mewaliki KTM (Kota Toea Magelang) pergi ke Solo setelah berhasil memenangkan sayembara dimana saya tidak mengalahkan siapapun karena yang daftar cuman saya tok. Alasan tidak banyaknya anggota yang daftar mungkin karena bertepatan juga dengan acara Kota Toea sendiri yang dihari yang sama ada agenda Djeladjah Candi #4. Dikarenakan hal itu, saya sendiri jadi agak kesulitan mencari teman untuk ikut menemani saya ke Solo karena semua orang lebih memilih Djeladjah Candi. Sampai-sampai temen-temen KTM bikin hashtag sendiri untuk kemartiran saya pergi ke Solo sendiri dengan #SaveGustaMblusukMen atau #SaveGusta. Well played friend.. Well played.. hahahaha. Setelah woro-woro di dunia maya dan nyata, dan merengek - rengek akirnya ada juga satu temen saya yang mau ikut menemani saya ke Solo.  


Mblusukmen Goes to Solo


The journey begins
Sabtu, 21 Maret sekitar pukul 11.30 siang hari bolong dimana matahari Jogja sedang panas-panasnya, saya menjemput temen saya dari Magelang di Indomart bawah Flyover Terminal Jombor. Rencanaya sih mau berangkat pagi, tapi ada kendala di jalan dimana ada 3 truk ngguling di jalan Magelang - Jogja yang membuat arus lalu lintas padat merayap kata temen saya ini. Setelah beli bekal sebentar di Indomart kami berboncengan dengan sepeda motor menuju kota asal Jokowi ini.

Sekitar pukul 13.30 kami sampai di daerah stasuin Purwosari Jl. Slamet Riyadi, Solo. Karena masih awam soal Solo, kami tanya-tanya beberapa orang arah menuju ke tempat penginapan kami. Di sepanjang Jl. Slamet Riyadi, kami melihat beberapa bangunan yang menjadi ikon kota Solo seperti Loji Gandrung, Stadion dan Taman Sriwedari, Museum Radya Pustaka dan juga rel kereta api yang masih berfungsi yang letaknya di tengah kota Solo. Cukup Impresif bagi saya yang baru pertama kali 'Nglegakke' main ke Solo.
Jalan disekitar Kori Kamandungan Keraton Kasunanan

Setelah muter sana-muter sini, tanya sana-tanya sini, kami akhirnya sampai juga di Cakra Home Stay yang letaknya di Kampung Kauman, Solo. Home Stay ini sangat Jawa. Bangunan home stay sendiri dulunya adalah pabrik batik yang sekarang diubah menjadi penginapan. Bangunan utamanya yang berbentuk seperti pendopo sudah berusia ratusan tahun. Disini kami disambut oleh dua orang teman dari Blusukan Solo, yaitu mas Fendy dan mbak konsumsi yang saya lupa namanya. Tidak lama kami ngobrol-ngobrol, satu orang temen utusan dari Lopen Semarang juga datang. Kami ngobrol-ngobrol dan sedikit sharing sampai sekitar pukul 14.30. Kami dipersilakan untuk istirahat dan menaruh barang di kamar sebelum pada jam 15.00 acara blusukan dimulai.

Kolam renang Cakra Home Stay 

Sekitar pukul 15.30 kami dijemput oleh mbak konsumsi yang saya lupa namanya untuk pergi ke meeting point didepan sebuah hotel. Sekitar 10 menit kami menyusuri gang-gang sempit kota Solo dengan sedikit nyasar karena mbak nya juga lupa ternyata sama tempat meeting pointnya. Namun, pada akhirnya, kami nyampe juga di meeting point dan beretemu dengan teman-teman Blusukan Solo.

Destination Unlocked!!!
Destinasi I, Kampung Kemlayan
Kemlayan adalah kampung kesenian dibekas wilayah kerajaan Mataram Islam. Jika kita selama ini mengenal Gesang sang pencipta lagu Bengawan Solo, beliau berasal dari kampung ini. Asal muasal Kampung Kemlayan adalah dibuatnya sumur untuk berwudhunya Raja Mataram kala itu, Sri Pakubuwono IV. Dalam proses pembuatan sumur ini, sampai 3 kali berpindah tempat karena satu dan lain hal. Tiap sumur ini diberi nama berdeda-beda dan sampai sekarang sumur-sumur ini masih bisa ditemukan. 
Kondisi gang-gang sempit padat penduduk di Kampung Kemlayan


Rombongan teman-teman Blusukan Solo sedang mendengarkan penjelasan tenatang Kampung Kemlayan 

1. Sumur Bandung (gagal digunakan karena mengeluarkan lumpuran terlalu dekat dengan tempat sholat). Bekas tempat sholat sekarang sudah berubah menjadi rumah penduduk.
Sumur Bandung yang sekarang menjadi tempat budidaya ikan 

2. Sumur Ngampok (gagal digunakan karena mengeluarkan air kotor). Sumur Ngampuk adalah sumur yang diameternya paling besar diantara 2 sumur yang lain. Menurut warga sekitar, sumur ini "ditunggui" oleh makhluk tak kasat mata berupa ular besar bermahkota bernama Kyai Naga Taruna.

Sumur Ngampok yang ditutup sebagian karena saking lebarnya

Sempet bercengkrama juga sama anak-anak kampung Kemlayan di dekat Sumur Ngampok

3. Sumur Kamulyan (berhasil mengeluarkan air jernih  dan masih terus digunakan sampai sekarang untuk kebutuhan sehari-hari).

Kondisi Sumur Kamulyan sekarang yang masih digunakan warga sekitar

Airnya jernih. Sempet cuci muka juga sih, siapa tahu bisa awet muda

Masuk kerumah narasumber warga Kemlayan

Destinasi II, Ndalem Roesradiwidjojo
Ndalem ini dulunya merupakan rumah tinggal dari sanhg pencipta not rantai Mloyosetika. Bagi teman-teman yang belumtau apa itu not rantai, not ini merupakan patokan bermusik bagi pengrawit. Bila di barat ada tangga nada, maka di jawa ada not rantai. Ndalem ini masih berbentuk pendopo jawa dengan kayu dan tiang tiang tinggi, Ndalem ini sendiri sekarang masih digunakan sebagai tempat latihan sanggar tari dan karawitan. Bapak Roesradiwidjojo sendiri adalah pencipta wayang wahyu. Wayang wahyu sendiri adalah adaptasi dari wayang kulit jawa yang dimodifikasi sedemikian rupa menyesuaikan dengan karakter dan kisah dari Al-Kitab.

Di Ndalem ini, ndilalah ada salah satu orang asing yang sedang belajar bermain gamelan. Namanya Casey, berasal dari Miami, Florida, AS. Casey ini sudah belajar nggamel selama 5 minggu. Jenis gamelan yang ia sukai dan dalami adalah Gender. Sambil me nunggu hujan reda, Casey sempat juga mempertunjukkan kebolehannya bermain Gender, bahakan berkolaborasi dengan teman saya. 

Casey yang bermain gender dengan sangat apik

Ibu narasumber si pemilik rumah

Kondisi dalam rumah yang masih mempertahankan gebyok kayu

Burungnya tuan rumah

Destinasi III, bekas Ndalem Selir Mangkunegara VII
Bangunan ini sebenarnya adalah milik maestro tari asal Solo, Bapak Sardono W Kusumo. Dikarenakan beliau lebih banyak tinggal di Jakarta, maka rumah lama ini dibongkar dan semua kusen dan pendopo dibawa ke Jakarta. Sekarang nDalem ini sering digunakan untuk latihan tari dan diubah menjadi semacam panggung terbuka. Kami meghabiskan sore dan maghrib di ndalem ini.

Panggung pentas perform yang dulumya bagian utama rumah

Belakang panggung

Sudut rumah Ndalem Selir Mangkunegara VII diaman lobang kecil kuning ini Ki Slamet Handono (Alm.) sering tidur

Tegel kunci yang tak lupa difoto

Destinasi IV, Pusat Kota Solo
Setelah selesai sholat maghrib, rombongan diajak mengelilingi kota Solo menggunakan bus wisata milik kota Solo bernama Werkudara. Saya dan temen rombongan lain buru-buru naik ke atas bus tingkat ini untuk memilih posis PW. Kami diajak berkeliling kota Solo mulai dari kampung Arabnya, Pecinan, Benteng Vastenburg, Laweyan, dan masih banyak lagi. Disatu tempat kami juga berhenti untuk melihat sebuah Boog penanda. Nama Boog ini adalah Bok Teko. Tepat dimulut gang kecil, sebuah penanda sederhana ini menjadi lokasi jatuhnya tutup teko Kanjeng Sunan ke sungai waktu beliau hendak meminum teh. Untuk mengenang peristiwa ini, warga sekitar membuat 'tetenger' ini. Bok Teko juga merupakan simbol representasi Sunan dan rakyat. Dimana tekonya sendiri adalah rakyat dan tutupnya adalah raja yang mengayomi rakyat. Menaiki bis wisata Werkudara dimalam hari seperti ini sangat menarik perhatian warga Solo. Bagi saya yang dari luar kota, bisa  menaiki bis kebanggaan warga solo adalah sebuah kehormatan. Tidak semua orang berkesempatan bisa menaiki bis ini.

Suasana pemandangan malam hari kota Solo dari atas bis Werkudara

Ramah Tamah dan Jamuan
Setelah sekitar satu jam berkeliling kota, kami kembali lagi ke Ndalem Selir Mangkunegara VII. Disini kami dijamu dengan makanan yang sudah jarang ditemui di penjual makanan dipinggir jalan di Solo. Adalah Lodoh Inggris, makanan serupa dengan sayur lodeh namun dengan cita rasa lebih gurih. Disandingkan dengan kerupuk gendar, gereh layur, bandeng iris, tahu dan tempe garit plus sambal, jamuan jelata ini berhasil menggoyang lidah saya. Tak kurang dua kali saya nambah. 

Penampakan Lodoh Inggris 

Sembari menikmati kudapan tersebut, beberapa perwakilan teman-teman diminta sedikit sharing mengenai kegiatan yang dilakukan oleh teman-teman Blusukan Solo. Suasana jagongan yang penuh keakraban ini berakhir sekitar pukul 10 malam. Saya dan teman saya diantar pulang naik motor kembali ke Cakra Homestay. Recharge energi untuk blusukan hari kedua.

Suasana sharing panggung performance

Maaf kalo beberapa foto blur, maklum ya pake Hp jelek..

Bersambung...


  



Menulis mungkin sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari aktivitas kita sehari-hari. Seiring dengan kemajuan teknologi, mulai dari mesin ketik manual, mesin ketik elektronik, hingga komputer yang jauh lebih canggih, kita semakin dimanjakan sehingga semakin jarang menulis langsung dengan tangan kita. Sekedar mencatat hal-hal kecil dan khusus, mungkin kita memang masih menulis tangan. Selebihnya, kita sudah terbiasa menulis dengan mesin tulis.

Di masa kecil, mulai semenjak berkenalan di bangku sekolah taman kanak-kanak, kita tentunya sudah diperkenalkan kepada menulis dengan tangan. Di masa awal keberadaaan kita di sekolah dasar, justru saya sempat mendapatkan pengajaran khusus yang berkaitan dengan keahlian menulis tangan. Menulis ternyata tidak sembarangan hanya sekedar menulis. Menulis merupakan sebuah keahlian, bahkan seni, yang menjadi wajib untuk dipelajari dalam ilmu menulis halus.

Menulis halus merupakan mata pelajaran yang khusus mengajarkan menulis tangan. Karena pelajarannya menulis halus, maka buku tulis yang dipergunakan juga buku tulis khusus yang sering disebut sebagai buku halus. Buku halus memiliki baris garis berukuran lebar dan sempit. Garis tersebut menjadi pemandu dalam menggoreskan pena untuk membentuk huruf yang proporsional besar-kecil maupun tinggi rendahnya. Di samping soal proporsional besar-kecil dan tinggi-rendahnya hurus yang ditulis, hal yang tidak kalah pentingnya dengan pelajaran menulis halus adalah tebal-tipisnya kehalusan garis-garis aksara yang membentuk tulisan.

Tebal-tipis garis aksara ini sangat erat kaitannya dengan arah gerakan pena pada saat kita menorehkan tinta. Pada saat arah pena ke atas, pena sedikit harus diambangkan sehingga garis yang tertoreh semakin tipis. Sebaliknya, pada saat arah pena membentuk garis aksara ke arah bawah, bersamaan dengan gerakan tersebut justru tekanan pena pada permukaan kertas harus ditambah sehingga terbentuk guratan garis aksara yang lebih tebal. Di sinilah seni menulis halus menjadi gampang-gampang susah untuk dijalani.

Kini seiring dengan perkembangan teknologi dan juga dinamika kurikulum anak sekolah yang sering berganti-ganti, sebagai orang tua wali murid si Ponang yang baru duduk di bangku kelas satu sekolah dasar, saya merasa soal kemampuan anak dalam menulis tangan sedikit terabaikan untuk tidak mengatakannya sama sekali tidak menjadi perhatian. Berbeda dengan keberadaan mata pelajaran menulis halus di masa lalu, kini pelajaran tersebut sudah ditelan jaman. Bahkan sekedar menulis huruf dengan cara yang benarpun sangat kurang mendapatkan bimbingan dari para guru. Semenjak usia taman kanak-kanak, anak justru lebih digenjot untuk bisa lancar membaca. Hal ini terformalkan dalam pola atau metode calistung, baca-tulis dan hitung.

Memang tidak ada yang salah dengan metode calistung, akan tetapi porsi perhatian dan panduan menulis sangat minimalis. Hal ini mungkin perlu mendapat perhatian bersama dan menjadi bahan perenungan yang mendalam bagi kita semua, terutama insan pemerhati dunia pendidikan anak.

Menulis halus alias menulis tangan, sebenarnya bukan semata-mata membekali anak didik dengan kemampuan menulis secara tepat, benar, dan cepat. Sebagaimana istilah menulis halus, di dalam proses menulis halus terdapat unsur untuk membentuk kehalusan budi pekerti siswa. Ada banyak nilai luhur yang sekaligus ditanamkan pada proses menulis halus, mulai ketelitian, kesabaran, kelembutan, keindahan, hingga keruntutan penalaran dan pola pikir. Proporsional besar-kecilnya aksara, tebal-tipisnya kontur garis aksara, tegak lurus ataupun kemiringan huruf yang konsisten merupakan proses penajaman pola pikir, ucapan, serta sikap yang akan membentuk ketrampilan sekaligus menunjang kecerdasan emosional seorang anak didik.

Secara tidak langsung, sebagai orang tua yang pernah mendapatkan pelajaran menulis halus di masa lalu, kita bisa membandingkan bentuk tulisan tangan kita dengan anak-anak di masa kini. Bahkan terhadap generasi guru-guru yang mendapat didikan jaman Belanda maupun orde lama, tentu sangat jauh bedanya. Betapa rapi dan indahnyanya tulisan generasi terdahulu. Tebal-tipis, tegak-miring, hingga besar kecilnya mengesankan kerapian yang sekaligus mengesankan kewibaan dan karakter penulisnya. Sebaliknya tulisan anak masa kini, banyak sekali yang mengabaikan kaidah penulisan huruf secara benar, sehingga sama sekali tidak memunculkan sebuah keindahan. Bisa diistilahkan tulisan anak masa kini bagaikan cekeran pitik yang sekedar terbaca saja sulit. Boro-boro kewibawaan dan karakter penulisnya, sekedar bicara tulisan rapi saja sangat jauh panggang daripada api.

Jikapun anak-anak kita tidak mendapatkan pembelajaran menulis halus sebagaimana jaman sekolah kita di masa lalu di sekolah mereka, apakah kemudian kita sebagai orang tua berlepas tangan dan masa bodoh dengan keadaan. Alangkah baiknya jika di rumah orang tua sedikit meluangkan waktu untuk mengajari dan mendampingi anak-anak kita mengenai bagaimana menulis halus. Bukankah sarana penunjang menulis halus yang berupa buku halus masih banyak di jual di sekitar kita? Mempertimbangkan berbagai manfaat yang bisa ditanamkan dalam proses menulis halus, teramat sayang jika anak-anak generasi penerus masa depan tidak mengenal seni menulis halus yang sekaligus membentuk sikap dan budi pekerti yang halus, lembut, penuh welas asih dan kasih sayang.

Tidak ada salahnya kita memungut kembali bagian masa lalu yang sudah dianggap using dan kuno namun masih sangat relevan dengan pewarisan nilai atau budi pekerti luhur untu anak cucu di masa depan. Bagaimana menurut Sampeyan?

Lor Kedhaton, 24 Maret 2015


Filed under: Jagad Sastra Tagged: budi pekerti, buku, menulis

Di semua petunjuk budidaya jahe, baik yang dari Balitro, Deptan, Warintek bahkan India dan China selalu mencantumkan kompos atau pupuk kandang atau pupuk organik sebagai salah satu pupuk yang sangat direkomendasikan. Variasi dosisnya bermacam-macam mulai dari 10 ton hingga 60 ton per ha. Kompos, pupuk kandang atau pun pupuk organik lainnya memiliki fungsi dan manfaat yang banyak bagi tanah maupun bagi tanaman. 

Dosis kompos dan pupuk kandang tersebut umumnya untuk penanaman di lapang/ladang. Nah, untuk penanaman di dalam polybag belum ada panduannya. Ada yang menyarankan sekian dan sekian atau perlu penambahan bermacam2 bahan yang rumit2. Entahlah. Panduan penambahan kompos untuk media tanam dalam polybag bisa dihitung dari panduan yang ada.

Pertama adalah kompos atau pupuk kandang yang digunakan dan cara pembuatannya. Beberapa panduan mengajarkan cara pembuatan kompos yang menurut saya sangat rumit. Perlu tambah ini itu, dibolak-balik atau bahkan mengambil tanah/humus dari daerah tertentu. Padahal menurut saya membuat kompos dan pupuk kandang mudah dan tidak perlu langkah2 yang rumit seperti itu. Satu lagi, menurut saya semua kompos dan pupuk kandang bisa digunakan, tidak mesti dari daerah tertentu atau dari hewan tertentu.

Kedua kompos harus sudah ‘matang’. Beberapa panduan hanya melakukan proses pengomposan yang singkat, cuma satu minggu. Menurut saya pribadi, kompos dan pupuk kandang ini belum matang. Ini menjadi salah satu penyebab munculnya berbagai penyakit yang berasal dari tanah atau media tanam.

–masih berlanjut-


Di posting sebelumnya saya sudah sampaikan tentang manfaat Aspergillus sp dan Trichoderma spp yang ada di dalam aktivator Promi untuk membantu meningkatkan pertumbuhan jahe. Berikut ini saya sampaikan salah satu jurnal ilmiah internasional yang membuktikan aplikasi Trichoderma spp bisa mengatasi beberapa penyakit jahe yang disebabkan oleh jamur.

Penyakit busuk rimpang, busuk pangkal batang, dan penyakit rimpang jahe lainnya sangat menakutkan bagi petani jahe. Serangan penyakit ini bisa menyebabkan gagal panen. Selain menggunakan bibit yang sehat dan berkualitas, tindakan preventif yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan Trichoderma sp.

View this document on Scribd

Pupuk Organik Cair Khusus Jahe



bibit jahe sehat

Bibit jahe (zingiber officinale) yang bagus dan sehat, bebas dari hama dan penyakit

Salah satu kunci sukses budidaya jahe adalah pemilihan bibit yang bagus, sehat dan varietas unggul. Varietas unggul penting banget, karena bibit unggul dengan produktivitas tinggi menjadi salah satu jaminan jika produksinya akan tinggi. Secara genetik varietas unggul memiliki potensi produksi yang tinggi. Syarat penting kedua berikutnya adalah bebas dari hama dan penyakit. Bibit bisa menjadi salah satu cara penularan dan penyebaran hama dan penyakit. Bibit jahe yang kelihatan sehat, tetapi jika ditanam di lahan yang terserang penyakit bisa menjadi carrier pembawa penyakit. Hama juga sama, beberapa hama seperti kutu dan nematoda bisa ditularkan melalui bibit.

Nah, syarat yang tidak kalah pentingnya adalah bibit yang sehat dan bagus. Di posting sebelumnya saya sudah menyampaikan tentang ciri tunas yang bagus, yaitu tunas yang sedang dan kecil dari rimpang yang gemuk. (bada di link ini: Tips memilih bibit jahe dari bentuk tunasnya). Bibit dan tunas jahe yang sehat bisa dirangsang dengan mengaplikasikan hormon atau zat pengatur tumbuh (zpt) tanaman. Aplikasi hormon dan zpt pada awalnya banyak digunakan di dalam kultur jaringan jahe. Namun, ternyata aplikasi hormon juga bisa digunakan pada persiapan bibit jahe. Aplikasi hormon ini dapat memecah dormansi tunas jahe, merangsang pembelahan sel-sel embrio, pertumbuhan tunas, sehingga tunas yang dihasilkan tumbuh seragam, serempak dan sehat. Aplikasi hormon atau zpt dilakukan setelah perlakuan dormansi rimpang jahe.

Hormon yang bisa memecah dormansi tunas jahe adalah sitokinin dan giberelin. Hormon auksin sudah lama sekali diketahui merangsang munculnya tunas-tunas dan percabangan baru. Ketiga hormon ini masing-masing, sendiri-sendiri maksudnya bukan dijadikan satu sekaligus, bisa merangsang pertumbuhan tunas jahe. Selain itu, aplikasi larutan gula/sukrosa juga bisa merangsang dan memecah dormansi bibit jahe.

Cara aplikasinya adalah dengan merendam bibit jahe tua dengan larutan hormon. Ada beberapa konsentrasi hormon atau zpt yang disarankan yang berkisar antara 100 – 160 ppm. Direndam dalam waktu yang cukup lama sampai hormon bisa masuk ke dalam rimpang. Setelah itu, rimpang jahe ditiriskan hingga tidak menetes lagi airnya. Jahe yang sudah diberi perlakuan hormon ini baru diperam hingga muncul tunas-tunasnya. Tunas akan segera muncul dan rellatif seragam.

Selamat mencoba.


Melanjutkan cerita sebelumnya: Situ Gunung Sukabumi (Bagian 1): Biaya-Biaya

Sabtu, 21 Februari 2015, pagi-pagi saya dan tiga orang teman saya sudah mempersiapkan diri untuk berangkat wisata ke Sukabumi. Tiket kereta api Pangrango yang berangkat dari Stasiun Bogor (BOO) pukul 07.55 sudah kami dapatkan jauh hari sebelumnya. Saya sengaja mruput berangkat dari stasiun KRL Duren Kalibata untuk berjaga-jaga seandainya ada gangguan atau KRL terlambat. Pukul 05.45 tepat saya sudah sampai di Stasiun Duren Kalibata, menunggu KRL jurusan Bogor. Ternyata KRL jurusan Bogor pagi itu tidak langsung saya dapatkan, harus menunggu cukup lama. Pukul 06.15 baru dapat KRL jurusan Bogor. Entah karena sebab apa, baru pukul 07.40 sampai di stasiun akhir KRL Bogor.

Turun dari KRL saya lihat kereta api Pangrango masih ngetem di stasiun Bogor, tepat di samping KRL yang saya tumpangi. Mengingat masih cukup waktu (masih sekitar 15 menit sebelum kereta berangkat), saya dan satu teman menyempatkan diri ngantri di toilet untuk buang air kecil. Belum genap 15 menit di toilet (bahkan belum masuk, masih dalam antrian) terdengar teriakan dari teman saya di luar kalau kereta baru saja berangkat. Segera saya keluar dari antrian toilet dan cek jam di HP, masih menunjukkan pukul 07.50. Saya cek jam di stasiun pun menunjukkan angka yang sama 07.50. Melihat ada kejanggalan jam keberangkatan kereta saya langsung menyasar petugas stasiun menanyakan perihal jadwal keberangkatan kereta.

“Pak, kok kereta Pangrango sudah berangkat? Harusnya kan 07.55?”
“Ooohhh… Itu Pak, 07.55 itu dari Stasiun Bogor yang di seberang jalan.”
“Lah, Stasiun Bogor ada dua Pak?”
“Yang di sini stasiun buat KRL, kalau yang KA relasi jarak jauh di seberang jalan sono. Dari sini cuma lansir doang.”
“Nggak kekejar dong pak kalau tinggal 5 menit gini.”

Thanks God, kami ditinggal kereta. Pagi-pagi, mau wisata seneng-seneng malah ditinggal kereta gara-gara berpaling ke toilet di stasiun. Yah, tiket 4 orang hangus tak terpakai. Tapi bagaimanapun, wisata tidak bisa gagal. Jadilah kami cari alternatif berangkat selain naik kereta. Naik mobil angkutan umum.

Kami berempat langsung merencanakan ulang perjalanan, dengan mobil angkutan umum. Kami langsung keluar dari STASIUN BOGOR “KRL” mencari angkot ke terminal bus tujuan Sukabumi. Bermodalkan Rp3.000,00 per orang, sampailah kami di terminal Bogor. Kami langsung mencari angkutan menuju Sukabumi (tepatnya Cisaat). Dapat angkutan umum sekelas mobil L300 yang dari luarnya terlihat aduhai lukisan-lukisannya.

Perjalanan ke Sukabumi baru saja dimulai dari terminal Bogor pukul 09.00 dengan ongkos Rp25.000,00 per orang. Satu mobil L300 sekali jalan ngangkut 16 orang (what a good thing). Super berjejal, ditambah cara mengemudi pak supir yang ser-ser-dag-dig-dug membuat para penumpang menyadari bahwa hidup memang sebaiknya berpasrahkan diri kepada Sang sopir Pengendali Hidup. Kecuali berpapasan dengan truk, Pak Sopir selalu mengambil jalan tengah, bukan jalan tengah supaya berkeadilan tetapi benar-benar melewati tengah jalan tepat di atas marka jalan sepanjang jalan. Di kemudian hari, kami baru menyadari bahwa hampir semua orang di Sukabumi yang kami temui memiliki persepsi sama mengenai kebanyakan angkutan umum L300 yang kami tumpangi, MOBIL GILA. Selalu mengambil “jalan tengah”, cukup adil bukan?

Kami turun di depan Polsek Cisaat setelah menempuh 4 jam perjalanan dengan MOBIL GILA, setelah beristirahat sejenak untuk mengisi perut di Warung Padang, kami melanjutkan jalan kaki sekitar 200m untuk mendapatkan angkutan umum warna merah yang akan mengantarkan kami sampai ke gerbang masuk wisata Situ Gunung. Ternyata angkot warna merah tersebut trayek sebenarnya tidak sampai ke gerbang masuk Situ Gunung. Untuk sampai ke Situ Gunung, kami meminta diantar dengan menambah masing-masing orang Rp7.000,00 dari harga normal Rp3.000,00. Total per orang merogoh kocek Rp10.000,00.

Sampai di depan gerbang masuk Situ Gunung, kami langsung menghubungi ibu pemilik rumah tempat kami menginap. Ternyata rumahnya tepat di samping kanan gerbang masuk Situ Gunung. Yah, cukup beruntung kami masih mendapatkan tempat menginap di paling dekat dengan obyek wisata tujuan kami, padahal ini akhir pekan. Kami masuk tempat menginap tepat pukul 14.00.

Tujuan wisata sore ini adalah Curug Sawer, akan saya ceritakan di bagian selanjutnya.

[no title]

-

abuzhahira

on 2015-3-22 3:22pm GMT

Takut Ombak… #TerFujilah! – with Novriyanti at Pantai Kwaru

View on Path


Sudah beberapa tahun terakhir, terutama semenjak masa pimpinan Ignatius Jonan, PT KAI sebagai perusahaan pelayanan jasa perkeretaapian satu-satunya di Nusantara terus berbenah. Pembenahan yang dilakukan berkaitan dengan infrastruktur maupun kualitas pelayanan. Kereta api merupakan sarana transportasi umum yang paling handal dalam menembus antar lokasi di Jakarta yang senantiasa macet total.

Untuk pelayanan jasa kereta api di wilayah Jabodetabek, sudah beberapa tahun ini diterapkan kelas tunggal dengan menggunakan kereta komuter line. Pengenaan tarif lokalpun menjadi sangat murah dan terjangkau bagi semua kalangan pengguna atau penumpang. Tarif murah tentu saja menjadi berkah bagi para pelanggannya. Di samping berkah bagi para pelanggan, ibarat gula yang beraroma semakin manis, layanan kereta api juga semakin menarik masyarakat Jakarta dalam bermobilitas. Akibatnya berbondong-bondong masyarakat beralih menjadi pengguna jasa kereta commuter line.

Bagi sebagian masyarakat yang berposisi sebagai pengguna barang atau jasa, harga murah tentu merupakan suatu anugerah indah. Dengan harga murah tentu saja barang atau jasa yang kita butuhkan menjadi lebih terjangkau, dan bisa jadi anggaran yang terbatas bisa menyisakan uang lebih untuk pos anggaran yang lain.

Sebagaimana hukum ekonomi mengatakan, bahwa apabila harga turun, maka permintaan akan bertambah dikarenakan daya beli konsumen biasanya naik. Keberadaan commuter line yang semakin bagus, dengan penerapan kelas tunggal, layanan kereta ber-ac, penggunaan sistem tiket elektronik, dan juga sterilisasi kawasan peron stasiun, ditambah tarif yang murah menjadi alasan semakin membludaknya penumpang jasa angkutan massal yang satu ini.

Minat masyarakat untuk beralih menggunakan commuter line, nampaknya masih belum sepenuhnya bisa diimbangi dengan pelayanan yang prima oleh pihak PT KAI, terutama kapasitas angkut dan banyaknya rangkaian kereta secara memadai. Kereta yang murah, menjadikan kereta selalu penuh sesak. Penumpang senantiasa berjubel, berdesakan, bahkan sudah sangat mirip dengan ikan dendeng. Jangankan untuk duduk atau berdiri secara wajar, untuk sekedar bergerak atau bernafaspun sudah sangat tidak leluasa. Penumpang kereta seolah sudah tidak layak lagi untuk disebut sebagai penumpang yang manusiawi. Penumpang tidak beda dengan barang. Hal ini menjadi semakin parah pada saat-saat jam sibuk pulang dan pergi kerja.

Tidak beda dengan suasana desak-desak di dalam gerbong kereta yang terkadang hingga menjadikan pintu saja sulit untuk bisa ditutup, tatkala para penumpang antri keluar dari stasiun juga sering terjadi antrian panjang. Dengan keterbatasan area antri dan pengarahan antrian yang tidak pas menjadikan suasana berjubel juga berulang di titik ini. Manusia menjadi kehilangan harga diri dan jati dirinya. Dalam suasana desak-desakan, seolah berlaku hukum rimba, “siapa yang kuat dialah yang akan bertahan dan menjadi pemenang”. Manusia lemah, para wanita, para lanjut usia, termasuk penyandang kebutuhan khusus jelas tidak masuk hitungan dalam untuk dimanusiakan.

Mungkin ada juga pameo yang menyindir, “bayar murah kok mau pelayanan yang wah”. Murah berdesak-desakan ya lumrah.


Filed under: Jagad Bubrah Tagged: commuter line, Jonan, kereta api, PT KAI

Situ Gunung, dalam bahasa yang lebih sederhana adalah sebuah danau yang berada di gunung. Ya, Situ Gunung memang terletak di gunung, tepatnya ada di dalam kesatuan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Untuk menuju daerah wisata tersebut sebenarnya cukup mudah, terlebih sekarang sudah ada kereta api lintas Bogor-Sukabumi (sampai Cianjur).

Bagi yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, untuk mencapai Situ Gunung bisa dengan naik KRL sampai stasiun Bogor, dilanjutkan naik kereta Pangrango turun di Stasiun Cisaat (EKO: Rp25.000,00/orang), kemudian naik angkutan umum warna hijau sampai di Polsek Cisaat (Rp3.000,00/orang), jalan kaki ke arah Utara dari Polsek Cisaat sekitar 200m, kemudian naik angkot warna merah tujuan Kadudampit (Rp40.000,00/4orang), mintalah ke pak sopir untuk diantarkan sampai gerbang masuk kompleks wisata Situ Gunung.

Biaya perjalanan berangkat dari Stasiun Bogor sampai di pintu masuk kompleks wisata total Rp38.000,00/orang dengan asumsi peserta wisata 4 orang. Biaya masuk di kompleks wisata Situ Gunung per orang tidak lebih dari Rp20.000,00 (seingat saya). Untuk perjalanan pulang, dengan asumsi sama dengan perjalanan berangkat akan menghabiskan Rp38.000,00 sampai di Stasiun Bogor. Dengan asumsi demikian, maka perkiraan biaya perjalanan dan tiket masuk untuk satu orang adalah Rp96.000,00.

Apabila perlu menginap carilah sekitar gerbang masuk Situ Gunung. Kalau beruntung, bisa dapat harga menginap paling murah sekitar Rp200.000,00. Atau kalau mau sedikit lebih, ada yang tepat di samping gerbang masuk dengan harga sewa saat akhir pekan Rp400.000,00 per malam. Dalam kamar terdapat tiga tempat tidur yang cukup untuk ditempati sampai empat orang, kalau mau nambah satu atau dua orang bisa tidur di lantai kamar, jadi total bisa ditempati 4-6 orang satu kamar. Alternatif lainnya bisa menginap di camping ground, saya kurang tahu harga sewa tenda dll untuk di camping ground. Untuk urusan makan, tidak banyak pilihan di kompleks wisata ini. Harga cukup bervariasi, tetapi biasanya tidak lebih dari Rp30.000,00 per porsinya untuk sekali makan.

Dengan beberapa kondisi seperti diatas, akan lebih hemat apabila berwisata secara kelompok dengan jumlah orang antara 4-6 orang, karena lebih hemat di biaya penginapan.

grafik-perjalanan

Yang perlu disiapkan sebelum berangkat ke wisata Situ Gunung setidaknya adalah memastikan penginapan dan tiket kereta api sudah terbeli. Selebihnya persiapan lain seperti halnya berwisata biasa, yaitu baju ganti, tas kecil, dan kamera (bila perlu).

Kehilangan Fokus

-

omahmiring | RSS Feed

on 2015-3-22 3:38am GMT
focus

focus (sumber)

Barangkali tak sedikit diantara kita seringkali merasa kehilangan fokus dalam menjalani suatu pekerjaan, kegiatan, atau tujuan tertentu. Blogger pun kadang tak luput dari kehilangan fokus. Seperti saya akhir-akhir ini, kehilangan fokus. Kehilangan fokus yang saya maksud yaitu kehilangan fokus tema yang akan ditulis.

Menulis secara runtut, yang dimulai dari membuat kerangka tulisan, mengembangkan paragraf, dan selanjutnya dan selanjutnya sudah lama tidak saya lakukan. Setidaknya untuk setahun berjalan, saya kehilangan metode menulis secara runtut. Padahal, menurut apa yang pernah saya baca, menulis sesuai kaidah mengembangkan suatu tulisan bisa membuat kita konsisten dalam menulis, dalam artian tidak kehilangan fokus dalam menulis dan isi tulisan itu sendiri.

Terbiasa menulis pun juga salah satu faktor yang dapat menjaga kita menjadi konsisten dan fokus dalam menuangkan gagasan dalam sebuah tulisan. Kebiasaan menulis ini pun sudah cukup lama secara tidak sadar mulai saya tinggalkan dengan berbagai alasan pembenaran. Menulis bagi saya pribadi adalah satu motif yang baik dan bertujuan baik, kebiasaan baik yang dulu pernah saya lakukan dan akhir-akhir ini saya tinggalkan.

Pernah di satu saat lain, saya sudah mencoba menulis sampai full, penuh layak disebut sebagai satu kesatuan tulisan. Namun, di akhir tulisan kemudian saya ragu apakah tulisan ini cocok untuk ditampilkan, apakah tidak wagu kalau tulisan semacam itu ditampilkan dalam blog yang selo dan nggak serius sama sekali.

Dari tiga catatan diatas, saya pikir perlu merestart lagi dari awal supaya saya bisa fokus. Kemudian juga tema-tema yang diangkat dalam blog justru ternyata membatasi saya dalam menulis. Yang perlu saya lakukan adalah “# init 6”, kemudian memulai dari awal “# clear all”.

kompos tandan kosong kelapa sawit

Kompos tandan koson kelapa sawit


Melanjutkan lagi tentang bahan-bahan yang bisa digunakan sebagai media tanam untuk jahe, terutama bahan-bahan alami yang mengandung ‘gizi’ K alias pottasium yang tinggi. Sebelumnya saya sudah menceritakan tentang coco peat sebagai media tanam jahe yang kaya K (Bacaa di sini: coco peat). (Silahkan baca dulu: Pola dan Kebutuhan Makan (pupuk) Tanaman Jahe). Bahan alami yang juga kaya akan kandungan K adalah tandan kosong kelapa sawit. Indonesia adalah negera produsen sawit terbesar dan memiliki kebun sawit terluas di dunia. Artinya, ada banyak sekali sumber tandan kosong kelapa sawit. Melimpah ruah di pabrik-pabrik kelapa sawit.

tandan koson kelapa sawit

Tandan kosong kelapa sawit

tkks utuh

Tandan koson kelapa sawit

Tandan kosong kelapa sawit atau TKKS atau sering disebut juga tankos kaya akan kandungan ‘gizi’ K. Berikut ini adalah kandungan hara tanaman tkks segar: 0,54% N total, 0,06% P, 2,03% K, dan 0,19% Mg (Sumber: Heriansyah).

Namun, bahan organik segar seperti tankos kurang baik jika langsung digunakan sebagai media tanam. TKKS perlu dikomposkan terlebih dahulu dengan menggunakan Promi. Promi bisa digunakan untuk pembuatan kompos dari bahan organik apa saja, termasuk TKKS dengan waktu yang singkat dan tanpa membutuhkan bahan tambahan.

Lanjutkan lagi setelah sholat jum’at.